Di Balik Sukses Oscar Dompas: Basic Parenting Plus
Tepat setahun yang lalu, pada awal April 2005, Autistic Journey - karya Oscar Dompas yang menceritakan pengalaman tumbuh dan berkembang dirinya sebagai individu autistik - diluncurkan di salah satu toko buku di Jakarta. Kenyataan bahwa Oscar menulis karya otobiografinya serta kerap menjadi pembicara pada seminar-seminar autisma, sudah diketahui banyak orang. Namun mungkin belum banyak orang mendengar secara lengkap bagaimana proses pembelajaran yang dijalaninya hingga ia mampu melakukan semua itu.
Melalui tulisan yang merupakan hasil wawancara dengan kedua orangtua Oscar, yakni Ibu Ira dan Bapak Jeffrey Dompas, gambaran mengenai pola pengasuhan orangtua serta proses pembelajaran yang dijalani oleh Oscar dipaparkan.
Basic Parenting Plus
Ketika Oscar kecil mulai menunjukkan gejala autistik, kedua orangtua tidak menyadari bahwa anak mereka menderita sindrom autisma. Mereka menganggap bahwa setiap anak itu unik dan masing-masing memiliki kesulitannya sendiri. Jadi, mereka mensyukuri kehadiran Oscar sebagai anugerah Tuhan.
Saat Oscar berusia tujuh atau delapan tahun, orangtua mulai menyadari dan mengamati ciri-ciri autistik pada diri Oscar. Karena pada waktu itu kondisi keuangan maupun kematangan mereka sebagai orangtua belum mantap, mereka belum terlalu memikirkan bahwa apa yang menimpa anak mereka adalah sesuatu yang harus segera ditangani. Memang mereka berkonsultasi, baik dengan dokter maupun psikolog, untuk memperoleh opini dan saran penanganan dari para ahli. Namun yang menarik adalah bahwa Oscar ternyata tidak pernah mendapatkan terapi, pengobatan, pemeriksaan rambut maupun diet khusus bagi penyandang autisma yang belakangan ini banyak dilakukan.
Lalu bagaimana sebetulnya penanganan autisma yang diterapkan orangtua pada diri Oscar? Secara umum, pada waktu itu kedua orangtua hanya mengandalkan naluri dasar sebagai orangtua (basic parenting), serta pemahaman umum bahwa setiap anak itu unik sehingga mereka tidak memperlakukan anak-anak mereka secara berbeda. Bapak Jeffrey percaya bahwa yang dibutuhkan untuk mendidik penyandang autisma adalah basic parenting plus, maksudnya naluri dasar sebagai orangtua ditambah dengan waktu, kesabaran serta pengertian. Dari sisi kuantitas dan intensitas, waktu mereka memang lebih banyak tersita untuk Oscar. Namun tidak ada rasa iri atau cemburu pada kedua adiknya karena orangtua selalu menjelaskan kenapa sang kakak membutuhkan waktu lebih banyak.
Sebagai contoh, saat Oscar kecil cenderung mengulang kembali apa yang diucapkan orang lain. Ketika ditanya, "Apa kabar?" bukannya menjawab, ia justru akan mengulang, "Apa kabar?" persis seperti yang diucapkan oleh orang tersebut. Sang ibu dengan sabar mengajarkan supaya ia tidak mengulang pertanyaan, tetapi harus menjawab apabila ditanya. Ketika ditanya apa kabar, jawabannya adalah kabar baik atau kabar buruk. Pengajaran ini dilakukan berulang-ulang agar Oscar mengerti.
Proses Pembelajaran Aspek Emosi
Dalam mengajarkan emosi kepada Oscar, kedua orangtua juga mengunakan pendekatan yang secara naluri dianggap paling tepat. Untuk menumbuhkan emosinya, sejak masa balita mereka selalu mendekati dan mengajak Oscar untuk berbicara, meskipun ia tidak mengerti ataupun tidak memberikan reaksi. Pelajaran terpenting yang ingin diberikan oleh orangtua adalah agar Oscar tidak merasa sendiri, selalu ada orang lain disekitarnya, selain agar ia belajar untuk mendengarkan sesuatu. Adapun ketika Oscar tantrum, sang ayah langsung menggendong dan tetap memeluknya erat-erat meskipun ia meronta-ronta. Bapak Jeffrey percaya bahwa pelukan dapat menjalin kontak batin, dimana saat ia berusaha mengatur denyut jantungnya, kemarahan Oscar juga mereda.
Sang ayah yang seorang atlet taekwondo juga menyempatkan diri untuk mengajarkan Oscar kontrol diri sekaligus konsentrasi ketika ia berusia empat atau lima tahun dengan cara mendekatkan lilin atau jari tangannya dihadapan Oscar, hampir setiap hari selama sekitar lima menit. Ketika Oscar berpaling, sang ayah mengarahkannya untuk kembali melihat lilin atau jari tangannya.
Menurut Ibu Ira, kelebihan Oscar adalah memorinya yang sangat tajam, termasuk ingatan akan perasaannya. Namun sebagai penyandang autisma, ia tidak pandai untuk mengungkapkan perasaannya tersebut, sehingga harus digali atau dibangkitkan. Misalnya tentang emosi sayang (cinta), dengan cara bergurau sang ibu sering bertanya apakah ia sayang pada ibunya. Biasanya Oscar akan mengatakan bahwa "itu adalah ilmu pasti", maksudnya ia pasti sayang pada ibunya, jadi tidak perlu dipertanyakan lagi.
