MEMULAI
PROGRAM VERBAL BEHAVIOR
Diringkas dan diterjemahkan secara bebas oleh
Linda Halim
Dikutip dari artikel asli:
“Verbal
Behaviour Training Manual”
The Mariposa School for Autistic Children,
North Carolina
Oleh Tracy Vail dan Denise Freeman
Diedit oleh Cindy Peters (President Director Mariposa School)
www.MariposaSchool.org
reprinted by permission
Daftar Isi:
- Dasar-dasar
dan Prosedur Pengajaran Verbal Behaviour
- Mengajarkan
Anak Meminta/ MAND Training
- Mengajarkan
Anak Melabel (Tact) Objek dan Gambar
- Mengajarkan
Imitasi, Echoic, Reseptif dan Matching
- Mengajarkan
RFFC (Receptive by Function, Feature and Class)
- Meningkatkan
vokalisasi & Mengajarkan anak untuk berbicara
Bagian Pertama
Dasar-Dasar Verbal Behavior
ABA / VBA adalah ilmu pengetahuan
ilmiah (science) dari Applied Behavior Analysis (Analisa Perilaku Terapan). ABA
memberikan suatu struktur untuk mempelajari perilaku manusia, apa yang
menyebabkan suatu perilaku terjadi, bagaimana mengurangi perilaku negatif dan
meningkatkan perilaku positif.
Prosedur pengajaran ABA/VBA
•
Shaping – suatu proses dimana secara
bertahap kita memodifikasi perilaku anak sesuai dengan yang kita
kehendaki. Shaping biasanya
dilakukan dengan menyesuaikan persyaratan sebelum reinforcement diberikan.
Contohnya, jika anak belajar mengucapkan suatu kata, pada awalnya anak akan
diminta untuk memegang bendanya sebelum mendapatkan benda tsb. Kemudian, kita
minta anak menirukan suara awal, suku kata dan akhirnya keseluruhan kata.
•
Prompting – bantuan yang diberikan oleh
instruktur supaya anak dapat memberikan respond yang benar. Salah satu
perbedaan pokok antara kebanyakan ABA tradisional dan model VBA adalah
penggunaan “errorless learning” pada model VB sedangkan pada model ABA
tradisional menggunakan prosedur “tidak, tidak, prompt”.
•
Fading – Ini adalah bagian yang
paling kritikal dari mengajari anak, jangan sampai anak menjadi tergantung pada
prompt. Bentuk prompt apapun harus berangsur-angsur dikurangi sesuai dengan
kemampuan anak.
•
Chaining – pada dasarnya chaining
berarti bahwa skills dipecah-pecah menjadi unit terkecil/termudah dan diajarkan
sedikit demi sedikit. Chaining ada 2 macam – forward atau backward – yang
dipakai untuk mengajarkan suatu skill baru.
•
Differential Reinforcement –
reinforcement adalah bagian yang paling penting dari pengajaran! Reinforcement
adalah memberikan respon terhadap perilaku anak dan respon tersebut dapat
meningkatkan perilaku tsb. Differential artinya bahwa reinforcement tingkatnya
berbeda-beda tergantung dari respond anak. Tugas yang lebih sulit diberi
reinforcer yang lebih ketimbang tugas yang mudah. Reinforcer ini harus
diganti-ganti secara sistematik supaya anak mau memberikan respond yang sesuai
dalam berbagai kondisi.
Discrete Trial Teaching
(DTT)
DTT adalah suatu tekhnik yang digunakan baik pada ABA
tradisional maupun Verbal Behavior Program. Tekhnik ini meliputi:
–
Memecah suatu skill ke unit yang lebih kecil (sub
skill)
–
Mengajarkan satu sub-skill sampai dikuasai anak, baru
sub-skill berikutnya
–
Memberikan pengajaran yang terkonsentrasi
–
Menggunakan prompt dan penghilangan prompt sesuai
kebutuhan
–
Menggunakan prosedur reinforcement
• Setiap
sesi pengajaran melibatkan pengulangan-pengulangan percobaan, dengan setiap
percobaan memiliki perbedaan (jangan memberikan perintah/Stimulus yang hampir
sama) dengan urutan: Instruksi – Behavior (respon anak) dan Consequences
(reinforcement atau prompt-fade-prompt)
Hal-hal Yang Perlu
Diperhatikan Dalam Memulai Pengajaran VB
• Tugas
pertama instruktur adalah mengajarkan/menanamkan persepsi pada anak bahwa sesi
belajar bersama instruktur adalah hal yang menyenangkan (when instructor
shows up, good things happen!)
•
Hal tsb. dapat dicapai dengan banyak cara tetapi cara
yang paling utama adalah melakukan observasi pada anak dan melakukan interaksi.
Amati sentuhan, suara, ekspresi muka yang bagaimana yang disukai anak. Jika si
anak terlihat bosan, ajaklah bermain tanpa menuntut si anak menjawab apapun.
•
Jangan mengalihkan anak dari aktivitas yang disukai
menjelang sesi terapi
•
Jangan memaksakan suatu respon, dalam kata lain jangan
suruh anak untuk “kemari”. “duduk”, “lihat ini”
•
Berinteraksilah dengan cara yang menyenangkan, lucu
supaya si anak senang bersama instrukturnya
Bagaimana meminta respond
pertama
•
Dengan model VB, hal yg paling penting untuk diajarkan
ke anak adalah bagaimana anak meminta apa yang diinginkan (MAND). Mereka
belajar “I talk I get”.
•
Faktor-faktor berikut ini penting dipertimbangkan
untuk meminta anak merespon:
–
Jangan meminta respon yang tidak bisa kita prompt.
Contoh jangan berkata “Katakan mobil” sambil memegang mobil2an jika si anak
masih belum dapat melakukan imitasi vokal secara konsisten. Hal ini dikarenakan
kita tidak dapat secara fisik “membuat” anak mengucapkan kata “mobil”. Kita
tidak ingin si anak berlatih untuk TIDAK mengikuti instruksi.
– Jika
memberi instruksi, seperti “duduk” Anda harus secara fisik menuntun anak untuk
duduk ketika si anak tidak mengikuti instruksi duduk. Sekali lagi, kita tidak
ingin si anak berlatih untuk “TIDAK” mematuhi instruksi.
–
Pastikan bahwa instruksi pertama yang diberikan adalah
yang dapat dilakukan oleh anak dan beri hadiah (yang benar-benar membuat anak
senang/strong reinforcement) atas kepatuhannya.
–
Jangan pernah menggunakan reinforcer sebagai
“sogokan”. Contohnya, menggoda anak dengan memegang reinforcer didepan anak dan
meminta anak merespon sebelum memberikan reinforcer tersebut. Ini bukan berarti
bahwa Anda tidak dapat menggunakan reinforcer sebagai suatu “janji”. Contoh,
jika Anda menginginkan anak untuk mendatangi Anda jika dipanggil, bawalah
sesuatu yang dia sukai ditangan, dan berikan ketika dia datang/menghampiri.
–
Meskipun anak sudah vokal tetapi vokalnya belum
bermakna, akan sangat membantu mengajarkan anak bagaimana meminta dengan
memakai gambar atau bahasa isyarat. Hal ini karena kita dapat memakai “prompt”
dalam mengajarkan anak meminta dengan gambar tetapi kita tidak dapat melakukan
“prompt” untuk berbicara.
Mengatasi Perilaku Negative
Anak
dengan hambatan komunikasi biasanya mencari cara lain untuk mendapatkan apa
yang diinginkan/dibutuhkan, cara yang paling sering dilakukan adalah dengan
merengek, menangis sampai tantrum (perilaku negative). Bila timbul perilaku
negative maka:
–
Jangan pernah memberikan anak akses untuk mendapatkan
reinforcer (apa yg diinginkan) dengan perilaku negatif.
–
Mengabaikan tantrum dapat meningkatkan tantrum
sementara waktu, namun jangan sampai menyerah pada perilaku tantrum anak
– Tetap
tenang, setelah anak mereda, gunakan gambar, tanda atau tunjukkan benda2 untuk
mengetahui apa yang diinginkan anak.
–
Jika Anda tahu apa yang diinginkan anak, gunakan
prosedur menghitung, katakan “tidak boleh menangis” dan mulai menghitung sampai
10 dan ulangi jika tangisnya belum selesai. Setelah anak berhenti menangis,
berikan apa yang diinginkan anak
–
Jika anak menangis/tantrum karena kita memberikan
instruksi dan anak tidak mau melakukan, dengan tenang gunakan prompt secara
halus sampai dia melakukan apa yang diperintahkan. Jika Anda memerintahkan anak
untuk duduk dan dia berteriak, tuntun dia ke kursi dengan lembut, buat dia
duduk untuk beberapa detik dan biarkan dia berdiri (hanya jika dia tidak
berteriak).
– Hal
yang penting dari perilaku negative adalah kita harus belajar dari perilaku
tsb. Jika si anak tantrum, maka berarti prosedur pengajaran harus disesuaikan.
Lihat pada reinforcernya, densitas dari reinforcer, dan tingkat kesulitan tugas
yang diajarkan ke anak untuk menentukan apa yang harus disesuaikan kembali.
The most critical things to
remember at the beginning of a therapeutic relationship are to have fun, enjoy
the child, and teach the child that learning is fun and communication is
powerful! The child must learn that life gets better when he complies with
requests!
Aturan Reinforcement
•
Reinforcement harus benar-benar dapat membuat anak mau
melakukan instruksi. Reinforcement tiap-tiap anak berbeda.
•
Reinforcement harus bersifat contingent/dadakan, hanya
tersedia ketika perilaku target (perilaku yg diharapkan) timbul supaya
kekuatannya tidak hilang.
•
Berbagai macam reinforcer harus digunakan, supaya
nilainya tetap.
•
Selalu pasangkan social reinforcer dengan reinforcer
utama.
•
Terus kembangkan dan identifikasikan reinforcer-2
baru. Lihat pada perilaku self-stim anak untuk membantu menentukan apa yang
mungkin dinikmati anak.
•
Gunakan reinforcer yang sesuai dengan umurnya.
•
Reinforcer yang bersifat kejutan biasanya sangat
disukai dan memotivasi anak.
• Pada
awal/permulaan, renforcer harus timbul secara langsung/segera supaya anak dapat
mengasosiasikan perilakunya dengan reinforcernya.
•
Jadwal variasi reinforcer harus dibuat dan diikuti
secara konsisten
•
Reinforcement harus dihilangkan secara perlahan-lahan
ketika anak sudah menguasai skill yang diajarkan. Tugas yang mudah,
reinforcernya juga lebih ringan.
•
Evaluasi ‘timing” reinforcement.
•
Selang beberapa waktu, ubah reinforcer ke bentuk yang
lebih natural dan praktis seperti pujian, acungkan ibu jari.
•
Jangan gunakan reinforcer sebagai sogokan. Jangan
jadikan kebiasaan si anak mendengarkan terlebih dahulu reinforcer apa yang akan
dia dapatkan. Jangan ingatkan bahwa anak akan mendapat reinforcer jika dia
tidak berperilaku negatif. Jangan tawarkan reinforcer tambahan ketika tantrum
semakin bertambah sebagai usaha untuk mendiamkan dia.
•
Gunakan skala reinforcement. Berikan reinforcer yang
terbaik untuk perilaku yang terbaik atau tugas yang tersulit.
Definisi dan Terminologi Establishing
Operation:
•
Establishing Operation (EO):
adalah faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan nilai sebuah reinforcer
untuk sementara waktu dan dapat membawa ke suatu peningkatan perilaku yang
telah terasosiasikan dengan reinforcer tertentu. Misalnya anak sedang
menginginkan es krim, dan setelah melakukan apa yg diinstruksikan, anak diberi
reinforcer es krim, maka pada instruksi berikutnya anak akan cenderung mau
melakukan/mengulangnya kembali. Es krim sebagai reinforcer sifatnya sementara,
karena mungkin setelah si anak sudah tidak menginginkan es krim, maka es krim
bukan EO/MO lagi.
Hal-hal yang mempengaruhi EO
•
Deprivation – Keadaan ketika kita
tidak mendapatkan item yang kita inginkan untuk suatu waktu (meningkatkan
nilai). Contoh: Jika anda sedang diet,
maka pizza menjadi sangat menggiurkan.
•
Satiation – Keadaan ketika kita sudah
mendapatkan item yang kita inginkan/sudah bosan (menurunkan nilai). Contoh:
jika anda makan siang dengan pizza setiap hari, mungkin anda sudah tidak
menginginkannya lagi.
•
Competing EO – Nilai dari beberapa
perilaku lain lebih kuat (menurunkan nilai). Contoh: Anak sangat ingin bermain
dengan suatu mainan, tetapi anda bertanya terus sehingga nilai “lari dari
pertanyaan” (escaping) lebih kuat daripada nilai mainan tersebut.
Contoh-contoh lain:
•
Jika kita kekurangan uang, maka kondisi ini akan
meningkatkan nilai uang ekstra dan akibatnya pada jenis perilaku (kerja
tambahan? kerja lembur?) untuk
mendapatkan uang yang pernah dilakukan sebelumnya/pengalaman sebelumnya.
•
Jika anak punya mainan favorit yg sudah lama tidak
dimainkan, maka nilai dari mainan tersebut akan meningkat sementara waktu dan
akibatnya pada peningkatan jenis perilaku (bicara? Teriak?) seperti yang pernah
dilakukan sebelumnya.
•
Jika anak berada pada lingkungan yang ramai, berisik
yang membuat dia tidak nyaman, maka suasana tersebut untuk sementara waktu
meningkatkan nilai dari “lari/menghindar” dan akibatnya pada jenis perilaku
(memukul? Menggigit? Berkata “ayo pergi”) seperti yang pernah dilakukan
sebelumnya.
