ALERGI MAKANAN PADA ANAK
MENGGANGGU OTAK DAN PERILAKU ANAK
Widodo Judarwanto
Children Allergy Center, Rumah Sakit
Bunda Jakarta
1. Pendahuluan
Upaya peningkatan kualitas
Sumber Daya Manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan.
Optimalisasi tumbuh dan kembang Anak sejak dini adalah menjadi prioritas utama,
sehingga kita dapat mencegah atau mengetahui sejak dini gangguan dan kelainan
tumbuh kembang anak.
Beberapa laporan ilmiah
baik di dalam negeri atau luar negeri menunjukkan bahwa angka kejadian alergi
terus meningkat tajam beberapa tahun terahkir. Tampaknya alergi merupakan kasus yang mendominasi
kunjungan penderita di klinik rawat jalan Pelayanan Kesehatan Anak.
Alergi pada anak tidak
sesederhana seperti yang pernah kita ketahui. Sebelumnya kita sering mendengar
dari dokter spesialis penyakit dalam, dokter anak, dokter spesialis yang lain
bahwa alergi itu gejala adalah batuk, pilek, sesak dan gatal. Padahal alergi
dapat menyerang semua organ tanpa terkecuali mulai dari ujung rambut sampai
ujung kaki dengan berbagai bahaya dan komplikasi yang mungkin bisa terjadi.
Terahkir terungkap bahwa alergi ternyata bisa mengganggu fungsi otak, sehingga
sangat mengganggu perkembangan anak Belakangan terungkap bahwa alergi menimbulkan
komplikasi yang cukup berbahaya, karena alergi dapat mengganggu semua organ
atau sistem tubuh kita termasuk gangguan fungsi otak. Karena gangguan fungsi
otak itulah maka timbul ganguan perkembangan dan perilaku pada anak seperti
gangguan konsentrasi, gangguan emosi, keterlambatan bicara, gangguan
konsentrasi hingga autism.
Autism dan berbagai spektrum gejalannya
adalah gangguan perilaku anak yang paling banyak diperhatikan dan kasusnya ada
kecenderungan meningkat dalam waktu terakhir ini. Autism diyakini beberapa
peneliti sebagai kelainan anatomis pada otak secara genetik. Terdapat beberapa
hal yang dapat memicu timbulnya autism tersebut, termasuk pengaruh makanan atau
alergi makanan.
Resiko dan tanda alergi dapat diketahui sejak anak dilahirkan bahkan
sejak dalam kandunganpun kadang-kadang sudah dapat terdeteksi. Alergi itu dapat
dicegah sejak dini dan diharapkan dapat mengoptimalkan Pertumbuhan dan
perkembangan Anak secara optimal.
2. PROSES
TERJADINYA ALERGI MENGGANGGU SISTEM
SUSUNAN SARAF PUSAT
Patofisiologi dan patogenesis(
proses terjadinya penyakit) alergi
mengganggu sistem susunan saraf pusat khususnya fungsi otak masih belum banyak
terungkap. Namun
ada beberapa kemungkinan mekanisme yang bisa menjelaskan, diantaranya adalah :
ALERGI
MENGGANGGU ORGAN SASARAN
Alergi adalah suatu proses inflamasi yang tidak
hanya berupa reaksi cepat dan lambat tetapi juga merupakan proses inflamasi
kronis yang kompleks dipengaruhi faktor
genetik, lingkungan dan pengontrol internal. Berbagai sel mast, basofil,
eosinofil, limfosit dan molekul seperti IgE, mediator sitokin, kemokin
merupakan komponen yang berperanan inflamasi.
Gejala klinis terjadi
karena reaksi imunologik melalui pelepasan beberapa mediator tersebut dapat mengganggu organ tertentu yang disebut organ
sasaran. Organ sasaran tersebut misalnya paru-paru maka manifestasi klinisnya
adalah batuk atau asma bronchial, bila sasarannya kulit akan terlihat sebagai
urtikaria, bila organ sasarannya saluran pencernaan maka gejalanya adalah diare
dan sebagainya. Sistem Susunan Saraf Pusat atau otak juga dapat sebagai organ
sasaran, apalagi otak adalah merupakan organ tubuh yang sensitif dan lemah. Sistem
susunan saraf pusat adalah merupakan pusat koordinasi tubuh dan fungsi luhur. Maka
bisa dibayangkan kalau otak terganggu maka banyak kemungkinan manifestasi
klinik ditimbulkannya termasuk gangguan perilaku pada anak. Apalagi pada alergi
sering terjadi proses inflamasi kronis yang kompleks.
