| home | contact us |


MEMULAI PROGRAM VERBAL BEHAVIOR

Diringkas dan diterjemahkan secara bebas oleh Linda Halim

 

Dikutip dari artikel asli:

“Verbal Behaviour Training Manual”

The Mariposa School for Autistic Children, North Carolina

Oleh Tracy Vail dan Denise Freeman

Diedit oleh Cindy Peters  (President Director Mariposa School)

 www.MariposaSchool.org

reprinted by permission

 

 

Daftar Isi:

 

  1. Dasar-dasar dan Prosedur Pengajaran Verbal Behaviour
  2. Mengajarkan Anak Meminta/ MAND Training
  3. Mengajarkan Anak Melabel (Tact) Objek dan Gambar
  4. Mengajarkan Imitasi, Echoic, Reseptif dan Matching
  5. Mengajarkan RFFC (Receptive by Function, Feature and Class)
  6. Meningkatkan vokalisasi & Mengajarkan anak untuk berbicara

 

 

 

 

Bagian Pertama

 

Dasar-Dasar Verbal Behavior

ABA / VBA adalah ilmu pengetahuan ilmiah (science) dari Applied Behavior Analysis (Analisa Perilaku Terapan). ABA memberikan suatu struktur untuk mempelajari perilaku manusia, apa yang menyebabkan suatu perilaku terjadi, bagaimana mengurangi perilaku negatif dan meningkatkan perilaku positif.


Prosedur pengajaran ABA/VBA

      Shaping – suatu proses dimana secara bertahap kita memodifikasi perilaku anak sesuai dengan yang kita kehendaki.  Shaping biasanya dilakukan dengan menyesuaikan persyaratan sebelum reinforcement diberikan. Contohnya, jika anak belajar mengucapkan suatu kata, pada awalnya anak akan diminta untuk memegang bendanya sebelum mendapatkan benda tsb. Kemudian, kita minta anak menirukan suara awal, suku kata dan akhirnya keseluruhan kata.

 

      Prompting – bantuan yang diberikan oleh instruktur supaya anak dapat memberikan respond yang benar. Salah satu perbedaan pokok antara kebanyakan ABA tradisional dan model VBA adalah penggunaan “errorless learning” pada model VB sedangkan pada model ABA tradisional menggunakan prosedur “tidak, tidak, prompt”.

 

      Fading – Ini adalah bagian yang paling kritikal dari mengajari anak, jangan sampai anak menjadi tergantung pada prompt. Bentuk prompt apapun harus berangsur-angsur dikurangi sesuai dengan kemampuan anak.

 

      Chaining – pada dasarnya chaining berarti bahwa skills dipecah-pecah menjadi unit terkecil/termudah dan diajarkan sedikit demi sedikit. Chaining ada 2 macam – forward atau backward – yang dipakai untuk mengajarkan suatu skill baru.

 

      Differential Reinforcement – reinforcement adalah bagian yang paling penting dari pengajaran! Reinforcement adalah memberikan respon terhadap perilaku anak dan respon tersebut dapat meningkatkan perilaku tsb. Differential artinya bahwa reinforcement tingkatnya berbeda-beda tergantung dari respond anak. Tugas yang lebih sulit diberi reinforcer yang lebih ketimbang tugas yang mudah. Reinforcer ini harus diganti-ganti secara sistematik supaya anak mau memberikan respond yang sesuai dalam berbagai kondisi.

 

 

 

Discrete Trial Teaching (DTT)

DTT adalah suatu tekhnik yang digunakan baik pada ABA tradisional maupun Verbal Behavior Program. Tekhnik ini meliputi:

    Memecah suatu skill ke unit yang lebih kecil (sub skill)

    Mengajarkan satu sub-skill sampai dikuasai anak, baru sub-skill berikutnya

    Memberikan pengajaran yang terkonsentrasi

    Menggunakan prompt dan penghilangan prompt sesuai kebutuhan

    Menggunakan prosedur reinforcement

 

      Setiap sesi pengajaran melibatkan pengulangan-pengulangan percobaan, dengan setiap percobaan memiliki perbedaan (jangan memberikan perintah/Stimulus yang hampir sama) dengan urutan: Instruksi – Behavior (respon anak) dan Consequences (reinforcement atau prompt-fade-prompt)

 

Hal-hal Yang Perlu Diperhatikan Dalam Memulai Pengajaran VB

      Tugas pertama instruktur adalah mengajarkan/menanamkan persepsi pada anak bahwa sesi belajar bersama instruktur adalah hal yang menyenangkan (when instructor shows up, good things happen!)

      Hal tsb. dapat dicapai dengan banyak cara tetapi cara yang paling utama adalah melakukan observasi pada anak dan melakukan interaksi. Amati sentuhan, suara, ekspresi muka yang bagaimana yang disukai anak. Jika si anak terlihat bosan, ajaklah bermain tanpa menuntut si anak menjawab apapun.

      Jangan mengalihkan anak dari aktivitas yang disukai menjelang sesi terapi

      Jangan memaksakan suatu respon, dalam kata lain jangan suruh anak untuk “kemari”. “duduk”, “lihat ini”

      Berinteraksilah dengan cara yang menyenangkan, lucu supaya si anak senang bersama instrukturnya

 

Bagaimana meminta respond pertama

      Dengan model VB, hal yg paling penting untuk diajarkan ke anak adalah bagaimana anak meminta apa yang diinginkan (MAND). Mereka belajar “I talk I get”.

      Faktor-faktor berikut ini penting dipertimbangkan untuk meminta anak merespon:

    Jangan meminta respon yang tidak bisa kita prompt. Contoh jangan berkata “Katakan mobil” sambil memegang mobil2an jika si anak masih belum dapat melakukan imitasi vokal secara konsisten. Hal ini dikarenakan kita tidak dapat secara fisik “membuat” anak mengucapkan kata “mobil”. Kita tidak ingin si anak berlatih untuk TIDAK mengikuti instruksi.

    Jika memberi instruksi, seperti “duduk” Anda harus secara fisik menuntun anak untuk duduk ketika si anak tidak mengikuti instruksi duduk. Sekali lagi, kita tidak ingin si anak berlatih untuk “TIDAK” mematuhi instruksi.

    Pastikan bahwa instruksi pertama yang diberikan adalah yang dapat dilakukan oleh anak dan beri hadiah (yang benar-benar membuat anak senang/strong reinforcement) atas kepatuhannya.

    Jangan pernah menggunakan reinforcer sebagai “sogokan”. Contohnya, menggoda anak dengan memegang reinforcer didepan anak dan meminta anak merespon sebelum memberikan reinforcer tersebut. Ini bukan berarti bahwa Anda tidak dapat menggunakan reinforcer sebagai suatu “janji”. Contoh, jika Anda menginginkan anak untuk mendatangi Anda jika dipanggil, bawalah sesuatu yang dia sukai ditangan, dan berikan ketika dia datang/menghampiri.

    Meskipun anak sudah vokal tetapi vokalnya belum bermakna, akan sangat membantu mengajarkan anak bagaimana meminta dengan memakai gambar atau bahasa isyarat. Hal ini karena kita dapat memakai “prompt” dalam mengajarkan anak meminta dengan gambar tetapi kita tidak dapat melakukan “prompt” untuk berbicara.

 

 

Mengatasi Perilaku Negative

      Anak dengan hambatan komunikasi biasanya mencari cara lain untuk mendapatkan apa yang diinginkan/dibutuhkan, cara yang paling sering dilakukan adalah dengan merengek, menangis sampai tantrum (perilaku negative). Bila timbul perilaku negative maka:

    Jangan pernah memberikan anak akses untuk mendapatkan reinforcer (apa yg diinginkan) dengan perilaku negatif.

    Mengabaikan tantrum dapat meningkatkan tantrum sementara waktu, namun jangan sampai menyerah pada perilaku tantrum anak

    Tetap tenang, setelah anak mereda, gunakan gambar, tanda atau tunjukkan benda2 untuk mengetahui apa yang diinginkan anak.

    Jika Anda tahu apa yang diinginkan anak, gunakan prosedur menghitung, katakan “tidak boleh menangis” dan mulai menghitung sampai 10 dan ulangi jika tangisnya belum selesai. Setelah anak berhenti menangis, berikan apa yang diinginkan anak

    Jika anak menangis/tantrum karena kita memberikan instruksi dan anak tidak mau melakukan, dengan tenang gunakan prompt secara halus sampai dia melakukan apa yang diperintahkan. Jika Anda memerintahkan anak untuk duduk dan dia berteriak, tuntun dia ke kursi dengan lembut, buat dia duduk untuk beberapa detik dan biarkan dia berdiri (hanya jika dia tidak berteriak).

    Hal yang penting dari perilaku negative adalah kita harus belajar dari perilaku tsb. Jika si anak tantrum, maka berarti prosedur pengajaran harus disesuaikan. Lihat pada reinforcernya, densitas dari reinforcer, dan tingkat kesulitan tugas yang diajarkan ke anak untuk menentukan apa yang harus disesuaikan kembali.

The most critical things to remember at the beginning of a therapeutic relationship are to have fun, enjoy the child, and teach the child that learning is fun and communication is powerful! The child must learn that life gets better when he complies with requests!

 

Aturan Reinforcement

 

       Reinforcement harus benar-benar dapat membuat anak mau melakukan instruksi. Reinforcement tiap-tiap anak berbeda.

       Reinforcement harus bersifat contingent/dadakan, hanya tersedia ketika perilaku target (perilaku yg diharapkan) timbul supaya kekuatannya tidak hilang.

       Berbagai macam reinforcer harus digunakan, supaya nilainya tetap.

       Selalu pasangkan social reinforcer dengan reinforcer utama.

       Terus kembangkan dan identifikasikan reinforcer-2 baru. Lihat pada perilaku self-stim anak untuk membantu menentukan apa yang mungkin dinikmati anak.

       Gunakan reinforcer yang sesuai dengan umurnya.

       Reinforcer yang bersifat kejutan biasanya sangat disukai dan memotivasi anak.

       Pada awal/permulaan, renforcer harus timbul secara langsung/segera supaya anak dapat mengasosiasikan perilakunya dengan reinforcernya.

         Jadwal variasi reinforcer harus dibuat dan diikuti secara konsisten

         Reinforcement harus dihilangkan secara perlahan-lahan ketika anak sudah menguasai skill yang diajarkan. Tugas yang mudah, reinforcernya juga lebih ringan.

         Evaluasi ‘timing” reinforcement.

         Selang beberapa waktu, ubah reinforcer ke bentuk yang lebih natural dan praktis seperti pujian, acungkan ibu jari.

         Jangan gunakan reinforcer sebagai sogokan. Jangan jadikan kebiasaan si anak mendengarkan terlebih dahulu reinforcer apa yang akan dia dapatkan. Jangan ingatkan bahwa anak akan mendapat reinforcer jika dia tidak berperilaku negatif. Jangan tawarkan reinforcer tambahan ketika tantrum semakin bertambah sebagai usaha untuk mendiamkan dia.

         Gunakan skala reinforcement. Berikan reinforcer yang terbaik untuk perilaku yang terbaik atau tugas yang tersulit.

 

 

Definisi dan Terminologi Establishing Operation:

 

      Establishing Operation (EO): adalah faktor yang dapat meningkatkan atau menurunkan nilai sebuah reinforcer untuk sementara waktu dan dapat membawa ke suatu peningkatan perilaku yang telah terasosiasikan dengan reinforcer tertentu. Misalnya anak sedang menginginkan es krim, dan setelah melakukan apa yg diinstruksikan, anak diberi reinforcer es krim, maka pada instruksi berikutnya anak akan cenderung mau melakukan/mengulangnya kembali. Es krim sebagai reinforcer sifatnya sementara, karena mungkin setelah si anak sudah tidak menginginkan es krim, maka es krim bukan EO/MO lagi.

 

Hal-hal yang mempengaruhi EO

 

      Deprivation – Keadaan ketika kita tidak mendapatkan item yang kita inginkan untuk suatu waktu (meningkatkan nilai). Contoh:  Jika anda sedang diet, maka pizza menjadi sangat menggiurkan.

 

      Satiation – Keadaan ketika kita sudah mendapatkan item yang kita inginkan/sudah bosan (menurunkan nilai). Contoh: jika anda makan siang dengan pizza setiap hari, mungkin anda sudah tidak menginginkannya lagi.

 

      Competing EO – Nilai dari beberapa perilaku lain lebih kuat (menurunkan nilai). Contoh: Anak sangat ingin bermain dengan suatu mainan, tetapi anda bertanya terus sehingga nilai “lari dari pertanyaan” (escaping) lebih kuat daripada nilai mainan tersebut.

 

Contoh-contoh lain:

      Jika kita kekurangan uang, maka kondisi ini akan meningkatkan nilai uang ekstra dan akibatnya pada jenis perilaku (kerja tambahan? kerja lembur?)  untuk mendapatkan uang yang pernah dilakukan sebelumnya/pengalaman sebelumnya.

 

      Jika anak punya mainan favorit yg sudah lama tidak dimainkan, maka nilai dari mainan tersebut akan meningkat sementara waktu dan akibatnya pada peningkatan jenis perilaku (bicara? Teriak?) seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.

 

      Jika anak berada pada lingkungan yang ramai, berisik yang membuat dia tidak nyaman, maka suasana tersebut untuk sementara waktu meningkatkan nilai dari “lari/menghindar” dan akibatnya pada jenis perilaku (memukul? Menggigit? Berkata “ayo pergi”) seperti yang pernah dilakukan sebelumnya.  