Reinforcement
vs Punishment
Reinforcement
• Memberikan sesuatu yang disukai anak setelah perilaku timbul/setelah
melakukan tugas (positive reinforcement), atau
• Menghilangkan/menjauhkan sesuatu yang tidak disukai anak (negative
reinforcement)
Punishment
• Melakukan/menerapkan sesuatu yang tidak disukai anak (positive
punishment)
• Menjauhkan/mengambil sesuatu yang disukai anak langsung setelah perilaku
itu muncul (negative punishment)
Positive Reinforcement
Situasi – Anak melihat permen di toko dan menginginkannya (ada EO
untuk permen)
•
Anak menjerit “aku mau permen” dan tantrum, si ibu
memberikan permen supaya tidak ribut. (Reinforcement atas perilaku yang
negatif)
•
Anak berlari ke ibunya dan memberi tanda/berkata
‘permen”. Ibu memberikan permen ke anak dan memuji karena si anak dapat meminta
permen dengan baik. (Reinforcement atas perilaku yang positif)
Diskusi: pada kedua contoh di atas, anak telah belajar bahwa
perilakunya menghasilkan apa yang dia inginkan, jadi lain kali si anak akan
mengulang kembali perilaku tersebut.
Negative Reinforcement
Situasi – Di sebuah ruangan terdengar suara radio yang sedang diputar
keras-keras
•
Anak masuk ke ruangan tersebut dan mulai menjerit. Si
Ibu cepat-cepat datang untuk mengecilkan volume radio (Reinforcement atas perilaku yang negatif)
• Anak
masuk ke dalam ruangan dan sambil menutup telinga dia berkata “Terlalu keras”.
Si ibu bertanya apakah dia ingin volumenya dikecilkan. Ketika anak menjawab
“ya”, maka si Ibu mengecilkan volume radio (Reinforcement atas perilaku yang
positif)
Punishment
Definisi punishment/hukuman pada ABA berbeda dengan hukuman pada
umumnya.
Pengertian hukuman secara umum, adalah sesuatu yang diberikan pada orang
yang telah melakukan kejahatan atau perilaku yang tidak baik dengan harapan
perilaku tersebut akan berhenti. Hukuman ini memiliki konotasi moral dan etika.
ABA mendefinisikan hukuman sebagai suatu proses dimana konsekuensi suatu
perilaku menyebabkan penurunan atas timbulnya perilaku tersebut di waktu yang
akan datang.
Secara prosedur, ada 2 jenis hukuman:
Positive Punishment:
timbulnya suatu perilaku
diikuti oleh perintah/instruksi untuk melakukan tugas yang tidak disukai agar
perilaku tersebut tidak muncul kembali di kemudian hari
Situasi: Seorang anak remaja pulang malam melebihi
batas waktu yang telah ditentukan
Hukuman: Orang tua memberikan
tugas untuk mencuci mobil selama satu minggu
(pemberian suatu tugas yang tidak disukai)
Negative Punishment:
timbulnya suatu perilaku yang diikuti oleh penghilangan/peniadaan akan
sesuatu yang disukai agar perilaku tersebut tidak muncul kembali di kemudian
hari
Situasi: Seorang anak
remaja pulang malam melebihi batas waktu yang telah ditentukan
Hukuman:
Orang tua melarangnya untuk menghadiri acara pesta teman yang sudah
direncanakan
Masalah-masalah yang timbul dengan Punishment adalah:
•
Dapat menimbulkan agresi atau efek emosional lainnya
•
Dapat menyebabkan penghindaran/pelarian perilaku
(tidak mau melakukan tugasnya)
•
Secara tidak sadar orang yang menghukum melakukan
reinforcement secara negative dengan hukuman sehingga terjadi penyalahgunaan
hukuman
•
Anak dapat menggunakan hukuman yang pernah dikenakan
pada dirinya dikemudian hari terhadap instruktur/orang lain
Hukuman
hanya boleh digunakan setelah pendekatan fungsional lainnya telah
dilakukan dan terbukti tidak efektif untuk mengatasi perilaku yang bermasalah
tsb.
Prosedur-prosedur reinforcement yang berbeda
harus digunakan dalam hubungannya dengan hukuman.
Stimulus
Stimulus/stimulasi/rangsangan, apa saja yang dapat dilakukan orang
dengan indranya. Apa saja yang dapat dilihat, didengar, dicium, diraba, atau
dirasakan. Stimulasi dapat diasosiasikan dengan kejadian lain ketika diikuti
oleh reinforcement atau punishment, atau disebut discriminative stimulus (Sd).
Ada 3 macam stimulasi:
Neutral Stimulus –
ayah berkata, “pegang anjing” dan ini yang pertama kali anak mendengarnya. Anak
mendengar kata-kata tsb. tetapi tidak terasosiasikan dengan apapun, baik
positive atau negative.
Discriminative Stimulus –
Anak duduk dipangkuan ayahnya sambil melihat buku, ayah berkata “tunjuk anjing”
dan menuntun tangan anaknya untuk menunjuk anjing. Ketika anak menunjuk anjing,
ayahnya memeluk dia dan berkata “benar!”, si anak senang (reinforcing), jadi
ketika si ayah membalik halaman dan berkata “tunjuk anjing”, si anak langsung
menunjuk anjing tanpa menunggu ayahnya menuntun lagi.
S-Delta – Melanjutkan contoh di
atas, jika si anak menunjuk kucing bukan anjing, ayah tidak memberi pelukan dan
berkata “Benar!”. Perilaku memegang kucing diasosiasikan dengan tidak adanya
reinforcement kapanpun dia mendengar kata2 “tunjuk anjing”.
Klasifikasi Perilaku dari
Bahasa
Mand – meminta sesuatu. Mand yang murni timbul sebagai akibat dari EO
atau keinginan untuk memiliki sesuatu tanpa harus ditanya “Mau apa?”
–
Bolehkah aku minta kue?
–
Mommy mana?
Receptive – mengikuti petunjuk atau mematuhi permintaan orang lain
–
Pegang boneka Dora (anak memegang boneka)
–
Buang ini ke tempat sampah (anak melakukan yg diperintahkan)
–
Apa yang bunyinya “tuit jes… jes” (anak memegang
kereta api)
Tact – melabel atau memberi nama item, aksi atau apapun yang ada/tampak.
Tact yang murni tidak ada kaitannya dengan adanya EO atau keinginan akan item
tsb.
– “Apa
ini namanya?” (anak menyebutkan nama item)
–
“Bagaimana rasanya bulu anjing?” (anak berkata
“halus”)
–
“Apa yang kamu lihat?” (anak berkata “burung”
Intraverbal – sebuah respon atas apa yang dikatakan orang yang berkaitan
dengan suatu item, aksi atau sesuatu yang TIDAK NAMPAK/ADA. (menjawab
pertanyaan atau melakukan percakapan).
–
“Twinkle, twinkle, little ………. (anak melanjutkan
“star”)
– Apa
yang bunyinya meong? (anak menjawab “kucing”)
–
Apa yang kamu lakukan di sekolah tadi? (anak menjawab
“aku mewarna gambar kucing”)
Echoic – menirukan/mengulangi persis apa yang dikatakan orang lain
–
Apakah kamu mau keluar? (anak berkata “Apakah kamu mau
keluar?”)
–
Ibu berkata “mobil” (anak menirukan “mobil”)
FFCs – singkatan dari Features, Functions dan Classes. Setelah anak
mampu meminta, melabel item di lingkungannya, FFC diajarkan agar anak dapat
belajar hubungan antara kata-kata yang telah diketahui. Features adalah bagian
dari item atau deskripsi item. Function adalah aksi yg terkait dengan itemnya,
dan Classes adalah kelompok dari item tsb.
Contoh: Pisang
Features:
kuning, dikupas, panjang
Function:
dimakan, dikupas
Class:
buah-buahan, makanan, sesuatu yang kita makan
Pada fase awal pengajaran FFC, respon dari anak adalah: menunjuk,
memegang, menyebutkan nama item ketika FFC dikatakan. Setelah kira-kira 20 item
berbeda telah diajarkan, maka ajarkan kebalikannya.
Kuning
Dikupas
à Pisang
Panjang
Dimakan
Mengevaluasi Respon Anak
Terhadap Lingkungan
Tiap-tiap anak responnya berbeda terhadap input sensori. Memahami pola
respon tiap anak terhadap stimulasi dapat membantu orangtua dan instruktur
untuk menentukan mainan atau aktivitas apa yang dinikmati anak, serta jenis
stimulasi yang boleh dan tidak boleh digunakan untuk mengajar atau me-reinforce
anak. Buatlah observasi terhadap berbagai stimulasi seperti:
–
Suara
–
Stimulasi Visual
–
Gerakan, Sentuhan dan Kesadaran akan posisi tubuh
(vestibular)
–
Taste
–
Smell
Mengajarkan Anak Bermain
•
Seringkali ketika orangtua diberitahu bahwa yang kita
ajarkan pada anak pertama-tama adalah “meminta yang diinginkan”, orangtua akan
berkata “Tetapi anak saya tidak menginginkan apa-apa”. Semua anak pasti
menginginkan sesuatu dan tugas kita adalah meningkatkan jenis dan jumlah “apa”
yang diinginkan, salah satunya dengan bermain.
•
Untuk membantu menentukan jenis mainan apa yang
disukai anak, kita harus melihat reaksi anak terhadap stimulasi dan perilaku
self-stim anak.
•
Hal yang paling penting untuk diingat adalah setiap
kali kita memperkenalkan aktivitas atau mainan baru, kita harus memasangkannya
(pairing) dengan reinforcement. Misalnya jika anak senang dipeluk erat-erat,
pasangkan ini dengan kegiatan membaca buku. Jika dia senang melihat benda2 yang
berputar, pilih mainan atau aktivitas yang berputar. Jika anak suka suara2
lucu, gunakanlah ketika bermain dengan anak, jika suka musik, bernyanyilah dst.
•
Salah satu kesalahan terbesar yang sering kita lakukan
adalah ketika bermain dengan anak, kita mengajukan banyak pertanyaan. Ini bukan
bermain, tetapi mengetes anak dan anak tidak akan menyukainya.
Memulai Bermain
•
Bangun antisipasi: ulangi kata2 atau urutan gerakan
yang sama berulang-ulang, kemudian hentikan sejenak. Mis. Cilukba.Katakan
ciluk…ba….. Ciluk…ba. Ketika anak mulai memberikan atensi, tersenyum dan
memberikan kontak mata, berhentilah sebelum mengatakan …. “Ba!”, anak akan
mengatakan “Ba!” atau mencoba membuka selimut dari kepala anda.
•
Lakukan sesuatu yang tidak terduga: ulangi suatu
aktivitas dengan cara yang sama, kemudian tiba-tiba ubahlah.
•
Tirukan apa yang dilakukan anak kemudian buatlah
permainan.
•
Interupsi permainan anak dengan cara yang menyenangkan
•
Pasangkan kata2/suara dengan apa yang sedang dilakukan
anak. Mis. ketika anak sedang menggambar.. Katakan… gambar..gambar, bundar..bundar,
atas.. Bawah (apapun yang menjelaskan apa yang dilakukan anak).
•
Gunakan ekspresi muka dan gerakan badan yang
dilebih-lebihkan untuk menarik perhatian anak
•
Ciptakan arti. Dengarkan ocehan/suara anak, jika anak
sedang menggambar membuat suara yang mirip dengan suatu kata, misalnya “bulan”,
cepat ambil pensil/spidol dan gambar “bulan” seakan-akan anak menyuruh anda
menggambar bulan.
•
Perkenalkan karakter-2 yang berlainan, misalnya sponge
bob, elmo dll.
Mengembangkan Kemampuan
Bermain
•
Setiap anak berbeda, jadi kita harus memperhatikan
dengan seksama untuk memutuskan kapan untuk menambahkan “demand” pada
aktivitas. Setelah anak dapat meminta mainan atau aktifitas, kita dapat
menambahkan apa yang harus dia minta sebelum mendapatkan hasil akhirnya. Misalnya,
setelah anak dapat secara konsisten meminta main dengan bola, taruh bola pada
wadah tembus pandang, dan ajarkan dia untuk meminta Anda membuka wadahnya.
Berikutnya Anda dapat mengajarkan dia untuk minta Anda menggelindingkan, melambungkan atau melemparkan.
•
Jangan meningkatkan tuntutan ke anak terlalu cepat
sehingga anak tidak mau berpartisipasi dalam permainan lagi-> “KILLING THE
REINFORCER”
•
Jangan biarkan anak bermain yang disukai terus-menerus
-> ini juga akan membunuh reinforcer.
•
Beberapa anak mempunyai sedikit sekali
aktifitas/mainan yang disukai dan susah menerima permainan baru. Jika demikian,
biarkan anak melihat Anda bermain dengan mainan baru tersebut dulu sambil anak
makan atau minum jus kesukaannya (pairing). Jika anak mulai tersenyum dan meraih
mainan, maka berarti anak mulai siap bermain dengan mainan yang baru tsb.
•
Kembangkan permainan dengan menambahkan karakter baru,
mengubah jalur (mainan KA), ganti berbagai macam baju boneka (jika anak suka
memakaikan baju boneka).
•
Pada saat sesi belajar sambil bermain, seringkali
secara tidak sadar kita memberi banyak pertanyaan. Hal ini harus dihindari,
sebaliknya beri contoh untuk melabel, mintalah respon reseptif dan lakukan
banyak “problem solving” selama bermain, misalnya ketika bermain dengan boneka
teletubbies, pura-pura si Tinky winky sakit, beri anak pilihan sebaiknya dibawa
ke dokter atau ke taman dll.
•
Ada saatnya pada masa perkembangan setiap anak dimana
mereka tidak selalu dapat bermain dengan mainan seperti yang mereka kehendaki
dan memerintah siapa saja yang di sekililingnya untuk melakukan apa yg mereka
kehendaki. Pada awal pembelajaran kita mengajarkan anak “I talk, I get”,
kadang-kadang ini menjadikan anak suka memerintah/selalu dituruti kehendaknya.
Oleh karenanya jika kita ingin anak belajar bermain dengan anak lain, maka kita
harus ajarkan bahwa mereka tidak selalu langsung mendapatkan apa
(mainan/permainan) yang diinginkan. Oleh karenanya kita ajarkan konsep
“bergiliran”, beri ide-ide lain.
•
Pada kemampuan bermain tingkat atas, bisa dipakai
social story, misalnya anak tidak bisa bermain dengan anak lainnya di taman
bermain, beri opsi apa saja yang dapat dilakukan di tempat bermain, role play
dll.
•
Yang penting untuk diingat adalah bermain pada tingkat
apapun (dasar, menengah, atau lanjut), haruslah MENYENANGKAN!