Kedua orangtua juga membiasakan Oscar untuk mencium atau memeluk mereka sebelum meninggalkan atau saat kembali ke rumah. Baginya kebiasaan tersebut mungkin merupakan suatu kewajiban. Namun menurut sang ibu, mereka sebetulnya mengajarkan Oscar agar paling tidak nantinya ia memahami bahwa ciuman dan pelukan merupakan suatu kebutuhan. Selain itu, ia dibimbing untuk selalu mengembangkan dan mempertahankan hubungan emosional dengan keluarga inti. Ia diajarkan untuk mengingat keluarga inti kemanapun ia pergi, misalnya dengan membelikan oleh-oleh bagi kedua orangtua dan adik-adiknya pada saat ia bepergian meskipun tidak diminta.
Push to the Limit
Sebagai individu autistik, Oscar sulit beradaptasi ketika terjadi perubahan atas rutinitas yang biasa dijalaninya. Padahal dalam kehidupan sehari-hari, perubahan sangat mungkin untuk selalu terjadi. Kedua orangtua berupaya mengajarkan dirinya agar ia mampu menyadari bahwa dalam kehidupan, ada banyak hal yang tidak selalu sesuai dengan keinginan seseorang dan ia tidak begitu saja mengekspresikan emosi negatifnya.
Sejak Oscar duduk di bangku SLTA, Bapak Jeffrey memiliki kiat khusus dalam mengajarkan dirinya untuk menahan emosi, yang dinamakan dengan latihan menahan diri (push to the limit). Sang ayah melakukan simulasi untuk memancing dan mendesak emosinya hingga ia kehilangan akal dan tidak dapat mengontrol dirinya. Adakalanya sang ayah sengaja mengajak Oscar untuk "bermain", namun ada saat dimana ia tidak menyadari bahwa dirinya telah terlibat dalam latihan tersebut. Selesai melakukan simulasi, mereka berdua selalu membahas apa yang membuat Oscar tidak dapat menahan emosinya dan apa yang seharusnya ia dilakukan. Tujuan simulasi ini adalah untuk menunjukkan kepada Oscar bahwa masyarakat di luar jauh lebih menyudutkan, bahkan tidak jarang melampaui "batas" yang baru saja mereka simulasikan.
Sang ayah menambahkan bahwa keinginan-keinginan Oscar juga menjadi topik pembahasan mereka, mengingat apa yang ia sampaikan secara verbal belum tentu merupakan keinginan yang sesungguhnya. Melalui diskusi, ia belajar memahami bahwa apa yang ia sampaikan ternyata hanya keinginan tambahan, selanjutnya ia belajar mengetahui apa yang sebetulnya menjadi keinginan utamanya. Topik lain yang menjadi bahan diskusi adalah ciri-ciri autistik Oscar, misalnya kecenderungan dirinya untuk bercerita panjang lebar kepada orang lain tentang satu hal yang sedang menjadi perhatiannya. Dalam pembahasan, ia belajar untuk peka terhadap reaksi orang lain yang belum tentu senang mendengar ceritanya.
Meskipun telah berlatih secara rutin, sang ayah mengatakan bahwa emosi Oscar tetap datar. Ia pernah memancing emosi sang anak dengan mengatakan bahwa ia sudah mulai "bosan" dengan sang ibu dan ingin memulai hubungan dengan wanita lain. Saat itu Oscar menjawab bahwa itu adalah urusan ayahnya dengan Tuhan. Ia hanya heran mengapa ayahnya yang sangat taat beragama terpikir untuk melakukan hal tersebut. Dari jawaban tersebut, sang ayah menilai bahwa pancingannya sangat mengena. Namun rasa sedih atau amarah tetap tidak teramati dari wajah atau perilaku Oscar.
Penutup
Pelajaran-pelajaran mengenai kehidupan - yang membesarkan hati Oscar, namun tidak memberikan harapan yang berlebihan - dengan cara dialog "dari hati ke hati" dan memberi pengertian yang realistik terus dilakukan oleh kedua orangtua dan tidak akan pernah berhenti diberikan kepada sang anak. Sehingga pada saat yang dibutuhkan, ia mampu memilah dan memilih kiat yang paling tepat dari sekian kumpulan pelajaran yang telah ia kantongi.
Ibu Ira merasa bahwa sebagai orangtua, baru sekarang mereka memperhatikan hasil pengajaran mereka dengan membandingkan Oscar dengan penyandang autisma lain yang kurang/tidak ditangani secara tepat oleh orangtua mereka. Ternyata, naluri sebagai orangtua - disertai dengan dukungan saudara-saudara kandung dan keluarga besar - memiliki peran yang lebih penting daripada penanganan profesional berupa terapi, pengobatan atau diet khusus dalam perkembangan dan keberhasilan seorang penyandang autisma. Hal ini sesuai dengan penuturan Dows dkk. (1996) bahwa keterlibatan orangtua memang merupakan hal terpenting yang dapat membantu anak untuk mencapai keberhasilan, karena penanganan yang tepat - terutama dari lingkungan rumah - dapat membantu anak menghadapi masalah dengan lebih positif.
Dengan pola pengasuhan basic parenting plus, terbukti bahwa Oscar berhasil mengembangkan konsep diri yang positif. Meskipun didiagnosis sebagai individu autistik, ia tidak merasa rendah diri. Ia justru berusaha memahami kelebihan dan kekurangan dirinya, kemudian berusaha meminimalkan kekurangan-kekurangan tersebut. Keluar dari spektrum tampaknya menjadi salah satu aspirasi Oscar dan yang terpenting adalah ia selalu berlatih dan berusaha keras untuk melakukannya.
Tidak berlebihan apabila dalam buku otobiografinya, Oscar menuliskan tentang ayah dan ibunya, bahwa mereka adalah orangtua ideal yang pasti diinginkan oleh setiap anak.
Jakarta, 11 April 2006
Agustina M. Indrawati (Psikolog)
Dalam rangka tugas kuliah
|