
Pengalaman
menyekolahkan anak ‘special need’
Mempunyai 2 anak dimana yang
sulung (Andre, 8 tahun) sering sakit karena alergi debu dan gangguan
pencernaan, dan anak bungsu (Thomas, 5 tahun) penyandang ASD (Autism Spectrum
Disorder), sungguh ternyata tidak mudah. Salah satu kesulitan terbesar adalah
mencari sekolah yang tepat untuk Thomas.
Saya bersyukur sekali, bahwa
akhirnya 6 bulan terakhir ini perkembangan di sekolah sangat besar, dibanding
kondisi awalnya. Berjuang melawan autisme ibaratnya ikut lari maraton : jarak
jauh (bisa bertahun-tahun) sehingga perlu persiapan, stamina dan strategi lari
yang tepat, bertahap tapi konsisten. Setelah 3,5 tahun jadi peserta ‘maraton
autisme’, kemajuan Thomas di sekolah menjadi reinforcement besar, obat kuat
penambah semangat untuk terus ikut lari, tetap dalam barisan peserta maraton .
. . walaupun garis finish belum terbayang.
Jalan mungkin masih sangat panjang, tapi lebih bersemangat karena ada
harapan terus, buah-buah mulai terlihat….
Tanggal 20 Mei 2003, saya, guru
kelas, konsultan (acara rutin PTCC : Parent-Teacher-Consultant Conference) dan
juga guru pendamping (Shadow Aid) bertemu di sekolah untuk membahas
perkembangan Thomas di kelas. Hasilnya sangat menggembirakan : bantuan Shadow
Aid sudah sangat minimal, hanya diperlukan saat singing time (Thomas tidak
terlalu suka nyanyi bersama). Selain itu, kontrol sudah di tangan 3 guru
kelasnya. Guru juga sudah berkomunikasi dengan Thomas dengan nada suara biasa
dan tanpa usaha ekstra untuk menarik perhatiannya. Bila tiba-tiba dia tersadar
ada perubahan aktivitas, Thomas sudah bisa bertanya pada temannya, misalnya :
’kita mau ngapain?’ atau ‘kita mau kemana?’. Dia juga tidak segan-segan untuk
minta bantuan temannya bila ada kesulitan. Walaupun sedang asyik mengerjakan aktivitas
kesukaannya (origami, membaca buku), Thomas akan segera bergabung dengan
teman-temannya untuk melakukan aktivitas baru lainnya. Menulis sudah lebih
rapi, ada spasi. Kemampuan akademis tidak menjadi masalah, bahkan sering lebih
bagus/cepat selesai dari teman-temannya. Yang menjadi ‘concern’ guru 2 minggu
terakhir adalah Thomas tiba-tiba suka teriak, kadang tanpa sebab yang
jelas.
Kesimpulannya, Juli nanti Thomas
benar-benar memenuhi syarat untuk naik ke TK B. Saat itu, tidak ada berita yang
lebih menggembirakan lagi buat kami sekeluarga.
Tanggal 9 Juni saya menerima
buku raportnya, dan progres Thomas lebih terlihat jelas dari kacamata sekolah.
Kalau di akhir cawu I Thomas masih sangat perlu dibimbing untuk berkomunikasi
dengan teman-temannya di kelas, di akhir cawu III bimbingan masih diperlukan
untuk lebih memberikan fokus dan perhatian terhadap diskusi/presentasi yang
diberikan secara group. Selain sudah bisa membaca buku cerita dalam bahasa
Inggris dengan cukup lancar, dia juga sudah mulai mengerti penjelasan guru
dalam kalimat bahasa Inggris yang cukup panjang. Kelemahan yang lain seperti
menggambar, mewarnai, menggunting dan melipat sudah bisa diatasi. Kegiatan
fieldtrip ke tempat2 umum (Planetarium, Kebun Binatang,
Pemadam Kebakaran, dll) menjadi kegiatan yang sangat menyenangkan buatnya. Yang
masih menjadi kesulitan besar adalah mengikuti permainan2
olah raga atau gerak & lagu.
Semua hasil ini berkat kerja
sama yang baik antara Sekolah dan Team Terapis ABA (Konsultan, Case Manager,
Terapis, Shadow Teacher/Aid). Sejak Oktober 2002 tercipta kerja sama itu dalam
bentuk : Observasi di kelas, pencatatan Daily Log di kelas, Shadow Aid, dan
PTCC secara rutin.