TEORI ABDOMINAL
BRAIN DAN ENTERIC NERVOUS SYSTEM
Pada alergi dapat menimbulkan gangguan
pencernaan baik karena kerusakan dinding saluran pencernan atau karena
disfungsi sistem imun itu sendiri. Sedangkan gangguan pencernaan itu sendiri
ternyata dapat mempengaruhi system susunan saraf pusat termasuk fungsi otak.
Teori gangguan pencernaan berkaitan dengan Sistem susunan saraf pusat
saat ini sedang menjadi perhatian utama kaum klinisi. Penelitian secara
neuropatologis dan imunoneurofisiologis banyak dilaporkan. Teori inilah juga
yang menjelaskan tentang salah satu mekanisme terjadinya gangguan perilaku
seperti autism melalui Intestinal Hypermeability atau dikenal dengan Leaky Gut
Syndrome. Golan dan Strauss tahun 1986
melaporkan adanya Abdominal epilepsy, yaitu adanya gangguan pencernaan
yang dapat mengakibatkan epilepsi.
KETERKAITAN
HORMONAL DENGAN ALERGI
Keterkaitan hormon dengan peristiwa alergi
dilaporkan oleh banyak penelitian.
Sedangatan perubahan hormonal itu sendiri tentunya dapat mengakibatkan
manifestasi klinik tersendiri.
Lynch JS tahun 2001
mengemukakan bahwa pengaruh hormonal juga terjadi pada penderita rhinitis
alergika pada kehamilan. Sedangkan
Landstra dkk tahun 2001 melaporkan terjadi perubahan penurunan secara
bermakna hormone cortisol pada penderita asma bronchial saat malam hari.
Penemuan bermakna dilaporkan Kretszh dan konitzky 1998, bahwa hormon
alergi mempengarugi beberapa manifestasi klinis sepereti endometriosis dan
premenstrual syndrome. Beberapa laporan lainnya menunjukkan keterkaitan alergi
dengan perubahan hormonal diantaranya adalah cortisol, metabolic, progesterone
dan adrenalin.
Pada penderita alergi
didapatkan penurunan hormon kortisol, esterogen dan metabolik. Penurunan
hormone cortisol dapat menyebabkan allergy fatigue stresse, sedangkan penurunan
hormone metabolic dapat mengakibatkan perubahan berat badan yang bermakna.
Hormona lain uang menurun adalah hormone esterogen.
Alergi juga dikaitkan
dengan peningkatan hormone adrenalin dan progesterone. Peningkatan hormon
adrenalin menimbulkan manifestasi klinis mood swing, dan kecemasan. Sedangkan penongkatan hormone progesterone mengakibatkan gangguan kulit,
Pre menstrual Syndrome, Fatigue dan kerontokan rambut.


Gambar 1 . Beberapa
Hormon yang berkaitan dengan alergi dan gejalanya
3. ALERGI,
SISTEM SUSUNAN SARAF PUSAT DAN GANGGUAN
PERKEMBANGAN-
PERILAKU
Sistem susunan saraf pusat adalah bagian yang
paling lemah dan sensitif dibandingkan organ tubuh lainnya. Otak adalah
merupakan pusat segala koordinasi sistem tubuh dan fungsi luhur. Sedangkan
alergi dengan berbagai akibat yang bisa mengganggu organ sistem susunan saraf
pusat dan disfungsi sistem imun itu sendiri tampaknya menimbulkan banyak
manifestasi klinik yang dapat mengganggu perkembangan dan perilaku seorang
anak.
Ada 2 hal yang berbeda antara
hubungan gangguan alergi dan gangguan sistem susunan saraf pusat. Perbedaan
tersebut tergantung dari ada tidaknya kelainan organik otak. Bila terdapat
gangguan organik di otak seperti autism
atau adanya fokus di otak lainnya maka proses alergi hanyalah memperberat atau
mencetuskan timbulnya gejala. Bila tidak ada kelainan anatomis otak maka
kemungkinan besar proses alergi sangat berkaitan dengan kelainan tersebut. Biasanya bila organ otak tidak ada kelainan atau penyakit lainnya maka pengaruh
alergi pada otak biasanya prognosis baik dan gejalanya tidak berat.