Mainan Favorit
•
Linear movement toys (stimulasi visual)
–
Alat2 menggambar/mewarna
–
Alat2 untuk memukul, menangkap – sendok kayu, drum
stick, jaring, dll.
–
Benda2 yang bergerak atau dapat digerakkan secara
linear – pasir/beras/biji dituang ke cangkir, kereta api, mobil2an dll.
•
Mainan berputar (stimulasi visual) – roda baik yang
pakai baterai atau mekanikal, pita diikat pada tongkat dan diputar2 dll…
•
Gerakan (stimulasi Vestibular) – ayunan, kursi goyang,
komedi putar, trampolin dll
•
Sentuhan (stimulasi taktil) – stiker, playdough,
permainan air/berenang, pasir dll
•
Bau-bauan – mainan apa saja yang ada aromanya
•
Suara – musik, mainan yang bersuara
Bagian Kedua
Mengajarkan Anak Meminta/
MAND Training
Dua hal yang paling penting
untuk diingat dalam mengajarkan anak untuk meminta/MAND-ing dengan menggunakan
berbagai bentuk komunikasi (vocal, gambar, bahasa isyarat) adalah:
•
Anak harus benar-benar menginginkan item tsb.
(motivasi/MO/EO)
•
Anak harus dapat merespond stimuli yang kita pakai untuk
mengajarkan dia untuk meminta
Item = objek, kegiatan,
makanan dll.
•
Mengajarkan bahasa isyarat harus menggunakan teknik
prompting dan prompt fading agar anak tidak frustrasi.
•
Pakailah benda yang dapat dibagi kecil-kecil (kue
dicuil kecil dll) untuk permintaan pertama agar kita punya banyak kesempatan
untuk melatih anak meminta berulang-ulang.
•
Jika benda yang diinginkan anak tidak dapat
dibagi/pecah ke bagian yang lebih kecil, maka sangat penting untuk mengajarkan
anak menyerahkan reinforcer agar kita bisa mengulang.
•
Untuk melakukan hal di atas, mintalah ke anak benda
tsb. ketika si anak memegangnya, jika anak tidak mau memberikan, ambillah dan
langsung kembalikan. Jika anak mulai berteriak, menangis atau menunjukkan
perilaku negatif lainnya ketika benda tsb. diambil, berpalinglah, abaikan atau
gunakan prosedur berhitung sampai si anak berhenti menunjukkan perilaku tsb.
Kemudian, prompt isyarat untuk meminta dan berikan benda tsb. ke anak. Teruskan
sampai si anak mau memberikan benda ke anda atas permintaan. Segera setelah
anak mau memberikan atas permintaan, berikan reinforcer
Bagaimana jika anak tidak dapat melakukan imitasi
motorik halus?
•
Berikan prompt tangan, secara fisik manipulasi tangan
anak untuk membuat tanda/sign.
•
Katakan nama item ketika anda melakukan prompt tangan
anak.
•
Ulangi nama itemnya ketika anda memberikan item tsb.
•
Ciptakan kesempatan agar anak dapat meminta
berulang-ulang.
•
Kurangi/hilangkan prompt tangan ketika anda mulai
merasakan anak dapat menggerakkan tangannya sendiri. Akan sangat membantu untuk
mengurangi langkah terakhir dari sign dulu atau secara perlahan kurangi tekanan
sentuhan anda.
•
Sebagai bagian dari program anak, ajari dia untuk
melakukan imitasi gerakan lain, hingga anda akan dapat mengajari sign2 baru
melalui imitasi dengan prompt yang tidak terlalu banyak.
Bagaimana jika anak dapat melakukan imitasi motorik
halus jika disuruh “tirukan ini”, tetapi tidak jika saya katakan nama itemnya
ketika saya melakukan sign?
•
Katakan “tirukan ini” dan lakukan sign-nya
•
Katakan nama itemnya dan lakukan sign sekali lagi.
Seharusnya anak melakukan imitasi karena dia baru melakukan gerakan yang sama
sebelumnya.
•
Katakan nama itemnya ketika anda memberikan item tsb.
ke anak.
•
Secara bertahap tambahkan tugas lain antara latihan
“tirukan ini” dan latihan independen lainnya sampai anak mampu melakukan
imitasi sign tsb. ketika anda mengatakan nama item dan memberi contoh/model
sign tsb.
Bagaimana jika anak dapat melakukan sign untuk minta
tetapi hanya jika itemnya ada/tampak?
Kita ingin mengajarkan anak juga dapat meminta benda-benda yang tidak
tampak.
•
Anak melakukan sign untuk minta suatu item.
•
Sebutkan nama item ketika anak melakukan sign dan
ulangi lagi ketika anda memberikan sedikit dari item tsb.
•
Singkirkan item tsb. dan tunggu anak mengulangi sign
untuk minta item tsb. lagi.
•
Secara bertahap pindahkan item tsb. ke lokasi lain.
Biarkan anak melihat ketika anda menyingkirkan item tsb. ke lokasi lain.
•
Beri anak bagian yg lebih banyak ketia dia dapat
meminta item tsb. setelah item tsb. disingkirkan/tidak nampak.
Bagaimana jika anak dapat melakukan sign untuk minta
item yg nampak/tidak nampak tetapi tidak mendapat perhatian kita sebelum
melakukan sign?
Jika anak melakukan sign tetapi tidak ada yang merespon, dia akan
berhenti melakukan sign karena sign-nya tidak ter-reinforced. Kita ingin anak
belajar utk meminta perhatian orang sebelum anak melakukan sign utk minta suatu
item.
•
Pakai 2 instruktur. Instruktur pertama memegang item
yang diinginkan, tapi berbalik dari anak.
•
Instruktur yang kedua prompt si anak untuk menyentuh
tangan instruktur. Segera setelah anak melakukannya, instruktur pertama
menoleh, menghadap anak dan bertanya “Michael mau apa?” (atau berbalik dan
menatap dengan tatapan seperti bertanya “ya?” jika anak dapat meminta tanpa mendengar
pertanyaan “mau apa”)
•
Anak melakukan sign untuk meminta item. Instruktur
pertama menyebut nama item sambil memberikan item tsb. ke anak.
•
Secara bertahap kurangi prompt instruktur ke 2 sampai
anak mampu mencolek instruktur pertama secara independen.
Mengajarkan anak Mand dengan cara Menukar Gambar
(Picture Exchange/PECS)
Ingatlah bahwa tidak
selalu bahwa anak harus mampu menyamakan gambar dengan object sebelum
mengajarkan Mand dengan gambar.
Dibutuhkan 2 orang
pada tahap awal pembelajaran .
•
Taruh item yang diinginkn anak di depan anak tetapi
tidak bisa diraih anak. Untuk latihan awal, gunakan benda yang dapat dibagi
menjadi bagian kecil-kecil agar latihan bisa berulang-ulang.
•
Instruktur pertama duduk di depan anak, dekat dengan
item yang diinginkan. Instruktur kedua duduk di belakang anak untuk memberikan
prompt. Perhatikan, penting sekali bahwa instruktur tidak berkata apapun
sebelum item diberikan pada awal pembelajaran karena kita ingin respon anak
berdasarkan keinginan anak atas item tsb.
•
Ketika anak meraih benda tsb., instruktur kedua secara
fisik melakukan prompt ke anak untuk mengambil dan memberikan gambar ke
instruktur pertama yang telah menjulurkan tangannya.
•
Segera setelah kartu gambar di tangan instruktur,
instruktur pertama menyebutkan nama benda dan memberikannya ke anak.
•
Lakukan langkah di atas dengan cepat. Lanjutkan prompt
penuh sampai anak dapat mengambil dan memberikan kartu gambar tanpa prompt.
•
Jangan berikan petunjuk verbal selama proses ini.
•
Tambahkan gambar sesuatu yang anda tahu si anak pasti
tidak menginginkannya sebagai distracter.
•
Campurkan benda2 itu di atas meja agar anak harus
melihat gambar untuk memilih mana yang benar.
•
Hilangkan pelan-pelan (fade) prompt instruktur pertama (instruktur pertama
menjulurkan tangan ke depan untuk meminta/mengambil gambar dari anak)
•
Hilangkan (fade) kehadiran instruktur pertama. Secara
bertahap, menyingkirlah dari anak agar anak harus datang ke kita untuk
mendapatkan benda yang diinginkan.
•
Secara bertahap luaskan ukuran tempat mengajar anak
meminta. (dari meja, ruangan dst)
•
Taruh/simpan gambar di suatu tempat dimana anak dapat
dengan mudah mengambilnya. Jika ini tidak mungkin, ajar anak untuk meminta buku
atau kotak dimana gambar-gambar tsb. disimpan.
•
Pastikan untuk mengajari anak menukar dengan banyak
orang (generalisasi) supaya anak tidak belajar mengasosiasikan aktivitas tsb.
hanya dengan orang tertentu.
Prosedur Mengajar – Vocal
Mand
Yang harus diingat:
•
Buatlah kondisi dimana anak dapat melakukan respon
yang sama atau serupa seperti yang anda inginkan dan transferkan ke kondisi
baru.
•
Anak cenderung akan mengulang kata yang baru diucapkan
dengan kondisi baru
•
Prompt anak dalam 2-3 detik: Selalu buat anak
sukses/berhasil.
Bagaimana jika anak
memiliki kemampuan vokal tetapi sedikit sekali yang dapat dimengerti?
•
Terus dorong/reinforce vokalisasinya pada lingkungan
natural (natural environment). Jika kata yang diucapkan menyerupai sesuatu yang
mungkin diinginkan anak, berikan benda tsb. diikuti dengan pengucapan nama
benda tsb. dengan benar.
•
Selalu hargai sistem apapun yang dipakai anak untuk
meminta, jika anak memberikan kartu gambar cereal untuk meminta cereal, jangan
suruh anak mengatakan “Katakan cereal”. Jika ini dilakukan terlalu cepat, anak
akan berhenti melakukan mand dengan caranya.
Bagaimana jika anak
dapat mengucapakan kata2 dengan jelas saat menirukan secara spontan (echoes)
tetapi tidak mau menirukan jika disuruh?
•
Gunakan transfer Fill-in ke Mand: Jika anak merespond
fill-in, mungkin dengan cara ini kita dapat memperoleh respon yang kita
harapkan.
Contoh:
–
Instructur: “Tiup
bubbles”. “tiup…………”
–
ANAK: “bubbles”
–
Instruktur: “Michael
mau apa?”
–
ANAK: “bubbles
•
Jika anak tidak menjawab, jawablah sendiri dan terus
ulangi. Penting untuk diingat jangan memberikan perintah “Katakan …………….”
hingga kemampuan menirukan (echoic) anak dapat dilakukan dalam kondisi kontrol
instruksional karena kita tidak dapat mem-prompt anak untuk bicara, maka sama
saja dengan mengajarkan anak untuk tidak mengikuti instruksi.
• Tingkatkan
kemungkinan untuk echo: “pura-puralah bodoh”. Jika anak akan meraih/mendekati
suatu item, sebutkan nama item dengan nada tanya. Contoh anak mau mengambil
bola di rak, katakan “bola?”. Lakukan ini tidak lebih dari 3x sebelum
memberikan bola ke anak. Kalau anak suka tantrum, lakukan sekali saja. Kita
juga bisa mencoba menawarkan 2 pilihan ke anak. Pastikan hanya menyebutkan
nama itemnya saja untuk menghindari anak mengulang/membeo “Michael mau bola?”.
•
Buatlah echoic dibawah kontrol instruksional. Ajarkan
anak untuk menirukan hal-hal lain yang dapat diprompt seperti gerakan motorik.
Hal ini dapat dilakukan sambil bernyanyi atau bermain dengan mainan. Sasarannya
adalah untuk melakukan imitasi gerak dibawah kontrol/dengan perintah
“Tirukan/lakukan ini”. Setelah anak dapat menirukan beberapa gerakan, anda
dapat mentransfer imitasi gerak ke imitasi vocal.
Contoh:
–
Instruktur: “Tirukan” (tepuk tangan)
–
ANAK: (respon = tepuk tangan)
–
Instruktur: “Tirukan” (tepuk meja)
–
ANAK: (respon =
tepuk meja)
–
Instruktur: “Tirukan” – bola
–
ANAK: “bola”
–
Instruktur: “Katakan bola”
–
ANAK: “bola”
Bagaimana jika anak mau menirukan secara konsisten
untuk meminta tetapi tidak dapat merespon jika ditanya “……. mau apa?”
Transfer
dari Echo ke Mand:
•
Tanya: “Michael mau apa? Bola (langsung kita
jawab)
•
Michael: “Bola”
•
Tanya: “Michael mau apa?”
•
Michael: “Bola”
Jika anak menirukan/membeo
pertanyaannya, mis: “Michael mau apa?”, maka:
–
Ucapkan jawaban lebih keras daripada pertanyaan
–
Beri jeda/sela antara pertanyaan dan jawaban
–
Beri prompt jawaban dengan mengucapkan kata depannya
“Bo…”
Bagaimana jika anak
dapat merespon jika ditanya “ …. Mau apa?” tetapi tidak bisa merespon jika
diberikan 2 pilihan?
Kita ingin
anak dapat mengatakan apa yang dia inginkan dengan berbagai kondisi yang
berbeda. Anak mungkin menghadapi berbagai cara orang menawarkan sesuatu di
lingkungannya, olehkarenanya sangat penting untuk mengajarkan dia merespon
terhadap berbagai cara orang memberikan pilihan
• CARA
KE 1 - TRANSFER KE PERTANYAAN BARU
–
Instruktur: (sambil
memegang bola dan kue) “Michael mau apa?”
–
ANAK: “kue”
–
Instruktur: “Michael
mau kue atau bola?”
–
ANAK: “kue”
Perhatikan: katakan benda yang lebih
disukai lebih dahulu, karena anak biasanya cenderung mengulang kata yang di
belakang
• CARA
KE 2 – MULAI DENGAN KATA TUNGGAL
–
Tanya: (sambil memegang bola dan kue) “Bola? Kue?”
–
Michael: “bola”
–
Tanya: “Michael mau Bola atau kue?”
