KIAT PRAKTIS
Mempersiapkan & Membantu Anak
Autis Mengikuti Pendidikan di Sekolah Umum
oleh
Dra. Dyah Puspita *)
Pendidikan adalah kunci masa depan setiap individu, apalagi bila ia termasuk penyandang autisme. Setiap orang tua mendambakan agar anaknya bisa mengikuti pendidikan jalur ‘normal’ yang memberikan kesempatan bagi anak mengikuti semua kegiatan. Sayangnya di Indonesia belum menjadi keharusan bagi semua institusi untuk menerima anak dengan masalah autisme bersekolah di tempat mereka. Seringkali kesempatan bersekolah tersebut masih harus diperjuangkan, dan perjuangan yang luar biasa sulitnya bisa menjadi sia-sia karena anak, orang tua maupun guru belum sungguh-sungguh mempersiapkan diri menghadapi murid ‘istimewa’ ini di tengah-tengah mereka. Atau, ketika anak sudah berada di sekolah dan timbul masalah, sedikit orang yang paham harus bagaimana membantu anak sehingga ia makin terpuruk dalam masalah.
Kiat praktis mempersiapkan dan membantu anak autis ini
bersekolah di sekolah umum adalah tema yang dikupas dalam makalah singkat ini.
I.
INDIVIDU AUTISME
Seseorang baru dapat dikatakan
sebagai termasuk Autistic Spectrum
Disorder, bila ia memiliki sebagian
dari uraian gejala-gejala berikut ini:
a.
Gangguan komunikasi ---
cenderung mengalami hambatan mengekspresikan diri, sulit bertanya jawab sesuai
konteks, sering membeo ucapan orang lain, atau bahkan mengalami hambatan bicara
secara total dan berbagai bentuk masalah gangguan komunikasi lainnya. Biasanya,
orang tua khawatir anaknya ASD karena perkembangan bicara yang tidak setara
dengan anak lain seusianya.
b. Gangguan
perilaku --- adanya perilaku stereotipi / khas seperti
mengepakkan tangan, melompat-lompat, berjalan jinjit, senang pada benda yang
berputar atau memutar-mutarkan benda, mengketuk-ketukkan benda ke benda lain, obsesi
pada bagian benda atau benda yang tidak wajar dan berbagai bentuk masalah
perilaku lain yang tidak wajar bagi anak seusianya. Variasi perilaku yang
ter-tampil sangatlah beragam, sehingga tidak mungkin dijabarkan satu per satu.
c.
Gangguan interaksi ---
secara umum terdapat keengganan untuk berinteraksi secara aktif dengan orang
lain, sering terganggu dengan keberadaan orang lain di sekitarnya, tidak dapat
bermain bersama anak lain, lebih senang menyendiri dan sebagainya.
Masalah di atas
sering juga disertai dengan adanya ketidakmampuan untuk bermain, gangguan makan
dan atau gangguan tidur. Anak tidak menggunakan permainan sebagaimana mestinya,
sangat pemilih dalam hal menu makanannya, cenderung ada masalah pencernaan,
atau sangat terbatas asupannya. Anak juga sering sulit tidur atau terbangun
tengah malam… dan berbagai jenis permasalahan lainnya.
Beberapa individu
yang termasuk dalam spektrum autisme juga melaporkan bahwa mereka memiliki
berbagai ciri khas dalam mempersepsi dunia, seperti misalnya (Siegel, 1996):
⋆ Visual thinking
dimana mereka lebih mudah memahami hal konkrit
(dapat dilihat dan dipegang) daripada hal abstrak. Biasanya, ingatan atas
berbagai konsep tersimpan dalam bentuk ‘video’ atau file gambar. Proses
berpikir yang menggunakan gambar/film seperti ini, jelas lebih lambat daripada
proses berpikir verbal; akibatnya.. mereka perlu jeda beberapa saat sebelum
bisa memberikan jawaban atas pertanyaan tertentu. Individu dengan gaya berpikir
seperti ini, juga lebih menggunakan asosiasi daripada berpikir secara logis
menggunakan logika.
⋆ Processing problems
Sebagian anak ASD mengalam kesulitan memproses data. Mereka
cenderung terbatas dalam memahami ‘common sense’ atau menggunakan akal sehat/nalar. Mereka sulit merangkai informasi verbal yang panjang
(rangkaian instruksi), sulit diminta mengingat sesuatu sambil mengerjakan hal
lain, dan sulit memahami bahasa verbal/lisan. Hal-hal tersebut di atas tampak
konsisten dengan kecenderungan individu ASD yang lebih mudah berpikir secara visual.
⋆ Sensory sensitivities
Perkembangan yang kurang optimal pada sistim neurobiologis
individu ASD juga sedikit banyak mempengaruhi perkembangan indra mereka
sehingga terjadi salah satu atau semua pada sebagian anak ASD:
-
Sound sensitivity: dimana anak jadi takut berlebihan pd suara keras/bising.
Ketakutan yang berlebihan ini membuat mereka bingung, merasa cemas atau
terganggu, yang sering termanifestasi dalam bentuk perilaku buruk. Pola
kepekaan akan suara keras/ bising ini tidak sama, dan frekuensi setiap individu
juga berbeda-beda.
Kadang
anak mendengung/bergumam untuk menghalangi gangguan suara tadi. Dengan ia
mendengung, ia hanya mendengar dengungannya dan tidak mendengar suara lain yang
tidak dapat ia prediksi.
-
Touch sensitivity: anak memiliki kepekaan terhadap sentuhan ringan atau
sebaliknya terhadap sentuhan dalam. Masalah kepekaan yang berlebihan ini
biasanya terwujud dalam bentuk masalah
perilaku (termasuk masalah makan & pakaian). Bila anak peka terhadap
sentuhan dan terganggu dengan sentuhan kita, maka pelukan kita justru dapat ia
artikan sebagai hukuman yang menyakitkan.
-
Rhytm difficulties: Individu sulit mempersepsi irama yang tertampil dalam
bentuk lagu, bicara, jeda dan ‘saat utk masuk dalam percakapan’. Itu sebabnya
banyak individu ASD terus menerus berbicara, atau menyerobot masuk saat
percakapan sedang berlangsung, yang seringkali dianggap lingkungan sebagai
‘tidak sopan’. Padahal, ini adalah masalah fisik mereka.
⋆ Communications frustrations
Gangguan perkembangan bicara bahasa yang
terjadi pada individu ASD membuat mereka sering frustrasi karena masalah
komunikasi. Mereka bisa mengerti orang lain, tapi terutama bila orang lain
bicara langsung kepada mereka. Itu sebabnya mereka seolah tidak mendengar bila
orang lain bercakap-cakap sesamanya. Mereka merasa, percakapan itu tidak
ditujukan kepada mereka, karena itu mereka sulit memahami tuntutan lingkungan
yang meminta mereka menjawab meski mereka tidak ditanya secara langsung.
Individu ASD juga sulit mengungkapkan diri, sehingga lalu berteriak atau
berperilaku negatif lain sekedar untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan.
Mereka tidak tahu dan atau tidak mampu mengungkapkan diri secara efektif,
kadang harus berada dalam kondisi tertekan untuk dapat ekspresi sehingga
seringkali frustrasi bila tidak dimengerti.
⋆ Social & emotional issues
Ciri lain yang sangat dominan
adalah fiksasi atau keterpakuan akan sesuatu yang membuat individu ASD
cenderung berpikir kaku. Akibatnya, individu ASD sulit adaptasi atau memahami
perubahan yang terjadi di lingkungan sehari-hari. Apalagi, bila perubahan
tersebut terjadi dengan cepat dan tanpa penjelasan sama sekali. Keterpakuan
akan sesuatu membuat mereka sulit memahami berbagai situasi sosial seperti tata
cara pergaulan dan hukum sosialisasi yang sangat bervariasi tergantung kondisi
dan situasi sesaat.
Pada umumnya individu ASD tidak
pernah membayangkan bahwa orang lain juga bisa mempersepsi sesuatu dari sudut
pandang yang berbeda, karena hal ini adalah sesuatu yang sangat abstrak. Itu
sebabnya, banyak yang sulit empati bila tidak dilatih melalui pengalaman dan
pengarahan.
