Jonnah
Jonnah Samuel Natanael Girsang

07/22/2009


Oleh Ibu Dewi Uniyati (Bunda Jonnah)

Hari ini adalah hari pertama saya kembali ke kantor setelah 5 hari libur lebaran dan dilanjutkan 5 hari cuti karena suster dan pembantu pulang kampung. Tak pernah terbayangkan sedikitpun di benak saya, di hari ketiga saya cuti, tanggal 1 November 2006, pkl. 5 sore, saya harus menyaksikan kepergian anak tercinta : JONNAH SAMUEL NATANAEL GIRSANG, di usianya yang ke 6 tahun, 3 bulan, 16 hari.

Jonnah pergi setelah muntah-muntah sejak Sabtu tgl 28 Oktober 2006, ke dokter, kemudian masuk rumah sakit pada hari Selasa, sudah diinfus, tapi kondisinya memburuk mulai hari Rabu pagi, kemudian masuk ICU dan sudah tidak sadar lagi sejak itu.

Dulu, saya pernah menulis di milis, saya tidak bisa membayangkan bagaimana rasanya ditinggal anak, mungkin bisa gila……
Saya memang tidak gila saat ini, tapi hati ini rasanya sakiiiiit.. sekali, seakan ada sesuatu yang dicabut paksa dari jiwa ini, basah berdarah-darah, apalagi semalaman saya menunggui Jonnah di rumah sakit, tidak bisa tidur karena Jonnah pun tidak bisa tidur, menyaksikan kesakitannya, masih teringat tatapan matanya yang kemudian hilang setelah kondisinya memburuk, duh Tuhan.. kenapa saya tidak diberi kesempatan sekali lagi untuk merawat Jonnah.

Perasaan bersalah sangat menderu-deru di dalam hati, merasa saya belum memberikan yang terbaik buat Jonnah. Beribu pertanyaan, seandainya begini.. seandainya begitu .. yang membuat hati saya semakin terasa hancur sekali. Apalagi sempat terdengar oleh saya ada yang berkomentar : kok waktu sama suster Jonnah sehat-sehat saja, waktu suster tidak ada Jonnah sakit. Duh.. perih sekali.

Yah .. tapi mungkin memang ini yang terbaik buat Jonnah, hanya saja rasanya belum puas, belum cukup waktu saya bersama-sama Jonnah. Kenangan akan Jonnah semakin menambah berat. Teringat kepolosannya yang justru membuat dia lucu tanpa dia sadari, teringat kemanjaannya, lebis suka dipangku daripada duduk sendiri, senang mengajak jalan-jalan berdua saja, suster dan adiknya tidak boleh ikut, sampai-sampai berantem dengan adiknya memperebutkan tangan saya. Suka menyandar di badan saya untuk menarik perhatian saya. Kalau mau poop maunya sama saya. Banyaakkk sekali kenangan-kenangan yang susah sekali dilupakan. Suka sekali rasanya memeluk, mencium, cubit pipinya, mengusap pipinya yang haluuusss sekali. Jonnah.. Mami kangen sekali sama Jonnah

Tadi pagi saya, suami dan Dedenya Jonnah pergi ke kuburan. Sedih rasanya melihat nama yang tertulis di nisannya. Rasanya aneh dan seperti ada yang salah. Ngga semestinya nama Jonnah ada di situ. Jonnah mestinya ikut kemana-mana sama kita, sekarang kok namanya ada di situ. Ya Tuhan.... Sampai saat ini saya masih merasa seperti mimpi saja. Ingin rasanya segera bangun dan sadar bahwa ini tidak terjadi, tapi ternyata this is real ...

Jonnah,
Mami yakin saat ini Jonnah sudah bersama Tuhan Yesus di Surga. Jonnah sudah mencapai kesempurnaan yang sesungguhnya. Jonnah sudah tidak sakit lagi, Jonnah sudah tidak autis lagi, Jonnah bisa ngomong, Jonnah sekarang sedang bersenang-senang bermain dan digandeng oleh Tuhan Yesus di taman Surga. Senang-senang di sana ya Nak.