–
Michael: “bola
• CARA
KE 3 – BERILAH PROMPT ECHOIC
–
Instruktur: (sambil memegang bola dan kue dan
mengamati anak meraih kue)
“Michael mau bola
atau kue? KUE”
–
ANAK: “KUE”
–
Instruktur: “Michael
mau bola atau kue?”
–
ANAK: “KUE”
Bagaimana jika anak hanya meminta jika ditanya “ ……. mau apa?”.
–
Instruktur: “Michael mau apa?” (atau pilihan)
–
ANAK: “Kue”
–
Instruktur: (memberikan anak secuil kue kemudian tatap
anak dengan harapan anak meminta lagi)
–
ANAK: “Kue”
–
Instruktur: (memberikan anak kue dengan potongan lebih
besar).
–
Jika anak tidak meminta lagi, prompt dia dengan
memberi awalan kata “ku…”
Bagaimana jika anak memberikan kartu/gambar PECS
dan mengatakan apa yang diinginkan dan saya ingin mengajarkan dia untuk
mengatakan apa yang diinginkan tanpa kartu?
Setelah anak menunjukkan
kemampuan vocal, kita ingin mengajarkan dia untuk meminta tanpa menggunakan
gambar/kartu supaya dia tetap dapat meminta jika tidak ada kartunya.
Contoh:
–
ANAK: (memberikan
gambar kue ke instruktur) “Kue”
–
Instruktur: (memberikan potongan kecil kue)
–
Instruktur: (sambil menyembunyikan gambar di belakang
punggung) “… mau apa?”
–
ANAK: “Kue”
Bagaimana jika anak hanya dapat meminta apa yang dia lihat?
–
Instruktur: “Michael mau apa?” (kue nampak di depan
anak)
–
ANAK: “Kue” (anak mendapat secuil kue)
–
Instruktur: (menyembunyikan kue di bawah meja)
“Michael mau apa?”
–
ANAK: “Kue”
Biarkan anak melihat ketika anda menyingkirkan kue.
Bagaimana jika
kita ingin anak belajar mengatakan “saya mau” sebelum mengatakan apa yang
diinginkan?
•
Beberapa orang mengajarkan anak mengatakan “saya mau”
pada awal program. Sangat penting untuk dipertimbangkan apa nilai tambah
mengajarkan “saya mau” karena akan lebih menyulitkan anak meminta, dan mungkin
akan menimbulkan frustrasi pada anak. Problem lain jika diajarkan terlalu dini,
anak akan menggunakannya untuk semua permintaan padahal belum tentu cocok.
• Jika
ingin menambahkan kata-kata tambahan, penting untuk mengajarkan beberapa kata
sebagai variasi. Kata-kata tambahan
dapat dengan mudah diajarkan menggunakan prompt echoic setelah kemampuan
meminta anak sudah bagus. Ajarkan dengan mand yang paling kuat (permintaan yang
paling sering dilakukan tanpa prompt)
–
ANAK: “kue”
–
Instruktur: “Katakan, Saya mau kue” (bisa nama
anak, saya, aku)
–
ANAK: “saya mau kue”
–
Instruktur: “kamu mau apa?”
–
ANAK: “saya mau kue” (anak mendapatkan secuil kue)
–
Instruktur: “Katakan, saya minta kue”
–
ANAK: “Saya minta kue” (anak mendapat secuil kue)
–
Instruktur: kamu minta apa?
–
ANAK: “saya minta kue” (anak mendapat kue lagi)
•
Contoh lain:
–
ANAK: “Bola”
–
Instruktur: Katakan, “Ayo main bola”
–
ANAK: “Ayo main bola”
–
Instruktur: Kamu mau main apa?
–
ANAK: “Ayo main bola”
Bagaimana jika anak dapat meminta objek tetapi tidak aksi/action
Action dapat diajarkan dalam konteks aktivitas yang dapat me-reinforce.
Contoh: jika anak meminta “ayunan”, maka kita dapat menggunakan fill-ins atau
echoic prompt untuk mengajarkan anak meminta “dorong”.
–
ANAK: “Ayunan”
–
Instruktur: menaruh anak di ayunan dan mulai mendorong
sambil berkata) “Dorong, dorong.. Do……”
–
ANAK: “..rong”
–
Instruktur: Michael minta apa?”
–
ANAK: “dorong”
•
Contoh lain:
–
ANAK: “Ayunan”
–
Instruktur: menaruh anak di ayunan dan mulai mendorong
sambil berkata) “Katakan Dorong”
–
ANAK: “dorong”
–
Instruktur: Michael minta apa?”
–
ANAK: “dorong”
Hal-hal yang penting untuk
diingat dalam mengajarkan Mand
•
Meminta adalah hal yang paling penting untuk diajarkan
ke anak
•
Setelah anak dapat meminta, kita dapat menggunakan
kemampuan ini untuk mengajarkan anak berbagai fungsi bahasa lainnya.
•
Ada 2 prioritas untuk dipertimbangkan dalam
mengajarkan anak yang sudah memiliki kemampuan vokal untuk meminta.
– Pertama,
pastikan bahwa anak benar-benar menginginkan apa yang diminta pada saat itu
(ada EO untuk item tsb.). Suatu hal yang sia-sia untuk mencoba mengajarkan
anak meminta sesuatu yang tidak diinginkan.
–
Kedua, kita harus mengajarkan ke
anak bahwa cara-cara lama yang digunakan anak di waktu lampau, seperti
menangis, teriak, mem-beo tidak lagi dapat digunakan. Kita lakukan ini dengan tidak
me-reinforce cara lama untuk meminta atau mengajarkan anak cara lain untuk
meminta selain yang diajarkan pada Mand Training.
•
Meskipun anak bisa menggunakan/menirukan kalimat
panjang, mulailah dengan kata tunggal. Hal tsb. untuk mengajarkan anak, kata
yang mana yang memberikan apa yang diminta/diinginkan
•
Ajarkan anak meminta dengan berbagai kondisi
•
Ketika mengajarkan anak meminta, pastikan untuk
mengajarkan nama item-nya sebelum warna atau kata sifat lainnya. Contoh, jika
anak senang mewarna, pastikan dia bisa minta “crayon”, sebelum mengajarkan anak
meminta warna. Kalau tidak dikhawatirkan nama warna disalahartikan sebagai nama
item-nya
•
Kata-kata seperti “lagi”, “tolong” jangan diajarkan
sebelum si anak dapat meminta item dengan menyebut nama itemnya
•
Ketika akan menambahkan kalimat pelengkap, pastikan
kalimat pelengkap tersebut dapat dipakai dalam berbagai kondisi. Misalnya
“Bolehkah saya minta kue?” -> hanya cocok dengan orang dewasa, tapi tidak
cocok untuk dipakai dengan teman sebaya
•
Jangan memaksakan si anak mengatakan apa yang
diinginkan sebelum mendapatkannya. Gunakan strategi prompt (tanda, gambar,
fills-in)
•
Ketika akan mengajarkan anak untuk melabel/tact benda,
kata kerja, preposisi dll akan lebih mudah mengajarkan anak meminta dulu,
kemudian ditransfer ke tact. Misalnya mengajarkan anak melabel “gelap” , akan
lebih mudah untuk membuat si anak menyukai kondisi gelap dengan main lampu
senter, dan lampu dimatikan. Si anak akan suka dan akan minta “gelap”, kemudian
transfer respon tsb. untuk melabel “gelap”
•
Memperbaiki artikulasi – setelah si anak bisa minta
tanpa prompt, buatlah dia mengulang kata-2nya beberapa kali sebelum memberikan
apa yang diminta untuk memperbaiki artikulasinya.
•
Pastikan anak tidak mendapatkan apapun untuk perilaku
negative-nya.
Bagian Ketiga
Mengajarkan Anak Melabel
(Tact) Objek dan Gambar
•
Setelah anak dapat meminta banyak hal, instruktur
harus memulai menambahkan tugas lain di sela-sela MAND.
•
Biasanya, skills awal yang paling bagus untuk diajarkan
di sela-sela mand adalah imitasi motor, matching, instruksi reseptif sederhana,
dan diskriminasi objek secara reseptif.
•
Untuk anak yang baru belajar berkomunikasi, kebanyakan
instruksi harus muncul dalam konteks aktivitas yang disukai anak. Misalnya,
imitasi motor dapat diajarkan sambil bernyanyi dan finger plays atau ketika
bermain dengan mainan. Diskriminasi reseptif objek bisa diajarkan sambil
membereskan mainan, diskriminasi gambar dapat diajarkan sambil membaca buku.
•
Instruksi sederhana seperti “tunjuk”, “pegang” atau
“berikan” dapat diajarkan dengan menyuruh anak menunjuk atau memegang
reinforcer, atau memberikan reinforcer atas permintaan. Mengajarkan anak untuk
menyerahkan reinforcer merupakan bagian pengajaran yang sangat penting.
•
Tipe komunikasi fungsional (perilaku verbal)
berikutnya yang akan kita ajarkan ke anak adalah melabel objek (TACT) yang
dilihat/diketemui anak.
•
Berbeda dengan MAND dimana anak mendapatkan apa yang
diminta, tact tidak memberikan efek yang sama (anak tidak mendapatkan apa yang
diminta). Anak me-label bukan karena dia menginginkan tetapi karena diminta
oleh instruktur atau karena dia melihat objek tersebut.
•
Tact murni adalah ketika anak melabel tanpa diminta.
Dalam kehidupan sehar-hari, biasanya orang/anak melakukan tact karena ingin
orang di sekitarnya memperhatikan apa yang ditunjukkan atau memperhatikan dia.
Contoh, ketika anak melihat buku bersama mamanya, dan berkata “kuda” sambil
menunjuk gambar kuda dan menoleh ke ibunya, perilaku verbal ini memiliki 2
fungsi, yaitu melabel kuda (tact) dan meminta perhatian (mand) ibunya.
•
Tidak lazim jika anak melabel apa aja yang dia lihat
tanpa bermaksud menunjukkan ke kita/meminta perhatian kita untuk melihat apa
yang ditunjuk. Ini akan terjadi apabila melabel diajarkan sebagai skill yang
terpisah dari skill mand (manding for attention).
•
Biasanya anak yang sedang bertumbuh mulai melabel item
di sekililingnya di awal penguasaan bahasanya. Mereka tidak akan melabel ketika
sedang sendirian di kamar. Atensi yang didapatkan anak karena dia
melabel merupakan reinforcer atas perilaku labeling/tacting. Jadi
penting sekali untuk diingat, jika kita ingin anak dapat melabel secara
spontan, kita harus berada di dekat anak dan me-reinforcenya dengan perhatian
yang kita berikan ke anak setelah dia melabel.
•
Selama pelatihan awal, kita ingin anak belajar dapat
melabel dengan pertanyaan yang berbeda-beda, misalnya “apa ini?”, “apa itu?”
“apa namanya ini”, juga dapat melabel ketika instruktur hanya menunjuk tanpa
bertanya.
•
Pastikan pada saat mengajar anak melabel, anak dapat
merespon dengan flexible tidak hanya ketika mendengar pertanyaan “Apa itu”. Hal
ini dapat dicapai dengan menggunakan prosedur transfer.
•
Contoh:
–
Instruktur: “Apa itu?”
–
Anak: “Sapi”
–
Instruktur: “Binatang apa itu namanya”
–
Anak: “Sapi”
•
Tact diajarkan dengan cara yang sama baik untuk anak
yang sudah vocal ataupun yang masih memakai cara komunikasi lain. Meskipun
lebih sulit mengajarkan fungsi ini kepada anak yang menggunakan komunikasi
gambar, karena ketika anak melabel, sebenarnya yang dia lakukan adalah
“matching”. Misalnya, anak ditanya “apa ini” sambil instruktur memegang bola,
anak akan memberi gambar bola, perilaku ini bukan benar-benar tact, karena anak
menyamakan gambar bola dengan bola yang dipegang instruktur.
Ada 4 cara dasar untuk
mengajarkan anak melabel, salah satunya dengan Transfer Procedure
• Bagaimana
jika anak dapat meminta banyak hal, tetapi tidak bisa merespon ketika ditanya
“Apa ini?”
Transfer dari Mand ke Tact
Istilah ini menyesatkan
karena sebenarnya kita meminta anak untuk melabel item dulu. Selama pelatihan
awal, anak akan merespon dengan mengatakan nama itemnya ketika melihat item
tsb. karena sebelumnya anak telah di re-inforced dengan mendapatkan itemnya
saat pelatihan manding.
Contoh 1
–
Instruktur: “Apa ini?”
–
Anak: “Bola”
–
Instruktur: “Kamu
mau apa?”
–
Anak: “Bola”
–
Instruktur: “Berikan ke saya”
–
Anak: (memberikan bola ke instruktur – anak telah
diajarkan untuk menyerahkan reinforcers)
Contoh 2
–
Instruktur: “apa ini?”
–
Anak: “Bola”
–
Instruktur: “Tirukan”
(memukul bola dengan palu plastik)
–
Anak: (memukul
bola dengan palu plastik)
–
Instruktur:
“Berikan palunya”
–
Anak:
(memberikan palunya)
–
Instruktur: “Kamu
mau apa?”
–
Anak: “Bola”
•
Prosedur kedua menggunakan mands yang sudah dikuasai,
sediakan 2 benda favorite anak, dan lihat mana diantara kedua benda tsb. yang
paling disukai anak dan gunakan sebagai reinforcernya, dan benda satunya untuk
mengajarkan tact.
Contoh: (instruktur mempunyai permen dan buku, dan melihat si
anak menginginkan buku, tetapi juga mau permen ketika ditawari)
–
Instruktur: (memegang permen) “Apa ini?”
–
Anak: “Permen”
–
Instruktur: “Bagus! Kamu mau apa? (menunjukkan buku)
–
Anak: “Buku”
•
Bagaimana jika anak dapat menunjuk gambar tetapi
tidak merespon jika ditanya “Apa ini?”
Transfer Receptive ke Tact
–
Instruktur:
“Pegang mobil”
–
Anak: “Mobil”
(sambil menunjuk mobil)
–
Instruktur: “Apa
ini”
–
Anak: “Mobil”
• Bagaimana
jika anak dapat imitasi secara konsisten jika kita berkata “Katakan, ….” tetapi
tidak merespon jika ditanya “Apa ini?”
