MEMULAI
PROGRAM VERBAL BEHAVIOR
Diringkas dan diterjemahkan secara bebas oleh
Linda Halim
Dikutip dari artikel asli:
“Verbal
Behaviour Training Manual”
The Mariposa School for Autistic Children,
North Carolina
Oleh Tracy Vail dan Denise Freeman
Diedit oleh Cindy Peters (President Director Mariposa School)
www.MariposaSchool.org
reprinted by permission
Daftar Isi:
- Dasar-dasar
dan Prosedur Pengajaran Verbal Behaviour
- Mengajarkan
Anak Meminta/ MAND Training
- Mengajarkan
Anak Melabel (Tact) Objek dan Gambar
- Mengajarkan
Imitasi, Echoic, Reseptif dan Matching
- Mengajarkan
RFFC (Receptive by Function, Feature and Class)
- Meningkatkan
vokalisasi & Mengajarkan anak untuk berbicara
Bagian Pertama
Dasar-Dasar Verbal Behavior
ABA / VBA adalah ilmu pengetahuan
ilmiah (science) dari Applied Behavior Analysis (Analisa Perilaku Terapan). ABA
memberikan suatu struktur untuk mempelajari perilaku manusia, apa yang
menyebabkan suatu perilaku terjadi, bagaimana mengurangi perilaku negatif dan
meningkatkan perilaku positif.
Prosedur pengajaran ABA/VBA
•
Shaping – suatu proses dimana secara
bertahap kita memodifikasi perilaku anak sesuai dengan yang kita
kehendaki. Shaping biasanya
dilakukan dengan menyesuaikan persyaratan sebelum reinforcement diberikan.
Contohnya, jika anak belajar mengucapkan suatu kata, pada awalnya anak akan
diminta untuk memegang bendanya sebelum mendapatkan benda tsb. Kemudian, kita
minta anak menirukan suara awal, suku kata dan akhirnya keseluruhan kata.
•
Prompting – bantuan yang diberikan oleh
instruktur supaya anak dapat memberikan respond yang benar. Salah satu
perbedaan pokok antara kebanyakan ABA tradisional dan model VBA adalah
penggunaan “errorless learning” pada model VB sedangkan pada model ABA
tradisional menggunakan prosedur “tidak, tidak, prompt”.
•
Fading – Ini adalah bagian yang
paling kritikal dari mengajari anak, jangan sampai anak menjadi tergantung pada
prompt. Bentuk prompt apapun harus berangsur-angsur dikurangi sesuai dengan
kemampuan anak.
•
Chaining – pada dasarnya chaining
berarti bahwa skills dipecah-pecah menjadi unit terkecil/termudah dan diajarkan
sedikit demi sedikit. Chaining ada 2 macam – forward atau backward – yang
dipakai untuk mengajarkan suatu skill baru.
•
Differential Reinforcement –
reinforcement adalah bagian yang paling penting dari pengajaran! Reinforcement
adalah memberikan respon terhadap perilaku anak dan respon tersebut dapat
meningkatkan perilaku tsb. Differential artinya bahwa reinforcement tingkatnya
berbeda-beda tergantung dari respond anak. Tugas yang lebih sulit diberi
reinforcer yang lebih ketimbang tugas yang mudah. Reinforcer ini harus
diganti-ganti secara sistematik supaya anak mau memberikan respond yang sesuai
dalam berbagai kondisi.
Discrete Trial Teaching
(DTT)
DTT adalah suatu tekhnik yang digunakan baik pada ABA
tradisional maupun Verbal Behavior Program. Tekhnik ini meliputi:
–
Memecah suatu skill ke unit yang lebih kecil (sub
skill)
–
Mengajarkan satu sub-skill sampai dikuasai anak, baru
sub-skill berikutnya
–
Memberikan pengajaran yang terkonsentrasi
–
Menggunakan prompt dan penghilangan prompt sesuai
kebutuhan
–
Menggunakan prosedur reinforcement
• Setiap
sesi pengajaran melibatkan pengulangan-pengulangan percobaan, dengan setiap
percobaan memiliki perbedaan (jangan memberikan perintah/Stimulus yang hampir
sama) dengan urutan: Instruksi – Behavior (respon anak) dan Consequences
(reinforcement atau prompt-fade-prompt)
Hal-hal Yang Perlu
Diperhatikan Dalam Memulai Pengajaran VB
• Tugas
pertama instruktur adalah mengajarkan/menanamkan persepsi pada anak bahwa sesi
belajar bersama instruktur adalah hal yang menyenangkan (when instructor
shows up, good things happen!)
•
Hal tsb. dapat dicapai dengan banyak cara tetapi cara
yang paling utama adalah melakukan observasi pada anak dan melakukan interaksi.
Amati sentuhan, suara, ekspresi muka yang bagaimana yang disukai anak. Jika si
anak terlihat bosan, ajaklah bermain tanpa menuntut si anak menjawab apapun.