 

 

Reinforcement vs Punishment

 

Reinforcement

      Memberikan sesuatu yang disukai anak setelah perilaku timbul/setelah melakukan tugas (positive reinforcement), atau

      Menghilangkan/menjauhkan sesuatu yang tidak disukai anak (negative reinforcement)

 

Punishment

      Melakukan/menerapkan sesuatu yang tidak disukai anak (positive punishment)

      Menjauhkan/mengambil sesuatu yang disukai anak langsung setelah perilaku itu muncul (negative punishment)

 

 

Positive Reinforcement

 

Situasi – Anak melihat permen di toko dan menginginkannya (ada EO untuk  permen)

     Anak menjerit “aku mau permen” dan tantrum, si ibu memberikan permen supaya tidak ribut. (Reinforcement atas perilaku yang negatif)

     Anak berlari ke ibunya dan memberi tanda/berkata ‘permen”. Ibu memberikan permen ke anak dan memuji karena si anak dapat meminta permen dengan baik. (Reinforcement atas perilaku yang positif)

 

Diskusi: pada kedua contoh di atas, anak telah belajar bahwa perilakunya menghasilkan apa yang dia inginkan, jadi lain kali si anak akan mengulang kembali perilaku tersebut.

 

 

Negative Reinforcement

 

Situasi – Di sebuah ruangan terdengar suara radio yang sedang diputar keras-keras

 

     Anak masuk ke ruangan tersebut dan mulai menjerit. Si Ibu cepat-cepat datang untuk mengecilkan volume radio  (Reinforcement atas perilaku yang negatif)

 

     Anak masuk ke dalam ruangan dan sambil menutup telinga dia berkata “Terlalu keras”. Si ibu bertanya apakah dia ingin volumenya dikecilkan. Ketika anak menjawab “ya”, maka si Ibu mengecilkan volume radio (Reinforcement atas perilaku yang positif)

 

 

 

Punishment

 

Definisi punishment/hukuman pada ABA berbeda dengan hukuman pada umumnya.

 

Pengertian hukuman secara umum, adalah sesuatu yang diberikan pada orang yang telah melakukan kejahatan atau perilaku yang tidak baik dengan harapan perilaku tersebut akan berhenti. Hukuman ini memiliki konotasi moral dan etika.

 

ABA mendefinisikan hukuman sebagai suatu proses dimana konsekuensi suatu perilaku menyebabkan penurunan atas timbulnya perilaku tersebut di waktu yang akan datang.

 

Secara prosedur, ada 2 jenis hukuman:

 

Positive Punishment:

timbulnya suatu perilaku diikuti oleh perintah/instruksi untuk melakukan tugas yang tidak disukai agar perilaku tersebut tidak muncul kembali di kemudian hari

 

     Situasi:  Seorang anak remaja pulang malam melebihi batas waktu yang telah ditentukan

 

     Hukuman: Orang tua memberikan tugas untuk mencuci mobil selama satu minggu  (pemberian suatu tugas yang tidak disukai)

 

Negative Punishment:

timbulnya suatu perilaku yang diikuti oleh penghilangan/peniadaan akan sesuatu yang disukai agar perilaku tersebut tidak muncul kembali di kemudian hari

 

     Situasi: Seorang anak remaja pulang malam melebihi batas waktu yang telah ditentukan

   Hukuman: Orang tua melarangnya untuk menghadiri acara pesta teman yang sudah direncanakan

 

Masalah-masalah yang timbul dengan Punishment adalah:

 

      Dapat menimbulkan agresi atau efek emosional lainnya

      Dapat menyebabkan penghindaran/pelarian perilaku (tidak mau melakukan tugasnya)

      Secara tidak sadar orang yang menghukum melakukan reinforcement secara negative dengan hukuman sehingga terjadi penyalahgunaan hukuman

      Anak dapat menggunakan hukuman yang pernah dikenakan pada dirinya dikemudian hari terhadap instruktur/orang lain

 

    Hukuman  hanya boleh digunakan setelah pendekatan fungsional lainnya telah dilakukan dan terbukti tidak efektif untuk mengatasi perilaku yang bermasalah tsb.

 

    Prosedur-prosedur reinforcement yang berbeda harus digunakan dalam hubungannya dengan hukuman.

 

 

 

Stimulus

 

Stimulus/stimulasi/rangsangan, apa saja yang dapat dilakukan orang dengan indranya. Apa saja yang dapat dilihat, didengar, dicium, diraba, atau dirasakan. Stimulasi dapat diasosiasikan dengan kejadian lain ketika diikuti oleh reinforcement atau punishment, atau disebut discriminative stimulus (Sd).

 

Ada 3 macam stimulasi:

 

Neutral Stimulus – ayah berkata, “pegang anjing” dan ini yang pertama kali anak mendengarnya. Anak mendengar kata-kata tsb. tetapi tidak terasosiasikan dengan apapun, baik positive atau negative.

 

Discriminative Stimulus – Anak duduk dipangkuan ayahnya sambil melihat buku, ayah berkata “tunjuk anjing” dan menuntun tangan anaknya untuk menunjuk anjing. Ketika anak menunjuk anjing, ayahnya memeluk dia dan berkata “benar!”, si anak senang (reinforcing), jadi ketika si ayah membalik halaman dan berkata “tunjuk anjing”, si anak langsung menunjuk anjing tanpa menunggu ayahnya menuntun lagi.

 

S-Delta – Melanjutkan contoh di atas, jika si anak menunjuk kucing bukan anjing, ayah tidak memberi pelukan dan berkata “Benar!”. Perilaku memegang kucing diasosiasikan dengan tidak adanya reinforcement kapanpun dia mendengar kata2 “tunjuk anjing”.

 

 

Klasifikasi Perilaku dari Bahasa

 

Mand – meminta sesuatu. Mand yang murni timbul sebagai akibat dari EO atau keinginan untuk memiliki sesuatu tanpa harus ditanya “Mau apa?”

    Bolehkah aku minta kue?

    Mommy mana?

 

Receptive – mengikuti petunjuk atau mematuhi permintaan orang lain

    Pegang boneka Dora (anak memegang boneka)

    Buang ini ke tempat sampah (anak melakukan yg diperintahkan)

    Apa yang bunyinya “tuit jes… jes” (anak memegang kereta api)

 

Tact – melabel atau memberi nama item, aksi atau apapun yang ada/tampak. Tact yang murni tidak ada kaitannya dengan adanya EO atau keinginan akan item tsb.

    Apa ini namanya?” (anak menyebutkan nama item)

    “Bagaimana rasanya bulu anjing?” (anak berkata “halus”)

    “Apa yang kamu lihat?” (anak berkata “burung”

 

Intraverbal – sebuah respon atas apa yang dikatakan orang yang berkaitan dengan suatu item, aksi atau sesuatu yang TIDAK NAMPAK/ADA. (menjawab pertanyaan atau melakukan percakapan).

    “Twinkle, twinkle, little ………. (anak melanjutkan “star”)

    Apa yang bunyinya meong? (anak menjawab “kucing”)

    Apa yang kamu lakukan di sekolah tadi? (anak menjawab “aku mewarna gambar kucing”)

 

Echoic – menirukan/mengulangi persis apa yang dikatakan orang lain

    Apakah kamu mau keluar? (anak berkata “Apakah kamu mau keluar?”)

    Ibu berkata “mobil” (anak menirukan “mobil”)

 

FFCs – singkatan dari Features, Functions dan Classes. Setelah anak mampu meminta, melabel item di lingkungannya, FFC diajarkan agar anak dapat belajar hubungan antara kata-kata yang telah diketahui. Features adalah bagian dari item atau deskripsi item. Function adalah aksi yg terkait dengan itemnya, dan Classes adalah kelompok dari item tsb.

Contoh: Pisang

       Features: kuning, dikupas, panjang

       Function: dimakan, dikupas

       Class: buah-buahan, makanan, sesuatu yang kita makan

 

Pada fase awal pengajaran FFC, respon dari anak adalah: menunjuk, memegang, menyebutkan nama item ketika FFC dikatakan. Setelah kira-kira 20 item berbeda telah diajarkan, maka ajarkan kebalikannya.

 

Kuning

Dikupas

                        à  Pisang

Panjang                                                              

Dimakan   

 

 

 

 

Mengevaluasi Respon Anak Terhadap Lingkungan

 

Tiap-tiap anak responnya berbeda terhadap input sensori. Memahami pola respon tiap anak terhadap stimulasi dapat membantu orangtua dan instruktur untuk menentukan mainan atau aktivitas apa yang dinikmati anak, serta jenis stimulasi yang boleh dan tidak boleh digunakan untuk mengajar atau me-reinforce anak. Buatlah observasi terhadap berbagai stimulasi seperti:

    Suara

    Stimulasi Visual

    Gerakan, Sentuhan dan Kesadaran akan posisi tubuh (vestibular)

    Taste

    Smell

 

 

Mengajarkan Anak Bermain

 

      Seringkali ketika orangtua diberitahu bahwa yang kita ajarkan pada anak pertama-tama adalah “meminta yang diinginkan”, orangtua akan berkata “Tetapi anak saya tidak menginginkan apa-apa”. Semua anak pasti menginginkan sesuatu dan tugas kita adalah meningkatkan jenis dan jumlah “apa” yang diinginkan, salah satunya dengan bermain.

      Untuk membantu menentukan jenis mainan apa yang disukai anak, kita harus melihat reaksi anak terhadap stimulasi dan perilaku self-stim anak.

      Hal yang paling penting untuk diingat adalah setiap kali kita memperkenalkan aktivitas atau mainan baru, kita harus memasangkannya (pairing) dengan reinforcement. Misalnya jika anak senang dipeluk erat-erat, pasangkan ini dengan kegiatan membaca buku. Jika dia senang melihat benda2 yang berputar, pilih mainan atau aktivitas yang berputar. Jika anak suka suara2 lucu, gunakanlah ketika bermain dengan anak, jika suka musik, bernyanyilah dst.

      Salah satu kesalahan terbesar yang sering kita lakukan adalah ketika bermain dengan anak, kita mengajukan banyak pertanyaan. Ini bukan bermain, tetapi mengetes anak dan anak tidak akan menyukainya.  

 

Memulai Bermain

 

            Bangun antisipasi: ulangi kata2 atau urutan gerakan yang sama berulang-ulang, kemudian hentikan sejenak. Mis. Cilukba.Katakan ciluk…ba….. Ciluk…ba. Ketika anak mulai memberikan atensi, tersenyum dan memberikan kontak mata, berhentilah sebelum mengatakan …. “Ba!”, anak akan mengatakan “Ba!” atau mencoba membuka selimut dari kepala anda.

            Lakukan sesuatu yang tidak terduga: ulangi suatu aktivitas dengan cara yang sama, kemudian tiba-tiba ubahlah.

            Tirukan apa yang dilakukan anak kemudian buatlah permainan.

            Interupsi permainan anak dengan cara yang menyenangkan

            Pasangkan kata2/suara dengan apa yang sedang dilakukan anak. Mis. ketika anak sedang menggambar.. Katakan… gambar..gambar, bundar..bundar, atas.. Bawah (apapun yang menjelaskan apa yang dilakukan anak).

            Gunakan ekspresi muka dan gerakan badan yang dilebih-lebihkan untuk menarik perhatian anak

            Ciptakan arti. Dengarkan ocehan/suara anak, jika anak sedang menggambar membuat suara yang mirip dengan suatu kata, misalnya “bulan”, cepat ambil pensil/spidol dan gambar “bulan” seakan-akan anak menyuruh anda menggambar bulan.

            Perkenalkan karakter-2 yang berlainan, misalnya sponge bob, elmo dll.

 

 

Mengembangkan Kemampuan Bermain

 

        Setiap anak berbeda, jadi kita harus memperhatikan dengan seksama untuk memutuskan kapan untuk menambahkan “demand” pada aktivitas. Setelah anak dapat meminta mainan atau aktifitas, kita dapat menambahkan apa yang harus dia minta sebelum mendapatkan hasil akhirnya. Misalnya, setelah anak dapat secara konsisten meminta main dengan bola, taruh bola pada wadah tembus pandang, dan ajarkan dia untuk meminta Anda membuka wadahnya. Berikutnya Anda dapat mengajarkan dia untuk minta Anda menggelindingkan,  melambungkan atau melemparkan.

        Jangan meningkatkan tuntutan ke anak terlalu cepat sehingga anak tidak mau berpartisipasi dalam permainan lagi-> “KILLING THE REINFORCER”

        Jangan biarkan anak bermain yang disukai terus-menerus -> ini juga akan membunuh reinforcer.

            Beberapa anak mempunyai sedikit sekali aktifitas/mainan yang disukai dan susah menerima permainan baru. Jika demikian, biarkan anak melihat Anda bermain dengan mainan baru tersebut dulu sambil anak makan atau minum jus kesukaannya (pairing). Jika anak mulai tersenyum dan meraih mainan, maka berarti anak mulai siap bermain dengan mainan yang baru tsb.

            Kembangkan permainan dengan menambahkan karakter baru, mengubah jalur (mainan KA), ganti berbagai macam baju boneka (jika anak suka memakaikan baju boneka).

            Pada saat sesi belajar sambil bermain, seringkali secara tidak sadar kita memberi banyak pertanyaan. Hal ini harus dihindari, sebaliknya beri contoh untuk melabel, mintalah respon reseptif dan lakukan banyak “problem solving” selama bermain, misalnya ketika bermain dengan boneka teletubbies, pura-pura si Tinky winky sakit, beri anak pilihan sebaiknya dibawa ke dokter atau ke taman dll.

            Ada saatnya pada masa perkembangan setiap anak dimana mereka tidak selalu dapat bermain dengan mainan seperti yang mereka kehendaki dan memerintah siapa saja yang di sekililingnya untuk melakukan apa yg mereka kehendaki. Pada awal pembelajaran kita mengajarkan anak “I talk, I get”, kadang-kadang ini menjadikan anak suka memerintah/selalu dituruti kehendaknya. Oleh karenanya jika kita ingin anak belajar bermain dengan anak lain, maka kita harus ajarkan bahwa mereka tidak selalu langsung mendapatkan apa (mainan/permainan) yang diinginkan. Oleh karenanya kita ajarkan konsep “bergiliran”, beri ide-ide lain.

            Pada kemampuan bermain tingkat atas, bisa dipakai social story, misalnya anak tidak bisa bermain dengan anak lainnya di taman bermain, beri opsi apa saja yang dapat dilakukan di tempat bermain, role play dll.