Transfer dari Echo ke Tact
–
Instruktur: “Katakan, mobil”
–
Anak: “Mobil”
–
Instruktur: “Apa
ini?”
–
Anak: “Mobil”
•
Bagaimana jika anak dapat mengisi kata-kata selama
aktivitas keseharian, namun tidak merespon jika ditanya “Apa ini?”
Fill-in ke Tact Transfer
–
Instruktur:
“Kita cuci tangan di ………”
–
Anak: “Wastafel” (sambil menunjuk mobil)
–
Instruktur:
“Apa ini”
–
Anak: “Wastafel”
Transfer Procedure
Apa itu Transfer Prosedur?
Dalam pengajaran ABA VB
dikenal istilah “Errorless Learning”. Errorles learning tujuannya adalah
mengajari anak bagaimana caranya dia selalu bisa dan kita tidak ingin menunggu
respon yang salah sebelum prompt karena hal tersebut dapat menyebabkan anak
berlatih memberikan respon yang salah. Salah satu cara errorless learning
dengan prompt (dituntun) penuh dan kemudian berangsur-angsur dikurangi
prompt-nya. (Prompt Fading). Cara lain yaitu dengan TRANSFER
PROSEDUR, dari skill yang telah dikuasai si anak ditransfer ke skill
baru.
•
Dari Imitasi ke Stimulus Discriminative/SD
“Tepuk Tangan”
–
Instruktur: Tirukan ini (tepuk tangan)
–
Anak: (tepuk tangan)
–
Instruktur: “Tepuk tangan” (instruksi & contoh)
–
Anak: (tepuk tangan)
–
Instruktur:
“Tepuk tangan” (instruksi tanpa contoh)
–
Anak: (tepuk tangan)
–
Dari Tact ke Mand
–
Tunjukkan mobil ke anak
•
Instruktur: “Apa ini?”
•
Anak: “Mobil”
•
Instruktur: “kamu mau apa?”
•
Anak: “Mobil”
–
Sediakan 2 item yang paling diinginkan anak (strong
mand). Putuskan item mana yang paling dikehendaki diantara keduanya.
•
Instruktur: “Apa ini?”
•
Anak: <melabel/tact
item yang kurang diinginkan>
•
Instruktur: “kamu mau apa?”
•
Anak: <mands
item yang lebih disukai/diinginkan>
–
Receptive ke Tact
•
Instruktur: “Pegang <item>”
•
Anak: <memegang item>
•
Instruktur: “Apa ini?
•
Anak: <menyebutkan nama item>
–
Echo ke Tact
•
Instruktur:
“Katakan mobil”
•
Anak: “Mobil”
•
Instruktur:
“Apa ini?”
•
Anak: “Mobil”
•
Jika anak dapat melabel, tetapi tidak dapat
menyebutkan jika diberi feature, function atau class (TACT
to FFC)
–
Instruktur: “Apa ini?”
–
Anak: “mobil”
–
Instruktur: “Mommy menyetir apa?”
–
Anak: “mobil”
•
Anak dapat mengikuti instruksi sederhana untuk
melaksanakan suatu aksi dan kita ingin ajarkan dia untuk melabel aksi. (RECEPTIVE
to TACT ACTION)
–
Instruktur:
“Tepuk tangan”
–
Anak: <bertepuk
tangan>
–
Instruktur: “Apa yang sedang kamu lakukan? Tepuk
tangan” (prompt penuh karena “bentuk”nya berbeda”
–
Anak: “Tepuk tangan”
–
Instruktur: “Apa yang sedang kamu lakukan”
–
Anak: “Tepuk
tangan”
•
Anak dapat menjawab pertanyaan fill-in dan kita ingin
mengajarkan dia menjawab pertanyaan
–
Instruktur: “Kita tidur di …….. “
–
Anakl: “Tempat tidur”
–
Instruktur: “Di mana kita tidur?”
–
Anak: “Tempat tidur”
•
Anak dapat menjawab jika ditanya “Dimana kita tidur”
tetapi hanya kalau ada gambar tempat tidur, sekarang kita akan mengajarkan anak
mampu menjawab meskipun tidak ada gambar benda/objeknya
–
Instruktur: (memegang gambar tempat tidur) “Dimana
kita tidur?”
–
Anak: Tempat
tidur
–
Instruktur: (singkirkan gambar) “Dimana kita tidur?”
–
Anak: Tempat
tidur
Prosedur Koreksi dan
Prompting
Memperkenalkan Target Baru
Setiap kali memperkenalkan
target baru, atau jika kita memperkirakan anak tidak dapat merespon target
baru, maka kita mempunyai pilihan sbb:
•Transfer
dari respon yang sudah dikuasai anak sebelumnya
–
Instruktur: “Di kolam ada …….”
–
Anak: “Ikan”
–
Instruktur: “Apa ini?”
–
Anak: “Ikan”
–Berikan
jawaban yang benar langsung setelah kita katakan pertanyaannya (prompt
langsung)
–
Instruktur: “Apa ini? Ikan”
–
Anak: “Ikan”
Baik no. 1 maupun no. 2, kita
berikan prompt supaya anak dapat menjawab dengan benar.
Prosedur Koreksi dan
Prompting
–
Untuk beberapa anak, dengan pengalaman “pre-trial
prompt” alternatif ke 3 dapat dipakai dengan prompt diberikan sebelum SD-nya
–
Instruktur: “Ini ikan, Apa ini?”
–
Anak: “Ikan”
Respon
yang Salah atau Tidak Ada Respon
Jika anak tidak
merespon dalam 2-3 detik, atau memberikan respon yang salah, ulangi pertanyaan
dan langsung berikan jawabannya (prompt langsung) dan tunggu anak menirukan,
kemudian ulangi pertanyaannya lagi untuk mendapatkan respon tanpa prompt.
–
Instruktur: “Apa ini?”
–
Anak: “meong”
–
Instruktur: “Apa ini? Kucing”
–
Anak: “Kucing”
–
Instruktur: “Apa ini?”
–
Anak: “Kucing
Mengurangi/Menghilangkan
Prompt
Langkah berikutnya yang
penting adalah menghilangkan prompt agar anak tidak menjadi tergantung pada
prompt dan dapat memberikan respon atas target SD verbal. Hal ini dapat dicapai
dengan mengulang pertanyaannya lagi untuk mendapatkan respon tanpa prompt.
–
Instruktur: “Apa ini? Ikan”
–
Anak: “Ikan”
–
Instruktur: “Apa ini?
–
Anak: “Ikan”
Kita tidak selalu langsung
berhasil mendapatkan respon tanpa prompt, dan penting untuk menghindari anak
frustrasi.
Tiap anak memiliki kemampuan
yang berbeda dalam mentoleransi pertanyaan/percobaan berulang, tetapi sebagai
aturan umum, jika kita masih belum mendapat respon tanpa prompt setelah usaha
ke 3, terimalah respon dengan prompt dan teruskan.
Tiap anak juga berbeda dalam
merespon jenis-jenis prompt yang berbeda olehkarenanya penting sekali untuk
melihat mana yang paling cocok untuk anak tsb.
Secara bertahap, pisahkan
respon dengan prompt dan yang tanpa prompt dengan tugas-2 yang mudah yang kita
tahu pasti anak akan merespon dengan benar, kemudian balik ke target.
Tingkatkan jumlah tugas yang mudah sambil tetap kembali mencoba respon tanpa
prompt.
–
Instruktur: “Di kolam ada …….”
–
Anak: “Ikan”
–
Instruktur: “Apa ini?”
–
Anak: “Ikan”
–
Instruktur: “Lihat ada perahu di kolam”
–
Anak: <melihat>
–
Instruktur: “Apa ini?” (memegang ikan)
–
Anak: “Ikan”
–
Instruktur: “Bagus sekali!”
Bagian Ke Empat
Mengajarkan Imitasi, Echoic,
Reseptif dan Matching
Mengajarkan Imitasi Gerak
•
Training imitasi motor haruslah menyenangkan dan
dikemas dalam bentuk permainan. Jika anak dipaksa untuk melakukan imitasi, maka
dikemudian hari kemungkinan anak tidak mau melakukan imitasi secara spontan,
tanpa prompt.
•
Jika anak tidak dapat menirukan, ulang prosedur dan
beri prompt fisik, kurangi dan beri reinforcer -> Errorless Learning
•
Ada banyak imitasi gerak yang dapat diajarkan
memasukkan benda ke container, melempar & mendorong bola, lompat, duduk,
menari, berlari, berputar, permainan cilukba dll.-> pilih yang fungsional
Meningkatkan Vocal Play dan
Mengajarkan Echoic
•
Sasaran vocal training adalah meningkatkan vocal play anak secara spontan dan untuk
mendorong anak melakukan vokalisasi spesifik (echoic).
•
Ada beberapa teknik untuk mencapai sasaran di atas,
sbb:
–
Tekhnik Pertama:
penggunaan reinforcement langsung untuk setiap vokalisasi yg dilakukan anak.
–
Tekhnik Kedua: gunakan setiap
kesempatan untuk mengasosiasikan atau memasangkan (pairing) vokalisasi org
dewasa dengan reinforcer yg timbul secara natural. Contoh: sebelum menggelitik
anak, kita harus mengeluarkan suara seperti “baba” 1-2 detik sebelumnya dan
ulangi dan jika ternyata anak suka
digelitik (reinforcing), maka suara “baba” akan menjadi reinforcer karena
dipasangkan dengan gelitik (anak tahu akan mendapat gelitik ketika kita mengeluarkan
suara). Ulangi dengan suara2 yang berbeda.
•
Tujuan meningkatkan vocal play anak adalah untuk
memperkuat tali/pita suaranya dan meningkatkan kemungkinan timbulnya echoic
skill (imitasi vokal)
•
Ketrampilan menirukan suara (Echoic skills)
sangat berperan dalam mengajarkan kata-kata baru, karena anak dapat mengulang
suatu kata ketika disuruh.
•
Prosedur untuk memperkuat kemampuan anak menirukan
suara sama seperti yang digunakan untuk imitasi motor, kecuali digunakannya
vocal behavior bukan prompt fisik.
•
Prosedur terdiri dari:
–
Verbal prompt “katakan” dan reinforce respon yang
benar atau yang mendekati benar
–
Menggunakan suara yg sudah pernah/sering dikeluarkan
anak ->training akan sukses Tujuannya adalah: MEMBUAT ANAK MENGELUARKAN
SUARA TERTENTU ATAS PERINTAH. (banyak anak yg dpt mengeluarkan berbagai
suara, tetapi tidak dapat mengeluarkannya jika diminta secara khusus)
Mengajarkan Bahasa Reseptif
•
Sasaran utama dari pengembangan keterampilan Bahasa
Reseptif adalah untuk mengajarkan anak agar dapat merespon secara benar
terhadap apa yang dikatakan orang lain
•
Training pada awal haruslah mudah bagi anak dan respon
yang benar harus segera di reinforced.
•
Pengajaran akan sukses jika dilakukan dibawah kondisi
yang menyenangkan bagi anak (under reinforcement condition) ketimbang dalam
kondisi si anak hrs berhenti melakukan sesuatu yg menyenangkan baginya karena
harus merespon instruksi. Contoh biasanya orang tua, guru sering mengajarkan
anak mematuhi instruksi untuk datang jika dipanggil ketika anak sedang melakukan
aktivitas yg disukai.
•
Prosedur: bawa/pegang reinforcer, panggil anak,
tunjukkan sekilas reinforcer tsb. lalu sembunyikan, ketika anak datang, berikan
reinforcernya dan langsung puji anak karena mau datang ketika dipanggil.
Selanjutnya kurangi frekwensi menunjukkan reinforcer dan generalisasikan dengan
orang2 yang berbeda, tempat yang berbeda.
Mengajarkan Matching
•
Satu dari keterampilan2 yg dpt digunakan untuk
membangun kontrol instruksional adalah matching (gambar dan/atau objek)
•
Cara mengajarkan matching:
–
Instruktur duduk di samping anak, dan taruh 2 item
berjarak 30cm.
–
Tunjukkan item ke 3 anak dan beri contoh dengan
menaruh item ke 3 dengan item yg sama.
–
Setelah diberi contoh, berikan anak item ke 3 dan
prompt anak utk menyelesaikan tugasnya. (prompt: gestural/fisik, verbal).
–
Beri reinforcement setelah anak menyelesaikan tugas
dgn benar.
–
Jangan lupa untuk memindah/menukar lokasi item
(kiri-kanan)
–
Instruksi yg dipakai: “samakan, taruh yang sama dll”.
–
Item yang dipakai bisa gambar, puzzle single inzet,
form box dll.
Bagian Ke Lima
Mengajarkan RFFC (Receptive
by Function, Feature and Class)
•
Banyak
anak dengan keterlambatan berbahasa memiliki kesulitan memahami dan bereaksi
terhadap ucapan orang lain. Anak-anak ini ada yang sangat diam, ada juga yang
menunjukkan perilaku yg mengganggu. Meskipun anak-anak ini dapat melabel (tact)
dan memahami banyak hal (reseptif), mereka tidak dapat merespon dengan benar
verbal stimuli yang berbeda-beda/berubah-ubah yang mereka dengar dari
lingkungan sehari-hari.
•
Kebanyakan
orang tidak pernah mengatakan hal yang sama dengan cara yang sama, atau
menggunakan kata-kata yang sama. Mengajarkan anak dengan keterlambatan bahasa
untuk merespon dengan benar terhadap berbagai stimuli verbal dalam lingkungan
keseharian adalah suatu tugas yang sangat rumit.
Perbedaan
Latihan Reseptif Biasa dengan RFFC
•
Perbedaan
Reseptif biasa (standar) dengan RFFC adalah pada pelatihan Reseptif biasa,
stimulus verbalnya khusus/langsung berkenaan dengan aksi atau diskriminasi yang
diminta, sedangkan pada RFFC, nama dari aksi atau item-nya tidak ada.
Reseptif
Biasa/Standar
•
Prosedur pelatihan reseptif biasa/standar dimulai
dengan:
–
Pertama, anak diajarkan untuk merespon terhadap
instruksi verbal “berdiri”, “lompat”;
–
Kedua berlanjut ke diskriminasi reseptif dimana anak
diminta untuk mengenali benda-benda yang berbeda, misalnya pegang sepatu,
pegang hidung;
–
Ketiga adalah memahami stimuli verbal yang lebih
kompleks, misalnya “pergi ke meja, ambil buku dan berikan ke Mary:
•
Ketrampilan di atas penting untuk dipelajari anak,
tetapi tidak cukup untuk menyiapkan anak agar dapat merespon dengan benar
terhadap berbagai bentuk stimuli verbal yang akan ditemui dalam lingkungan
kesehariannya.