•
Jangan mengalihkan anak dari aktivitas yang disukai
menjelang sesi terapi
•
Jangan memaksakan suatu respon, dalam kata lain jangan
suruh anak untuk “kemari”. “duduk”, “lihat ini”
•
Berinteraksilah dengan cara yang menyenangkan, lucu
supaya si anak senang bersama instrukturnya
Bagaimana meminta respond
pertama
•
Dengan model VB, hal yg paling penting untuk diajarkan
ke anak adalah bagaimana anak meminta apa yang diinginkan (MAND). Mereka
belajar “I talk I get”.
•
Faktor-faktor berikut ini penting dipertimbangkan
untuk meminta anak merespon:
–
Jangan meminta respon yang tidak bisa kita prompt.
Contoh jangan berkata “Katakan mobil” sambil memegang mobil2an jika si anak
masih belum dapat melakukan imitasi vokal secara konsisten. Hal ini dikarenakan
kita tidak dapat secara fisik “membuat” anak mengucapkan kata “mobil”. Kita
tidak ingin si anak berlatih untuk TIDAK mengikuti instruksi.
– Jika
memberi instruksi, seperti “duduk” Anda harus secara fisik menuntun anak untuk
duduk ketika si anak tidak mengikuti instruksi duduk. Sekali lagi, kita tidak
ingin si anak berlatih untuk “TIDAK” mematuhi instruksi.
–
Pastikan bahwa instruksi pertama yang diberikan adalah
yang dapat dilakukan oleh anak dan beri hadiah (yang benar-benar membuat anak
senang/strong reinforcement) atas kepatuhannya.
–
Jangan pernah menggunakan reinforcer sebagai
“sogokan”. Contohnya, menggoda anak dengan memegang reinforcer didepan anak dan
meminta anak merespon sebelum memberikan reinforcer tersebut. Ini bukan berarti
bahwa Anda tidak dapat menggunakan reinforcer sebagai suatu “janji”. Contoh,
jika Anda menginginkan anak untuk mendatangi Anda jika dipanggil, bawalah
sesuatu yang dia sukai ditangan, dan berikan ketika dia datang/menghampiri.
–
Meskipun anak sudah vokal tetapi vokalnya belum
bermakna, akan sangat membantu mengajarkan anak bagaimana meminta dengan
memakai gambar atau bahasa isyarat. Hal ini karena kita dapat memakai “prompt”
dalam mengajarkan anak meminta dengan gambar tetapi kita tidak dapat melakukan
“prompt” untuk berbicara.
Mengatasi Perilaku Negative
Anak
dengan hambatan komunikasi biasanya mencari cara lain untuk mendapatkan apa
yang diinginkan/dibutuhkan, cara yang paling sering dilakukan adalah dengan
merengek, menangis sampai tantrum (perilaku negative). Bila timbul perilaku
negative maka:
–
Jangan pernah memberikan anak akses untuk mendapatkan
reinforcer (apa yg diinginkan) dengan perilaku negatif.
–
Mengabaikan tantrum dapat meningkatkan tantrum
sementara waktu, namun jangan sampai menyerah pada perilaku tantrum anak
– Tetap
tenang, setelah anak mereda, gunakan gambar, tanda atau tunjukkan benda2 untuk
mengetahui apa yang diinginkan anak.
–
Jika Anda tahu apa yang diinginkan anak, gunakan
prosedur menghitung, katakan “tidak boleh menangis” dan mulai menghitung sampai
10 dan ulangi jika tangisnya belum selesai. Setelah anak berhenti menangis,
berikan apa yang diinginkan anak
–
Jika anak menangis/tantrum karena kita memberikan
instruksi dan anak tidak mau melakukan, dengan tenang gunakan prompt secara
halus sampai dia melakukan apa yang diperintahkan. Jika Anda memerintahkan anak
untuk duduk dan dia berteriak, tuntun dia ke kursi dengan lembut, buat dia
duduk untuk beberapa detik dan biarkan dia berdiri (hanya jika dia tidak
berteriak).
– Hal
yang penting dari perilaku negative adalah kita harus belajar dari perilaku
tsb. Jika si anak tantrum, maka berarti prosedur pengajaran harus disesuaikan.
Lihat pada reinforcernya, densitas dari reinforcer, dan tingkat kesulitan tugas
yang diajarkan ke anak untuk menentukan apa yang harus disesuaikan kembali.
The most critical things to
remember at the beginning of a therapeutic relationship are to have fun, enjoy
the child, and teach the child that learning is fun and communication is
powerful! The child must learn that life gets better when he complies with
requests!
Aturan Reinforcement
•
Reinforcement harus benar-benar dapat membuat anak mau
melakukan instruksi. Reinforcement tiap-tiap anak berbeda.
•
Reinforcement harus bersifat contingent/dadakan, hanya
tersedia ketika perilaku target (perilaku yg diharapkan) timbul supaya
kekuatannya tidak hilang.
•
Berbagai macam reinforcer harus digunakan, supaya
nilainya tetap.
•
Selalu pasangkan social reinforcer dengan reinforcer
utama.