⋆ Problems of control:
Berbagai gangguan perkembangan
neurologi di otak menjadikan masalah individu ASD menjadi makin kompleks.
Mereka mengalami kesulitan mengontrol diri sendiri, yang terwujud dalam
berbagai bentuk masalah perilaku. Mereka cenderung berperilaku ritual dengan
pola tertentu, dan ada keterpakuan pada beberapa jenis objek. Sebagian dari
mereka juga memiliki ketakutan yang luar biasa pada hal-hal yang tidak ia
mengerti.
⋆ Problems of tolerance:
Kepekaan yang berlebihan akan
rangsang stimuli tertentu, membuat individu ASD menarik diri dari
lingkungannya. Mereka kurang dapat mentolerir rangsang-rangsang tersebut, dan
ini merupakan manifestasi masalah sensori di tubuhnya. Sebagian dari mereka
juga cenderung sangat peka terhadap berbagai muatan emosi yang terjadi di
sekitarnya. Mereka bingung dan cemas bila tidak dapat memahami pesan-pesan
emosi yang terjadi saat bergaul, sehingga kadang memutuskan untuk menarik diri
dari pergaulan.
⋆ Problems of connection:
Berbagai masalah yang berkaitan
dengan ‘kemampuan individu menalar’ adalah
• Attention problems: masalah pemusatan perhatian, terus menerus
terdistraksi
• Perceptual problems: masalah
proses persepsi, bingung sehingga menghindari orang lain.
• Systems integration problems:
proses informasi di otak bekerja secara ‘mono’ (tunggal) sehingga sulit
memproses beberapa hal sekaligus
• Left-right hemisphere-integration
problems: otak kiri tidak secara konsisten tahu apa yang terjadi pada otak
kanan (dan sebaliknya), sehingga tidak sepenuhnya sadar pada apa yang sedang
terjadi.
Perbedaan
manifestasi gangguan-gangguan tersebut, menjadikan setiap individu sangat unik.
Tidak ada dua individu autisme yang sama persis, bahkan yang kembar sekalipun.
Itu sebabnya, penanganan juga tidak dapat disama-ratakan. Paham “individual differences” (Greenspan,
1998) sangat ditekankan, sehingga orang tua dan guru tidak memberikan
penanganan seragam bagi sekelompok anak.
Dalam
menghadapi variasi jenis kelebihan dan kekurangan masing-masing anak, kemampuan
untuk mengobservasi menjadi sangat penting. Orang tua adalah pengamat di rumah,
guru adalah pengamat handal di sekolah. Apa yang harus diamati? Banyak sekali:
kebiasaan anak dalam menghabiskan waktu di rumah, perilaku yang sering ia
tampilkan, bagaimana ia mencerna informasi, bagaimana respons anak terhadap
usaha orang tua mengajarkan kebiasaan baru dan sebagainya.
Karena
itu, penting bagi pendidik dan orang tua anak ASD untuk bekerja sama berusaha
mencari penanganan terbaik bagi anak-anak ini. Mau tidak mau, suka tidak suka,
para orang dewasa di sekitar anak ASD-lah yang harus menyesuaikan diri dengan
kebutuhan anak ASD. Berikan mereka
kesempatan dan target yang realistis di tempat belajar “umum”, serta ajarkan
ketrampilan-ketrampilan baru melalui cara yang khusus (bila perlu) sesuai
kemampuan dan gaya belajar mereka.
Gaya belajar individu autisme
Setiap
individu mempunyai gaya tersendiri dalam upayanya mencerna informasi secara
efektif. Pada umumnya kita belajar melalui indra penglihatan, perabaan dan atau
pendengaran. Kita juga punya aneka gaya dalam mengingat. Ada individu yang
lebih ingat fakta daripada orang lain. Ada yang lebih suka detil, sementara
orang lain tidak suka pada detil. Bagaimana dengan individu autisme ? Ada beberapa gaya belajar yang dominan pada
diri mereka (Sussman, 1999):
* Rote learner: Anak yang
memakai gaya belajar ini, cenderung menghafalkan informasi apa adanya, tanpa
memahami arti simbol yang mereka hafalkan itu. Contoh: anak dapat mengucapkan
huruf dengan baik secara urut (atau melengkapi urutan abjad yang tak lengkap),
tetapi sesungguhnya tidak tahu bahwa huruf itu bila digabung dengan huruf lain
akan menjadi kata yang mengandung makna. Atau, anak yang dapat menghafalkan angka,
tidak: Anak tahu bahwa simbol itu mewakili 'jumlah' benda.
* Gestalt learner: Bila anak menghafalkan
kalimat-kalimat secara utuh tanpa mengerti arti kata-per-kata yang terdapat
pada kalimat tersebut, anak cenderung belajar menggunakan gaya 'gestalt' (melihat
sesuatu secara global). Berbeda dengan anak non-autis yang belajar bicara
justru mulai dari kata-per-kata, anak autis dengan gaya 'gestalt' akan belajar
bicara dengan mengulangi seluruh kalimat. Ia ingat seluruh kejadian, tetapi
sulit memilah mana yang penting dan mana yang tidak. Ia mungkin akan sulit
menjawab pertanyaan tentang salah satu detil.
Misalnya,
Anda berikan mainan karet yang biasanya dimainkan sambil mandi dan mengatakan
"letakkan di air", ia akan dapat melakukannya. Tetapi bila Anda berikan
mainan yang sama lalu mengatakan "letakkan di rak mainan", ia akan
tetap meletakkannya di air. Ia tidak paham makna kata 'letakkan' tetapi hanya
mengasosiasikan seluruh kalimat dengan kebiasaannya saja. Berbeda dengan anak
non-autis yang belajar bicara justru mulai dari kata-per-kata, anak autis
dengan gaya 'gestalt' akan belajar bicara dengan mengulangi seluruh kalimat. Ia
ingat seluruh kejadian, tetapi sulit memilah mana yang penting dan mana yang
tidak. Ia mungkin akan sulit menjawab pertanyaan tentang salah satu detil.
*
Visual learner: Anak dengan gaya belajar 'visual' senang
melihat-lihat buku atau gambar atau menonton TV dan umumnya lebih mudah
mencerna informasi yang dapat mereka lihat, daripada yang hanya dapat mereka
dengar. Berhubung penglihatan adalah indra terkuat mereka, tidak heran banyak
anak autis sangat menyukai TV/ VCD / gambar.
*
Hands-on learner: Anak yang belajar dengan gaya ini, senang
mencoba-coba dan biasanya mendapatkan pengetahuan melalui pengalamannya.
Mulanya ia mungkin tidak tahu apa arti kata 'buka' tetapi sesudah Anda letakkan
tangannya di pegangan pintu dan membantu tangannya membuka sambil Anda katakan
'buka', ia segera tahu bahwa bila Anda katakan 'buka' berarti .. ia ke pintu
dan membuka pintu itu. Anak-anak ini umumnya senang menekan-nekan tombol,
membongkar mainan dsb.
*
Auditory learner: Anak dengan gaya belajar ini senang bicara
dan mendengarkan orang lain bicara. Ia mendapatkan informasi melalui
pendengarannya. Jarang sekali anak autis bergantung sepenuhnya pada gaya ini
dan biasanya menggabungkannya dengan gaya lain.
Tanpa mengesampingkan fakta bahwa setiap individu autis memiliki ciri khas yang berbeda-beda, dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam kaitannya dengan kegiatan belajar-mengajar, pada umumnya mereka memiliki ciri khas sebagai berikut:
|
CIRI
YANG DAPAT MEMBANTU |
CIRI
YANG DAPAT MENJADI KENDALA |
|
- Daya ingat baik, dapat mengingat
in-formasi (rote learner, gestalt learner) - Mudah memahami dan mengingat
berbagai hal yang ia lihat atau ia pegang (visual learner & visual
thinking) - Mudah memahami berbagai hal yang
ia alami (hands-on learner) - Dapat ditingkatkan pemahamannya,
bah-kan sebagian besar di antara mereka tidak terganggu daya tangkapnya - Dapat diarahkan, dapat dibantu
aktualisasi potensi |
• Sulit memahami instruksi yang
disampaikan • Sulit melakukan dua hal
sekaligus, karena berpikir secara ‘mono’ (tunggal) • Proses berpikir visual lebih
lambat daripada proses berpikir ‘biasa’ sehingga perlu jeda • Ketakutan berlebihan/irasional
akan sesuatu • Fiksasi akan sesuatu, berpikir
kaku • Sulit persepsi irama (ritme) • Sulit berdialog dan berkomunikasi • Sulit pahami aturan-aturan sosial |
II.