Namun bila didapatkan
autism atau gangguan organik otak lainnya maka prognosisnya lebih buruk. Namun
bila gangguan tersebut diperberat oleh pencetus alergi maka penatalaksanaan alergi
dengan pengaturan diet dapat mengurangi gejalanya.
Dampak Penyakit Alergi
pada Fungsi Otak, diamati oleh G. Kay, Associate Professor Neurology dan Psychology Georgetown University School
of Medicine Washington. Dampak penyakit alergi pada fungsi otak bermanifestasi
sebagai menurunnya kualitas hidup, menurunnya suasana kerja yang baik, dan
menurunnya efisiensi fungsi kognitif. Pasien dengan rinitis alergik dilaporkan
mengalami penurunan kualitas hidup yang sama dengan yang dialami pasien-pasien
dengan asma atau penyakit kronik serius lainnya. Penyakit alergi tidak saja
mengganggu fungsi sosial dan pekerjaan tetapi juga mengganggu aktivitas di
waktu luang.
Beberapa studi empiris
menunjukkan efek alergi terhadap fungsi kognitif dan mood. Marshall dan Colon tahun
1989 membuktikan bahwa pada kelompok pasien dengan rinitis alergi musiman
mempunyai fungsi belajar verbal dan mood yang lebih buruk dibandingkan dengan
kelompok pasien tanpa serangan alergi. Pada dua penelitian yang dilakukan oleh
Vuurman, dkk dibuktikan bahwa kemampuan mengerjakan tugas sekolah pada
murid-murid penderita alergi lebih buruk dibandingkan kemampuan murid-murid
lain dengan usia dan IQ yang sesuai tetapi tidak memiliki bakat alergi
(non-atopik).
Beberapa
peneliti lain menunjukkan adanya hubungan antara penyakit alergi dengan
gangguan kepribadian seperti sifat pemalu dan sifat agresif. Pada tes
kepribadian dapat terlihat bahwa pasien-pasien alergi lebih bersifat
mengutamakan tindakan fisik, lebih sulit menyesuaikan diri dalam lingkungan
sosial, dan mempunyai mekanisme defensif yang kurang baik. Jumlah serangan
alergi yang dilaporkan oleh pasien ternyata berhubungan dengan meningkatnya
kecemasan, depresi, kesulitan berkonsentrasi, dan kesulitan menyesuaikan diri
dengan lingkungan sosial.
Alergi
yang berkaitan dengan gangguan system susunan saraf pusat dapat menimbulkan
beberapa manifestasi klinik, diantara dapat mengganggu neuroanatomi dan
neuroanatomi fungsional.
A.GANGGUAN
NEUROANATOMI
Alergi dengan berbagai mekanisme yang berkaitan
dengan gangguan neuroanatomi tubuh dapat menimbulkan beberapa manifestasi
klinis seperti sakit kepala, migrain, vertigo, kehilangan sesaat memori (lupa).
Beberapa penelitian menunjukkan hal
tersebut, misalnya Krotzky tahun 1992 mengatakan migraine, vertigo dan sakit
kepala dapat disebabkan karena makanan alergi atau kimiawi lainnya.
Strel'bitskaia tahun 1974 mengemukakan
bahwa pada penderita asma didapat gangguan aktifitas listrik di otak, meskipun
saat itu belum bisa dilaporkan kaitannya dengan manifestasi klinik.
B.GANGGUAN
NEURO ANATOMI FUNGSIONAL (GANGGUAN PERKEMBANGAN DAN PERILAKU)
Reaksi alergi dengan berbagai manifestasi klinik
ke sistem susunan saraf pusat dapat mengganggu neuroanatomi fungsional,
selanjutnya akan mengganggu perkembangan.
Yang dimaksud dengan gangguan perkembangan
adalah gangguan fungsi psikomotor yang mencakup fungsi mental dan fungsi
motorik. Anggota gerak kita atau organ tulang rangka kita dapat juga terkena
gangguan perkembangan.