•
Terus kembangkan dan identifikasikan reinforcer-2
baru. Lihat pada perilaku self-stim anak untuk membantu menentukan apa yang
mungkin dinikmati anak.
•
Gunakan reinforcer yang sesuai dengan umurnya.
•
Reinforcer yang bersifat kejutan biasanya sangat
disukai dan memotivasi anak.
• Pada
awal/permulaan, renforcer harus timbul secara langsung/segera supaya anak dapat
mengasosiasikan perilakunya dengan reinforcernya.
•
Jadwal variasi reinforcer harus dibuat dan diikuti
secara konsisten
•
Reinforcement harus dihilangkan secara perlahan-lahan
ketika anak sudah menguasai skill yang diajarkan. Tugas yang mudah,
reinforcernya juga lebih ringan.
•
Evaluasi ‘timing” reinforcement.
•
Selang beberapa waktu, ubah reinforcer ke bentuk yang
lebih natural dan praktis seperti pujian, acungkan ibu jari.
•
Jangan gunakan reinforcer sebagai sogokan. Jangan
jadikan kebiasaan si anak mendengarkan terlebih dahulu reinforcer apa yang akan
dia dapatkan. Jangan ingatkan bahwa anak akan mendapat reinforcer jika dia
tidak berperilaku negatif. Jangan tawarkan reinforcer tambahan ketika tantrum
semakin bertambah sebagai usaha untuk mendiamkan dia.
•
Gunakan skala reinforcement. Berikan reinforcer yang
terbaik untuk perilaku yang terbaik atau tugas yang tersulit.
Definisi dan Terminologi Establishing
Operation:
•
Establishing Operation (EO):
adalah faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan nilai sebuah reinforcer
untuk sementara waktu dan dapat membawa ke suatu peningkatan perilaku yang
telah terasosiasikan dengan reinforcer tertentu. Misalnya anak sedang
menginginkan es krim, dan setelah melakukan apa yg diinstruksikan, anak diberi
reinforcer es krim, maka pada instruksi berikutnya anak akan cenderung mau
melakukan/mengulangnya kembali. Es krim sebagai reinforcer sifatnya sementara,
karena mungkin setelah si anak sudah tidak menginginkan es krim, maka es krim
bukan EO/MO lagi.
Hal-hal yang mempengaruhi EO
•
Deprivation – Keadaan ketika kita
tidak mendapatkan item yang kita inginkan untuk suatu waktu (meningkatkan
nilai). Contoh: Jika anda sedang diet,
maka pizza menjadi sangat menggiurkan.
•
Satiation – Keadaan ketika kita sudah
mendapatkan item yang kita inginkan/sudah bosan (menurunkan nilai). Contoh:
jika anda makan siang dengan pizza setiap hari, mungkin anda sudah tidak
menginginkannya lagi.
•
Competing EO – Nilai dari beberapa
perilaku lain lebih kuat (menurunkan nilai). Contoh: Anak sangat ingin bermain
dengan suatu mainan, tetapi anda bertanya terus sehingga nilai “lari dari
pertanyaan” (escaping) lebih kuat daripada nilai mainan tersebut.
Contoh-contoh lain:
•
Jika kita kekurangan uang, maka kondisi ini akan
meningkatkan nilai uang ekstra dan akibatnya pada jenis perilaku (kerja
tambahan? kerja lembur?) untuk
mendapatkan uang yang pernah dilakukan sebelumnya/pengalaman sebelumnya.
•
Jika anak punya mainan favorit yg sudah lama tidak
dimainkan, maka nilai dari mainan tersebut akan meningkat sementara waktu dan
akibatnya pada peningkatan jenis perilaku (bicara? Teriak?) seperti yang pernah
dilakukan sebelumnya.
•
Jika anak berada pada lingkungan yang ramai, berisik
yang membuat dia tidak nyaman, maka suasana tersebut untuk sementara waktu
meningkatkan nilai dari “lari/menghindar” dan akibatnya pada jenis perilaku
(memukul? Menggigit? Berkata “ayo pergi”) seperti yang pernah dilakukan
sebelumnya.
Reinforcement
vs Punishment
Reinforcement
• Memberikan sesuatu yang disukai anak setelah perilaku timbul/setelah
melakukan tugas (positive reinforcement), atau
• Menghilangkan/menjauhkan sesuatu yang tidak disukai anak (negative
reinforcement)
Punishment
• Melakukan/menerapkan sesuatu yang tidak disukai anak (positive
punishment)
• Menjauhkan/mengambil sesuatu yang disukai anak langsung setelah perilaku
itu muncul (negative punishment)
Positive Reinforcement
Situasi – Anak melihat permen di toko dan menginginkannya (ada EO
untuk permen)
•
Anak menjerit “aku mau permen” dan tantrum, si ibu
memberikan permen supaya tidak ribut. (Reinforcement atas perilaku yang
negatif)
•
Anak berlari ke ibunya dan memberi tanda/berkata
‘permen”. Ibu memberikan permen ke anak dan memuji karena si anak dapat meminta
permen dengan baik. (Reinforcement atas perilaku yang positif)
Diskusi: pada kedua contoh di atas, anak telah belajar bahwa
perilakunya menghasilkan apa yang dia inginkan, jadi lain kali si anak akan
mengulang kembali perilaku tersebut.