Reseptif FFC
•
Aspek yang paling rumit dari pelatihan bhs reseptif
tngkat advance adalah kemampuan terapis dalam mengembangkan berbagai potensi
stimuli verbal yang mungkin ada di lingkungan natural. Terapis harus dapat
memberikan verbal stimuli ini dalam lingkup training yang terstruktur dari yang
mudah hingga yang kompleks dan menyajikan dalam berbagai variasi untuk
menghindari terjadinya penghafalan. Sebagai tambahan latihan ini harus dikemas
dalam mixed VB (gabungan reseptif, mand, tact) ditambah faktor seperti
penggunaan prompt, pengurangan prompt, pemberian reinforcement serta
generalisasi.
•
Prasyarat untuk RFFC:
–
Anak telah memiliki kurang-lebih 50 kata dan dapat
menggunakannya untuk mands, tacts, dan deskriminasi reseptif dengan benar pada
kondisi yang berbeda-beda, mis: gambar yang berbeda untuk objek yg sama,
instruktur yang berbeda, setting yang berbeda,
–
Anak harus dapat merespon ketika kalimat penyerta yang
berbeda digunakan untuk tacts, mis: Apa itu?, Dapatkah kamu mengatakan apa ini?
Apa yang kamu lihat disini?, tidak hanya apa ini/itu). Untuk diskriminsi
reseptif juga demikian, tunjukkan……, dapatkah kamu mencari …., tidak hanya
“pegang ….”). Jika anak sudah memenuhi kriteria ini maka, pelatihan RFFC bis
ditambahkan dalam format mixed VB.
Memulai RFFC
•
Target RFFC diambil dari kata-kata yang sudah dikuasai
anak dalam mand, tact & reseptif.
•
Training dimulai dengan 2 diskriminasi komponen dari
kategori yang berbeda (makanan & binatang), anak disuruh melabel (tact) dan
diskriminasi reseptif antara 2 objek tsb sebagai pemanasan dan memastikan anak
tidak lupa.
•
RFFC paling mudah adalah synonym, suara binatang,
asosiasi dan disarankan training awal dimulai dengan tugas-tugas yang mudah
ini.
•
Setelah anak dapat melabel dan identifikasi secara
reseptif dengan benar, instruktur menunjukkan 2 objek dan meminta anak untuk
memegang benda yang diberikan dengan synonym-nya, misalnya “pegang pus/meong”
kalau dulunya diajarkan “pegang kucing”.
•
Response yang benar langsung diikuti dengan pujian,
berhenti sejenak, kemudian dicoba lagi , respon yang tidak benar diikuti oleh
prosedur koreksi -> pertanyaan diulang dan diberi prompt.
•
Tingkat kegagalan yang tinggi menunjukkan anak belum
siap dengan training ini atau tidak pernah dikenalkan dengan nama lain dari
objek tsb.
Memulai RFFC
•
Setelah anak sukses merespon instruksi RFFC yang mudah
dengan 2 objek atau gambar, perlu ditambahkan target baru.
•
Pemilihan target RFFC sangat penting diambil dari
kata-kata yang sudah dikuasai anak dalam mand, tact & reseptif.
•
Pengenalan kata-kata baru dalam training Tact, Mand & Reseptif harus terus dilakukan
olehkarenanya setelah anak dapat RFFC untuk beberapa kelompok/kategori,
perbendaharaan kata anak sudah akan meningkat menjadi ratusan.
•
Tabel RFFC pada tabel terlampir dibagi dalam beberapa
grup, grup A yang memiliki tingkat probabilitas untuk benar paling tinggi
(paling mudah), kemudian B dan C.
Pengembangan RFFC
•
Ada
beberapa perilaku penting yang harus diperhatikan untuk menentukan apakah anak
siap untuk meningkatkan kompleksitas tugas RFFC, yaitu:
–
Anak
sudah sukses dengan stimulus yg mudah (simple RFFC) adalah indikator utama.
–
Respon
yang cepat & benar
–
Penolakan
yang cepat atas objek yang tidak benar
–
Tidak
munculnya perilaku negatif atau usaha anak untuk menghindar dari tugas – juga
pertanda bahwa instruksi sudah tepat untuk anak.
Pengembangan RFFC
• Ada beberapa cara untuk
meningkatkan kemampuan RFFC, yaitu
–
Meningkatkan
RFFC yang sudah benar, dari 3-4 item menjadi 10-20 item di meja dan meminta
anak untuk mengambil item tertentu dengan kalimat-2 RFFC. -> meningkatkan
jumlah objek
–
Meningkatkan
kompleksitas dengan menggunakan objek yang hampir sama, misalnya anjing dan
kucing, kemudian minta anak untuk mengambil kucing dengan stimuli “ambil
binatang yang memiliki cakar”, atau kelompok binatang yang dipecah menjadi
kategori/class lebih kecil seperti serangga, ikan dll.
Menggabungkan RFFC dengan
Latihan Verbal lainnya
•
Untuk memaksimalkan efek dari latihan RFFC, sangat
penting untuk menggabungkan ketrampilan ini dengan ketrampilan lain yang sudah
dipelajari anak (mixed VB). RFFC trials harus dihubungkan dengan ketrampilan
bahasa lainnya -> disebut “verbal module”. Verbal modul dapat diartikan
sebagai suatu percakapan tentang topic tertentu. Contoh dengan setting di meja
dean beberapa gambar dan objek buatlah interaksi seperti di bawah ini:
–
Instruktur: Dapatkah kamu memberi saya seekor
binatang?
–
Anak: (memberi instruktur seekor anjing)
–
Instruktur: “Bagus!” Binatang apa ini?”
–
Anak: Anjing
–
Insruktur: Benar, Apakah kamu lihat binatang lainnya?
–
Anak: (memberi instruktur kucing)
–
Instruktur: Bagus! Binatang apa ini?
Menggabungkan RFFC dengan
Latihan Verbal lainnya
•
Anak: “kucing”
•
Instruktur: “Pandai! Coba pegang kucing”
•
Anak: (memegang kucing)
•
Instruktur: Ya! Coba bilang “kucing” (instruktur
memperbaiki artikulasi anak)
•
Anak: “kucing”
•
Instruktur: Bagus! Binatang apa yang suaranya
“Guk..guk..guk?”
•
Anak: (anak memegang anjing)
•
Instruktur: OK! Katakan “Guk..guk”
•
Anak: “guk..guk”
•
Instruktur: “Bagus! Binatang apa yang bunyinya meong?”
•
Anak: (memegang kucing)
•
Instruktur:
Ya! Kamu mau apa?
•
Anak: “kucing”
•
Instruktur: Ok, ayo kita keluar lihat kucing
Menggabungkan RFFC dengan
Latihan Verbal lainnya
• Interaksi
tsb. melibatkan (1) RFFC, (2) Tact, (3) Receptive), (4) Echoic dan (5) Mand dan
masih bisa dikembangkan lagi. Gabungan dari beberapa verbal operan dapat
memperluas konsep ttg anjing dan kucing, sekaligus mengajarkan konsep
bagaimana terlibat dalam percakapan.
•
Interaksi haruslah senatural mungkin dan jangan
gunakan percakapan/skrip yang sama setiap kali, karena dalam lingkungan
keseharian anak akan menghadapi verbal stimuli yang berbeda-beda.
•
Aspek yang penting dalam mengajarkan bahasa ke anak
autis atau gangguan perkembangan lainnya adalah mengajarkan ketrampilan yang
berguna bagi anak dalam lingkungan kesehariannya
•
Beberapa anak mungkin memerlukan pengulangan-pengulangan,
pelatihan khusus, prompt dan reinforcer yang kuat untuk menguasai keterampilan
awal. Namun begitu keterampilan awal sudah dikuasai, penting untuk segera
mengembangkan variasi, dan hal itu adalah efek utama dari prosedur
•
RFFC dalam pengembangan bahasa reseptif.
Penggunaan Prosedur Transfer
dalam RFFC
Transfer Reseptif ke
RFFC - Bagaimana jika anak dapat menunjuk ke objeknya
ketika disebutkan nama objek tetapi tidak dapat merespon pertanyaan tentang
objek?
–
Instruktur: “Pegang handuk”
–
Anak: <memegang handuk>
–
Instruktur: Kita mengeringkan pakai apa?
–
Anak: <memegang handuk>
•
Pada kasus ini anak akan memegang handuk lagi karena
dia barusan melakukan hal tsb. Alternative lain dengan prompt penuh pada saat
pertanyaan diajukan.
–
Instruktur: “Kita mengeringkan pakai apa? (sambil
memegang handuk”)
–
Anak: <memegang handuk>
–
Instruktur: Kita mengeringkan pakai apa? (tanpa
prompt)
–
Anak: <memegang handuk>
Penggunaan Prosedur Transfer
dalam RFFC
Transfer Tact ke TFFC –
(untuk anak yang melabel objek tetapi tidak merespon ke pertanyaan) – Respon
tact bis ditransfer ke TFFC (tact by FFC)
–
Instruktur: “apa ini?”
–
Anak: “selimut”
–
Instruktur: “kalau dingin kita tidur pakai apa?
–
Anak: “selimut”
Transfer Fill-in ke
TFFC (untuk anak yang merespon fill-in dengan baik)
–
Instruktur: “Kalau dingin kita tidur pakai selimur.
Kalau dingin kita tidur pakai …….”
–
Anak: “selimut”
Transfer Fill in ke
Wh? (untuk anak yang dapat mengisi label tetapi
tidak bisa merespon pertanyaan WH.
–
Instruktur: “Kalau dingin kita pakai …….”
–
Anak: “selimut”
–
Instruktur: Apa yang kita pakai kalau dingin?
–
Anak: “selimut”
Transfer RFFC ke TFFC–
(untuk anak yang menyebutkan nama objek sambil menunjuk/melabel)
–
Instruktur: (ada kucing atau gambar kucing) “Pegang
binatang yang ada kumisnya “
–
Anak: <memegang kucing dan mengatakan> “kucing”
–
Instruktur: “Binatang apa yang ada kumisnya?
–
Anak: “kucing” (melabel ketika diberi fitur/bagian)
Transfer Tact ke
intraverbal - (untuk
anak yang dapat melabel ketika ditanya tetapi tidak dapat merespon jika tidak
ada/tampak barangnya)
–
Instruktur: (selimut tampak) “Apa yang kita pakai
kalau dingin?”
–
Anak: “selimut”
–
Instruktur: (selimut disembunyikan) “Apa yang kita
pakai kalau dingin?”
–
Anak: “selimut”
Transfer Fill in ke
Intraverbal
–
Instruktur: (selimut tidak tampak) “Kalau dingin kita
pakai …….”
–
Anak: “selimut”
–
Instruktur: Apa yang kita pakai kalau dingin?
–
Anak: “selimut”
Transfer Echoic ke
Intraverbal
–
Instruktur: Katakan “mobil”
–
Anak: “mobil”
–
Instruktur: “Apa yang kita kendarai/naiki?”
–
Anak: “Mobil”
Respon untuk pertanyaan “Dimana?”
dapat ditransfer dari banyak pertanyaan FFC atau fill-in.
–
Instruktur: “ikan hidup di …….. “
–
Anak: “di dalam air”
–
Instruktur: “Dimana ikan hidup?”
–
Anak: “di dalam air”
Akan mudah mengajarkan anak
merespond pertanyaan “dimana” dengan lebih dahulu mengajarkan mereka meminta
informasi dengan menggunakan “Di mana?”
Transfer dari mand to
tact
–
Instruktur: “Saya punya kue untuk mu. Katakan, “Dimana
kuenya?”
–
Anak: “Di mana kuenya”
–
Instruktur: “Di dalam kotak” (mengeluarkan kue dan
memberikan ke anak)
Jika langkah tsb.
sudah dikuasai (anak tidak lagi memerlukan prompt dan dapat minta informasi
sering), tambahkan tact untuk lokasi.
–
Instruktur: “Saya punya kue”
–
Anak: “Di mana kuenya?”
–
Instruktur: “Di dalam kotak” (menunjukkan kue di dalam
kotak, kemudian bertanya) “Di mana kuenya?”
–
Anak: “Di dalam kotak. Boleh minta?
–
Instruktur: Tentu! Ambil di dalam kotak
Pada contoh di atas, anak juga belajar merespon pertanyaan “dimana”
ketika dia belajar melabel (tact) preposisi.
Transfer Receptive ke
Tact -> untuk anak yang melabel ketika diberi instruksi
reseptif
–
Instruktur: “Taruh sepatu di dalam kotak” (receptive)
–
Anak: <sambil menaruh sepatu di kotak dan
berkata> “Di dalam kotak”
–
Instruktur: “Di mana sepatunya?”
–
Anak: “Di dalam kotak”
Contoh lain:
(pakai 2 mangkuk, satu dengan
apel di bawahnya, dan satu lagi di atasnya)
–
Instruktur: “Tunjukkan di bawah mangkuk” (0 detik
delay untuk pengajaran awal)
–
Anak: <berkata> “di bawah mangkuk” <sambil
menunjuk apel yg di bawah mangkuk>
–
Instruktur: “Di mana apelnya?”
–
Anak: “Di bawah mangkuk”
Siapa/Punya siapa
Pertama anak belajar untuk
merespon pertanyaan “Who” ketika belajar melabel orang. Salah satu syarat
lainnya adalah anak harus merespon pertanyaan “who” ketika mengajarkan FFC
tentang anggota keluarga atau profesi umum.
–
Instruktur: “Siapa yang menidurkanmu?
–
Anak: “mama”
–
Instruktur: “Siapa ini?” (gambar petugas pemadam
kebakaran dan anak dapat melabelnya)
–
Anak: “Pemadam kebakaran”
–
Instruktur: Siapa yang memadamkan api?”