GANGGUAN
MOTORIK BERLEBIHAN
Pada bayi baru lahir ditandai dengan gerakan
kaki dan tangan yang berlebihan, tampak bayi tidak mau diselimuti atau dibedong. Bila digendong sering minta
turun atau sering bergerak. Pada usia 4 hingga 6 bulan sudah berusaha untuk
jalan, padahal kemampuan berjalan normal pada usia 12 bulan. Kadang menghentakkan kepala ke belakang-membentur
benturkan kepala. Pada usia lebih besar tampak tidak mau diam, bergerak terus
tak tentu arah tujuannya. Disertai kebiasaan menjatuhkan badan secara keras ke
tempat tidur (smack down).
GANGGUAN
KOORDINASI DAN KESEIMBANGAN
Gangguan koordinasi yang dapat diamati adalah
biasanya anak tidak mengikuti atau melewati fase perkembangan normal sesuai
dengan usianya. Pola perkembangan motorik yang terganggu biasanya adalah bolak-balik badan, duduk, merangkak, berdiri atau berjalan.
Beberapa anak kadang tidak mengikuti pola tersebut, misalnya anak tidak
mengalami duduk atau merangkak tapi langsung berjalan atau bias berdiri dahulu
baru duduk. Selain itu anak tidak mengikuti pola normal perkembangan motorik
sesuai usia, misalnya baru bias bolak-balik baru usia di atas 5 bulan atau
duduk usia 11 bulan.
Pada usia lebih besar atau di atas 1 tahun,
ditandai oleh aftifitas berjalan seperti terburu-buru atau cepat sehingga
kemampuan berjalan terlambat. Bila berjalan sering jatuh, atau menabrak benda
di sekitarnya. Kebiasaan lainnya adalah bila berjalan jinjit atau bila duduk
bersimpuh posisi kaki ke belakang seperti huruf W.
GANGGUAN
TIDUR
Gangguan tidur banyak
sekali penyebabnya, alergi pada anak tampaknya
sebagai salah satu penyebab yang paling sering. Tirosh tahun 1993 dalam
penelitiannya menyebutkan bahwa apada penderita asma dan alergi sering disertai
oleh adanya gangguan tidur berupa sering terjaga waktu tidur, lama tidur lebih
pendek dan gangguan tidur lainnya.
Gangguan tidur pada
alergi bisa terjadi sejak bayi. Pada penelitian kami menunjukkan bahwa bayi
yang beresiko dan mempunyai gejala
alergi sejak lahir sering pada 3 bulan pertama mengalami kesulitan tidur
terutama pada malam hari. Biasanya bayi sering terbangun terutama tengah malam
hingga menjelang pagi, kadang disertai sering rewel dan menangis pada malam
hari.Bila berat biasanya disertai dengan keluhan kolik (menangis histeris yang
tidak diketahui sebabnya). Pada usia yang lebih besar biasanya ditandai dengan
awal jam tidur yang larut malam, tidur sering gelisah (bolak balik posisi
badannya), kadang dalam keadaan tidur sering mengigau, menangis dan berteriak.
Posisi tidurpun sering berpindah dari ujung ke ujung lain tempat tidur. Tengah
malam sering terjaga tidurnya hingga
pagi hari, tiba-tiba duduk kemudian tidur lagi, posisi tidur sering tengkurap.
Pada anak usia sekolah,
remaja dan dewasa biasanya ditandai dengan mimpi buruk pada malam hari. Mimpi
buruk yang tersering dialami adalah mimpi yang menyeramkan seperti didatangi
orang yang sudah meninggal atau bertemu binatang yang menakutkan seperti ular.
Judarwanto W tahun 2002
mengemukakan bahwa dalam pengamatan pada 245 anak dengan gangguan pencernaan karena alergi, didapatkan 80% anak
mengalami gangguan tidur malam. Setelah
dilakukan penatalaksanaan diet alergi, menunjukkan 90% penderita tersebut terdapat perbaikan gangguan tidurnya.
GANGGUAN
KONSENTRASI
Anak mengalami gangguan pemusatan perhatian,
sering bosan terhadap suatu pekerjaan atau kegiatan kecuali jika menonton
televise. Anak tampak tidak bisa duduk lama di kursi. Di kelas tidak dapat
tenang menerima pelajaran , sering mengobrol, mengganggu teman dll, bila
mendapat mendengar cerita tidak bisa mendengar atau mengikuti dalam waktu lama.
