SEKOLAH TEPAT
Bagi Anak Berkebutuhan Khusus
Oleh: Damar Kristianto
10/26/2010
SEKOLAH YANG TEPAT
Bagi orang tua anak berkebutuhan khusus (ABK atau SN = Special Needs), mencari sekolah merupakan suatu perjuangan tersendiri. Hal ini terjadi pada seluruh jenjang pendidikan, mulai dari usia pra-sekolah, pendidikan dasar, menengah dan pendidikan tinggi.
Ada anggapan bahwa ABK memiliki kecerdasan akademis yang tinggi (di atas rata-rata). Suatu anggapan yang tidak tepat, karena seperti juga pada anak-anak umumnya, tidak banyak ABK yang dikaruniai kecerdasan di atas rata-rata. Banyak ABK yang hanya memiliki kemampuan akademis biasa saja, dan ada pula yang di bawah rata-rata.
Apakah setiap ABK dapat mengikuti pendidikan di sekolah umum? Hal ini kembali kepada kemampuan masing-masing anak. ABK dengan kemampuan akademis rata-rata dan tinggi, verbal, mampu menerima dan mengikuti perintah verbal memiliki potensi untuk dapat mengikuti pendidikan di sekolah umum dengan beberapa perlakuan khusus, yang akan dibahas pada paragraf berikut. Sedangkan ABK dengan kemampuan akademis di bawah rata-rata, sebaiknya mengikuti pendidikan di sekolah khusus atau non-formal seperti terapi atau home schooling, karena kebutuhan mereka yang utama biasanya bukan pada bidang akademis.
SELAMA DI SEKOLAH
ABK pada umumnya memiliki kesulitan untuk dapat mengikuti pola pendidikan massal yang diterapkan di sekolah umum, walaupun kemampuan akademis cukup baik atau bahkan di atas rata-rata. Hal ini terkait dengan kemampuan sensory yang tidak sama dengan anak-anak pada umumnya. Contohnya, pada ABK yang memiliki hipersensitivitas pada suara, akan sangat tersiksa dengan suara berisik di dalam kelas yang berisi 40 orang anak. Seumpama anda berada tepat di samping mesin pesawat jet yang sedang bekerja, dan anda harus mendengarkan suara rekan anda yang berdiri beberapa meter di depan anda. Sudah pasti anda tidak dapat mendengarkan suara rekan anda karena kalah oleh bisingnya suara mesin jet.
Tidak hanya hipersensitif pada suara, pada kasus lain ada yang memiliki rentang konsentrasi sangat pendek sehingga sulit fokus pada materi yang sedang diberikan, hiperaktif, dan lain sebagainya. Sehingga seringkali dikategorikan sebagai anak-anak dengan kesulitan belajar. Tidak hanya itu, dengan berbagai hambatan yang dimiliki, dan tuntutan kelas, ABK seringkali stress karena overload dengan berbagai stimulasi sensory, sehingga muncul berbagai perilaku yang seringkali mengganggu proses belajar di kelas seperti menangis, berteriak, berceloteh, dan lain sebagainya.
Dengan berbagai masalah di atas, tidak setiap sekolah mampu menerima ABK dan banyak sekolah umum yang menolak untuk menerima ABK sebagai siswanya. Pada sekolah yang menerima ABK, tidak banyak yang siap mengelola pendidikan bagi ABK sebagai muridnya karena pengetahuan pihak sekolah (kepala sekolah, guru dan pemilik sekolah/yayasan) yang belum memadai mengenai penanganan ABK di kelas. Pengetahuan yang harus dimiliki meliputi bagaimana penanganan perilaku ABK di dalam kelas (stress, tantrum, distraksi, pengalihan dan sebagainya) dan di luar kelas (bersosialisasi, bergiliran, bermain bersama, dan sebagainya), tidak hanya itu, juga diperlukan kemampuan untuk berempati dan memotivasi anak-anak lainnya untuk dapat memahami kondisi teman ABK mereka serta bersama-sama menciptakan lingkungan yang kondusif bagi kebaikan dan perkembangan bersama.