–
Anak: “Pemadam kebakaran”
Siapa/Punya siapa (who/whose)
Merespon pertanyaan whose
(punya siapa) diperlukan untuk mengajarkan kata ganti kepunyaan spt “his, her,
mine, my, your” dll – red: bhs Indo nya, mu, ku
–
Instruktur: “katakan ‘Giliranku”
–
Anak: “Giliranku”
–
Instruktur: “Giliran siapa?”
–
Anak: “Giliranku”
Respon ini juga dapat
diajarkan dengan mengajarkan anak meminta informasi dengan menggunakan “punya
siapa” lebih dahulu.
–
Instruktur: (menaruh sebuah permen di atas meja)
“Katakan, ‘Permen siapa?”
–
Anak: “Permen siapa?”
–
Instruktur: “Permenmu! Ini kamu ambil”
Setelah itu, ketika anak
sudah dapat mand kepunyaan secara konsisten tanpa prompt, tambahkan tact
kepunyaan
(dengan permen di atas meja)
– Anak: “Permen siapa?”
–
Instruktur: Punya/milik papa. Permen …
–
Anak: “Punya papa”
–
Instruktur: Permen siapa?
–
Anak: “Punya papa”
Respon untuk pertanyaan
“kepunyaan siapa” juga bisa diajarkan sbb:
–
Instruktur: (baik anak & instruktur masing-masing
pegang krayon) ”Krayon ku biru”
–
Anak: “Krayonku merah”
–
Instruktur: “Krayon (punya) siapa yang merah?”
–
Anak: “Krayonku”
Yang Mana?
Pertama anak mulai merespon
pertanyaan “Yang mana” ketika diajarkan melabel kata sifat dan FFC.
–
Instruktur: “Yang mana yang besar?”
–
Anak: (memegang benda yang besar)
–
Instruktur: Yang mana yang terbang?” (ada burung,
kangguru, dan bola)
–
Anak: memegang/mengatakan “burung“
Respon ini dapat ditransfer
untuk mengajarkan anak merespon intraverbal pertanyaan “yang mana” seperti
dijabarkan dalam ABLLS
–
Instruktur: “Yang mana bisa terbang? Burung, kangguru
atau bola? (sambil memegang setiap gambar)
–
Anak: “Burung”
–
Instruktur: (tanpa gambar) “Yang mana bisa terbang …
burung, kangguru atau bola? “
–
Anak: “Burung”
Kapan?
Respon2 pertama yang
dibelajari anak untuk pertanyaan “kapan” adalah konsep waktu seperti “pagi”,
“malam”. Setelah itu mereka belajar konsep waktu dan pengurutan lebih banyak,
yang di test dengan menggunakan pertanyaan “kapan”
–
Instruktur: “Kita tidur di malam hari. Kita tidur …… “
–
Anak: “di malam hari”
Setelah fill in sudah bisa tanpa prompt. Bisa dilanjut dengan pertanyaan
“kapan”
–
Instruktur: “Kita tidur ….. “
–
Anak: “di malam hari”
–
Instruktur: “Kapan kita tidur?
–
Anak: “malam hari”
Bagaimana?
Beberapa pertanyaan
“bagaimana” dapat ditransfer dari FFCs
–
Instruktur: “Kamu ke sekolah naik ….. “
–
Anak: “mobil”
–
Instruktur: “Bagaimana kamu ke sekolah?”
–
Anak: “mobil”
Beberapa pertanyaan “bagaimana” dapat
diajarkan dengan pertama mengajarkan anak untuk meminta informasi menggunakan
“how” (instruktur menunjukkan gasing yg diinginkan anak, kemudian diberikan ke
anak)
–
Instruktur: “Bagaimana caranya?
–
Anak: “Bagaimana caranya”
–
Instruktur: “Begini, diputar”. (membantu anak jika
diperlukan sehingga timbul reinforcement)
Setelah anak meminta informasi dengan
menggunakan “bagaimana” secara konsisten tanpa prompt, tambahkan tact ke mand.
–
Anak: Bagaimana menyalakan ini?
–
Instruktur: “Tekan tombol kecil putih” (instruktur
tetap memegang kontrol atas mainan)
–
Anak: “Bagaimana menyalakan ini?
–
Instruktur: “Tekan tombol kecil putih”
Anak juga belajar untuk merespon pertanyaan
“bagaimana” sambil belajar melabel urutan aktifitas tertentu. Misalnya, setelah
anak dapat melabel langkah-langkah membuat sandwich, respon ini dapat
ditransfer ke “bagaimana kamu membuat sandwich?”
Mengapa?
Satu cara untuk mengajarkan
anak merespon pertanyaan “mengapa” adalah dengan memimpin/mengarahkan mereka
untuk menjawab respon yang benar
–
Instruktur: (melihat buku dengan anak) “Lihat anak
itu. Dia menguap. Apa yang dia rasakan?”
–
Anak: “Dia mengantuk”
–
Instruktur: “Dia mau tidur! Mengapa dia mau tidur?
–
Anak: “Dia mengantuk”
–
Instruktur: (melihat buku dengan anak) “Sedang apa
dia?”
–
Anak: “Anak itu jalan ke kandang”
–
Instruktur: “Benar! Apa yang dia lakukan di kandang?
–
Anak: “Mengambil kuda”
–
Instruktur: Mengapa dia kandang?”
–
Anak: Untuk mengambil kuda.”
Setelah kita mengajarkan anak
menjawab pertanyaan-pertanyaan tsb secara terpisah, penting untuk mulai
mengajarkan anak merespon ke pertanyaan2 yang berbeda tentang suatu objek atau
kejadian. Hal ini karena kebanyakan anak autis kesulitan merespon ke stimulus
yang berbeda-beda.
Multiple SD
Setelah kita mengajarkan anak menjawab
pertanyaan-pertanyaan tsb secara terpisah, penting untuk mulai mengajarkan anak
merespon ke pertanyaan2 yang berbeda tentang suatu objek atau kejadian. Hal ini
karena kebanyakan anak autis kesulitan merespon ke stimulus yang berbeda-beda.
Banyak orang memutuskan bahwa si anak belum
menguasai skill tertentu karena mereka memberikan pertanyaan yang sama dengan
konteks yang berbeda, tetapi tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka telah
menambahkan kompleksitas pada pertanyaan dimana anak harus memberikan
diskriminasi lebih banyak. Oleh karena itu penting untuk mengajarkan ke anak
pertanyaan mana yang berperan sebagai SD-nya (yang harus dijawab).
Contoh berikut ini pertanyaan mengajarkan anak
melabel aksi, kata sifat dan fitur/bagian dari objek. Pada situasi ini anak
sudah dapat menjawab pertanyaan yang diajarkan secara terpisah, dan diasumsikan
ada mainan lain sebagai distractor, dan boneka ayah. Tulisan yang bercetak
tebal adalah stimuli diskriminasi verbal.
Multiple
SD
Apa
namanya ini R= mobil
(tact objek)
Siapa ini? R= papa (tact
orang)
Sedang apa
papa? R= nyetir (tact aksi)
Apa warna
mobilnya? R= biru (tact kata
sifat)
Mobil punya apa/Apa R= setir, ban, seatbelt, wiper, kaca
spion (tact bagian)
bagian mobil?
Besar atau kecil mobilnya?R=
besar (tact kata sifat)
Red: pertanyaan sebenarnya “Apa
ukuran mobilnya” -> tidak lazim untuk bhs Indonesia
Apa yang
kita kendarai? R= mobil
Siapa yang
menyetir mobil? R=
papa
Mobil
untuk apa? R=
dinaiki/dikendarai
Dimana
jalannya mobilnya? R= di jalan
Siapa yang
memperbaiki mobil? R= montir
Bagaimana kita
menyalakan mobil? R= pakai kunci
Kita harus pakai apa
di mobil? R= seatbelt/sabuk
Mengapa kita
pakai seatbelt? R= supaya
aman
Bagian Ke Enam
•Meningkatkan
Vokalisasi & Mengajarkan anak untuk berbicara
•Mengajarkan
menjawab pertanyaan
•Memilih
Target
Meningkatkan vokalisasi
& Mengajarkan anak untuk berbicara
•
Salah satu ciri dari autisme adalah gangguan
komunikasi, Gangguan ini sangat beragam dan banyak anak dengan spektrum autis
yang tidak dapat berbicara.
•
Berbagai gangguan bicara yang menyertai autisme
adalah:
–
Central Auditory Processing Disorder, dimana semua
kata & suara yang masuk bercampur aduk
–
Dyspraxia – kesulitan untuk menirukan rangkaian
gerakan dengan tangan dan anggota tubuh lainnya. Kebanyakan anak yang memiliki
kesulitan wicara juga mengalami Dyspraxia.
–
Oral apraxia – kondisi yang berkaitan dengan gerakan
otot oral, bibir,lidah langit. Anak dengan oral apraxia mampu menirukan gerakan
bibir tetapi tidak dapat mengeluarkan suara.
–
Dysarthria – memiliki kelemahan otot di sekitar pipi
dan lidah
–
Phonological Process Disorder – kesulitan mengeluarkan
suara tertentu, misalnya akhiran atau awalan dsb.
•
Sulit untuk menentukan penyebab gangguan di atas, oleh
karena itu yang dapat kita lakukan adalah menggunakan prosedur pengajaran untuk
meningkatkan vokalisasi dan mengajarkan anak melakukan gerakan motorik yang
diperlukan untuk menghasilkan wicara.
•
Hal yang paling kritik untuk dilakukan adalah
mengajarkan anak yg tidak dapat berkomunikasi dengan bicara dengan cara lain
agar mereka dapat mengutarakan apa yang mereka inginkan. Kebanyakan orang tua
khawatir hal tsb akan membuat anak tidak mau berusaha bicara, tetapi penelitian
membuktikan sebaliknya.
•
Setelah anak belajar pentingnya komunikasi dengan bhs
isyarat atau gambar dan terus dipasangkan dengan apa yang diinginkan anak (reinforcement)
maka kita akan lihat vokalisasi anak meningkat. -> lihat pada bagian MAND.
• Bagaimana
jika anak hanya dapat mengeluarkan sedikit suara?
Setiap kali anak
mengeluarkan suara, segera ikuti dengan reinforcer yang sangat disukai anak.
Mulailah memasangkan suara dan kata dengan mainan atau aktivitas yang disukai
anak. Contoh misalnya, jika anak suka main dengan bola, katakan “b, b, b”
sambil memantulkan bola dan sebelum memberikan bola. Jika anak senang musik,
nyanyikan lagu atau mainkan lagu dan dorong anak untuk menyelesaikan kata-kata
terakhir. Sasaran kita adalah untuk meningkatkan frekuensi dan variasi suara
supaya kita memiliki perilaku yang dapat kita re-inforce.
• Bagaimana
jika anak dapat mengeluarkan suara tetapi tidak dapat menirukan suara kita?
Mulailah dengan menirukan
suara anak selama bermain, jika anak mengeluarkan suara yang sama setelah Anda,
reinforce dengan apa yang benar-benar diinginkan/disukai anak. Setelah anak
menirukan beberapa kali secara konsisten tambahkan kata “katakan” sebagai
bagian dari SD.
•
Contoh:
–
Anak: “mmm”
–
Instruktur: katakan “mmm”.
–
Anak: “mmm” (anak biasanya akan melakukan perilaku
yang sama dengan kondisi yang berbeda).
•
Contoh lain, dengan menggunakan imitasi gerak yang
sudah dikuasai anak sbb:
–
Instruktur: “Lakukan ini/tirukan” (memegang kepala)
–
Anak: (memegang kepala)
–
Instruktur: “Lakukan ini/tirukan” (memegang mulut)
–
Anak: (memegang mulut)
–
Instruktur: Lakukan ini/tirukan “e”
– Anak:
“e”
• Bagaimana
jika anak mulai berusaha mengatakan “kue” bersamaan dengan dia melakukan
isyarat “kue” tetapi pengucapannya belum benar?
•
Ketika anak pertama belajar berbicara, kita akan me-reinforce
suara apapun yang dia ucapkan/keluarkan, Setiap kali anak mengeluarkan suara,
segera ikuti dengan reinforcer yang sangat disukai anak -> kita me-reinforce
usaha anak. Tetap beri anak kue sbg reinforcer dipasangkan dengan pujian sambil
kita ulangi ucapkan “kue” sebelum memberikan kue. Contoh prosesnya:
–
Anak: <melakukan isyarat “kue” dan berkata “u”>
(dgn konsisten)
–
Instruktur: “k”
–
Anak: “k”
– Instruktur:
“kue” (memberi anak kue)
•
Setelah si anak dapat menirukan suara “K” dengan
konsisten, kombinasikan dengan “u”, contoh:
–
Anak: <melakukan isyarat “kue” dan mengatakan
“u”> (dgn konsisten)
–
Instruktur: “ku”
–
Anak: “ku”
–
Instruktur: “kue” (member anak kue)
Selanjutnya mulai tambahkan “e” dengan cara yang sama di atas.
•
Bagaimana jika anak kurang menggerakkan mulut
ketika bicara dan makannya tidak bervariasi serta tidak tahan dengan sentuhan
di mulut.
-
Gunakan pendekatan desensitif (mengurangi
sensitivitas) secara perlahan-lahan. Sentuhlah bagian tubuh lain yang tidak
begitu sensitif dan pasangkan dengan reinforcer, misalnya jika anak senang
melihat buku, sentuhlah selama aktifitas ini. Jika dia senang melihat video,
sentuhlah dengan gurauan. Pegang mulut/ dengan tangan telanjang, kemudian
tingkatkan dengan sarung tangan.
• Bagaimana jika anak bisa
bicara tetapi cepat dan volumenya kecil (suaranya lembut) sehingga sulit dipahami.
–
Banyak anak dengan apraxia cenderung bicaranya cepat.
Vokalnya terdistorsi dan pendek. Setelah anak bisa mengucapkan banyak konsonan,
mulai latih vokalnya. Untuk memperlambat bicaranya, panjangkan pengucapan
vokalnya.
– Untuk
meningkatkan volume dapat digunakan imitasi atau prompt visual. Jika anak
memiliki strong echoic (mudah menirukan), ajarkan untuk menirukan berbagai
volume suara dan kata. Kadang-kadang gunakan gambar tangga, dan pakai objek
(biji halma, misalnya) taruh pada tangga bawah untuk suara rendah dan naikkan
ke anak tangga berikutnya untuk volume suara yang lebih keras.