Yang menonjol meskipun tampak tidak memperhatikan bila berkomunikasi tetapi anak dapat merespon komunikasi itu
dengan baik dan cepat.
KETERLAMBATAN
BICARA ATAU GANGGUAN BICARA
Salah satu manifestasi
alergi pada anak adalah keterlambatan bicara. Keterlambatan bicara bila
disertai manifestasi alergi yang dominan pada anak maka harus dievaluasi lebih
jauh apakah ada keterkaitan antara 2 hal tersebut. Beberapa penelitian
menunjukkan adanya gangguan hemisfer dominan. Penyimpangan ini biasanya merujuk
ke otak kiri. Beberapa anak juga ditemukan penyimpangan belahan otak kanan,
korpus kalosum dan lintasan pendengaran yang berhubungan. Diduga manifestasi
alergi ikut berperanan memperberat gangguan yang sudah ada tersebut.
Gangguan bicara pada
alergi biasanya membaik secara pesat setelah usia 2 tahun. Hal ini mungkin yang
bisa menjelaskan akan keterkaitan gangguan pencernaan pada alergi yang
mengganggu fungsi otak. Dimana gangguan pencernaan pada penderita alergi akan
membaik pada usia 2 tahun juga.
Kemungkinan adanya
kesulitan berbahasa harus difikirkan bila seorang anak terlambat mencapai
tahapan unit bahasa yang sesuai untuk umurnya. Unit bahasa tersebut dapat
berupa suara, kata, dan kalimat. Selanjutnya fungsi berbahasa diatur pula oleh
aturan tata bahasa, yaitu bagaimana suara membentuk kata, kata membentuk
kalimat yang benar dan seterusnya.
Keterlambatan bicara
terjadi pada 3-15% anak, dan merupakan kelainan perkembangan yang paling sering
terjadi. Sebanyak 1% anak mengalami keterlambatan bicara tetap tidak dapat
bicara. Tiga puluh persen diantara anak yang mengalami keterlambatan ringan
akan sembuh sendiri, tetapi 70% diantaranya akan mengalami kesulitan berbahasa,
kurang pandai atau berbagai kesulitan belajar lainnya. Biasanya keluhan ringan inilah yang berkaitan langsung dengan
gangguan alergi
Manifestasi alergi yang
timbul berulang dan terus menerus lebih dari 2 minggu, dapat mempengaruhi
gangguan bicara pada bayi tertentu di bawah 1 tahun. Kemampuan bicara bisa di
evaluasi sejak lahir. Kemampuan berbicara tersebut harus diperhatikan cermat dengan
mengamati secara teliti menghilang atau
berkurangnya bunyi-bunyian yang di mulut (babbling/ngoceh). Beberapa kata yang
biasa diucapkan seperti ba, da, ma,
atau pa tiba-tiba menghilang pada
usia tertentu. Setelah manifestasi
alergi diperbaiki dengan penatalaksanaan diet tampak kemampuan tersebut membaik
lagi. Hal ini menunjukkan secara jelas bahwa memang keterlambatan bicara bisa
dipengaruhi oleh gangguan alergi.
Gangguan bicara lainnya bisa
terjadi adalah disleksia, echolalia (menirukan setiap perkataan orang lain) dan
stuttering (gagap).
AGRESIF
Tanda agresif pada bayi sudah bisa diamati pada
kebiasaan menggigit dan menjilat yang
berlebihan. Pada bayi muda dilihat dari kebiasaan bayi memasukkan semua tangan
bahkan sampai memasukkan kaki ke mulut. Pada usia lebih dari 6 bulan sudah
tampak aktifitas menggigit yang berlebihan ditandai oleh gigitan pada tangan,
pundak atau mulut orang yang menggendong. Sedangkan kebiasaan menjilat yang berlebihan
ditandai dengan aktifitas menjilat pada semua barang yang dipegang, pada sprei
dan permukaan meja.