PENDIDIKAN BAGI INDIVIDU AUTISME
Fakta bahwa
individu-individu ASD belajar secara berbeda karena perbedaan neurobiologis
bawaan mereka memberikan dampak pada tiga hal (Siegel, 1996):
1.
Belajar
menjadi tugas yang lebih berat bagi individu ASD
2.
Individu
ASD harus diajarkan dalam gaya yang ‘khusus’ bagi setiap individu, agar mereka
bisa memahami materi dengan baik. Berarti, stimulus disampaikan dalam bentuk
atau cara yang khusus
3.
Bila
intervensi dilakukan lebih dini, maka perjuangan untuk mengajar
individu-individu ini diharapkan akan lebih mudah karena mereka sudah lebih
tertata (tidak terlalu tantrum atau berperilaku negatif lainnya)
Intervensi dini
menjadi satu langkah yang penting, dan salah satu teknik/metode yang banyak
digunakan adalah Applied Behavioral Analysis yang ditemukan oleh Ivar O. Lovaas
(Maurice, 1996). Penanganan intervensi dini menggunakan teknik ‘one-on-one’
atau satu guru satu anak, yang sangat intensif dan terfokus dengan kurikulum
yang sangat terstruktur.
Komponen
‘one-on-one’ ini menjadi penting artinya pada proses belajar awal, terutama
bagi anak-anak yang masih rendah tingkat kepatuhan dan imitasi-nya. (Siegel,
1996). Intensitas (jumlah jam per minggu) juga sangat penting, seperti yang
dilaporkan oleh hasil penelitian Lovaas (Lovaas, 1981). Kecenderungan orang tua
untuk panik dan mengharapkan hasil terbaik membuat mereka menjadwalkan
penanganan intensif terstruktur tanpa melihat pengaruhnya pada anak. Akibatnya,
anak menjadi tertekan dan bingung, apalagi bila di luar penanganan terstruktur
tersebut tidak ada bentuk penanganan lain yang lebih alami sementara penanganan
(terapi) yang ia terima dilakukan secara kaku. Itu sebabnya, Greenspan (1998) mengusulkan adanya usaha orang tua meluangkan waktu bersama anak
dalam bentuk kegiatan tidak berstruktur tetapi alami.
Ada beberapa
kemungkinan yang dapat ditempuh oleh anak ASD dalam jalur pendidikan. Penetapan
akan menempuh jalur yang mana sangat dipenuhi oleh berbagai aspek, antara lain:
banyaknya gejala autisme pada anak, daya tangkap, kemampuan berkomunikasi, usia
dan harapan (atau tuntutan) orang tua.
Alternatif pilihan bentuk pendidikan yang berlaku di Amerika Serikat, antara lain terbagi
atas jalur
pendidikan khusus (Siegel,
1996):
1.
Individual
Therapy, antara
lain melalui penanganan di tempat terapi atau di rumah (home-based therapy dan
kemudian homeschooling).
Intervensi seperti ini merupakan dasar dari pendidikan individu ASD. Melalui penanganan one-on-one, anak belajar berbagai konsep dasar dan belajar mengembangkan sikap mengikuti aturan yang ia perlukan untuk berbaur di masyarakat.
2.
Designated
Autistic Classes
Salah satu bentuk
transisi dari penanganan individual ke bentuk kelas klasikal, dimana sekelompok
anak yang semuanya autis, belajar bersama-sama mengikuti jenis instruksi yang
khas. Anak-anak ini berada dalam kelompok yang kecil (1-3 anak), dan biasanya
merupakan anak-anak yang masih kecil yang belum mampu imitasi dengan baik.
3.
Ability
Grouped Classes
Anak-anak yang
sudah dapat melakukan imitasi, sudah tidak terlalu memerlukan penanganan
one-on-one untuk meningkatkan kepatuhan, sudah ada respons terhadap pujian, dan
ada minat terhadap alat permainan; memerlukan jenis lingkungan yang menyediakan
teman sebaya yang secara sosial lebih baik meski juga memiliki masalah
perkembangan bahasa.
4.
Social
Skills Development and Mixed Disability Classes
Kelas ini terdiri
atas anak dengan kebutuhan khusus, tetapi tidak melulu autistik. Biasanya, anak
autis berespons dengan baik bila dikelompokkan dengan anak-anak Down Syndrome
yang cenderung memiliki ciri ‘hyper-social’ (ketertarikan berlebihan untuk
membina hubungan sosial dengan orang lain). Ciri ini membuat mereka cenderung
bertahan, memerintah, dan berlari-lari di sekitar anak autis sekedar untuk
mendapatkan respons. Hal ini baik sekali bagi si anak autis.
dan jalur pendidikan umum (mainstream).
Maksud kata ‘mainstream’
berarti melibatkan seorang anak dengan kebutuhan khusus ke dalam
kelas-kelas umum. Penanganan anak sungguh-sungguh dilakukan tanpa adanya perhatian pada kebutuhan
khusus yang ada pada anak. Padahal, sebetulnya anak memang memiliki kebutuhan
khusus.
Tujuan orang tua
memasukkan anak ke jalur pendidikan umum bisa untuk “academic main-stream”
(agar anak sepenuhnya bisa mengikuti kegiatan akademis) atau “social
mainstream” (agar anak dapat mengikuti kegiatan sosialisasi bersama teman).
III. PERSIAPAN YANG SEBAIKNYA DIJALANKAN
Berdasarkan uraian di atas, tentu
saja kita harus menarik satu kesimpulan: ada
jenjang persiapan yang harus dijalani sebelum anak dengan gangguan perkembangan
autisme ini dimasukkan ke dalam lingkungan sekolah umum.
Persiapan tersebut perlu dijalani
oleh berbagai pihak yang terlibat: anak, sekolah dan orang tua.
* Anak:
dua hal penting yang harus dipertimbangkan adalah apakah anak siap untuk
belajar dalam kelompok (kecil atau besar, tergantung masing-masing sekolah) dan
kesiapan anak mengikuti rutinitas di sekolah (makan bersama, toileting, olah
raga, upacara dsb).
Semua pihak perlu mempertimbangkan faktor berikut:
-
Fungsi
kognitif à Tingkatan
fungsi kognisi, verbal atau
non-verbal
-
Bahasa
dan komunikasi à Tingkatan pemahaman bahasa (bicara ><
tertulis),
tingkatan kemampuan berkomunikasi
-
Kemampuan
akademis à Pemahaman konsep bahasa, matematika,
kebutuhan
akan bantuan dari orang lain
-
Perilaku
di kelas à
Kesanggupan mengikuti proses belajar
mengajar
di kelas (1:3, 1:8, 1:15, 1:30).
Kesanggupan mengerjakan tugas secara mandiri. Kesanggupan untuk menyesuaikan diri dengan transisi atau perubahan di dalam kelas
* Sekolah:
Saat ini sudah ada beberapa sekolah menerima keberadaan anak autis di dalam kelas umum. Tetapi sikap menerima saja tidak cukup bila tidak diikuti dengan beberapa penyesuaian, antara lain:
-
Modifikasi
lingkungan: Bangunan sekolah,
tata-letak di dalam kelas, lingkungan sekitar
-
Pelatihan
staf: Menerima
perbedaan anak dan mau belajar lagi
Keterbukaan akan kerja sama dengan pihak lain terkait
Pengetahuan dan
ketrampilan untuk membantu tatalaksana anak autis
-
Penyuluhan
kepada orang tua/anak lain: Hal ini tidak mudah, karena banyak orang tua lain beranggapan
bahwa sekolah umum seharusnya tidak menerima anak dengan masalah. Mereka khawatir sifat autisme anak akan
menular pada
anak-anak mereka.