Negative Reinforcement
Situasi – Di sebuah ruangan terdengar suara radio yang sedang diputar
keras-keras
•
Anak masuk ke ruangan tersebut dan mulai menjerit. Si
Ibu cepat-cepat datang untuk mengecilkan volume radio (Reinforcement atas perilaku yang negatif)
• Anak
masuk ke dalam ruangan dan sambil menutup telinga dia berkata “Terlalu keras”.
Si ibu bertanya apakah dia ingin volumenya dikecilkan. Ketika anak menjawab
“ya”, maka si Ibu mengecilkan volume radio (Reinforcement atas perilaku yang
positif)
Punishment
Definisi punishment/hukuman pada ABA berbeda dengan hukuman pada
umumnya.
Pengertian hukuman secara umum, adalah sesuatu yang diberikan pada orang
yang telah melakukan kejahatan atau perilaku yang tidak baik dengan harapan
perilaku tersebut akan berhenti. Hukuman ini memiliki konotasi moral dan etika.
ABA mendefinisikan hukuman sebagai suatu proses dimana konsekuensi suatu
perilaku menyebabkan penurunan atas timbulnya perilaku tersebut di waktu yang
akan datang.
Secara prosedur, ada 2 jenis hukuman:
Positive Punishment:
timbulnya suatu perilaku
diikuti oleh perintah/instruksi untuk melakukan tugas yang tidak disukai agar
perilaku tersebut tidak muncul kembali di kemudian hari
Situasi: Seorang anak remaja pulang malam melebihi
batas waktu yang telah ditentukan
Hukuman: Orang tua memberikan
tugas untuk mencuci mobil selama satu minggu
(pemberian suatu tugas yang tidak disukai)
Negative Punishment:
timbulnya suatu perilaku yang diikuti oleh penghilangan/peniadaan akan
sesuatu yang disukai agar perilaku tersebut tidak muncul kembali di kemudian
hari
Situasi: Seorang anak
remaja pulang malam melebihi batas waktu yang telah ditentukan
Hukuman:
Orang tua melarangnya untuk menghadiri acara pesta teman yang sudah
direncanakan
Masalah-masalah yang timbul dengan Punishment adalah:
•
Dapat menimbulkan agresi atau efek emosional lainnya
•
Dapat menyebabkan penghindaran/pelarian perilaku
(tidak mau melakukan tugasnya)
•
Secara tidak sadar orang yang menghukum melakukan
reinforcement secara negative dengan hukuman sehingga terjadi penyalahgunaan
hukuman
•
Anak dapat menggunakan hukuman yang pernah dikenakan
pada dirinya dikemudian hari terhadap instruktur/orang lain
Hukuman
hanya boleh digunakan setelah pendekatan fungsional lainnya telah
dilakukan dan terbukti tidak efektif untuk mengatasi perilaku yang bermasalah
tsb.
Prosedur-prosedur reinforcement yang berbeda
harus digunakan dalam hubungannya dengan hukuman.
Stimulus
Stimulus/stimulasi/rangsangan, apa saja yang dapat dilakukan orang
dengan indranya. Apa saja yang dapat dilihat, didengar, dicium, diraba, atau
dirasakan. Stimulasi dapat diasosiasikan dengan kejadian lain ketika diikuti
oleh reinforcement atau punishment, atau disebut discriminative stimulus (Sd).
Ada 3 macam stimulasi:
Neutral Stimulus –
ayah berkata, “pegang anjing” dan ini yang pertama kali anak mendengarnya. Anak
mendengar kata-kata tsb. tetapi tidak terasosiasikan dengan apapun, baik
positive atau negative.
Discriminative Stimulus –
Anak duduk dipangkuan ayahnya sambil melihat buku, ayah berkata “tunjuk anjing”
dan menuntun tangan anaknya untuk menunjuk anjing. Ketika anak menunjuk anjing,
ayahnya memeluk dia dan berkata “benar!”, si anak senang (reinforcing), jadi
ketika si ayah membalik halaman dan berkata “tunjuk anjing”, si anak langsung
menunjuk anjing tanpa menunggu ayahnya menuntun lagi.
S-Delta – Melanjutkan contoh di
atas, jika si anak menunjuk kucing bukan anjing, ayah tidak memberi pelukan dan
berkata “Benar!”. Perilaku memegang kucing diasosiasikan dengan tidak adanya
reinforcement kapanpun dia mendengar kata2 “tunjuk anjing”.
Klasifikasi Perilaku dari
Bahasa
Mand – meminta sesuatu. Mand yang murni timbul sebagai akibat dari EO
atau keinginan untuk memiliki sesuatu tanpa harus ditanya “Mau apa?”