            Yang penting untuk diingat adalah bermain pada tingkat apapun (dasar, menengah, atau lanjut), haruslah MENYENANGKAN!

 

 

Mainan Favorit

 

      Linear movement toys (stimulasi visual)

    Alat2 menggambar/mewarna

    Alat2 untuk memukul, menangkap – sendok kayu, drum stick, jaring, dll.

    Benda2 yang bergerak atau dapat digerakkan secara linear – pasir/beras/biji dituang ke cangkir, kereta api, mobil2an dll.

      Mainan berputar (stimulasi visual) – roda baik yang pakai baterai atau mekanikal, pita diikat pada tongkat dan diputar2 dll…

      Gerakan (stimulasi Vestibular) – ayunan, kursi goyang, komedi putar, trampolin dll

      Sentuhan (stimulasi taktil) – stiker, playdough, permainan air/berenang, pasir dll

      Bau-bauan – mainan apa saja yang ada aromanya

      Suara – musik, mainan yang bersuara

 

 

 

Bagian Kedua

 

Mengajarkan Anak Meminta/ MAND Training

 

Dua hal yang paling penting untuk diingat dalam mengajarkan anak untuk meminta/MAND-ing dengan menggunakan berbagai bentuk komunikasi (vocal, gambar, bahasa isyarat) adalah:

 

            Anak harus benar-benar menginginkan item tsb. (motivasi/MO/EO)

            Anak harus dapat merespond stimuli yang kita pakai untuk mengajarkan dia untuk meminta

 

Item = objek, kegiatan, makanan dll.

 

      Mengajarkan bahasa isyarat harus menggunakan teknik prompting dan prompt fading agar anak tidak frustrasi.

      Pakailah benda yang dapat dibagi kecil-kecil (kue dicuil kecil dll) untuk permintaan pertama agar kita punya banyak kesempatan untuk melatih anak meminta berulang-ulang.

      Jika benda yang diinginkan anak tidak dapat dibagi/pecah ke bagian yang lebih kecil, maka sangat penting untuk mengajarkan anak menyerahkan reinforcer agar kita bisa mengulang.

      Untuk melakukan hal di atas, mintalah ke anak benda tsb. ketika si anak memegangnya, jika anak tidak mau memberikan, ambillah dan langsung kembalikan. Jika anak mulai berteriak, menangis atau menunjukkan perilaku negatif lainnya ketika benda tsb. diambil, berpalinglah, abaikan atau gunakan prosedur berhitung sampai si anak berhenti menunjukkan perilaku tsb. Kemudian, prompt isyarat untuk meminta dan berikan benda tsb. ke anak. Teruskan sampai si anak mau memberikan benda ke anda atas permintaan. Segera setelah anak mau memberikan atas permintaan, berikan reinforcer

 

 

Bagaimana jika anak tidak dapat melakukan imitasi motorik halus?

 

      Berikan prompt tangan, secara fisik manipulasi tangan anak untuk membuat tanda/sign.

      Katakan nama item ketika anda melakukan prompt tangan anak.

      Ulangi nama itemnya ketika anda memberikan item tsb.

      Ciptakan kesempatan agar anak dapat meminta berulang-ulang.

      Kurangi/hilangkan prompt tangan ketika anda mulai merasakan anak dapat menggerakkan tangannya sendiri. Akan sangat membantu untuk mengurangi langkah terakhir dari sign dulu atau secara perlahan kurangi tekanan sentuhan anda.

      Sebagai bagian dari program anak, ajari dia untuk melakukan imitasi gerakan lain, hingga anda akan dapat mengajari sign2 baru melalui imitasi dengan prompt yang tidak terlalu banyak.

 

Bagaimana jika anak dapat melakukan imitasi motorik halus jika disuruh “tirukan ini”, tetapi tidak jika saya katakan nama itemnya ketika saya melakukan sign?

      Katakan “tirukan ini” dan lakukan sign-nya

      Katakan nama itemnya dan lakukan sign sekali lagi. Seharusnya anak melakukan imitasi karena dia baru melakukan gerakan yang sama sebelumnya.

      Katakan nama itemnya ketika anda memberikan item tsb. ke anak.

      Secara bertahap tambahkan tugas lain antara latihan “tirukan ini” dan latihan independen lainnya sampai anak mampu melakukan imitasi sign tsb. ketika anda mengatakan nama item dan memberi contoh/model sign tsb.

 

Bagaimana jika anak dapat melakukan sign untuk minta tetapi hanya jika itemnya ada/tampak?

Kita ingin mengajarkan anak juga dapat meminta benda-benda yang tidak tampak.

      Anak melakukan sign untuk minta suatu item.

      Sebutkan nama item ketika anak melakukan sign dan ulangi lagi ketika anda memberikan sedikit dari item tsb.

      Singkirkan item tsb. dan tunggu anak mengulangi sign untuk minta item tsb. lagi.

      Secara bertahap pindahkan item tsb. ke lokasi lain. Biarkan anak melihat ketika anda menyingkirkan item tsb. ke lokasi lain.

      Beri anak bagian yg lebih banyak ketia dia dapat meminta item tsb. setelah item tsb. disingkirkan/tidak nampak.

 

Bagaimana jika anak dapat melakukan sign untuk minta item yg nampak/tidak nampak tetapi tidak mendapat perhatian kita sebelum melakukan sign?

Jika anak melakukan sign tetapi tidak ada yang merespon, dia akan berhenti melakukan sign karena sign-nya tidak ter-reinforced. Kita ingin anak belajar utk meminta perhatian orang sebelum anak melakukan sign utk minta suatu item.

      Pakai 2 instruktur. Instruktur pertama memegang item yang diinginkan, tapi berbalik dari anak.

      Instruktur yang kedua prompt si anak untuk menyentuh tangan instruktur. Segera setelah anak melakukannya, instruktur pertama menoleh, menghadap anak dan bertanya “Michael mau apa?” (atau berbalik dan menatap dengan tatapan seperti bertanya “ya?” jika anak dapat meminta tanpa mendengar pertanyaan “mau apa”)

      Anak melakukan sign untuk meminta item. Instruktur pertama menyebut nama item sambil memberikan item tsb. ke anak.

      Secara bertahap kurangi prompt instruktur ke 2 sampai anak mampu mencolek instruktur pertama secara independen.

 

 

Mengajarkan anak Mand dengan cara Menukar Gambar (Picture Exchange/PECS)

 

Ingatlah bahwa tidak selalu bahwa anak harus mampu menyamakan gambar dengan object sebelum mengajarkan Mand dengan gambar.

Dibutuhkan 2 orang pada tahap awal pembelajaran .

       Taruh item yang diinginkn anak di depan anak tetapi tidak bisa diraih anak. Untuk latihan awal, gunakan benda yang dapat dibagi menjadi bagian kecil-kecil agar latihan bisa berulang-ulang.

       Instruktur pertama duduk di depan anak, dekat dengan item yang diinginkan. Instruktur kedua duduk di belakang anak untuk memberikan prompt. Perhatikan, penting sekali bahwa instruktur tidak berkata apapun sebelum item diberikan pada awal pembelajaran karena kita ingin respon anak berdasarkan keinginan anak atas item tsb.

       Ketika anak meraih benda tsb., instruktur kedua secara fisik melakukan prompt ke anak untuk mengambil dan memberikan gambar ke instruktur pertama yang telah menjulurkan tangannya.

            Segera setelah kartu gambar di tangan instruktur, instruktur pertama menyebutkan nama benda dan memberikannya ke anak.

            Lakukan langkah di atas dengan cepat. Lanjutkan prompt penuh sampai anak dapat mengambil dan memberikan kartu gambar tanpa prompt.

            Jangan berikan petunjuk verbal selama proses ini.

            Tambahkan gambar sesuatu yang anda tahu si anak pasti tidak menginginkannya sebagai distracter.

            Campurkan benda2 itu di atas meja agar anak harus melihat gambar untuk memilih mana yang benar.

            Hilangkan pelan-pelan (fade) prompt  instruktur pertama (instruktur pertama menjulurkan tangan ke depan untuk meminta/mengambil gambar dari anak)

        Hilangkan (fade) kehadiran instruktur pertama. Secara bertahap, menyingkirlah dari anak agar anak harus datang ke kita untuk mendapatkan benda yang diinginkan.

        Secara bertahap luaskan ukuran tempat mengajar anak meminta. (dari meja, ruangan dst)

        Taruh/simpan gambar di suatu tempat dimana anak dapat dengan mudah mengambilnya. Jika ini tidak mungkin, ajar anak untuk meminta buku atau kotak dimana gambar-gambar tsb. disimpan.

        Pastikan untuk mengajari anak menukar dengan banyak orang (generalisasi) supaya anak tidak belajar mengasosiasikan aktivitas tsb. hanya dengan orang tertentu.

 

Prosedur Mengajar – Vocal Mand

 

Yang harus diingat:

   Buatlah kondisi dimana anak dapat melakukan respon yang sama atau serupa seperti yang anda inginkan dan transferkan ke kondisi baru.

   Anak cenderung akan mengulang kata yang baru diucapkan dengan kondisi baru

   Prompt anak dalam 2-3 detik: Selalu buat anak sukses/berhasil.

 

Bagaimana jika anak memiliki kemampuan vokal tetapi sedikit sekali yang dapat dimengerti?

   Terus dorong/reinforce vokalisasinya pada lingkungan natural (natural environment). Jika kata yang diucapkan menyerupai sesuatu yang mungkin diinginkan anak, berikan benda tsb. diikuti dengan pengucapan nama benda tsb. dengan benar.

   Selalu hargai sistem apapun yang dipakai anak untuk meminta, jika anak memberikan kartu gambar cereal untuk meminta cereal, jangan suruh anak mengatakan “Katakan cereal”. Jika ini dilakukan terlalu cepat, anak akan berhenti melakukan mand dengan caranya.

 

Bagaimana jika anak dapat mengucapakan kata2 dengan jelas saat menirukan secara spontan (echoes) tetapi tidak mau menirukan jika disuruh?

    Gunakan transfer Fill-in ke Mand: Jika anak merespond fill-in, mungkin dengan cara ini kita dapat memperoleh respon yang kita harapkan.

Contoh:

      Instructur:         “Tiup bubbles”. “tiup…………”

      ANAK:  “bubbles”

      Instruktur:         “Michael mau apa?”

      ANAK:  “bubbles

    Jika anak tidak menjawab, jawablah sendiri dan terus ulangi. Penting untuk diingat jangan memberikan perintah “Katakan …………….” hingga kemampuan menirukan (echoic) anak dapat dilakukan dalam kondisi kontrol instruksional karena kita tidak dapat mem-prompt anak untuk bicara, maka sama saja dengan mengajarkan anak untuk tidak mengikuti instruksi.

 

    Tingkatkan kemungkinan untuk echo: “pura-puralah bodoh”. Jika anak akan meraih/mendekati suatu item, sebutkan nama item dengan nada tanya. Contoh anak mau mengambil bola di rak, katakan “bola?”. Lakukan ini tidak lebih dari 3x sebelum memberikan bola ke anak. Kalau anak suka tantrum, lakukan sekali saja. Kita juga bisa mencoba menawarkan 2 pilihan ke anak. Pastikan hanya menyebutkan nama itemnya saja untuk menghindari anak mengulang/membeo “Michael mau bola?”.

 

    Buatlah echoic dibawah kontrol instruksional. Ajarkan anak untuk menirukan hal-hal lain yang dapat diprompt seperti gerakan motorik. Hal ini dapat dilakukan sambil bernyanyi atau bermain dengan mainan. Sasarannya adalah untuk melakukan imitasi gerak dibawah kontrol/dengan perintah “Tirukan/lakukan ini”. Setelah anak dapat menirukan beberapa gerakan, anda dapat mentransfer imitasi gerak ke imitasi vocal.

 

Contoh:

     Instruktur: “Tirukan” (tepuk tangan)

     ANAK:    (respon = tepuk tangan)

     Instruktur: “Tirukan” (tepuk meja)

     ANAK:  (respon = tepuk meja)

     Instruktur: “Tirukan” – bola

     ANAK:  “bola”

     Instruktur: “Katakan bola”

     ANAK:  “bola”

 

 

Bagaimana jika anak mau menirukan secara konsisten untuk meminta tetapi tidak dapat merespon jika ditanya “……. mau apa?”

 

Transfer dari Echo ke Mand:

        Tanya: “Michael mau apa? Bola (langsung kita jawab)

        Michael: “Bola”

        Tanya: “Michael mau apa?”

        Michael: “Bola”

Jika anak menirukan/membeo pertanyaannya, mis: “Michael mau apa?”, maka:

         Ucapkan jawaban lebih keras daripada pertanyaan

         Beri jeda/sela antara pertanyaan dan jawaban

         Beri prompt jawaban dengan mengucapkan kata depannya “Bo…”

 

Bagaimana jika anak dapat merespon jika ditanya “ …. Mau apa?” tetapi tidak bisa merespon jika diberikan 2 pilihan?

       Kita ingin anak dapat mengatakan apa yang dia inginkan dengan berbagai kondisi yang berbeda. Anak mungkin menghadapi berbagai cara orang menawarkan sesuatu di lingkungannya, olehkarenanya sangat penting untuk mengajarkan dia merespon terhadap berbagai cara orang memberikan pilihan

 

 

 

     CARA KE 1 - TRANSFER KE PERTANYAAN BARU

          Instruktur:    (sambil memegang bola dan kue) “Michael mau apa?”

          ANAK:         “kue”

          Instruktur:    “Michael mau kue atau bola?”

          ANAK:         “kue”

     Perhatikan: katakan benda yang lebih disukai lebih dahulu, karena anak biasanya cenderung mengulang kata yang di belakang

 

     CARA KE 2 – MULAI DENGAN KATA TUNGGAL

          Tanya: (sambil memegang bola dan kue) “Bola? Kue?”

          Michael: “bola”

          Tanya: “Michael mau Bola atau kue?”