Yang membuat kami terharu,
guru-guru mau tahu lebih banyak tentang autis, semangat untuk ikut seminar/workshop
autis, bahkan mau menerapkan apa yang mereka pelajari maupun yang disarankan
oleh konsultan. Untuk mencapai tujuan, mereka juga meluangkan waktu untuk
‘playday’ khusus dengan Thomas.Waktu saya sharing di sekolah tentang makalah
presentasi yang saya buat untuk eks kantor saya kerja (dibuat dengan tujuan
untuk meningkatkan public awareness tentang autism), hampir semua guru-guru di
sekolah itu duduk selama 3 jam lebih, serius menyimak sharing. Banyak
pertanyaan, cerminan rasa kepedulian mereka yang tinggi. Sungguh, di luar
pengharapan saya.
Syukur pada Tuhan, perjuangan
panjang mulai membuahkan hasil dan sejak pindah ke Bintaro kami dipertemukan
dengan banyak orang-orang yang sangat membantu : guru-guru sekolah dan team
terapis ABA yang lebih kooperatif, dan teman-teman special parent sesama
peserta ‘maraton’.
Dua
tahun, bahkan setahun yang lalu, hasil seperti ini sama sekali tidak
terbayangkan.
Setelah menjalani terapi (ABA)
selama 1.5 tahun, pada usia 3 tahun 3 bulan, kami putuskan untuk mencoba
memasukkan Thomas ke play group, dengan suatu tujuan : belajar bersosialisasi
(walau saat itu sebenarnya kami tidak begitu paham artinya sosialisasi).
Setelah survey beberapa sekolah
dan melalui sedikit test akademis, Thomas diterima di suatu sekolah umum di
Jakarta Timur yang cukup besar, satu sekolah dengan kakaknya yang masuk kelas 1
SD. Jumlah murid 35 anak dengan 2 guru,
tetapi Shadow Aid diijinkan masuk ke kelas sampai Thomas dianggap bisa mandiri.
Di sekolah itu hanya dia yang autis, tapi ada beberapa anak ADD atau ADHD di
kelas lain.
Kami ceritakan kondisi Thomas
apa adanya, dan bahwa sebenarnya masih membutuhkan banyak terapi, jadi minta
diijinkan hanya bersekolah 2-3 hari dalam seminggu, sambil melihat
perkembangannya. Dengan pendekatan yang baik, saya juga diijinkan untuk secara
periodik merekam perkembangan Thomas di sekolah. Kepala sekolah juga sangat
baik, cukup mau tahu tentang autis dengan membaca buku-buku atau makalah
seminar yang saya fotocopy. Kadang mereka malah mereferensikan beberapa orang
tua yang anaknya mengalami gangguan perkembangan untuk sekedar ngobrol dengan
saya. Tetapi mungkin karena sibuk dengan pekerjaan, agak sulit untuk mengajak
guru-guru ikut seminar/workshop tentang autis, atau untuk mengundang mereka ke
rumah, walaupun mereka tertarik.
Seminggu sebelum sekolah mulai,
saya drill Thomas soal makanan (karena diet Gluten dan Casein, CFGF). Dengan
bantuan kakaknya, saya ajarkan untuk tidak ambil atau minta makanan orang lain.
Hari pertama sekolah dia bilang ‘mau kue itu’ sambil menunjuk temannya yang
bawa bekal biskuit Oreo (Oreo dulu jadi reward yang paling disukai kalau
terapi). Saya jawab : ‘itu bukan punya Thomas’, dia menurut dan diam. Besoknya
dia hanya melihat-lihat bekal teman-temannya sambil menelan ludah, tanpa mengucapkan
apa-apa. Duh, rasanya saya yang tidak tahan….sangat tidak tega. Dengan
mengingat bahwa terigu hanya akan menjadi racun/morfin buat Thomas, saya
mencoba bertahan. Akhirnya sukses setelah 1 minggu, sampai sekarang dia tahu
bahwa makanan tertentu dia tidak boleh makan, jadi bila ingin sesuatu dia akan
tanya :’Thomas mau ini, boleh nggak?’. Di sekolah sekarang, bahkan
teman-temannya yang suka dengan makanan ‘home-made’ Thomas. Kembang goyang
kesukaannya, juga menjadi makanan favorit teman-teman dan guru-guru.