Apakah setelah berada di sekolah, orang tua dapat menyerahkan ABK sepenuhnya pada guru? Guru hanya mengetahui kondisi ABK saat berada di sekolah, namun guru tidak mengetahui bagaimana kondisi sehari-hari dan kebiasaan ABK di luar sekolah. Orang tua adalah pihak yang paling mengenali sang anak, bagaimana perilaku anak, bagaimana penanganannya, karena setiap ABK membutuhkan penanganan yang sangat spesifik berbeda antara satu dengan lainnya. Sehingga guru juga sangat membutuhkan masukan dari orang tua mengenai cara-cara penanganan perilaku, proses belajar (visual, kinestetik, auditory dan sebagainya), kebiasaan-kebiasaan yang dapat membantu serta menghambat proses belajar di sekolah. Dengan keterbukaan, pihak sekolah juga dapat menilai apakah ABK memerlukan guru pendamping khusus (shadow) di sekolah atau tidak, bantuan apa yang mungkin akan diperlukan ABK di sekolah.
Di lain pihak, orang tua juga wajib mempersiapkan ABK untuk dapat mengikuti proses belajar di sekolah, seperti kemampuan anak untuk mengikuti perintah dan bekerjasama, perilaku yang sesuai di kelas, kemandirian (toileting, makan di kantin, berganti baju, menggunakan sepatu dan sebagainya). Karena ABK yang belum disiapkan untuk mengikuti kegiatan belajar di kelas berpotensi untuk mengganggu lingkungan kelasnya, yang akhirnya tidak hanya merugikan ABK sendiri tetapi juga anak-anak lainnya.
Dalam hal akademis, ABK dengan segala keterbatasannya sering kali memerlukan kurikulum khusus yang sesuai bagi dirinya. Dalam hal ini diperlukan keterbukaan sekolah bersama orang tua dan profesional terkait (psikolog, terapis, dan lain-lain) untuk merancang kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan dan keterbatasan ABK. Hal-hal yang dibicarakan dapat meliputi materi apa saja yang akan diberikan, bagaimana metode memberikan materi, target apa saja yang akan dicapai serta berapa lama akan dicapai. Hal ini penting, agar antara guru di sekolah, terapis di luar sekolah dan orang tua di rumah, memiliki harapan dan pemahaman yang sama serta cara yang sama dalam memberikan materi pada ABK, sehingga anak tidak mengalami kebingungan. Sebetulnya hal tersebut juga diperlukan untuk anak-anak lainnya.
Lingkungan sekolah juga berperan penting dalam menunjang proses belajar, seperti kelas yang tidak terlalu banyak jumlah muridnya, tempat bermain yang aman, dan lain-lain.
Bagaimana dengan sekolah menengah? Pada tahapan ini, tuntutan terhadap anak juga berubah, murid dituntut untuk lebih banyak melakukan kerja tim dan problem solving secara mandiri, di lain sisi, peran guru juga berubah. Guru lebih banyak fokus pada bidang studi tertentu, dan peran guru kelas tidak lagi dominan. Di sisi lain, pergaulan antar teman juga berubah, masa pubertas, pencarian identitas diri, serta anak dituntut oleh lingkungannya untuk lebih bertanggung jawab terhadap dirinya. Seringkali ABK mengalami berbagai kesulitan untuk dapat memahami norma-norma sosial di lingkungannya, serta menyesuaikan diri dengan perubahan-perubahan fisiknya dalam memasuki masa pubertas.
ALTERNATIF LAIN DI LUAR SEKOLAH
Jika ABK mengalami kesulitan yang tidak memungkinkan dirinya mengikuti pendidikan formal akademis di sekolah, baik sejak di tingkat pendidikan dasar, menengah atau tinggi, saat ini ada berbagai alternatif untuk dapat tetap mengikuti pendidikan baik seperti di sekolah khusus, home schooling, tempat terapi dan lain-lain sebagainya.
Selain pendidikan formal, hal penting lainnya yang harus dipelajari ABK di luar sekolah adalah menjalani kehidupannya dengan mandiri, rutinitas harian seperti mengelola uang (belanja, menabung, dan lain-lain), kebersihan diri, bepergian di sekitar rumah atau yang lebih jauh dan sebagainya. Hal-hal tersebut tentu saja tidak dipelajari di sekolah dan orang tua berkewajiban mempersiapkannya.