          Michael: “bola

 

     CARA KE 3 – BERILAH PROMPT ECHOIC

          Instruktur: (sambil memegang bola dan kue dan mengamati anak meraih kue)

                           “Michael mau bola atau kue? KUE”

          ANAK:         “KUE”

          Instruktur:    “Michael mau bola atau kue?”

          ANAK:         “KUE” 

 

 

Bagaimana jika anak hanya meminta jika ditanya “ ……. mau apa?”.

   Instruktur: “Michael mau apa?” (atau pilihan)

   ANAK: “Kue”

   Instruktur: (memberikan anak secuil kue kemudian tatap anak dengan harapan anak meminta lagi)

   ANAK: “Kue”

   Instruktur: (memberikan anak kue dengan potongan lebih besar).

   Jika anak tidak meminta lagi, prompt dia dengan memberi awalan kata “ku…”

 

Bagaimana jika anak memberikan kartu/gambar PECS dan mengatakan apa yang diinginkan dan saya ingin mengajarkan dia untuk mengatakan apa yang diinginkan tanpa kartu?

     Setelah anak menunjukkan kemampuan vocal, kita ingin mengajarkan dia untuk meminta tanpa menggunakan gambar/kartu supaya dia tetap dapat meminta jika tidak ada kartunya.

 

Contoh:

    ANAK:    (memberikan gambar kue ke instruktur) “Kue”

    Instruktur: (memberikan potongan kecil kue)

    Instruktur: (sambil menyembunyikan gambar di belakang punggung) “… mau apa?”

    ANAK:    “Kue”

 

Bagaimana jika anak hanya dapat meminta apa yang dia lihat?

    Instruktur: “Michael mau apa?” (kue nampak di depan anak)

    ANAK: “Kue” (anak mendapat secuil kue)

    Instruktur: (menyembunyikan kue di bawah meja) “Michael mau apa?”

    ANAK: “Kue”

Biarkan anak melihat ketika anda menyingkirkan kue.

 

 

Bagaimana jika kita ingin anak belajar mengatakan “saya mau” sebelum mengatakan apa yang diinginkan?

 

      Beberapa orang mengajarkan anak mengatakan “saya mau” pada awal program. Sangat penting untuk dipertimbangkan apa nilai tambah mengajarkan “saya mau” karena akan lebih menyulitkan anak meminta, dan mungkin akan menimbulkan frustrasi pada anak. Problem lain jika diajarkan terlalu dini, anak akan menggunakannya untuk semua permintaan padahal belum tentu cocok.

      Jika ingin menambahkan kata-kata tambahan, penting untuk mengajarkan beberapa kata sebagai variasi. Kata-kata tambahan  dapat dengan mudah diajarkan menggunakan prompt echoic setelah kemampuan meminta anak sudah bagus. Ajarkan dengan mand yang paling kuat (permintaan yang paling sering dilakukan tanpa prompt)

 

    ANAK: “kue”

    Instruktur: “Katakan, Saya mau kue” (bisa nama anak, saya, aku)

    ANAK: “saya mau kue”

    Instruktur: “kamu mau apa?”

    ANAK: “saya mau kue” (anak mendapatkan secuil kue)

    Instruktur: “Katakan, saya minta kue”

    ANAK: “Saya minta kue” (anak mendapat secuil kue)

    Instruktur: kamu minta apa?

    ANAK: “saya minta kue” (anak mendapat kue lagi)

 

      Contoh lain:

    ANAK: “Bola”

    Instruktur: Katakan, “Ayo main bola”

    ANAK: “Ayo main bola”

    Instruktur: Kamu mau main apa?

    ANAK: “Ayo main bola”

 

 

Bagaimana jika anak dapat meminta objek tetapi tidak aksi/action

 

Action dapat diajarkan dalam konteks aktivitas yang dapat me-reinforce. Contoh: jika anak meminta “ayunan”, maka kita dapat menggunakan fill-ins atau echoic prompt untuk mengajarkan anak meminta “dorong”.

    ANAK: “Ayunan”

    Instruktur: menaruh anak di ayunan dan mulai mendorong sambil berkata) “Dorong, dorong.. Do……”

    ANAK: “..rong”

    Instruktur: Michael minta apa?”

    ANAK: “dorong”

 

      Contoh lain:

    ANAK: “Ayunan”

    Instruktur: menaruh anak di ayunan dan mulai mendorong sambil berkata) “Katakan Dorong”

    ANAK: “dorong”

    Instruktur: Michael minta apa?”

    ANAK: “dorong”

 

 

 

Hal-hal yang penting untuk diingat dalam mengajarkan Mand

 

      Meminta adalah hal yang paling penting untuk diajarkan ke anak

      Setelah anak dapat meminta, kita dapat menggunakan kemampuan ini untuk mengajarkan anak berbagai fungsi bahasa lainnya.

      Ada 2 prioritas untuk dipertimbangkan dalam mengajarkan anak yang sudah memiliki kemampuan vokal untuk meminta.

    Pertama, pastikan bahwa anak benar-benar menginginkan apa yang diminta pada saat itu (ada EO untuk item tsb.). Suatu hal yang sia-sia untuk mencoba mengajarkan anak meminta sesuatu yang tidak diinginkan.

    Kedua, kita harus mengajarkan ke anak bahwa cara-cara lama yang digunakan anak di waktu lampau, seperti menangis, teriak, mem-beo tidak lagi dapat digunakan. Kita lakukan ini dengan tidak me-reinforce cara lama untuk meminta atau mengajarkan anak cara lain untuk meminta selain yang diajarkan pada Mand Training.

 

      Meskipun anak bisa menggunakan/menirukan kalimat panjang, mulailah dengan kata tunggal. Hal tsb. untuk mengajarkan anak, kata yang mana yang memberikan apa yang diminta/diinginkan

      Ajarkan anak meminta dengan berbagai kondisi

      Ketika mengajarkan anak meminta, pastikan untuk mengajarkan nama item-nya sebelum warna atau kata sifat lainnya. Contoh, jika anak senang mewarna, pastikan dia bisa minta “crayon”, sebelum mengajarkan anak meminta warna. Kalau tidak dikhawatirkan nama warna disalahartikan sebagai nama item-nya

      Kata-kata seperti “lagi”, “tolong” jangan diajarkan sebelum si anak dapat meminta item dengan menyebut nama itemnya

      Ketika akan menambahkan kalimat pelengkap, pastikan kalimat pelengkap tersebut dapat dipakai dalam berbagai kondisi. Misalnya “Bolehkah saya minta kue?” -> hanya cocok dengan orang dewasa, tapi tidak cocok untuk dipakai dengan teman sebaya

      Jangan memaksakan si anak mengatakan apa yang diinginkan sebelum mendapatkannya. Gunakan strategi prompt (tanda, gambar, fills-in)

      Ketika akan mengajarkan anak untuk melabel/tact benda, kata kerja, preposisi dll akan lebih mudah mengajarkan anak meminta dulu, kemudian ditransfer ke tact. Misalnya mengajarkan anak melabel “gelap” , akan lebih mudah untuk membuat si anak menyukai kondisi gelap dengan main lampu senter, dan lampu dimatikan. Si anak akan suka dan akan minta “gelap”, kemudian transfer respon tsb. untuk melabel “gelap”

      Memperbaiki artikulasi – setelah si anak bisa minta tanpa prompt, buatlah dia mengulang kata-2nya beberapa kali sebelum memberikan apa yang diminta untuk memperbaiki artikulasinya.

      Pastikan anak tidak mendapatkan apapun untuk perilaku negative-nya.

 

 

Bagian Ketiga

 

 

Mengajarkan Anak Melabel (Tact) Objek dan Gambar

     Setelah anak dapat meminta banyak hal, instruktur harus memulai menambahkan tugas lain di sela-sela MAND.

     Biasanya, skills awal yang paling bagus untuk diajarkan di sela-sela mand adalah imitasi motor, matching, instruksi reseptif sederhana, dan diskriminasi objek secara reseptif.

     Untuk anak yang baru belajar berkomunikasi, kebanyakan instruksi harus muncul dalam konteks aktivitas yang disukai anak. Misalnya, imitasi motor dapat diajarkan sambil bernyanyi dan finger plays atau ketika bermain dengan mainan. Diskriminasi reseptif objek bisa diajarkan sambil membereskan mainan, diskriminasi gambar dapat diajarkan sambil membaca buku.

     Instruksi sederhana seperti “tunjuk”, “pegang” atau “berikan” dapat diajarkan dengan menyuruh anak menunjuk atau memegang reinforcer, atau memberikan reinforcer atas permintaan. Mengajarkan anak untuk menyerahkan reinforcer merupakan bagian pengajaran yang sangat penting.

     Tipe komunikasi fungsional (perilaku verbal) berikutnya yang akan kita ajarkan ke anak adalah melabel objek (TACT) yang dilihat/diketemui anak.

     Berbeda dengan MAND dimana anak mendapatkan apa yang diminta, tact tidak memberikan efek yang sama (anak tidak mendapatkan apa yang diminta). Anak me-label bukan karena dia menginginkan tetapi karena diminta oleh instruktur atau karena dia melihat objek tersebut.

     Tact murni adalah ketika anak melabel tanpa diminta. Dalam kehidupan sehar-hari, biasanya orang/anak melakukan tact karena ingin orang di sekitarnya memperhatikan apa yang ditunjukkan atau memperhatikan dia. Contoh, ketika anak melihat buku bersama mamanya, dan berkata “kuda” sambil menunjuk gambar kuda dan menoleh ke ibunya, perilaku verbal ini memiliki 2 fungsi, yaitu melabel kuda (tact) dan meminta perhatian (mand) ibunya.

     Tidak lazim jika anak melabel apa aja yang dia lihat tanpa bermaksud menunjukkan ke kita/meminta perhatian kita untuk melihat apa yang ditunjuk. Ini akan terjadi apabila melabel diajarkan sebagai skill yang terpisah dari skill mand (manding for attention).

     Biasanya anak yang sedang bertumbuh mulai melabel item di sekililingnya di awal penguasaan bahasanya. Mereka tidak akan melabel ketika sedang sendirian di kamar. Atensi yang didapatkan anak karena dia melabel merupakan reinforcer atas perilaku labeling/tacting. Jadi penting sekali untuk diingat, jika kita ingin anak dapat melabel secara spontan, kita harus berada di dekat anak dan me-reinforcenya dengan perhatian yang kita berikan ke anak setelah dia melabel.

     Selama pelatihan awal, kita ingin anak belajar dapat melabel dengan pertanyaan yang berbeda-beda, misalnya “apa ini?”, “apa itu?” “apa namanya ini”, juga dapat melabel ketika instruktur hanya menunjuk tanpa bertanya.

     Pastikan pada saat mengajar anak melabel, anak dapat merespon dengan flexible tidak hanya ketika mendengar pertanyaan “Apa itu”. Hal ini dapat dicapai dengan menggunakan prosedur transfer.

     Contoh:

    Instruktur: “Apa itu?”

    Anak: “Sapi”

    Instruktur: “Binatang apa itu namanya”

    Anak: “Sapi”     

     Tact diajarkan dengan cara yang sama baik untuk anak yang sudah vocal ataupun yang masih memakai cara komunikasi lain. Meskipun lebih sulit mengajarkan fungsi ini kepada anak yang menggunakan komunikasi gambar, karena ketika anak melabel, sebenarnya yang dia lakukan adalah “matching”. Misalnya, anak ditanya “apa ini” sambil instruktur memegang bola, anak akan memberi gambar bola, perilaku ini bukan benar-benar tact, karena anak menyamakan gambar bola dengan bola yang dipegang instruktur.

 

Ada 4 cara dasar untuk mengajarkan anak melabel, salah satunya dengan Transfer Procedure

 

     Bagaimana jika anak dapat meminta banyak hal, tetapi tidak bisa merespon ketika ditanya “Apa ini?”

 

    Transfer dari Mand ke Tact

Istilah ini menyesatkan karena sebenarnya kita meminta anak untuk melabel item dulu. Selama pelatihan awal, anak akan merespon dengan mengatakan nama itemnya ketika melihat item tsb. karena sebelumnya anak telah di re-inforced dengan mendapatkan itemnya saat pelatihan manding.

 

Contoh 1

          Instruktur: “Apa ini?”

          Anak:  “Bola”

          Instruktur:    “Kamu mau apa?”

          Anak:  “Bola”

          Instruktur: “Berikan ke saya”

          Anak: (memberikan bola ke instruktur – anak telah diajarkan untuk menyerahkan reinforcers)

 

Contoh 2

          Instruktur: “apa ini?”

          Anak:  “Bola”

          Instruktur:    “Tirukan” (memukul bola dengan palu plastik)

          Anak:  (memukul bola dengan palu plastik)

          Instruktur:  “Berikan palunya”

          Anak:  (memberikan palunya)

          Instruktur:    “Kamu mau apa?”

          Anak:  “Bola”

 

         Prosedur kedua menggunakan mands yang sudah dikuasai, sediakan 2 benda favorite anak, dan lihat mana diantara kedua benda tsb. yang paling disukai anak dan gunakan sebagai reinforcernya, dan benda satunya untuk mengajarkan tact.

      Contoh: (instruktur mempunyai permen dan buku, dan melihat si anak menginginkan buku, tetapi juga mau permen ketika ditawari)

      Instruktur: (memegang permen) “Apa ini?”

      Anak:    “Permen”

      Instruktur: “Bagus! Kamu mau apa? (menunjukkan buku)

      Anak:    “Buku”

 

         Bagaimana jika anak dapat menunjuk gambar tetapi tidak merespon jika ditanya “Apa ini?”

      Transfer Receptive ke Tact

      Instruktur: “Pegang mobil”

      Anak: “Mobil” (sambil menunjuk mobil)

      Instruktur: “Apa ini”

      Anak:   “Mobil”

 

       Bagaimana jika anak dapat imitasi secara konsisten jika kita berkata “Katakan, ….” tetapi tidak merespon jika ditanya “Apa ini?”

     Transfer dari Echo ke Tact

          Instruktur: “Katakan, mobil”

          Anak:          “Mobil”

          Instruktur:   “Apa ini?”