-
Sikap
terhadap saudara kandung: apakah keberadaan saudara sekandung dengan autisme ini
menjadi suatu keuntungan atau kekurangan bagi kakak/adik tsb.
* Orang tua:
Keadaan orang tua
sangat menentukan proses belajar mengajar dan pencapaian masing-masing anak.
Dalam hal ini, yang penting diperhatikan adalah:
-
Pengharapan
keluarga: Apa yang diharapkan dicapai
dari keberadaan anak berada di sekolah: apakah full inclusion atau social
mainstream ?
Pengharapan ini
sangat menentukan target pendidikan bagi anak di sekolah. Target yang “lepas dari
konteks” dalam arti tidak sesuai potensi yang ditampilkan anak (berlebihan),
tentu akan membuat siapapun yang terlibat menjadi frustrasi. Anak bahkan bisa
tidak suka belajar / sekolah. Sebaliknya, target di bawah kemampuan anak akan
membuat ia bosan dan juga tidak suka sekolah.
-
Kebutuhan
dari anggota keluarga yang lain:
Anggota keluarga bukan terdiri atas anak autis ini saja, tetapi tentu
saja menyangkut kakak/adik dan orang tua anak. Keterlibatan anak di lingkungan
sekolah umum, mau tidak mau akan mempengaruhi kegiatan sehari-hari seluruh
keluarga. Anak harus mengerjakan pekerjaan rumah, orang tua harus menunggui,
kakak/adik diberi tanggung jawab mengenai kegiatan anak di rumah dan sekolah,
dsb.
-
Adanya
dukungan lingkungan: Lingkungan disini, termasuk juga orang tua lain di sekolah
tersebut (POMG). Bagaimanakah sikap mereka, apakah mendukung atau tidak.
Bagaimana juga sikap anak lain di sekolah tersebut, apakah menerima keberadaan
anak autis ini atau tidak. Bagaimana sikap guru di luar kelas ini, sikap kepala
sekolah dsb.
*
Tenaga profesional terkait:
Adakah tenaga profesional yang
dilibatkan dalam tim pendukung anak:
-
Dokter:
Peran dokter disini (dokter anak, psikiater anak,
dokter mata, THT, gizi dsb sesuai kebutuhan anak) amat penting karena proses
belajar mengajar anak tidak akan lancar kecuali ia dalam keadaan sehat.
-
Psikolog:
Peran psikolog adalah untuk memberikan gambaran profil
psikologis anak (psychological profile), sehingga orang tua dan pihak sekolah
paham kelebihan dan kekurangan anak secara menyeluruh. Gambaran profil ini
dapat membantu semua pihak terkait dalam mengarahkan anak sehingga potensi
aktual dapat terealisir secara optimal tanpa membuat anak tertekan.
-
Guru
pendamping: Pada
umumnya anak autis memerlukan guru pendamping pada masa awal penyesuaian di
lingkungan kelas yang jelas berbeda dengan lingkungan terapi individual.
Masalahnya, tidak semua sekolah menyediakan guru pendamping dengan kualifikasi
yang jelas, atau tidak semua orang tua bersedia menggunakan guru pendamping yang
disediakan pihak sekolah oleh karena berbagai alasan. Guru pendamping juga
sering tidak paham sebatas mana mereka diperbolehkan membantu anak. Akibatnya,
anak tergantung pada guru pendamping, guru kelas tidak berusaha kenal anak
karena anak hampir selalu berada bersama dengan guru pendamping, dan pada
akhirnya anak tetap menjadi ‘anak bawang’ karena ia tidak terlalu berbaur
dengan lingkungannya.
-
Terapis:
Meskipun sudah bersekolah di
sekolah umum, sebagian dari anak autis masih memerlukan bimbingan khusus di
rumah. Tugas ini biasanya dibebankan kepada terapis rumah, yaitu terapis atau
guru yang bertugas untuk mengulang materi yang dipelajari di sekolah lengkap
dengan generalisasi-nya, mempersiapkan anak akan materi yang akan datang, dan
membantu anak mengkompensasi kelemahannya melalui berbagai teknik dan kiat
praktis.
Apakah ada kerja
sama yang baik antara tenaga profesional dengan sekolah dan keluarga, dalam
arti keterbukaan secara profesional demi kemajuan si anak. Adakah bantuan
akademis (dalam bentuk sesi khusus atau modifikasi proses), atau kelompok orang
tua dengan masalah sama?
Piramida sasaran pendidikan:
Dr. Lam Chee Meng & Chan Yee
Pei, BSc dalam konferensi WeCan di Singapore November 2002 mengungkapkan bahwa
semua pihak sebaiknya mengacu pada piramida berikut dalam menerapkan target
pendidikan bagi anak autisme:
3 Socialization 2 1

Bagian piramida yang paling
penting adalah bagian bawah, karena seluruh bangunan akan hancur bila pondasi
tidak kokoh.
Bagian paling bawah,
adalah:
* Work habits, Self-regulation:
Sikap kerja anak setiapkali diberi
tugas dan bagaimana ia mengembangkan kontrol serta strategi setiap ia
mengahadapi stres.
*
Self-Help,
Independence:
Kemampuan anak membantu dirinya
sendiri dan bersikap mandiri sesuai usia tahap perkembangan. Misal: mampu ke
kamar mandi sendiri, mampu membereskan buku sendiri, bertanggung jawab atas
barang bawaannya, pergi ke guru tanpa harus diarahkan dsb.
*
Functional
Communication:
Meskipun sebagian komunitas anak autis dapat bicara, tetapi seringkali kemampuannya masih belum untuk menjawab pertanyaan secara konsisten dan kontekstual. Anak juga terkadang belum dapat menyampaikan keinginan, perasaan dan pendapat sehingga sering frustrasi dan lalu menyebabkan ia berperilaku negatif.
Persiapan bagian bawah piramida
tersebut seyogyanya dilakukan sebelum anak masuk ke sekolah umum, karena di
sekolah anak akan berhadapan dengan target akademis dan sosialisasi.
Target akademis juga sebaiknya
disesuaikan dengan kemampuan dan ketidak mampuan anak, sehingga kecenderungan
anak untuk frustrasi dapat diperkecil dan bila mungkin dihilangkan. Misal: anak
sulit memahami konsep abstrak, jadi sebaiknya sedapat mungkin hal yang abstrak
dibuat lebih konkrit. Anak sulit menghadapi perubahan mendadak, sehingga
sebaiknya ia diberitahu terlebih dahulu sebelum perubahan itu harus ia hadapi.
IV. BANTUAN YANG SEHARUSNYA DIBERIKAN
Lalu, bagaimana bila anak sudah
terlanjur masuk ke dalam lingkungan sekolah, dan ia tampak mengalami berbagai
masalah yang menghambat aktualisasi potensinya? Tentu saja masih ada alternatif
solusi yang dapat dicoba baik oleh orang tua maupun pihak sekolah, yakni:
A.
Memahami kondisi anak secara menyeluruh
Tujuan orang tua memasukkan anak ke jalur pendidikan umum bisa untuk
“academic mainstream” (agar anak sepenuhnya bisa mengikuti kegiatan
akademis) atau “social mainstream”
(agar anak dapat mengikuti kegiatan sosialisasi bersama teman).
Di Indonesia belum tersedia berbagai fasilitas pendidikan khusus bagi
anak ASD usia sekolah, kecuali sekolah umum. Itu sebabnya orang tua
berbondong-bondong memasukkan anaknya ke sekolah umum yang bersedia memberikan
kesempatan untuk menampung individu ASD. Timbul masalah baru, dimana para guru
lalu merasa kewalahan dalam menangani anak-anak ini, karena mereka tidak tahu
harus berbuat apa. Untuk itu, penting dilakukan evaluasi dan atau observasi
mendalam sebelum anak mengikuti kegiatan belajar mengajar.
Tujuan
evaluasi/observasi mendalam ini adalah untuk mendapatkan profil psikologis
anak, yang antara lain mencakup aspek:
-
Gejala
autisme yang ada pada anak dan intensitas gejala tersebut (perilaku,
komunikasi, interaksi, kecenderungan menyerang diri sendiri atau orang lain,
gangguan konsentrasi dsb)
-
Kendala
apa yang mungkin dialami anak di kelas (anak diet ketat sehingga mungkin akan frustrasi
saat makan bersama, anak sulit pusatkan perhatian sehingga letak duduk akan
mempengaruhi pemahaman, masalah motorik halus sehingga sulit menulis dsb).