Setelah 2 bulan sekolah, Thomas
bisa ikut ‘antri’ dengan rapi, bahkan di gereja pernah mengikuti antrian untuk
menerima berkat dari pastor, dan dia tetap rapi dalam barisan sampai kembali ke
tempat semula tanpa didampingi. Kemajuan yang sangat membuat kami bahagia,
kalau bukan di gereja rasanya saya mau bersorak atau menangis.
Tetapi setelah itu kami jarang
melihat kemajuan berarti yang lain, bahkan ilmu ‘antri’nya ikut hilang. Di
kelas lebih banyak rewel dan menangis, kelihatan tersiksa terlalu lama di
sekolah. Saat guru bercerita di depan
dan anak-anak duduk mengelilingi guru, Tom terlihat sangat tidak betah,
seringkali rewel minta keluar atau pulang. Tiap pagi sebelum masuk kelas semua
murid playgroup – TK berkumpul di aula untuk melakukan beberapa aktivitas
bersama (nyanyi, mendengarkan cerita, senam, dll), baru berbaris masuk ke
kelasnya di lantai 2. Saat-saat itu menjadi kegiatan yang paling tidak
menyenangkan buatnya, hampir tidak ada aktivitas yang dia bisa ikuti atau
nikmati. Kalau sudah tidak tahan, dia
rewel minta pulang, nangis atau teriak.
Saat ini kami baru tahu, dulu
banyak sekali persiapan yang kurang saat memasukkan Thomas sekolah playgroup di
Jakarta Timur. Pertama, walau secara akademis diatas rata-rata teman
sebaya, Thomas belum dipersiapkan dengan kemampuan mengikuti aktivitas rutin
sekolah maupun (transisi) belajar dalam group. Kemampuan bantu dirinya juga
masih kurang, sehingga sering ngompol atau pup di kelas. Dengan keterbatasan
pengetahuan kami waktu itu, tanpa sadar prioritas terapi lebih mengejar
kemampuan akademis. Kedua, ekspektasi kami sebagai orang tua tidak
jelas, saya hanya coba-coba dan berharap sekolah bisa membantu banyak. Ketiga,
sekolah itu sebenarnya memang kurang tepat untuk kondisi Thomas : kelas terlalu
besar (2 guru 35 murid) seringkali suara guru bahkan tidak terdengar oleh
Thomas, ruang kelas yang terbuka dengan banyak suara-suara dari luar menjadi
gangguan besar buatnya, mainan yang sama tiap hari (dalam kotak besar) juga
tidak cukup kuat menarik minat dan perhatiannya, serta keterbatasan tenaga guru
untuk memberi perhatian ekstra buat Thomas. Keempat, tidak ada pihak
ke-3 atau profesional yang membantu menjembatani kami dan pihak sekolah. Kelima,
pertimbangan keuangan (saya sudah memutuskan berhenti kerja) juga membuat kami
berpikir dua kali untuk menyediakan dana lebih untuk Thomas.
Jadi dengan keterbatasan
pengetahuan, terapis yang jadi shadow aid dan berada tiap hari di kelaspun,
tidak tahu persis apa tugas dan tanggung jawabnya, bagaimana cara bekerja sama
yang efektif dengan guru-guru, dsb. Di daerah tempat tinggal saat itu juga
tidak ada teman ‘seperjuangan’ yang bisa jadi tempat bertanya, dan tidak ada
bantuan dari pusat terapi tentang bagaimana cara mempersiapkan dan mengatasi
masalah di sekolah.
Selain Thomas, Andrepun tidak
menikmati sekolahnya. Mungkin Andre termasuk anak dengan type belajar dominan
kinestetis, yang sulit menerima pelajaran dengan metode klasikal dan serius,
atau mungkin karena kurang perhatian dari ibunya, prestasi belajarnya pas-pasan.
Perlu 5 jam untuk mengajari PPKN menjelang EHB, belum pelajaran yang lain.
Hanya pelajaran agama yang lumayan, karena bisa diajarkan dengan menarik
(misalnya main drama dengannya), sehingga cepat ‘dicerna’. Setelah tiap malam
bersusah payah menidurkan mereka, pagi hari juga menjadi perjuangan untuk
membangunkan & memotivasi ke 2 anak saya untuk bersekolah. Ada saja alasan
Andre, yang pura-pura sakitlah, yang ngantuklah…. kalau Thomas hanya nangis,
teriak-teriak ‘tidak mau sekolah’.