          Anak:          “Mobil”

 

       Bagaimana jika anak dapat mengisi kata-kata selama aktivitas keseharian, namun tidak merespon jika ditanya “Apa ini?”

     Fill-in ke Tact Transfer

                 Instruktur: “Kita cuci tangan di ………”

                 Anak:   “Wastafel” (sambil menunjuk mobil)

                 Instruktur: “Apa ini”

                 Anak:   “Wastafel”

 

 

 

Transfer Procedure

 

Apa itu Transfer Prosedur?

 

Dalam pengajaran ABA VB dikenal istilah “Errorless Learning”. Errorles learning tujuannya adalah mengajari anak bagaimana caranya dia selalu bisa dan kita tidak ingin menunggu respon yang salah sebelum prompt karena hal tersebut dapat menyebabkan anak berlatih memberikan respon yang salah. Salah satu cara errorless learning dengan prompt (dituntun) penuh dan kemudian berangsur-angsur dikurangi prompt-nya. (Prompt Fading). Cara lain yaitu dengan TRANSFER PROSEDUR, dari skill yang telah dikuasai si anak ditransfer ke skill baru.

 

            Dari Imitasi ke Stimulus Discriminative/SD “Tepuk Tangan”

       Instruktur: Tirukan ini (tepuk tangan)

       Anak:       (tepuk tangan)

       Instruktur: “Tepuk tangan” (instruksi & contoh)

       Anak:       (tepuk tangan)

       Instruktur:  “Tepuk tangan” (instruksi tanpa contoh)

       Anak:       (tepuk tangan)

 

           Dari Tact ke Mand

       Tunjukkan mobil ke anak

         Instruktur: “Apa ini?”

         Anak:      “Mobil”

         Instruktur: “kamu mau apa?”

         Anak:    “Mobil”

         Sediakan 2 item yang paling diinginkan anak (strong mand). Putuskan item mana yang paling dikehendaki diantara keduanya.

         Instruktur: “Apa ini?”

         Anak:        <melabel/tact item yang kurang diinginkan>

         Instruktur: “kamu mau apa?”

         Anak:        <mands item yang lebih disukai/diinginkan>

         Receptive ke Tact

         Instruktur: “Pegang <item>”

         Anak: <memegang item>

         Instruktur: “Apa ini?

         Anak: <menyebutkan nama item>

         Echo ke Tact

         Instruktur:  “Katakan mobil”

         Anak:             “Mobil”

         Instruktur:  “Apa ini?”

         Anak:             “Mobil”

 

 

            Jika anak dapat melabel, tetapi tidak dapat menyebutkan jika diberi feature, function atau class (TACT to FFC)

          Instruktur: “Apa ini?”

          Anak: “mobil”

          Instruktur: “Mommy menyetir apa?”

          Anak: “mobil”

 

            Anak dapat mengikuti instruksi sederhana untuk melaksanakan suatu aksi dan kita ingin ajarkan dia untuk melabel aksi. (RECEPTIVE to TACT ACTION)

          Instruktur:  “Tepuk tangan”

          Anak:  <bertepuk tangan>

          Instruktur: “Apa yang sedang kamu lakukan? Tepuk tangan” (prompt penuh karena “bentuk”nya berbeda”

          Anak: “Tepuk tangan”

          Instruktur: “Apa yang sedang kamu lakukan”

          Anak:  “Tepuk tangan”

 

      Anak dapat menjawab pertanyaan fill-in dan kita ingin mengajarkan dia menjawab pertanyaan

    Instruktur: “Kita tidur di …….. “

    Anakl: “Tempat tidur”

    Instruktur: “Di mana kita tidur?”

    Anak: “Tempat tidur”

 

      Anak dapat menjawab jika ditanya “Dimana kita tidur” tetapi hanya kalau ada gambar tempat tidur, sekarang kita akan mengajarkan anak mampu menjawab meskipun tidak ada gambar benda/objeknya

    Instruktur: (memegang gambar tempat tidur) “Dimana kita tidur?”

    Anak: Tempat tidur

    Instruktur: (singkirkan gambar) “Dimana kita tidur?”

    Anak: Tempat tidur

 

 

Prosedur Koreksi dan Prompting

 

Memperkenalkan Target Baru

Setiap kali memperkenalkan target baru, atau jika kita memperkirakan anak tidak dapat merespon target baru, maka kita mempunyai pilihan sbb:

Transfer dari respon yang sudah dikuasai anak sebelumnya

      Instruktur: “Di kolam ada …….”

      Anak: “Ikan”

      Instruktur: “Apa ini?”

      Anak: “Ikan”

Berikan jawaban yang benar langsung setelah kita katakan pertanyaannya (prompt langsung)

      Instruktur: “Apa ini? Ikan”

      Anak: “Ikan”

Baik no. 1 maupun no. 2, kita berikan prompt supaya anak dapat menjawab dengan benar.

 

 

Prosedur Koreksi dan Prompting

 

      Untuk beberapa anak, dengan pengalaman “pre-trial prompt” alternatif ke 3 dapat dipakai dengan prompt diberikan sebelum SD-nya

          Instruktur: “Ini ikan, Apa ini?”

          Anak: “Ikan”

 

Respon yang Salah atau Tidak Ada Respon

Jika anak tidak merespon dalam 2-3 detik, atau memberikan respon yang salah, ulangi pertanyaan dan langsung berikan jawabannya (prompt langsung) dan tunggu anak menirukan, kemudian ulangi pertanyaannya lagi untuk mendapatkan respon tanpa prompt.

          Instruktur: “Apa ini?”

          Anak: “meong”

          Instruktur: “Apa ini? Kucing”

          Anak: “Kucing”

          Instruktur: “Apa ini?”

          Anak: “Kucing

 

Mengurangi/Menghilangkan Prompt

Langkah berikutnya yang penting adalah menghilangkan prompt agar anak tidak menjadi tergantung pada prompt dan dapat memberikan respon atas target SD verbal. Hal ini dapat dicapai dengan mengulang pertanyaannya lagi untuk mendapatkan respon tanpa prompt.

          Instruktur: “Apa ini? Ikan”

          Anak: “Ikan”

          Instruktur: “Apa ini?

          Anak: “Ikan”

 

Kita tidak selalu langsung berhasil mendapatkan respon tanpa prompt, dan penting untuk menghindari anak frustrasi.

Tiap anak memiliki kemampuan yang berbeda dalam mentoleransi pertanyaan/percobaan berulang, tetapi sebagai aturan umum, jika kita masih belum mendapat respon tanpa prompt setelah usaha ke 3, terimalah respon dengan prompt dan teruskan.

 

Tiap anak juga berbeda dalam merespon jenis-jenis prompt yang berbeda olehkarenanya penting sekali untuk melihat mana yang paling cocok untuk anak tsb.

Secara bertahap, pisahkan respon dengan prompt dan yang tanpa prompt dengan tugas-2 yang mudah yang kita tahu pasti anak akan merespon dengan benar, kemudian balik ke target. Tingkatkan jumlah tugas yang mudah sambil tetap kembali mencoba respon tanpa prompt.

 

          Instruktur: “Di kolam ada …….”

          Anak: “Ikan”

          Instruktur: “Apa ini?”

          Anak: “Ikan”

          Instruktur: “Lihat ada perahu di kolam”

          Anak: <melihat>

          Instruktur: “Apa ini?” (memegang ikan)

          Anak:           “Ikan”

          Instruktur: “Bagus sekali!”

 

 

Bagian Ke Empat

 

 

Mengajarkan Imitasi, Echoic, Reseptif dan Matching

Mengajarkan Imitasi Gerak

 

    Training imitasi motor haruslah menyenangkan dan dikemas dalam bentuk permainan. Jika anak dipaksa untuk melakukan imitasi, maka dikemudian hari kemungkinan anak tidak mau melakukan imitasi secara spontan, tanpa prompt. 

    Jika anak tidak dapat menirukan, ulang prosedur dan beri prompt fisik, kurangi dan beri reinforcer -> Errorless Learning

    Ada banyak imitasi gerak yang dapat diajarkan memasukkan benda ke container, melempar & mendorong bola, lompat, duduk, menari, berlari, berputar, permainan cilukba dll.-> pilih yang fungsional

 

Meningkatkan Vocal Play dan Mengajarkan Echoic

 

     Sasaran vocal training  adalah meningkatkan vocal play anak secara spontan dan untuk mendorong anak melakukan vokalisasi spesifik (echoic).

     Ada beberapa teknik untuk mencapai sasaran di atas, sbb:

    Tekhnik Pertama: penggunaan reinforcement langsung untuk setiap vokalisasi yg dilakukan anak.

    Tekhnik Kedua: gunakan setiap kesempatan untuk mengasosiasikan atau memasangkan (pairing) vokalisasi org dewasa dengan reinforcer yg timbul secara natural. Contoh: sebelum menggelitik anak, kita harus mengeluarkan suara seperti “baba” 1-2 detik sebelumnya dan ulangi  dan jika ternyata anak suka digelitik (reinforcing), maka suara “baba” akan menjadi reinforcer karena dipasangkan dengan gelitik (anak tahu akan mendapat gelitik ketika kita mengeluarkan suara). Ulangi dengan suara2 yang berbeda.

     Tujuan meningkatkan vocal play anak adalah untuk memperkuat tali/pita suaranya dan meningkatkan kemungkinan timbulnya echoic skill (imitasi vokal)

     Ketrampilan menirukan suara (Echoic skills) sangat berperan dalam mengajarkan kata-kata baru, karena anak dapat mengulang suatu kata ketika disuruh.

     Prosedur untuk memperkuat kemampuan anak menirukan suara sama seperti yang digunakan untuk imitasi motor, kecuali digunakannya vocal behavior bukan prompt fisik.

     Prosedur terdiri dari:

    Verbal prompt “katakan” dan reinforce respon yang benar atau yang mendekati benar

    Menggunakan suara yg sudah pernah/sering dikeluarkan anak ->training akan sukses Tujuannya adalah: MEMBUAT ANAK MENGELUARKAN SUARA TERTENTU ATAS PERINTAH. (banyak anak yg dpt mengeluarkan berbagai suara, tetapi tidak dapat mengeluarkannya jika diminta secara khusus)

 

 

Mengajarkan Bahasa Reseptif

 

     Sasaran utama dari pengembangan keterampilan Bahasa Reseptif adalah untuk mengajarkan anak agar dapat merespon secara benar terhadap apa yang dikatakan orang lain

     Training pada awal haruslah mudah bagi anak dan respon yang benar harus segera di reinforced.

     Pengajaran akan sukses jika dilakukan dibawah kondisi yang menyenangkan bagi anak (under reinforcement condition) ketimbang dalam kondisi si anak hrs berhenti melakukan sesuatu yg menyenangkan baginya karena harus merespon instruksi. Contoh biasanya orang tua, guru sering mengajarkan anak mematuhi instruksi untuk datang jika dipanggil ketika anak sedang melakukan aktivitas yg disukai.

     Prosedur: bawa/pegang reinforcer, panggil anak, tunjukkan sekilas reinforcer tsb. lalu sembunyikan, ketika anak datang, berikan reinforcernya dan langsung puji anak karena mau datang ketika dipanggil. Selanjutnya kurangi frekwensi menunjukkan reinforcer dan generalisasikan dengan orang2 yang berbeda, tempat yang berbeda.

 

Mengajarkan Matching

 

    Satu dari keterampilan2 yg dpt digunakan untuk membangun kontrol instruksional adalah matching (gambar dan/atau objek)

    Cara mengajarkan matching:

    Instruktur duduk di samping anak, dan taruh 2 item berjarak 30cm.

    Tunjukkan item ke 3 anak dan beri contoh dengan menaruh item ke 3 dengan item yg sama.

    Setelah diberi contoh, berikan anak item ke 3 dan prompt anak utk menyelesaikan tugasnya. (prompt: gestural/fisik, verbal).

    Beri reinforcement setelah anak menyelesaikan tugas dgn benar.

    Jangan lupa untuk memindah/menukar lokasi item (kiri-kanan)

    Instruksi yg dipakai: “samakan, taruh yang sama dll”.

    Item yang dipakai bisa gambar, puzzle single inzet, form box dll.

 

 

 

Bagian Ke Lima

 

Mengajarkan RFFC (Receptive by Function, Feature and Class)

 

    Banyak anak dengan keterlambatan berbahasa memiliki kesulitan memahami dan bereaksi terhadap ucapan orang lain. Anak-anak ini ada yang sangat diam, ada juga yang menunjukkan perilaku yg mengganggu. Meskipun anak-anak ini dapat melabel (tact) dan memahami banyak hal (reseptif), mereka tidak dapat merespon dengan benar verbal stimuli yang berbeda-beda/berubah-ubah yang mereka dengar dari lingkungan sehari-hari.

    Kebanyakan orang tidak pernah mengatakan hal yang sama dengan cara yang sama, atau menggunakan kata-kata yang sama. Mengajarkan anak dengan keterlambatan bahasa untuk merespon dengan benar terhadap berbagai stimuli verbal dalam lingkungan keseharian adalah suatu tugas yang sangat rumit.

 

Perbedaan Latihan Reseptif Biasa dengan RFFC

    Perbedaan Reseptif biasa (standar) dengan RFFC adalah pada pelatihan Reseptif biasa, stimulus verbalnya khusus/langsung berkenaan dengan aksi atau diskriminasi yang diminta, sedangkan pada RFFC, nama dari aksi atau item-nya tidak ada.

 

Reseptif Biasa/Standar

     Prosedur pelatihan reseptif biasa/standar dimulai dengan:

    Pertama, anak diajarkan untuk merespon terhadap instruksi verbal “berdiri”, “lompat”;

    Kedua berlanjut ke diskriminasi reseptif dimana anak diminta untuk mengenali benda-benda yang berbeda, misalnya pegang sepatu, pegang hidung;

    Ketiga adalah memahami stimuli verbal yang lebih kompleks, misalnya “pergi ke meja, ambil buku dan berikan ke Mary:

 

     Ketrampilan di atas penting untuk dipelajari anak, tetapi tidak cukup untuk menyiapkan anak agar dapat merespon dengan benar terhadap berbagai bentuk stimuli verbal yang akan ditemui dalam lingkungan kesehariannya.