-
Kelebihan
apa yang dimiliki anak, yang mungkin dapat digunakan sebagai kompensasi (daya
ingat kuat, sangat visual, pemahaman konsep abstrak cepat tangkap asalkan ada
pengalaman aktual dsb).
-
Seberapa
besar peran pendukung dibutuhkan oleh anak, dan bagaimana bentuknya (masih
harus didampingi guru pendamping, pelajaran harus diulang di rumah secara intensif,
harus menggunakan terapi medikasi/terapi lain, dsb).
B.
Memahami peran masing-masing pihak dan menjalankan tugas sesuai
batasan peran tersebut
* Sebagai orang tua, ketat memantau
perkembangan anak di kelas dan di sekolah. Siap membantu guru setiap kali terjadi
masalah, tidak menunggu hingga masalah menjadi berkepanjangan. Bersedia
menerima masukan, baik atau buruk, demi kemajuan anak. Tidak langsung
menyalahkan pihak lain, tetapi bersedia melihat permasalahan secara obyektif
dari kacamata dua belah pihak.
* Sebagai guru, memperlakukan anak
sesuai harkatnya yang memang terlahir sebagai individu dengan gangguan
perkembangan autisme. Bersedia menerima masukan, terutama menyangkut masalah
modifikasi proses belajar mengajar demi tercapainya pemahaman materi. Segera
memberi tahu bila tampak ada masalah sekecil apapun, guna dapat dicari
pemecahannya agar tidak berlarut-larut.
* Sebagai guru pendamping
(shadower), paham batasan peran tersebut dan justru menjadikan “kemandirian
anak” sebagai tujuan akhir. Adapun peran/tugas guru pendamping adalah:
-
Memastikan
agar anak memahami semua persyaratan untuk menyelesaikan tugas dan
menjalani rutinitas prosedur di kelas sehari-hari
-
Mengusahakan
agar anak memperoleh dukungan struktur yang ia perlukan untuk dapat
berpartisipasi dalam kegiatan di kelas (icon, skedul, simbol, kartu dsb).
-
Menjembatani
situasi agar terjadi hubungan antara anak dengan guru kelas. Tugas guru
pendamping terbatas pada mempermudah dan memperjelas informasi yang disampaikan
oleh guru kelas, tetapi sebatas diperlukan. Hubungan antara anak dengan guru
kelas justru adalah tujuan utama yang harus dicapai oleh guru pendamping.
Sebaiknya anak tidak hanya berhubungan dengan guru pendamping.
-
Memberikan
bantuan dan kesempatan kepada anak agar ia dapat mengembangkan hubungan dan
berinteraksi dengan teman sebayanya. Jangan justru hanya bermain bersama guru
pendamping.
-
Berusaha
keras agar anak belajar berfungsi secara mandiri di lingkungan sekolah.
Singkat kata, guru pendamping
dapat dikatakan berhasil bila ia dapat membimbing anak sedemikian rupa sehingga
guru pendamping tidak dibutuhkan lagi kehadirannya di sekolah.
C.
Memperhatikan beberapa prinsip kunci dalam penanganan masalah
Masalah anak di
kelas terbagi atas beberapa aspek: komunikasi, pemahaman, interaksi, struktur
lingkungan, dan perilaku.
1.
Komunikasi
Komunikasi lebih dari sekedar bicara.
Komunikasi terjadi karena adanya pematangan sistim biologis dan sistim
syaraf dalam tubuh anak. Tidak heran bila pematangan sistim tersebut terhambat,
maka terhambat pulalah kemampuan komunikasi seseorang. Komunikasi juga terkait
dengan kemampuan kognisi, sehingga makin bermasalah seseorang dalam
pemahamannya maka akan makin terbatas kemampuan komunikasinya (Quill, 1995).
Komunikasi juga melibatkan perkembangan bahasa - bicara, dan penguasaan
berbagai kemampuan a.l pemahaman, sosialisasi, bergiliran, pilihan, keinginan,
dan pengungkapan. (Hodgdon, 1999; Maurice 1996).
Anak ASD umumnya mengalami hambatan dalam aneka aspek perkembangan
yang sudah disebutkan di atas. Awalnya mereka tidak ada alasan untuk
berkomunikasi (tidak tertarik, tidak ada kebutuhan), dan ketika mereka sudah
tertarik untuk berkomunikasi, mereka memiliki masalah lain (sulit mengungkapkan
diri, tidak dapat menjalin kontak mata, sulit memusatkan perhatian dsb).
Menuntut
seorang anak ASD untuk bicara lancar tanpa ada masalah, jelas tidak adil. Ia
akan semakin tegang, dan ketegangan ini menghambatnya untuk berpikir leluasa.
Sebaiknya ia diberi kemampuan yang ia perlukan untuk berkomunikasi (bukan hanya
bicara) dan dibantu untuk dapat berkomunikasi dengan lebih efektif.
Guna
membantu anak ASD berkomunikasi dengan efektif, mereka perlu diajarkan untuk:
•
Memahami
makna “ya” dan “tidak”
•
Menetapkan
pilihan
•
Memahami
konsep representasi: bahwa gambar 2 dimensi mewakili sesuatu yang nyata
•
Melakukan
deskripsi terhadap suatu gambar dan kemudian rangkaian gambar
•
Melakukan
tanya jawab secara konsisten dan terarah
•
Melakukan
percakapan (parallel talk)
•
Bertanya
•
Bercerita
Mengingat
bahwa anak ASD cenderung lebih mudah mencerna apapun yang dapat mereka lihat
dan mereka pegang, ada baiknya membantu anak ASD berkomunikasi dengan
menggunakan visualisasi.
Visualisasi
ini membantu anak ASD membayangkan berbagai hal, sehingga pada akhirnya dapat
melakukan komunikasi dengan lebih efektif.
Bagi
anak ASD yang mungkin tidak terlalu dapat berkomunikasi, penggunaan teknik PECS
(Picture Exchange Communication System) juga dapat dipertimbangkan. Sistim ini
memungkinkan anak ASD mengekspresikan diri dalam bentuk yang sangat universal,
dimengerti oleh semua orang, tanpa ia harus mengucapkan kata-kata.
Guru atau orang tua perlu juga mempermudah gaya
berkomunikasi, seperti misal:
* Instruksi sebaiknya singkat, tepat
dan dipasangkan dengan visualisasi; mengingat bahwa anak cenderung sulit
memahami pesan-pesan komunikasi (misal: kata-kata, ekspresi wajah, dan bahasa
tubuh)
* Anak cenderung mengalami kesulitan
memproses berbagai bentuk informasi yang disampaikan secara auditori apalagi
bila suara latar belakang termasuk bising. Ia perlu waktu untuk menterjemahkan
dan berespons terhadap instruksi, terutama bila ada tuntutan transisi atau
gerakan fisik (misal: instruksi beberapa tahap).
* Anak mungkin mengalami kesulitan
menggunakan beberapa modalitas sekaligus pada proses belajar mengajar (misal:
menatap, mendengarkan, menulis). Ia mungkin perlu guru pendamping yang
membantunya memutuskan untuk menggunakan satu modalitas dalam presentasi tugas
baru atau sulit. (misal: lihat, lalu dengarkan, lalu tulis).
* Anak tidak selalu sadar bahwa
instruksi dalam kelompok ditujukan kepadanya. Karena itu, instruksi yang
disampaikan secara kelompok, perlu diulang secara individual kepada anak
tersebut bilamana diperlukan. Instruksi ini tidak diberikan oleh guru
pendamping, tetapi oleh guru kelas.
* Anak mungkin bisa terdistraksi
setiapkali guru menggunakan penjelasan detil. Karena itu, sebaiknya gunakan
isyarat tangan untuk membantu anak.
2.