Kecenderungan
lainnya adalah pada usia di atas 6 bulan mulai sering memukul muka, kepala orang
lain atau kepala sendiri. Kebiasaan lainnya adalah menjambak rambut sendiri atau rambut orang lain. Bila usia lebih
besar biasanya tidak hanya memukul dengan tangan tetapi juga kebiasaan memukul
dengan tongkat pada benda di sekitarnya. Di atas usia 1 tahun selain memukul
ditambah dengan kebiasaan mencakar dan mencubit orang lain. Kadangkala juga
tampak kebiasaan melempar mainan atau benda yang dipegang secara berlebihan.
GANGGUAN
EMOSI
Gangguan emosi sering terjadi pada anak alergi.
Pada bayi sudah tampak bahwa bayi kalau berteriak sangat keras, bila minta
minum sering tidak sabaran. Pada anak yang lebih besar tampak mudah marah, gampang
berteriak, bila marah sering histeris, melempar benda yang dipegang hingga
temper tantrum, sering membentur kepala atau memukul kepala.
HIPERKINESIA
Gangguan hiperkinesia yang terjadi adalah
overaktif, sulit mengontrol tubuhnya untuk diam, anak selalu bergerak dan
tampak tidak tenang, sulit konsentrasi, hingga ADHD. Meskipun
diduga ADHD kemungkinan terjadi
gangguan organic dari otak.
AUTISM DAN ALERGI
Autisma adalah gangguan perkembangan pervasif
pada anak yang ditandai dengan adanya gangguan dan keterlambatan dalam bidang
kognitif, bahasa, perilaku, komunikasi dan interaksi sosial.
Autism hingga saat ini
masih belum jelas penyebabnya. Tetapi penelitian biomolekular sudah dapat
mengidentifikasi pola DNA penderita Autism, artinya kemungkinan sudah ada bakat
genetik pada kelainan ini. Tetapi beberapa penelitian menunjukkan keluhan
autism dipengaruhi dan diperberat oleh
banyak hal, salah satunya karena manifestasi alergi. Renzoni A dkk tahun 1995
melaporkan autism berkaitan erat dengan
alergi. Menage P tahun 1992 mengemukakan bahwa didapatkan kaitan IgE dengan
penderita Autism.
Hal ini dapat juga dibuktikan dalam beberapa
penelitian yang menunjukkan adanya perbaikan
gejala pada anak autism yang
menderita alergi, setelah dilakukan penanganan elimnasi diet alergi. Beberapa laporan lain mengatakan bahwa gejala
autism semakin buruk bila manifestasi alergi itu timbul.
4. HUBUNGAN
ALERGI DENGAN FUNGSI OTAK LAINNYA
Storfer dkk tahun 2001
dalam penelitiannya terhadap penderita 2.720 anak dengan asma
dan alergi lainnya, terdapat kecenderungan kemampuan intelegensianya lebih
tinggi dibandingkan dengan anak lainnya.
Hazzel
tahun 2000, menambahkan selain intelektual yang baik biasanya anak alergi dan
asma mempunyai inisiatif yang menonjol dan kemampuan kreatifitas yang bagus. Kecenderungan
lainnya terdapat 2 kali lebih besar terjadinya myopia pada anak asma dengan
multipel alergi, meskipun hubuhngan tersebut dapat dikaitkan secara langsung.
5. PENATALAKSANAAN
Penanganan alergi pada
anak haruslah dilakukan secara benar, paripurna dan berkesinambungan. Pemberian obat terus
menerus bukanlah jalan terbaik dalam penanganan alergi, tetapi yang paling
ideal adalah menghindari penyebab yang bisa menimbulkan keluhan alergi
tersebut.
Penanganan
khusus alergi pada anak dengan gangguan perkembangan dan kelainan perilaku
lainnya adalah harus melibatkan
beberapa disiplin ilmu, karena harus dipastikan bahwa tidak ada kelainan
organik, sistemik atau psikologis lainnya. Sehingga bila perlu dikonsultasikan
pada neurology anak, psikiater anak, dokter anak minat tumbuh kembang,
endokrinologi anak dan gastroenterologi anak.
Namun bila pendapat dari beberapa ahli
tersebut bertentangan dan manifestasi alergi lainnya jelas pada anak tersebut,
maka tidak ada salahnya kita lakukan penatalaksanaan alergi makanan dengan
eliminasi terbuka. Pengobatan tersebut harus dievaluasi dalam 2 atau 3 minggu
dengan memakai catatan harian. Bila gangguan perkembangan dan perilaku tersebut
terdapat perbaikkan maka dapat dipastikan bahwa gangguan tersebut penyebab atau
pencetusnya adalah alergi.