 

Reseptif FFC

 

     Aspek yang paling rumit dari pelatihan bhs reseptif tngkat advance adalah kemampuan terapis dalam mengembangkan berbagai potensi stimuli verbal yang mungkin ada di lingkungan natural. Terapis harus dapat memberikan verbal stimuli ini dalam lingkup training yang terstruktur dari yang mudah hingga yang kompleks dan menyajikan dalam berbagai variasi untuk menghindari terjadinya penghafalan. Sebagai tambahan latihan ini harus dikemas dalam mixed VB (gabungan reseptif, mand, tact) ditambah faktor seperti penggunaan prompt, pengurangan prompt, pemberian reinforcement serta generalisasi.

 

     Prasyarat untuk RFFC:

    Anak telah memiliki kurang-lebih 50 kata dan dapat menggunakannya untuk mands, tacts, dan deskriminasi reseptif dengan benar pada kondisi yang berbeda-beda, mis: gambar yang berbeda untuk objek yg sama, instruktur yang berbeda, setting yang berbeda,

    Anak harus dapat merespon ketika kalimat penyerta yang berbeda digunakan untuk tacts, mis: Apa itu?, Dapatkah kamu mengatakan apa ini? Apa yang kamu lihat disini?, tidak hanya apa ini/itu). Untuk diskriminsi reseptif juga demikian, tunjukkan……, dapatkah kamu mencari …., tidak hanya “pegang ….”). Jika anak sudah memenuhi kriteria ini maka, pelatihan RFFC bis ditambahkan dalam format mixed VB.

 

 

Memulai RFFC

 

     Target RFFC diambil dari kata-kata yang sudah dikuasai anak dalam mand, tact & reseptif.

     Training dimulai dengan 2 diskriminasi komponen dari kategori yang berbeda (makanan & binatang), anak disuruh melabel (tact) dan diskriminasi reseptif antara 2 objek tsb sebagai pemanasan dan memastikan anak tidak lupa.

     RFFC paling mudah adalah synonym, suara binatang, asosiasi dan disarankan training awal dimulai dengan tugas-tugas yang mudah ini.

     Setelah anak dapat melabel dan identifikasi secara reseptif dengan benar, instruktur menunjukkan 2 objek dan meminta anak untuk memegang benda yang diberikan dengan synonym-nya, misalnya “pegang pus/meong” kalau dulunya diajarkan “pegang kucing”.

     Response yang benar langsung diikuti dengan pujian, berhenti sejenak, kemudian dicoba lagi , respon yang tidak benar diikuti oleh prosedur koreksi -> pertanyaan diulang dan diberi prompt.

     Tingkat kegagalan yang tinggi menunjukkan anak belum siap dengan training ini atau tidak pernah dikenalkan dengan nama lain dari objek tsb.

 

Memulai RFFC

 

     Setelah anak sukses merespon instruksi RFFC yang mudah dengan 2 objek atau gambar, perlu ditambahkan target baru.

     Pemilihan target RFFC sangat penting diambil dari kata-kata yang sudah dikuasai anak dalam mand, tact & reseptif.

     Pengenalan kata-kata baru dalam training Tact,  Mand & Reseptif harus terus dilakukan olehkarenanya setelah anak dapat RFFC untuk beberapa kelompok/kategori, perbendaharaan kata anak sudah akan meningkat menjadi ratusan. 

     Tabel RFFC pada tabel terlampir dibagi dalam beberapa grup, grup A yang memiliki tingkat probabilitas untuk benar paling tinggi (paling mudah), kemudian B dan C.

 

Pengembangan RFFC

 

    Ada beberapa perilaku penting yang harus diperhatikan untuk menentukan apakah anak siap untuk meningkatkan kompleksitas tugas RFFC, yaitu:

    Anak sudah sukses dengan stimulus yg mudah (simple RFFC) adalah indikator utama.

    Respon yang cepat & benar

    Penolakan yang cepat atas objek yang tidak benar

    Tidak munculnya perilaku negatif atau usaha anak untuk menghindar dari tugas – juga pertanda bahwa instruksi sudah tepat untuk anak.

 

Pengembangan RFFC

 

    Ada beberapa cara untuk meningkatkan kemampuan RFFC, yaitu

    Meningkatkan RFFC yang sudah benar, dari 3-4 item menjadi 10-20 item di meja dan meminta anak untuk mengambil item tertentu dengan kalimat-2 RFFC. -> meningkatkan jumlah objek

    Meningkatkan kompleksitas dengan menggunakan objek yang hampir sama, misalnya anjing dan kucing, kemudian minta anak untuk mengambil kucing dengan stimuli “ambil binatang yang memiliki cakar”, atau kelompok binatang yang dipecah menjadi kategori/class lebih kecil seperti serangga, ikan dll.

 

Menggabungkan RFFC dengan Latihan Verbal lainnya

 

     Untuk memaksimalkan efek dari latihan RFFC, sangat penting untuk menggabungkan ketrampilan ini dengan ketrampilan lain yang sudah dipelajari anak (mixed VB). RFFC trials harus dihubungkan dengan ketrampilan bahasa lainnya -> disebut “verbal module”. Verbal modul dapat diartikan sebagai suatu percakapan tentang topic tertentu. Contoh dengan setting di meja dean beberapa gambar dan objek buatlah interaksi seperti di bawah ini:

 

    Instruktur: Dapatkah kamu memberi saya seekor binatang?

    Anak: (memberi instruktur seekor anjing)

    Instruktur: “Bagus!” Binatang apa ini?”

    Anak: Anjing

    Insruktur: Benar, Apakah kamu lihat binatang lainnya?

    Anak: (memberi instruktur kucing)

    Instruktur: Bagus! Binatang apa ini?

 

Menggabungkan RFFC dengan Latihan Verbal lainnya

 

     Anak: “kucing”

     Instruktur: “Pandai! Coba pegang kucing”

     Anak: (memegang kucing)

     Instruktur: Ya! Coba bilang “kucing” (instruktur memperbaiki artikulasi anak)

     Anak: “kucing”

     Instruktur: Bagus! Binatang apa yang suaranya “Guk..guk..guk?”

     Anak: (anak memegang anjing)

     Instruktur: OK! Katakan “Guk..guk”

     Anak: “guk..guk”

     Instruktur: “Bagus! Binatang apa yang bunyinya meong?”

     Anak: (memegang kucing)

     Instruktur:  Ya! Kamu mau apa?

     Anak: “kucing”

     Instruktur: Ok, ayo kita keluar lihat kucing

 

Menggabungkan RFFC dengan Latihan Verbal lainnya

 

     Interaksi tsb. melibatkan (1) RFFC, (2) Tact, (3) Receptive), (4) Echoic dan (5) Mand dan masih bisa dikembangkan lagi. Gabungan dari beberapa verbal operan dapat memperluas konsep ttg anjing dan kucing, sekaligus mengajarkan konsep bagaimana terlibat dalam percakapan.

     Interaksi haruslah senatural mungkin dan jangan gunakan percakapan/skrip yang sama setiap kali, karena dalam lingkungan keseharian anak akan menghadapi verbal stimuli yang berbeda-beda.

     Aspek yang penting dalam mengajarkan bahasa ke anak autis atau gangguan perkembangan lainnya adalah mengajarkan ketrampilan yang berguna bagi anak dalam lingkungan kesehariannya

     Beberapa anak mungkin memerlukan pengulangan-pengulangan, pelatihan khusus, prompt dan reinforcer yang kuat untuk menguasai keterampilan awal. Namun begitu keterampilan awal sudah dikuasai, penting untuk segera mengembangkan variasi, dan hal itu adalah efek utama dari prosedur

     RFFC dalam pengembangan bahasa reseptif.

 

Penggunaan Prosedur Transfer dalam RFFC

 

Transfer Reseptif ke RFFC - Bagaimana jika anak dapat menunjuk ke objeknya ketika disebutkan nama objek tetapi tidak dapat merespon pertanyaan tentang objek?

    Instruktur: “Pegang handuk”

    Anak: <memegang handuk>

    Instruktur: Kita mengeringkan pakai apa?

    Anak: <memegang handuk>

     Pada kasus ini anak akan memegang handuk lagi karena dia barusan melakukan hal tsb. Alternative lain dengan prompt penuh pada saat pertanyaan diajukan.

    Instruktur: “Kita mengeringkan pakai apa? (sambil memegang handuk”)

    Anak: <memegang handuk>

    Instruktur: Kita mengeringkan pakai apa? (tanpa prompt)

    Anak: <memegang handuk>

 

 

Penggunaan Prosedur Transfer dalam RFFC

 

Transfer Tact ke TFFC – (untuk anak yang melabel objek tetapi tidak merespon ke pertanyaan) – Respon tact bis ditransfer ke TFFC (tact by FFC)

    Instruktur: “apa ini?”

    Anak: “selimut”

    Instruktur: “kalau dingin kita tidur pakai apa?

    Anak: “selimut”

 

Transfer Fill-in ke TFFC (untuk anak yang merespon fill-in dengan baik)

    Instruktur: “Kalau dingin kita tidur pakai selimur. Kalau dingin kita tidur pakai …….”

    Anak: “selimut”

 

Transfer Fill in ke Wh? (untuk anak yang dapat mengisi label tetapi tidak bisa merespon pertanyaan WH.

    Instruktur: “Kalau dingin kita pakai …….”

    Anak: “selimut”

    Instruktur: Apa yang kita pakai kalau dingin?

    Anak: “selimut”

 

 

Transfer RFFC ke TFFC– (untuk anak yang menyebutkan nama objek sambil menunjuk/melabel)

    Instruktur: (ada kucing atau gambar kucing) “Pegang binatang yang ada kumisnya “

    Anak: <memegang kucing dan mengatakan> “kucing”

    Instruktur: “Binatang apa yang ada kumisnya?

    Anak: “kucing” (melabel ketika diberi fitur/bagian)

 

Transfer Tact ke intraverbal  - (untuk anak yang dapat melabel ketika ditanya tetapi tidak dapat merespon jika tidak ada/tampak barangnya)

    Instruktur: (selimut tampak) “Apa yang kita pakai kalau dingin?”

    Anak: “selimut”

    Instruktur: (selimut disembunyikan) “Apa yang kita pakai kalau dingin?”

    Anak: “selimut”

 

Transfer Fill in ke Intraverbal

    Instruktur: (selimut tidak tampak) “Kalau dingin kita pakai …….”

    Anak: “selimut”

    Instruktur: Apa yang kita pakai kalau dingin?

    Anak: “selimut”

 

 

Transfer Echoic ke Intraverbal

    Instruktur: Katakan “mobil”

    Anak: “mobil”

    Instruktur: “Apa yang kita kendarai/naiki?”

    Anak: “Mobil”

 

Respon untuk pertanyaan “Dimana?” dapat ditransfer dari banyak pertanyaan FFC atau fill-in.

    Instruktur: “ikan hidup di …….. “ 

    Anak: “di dalam air”

    Instruktur: “Dimana ikan hidup?”

    Anak: “di dalam air”

Akan mudah mengajarkan anak merespond pertanyaan “dimana” dengan lebih dahulu mengajarkan mereka meminta informasi dengan menggunakan “Di mana?”

 

Transfer dari mand to tact

    Instruktur: “Saya punya kue untuk mu. Katakan, “Dimana kuenya?”

    Anak: “Di mana kuenya”

    Instruktur: “Di dalam kotak” (mengeluarkan kue dan memberikan ke anak) 

 

 

Jika langkah tsb. sudah dikuasai (anak tidak lagi memerlukan prompt dan dapat minta informasi sering), tambahkan tact untuk lokasi.

    Instruktur: “Saya punya kue”

    Anak: “Di mana kuenya?”

    Instruktur: “Di dalam kotak” (menunjukkan kue di dalam kotak, kemudian bertanya) “Di mana kuenya?”

    Anak: “Di dalam kotak. Boleh minta?

    Instruktur: Tentu! Ambil di dalam kotak

Pada contoh di atas, anak juga belajar merespon pertanyaan “dimana” ketika dia belajar melabel (tact) preposisi.

Transfer Receptive ke Tact -> untuk anak yang melabel ketika diberi instruksi reseptif

    Instruktur: “Taruh sepatu di dalam kotak” (receptive)

    Anak: <sambil menaruh sepatu di kotak dan berkata> “Di dalam kotak”

    Instruktur: “Di mana sepatunya?”

    Anak: “Di dalam kotak”

 

Contoh lain:

(pakai 2 mangkuk, satu dengan apel di bawahnya, dan satu lagi di atasnya)

    Instruktur: “Tunjukkan di bawah mangkuk” (0 detik delay untuk pengajaran awal)

    Anak: <berkata> “di bawah mangkuk” <sambil menunjuk apel yg di bawah mangkuk>

    Instruktur: “Di mana apelnya?”

    Anak: “Di bawah mangkuk”

 

Siapa/Punya siapa

Pertama anak belajar untuk merespon pertanyaan “Who” ketika belajar melabel orang. Salah satu syarat lainnya adalah anak harus merespon pertanyaan “who” ketika mengajarkan FFC tentang anggota keluarga atau profesi umum.

    Instruktur: “Siapa yang menidurkanmu?

    Anak: “mama”

    Instruktur: “Siapa ini?” (gambar petugas pemadam kebakaran dan anak dapat melabelnya)

    Anak: “Pemadam kebakaran”

    Instruktur: Siapa yang memadamkan api?”

    Anak: “Pemadam kebakaran”

 

Siapa/Punya siapa (who/whose)

Merespon pertanyaan whose (punya siapa) diperlukan untuk mengajarkan kata ganti kepunyaan spt “his, her, mine, my, your” dll – red: bhs Indo nya, mu, ku

    Instruktur: “katakan ‘Giliranku”

    Anak: “Giliranku”

    Instruktur: “Giliran siapa?”