–
Bolehkah aku minta kue?
–
Mommy mana?
Receptive – mengikuti petunjuk atau mematuhi permintaan orang lain
–
Pegang boneka Dora (anak memegang boneka)
–
Buang ini ke tempat sampah (anak melakukan yg diperintahkan)
–
Apa yang bunyinya “tuit jes… jes” (anak memegang
kereta api)
Tact – melabel atau memberi nama item, aksi atau apapun yang ada/tampak.
Tact yang murni tidak ada kaitannya dengan adanya EO atau keinginan akan item
tsb.
– “Apa
ini namanya?” (anak menyebutkan nama item)
–
“Bagaimana rasanya bulu anjing?” (anak berkata
“halus”)
–
“Apa yang kamu lihat?” (anak berkata “burung”
Intraverbal – sebuah respon atas apa yang dikatakan orang yang berkaitan
dengan suatu item, aksi atau sesuatu yang TIDAK NAMPAK/ADA. (menjawab
pertanyaan atau melakukan percakapan).
–
“Twinkle, twinkle, little ………. (anak melanjutkan
“star”)
– Apa
yang bunyinya meong? (anak menjawab “kucing”)
–
Apa yang kamu lakukan di sekolah tadi? (anak menjawab
“aku mewarna gambar kucing”)
Echoic – menirukan/mengulangi persis apa yang dikatakan orang lain
–
Apakah kamu mau keluar? (anak berkata “Apakah kamu mau
keluar?”)
–
Ibu berkata “mobil” (anak menirukan “mobil”)
FFCs – singkatan dari Features, Functions dan Classes. Setelah anak
mampu meminta, melabel item di lingkungannya, FFC diajarkan agar anak dapat
belajar hubungan antara kata-kata yang telah diketahui. Features adalah bagian
dari item atau deskripsi item. Function adalah aksi yg terkait dengan itemnya,
dan Classes adalah kelompok dari item tsb.
Contoh: Pisang
Features:
kuning, dikupas, panjang
Function:
dimakan, dikupas
Class:
buah-buahan, makanan, sesuatu yang kita makan
Pada fase awal pengajaran FFC, respon dari anak adalah: menunjuk,
memegang, menyebutkan nama item ketika FFC dikatakan. Setelah kira-kira 20 item
berbeda telah diajarkan, maka ajarkan kebalikannya.
Kuning
Dikupas
à Pisang
Panjang
Dimakan
Mengevaluasi Respon Anak
Terhadap Lingkungan
Tiap-tiap anak responnya berbeda terhadap input sensori. Memahami pola
respon tiap anak terhadap stimulasi dapat membantu orangtua dan instruktur
untuk menentukan mainan atau aktivitas apa yang dinikmati anak, serta jenis
stimulasi yang boleh dan tidak boleh digunakan untuk mengajar atau me-reinforce
anak. Buatlah observasi terhadap berbagai stimulasi seperti:
–
Suara
–
Stimulasi Visual
–
Gerakan, Sentuhan dan Kesadaran akan posisi tubuh
(vestibular)
–
Taste
–
Smell
Mengajarkan Anak Bermain
•
Seringkali ketika orangtua diberitahu bahwa yang kita
ajarkan pada anak pertama-tama adalah “meminta yang diinginkan”, orangtua akan
berkata “Tetapi anak saya tidak menginginkan apa-apa”. Semua anak pasti
menginginkan sesuatu dan tugas kita adalah meningkatkan jenis dan jumlah “apa”
yang diinginkan, salah satunya dengan bermain.
•
Untuk membantu menentukan jenis mainan apa yang
disukai anak, kita harus melihat reaksi anak terhadap stimulasi dan perilaku
self-stim anak.
•
Hal yang paling penting untuk diingat adalah setiap
kali kita memperkenalkan aktivitas atau mainan baru, kita harus memasangkannya
(pairing) dengan reinforcement. Misalnya jika anak senang dipeluk erat-erat,
pasangkan ini dengan kegiatan membaca buku. Jika dia senang melihat benda2 yang
berputar, pilih mainan atau aktivitas yang berputar. Jika anak suka suara2
lucu, gunakanlah ketika bermain dengan anak, jika suka musik, bernyanyilah dst.
•
Salah satu kesalahan terbesar yang sering kita lakukan
adalah ketika bermain dengan anak, kita mengajukan banyak pertanyaan. Ini bukan
bermain, tetapi mengetes anak dan anak tidak akan menyukainya.
Memulai Bermain
•
Bangun antisipasi: ulangi kata2 atau urutan gerakan
yang sama berulang-ulang, kemudian hentikan sejenak. Mis. Cilukba.Katakan
ciluk…ba….. Ciluk…ba. Ketika anak mulai memberikan atensi, tersenyum dan
memberikan kontak mata, berhentilah sebelum mengatakan …. “Ba!”, anak akan
mengatakan “Ba!” atau mencoba membuka selimut dari kepala anda.