Sedangkan
untuk mengatasi gejala gangguan perkembangan dan perilaku yang sudah ada dapat dilakukan pendekatan terapi
dengan terapi okupasi, terapi bicara, terapi sensory integration, hearing atau vision therapy dan
sebagainya.
6. PENYEBAB SELAIN ALERGI MAKAN
Terdapat juga beberapa makanan yang
dapat mengganggu otak tetapi tidak melalui reaksi imunologi melainkan karena
raksi simpang makanan atau intoleransi makanan diantaranya adalah salisilat, tartarzine
(zat pewarna makanan), nitrat, amine, MSG(monosodium Glutamat), antioksidan,
yeast, lactose, benzoate,
Salicylates ; ditemukan dalam buah, saur, kacang, the, kopi, bir, anggur dan obat-obatan
seperti aspirherbs, spices, spreads,
teas & coffee, juices, beer and wines and medications such as Aspirin.
Konsestrasi tinggi terdapat dalam dried fruits seperti sultanas.
Amines ; diproduksi selama fermentasi dan
pemecahan protein ditemukan dalam keju, coklat, anggur, bir, tempe, sayur dan
buah seperti pisang, alpukat dan tomat.
Benzoates ; ditemukan dalam beberapa
buah, sayur, kacang, anggur, kopi dan sebagainya.
Monososodium glutamate (MSG) ; Sering
ditemukan pada penyedap makanan : vetsin, kecap, atau makanan lainnya
Laktose : sering terdapat di dalam susu sapi
Glutamate; banyak didapatkan pada
tomat, keju, mushrooms, saus, ekstrak daging dan jamur.
7. PROGNOSIS
Prognosis
gangguan perkembangan dan perilaku yang berkaitan dengan alergi tergantung dari
ada tidaknya kelainan organik otak seperti autism atau adanya focus di otak.
Bila dipastikan tidak ada kelainan anatomis otak maka prognosisnya akan lebih
baik. Biasanya bila gangguan tersebut dikendalikan maka akan terlihat secara
drastis perbaikkan gangguan perkembangan dan perilaku tersebut. Pada gangguan
jenis ini usia di atas 2 hingga 5 tahun ada kecenderungan membaik.
Namun bila didapatkan autism atau gangguan organik otak
lainnya maka prognosisnya lebih buruk. Namun bila gangguan tersebut diperberat
oleh pencetus alergi maka penatalaksanaan alergi dengan pengaturan diet akan
sangat banyak membantu.
8. PENUTUP
Permasalahan alergi pada anak tampaknya tidak sesederhana
seperti yang diketahui. Sering berulangnya penyakit, demikian luasnya sistem
tubuh yang terganggu dan bahaya komplikasi yang terjadi tampaknya merupakan akibat yang harus lebih
diperhatikan demi terbentuknya tumbuhan dan kembang anak yang optimal.
Gangguan alergi dengan berbagai dugaan mekanismenya ternyata
dapat menggganggu neuroanatomis dan neuroanatomis fungsional yang mengkibatkan
gangguan perkembangan dan perilaku pada anak.
Resiko dan gejala alergi bisa diketahui dan di deteksi sejak
dalam kandungan dan sejak lahir, sehingga pencegahan gejala alergi dapat
dilakukan sedini mungkin. Resiko terjadinya komplikasi dan gangguan sistem
susunan saraf pusat diharapkan dapat dikurangi.
Penanganan khusus alergi pada anak dengan gangguan
perkembangan dan kelainan perilaku lainnya adalah harus melibatkan beberapa disiplin ilmu, karena harus dipastikan
bahwa tidak ada kelainan organik, sistemik atau psikologis lainnya. Bila perlu
dikonsultasikan pada neurology anak, psikiater anak, dokter anak minat tumbuh
kembang, endokrinologi anak dan gastroenterologi anak. Bila pendapat dari
beberapa ahli tersebut bertentangan dan gangguan anatomis otak belum jelas,
bisa saja dilakukan penatalaksanaan alergi makanan dengan diet eliminasi
terbuka evaluasi perubahan atau perbaikan dari gangguan perilaku yang timbul.
1.