Tahun itu juga adalah masa-masa
paling berat me’manage’ beberapa macam terapi autis (ABA, Okupasi, Speech, diet
CFGF, BT). Untuk bisa ketat menjalani diet CFGF, saya harus eksperimen makanan2
‘halal’ untuk Thomas, padahal saya tidak bisa masak dan tidak suka ke dapur. Untuk
sedikit mengerti Biomedical Treatment (BT), saya harus memaksa diri membaca
literatur2 bahasa Inggris dengan banyak istilah medis. Sampai
saat ini juga masih banyak yang tidak saya mengerti.
Hubungan dengan suami juga
menjadi terganggu. Saya menjadi terlalu sensitif dan defensif, padahal
kadang-kadang maksud suami hanya memberi saran atau bantuan. Karena sudah
berhenti kerja, saya merasa benar-benar ‘terjebak’ di rumah, sibuk mengasihani
diri sendiri, dan merasa paling malang sedunia. Syukur Tuhan memberikan suami
yang dari dulu selalu berpikir positif, dialah yang selalu bisa mengingatkan
saya untuk bisa bersyukur atas setiap kemajuan, walaupun sekecil apapun.
Akhirnya saya dan suami sepakat,
untuk melakukan ‘sesuatu’ yang besar untuk merubah kondisi ini.
Atas rekomendasi teman baik, di
bulan Maret-April 2002 Thomas ‘trial’ di sebuah playgroup di Bintaro tiap hari
Selasa dan Kamis. Perjalanan panjang (4 jam pulang pergi) dari Pulo Gebang -
Bintaro, tapi untungnya Thomas bisa dan menikmati terapi di mobil. Ternyata
Thomas sangat suka dengan sekolah barunya, tiap hari minta sekolah ke Bintaro.
Saya dan suami ambil keputusan
‘nekat’ dalam 2 minggu : pindah rumah ke Bintaro, cari rumah kontrakan. Banyak
teman terkaget-kaget, bahkan kami sendiri juga kadang tidak habis pikir dengan
keputusan kami dulu. Tapi mungkin sudah jalan Tuhan.
Saya dan suami juga sepakat
Andre harus mendapatkan sekolah yang bagus, sehingga saya bisa konsentrasi pada
Thomas, tanpa ‘mengorbankan’ Andre. Syukurlah Andre sangat menyukai sekolah
barunya, prestasinya cukup bagus tanpa saya sering ajari, dan kepercayaan
dirinya meningkat pesat. Kalau dulu dia melabel dirinya hanya pintar gambar dan
Thomas pintar matematika, sekarang semua pelajaran dia suka. Happy ending untuk
Andre.
Untuk Thomas, awal pindah ke
sekolah baru (SS), saya minta dia tetap di Kindy (play group). Pertimbangannya,
walaupun usia dan kemampuan akademis cukup untuk ke TKA, tujuan utama kami
adalah bisa bersosialisasi dengan teman-temannya (social mainstream). Thomas masuk
Kindy tanpa shadow aid, karena guru-gurunya confidence untuk mengatasi Thomas
di kelas. Saya juga percaya saja, karena melihat mereka begitu cekatan dan
kelihatannya tahu persis bagaimana mengatasi Thomas saat ngambek dan bagaimana
cara menjawab pertanyaan teman-teman sekelas tentang perilaku Thomas yang
kadang aneh buat mereka. Dan selama trial juga terbukti Thomas menikmati dan
cukup bisa mengikuti pelajaran, walaupun bi-lingual.
Setelah 2 bulan di Kindy, kami
kembali bertemu guru dan kepala sekolah untuk membicarakan perkembangannya.
Thomas disarankan mencoba ke TKA, karena secara akademis jauh diatas
teman-temannya, sehingga setelah lebih dulu selesai mengerjakan tugas, dia
selalu minta tugas tambahan atau mengganggu teman-teman dengan perilakunya.
Akhirnya naiklah Thomas ke TKA
dan masalah akademis cukup teratasi. Teman-teman barunya yang mungkin karena
lebih dewasa daripada di Kindy, ternyata lebih bisa menerima, menyayangi dan
sangat memperhatikan Thomas. Pada akhirnya peranan mereka memang sangat besar,
karena mulai Januari 2003, ‘social influence’ dari mereka sangat besar buat
Thomas. Untuk mengatasi kelemahan Thomas (misalnya naik lift dan takut suara
keras) bahkan berhasil dengan mengikut sertakan mereka dalam outdoor terapi dan
playday.