•
Lakukan sesuatu yang tidak terduga: ulangi suatu
aktivitas dengan cara yang sama, kemudian tiba-tiba ubahlah.
•
Tirukan apa yang dilakukan anak kemudian buatlah
permainan.
•
Interupsi permainan anak dengan cara yang menyenangkan
•
Pasangkan kata2/suara dengan apa yang sedang dilakukan
anak. Mis. ketika anak sedang menggambar.. Katakan… gambar..gambar, bundar..bundar,
atas.. Bawah (apapun yang menjelaskan apa yang dilakukan anak).
•
Gunakan ekspresi muka dan gerakan badan yang
dilebih-lebihkan untuk menarik perhatian anak
•
Ciptakan arti. Dengarkan ocehan/suara anak, jika anak
sedang menggambar membuat suara yang mirip dengan suatu kata, misalnya “bulan”,
cepat ambil pensil/spidol dan gambar “bulan” seakan-akan anak menyuruh anda
menggambar bulan.
•
Perkenalkan karakter-2 yang berlainan, misalnya sponge
bob, elmo dll.
Mengembangkan Kemampuan
Bermain
•
Setiap anak berbeda, jadi kita harus memperhatikan
dengan seksama untuk memutuskan kapan untuk menambahkan “demand” pada
aktivitas. Setelah anak dapat meminta mainan atau aktifitas, kita dapat
menambahkan apa yang harus dia minta sebelum mendapatkan hasil akhirnya. Misalnya,
setelah anak dapat secara konsisten meminta main dengan bola, taruh bola pada
wadah tembus pandang, dan ajarkan dia untuk meminta Anda membuka wadahnya.
Berikutnya Anda dapat mengajarkan dia untuk minta Anda menggelindingkan, melambungkan atau melemparkan.
•
Jangan meningkatkan tuntutan ke anak terlalu cepat
sehingga anak tidak mau berpartisipasi dalam permainan lagi-> “KILLING THE
REINFORCER”
•
Jangan biarkan anak bermain yang disukai terus-menerus
-> ini juga akan membunuh reinforcer.
•
Beberapa anak mempunyai sedikit sekali
aktifitas/mainan yang disukai dan susah menerima permainan baru. Jika demikian,
biarkan anak melihat Anda bermain dengan mainan baru tersebut dulu sambil anak
makan atau minum jus kesukaannya (pairing). Jika anak mulai tersenyum dan meraih
mainan, maka berarti anak mulai siap bermain dengan mainan yang baru tsb.
•
Kembangkan permainan dengan menambahkan karakter baru,
mengubah jalur (mainan KA), ganti berbagai macam baju boneka (jika anak suka
memakaikan baju boneka).
•
Pada saat sesi belajar sambil bermain, seringkali
secara tidak sadar kita memberi banyak pertanyaan. Hal ini harus dihindari,
sebaliknya beri contoh untuk melabel, mintalah respon reseptif dan lakukan
banyak “problem solving” selama bermain, misalnya ketika bermain dengan boneka
teletubbies, pura-pura si Tinky winky sakit, beri anak pilihan sebaiknya dibawa
ke dokter atau ke taman dll.
•
Ada saatnya pada masa perkembangan setiap anak dimana
mereka tidak selalu dapat bermain dengan mainan seperti yang mereka kehendaki
dan memerintah siapa saja yang di sekililingnya untuk melakukan apa yg mereka
kehendaki. Pada awal pembelajaran kita mengajarkan anak “I talk, I get”,
kadang-kadang ini menjadikan anak suka memerintah/selalu dituruti kehendaknya.
Oleh karenanya jika kita ingin anak belajar bermain dengan anak lain, maka kita
harus ajarkan bahwa mereka tidak selalu langsung mendapatkan apa
(mainan/permainan) yang diinginkan. Oleh karenanya kita ajarkan konsep
“bergiliran”, beri ide-ide lain.
•
Pada kemampuan bermain tingkat atas, bisa dipakai
social story, misalnya anak tidak bisa bermain dengan anak lainnya di taman
bermain, beri opsi apa saja yang dapat dilakukan di tempat bermain, role play
dll.
•
Yang penting untuk diingat adalah bermain pada tingkat
apapun (dasar, menengah, atau lanjut), haruslah MENYENANGKAN!
Mainan Favorit
•
Linear movement toys (stimulasi visual)
–
Alat2 menggambar/mewarna
–
Alat2 untuk memukul, menangkap – sendok kayu, drum
stick, jaring, dll.
–
Benda2 yang bergerak atau dapat digerakkan secara
linear – pasir/beras/biji dituang ke cangkir, kereta api, mobil2an dll.
•
Mainan berputar (stimulasi visual) – roda baik yang
pakai baterai atau mekanikal, pita diikat pada tongkat dan diputar2 dll…
•
Gerakan (stimulasi Vestibular) – ayunan, kursi goyang,
komedi putar, trampolin dll
•
Sentuhan (stimulasi taktil) – stiker, playdough,
permainan air/berenang, pasir dll
•
Bau-bauan – mainan apa saja yang ada aromanya
•
Suara – musik, mainan yang bersuara
Bagian Kedua
Mengajarkan Anak Meminta/
MAND Training
Dua hal yang paling penting
untuk diingat dalam mengajarkan anak untuk meminta/MAND-ing dengan menggunakan
berbagai bentuk komunikasi (vocal, gambar, bahasa isyarat) adalah:
•
Anak harus benar-benar menginginkan item tsb.