Landstra AM, Postma DS,
Boezen HM, van Aalderen WM. Role of serum cortisol levels in children with asthma. Am J
Respir Crit Care Med 2002 Mar 1;165(5):708-12
Related Articles, Books, LinkOut
2.
Kretszh, Konitzky. Differential Behavior
Effects of Gonadal Steroids in Women And In Those Without Premenstrual
3.
Lynch JS. Hormonal influences on
rhinitis in women. Program and abstracts of 4th Annual Conference of the
National Association of Nurse Practitioners in Women's Health. October 10-13,
2001; Orlando, Florida. Concurrent Session K New England Journal of Medicine
1998:1246142-156.
4.
Bazyka AP, Logunov VP. Effect of allergens
on the reaction of the central and autonomic nervous systems in sensitized
patients with various dermatoses] Vestn Dermatol Venerol 1976 Jan;(1):9-14
5.
Stubner UP, Gruber D,
Berger UE, Toth J, Marks B, Huber J, Horak F. The influence of female sex hormones on
nasal reactivity in seasonal allergic rhinitis. Allergy 1999
Aug;54(8):865-71
6.
Renzoni E, Beltrami V, Sestini P, Pompella A, Menchetti G,
Zappella M. Brief report: allergological evaluation
of children with autism.: J Autism Dev Disord 1995 Jun;25(3):327-33
7.
Menage P, Thibault G, Martineau J, Herault J, Muh JP, Barthelemy
C, Lelord G, Bardos P. An IgE mechanism in autistic
hypersensitivity? .Biol Psychiatry 1992 Jan 15;31(2):210-2
8.
Strel'bitskaia RF, Bakulin MP,
Kruglov BV. Bioelectric
activity of cerebral cortex in children with asthma.Pediatriia 1975
Oct;(10):40-3.
9.
O'Banion D, Armstrong B, Cummings RA,
Stange J. Disruptive
behavior: a dietary approach. J Autism Child Schizophr 1978 Sep;8(3):325-37.
10. Boris, M & Mandel, E. Food additives are common causes of the Attention Deficit
Hyperactivity Disorder in Children. Annals of Allergy 1994; 75(5); 462-8
11. Carter, C M et al. Effects of a few foods diet in
attention deficit disorder. Archives of Disease in Childhood (69) 1993;
564-8
12. Egger, J et al.
Controlled trial of oligoantigenic treatment in the hyperkinetic syndrome. Lancet
(1) 1985: 540-5
13. Loblay, R & Swain, A. Food intolerance In Wahlqvist M and Truswell, A
(Eds) Recent Advances in Clinical Nutrition. John Libby, London. 1086.pp.1659-177.
14. Rowe, K S & Rowe, K L. Synthetic food colouring and behaviour: a
dose-response effect in a double-blind, placebo-controled, repeated-measures
study. Journal of Paediatrics (125);1994;691-698.
15. Ward, N I. Assessment of chemical factors in relation to child hyperactivity.
J.Nutr.& Env.Med. (ABINGDON) 7(4);1997:333-342.
16. Trotsky MB. Neurogenic vascular headaches, food and
chemical triggers. Ear Nose Throat J.
1994;73(4):228-230, 225-236.
17. Overview Allergy Hormone.
htpp://www.allergycenter/allergy Hormone.
18. Allergy induced Behaviour
Problems in chlidren . htpp://www.allergies/wkm/behaviour.
19. Brain allergic in
Children.htpp://www.allergycenter/UCK/allergy.
20. William H., Md Philpott, Dwight K., Phd Kalita, Dwight K.
Kalita PhD, Linus Pauling PhD, Linus. Pauling, William H. Philpott MD. Brain Allergies: The
Psychonutrient and Magnetic Connections.
21. Ray C, Wunderlich, Susan PPrwscott. Allergy, Brains, and
Children Coping. London.2003
22. Hall K. Allergy of the nervous system : a reviewAnn Allergy 1976
Jan;36(1):49-64.
23. Doris J Rapp. Allergies and the Hyperactive Child
24. Bentley D, Katchburian A, Brostoff J. Abdominal migraine
and food sensitivity in children. Clinical Allergy 1984;14:499-500.
25. Vaughan TR. The role of food in the pathogenesis of
migraine headache. Clin Rev Allergy 1994;12:167-180.