Kesediaan sekolah SS untuk
menerima dan membantu Thomas sangat besar, tetapi ‘skill’ mereka untuk
mengatasi special need masih terbatas, bahkan Thomas murid spesial
satu-satunya. Masalah tersebut terlihat saat konsultan ABA bisa menjalin
kerjasama dengan sekolah. Aktivitas Thomas di kelas direkam selama 1 minggu
dengan camcorder, dan dianalisa. Walaupun jauh lebih baik dibanding di sekolah
lama, ternyata masih banyak perilaku Thomas yang ‘inappropriate’, tidur-tiduran
di lantai sementara teman-temannya bernyanyi, pipis/pup di kelas, tertawa
sendiri, sering bengong, dll. Interaksi dengan guru maupun teman juga sangat
minim. Sebenarnya, kalau tidak ada intervensi pihak ke –3, saya sudah jauh
lebih puas melihat kemajuan Thomas sejak sekolah di SS. Yang paling terlihat,
dia sangat suka sekolah barunya, dan saya percaya kalau anak-anak belajar
dengan senang, pasti banyak yang dia bisa pelajari.
Untungnya, guru-guru di SS
sangat rendah hati sekaligus semangat tinggi untuk membantu Thomas: saran untuk
ada Shadow Aid di kelas diterima. Berdasarkan hasil observasi dan pertemuan
rutin dengan guru-guru, di rumah dibuatkan program-program sekolah (school
program) yang didesain khusus untuk mendukung perkembangan di kelas. Salah
satunya pernah diterapkan 5-10 menit pelajaran tambahan sebelum masuk kelas,
khusus untuk pelajaran baru yang Thomas belum tahu, supaya dia confidence di
kelas. Tapi setelah ‘social influence’ mulai kuat (hal yang sangat
menggembirakan, karena berarti Thomas mulai ‘keluar’ dari dunia autisnya),
program ini distop karena Thomas tidak ‘nyaman’ lagi berada sendiri di kelas,
sementara teman-temannya masih main di luar. Yang terjadi dia ajak temannya
masuk ke kelas, atau dia nyusul main ke playground.
Sebisa mungkin pelajaran baru
yang akan diberikan, diinformasikan dulu oleh guru, untuk kami ajarkan dulu di
rumah. Kalaupun ada yang terlewat, pelajaran-pelajaran itu diulang lagi di
rumah sampai Thomas bisa, tetap dengan suasana seperti di kelas. Ruang keluarga
di lantai atas bahkan diatur mirip dengan suasana kelasnya, kadang-kadang kami
undang teman sekelasnya untuk main ‘sekolah-sekolahan’ di rumah. Secara
periodik ada observasi di sekolah, pertemuan dengan guru dan konsultan (PTCC),
dan playday baik dengan teman sekelas maupun dengan gurunya.
Program-program terapi ABA
dirancang ulang dengan prioritas mengatasi kelemahan utama Thomas, misalnya
Attending Skill dan Social Skill, untuk meningkatkan interaksi dengan
teman-teman dan gurunya di sekolah. Kalau sebelumnya dia selalu minta bantuan
shadow aid-nya, pelan-pelan diarahkan untuk minta bantuan guru. Setelah
beberapa lama mulai biasa berinteraksi dengan guru, secara bertahap mulai
dipindahkan ke teman sekelas. Jadi kalau ada yang tidak jelas, atau dia
ketinggalan ‘berita’ dari guru, Thomas
diarahkan untuk bertanya pada teman terdekatnya.
Entah karena memang kurang suka
nyanyi atau ada hubungannya dengan masalah sensory, Thomas sulit sekali
mengikuti aktivitas nyanyi bersama di kelas, walau bisa bernyanyi sendiri
dengan cukup keras dan bagus untuk beberapa lagu yang dia suka. Sampai sekarang
‘nyanyi bersama’ masih menjadi salah satu program terapi di rumah,
kadang-kadang dengan mengundang teman sekelas atau salah satu gurunya. Pada
acara performance akhir cawu I, sementara teman-temannya bernyanyi bersama, Thomas
masih asyik sendiri, kadang keluar dari kelompoknya. Pada acara Idul Fitri
& Natal bersama, karena masih sulit dengan aktivitas kelompok, Thomas
diminta membaca puisi ‘Christmas Day’ sendirian, cukup berhasil dengan latihan
intensif selama 2 minggu. Dan di akhir cawu III, Thomas sudah bisa ikut acara
gerak & lagu (Makarena) dalam kelompok. Dia selalu berusaha mengikuti
gerakan teman-temannya, walau kadang-kadang masih ketinggalan dan sedikit
dibantu shadow aid.