Pemahaman
Biasanya anak mengalami kesulitan
saat berhadapan dengan tugas yang berciri sebagai berikut:
-
Bermuatan bahasa (pemahaman dan
pengungkapan)
-
Abstrak
-
Banyak tahapan-nya
-
Tidak jelas ujung pangkalnya
-
Mengandung banyak alternatif solusi
-
Tertulis
-
Cepat penyajiannya
Dalam meningkatkan pemahaman, cara yang
disarankan adalah tidak sekedar memberitahu ia apa yang harus ia lakukan
(tell=verbal directions), tetapi juga memberi contoh (show=modelling), dan
mengarahkan (guide=physical guidance) hingga anak mengerti apa yang diharapkan
darinya (Baker & Brightman, 1997).
a. Instruksi verbal (tell = verbal directions) :
- hanya diberikan saat anak memperhatikan
- sebaiknya singkat, tepat guna, lugas
- menggunakan kata-kata yang dipahami anak
b.
Contoh (show = modelling) :
- demonstrasikan
apa yang Anda maksud dengan instruksi verbal tadi
- efektif
bila dilakukan dengan lambat dan berlebihan
- kurangi
porsi sedikit demi sedikit, sejalan dengan penguasaan anak
c. Pengarahan (guide = physical guidance):
- sesudah
memberi tahu dan mendemonstrasikan, arahkan tangan anak secara fisik
- tunjukkan
bagaimana melakukanya
- mulanya,
ANDA yang mengerjakan semua hal, tetapi bertahap kurangi peran Anda dalam
pengarahan sehingga anak sedikit demi sedikit mengerjakannya sendiri
Mengingat bahwa anak ASD memiliki
gaya belajar yang khas, ada baiknya guru mempertimbangkan ciri khas tersebut.
Anak ASD sebagian besar memiliki
gaya belajar ‘rote learner’, ‘visual learner’ dan ‘hands-on learner’. Berarti,
sebaiknya guru menggunakan sebanyak mungkin pengalaman dan visualisasi untuk
membuat berbagai hal yang sulit dicerna anak ASD (terutama konsep verbal dan
abstrak) menjadi lebih konkrit dan nyata bagi mereka.
Peran
‘shadower’ disini sangat penting, karena mereka dapat membantu guru membuat
berbagai hal menjadi nyata bagi anak ASD. Tidak mungkin membebankan tugas
kepada guru yang kadang hanya sendirian di kelas berisi sedikitnya 20 anak.
Sebaiknya anak juga
dihadapkan pada informasi dan aktifitas yang sama secara berulang-ulang, untuk
memastikan pemahaman karena biasanya:
*
Anak
sering panik-cemas-bingung menghadapi tugas/materi/situasi dan orang baru.
Karena itu mereka biasanya menghindari situasi yang tidak mereka kenal dan pada
akhirnya, tidak bisa mengerti instruksi yang diberikan.
*
Anak
sulit memusatkan perhatian pada ciri suatu tugas pada saat pertama kali
diberikan. Akibatnya ia belum sampai bisa memiliki strategi tertentu pada saat
tugas ditampilkan untuk kedua kalinya.
*
Anak
makin terpacu mempelajari hal baru yang ditampilkan beberapa kali secara
konsisten dalam bentuk yang sama.
*
Sering
anak tidak bisa belajar di kelas secara efektif, lebih karena situasi kelas dan
bukan karena ketidak mampuan anak.
Ada beberapa teknik pengajaran yang dapat digunakan untuk membantu anak
belajar ketrampilan baru:
~ Beritahu
‘perilaku yang diharapkan’ menggunakan alat bantu visual
~ Pastikan
‘perilaku yang diharapkan’ tersebut dirasakan berguna dan bermakna ketika
ditunjukkan kepada anak
~ Hindari
menampilkan ‘harapan’ dalam gaya yang tidak jelas
~ Peragakan
bagaimana perilaku tersebut seharusnya
~ Berikan
bantuan untuk mengarahkan perhatian anak pada detil yang relevan
~ Gunakan
penguat untuk memotivasi anak menggunakan ketrampilan baru tersebut
~ Bila
perlu, beri penguat pada langkah-langkah kecil menuju perilaku baru
~ Beri
penguat pula untuk usaha anak, agar ia bersemangat mencoba melakukan perilaku tersebut
Yang
pasti, anak lebih mudah paham dan lama dapat mengingat materi pelajaran
tertentu bila sejak awal dibuat bermakna dan dikaitkan dengan kehidupan
sehari-hari. Karena itu, sebaiknya materi yang diajarkan juga sesuatu yang ada
gunanya (fungsional) dan dapat diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari
(aplikatif).
3.
Interaksi
Ada tiga jenis
perilaku sosial yang mencirikan anak ASD (Wing & Gould dalam Wolfberg,
1999):
•
Aloof
- bersikap
menjauh/menyendiri
Anak-anak ini tampak sangat pendiam dan
suka menyendiri, serta tidak berrespons terhadap isyarat sosial atau ajakan
untuk bercakap dari orang lain. Kemampuan anak untuk ‘joint attention’
(memperhatikan sesuatu bersama orang lain) tidak berkembang, dan biasanya hanya
mendekati orang lain untuk memenuhi keinginan mereka. Orang lain bagi mereka
bukanlah makhluk sosial, tetapi lebih sebagai ‘alat’ untuk mendapatkan benda
yang diinginkan.
•
Passive - bersikap pasif
Anak-anak ini
tampak tidak perduli dengan orang lain, tapi secara umum masih dapat diarahkan
untuk terlibat dalam kegiatan sosial. Mereka cukup patuh dan masih mengikuti
ajakan orang lain untuk berinteraksi. Sama seperti anak-anak yang ‘aloof’,
anak-anak yang ‘passive’ juga tidak terlalu dapat memperhatikan sesuatu bersama
orang lain. Mereka juga kurang dapat mengungkapkan kehendaknya melalui ekspresi
wajah dan isyarat tubuh, dan sebaliknya juga sulit memahami isyarat tubuh orang
lain.
•
Active
and Odd - bersikap aktif tetapi ‘aneh’
Anak-anak ini
senang berada bersama orang lain, tapi terutama dengan orang dewasa. Mereka
mendekati orang lain untuk berinteraksi, tetapi caranya agak ‘tidak biasa’.
Misalnya, mereka mendatangi seorang
yang tidak mereka kenal dan lalu mereka sentuh. Mereka juga mungkin
berusaha bercakap-cakap dengan seseorang, tapi sayangnya masih belum berkelanjutan, karena mereka
cenderung terpaku pada minat tertentu yang kurang disukai orang lain. Sama
dengan anak-anak ‘aloof’ dan ‘passive’, mereka juga kurang memiliki kemampuan
untuk ‘membaca’ isyarat sosial yang penting untuk berinteraksi secara efektif.
Selain
tiga hal tersebut, anak-anak ASD mengalami kesulitan memahami bahwa sesuatu
bisa dilihat dari sudut pandang orang lain (Baron-Cohen et al, 1985). Tanpa
kemampuan tersebut, mereka sulit mengembangkan kemampuan berinteraksi dan
bergaul; karena mereka cenderung melihat berbagai hal dari sudut pandangnya
sendiri (=egosentris).
Uraian
tersebut di atas menunjukkan bahwa anak-anak ASD memang sulit berinteraksi.
Mereka tidak paham bagaimana menghadapi lingkungan, berinteraksi dengan orang
lain, dan karena itu cenderung tidak memiliki banyak teman.
Untuk
membantu anak-anak ASD berinteraksi di sekolah, Wolfberg (1999) mengusulkan
metode ‘Integrated Playgroup Settings’
dimana anak-anak ASD (pemain pemula) – dengan pengarahan orang dewasa (pengarah
bermain) -- berpartisipasi dalam kegiatan bermain dengan teman sebaya yang
secara sosial lebih mahir (pemain mahir). Tujuan IPS ini adalah untuk
merangsang kegiatan bermain yang timbal balik dan sama-sama disukai anak-anak,
sambil mengembangkan kemampuan bermain dan perbendaharaan kegiatan bermain si pemain
pemula. Dalam metode ini, teknik mengamati dan menganalisa kegiatan bermain
dijabarkan, juga bagaimana mengarahkan partisipasi dalam bermain secara
kelompok, dan merancang lingkungan yang mendukung terjadinya kegiatan bermain
yang menyenangkan.