(motivasi/MO/EO)
•
Anak harus dapat merespond stimuli yang kita pakai untuk
mengajarkan dia untuk meminta
Item = objek, kegiatan,
makanan dll.
•
Mengajarkan bahasa isyarat harus menggunakan teknik
prompting dan prompt fading agar anak tidak frustrasi.
•
Pakailah benda yang dapat dibagi kecil-kecil (kue
dicuil kecil dll) untuk permintaan pertama agar kita punya banyak kesempatan
untuk melatih anak meminta berulang-ulang.
•
Jika benda yang diinginkan anak tidak dapat
dibagi/pecah ke bagian yang lebih kecil, maka sangat penting untuk mengajarkan
anak menyerahkan reinforcer agar kita bisa mengulang.
•
Untuk melakukan hal di atas, mintalah ke anak benda
tsb. ketika si anak memegangnya, jika anak tidak mau memberikan, ambillah dan
langsung kembalikan. Jika anak mulai berteriak, menangis atau menunjukkan
perilaku negatif lainnya ketika benda tsb. diambil, berpalinglah, abaikan atau
gunakan prosedur berhitung sampai si anak berhenti menunjukkan perilaku tsb.
Kemudian, prompt isyarat untuk meminta dan berikan benda tsb. ke anak. Teruskan
sampai si anak mau memberikan benda ke anda atas permintaan. Segera setelah
anak mau memberikan atas permintaan, berikan reinforcer
Bagaimana jika anak tidak dapat melakukan imitasi
motorik halus?
•
Berikan prompt tangan, secara fisik manipulasi tangan
anak untuk membuat tanda/sign.
•
Katakan nama item ketika anda melakukan prompt tangan
anak.
•
Ulangi nama itemnya ketika anda memberikan item tsb.
•
Ciptakan kesempatan agar anak dapat meminta
berulang-ulang.
•
Kurangi/hilangkan prompt tangan ketika anda mulai
merasakan anak dapat menggerakkan tangannya sendiri. Akan sangat membantu untuk
mengurangi langkah terakhir dari sign dulu atau secara perlahan kurangi tekanan
sentuhan anda.
•
Sebagai bagian dari program anak, ajari dia untuk
melakukan imitasi gerakan lain, hingga anda akan dapat mengajari sign2 baru
melalui imitasi dengan prompt yang tidak terlalu banyak.
Bagaimana jika anak dapat melakukan imitasi motorik
halus jika disuruh “tirukan ini”, tetapi tidak jika saya katakan nama itemnya
ketika saya melakukan sign?
•
Katakan “tirukan ini” dan lakukan sign-nya
•
Katakan nama itemnya dan lakukan sign sekali lagi.
Seharusnya anak melakukan imitasi karena dia baru melakukan gerakan yang sama
sebelumnya.
•
Katakan nama itemnya ketika anda memberikan item tsb.
ke anak.
•
Secara bertahap tambahkan tugas lain antara latihan
“tirukan ini” dan latihan independen lainnya sampai anak mampu melakukan
imitasi sign tsb. ketika anda mengatakan nama item dan memberi contoh/model
sign tsb.
Bagaimana jika anak dapat melakukan sign untuk minta
tetapi hanya jika itemnya ada/tampak?
Kita ingin mengajarkan anak juga dapat meminta benda-benda yang tidak
tampak.
•
Anak melakukan sign untuk minta suatu item.
•
Sebutkan nama item ketika anak melakukan sign dan
ulangi lagi ketika anda memberikan sedikit dari item tsb.
•
Singkirkan item tsb. dan tunggu anak mengulangi sign
untuk minta item tsb. lagi.
•
Secara bertahap pindahkan item tsb. ke lokasi lain.
Biarkan anak melihat ketika anda menyingkirkan item tsb. ke lokasi lain.
•
Beri anak bagian yg lebih banyak ketia dia dapat
meminta item tsb. setelah item tsb. disingkirkan/tidak nampak.
Bagaimana jika anak dapat melakukan sign untuk minta
item yg nampak/tidak nampak tetapi tidak mendapat perhatian kita sebelum
melakukan sign?
Jika anak melakukan sign tetapi tidak ada yang merespon, dia akan
berhenti melakukan sign karena sign-nya tidak ter-reinforced. Kita ingin anak
belajar utk meminta perhatian orang sebelum anak melakukan sign utk minta suatu
item.
•
Pakai 2 instruktur. Instruktur pertama memegang item
yang diinginkan, tapi berbalik dari anak.