    Anak: “Giliranku”

 

Respon ini juga dapat diajarkan dengan mengajarkan anak meminta informasi dengan menggunakan “punya siapa” lebih dahulu.

    Instruktur: (menaruh sebuah permen di atas meja) “Katakan, ‘Permen siapa?”

    Anak: “Permen siapa?”

    Instruktur: “Permenmu! Ini kamu ambil”

 

Setelah itu, ketika anak sudah dapat mand kepunyaan secara konsisten tanpa prompt, tambahkan tact kepunyaan

            (dengan permen di atas meja)

     Anak: “Permen siapa?”

    Instruktur: Punya/milik papa. Permen …

    Anak: “Punya papa”

    Instruktur: Permen siapa?

    Anak: “Punya papa”

 

Respon untuk pertanyaan “kepunyaan siapa” juga bisa diajarkan sbb:

    Instruktur: (baik anak & instruktur masing-masing pegang krayon) ”Krayon ku biru”

    Anak: “Krayonku merah”

    Instruktur: “Krayon (punya) siapa yang merah?”

    Anak: “Krayonku”

 

Yang Mana?

Pertama anak mulai merespon pertanyaan “Yang mana” ketika diajarkan melabel kata sifat dan FFC.

    Instruktur: “Yang mana yang besar?”

    Anak: (memegang benda yang besar)

    Instruktur: Yang mana yang terbang?” (ada burung, kangguru, dan bola)

    Anak: memegang/mengatakan “burung“

 

Respon ini dapat ditransfer untuk mengajarkan anak merespon intraverbal pertanyaan “yang mana” seperti dijabarkan dalam ABLLS

    Instruktur: “Yang mana bisa terbang? Burung, kangguru atau bola? (sambil memegang setiap gambar)

    Anak: “Burung”

    Instruktur: (tanpa gambar) “Yang mana bisa terbang … burung, kangguru atau bola? “ 

    Anak: “Burung”

 

 

Kapan?

Respon2 pertama yang dibelajari anak untuk pertanyaan “kapan” adalah konsep waktu seperti “pagi”, “malam”. Setelah itu mereka belajar konsep waktu dan pengurutan lebih banyak, yang di test dengan menggunakan pertanyaan “kapan”

    Instruktur: “Kita tidur di malam hari. Kita tidur …… “

    Anak: “di malam hari”

Setelah fill in sudah bisa tanpa prompt. Bisa dilanjut dengan pertanyaan “kapan”

    Instruktur: “Kita tidur ….. “

    Anak: “di malam hari”

    Instruktur: “Kapan kita tidur?

    Anak: “malam hari”

 

Bagaimana?

Beberapa pertanyaan “bagaimana” dapat ditransfer dari FFCs

    Instruktur: “Kamu ke sekolah naik  ….. “

    Anak: “mobil”

    Instruktur: “Bagaimana kamu ke sekolah?”

    Anak: “mobil”

 

    Beberapa pertanyaan “bagaimana” dapat diajarkan dengan pertama mengajarkan anak untuk meminta informasi menggunakan “how” (instruktur menunjukkan gasing yg diinginkan anak, kemudian diberikan ke anak)

    Instruktur: “Bagaimana caranya?

    Anak: “Bagaimana caranya”

    Instruktur: “Begini, diputar”. (membantu anak jika diperlukan sehingga timbul reinforcement)

 

    Setelah anak meminta informasi dengan menggunakan “bagaimana” secara konsisten tanpa prompt, tambahkan tact ke mand.

    Anak: Bagaimana menyalakan ini?

    Instruktur: “Tekan tombol kecil putih” (instruktur tetap memegang kontrol atas mainan)

    Anak: “Bagaimana menyalakan ini?

    Instruktur: “Tekan tombol kecil putih”

 

    Anak juga belajar untuk merespon pertanyaan “bagaimana” sambil belajar melabel urutan aktifitas tertentu. Misalnya, setelah anak dapat melabel langkah-langkah membuat sandwich, respon ini dapat ditransfer ke “bagaimana kamu membuat sandwich?”

 

Mengapa?

Satu cara untuk mengajarkan anak merespon pertanyaan “mengapa” adalah dengan memimpin/mengarahkan mereka untuk menjawab respon yang benar

    Instruktur: (melihat buku dengan anak) “Lihat anak itu. Dia menguap. Apa yang dia rasakan?”

    Anak: “Dia mengantuk”

    Instruktur: “Dia mau tidur! Mengapa dia mau tidur?

    Anak: “Dia mengantuk”

 

 

    Instruktur: (melihat buku dengan anak) “Sedang apa dia?”

    Anak: “Anak itu jalan ke kandang”

    Instruktur: “Benar! Apa yang dia lakukan di kandang?

    Anak: “Mengambil kuda”

    Instruktur: Mengapa dia kandang?”

    Anak: Untuk mengambil kuda.”

Setelah kita mengajarkan anak menjawab pertanyaan-pertanyaan tsb secara terpisah, penting untuk mulai mengajarkan anak merespon ke pertanyaan2 yang berbeda tentang suatu objek atau kejadian. Hal ini karena kebanyakan anak autis kesulitan merespon ke stimulus yang berbeda-beda.

 

 

 

Multiple SD

 

    Setelah kita mengajarkan anak menjawab pertanyaan-pertanyaan tsb secara terpisah, penting untuk mulai mengajarkan anak merespon ke pertanyaan2 yang berbeda tentang suatu objek atau kejadian. Hal ini karena kebanyakan anak autis kesulitan merespon ke stimulus yang berbeda-beda.

 

Banyak orang memutuskan bahwa si anak belum menguasai skill tertentu karena mereka memberikan pertanyaan yang sama dengan konteks yang berbeda, tetapi tidak menyadari bahwa sebenarnya mereka telah menambahkan kompleksitas pada pertanyaan dimana anak harus memberikan diskriminasi lebih banyak. Oleh karena itu penting untuk mengajarkan ke anak pertanyaan mana yang berperan sebagai SD-nya (yang harus dijawab).

 

Contoh berikut ini pertanyaan mengajarkan anak melabel aksi, kata sifat dan fitur/bagian dari objek. Pada situasi ini anak sudah dapat menjawab pertanyaan yang diajarkan secara terpisah, dan diasumsikan ada mainan lain sebagai distractor, dan boneka ayah. Tulisan yang bercetak tebal adalah stimuli diskriminasi verbal.

 

 

Multiple SD

 

Apa namanya ini                   R= mobil (tact objek)

Siapa ini?                              R= papa (tact orang)

Sedang apa papa?               R= nyetir (tact aksi)

Apa warna mobilnya?          R= biru (tact kata sifat)

Mobil punya apa/Apa           R= setir, ban, seatbelt, wiper, kaca spion (tact bagian)

bagian mobil?

Besar atau kecil mobilnya?R= besar (tact kata sifat)

Red: pertanyaan sebenarnya “Apa ukuran mobilnya” -> tidak lazim untuk bhs Indonesia

Apa yang kita kendarai?      R= mobil

Siapa yang menyetir mobil?          R= papa

Mobil untuk apa?                  R= dinaiki/dikendarai

Dimana jalannya mobilnya? R= di jalan

Siapa yang memperbaiki mobil?       R= montir

Bagaimana kita menyalakan mobil?            R=  pakai kunci

Kita harus pakai apa di mobil?         R= seatbelt/sabuk

Mengapa kita pakai seatbelt?          R= supaya aman

 

 

 

 

Bagian Ke Enam

 

Meningkatkan Vokalisasi & Mengajarkan anak untuk berbicara

Mengajarkan menjawab pertanyaan

Memilih Target

 

Meningkatkan vokalisasi & Mengajarkan anak untuk berbicara

 

      Salah satu ciri dari autisme adalah gangguan komunikasi, Gangguan ini sangat beragam dan banyak anak dengan spektrum autis yang tidak dapat berbicara.

      Berbagai gangguan bicara yang menyertai autisme adalah:

    Central Auditory Processing Disorder, dimana semua kata & suara yang masuk bercampur aduk

    Dyspraxia – kesulitan untuk menirukan rangkaian gerakan dengan tangan dan anggota tubuh lainnya. Kebanyakan anak yang memiliki kesulitan wicara juga mengalami Dyspraxia.

    Oral apraxia – kondisi yang berkaitan dengan gerakan otot oral, bibir,lidah langit. Anak dengan oral apraxia mampu menirukan gerakan bibir tetapi tidak dapat mengeluarkan suara.

    Dysarthria – memiliki kelemahan otot di sekitar pipi dan lidah

    Phonological Process Disorder – kesulitan mengeluarkan suara tertentu, misalnya akhiran atau awalan dsb.

 

      Sulit untuk menentukan penyebab gangguan di atas, oleh karena itu yang dapat kita lakukan adalah menggunakan prosedur pengajaran untuk meningkatkan vokalisasi dan mengajarkan anak melakukan gerakan motorik yang diperlukan untuk menghasilkan wicara.

      Hal yang paling kritik untuk dilakukan adalah mengajarkan anak yg tidak dapat berkomunikasi dengan bicara dengan cara lain agar mereka dapat mengutarakan apa yang mereka inginkan. Kebanyakan orang tua khawatir hal tsb akan membuat anak tidak mau berusaha bicara, tetapi penelitian membuktikan sebaliknya.

 

      Setelah anak belajar pentingnya komunikasi dengan bhs isyarat atau gambar dan terus dipasangkan dengan apa yang diinginkan anak (reinforcement) maka kita akan lihat vokalisasi anak meningkat. -> lihat pada bagian MAND.

 

      Bagaimana jika anak hanya dapat mengeluarkan sedikit suara?

     Setiap kali anak mengeluarkan suara, segera ikuti dengan reinforcer yang sangat disukai anak. Mulailah memasangkan suara dan kata dengan mainan atau aktivitas yang disukai anak. Contoh misalnya, jika anak suka main dengan bola, katakan “b, b, b” sambil memantulkan bola dan sebelum memberikan bola. Jika anak senang musik, nyanyikan lagu atau mainkan lagu dan dorong anak untuk menyelesaikan kata-kata terakhir. Sasaran kita adalah untuk meningkatkan frekuensi dan variasi suara supaya kita memiliki perilaku yang dapat kita re-inforce.

 

      Bagaimana jika anak dapat mengeluarkan suara tetapi tidak dapat menirukan suara kita?

     Mulailah dengan menirukan suara anak selama bermain, jika anak mengeluarkan suara yang sama setelah Anda, reinforce dengan apa yang benar-benar diinginkan/disukai anak. Setelah anak menirukan beberapa kali secara konsisten tambahkan kata “katakan” sebagai bagian dari SD.

 

      Contoh:

    Anak: “mmm”

    Instruktur: katakan “mmm”.

    Anak: “mmm” (anak biasanya akan melakukan perilaku yang sama dengan kondisi yang berbeda).

      Contoh lain, dengan menggunakan imitasi gerak yang sudah dikuasai anak sbb:

    Instruktur: “Lakukan ini/tirukan” (memegang kepala)

    Anak: (memegang kepala)

    Instruktur: “Lakukan ini/tirukan” (memegang mulut)

    Anak: (memegang mulut)

    Instruktur: Lakukan ini/tirukan “e”

    Anak: “e”

 

      Bagaimana jika anak mulai berusaha mengatakan “kue” bersamaan dengan dia melakukan isyarat “kue” tetapi pengucapannya belum benar?

      Ketika anak pertama belajar berbicara, kita akan me-reinforce suara apapun yang dia ucapkan/keluarkan, Setiap kali anak mengeluarkan suara, segera ikuti dengan reinforcer yang sangat disukai anak -> kita me-reinforce usaha anak. Tetap beri anak kue sbg reinforcer dipasangkan dengan pujian sambil kita ulangi ucapkan “kue” sebelum memberikan kue. Contoh prosesnya:

    Anak: <melakukan isyarat “kue” dan berkata “u”> (dgn konsisten)

    Instruktur: “k”

    Anak: “k”

    Instruktur: “kue” (memberi anak kue)

 

      Setelah si anak dapat menirukan suara “K” dengan konsisten, kombinasikan dengan “u”, contoh:

    Anak: <melakukan isyarat “kue” dan mengatakan “u”> (dgn konsisten)

    Instruktur: “ku”

    Anak: “ku”

    Instruktur: “kue” (member anak kue)

Selanjutnya mulai tambahkan “e” dengan cara yang sama di atas.

 

      Bagaimana jika anak kurang menggerakkan mulut ketika bicara dan makannya tidak bervariasi serta tidak tahan dengan sentuhan di mulut.

-        Gunakan pendekatan desensitif (mengurangi sensitivitas) secara perlahan-lahan. Sentuhlah bagian tubuh lain yang tidak begitu sensitif dan pasangkan dengan reinforcer, misalnya jika anak senang melihat buku, sentuhlah selama aktifitas ini. Jika dia senang melihat video, sentuhlah dengan gurauan. Pegang mulut/ dengan tangan telanjang, kemudian tingkatkan dengan sarung tangan.

 

      Bagaimana jika anak bisa bicara tetapi cepat dan volumenya kecil (suaranya lembut)  sehingga sulit dipahami.

    Banyak anak dengan apraxia cenderung bicaranya cepat. Vokalnya terdistorsi dan pendek. Setelah anak bisa mengucapkan banyak konsonan, mulai latih vokalnya. Untuk memperlambat bicaranya, panjangkan pengucapan vokalnya.

    Untuk meningkatkan volume dapat digunakan imitasi atau prompt visual. Jika anak memiliki strong echoic (mudah menirukan), ajarkan untuk menirukan berbagai volume suara dan kata. Kadang-kadang gunakan gambar tangga, dan pakai objek (biji halma, misalnya) taruh pada tangga bawah untuk suara rendah dan naikkan ke anak tangga berikutnya untuk volume suara yang lebih keras.

 

 

Mengajarkan Menjawab Pertanyaan

 

    Kebanyakan anak autis mengalami kesulitan dalam menjawab pertanyaan. Ketika kita mengajarkan anak menjawab pertanyaan, kita harus “menghubungkan” jenis pertanyaan dengan jawabannya.