Sebaiknya, guru
yang berhubungan dengan anak mempertahankan sikap/gaya interaksi yang konsisten
dan tidak berubah-ubah:
»
Anak
akan bingung bila ia didekati dengan gaya yang berbeda-beda oleh guru yang
bekerja bersamanya. Penting untuk menggunakan gaya, intensitas, kecepatan dan
kosakata yang kurang lebih sama, terutama pada awal penyesuaian di kelas.
»
Bila
anak bingung, anak biasanya akan ‘mencoba’ memakai serangkaian perilaku
interaksi yang belum tentu pantas menurut ukuran masyarakat. Pada keadaan
seperti ini, bila perilaku yang cenderung kurang pantas ini mendapatkan
perhatian, maka justru perilaku tersebut akan dipertahankannya.
»
Anak
tidak dapat bekerja efektif di kelas bila ia tidak paham apa yang diharapkan
dari dirinya.
»
Bila
anak akan bekerja bersama dengan beberapa guru pada satu kesempatan, sebaiknya
dipastikan bahwa mereka semua menggunakan gaya dan kosakata yang sama sehingga
anak tidak bingung.
4.
Struktur lingkungan
Keadaan lingkungan yang dapat diramalkan oleh anak,
membantu anak untuk beradaptasi dengan tuntutan tugas:
» Anak berfungsi dengan baik bila ia
dihadapkan pada rutinitas yang dapat ia prediksi, dan juga pada tuntutan
penyelesaian tugas yang jelas. Kejelasan ini mencegah anak menciptakan strategi
yang justru tidak tepat.
» Anak diuntungkan bila ada struktur
di lingkungan, tugas, interaksi dan transisi. Misal: memastikan lingkungan rapi
bebas barang tak terpakai, menggunakan sistim box atau map untuk menyimpan
materi penting sesuai kategori, memastikan ada awal dan akhir yang jelas pada
setiap tugas, dsb.
» Anak sulit memahami konsep-konsep
abstrak tak jelas seperti ‘mulai’, ‘selesai’, ‘cepat’, ‘yang bagus’, atau
‘selesaikan nanti’. Sebaiknya semua guru membicarakan perilaku dan kejadian
dalam istilah yang jelas dan tepat guna, seperti “duduk di lantai dengan baik”
bisa diubah menjadi “duduk di lantai, kaki dilipat, tangan dilipat”. Atau,
istilah “kerjakan” diubah menjadi “ambil pinsil, lihat nomer 1, lingkari yang
benar”.
» Kata-kata yang bermakna abstrak,
perlu waktu melatihkannya. Tugas guru pendamping atau terapis rumah atau orang
tua untuk melatih makna kata sambil memasangkan dengan gerakan/kegiatan/benda
sesungguhnya. Begitu anak paham makna tersebut, guru dapat melatih menggunakan
visualisasi/kartu sehingga anak dapat mengaplikasi-kan konsep tersebut dalam
konteks sesungguhnya tanpa terlalu banyak penjelasan lagi.
5.
Perilaku
Umumnya perilaku diteliti karena
alasan “bermasalah” (Linda Hodgdon, 1999), yaitu bila :
- anak
tidak berperilaku sesuai dengan lingkungan atau situasi saat itu
- perilaku
anak tidak seperti yang biasa dilakukan teman sebaya mereka
- mereka
tidak melakukan seperti yang kita inginkan: apa-kapan-bagaimana
Batasan
diatas, tercakup dalam suatu kontinuum (rentang) yang bervariasi mulai dari
kebiasaan yang mengganggu, perilaku yang menimbulkan masalah, perilaku yang
menghambat rutinitas sehari-hari, yang menghambat proses belajar, hingga
perilaku yang dapat sebabkan celaka pada diri sendiri atau orang lain.
Dengan
demikian, batasan “masalah perilaku”
sangat bervariasi, tergantung dari sudut mana kita melihatnya. Misal: perilaku
mengeluarkan suara saat sedang belajar, dapat dianggap sekedar sebagai
kebiasaan mengganggu, kebiasaan yang SANGAT mengganggu atau perilaku yang
meng-hambat proses belajar… tergantung frekuensi, periode dan intensitas perilaku
tersebut dan dimana perilaku tersebut terjadi.
Pada anak ASD, masalah perilaku
dapat digolongkan dalam 2 kelompok utama (Schopler, 1995):
- perilaku
tidak patuh, dimana anak tidak mau mengikuti pengarahan atau permintaan orang
tua/guru (dan tokoh otoritas lain)
- perilaku
mengganggu/menyerang, biasanya dalam
bentuk tantrum (mengamuk), berteriak, menendang, memukul, menggigit dsb.
Berhubung perilaku bisa dilihat
secara subyektif (tergantung sudut pandang pengamat), sudah seharusnya kita
berusaha menjadikannya lebih obyektif. Obyektifitas dapat diusahakan melalui
pengamatan intensif, pencatatan, analisa dan interpretasi. Setidaknya,
obyektifitas dapat diusahakan dengan berpikir bahwa setiap masalah perilaku didasari
adanya keterbatasan/ hambatan yang menjadi penyebab. (Schopler, 1995)
MASALAH PERILAKU
![]()
Berbagai hambatan/keterbatasan
yang menjadi dasar terjadinya
perilaku
Kesadaran bahwa masalah perilaku
didasari adanya keterbatasan atau hambatan, sangat mempengaruhi lingkungan
ketika mengupayakan intervensi/penanganan atas berbagai masalah perilaku. Kita selalu harus melihat perilaku
sebagai sebuah rangkaian, ada yang menyebabkan (antecedent) dan ada yang
mengikuti terjadinya perilaku tersebut (consequence) (Maurice, 1996).
Misal: anak yang berguling-guling
ketika spreinya diganti. Penanganan akan sangat berbeda bila penyebabnya
ketidak-patuhan (incompliance) atau perasaan tidak tahan terhadap tekstur sprei
sesudah dicuci (sensory). Anak yang berguling-guling karena tidak tahan
terhadap tekstur sprei, tentu akan sangat tertekan bila diberi teguran atau
diperingatkan untuk berperilaku baik (consequence). Ia berguling-guling karena
tidak tahan terhadap tekstur, tapi malah ditegur karena tidak bersikap baik.
Perasaan tertekan tadi, tentu saja mendorongnya berperilaku lebih buruk lagi.
Karena akar permasalahannya adalah masalah sensoris, seharusnya ia dibantu
mengatasi masalah sensorisnya. Sebaliknya akan terjadi, bila sesudah anak
berguling-guling, ia malah mendapat hadiah. Bisa saja ia berpikir bahwa dengan
berguling-guling, ia akan mendapatkan sesuatu yang menyenangkan. Ia akan
mengulanginya lagi, terlepas dari persoalan apakah masalah sensorisnya
terjawabkan atau tidak.
Jadi, penting sekali melakukan
analisa (A-B-C) dan mencoba mencari akar permasalahan mengapa suatu perilaku
terjadi; sebelum dapat menetapkan akan melakukan apa.
Bila sudah diketahui akar
permasalahannya, ada banyak hal yang dapat dilakukan (Fouse & Wheeler,
1997) yakni Punishment, Negative Consequence, Ignorance, Differential
Reinforcement, Time Out, Response Cost, Environment Modification.
Dari berbagai cara tersebut di
atas, yang penting diingat oleh guru adalah untuk tidak memberikan perhatian dalam bentuk apapun kepada anak saat ia
berperilaku negatif (perhatian bisa berupa bujukan, luapan amarah, omelan,
tatapan, kata-kata dsb). Biarkan anak meluapkan amarah (bila sebabnya adalah
frustrasi), dan baru lakukan intervensi (berupa instruksi tugas yang ia kuasai)
begitu ia reda amarahnya. Kadang untuk anak tertentu perlu disediakan ruang
terpisah/pojok tertentu bagi dia untuk melampiaskan amarahnya tanpa melukai
diri sendiri atau orang lain. Hati-hati, kadang anak autisme senang diberi
‘time-out’ karena bisa melarikan diri masuk dalam dunianya.