Mengajarkan Menjawab
Pertanyaan
•
Kebanyakan anak autis mengalami kesulitan dalam
menjawab pertanyaan. Ketika kita mengajarkan anak menjawab pertanyaan, kita
harus “menghubungkan” jenis pertanyaan dengan jawabannya.
•
Sayang sekali, seringkali orang tua atau pengasuh
secara tidak sadar telah melatih/mengajarkan anak “tidak” menjawab pertanyaan,
yaitu dengan sering memberi pertanyaan ketika anak masih terlalu kecil atau
memberi pertanyaan dimana si anak tidak tahu jawabannya. Setelah anak tidak
menjawab, akhirnya kita menyerah dan membiarkan si anak tidak merespon.
•
Untuk menghindari hal di atas, sebaiknya tidak
memberikan anak pertanyaan dimana anak tidak tahu jawabannya. Ketika
pertanyaan dilontarkan, anak harus diajarkan untuk menjawab dengan benar
menggunakan transfer prompting dan prosedur koreksi.
Prasyarat
Keahlian/Kemampuan
•
Sebelum memulai mengajarkan anak merespon pertanyaan,
anak harus bisa “mand” untuk berbagai objek atau aksi. Manding harus tetap
menjadi fokus utama pengajaran.
•
Disamping “manding”, anak harus bisa melabel/”tacting”
objek. Jika kedua hal di atas sudah dikuasai, maka anak siap untuk menjawab
pertanyaan sebagai stimulus seperti “apa ini?”, “apa itu?” dan “Disebut apa
ini”, juga dapat merespon pertanyaan “Kamu mau apa?” ketika anak sedang
menginginkan sesuatu (EO).
•
Namun harus diperhatikan ada beberapa anak kesulitan
untuk melabel, tetapi dapat merespon FFC fill-in. Jika demikian maka Fill-in
dapat digunakan untuk transfer ke pertanyaan “Wh “ (apa)
Contoh:
–
Instruktur: “Kita makan ……”
–
Anak: “Kue”
–
Instruktur: “Apa ini?”
–
Anak: “Kue”
Hal yang penting untuk diingat adalah:
•
Tentukan dengan kondisi/cara bagaimana anak dapat
menjawab dengan benar, kemudian alihkan/transfer ke kondisi yang berbeda.
•
Selalu koreksi respon yang salah dengan mengulang
pertanyaan, dan prompt jawabannya.
Contoh:
–
Instruktur: “Apa yang terbang di langit?”
–
Anak: “Mobil”
–
Instruktur: “Apa yang terbang di langit? Pesawat
terbang”
–
Anak: “Pesawat Terbang”
–
Instruktur: “Apa yang terbang di langit?”
–
Anak: “Pesawat terbang”
Alternatif lain:
–
Instruktur: “Apa yang terbang di langit?”
–
Anak: “Mobil”
–
Instruktur: “Bukan. Mobil di jalan. Pesawat terbang”
–
Anak: “Pesawat Terbang”
–
Instruktur: “Betul!”
Jenis Pertanyaan Yang Harus
Dihindari Pada Awal Pembelajaran
• Hindari
Pertanyaan “ Ya/Tidak”
Di beberapa program
pertanyaan “ya/tidak” diajarkan pada awal padahal penggunaannya dapat membatasi
perkembangan bahasa.
Ya/Tidak kadang diajarkan
sebagai usaha supaya anak dapat memberitahu apa yang diinginkan, contoh:
•
Instruktur memegang bola dan bertanya “Kamu mau bola?”
dan mengajarkan anak menjawab “ya” jika menginginkan bola dan “tidak” jika
sebaliknya.
Perlu diperhatikan di sini
instruktur mungkin tidak benar-benar tahu apakah anak menginginkan bola atau
tidak, jadi sulit untuk memberikan prompt apakah “ya” atau “tidak”.
Masalah yang lebih besar akan
timbul jika si anak menginginkan sesuatu tetapi tidak ada yang bertanya. Karena
si anak hanya diajarkan menjawab “ya/tidak”, maka ketika menginginkan
sesuatu anak akan menghampiri ayah/ibu
dan mengatakan “ya” atau mengangguk kepala. Hal ini akan membuat orangtua
bingung karena tidak mengetahui apa yang diinginkan anak, dan anak akan menjadi
tantrum karena keinginannya tidak dimengerti.
• Hindari
memberi pertanyaan yang kita sendiri tidak tahu jawabannya.
Secara umum, kita harus
menghindari memberi pertanyaan tentang hal-hal yang tidak nampak pada saat
mengajar karena akan sulit atau tidak mungkin memberi prompt kepada anak.
Contoh: “Tadi di sekolah
Michael belajar apa?”
Kita tidak akan dapat memberi
prompt anak untuk menjawab pertanyaan karena kita tidak tahu apa jawabannya
(kita tidak tahu apa yang dilakukan di kelas).
Anak akan belajar menjawab
pertanyaan mengenai kejadian yang sudah berlalu, tetapi hanya setelah anak
dapat lancar menjawab pertanyaan tentang hal-hal yang ada di sekeliling saat
itu. Jika mengajarkan anak menjawab pertanyaan mengenai kejadian yang telah
lewat, pastikan kita juga mengetahui jawabannya.
Pertanyaan-Pertanyaan Pertama
• Siapa
(G3)
Setelah kita mengajari anak
untuk melabel (tact) objek, kita dapat memulai mengajarkan anak melabel orang.
Anak diajarkan untuk merespon pertanyaan :Siapa ini? Siapa itu, Siapa di sini
dll. Diskriminatifnya adalah “Siapa”, anak belajar jika dia mendengarkan
pertanyaan “siapa” maka jawabannya adalah berkaitan dengan orang (tact person).
Hati-hati jangan memberikan SD yang mengarahkan ke jawaban yang salah, misalnya
ketika mengajarkan “aksi” dengan gambar orang memanjat, anak diberi pertanyaan
“siapa yang memanjat?” seharusnya “tunjuk orang sedang memanjat”
• Sedang
apa (G5, G6)
Setelah mengajarkan melabel
aksi, kita mengajarkan anak merespon pertanyaan “sedang apa”. Pertama, anak
diajarkan melabel aksi yang sedang berlangsung dengan merespon pertanyaan
“Sedang apa kamu?” dan “sedang apa saya?”. Setelah anak menguasai aksi yang
sedang berlangsung, baru dapat memakai gambar.
Mengajarkan anak menjawab pertanyaan sedang apa,
bisa dengan mentransfer dari instruksi/permintaan yang mudah. Berikut beberapa
caranya:
Transfer dari instruksi yang mudah
Instruktur: “Tepuk tangan”
Anak: (tepuk tangan dan
mengatakan “tepuk tangan”)
Instruktur: “Sedang apa kamu?
Tepuk tangan (prompt penuh karena SD-nya berubah)
Anak: Tepuk tangan
Instruktur: “Sedang apa
kamu?”
Anak: “Tepuk tangan”
Transfer dari Mand
Anak: (mau jus dan minta
aksinya) “Tuangkan”
Instruktur: “sedang apa saya?
Menuang “ (prompt penuh karena SD berubah)
Anak:” Menuang”
Instruktur: “Sedang apa
saya?”
Anak: “Menuang”
Transfer dari Receptive ke
Tact
(digunakan
untuk anak-anak yang melabel aksi ketika mereka menunjuk gambar)
Instruktur: “tunjuk makan”
Anak: (menunjuk gambar
“makan” sambil berkata “makan”)
Instruktur: “Sedang apa dia?”
Anak: “makan”
Beberapa program (ABA
tradisional) mengajarkan melabel objek dan aksi secara terpisah, dengan kata
lain pertama anak diajarkan melabel beberapa objek, kemudian aksi, kedua-duanya
menggunakan gambar. Kelemahannya, anak tidak benar-benar memahami atau
memperhatikan pertanyaan sebagai SD, anak menjawab karena dia sudah
hafal dengan gambar-gambar tsb. Untuk menghindari hal ini, pertanyaan yang
berbeda harus dicampur segera si anak menguasainya. Misalnya, terapis/orang tua
menanyakan “Apa ini? Dan setelah anak menjawab, pertanyaan berikutny “Sedang
apa dia?”.
Prompt penuh harus digunakan
jika anak tidak merespond. Jangan gunakan gambar atau objek yang sama terus.
Contoh, jika anak selalu ditanya “Apa ini” dengan menunjukkan gambar anjing,
kemudian ditanya “sedang apa anak perempuan itu” dengan menunjukkan gambar anak
main ayunan -> stimulusnya adalah gambar (yg direspon anak gambar), bukan
pertanyaannya. Sebaliknya, ketika anak bermain dengan anjing, tanyalah “Disebut
apa ini?” dan “sedang apa anjingnya” -> anak harus memperhatikan pertanyaan
karena stimuli visualnya tetap sama.
Mengajarkan anak menjawab
pertanyaan pribadi
Beberapa pertanyaan yang
diajarkan pada anak di awal adalah menjawab pertanyaan pribadi seperti nama,
umur. Hal ini dapat diajarkan baik dengan prompt echoic atau dengan transfer
dari receptive (pointing/touching) ke labeling (tacting) respon.
Transfer dari receptif ke
tact (jika anak sering melabel sambil menunjuk gambar)
Instruktur: “Cari Sam”
Anak: <menunjuk foto
dirinya sendiri dan berkata> “Sam”
Instruktur: “Siapa namamu?”
Anak: “Sam”
Setelah anak dapat merespon
pertanyaan dengan benar tanpa disuruh menunjuk gambar dulu, maka penggunaan
gambar dapat dihilangkan.
Instruktur: “Siapa namamu?”
(pakai foto)
Anak: “Sam”
Instruktur: (menyembunyikan
foto) “Siapa namamu?”
Anak: “Sam”
Mengurangi
stimulus visual – transfer ke intraverbal
Instruktur: “Kamu umur
berapa?” (pakai gambar/angka)
Anak: “3” (melabel angka)
Instruktur: (menyembunyikan
angka 3) “Kamu umur berapa?”
Anak: “3”
Prompt Echoic:
Instruktur: “Siapa namamu?
Sam””
Anak: “Sam”
Instruktur: “Siapa namamu?
Anak: Sam
Instruktur: Kamu umur berapa?
Tiga
Anak: Tiga
Instruktur: Kamu umur berapa?
Anak: Tiga
Menjawab pertanyaan mengenai
kata sifat
Warna apa ini? (G11)
Kebanyakan anak jika ditanya
“Warna apa bolanya?” anak akan menjawab merah, tetapi jika ditanya “Apa
warnanya?” sambil terapis memegang bola, anak cenderung akan menjawab “bola”.
Untuk mengajarkan anak merespon pertanyaan “warna apa?” , pertama kita harus
memperoleh kata warna dulu kemudian ditransfer ke kondisi baru.
Mand to tact transfer
(pastikan mand untuk objek
sudah kuat sebelum mengajarkan anak untuk mand dengan adjective)
Anak: (ada EO untuk bola sehingga
dia minta) “Bola”
Instruktur: (memegang bola
merah dan biru) Merah? Biru?
Anak: “Merah”
Instruktur: “Warna apa?
Anak: “Merah”
Receptive to tact transfer
Agar bisa digunakan sebagai
transfer, anak harus mengatakan nama warna (melabel) bersamaan pada saat anak
memegang.
Instruktur: “Pegang merah”
Anak: <<memegang merah
dan berkata> “merah”
Instruktur: “Warna apa?
Anak: “Merah”
Fill-in Transfer
(digunakan untuk anak yang dapat melabel warna tetapi tidak dapat merespon
pertanyaan “warna apa?” secara konsisten.
Instruktur: (menunjuk bola
biru) “Ini bola biru” (kemudian menunjuk bola merah), Ini bola …..”
Anak: “Merah”
Instruktur: “Warna apa?
Anak: “Merah”
What Size? (G11)
Ketika pertama mengajarkan
anak untuk melabel ukuran, beri 2 item yang sama, tetapi ukurannya berbeda.
Mand to tact transfer
(pastikan mand untuk objek sdh kuat sebelum menambahkan kata sifat)
Anak: (ingin kue, jadi minta
“Kue”
Instruktur: <memegang 2
kue, satu besar, satu kecil) “Besar? Kecil?”
Anak: “Besar”
Instruktur: “Yang mana?
Anak: “Besar”
Receptive to tact transfer
(anak harus melabel ukuran saat dia menunjuk) -> dengan full prompt pada
awal instruksi
Instruktur: <memegang bola
besar dan kecil) “Pegang yang besar”
Anak: “Besar”
Instruktur: “Yang mana?
Anak: “Besar”
What shape (G11) (Apa bentuknya) -> sama seperti mengajarkan ukuran
•
Bagaimana rasanya (G11) -> berkaitan dengan
tekstur/tactile -> gunakan 2 objek yang sama misalnya 2 handuk, satu basah
dan satu kering, dan beri pertanyaan “apa rasanya?”
•
Bagaimana rasanya? (G11) -> berkaitan dengan indera
pengecap -> gunakan yang hampir sama, misalnya gula dan garam ->
bentuknya hampir sama, anak harus merasakan objeknya -> prosedur sama
dengan mengajarkan warna, ukuran dll.
•
Bagaimana baunya/Bau apa? -> sama seperti rasa
•
What/how does it look? (Bagaimana/Seperti apa
rupa/bentuknya?)
Pertanyaan ni lebih umum dan
respon atas pertanyaan ini melibatkan bentuk/yang dapat dilihat. Respon yang
benar bisa berupa warna, bentuk, ukuran, atau bahkan bagian dari objek
Pertanyaan ini dipakai untuk mengajarkan kata sifat yang tidak masuk di
kategori lainnya, seperti ukuran, warna (mis. Lurus, melengkung, sempit/lebar,
tinggi/pendek).
•
What kind?/Which one (yang mana?) -> lebih umum,
respondnya bisa warna, bentuk, rasa, jenis atau bahkan merek, misalnya “kamu
mau kue apa/yang mana?” respon: “Oreo”. Pertanyaan jenis ini sering digunakan
untuk mengajarkan anak bahwa perlu tambahan info untuk menjelaskan ap yang dia
minta/mand.