    Sayang sekali, seringkali orang tua atau pengasuh secara tidak sadar telah melatih/mengajarkan anak “tidak” menjawab pertanyaan, yaitu dengan sering memberi pertanyaan ketika anak masih terlalu kecil atau memberi pertanyaan dimana si anak tidak tahu jawabannya. Setelah anak tidak menjawab, akhirnya kita menyerah dan membiarkan si anak tidak merespon.

    Untuk menghindari hal di atas, sebaiknya tidak memberikan anak pertanyaan dimana anak tidak tahu jawabannya. Ketika pertanyaan dilontarkan, anak harus diajarkan untuk menjawab dengan benar menggunakan transfer prompting dan prosedur koreksi.

 

 

Prasyarat Keahlian/Kemampuan

      Sebelum memulai mengajarkan anak merespon pertanyaan, anak harus bisa “mand” untuk berbagai objek atau aksi. Manding harus tetap menjadi fokus utama pengajaran.

 

      Disamping “manding”, anak harus bisa melabel/”tacting” objek. Jika kedua hal di atas sudah dikuasai, maka anak siap untuk menjawab pertanyaan sebagai stimulus seperti “apa ini?”, “apa itu?” dan “Disebut apa ini”, juga dapat merespon pertanyaan “Kamu mau apa?” ketika anak sedang menginginkan sesuatu (EO).

 

      Namun harus diperhatikan ada beberapa anak kesulitan untuk melabel, tetapi dapat merespon FFC fill-in. Jika demikian maka Fill-in dapat digunakan untuk transfer ke pertanyaan “Wh “ (apa) 

     Contoh:

          Instruktur: “Kita makan ……”

          Anak: “Kue”

          Instruktur: “Apa ini?”

          Anak: “Kue”

 

Hal yang penting untuk diingat adalah:

 

          Tentukan dengan kondisi/cara bagaimana anak dapat menjawab dengan benar, kemudian alihkan/transfer ke kondisi yang berbeda.

 

          Selalu koreksi respon yang salah dengan mengulang pertanyaan, dan prompt jawabannya.

 

Contoh:

         Instruktur: “Apa yang terbang di langit?”

         Anak: “Mobil”

         Instruktur: “Apa yang terbang di langit? Pesawat terbang”

         Anak: “Pesawat Terbang”

         Instruktur: “Apa yang terbang di langit?”

         Anak: “Pesawat terbang”

Alternatif lain:

         Instruktur: “Apa yang terbang di langit?”

         Anak: “Mobil”

         Instruktur: “Bukan. Mobil di jalan. Pesawat terbang”

         Anak: “Pesawat Terbang”

         Instruktur: “Betul!”

 

 

Jenis Pertanyaan Yang Harus Dihindari Pada Awal Pembelajaran

 

      Hindari Pertanyaan “ Ya/Tidak”

 

Di beberapa program pertanyaan “ya/tidak” diajarkan pada awal padahal penggunaannya dapat membatasi perkembangan bahasa.

 

Ya/Tidak kadang diajarkan sebagai usaha supaya anak dapat memberitahu apa yang diinginkan, contoh:

    Instruktur memegang bola dan bertanya “Kamu mau bola?” dan mengajarkan anak menjawab “ya” jika menginginkan bola dan “tidak” jika sebaliknya.

 

Perlu diperhatikan di sini instruktur mungkin tidak benar-benar tahu apakah anak menginginkan bola atau tidak, jadi sulit untuk memberikan prompt apakah “ya” atau “tidak”.

Masalah yang lebih besar akan timbul jika si anak menginginkan sesuatu tetapi tidak ada yang bertanya. Karena si anak hanya diajarkan menjawab “ya/tidak”, maka ketika menginginkan sesuatu  anak akan menghampiri ayah/ibu dan mengatakan “ya” atau mengangguk kepala. Hal ini akan membuat orangtua bingung karena tidak mengetahui apa yang diinginkan anak, dan anak akan menjadi tantrum karena keinginannya tidak dimengerti.

 

      Hindari memberi pertanyaan yang kita sendiri tidak tahu jawabannya.

 

Secara umum, kita harus menghindari memberi pertanyaan tentang hal-hal yang tidak nampak pada saat mengajar karena akan sulit atau tidak mungkin memberi prompt kepada anak.

Contoh: “Tadi di sekolah Michael belajar apa?”

Kita tidak akan dapat memberi prompt anak untuk menjawab pertanyaan karena kita tidak tahu apa jawabannya (kita tidak tahu apa yang dilakukan di kelas).

 

Anak akan belajar menjawab pertanyaan mengenai kejadian yang sudah berlalu, tetapi hanya setelah anak dapat lancar menjawab pertanyaan tentang hal-hal yang ada di sekeliling saat itu. Jika mengajarkan anak menjawab pertanyaan mengenai kejadian yang telah lewat, pastikan kita juga mengetahui jawabannya.

 

Pertanyaan-Pertanyaan Pertama

 

      Siapa (G3)

Setelah kita mengajari anak untuk melabel (tact) objek, kita dapat memulai mengajarkan anak melabel orang. Anak diajarkan untuk merespon pertanyaan :Siapa ini? Siapa itu, Siapa di sini dll. Diskriminatifnya adalah “Siapa”, anak belajar jika dia mendengarkan pertanyaan “siapa” maka jawabannya adalah berkaitan dengan orang (tact person). Hati-hati jangan memberikan SD yang mengarahkan ke jawaban yang salah, misalnya ketika mengajarkan “aksi” dengan gambar orang memanjat, anak diberi pertanyaan “siapa yang memanjat?” seharusnya “tunjuk orang sedang memanjat”

 

      Sedang apa (G5, G6)

Setelah mengajarkan melabel aksi, kita mengajarkan anak merespon pertanyaan “sedang apa”. Pertama, anak diajarkan melabel aksi yang sedang berlangsung dengan merespon pertanyaan “Sedang apa kamu?” dan “sedang apa saya?”. Setelah anak menguasai aksi yang sedang berlangsung, baru dapat memakai gambar.

 

Mengajarkan anak menjawab pertanyaan sedang apa, bisa dengan mentransfer dari instruksi/permintaan yang mudah. Berikut beberapa caranya:

 

Transfer dari instruksi yang mudah

Instruktur: “Tepuk tangan”

Anak: (tepuk tangan dan mengatakan “tepuk tangan”)

Instruktur: “Sedang apa kamu? Tepuk tangan (prompt penuh karena SD-nya berubah)

Anak: Tepuk tangan

Instruktur: “Sedang apa kamu?”

Anak: “Tepuk tangan”

 

Transfer dari Mand

Anak: (mau jus dan minta aksinya) “Tuangkan”

Instruktur: “sedang apa saya? Menuang “ (prompt penuh karena SD berubah)

Anak:” Menuang”

Instruktur: “Sedang apa saya?”

Anak: “Menuang”

 

     Transfer dari Receptive ke Tact

     (digunakan untuk anak-anak yang melabel aksi ketika mereka menunjuk gambar)

Instruktur: “tunjuk makan”

Anak: (menunjuk gambar “makan” sambil berkata “makan”)

Instruktur: “Sedang apa dia?”

Anak: “makan”

 

     Beberapa program (ABA tradisional) mengajarkan melabel objek dan aksi secara terpisah, dengan kata lain pertama anak diajarkan melabel beberapa objek, kemudian aksi, kedua-duanya menggunakan gambar. Kelemahannya, anak tidak benar-benar memahami atau memperhatikan pertanyaan sebagai SD, anak menjawab karena dia sudah hafal dengan gambar-gambar tsb. Untuk menghindari hal ini, pertanyaan yang berbeda harus dicampur segera si anak menguasainya. Misalnya, terapis/orang tua menanyakan “Apa ini? Dan setelah anak menjawab, pertanyaan berikutny “Sedang apa dia?”.

 

     Prompt penuh harus digunakan jika anak tidak merespond. Jangan gunakan gambar atau objek yang sama terus. Contoh, jika anak selalu ditanya “Apa ini” dengan menunjukkan gambar anjing, kemudian ditanya “sedang apa anak perempuan itu” dengan menunjukkan gambar anak main ayunan -> stimulusnya adalah gambar (yg direspon anak gambar), bukan pertanyaannya. Sebaliknya, ketika anak bermain dengan anjing, tanyalah “Disebut apa ini?” dan “sedang apa anjingnya” -> anak harus memperhatikan pertanyaan karena stimuli visualnya tetap sama.

 

      Mengajarkan anak menjawab pertanyaan pribadi

 

      Beberapa pertanyaan yang diajarkan pada anak di awal adalah menjawab pertanyaan pribadi seperti nama, umur. Hal ini dapat diajarkan baik dengan prompt echoic atau dengan transfer dari receptive (pointing/touching) ke labeling (tacting) respon.

 

Transfer dari receptif ke tact (jika anak sering melabel sambil menunjuk gambar)

Instruktur: “Cari Sam”

Anak: <menunjuk foto dirinya sendiri dan berkata> “Sam”

Instruktur: “Siapa namamu?”

Anak: “Sam”

 

 

Setelah anak dapat merespon pertanyaan dengan benar tanpa disuruh menunjuk gambar dulu, maka penggunaan gambar dapat dihilangkan.

 

Instruktur: “Siapa namamu?” (pakai foto)

Anak: “Sam”

Instruktur: (menyembunyikan foto) “Siapa namamu?”

Anak: “Sam”

 

Mengurangi stimulus visual – transfer ke intraverbal

 

Instruktur: “Kamu umur berapa?” (pakai gambar/angka)

Anak: “3” (melabel angka)

Instruktur: (menyembunyikan angka 3) “Kamu umur berapa?”

Anak: “3”

 

Prompt Echoic:

Instruktur: “Siapa namamu? Sam””

Anak: “Sam”

Instruktur: “Siapa namamu?

Anak: Sam

Instruktur: Kamu umur berapa? Tiga

Anak: Tiga

Instruktur: Kamu umur berapa?

Anak: Tiga

 

 

Menjawab pertanyaan mengenai kata sifat

 

Warna apa ini? (G11)

Kebanyakan anak jika ditanya “Warna apa bolanya?” anak akan menjawab merah, tetapi jika ditanya “Apa warnanya?” sambil terapis memegang bola, anak cenderung akan menjawab “bola”. Untuk mengajarkan anak merespon pertanyaan “warna apa?” , pertama kita harus memperoleh kata warna dulu kemudian ditransfer ke kondisi baru.

 

Mand to tact transfer

(pastikan mand untuk objek sudah kuat sebelum mengajarkan anak untuk mand dengan adjective)

           

Anak: (ada EO untuk bola sehingga dia minta) “Bola”

Instruktur: (memegang bola merah dan biru) Merah? Biru?

Anak: “Merah”

Instruktur: “Warna apa?

Anak: “Merah”

 

Receptive to tact transfer

Agar bisa digunakan sebagai transfer, anak harus mengatakan nama warna (melabel) bersamaan pada saat anak memegang.

           

Instruktur: “Pegang merah”

Anak: <<memegang merah dan berkata> “merah”

Instruktur: “Warna apa?

Anak: “Merah”

 

Fill-in Transfer (digunakan untuk anak yang dapat melabel warna tetapi tidak dapat merespon pertanyaan “warna apa?” secara konsisten.

 

Instruktur: (menunjuk bola biru) “Ini bola biru” (kemudian menunjuk bola merah), Ini bola …..”

Anak: “Merah”

Instruktur: “Warna apa?

Anak: “Merah”

 

What Size? (G11)

Ketika pertama mengajarkan anak untuk melabel ukuran, beri 2 item yang sama, tetapi ukurannya berbeda.

 

Mand to tact transfer (pastikan mand untuk objek sdh kuat sebelum menambahkan kata sifat)

Anak: (ingin kue, jadi minta “Kue”

Instruktur: <memegang 2 kue, satu besar, satu kecil) “Besar? Kecil?”

Anak: “Besar”

Instruktur: “Yang mana?

Anak: “Besar”

 

Receptive to tact transfer (anak harus melabel ukuran saat dia menunjuk) -> dengan full prompt pada awal instruksi

Instruktur: <memegang bola besar dan kecil) “Pegang yang besar”

Anak: “Besar”

Instruktur: “Yang mana?

Anak: “Besar”

 

 

What shape (G11)  (Apa bentuknya)  -> sama seperti mengajarkan ukuran

    Bagaimana rasanya (G11) -> berkaitan dengan tekstur/tactile -> gunakan 2 objek yang sama misalnya 2 handuk, satu basah dan satu kering, dan beri pertanyaan “apa rasanya?”

 

    Bagaimana rasanya? (G11) -> berkaitan dengan indera pengecap -> gunakan yang hampir sama, misalnya gula dan garam -> bentuknya hampir sama, anak harus merasakan objeknya -> prosedur sama dengan mengajarkan warna, ukuran dll.

 

    Bagaimana baunya/Bau apa?  -> sama seperti rasa

 

    What/how does it look? (Bagaimana/Seperti apa rupa/bentuknya?)

Pertanyaan ni lebih umum dan respon atas pertanyaan ini melibatkan bentuk/yang dapat dilihat. Respon yang benar bisa berupa warna, bentuk, ukuran, atau bahkan bagian dari objek Pertanyaan ini dipakai untuk mengajarkan kata sifat yang tidak masuk di kategori lainnya, seperti ukuran, warna (mis. Lurus, melengkung, sempit/lebar, tinggi/pendek).

 

    What kind?/Which one (yang mana?) -> lebih umum, respondnya bisa warna, bentuk, rasa, jenis atau bahkan merek, misalnya “kamu mau kue apa/yang mana?” respon: “Oreo”. Pertanyaan jenis ini sering digunakan untuk mengajarkan anak bahwa perlu tambahan info untuk menjelaskan ap yang dia minta/mand.

 

 

 

 

 

 




| home | contact us |


Valid HTML version 4.01

Total visitor from January 2000 to November 2009: 1,203,168
Your interaction with this site is in accordance with our Site Policy

Puterakembara 2000 - 2009