•
Instruktur yang kedua prompt si anak untuk menyentuh
tangan instruktur. Segera setelah anak melakukannya, instruktur pertama
menoleh, menghadap anak dan bertanya “Michael mau apa?” (atau berbalik dan
menatap dengan tatapan seperti bertanya “ya?” jika anak dapat meminta tanpa mendengar
pertanyaan “mau apa”)
•
Anak melakukan sign untuk meminta item. Instruktur
pertama menyebut nama item sambil memberikan item tsb. ke anak.
•
Secara bertahap kurangi prompt instruktur ke 2 sampai
anak mampu mencolek instruktur pertama secara independen.
Mengajarkan anak Mand dengan cara Menukar Gambar
(Picture Exchange/PECS)
Ingatlah bahwa tidak
selalu bahwa anak harus mampu menyamakan gambar dengan object sebelum
mengajarkan Mand dengan gambar.
Dibutuhkan 2 orang
pada tahap awal pembelajaran .
•
Taruh item yang diinginkn anak di depan anak tetapi
tidak bisa diraih anak. Untuk latihan awal, gunakan benda yang dapat dibagi
menjadi bagian kecil-kecil agar latihan bisa berulang-ulang.
•
Instruktur pertama duduk di depan anak, dekat dengan
item yang diinginkan. Instruktur kedua duduk di belakang anak untuk memberikan
prompt. Perhatikan, penting sekali bahwa instruktur tidak berkata apapun
sebelum item diberikan pada awal pembelajaran karena kita ingin respon anak
berdasarkan keinginan anak atas item tsb.
•
Ketika anak meraih benda tsb., instruktur kedua secara
fisik melakukan prompt ke anak untuk mengambil dan memberikan gambar ke
instruktur pertama yang telah menjulurkan tangannya.
•
Segera setelah kartu gambar di tangan instruktur,
instruktur pertama menyebutkan nama benda dan memberikannya ke anak.
•
Lakukan langkah di atas dengan cepat. Lanjutkan prompt
penuh sampai anak dapat mengambil dan memberikan kartu gambar tanpa prompt.
•
Jangan berikan petunjuk verbal selama proses ini.
•
Tambahkan gambar sesuatu yang anda tahu si anak pasti
tidak menginginkannya sebagai distracter.
•
Campurkan benda2 itu di atas meja agar anak harus
melihat gambar untuk memilih mana yang benar.
•
Hilangkan pelan-pelan (fade) prompt instruktur pertama (instruktur pertama
menjulurkan tangan ke depan untuk meminta/mengambil gambar dari anak)
•
Hilangkan (fade) kehadiran instruktur pertama. Secara
bertahap, menyingkirlah dari anak agar anak harus datang ke kita untuk
mendapatkan benda yang diinginkan.
•
Secara bertahap luaskan ukuran tempat mengajar anak
meminta. (dari meja, ruangan dst)
•
Taruh/simpan gambar di suatu tempat dimana anak dapat
dengan mudah mengambilnya. Jika ini tidak mungkin, ajar anak untuk meminta buku
atau kotak dimana gambar-gambar tsb. disimpan.
•
Pastikan untuk mengajari anak menukar dengan banyak
orang (generalisasi) supaya anak tidak belajar mengasosiasikan aktivitas tsb.
hanya dengan orang tertentu.
Prosedur Mengajar – Vocal
Mand
Yang harus diingat:
•
Buatlah kondisi dimana anak dapat melakukan respon
yang sama atau serupa seperti yang anda inginkan dan transferkan ke kondisi
baru.
•
Anak cenderung akan mengulang kata yang baru diucapkan
dengan kondisi baru
•
Prompt anak dalam 2-3 detik: Selalu buat anak
sukses/berhasil.
Bagaimana jika anak
memiliki kemampuan vokal tetapi sedikit sekali yang dapat dimengerti?
•
Terus dorong/reinforce vokalisasinya pada lingkungan
natural (natural environment). Jika kata yang diucapkan menyerupai sesuatu yang
mungkin diinginkan anak, berikan benda tsb. diikuti dengan pengucapan nama
benda tsb. dengan benar.
•
Selalu hargai sistem apapun yang dipakai anak untuk
meminta, jika anak memberikan kartu gambar cereal untuk meminta cereal, jangan
suruh anak mengatakan “Katakan cereal”. Jika ini dilakukan terlalu cepat, anak
akan berhenti melakukan mand dengan caranya.
Bagaimana jika anak
dapat mengucapakan kata2 dengan jelas saat menirukan secara spontan (echoes)
tetapi tidak mau menirukan jika disuruh?
•
Gunakan transfer Fill-in ke Mand: Jika anak merespond
fill-in, mungkin dengan cara ini kita dapat memperoleh respon yang kita
harapkan.
Contoh:
–
Instructur: “Tiup
bubbles”. “tiup…………”
–
ANAK: “bubbles”
–
Instruktur: “Michael
mau apa?”
–
ANAK: “bubbles
•
Jika anak tidak menjawab, jawablah sendiri dan terus
ulangi. Penting untuk diingat jangan memberikan