Kemajuan yang luar biasa
menggembirakan kami, karena di awal cawu I Thomas masih sangat tenggelam di
dunia sendiri. Sampai sekarang shadow aid masih berada di kelas, tetapi selain
membantu dalam aktivitas nyanyi bersama atau mendampingi acara-acara fieldtrip,
tugas selebihnya hanya mencatat daily log dan memastikan Thomas makin mandiri.
Begitulah sharing saya tentang
pengalaman pribadi menyekolahkan Thomas. Buat kami sekeluarga semua hal di atas
adalah kemajuan besar, sesuatu yang sangat patut disyukuri. Tetapi mungkin,
bahkan pasti, tidak sama dengan keluarga lain, karena memang kondisi awal anak
berbeda-beda. Sudah pasti cara
penanganan yang paling tepat untuk tiap anak pasti berbeda. Yang mestinya sama
bahwa pengaruhnya sangat besar untuk kemajuan tiap anak adalah komunikasi
dan kerja sama yang baik dengan suami/istri.
Bila pengalaman diatas saya
rangkum jadi satu, jadilah variabel-variabel yang menurut saya harus
benar-benar direncanakan, dipersiapkan dan dipertimbangkan untuk mencapai hasil
terbaik di sekolah, khususnya buat anak-anak dengan special need :
·
Kemampuan bantu diri
·
Kemampuan akademis yang cukup
·
Kemampuan bersosialisasi
·
Komunikasi fungsional
·
Transisi belajar dalam group dan melakukan kegiatan rutin
·
Masalah lain (sensory, Fine/Gross Motor, Medical, Diet,
dll)
·
Ekspektasi / pengharapan yang jelas dan realistis
·
Mental, fisik, knowledge dan skill
·
Kerja sama / kesepakatan untuk mengusahakan yang terbaik,
termasuk dana ekstra untuk pendidikan, SDM, dan materi-materi pendukung
·
Manajemen dengan kebutuhan lain (sibling & anggota
keluarga lain, nafkah, dll)
·
Sumber Daya Manusia (knowlegde, skill, attitude)
·
Fisik (bangunan, tata ruang kelas, mainan, dll)
·
Metode pengajaran, materi, misi sekolah
·
Behaviorist (terapis, konsultan), terapist okupasi,
speech, dll
·
Dokter, Psikiater, Clinical Psi.
·
Kebijaksanaan untuk mengambil keputusan dengan tepat
·
Bimbingan dan petunjuk untuk mempersiapkan no 1 s/d 4 di
atas
·
Ketaatan dan kekuatan untuk tetap menjalankan tugas
sebagai ‘special parent’
·
Iman bahwa Dia maha tahu dan pasti memberikan yang terbaik
buat kita
·
Kerendahan hati bahwa Dialah satu-satunya tempat
bergantung yang paling tepat
Buat kami, jalan mungkin masih
panjang, bahkan masih banyak PR di luar masalah sekolahnya. Saat ini kami juga
belum tahu SD mana yang paling tepat untuk Thomas nanti, tapi pengalaman di
atas sangat menguatkan hati. Harapan kami tahun depan, selain bisa mendapatkan
SD yang tepat (tidak harus besar, megah atau hebat), Thomas juga sudah jauh
lebih mandiri, terapi-terapi jauh berkurang, dan kami mulai bisa kembali hidup
‘normal’. Tentunya hidup kami akan lebih ‘kaya dan bermakna’, karena Tuhan
memberi kami kepercayaan dan pengalaman ‘spesial’ membesarkan special child.
Jakarta, 17 Juni 2003
Wiwie-Diddy
Catatan :
Makalah
ini dibuat khusus untuk sharing masalah sekolah, sehingga kecuali terapi ABA
yang memang berhubungan langsung dengan
kegiatan belajar-mengajar, terapi-terapi lain tidak banyak disinggung.
Walaupun demikian, jauh sebelum sekolah, perjalanan panjang telah dimulai
dengan membangun fondasi dari berbagai macam terapi. Semuanya bekerja sama
untuk mencapai hasil terbaik.
![]()
Interaksi
anda dengan situs ini mengikuti Site Policy kami
Puterakembara ® 2003