Sebelum dapat menggunakan satu atau beberapa
kombinasi teknik tersebut di atas, penting sekali bagi guru untuk mengamati
beberapa hal berikut:
» Biasanya perilaku negatif anak di
kelas, berkaitan dengan perasaan tidak nyaman yang dialaminya, atau merupakan
respons terhadap kesulitannya. Untuk dapat melakukan perubahan terhadap
perilaku negatif tersebut, guru atau guru pendamping HARUS melakukan analisa
dan melakukan observasi untuk menyimpulkan jawaban atas “kapan”, “dimana”, dan
“siapa” yang mewarnai terjadinya perilaku negatif tersebut.
» Strategi efektif baru bisa
dikembangkan sesudah dipahami ‘alasan’ kenapa perilaku negatif tersebut
digunakan untuk beradaptasi dengan lingkungan/keadaan tersebut (apakah masalah
komunikasi, tidak dapat memahami isyarat lingkungan, terlalu banyak stimulasi,
frustrasi akan materi dsb)
» Kalau anak terus menerus
menggunakan perilaku negatif untuk beradaptasi dengan keadaan, bisa saja ia
tidak tahu cara lain. Penting mengajarkan cara positif yang dapat ia pakai
beradaptasi dengan keadaan yang kurang nyaman tersebut.
» Pengetahuan atas
kelebihan/kekurangan dan kebutuhan anak tersebut yang khas autisme (biasanya
berkaitan dengan masalah komunikasi, interaksi dan adaptasi) akan sangat
membantu guru/pendamping memahami perilaku anak.
D.
Bersikap fleksibel, kreatif dan terbuka dalam proses belajar mengajar
Anak ASD memiliki
ciri khas yang berbeda dengan anak biasa, karena itu sikap pengajaran kita
sebaiknya juga tidak sama dengan anak biasa, bila kita mengharapkan hasil
optimal.
Tabel berikut
berusaha memperlihatkan, bahwa sikap kita sebagai guru perlu dimodifikasi
sesuai keadaan anak, untuk mendapatkan pemahaman maksimal dan mengarah pada
kemandirian optimal.
|
JENIS BANTUAN |
DESKRIPSI |
KETERLIBATAN ORANG LAIN ><
KEMANDIRIAN |
|
Tangan-di atas-tangan |
Tangan guru pendamping diletakkan
di atas tangan anak untuk memungkinkan anak selesaikan tugas. |
Keterlibatan sangat tinggi dari
guru/guru pendamping |
|
Fisik |
Kontak fisik digunakan untuk
arahkan anak memusatkan perhatian pada sesuatu atau menyelesaikan tugas |
|
|
Verbal |
Penjelasan atau pengarahan
dipakai untuk memulai /mempertahankan penyelesaian tugas. |
|
|
Visual |
Bantuan visual konkrit dipakai
untuk bantu anak memulai tugas, selesaikan tugas, atau berpindah ke tugas
berikutnya. |
|
|
Isyarat |
Gerakan digunakan untuk pertegas
makna informasi verbal dan memusatkan perhatian anak pada tugas. |
|
|
Peragaan |
Guru (atau guru pendamping)
mencontohkan penyelesaian tugas dan anak belajar melalui observasi /pengamatan
saja. |
Sangat mandiri. |
Guru pendamping
penting sekali memahami bahwa tugas mereka membantu anak sejauh dibutuhkan.
Jadi, lambat laun bantuan tersebut harus dikurangi agar anak dapat mengerjakan
segala sesuatunya secara mandiri.
Kiat sebagai guru
pendamping (
Bitsika, 2002):
*
Mulai
dari bantuan paling sedikit, siapa tahu anak bisa.
*
Tempatkan
diri di luar garis pandang anak (di samping atau di belakang).
*
Nilai
sendiri bagaimana Anda memberikan bantuan tersebut. Bila mungkin, minta orang
lain melakukan pengamatan cermat terhadap kegiatan Anda dalam mendampingi anak,
lalu minta orang tersebut memberikan masukan.
*
Gunakan
segala upaya untuk memfokuskan anak pada lingkungan belajar, guru dan tugas.
*
Tetapkan
peran Anda sebagai ‘guru pendamping’ atau ‘asisten guru’, jadi sedapat mungkin
peran dalam proses belajar mengajar dipegang oleh guru kelas.
*
Alat
bantu dalam belajar, jangan sampai menjadi pusat perhatian anak. Anak harus
dilatih untuk memusatkan perhatian pada instruksi dan materi. Alat bantu
bersifat sebagai ‘bantuan bila diperlukan’.
*
Anak
jangan sampai melihat ‘bantuan dari guru pendamping’ sebagai hal terpenting
dalam proses belajar mengajar, tetapi instruksi dan materi –lah yang
terpenting.
*
Hindari
keterlibatan maksimal dalam interaksi antara Anda dengan anak autisme yang Anda
dampingi. Tugas Anda mendorong agar ia bisa berinteraksi dengan lingkungannya
tanpa kehadiran Anda, jadi sedikit demi sedikit kurangi peran Anda.
PENUTUP:
Penting diingat oleh para orang tua adalah bahwa
kondisi masing-masing anak sangat berbeda, sehingga modal awal dan hasil akhir
setiap individu akan sangat tergantung pada banyak sekali faktor, antara lain:
kuantitas dan kualitas gejala autisme pada anak, intensitas penanganan dini,
tingkat intelegensi anak, kemampuan anak berkomunikasi, konsistensi pola asuh
dalam keluarga, sikap sekolah dalam membantu anak, pengetahuan guru, dan
sebagainya.
Bagi pihak sekolah, penting diperhatikan bahwa
banyak langkah yang dapat dilakukan untuk membantu anak ASD berprestasi di
lingkungan sekolah umum. Selain kesempatan, mereka juga memerlukan penanganan
yang terpadu dan terfokus sesuai keadaan masing-masing anak.
Pihak keluarga tidak bisa hanya menuntut pihak
sekolah untuk memberikan yang terbaik, karena tanpa kerja sama dari pihak
keluarga, semua upaya memberikan kesempatan kepada anak menjadi mubazir dan
tidak tepat sasaran. Sebaliknya pihak sekolah tidak dapat menyerahkan segala
usaha kepada orang tua, karena bagaimanapun anak-anak ASD ini adalah bagian
dari masa depan bangsa ini. Sebagai pendidik, sudah sewajarnya kita memberikan
yang terbaik kepada anak didik kita. Sebagai pendidik, kita tidak boleh memilih
murid.
Mendidik anak tidak bermasalah bisa dilakukan siapa
saja, tetapi membantu anak bermasalah – khususnya anak ASD – untuk dapat
mengatasi permasalahannya, memerlukan kemampuan yang luar biasa. Kreativitas,
daya juang, kemampuan untuk bertahan, dan yang terpenting… keikhlasan untuk
membantu anak ASD mendapatkan masa depan yang baik.
Anda menjadi guru yang luar biasa, bila memberikan
upaya untuk membantu anak-anak ASD meningkatkan mutu kehidupan mereka.
To my one and only Ikhsan Priatama Sulaiman and his friends. I
love you just the way you are. May God
be with us, forever.. and ever.
*) Penulis adalah Psikolog,
Pendiri/Pengurus Yayasan Autisma Indonesia, Penanggung Jawab Pendidikan pada
Sekolah Khusus Autisme “MANDIGA” – Jakarta, dan ibu dari Ikhsan Priatama Sulaiman,
individu autisme berusia 12 tahun.
2.
Bitsika, Vicky, Basic Strategies for the Effective Shadow
Teaching of Children with ASD, 2002, WeCan Conference Singapore.
3.
Fouse, Beth, PhD and Maria Wheeler, MEd, A Treasure Chest of Behavioral Strategies for Individuals
with Autisme, 1997, Future Horizons, Inc, Texas, US
5.
Hodgdon, Linda A, MEd, CCC-SLP, Solving Behavior Problems in
Autisme – Improving Communication with Visual Strategies, 1999, Quick
Roberts Publishing, Michigan-US.
6.
Hodgdon, Linda A, MEd, CCC-SLP, Visual Strategies for Improving
Communication - Practical
Supports for School and Home, 1995, Quick Roberts Publishing, Michigan-US.
10. Quill, Kathleen Ann, Teaching Children with
Autisme – Strategies to Enhance Communication and Socialization,
1995, Delmar Publisher, US