Mami memang sediiih sekali, Mami kangen sekali, karena Mami sayaang sekali sama Jonnah. Jonnah tidak tergantikan di hati Mami. Jonnah suka ya Mami menyanyikan lagi STILL, sampai-sampai Jonnah minta kasetnya dimatikan saja dan ganti Mami yang nyanyi. Jonnah kenapa cepat pergi, Mami masih belum puas bersama-sama Jonnah. Maafkan Mami ya Jo, Mami belum memberikan yang terbaik buat Jonnah. Masih banyak sekali sebenarnya yang Mami rencanakan buat Jonnah. Mami sudah survey sekolah buat Jonnah tahun depan, Mami mau buatkan kartu supaya Jonnah bisa belajar merangkai huruf, tapi Jonnah keburu pergi. Tuhan Yesus memang lebih sayang ya sama Jonnah. Mungkin Tuhan Yesus lihat Mami kurang baik merawat Jonnah sehingga Tuhan Yesus memutuskan untuk merawat Jonnah sendiri. Maafkan Mami ya. Mami ikut senang karena Mami tahu Jonnah pasti sedang senang sekali di sana.

Selamat jalan ya Jonnah sayang... Mami, Papi dan Dede Sharon akan selalu merindukan Jonnah...

6 November 2006

Cium sayang
Mami Dewi, Papi Ferdinand, Dede Sharon

Jonnah


Pengalaman spiritual sebelum kepergian Jonnah

Saya cuma mau berbagi pengalaman saja menjelang kepergian Jonnah. Ini ngga tau apakah firasat, ataukah pengalaman spiritual. Cuma beberapa hari sebelum Jonnah pergi, saya seperti berdialog dengan diri saya sendiri, seperti ada percakapan di dalam kepala saya :
Suara (1) : Kamu mau ngga Jonnah ditukar ?
Suara (2) : Ngga mau, karena saya sayaaaannng sekali sama Jonnah. Cuma kalau boleh memilih, saya minta supaya Jonnah bisa dipulihkan. Itu aja. Jonnahnya tetap, ngga mau diganti

Sekitar sebulan sebelumnya, saya kontak dengan teman lama saya via e-mail, menanyakan satu lagu rohani yang baru saya dengar di sebuah acara televisi. Saya suka sekali lagunya, dan saya pikir teman saya itu mungkin tau. Selain memberi tahu judul lagunya dan penyanyinya, teman saya itu juga cerita kalau dia mau ke Israel. Kemudian saya bilang sama teman saya itu, saya titip minta dia doain Jonnah di Israel, saya minta didoain supaya Jonnah bisa ngomong. Setelah kembali dari Israel, teman saya cerita bahwa dia sudah mendoakan Jonnah di Taman Getsemani, dan dia merasa Tuhan berbicara pada dia, bahwa Jonnah akan bisa bicara pada umur 7 tahun (Jonnah akan berumur 7 tahun pada 15 Juli 2007). Saya sungguh mengimani janji Tuhan itu, hingga pada saat Jonnah tengah kritis di ruang ICU, saya tetap yakin Jonnah will make it. Jonnah will survive. Makanya ketika akhirnya Jonnah pergi, saya shock sekali, sama sekali ngga nyangka, sampai-sampai saya ngerasa biasa-biasa aja, belum merasa
sedih waktu dokter memberi tahu bahwa Jonnah sudah ngga ada. Baru setelah beberapa saat, saya sadar kalau Jonnah sudah benar-benar pergi. Dan itu adalah saat-saat yang sangat..sangat berat buat saya. Sakit sekali.

Sekitar dua minggu sebelum Jonnah pergi, suami saya membeli kaset lagu rohani. Dalam kaset itu, salah satunya adalah lagu STILL (yang saya tanyakan pada teman saya itu). Ternyata Jonnah suka sekali lagu itu, sama seperti saya. Tapi herannya, setiap kali lagu itu diputar, Jonnah selalu minta supaya supaya tape-nya dimatikan, dan ia minta saya yang menyanyikan lagu itu (padahal suara saya jauh dari merdu !). Setelah Jonnah ngga ada, saya menyadari, mungkin Jonnah ingin mempersiapkan saya supaya saya kuat, karena kata-kata dalam lagu itu memang sangat menguatkan. Saya ingin membagi kata-kata dalam lagu itu :

Hide me now, under your wing
Cover me, within your mighty hand

When the ocean rise and thunder roar
I will soar with You above the storm
Father You are King over the flood
And I will be still and know You are God


Jonnah Berenang


Cuplikan dari sharing-sharing Ibu Dewi mengenai Jonnah, sejak bergabung dengan milis Puterakembara bulan Juni 2003.


Saya mulai curiga Jonnah autis pada saat dia berumur kira-kira dua tahun. Awalnya saya kira dia hanya Speech Delay karena terbius kontak matanya yang bagus, dan kebiasaannya yang - boro-boro menolak - malah suka dipeluk dan senang mendekatkan diri pada kami (kan biasanya kalau di artikel-artikel tentang anak autis yang ditekankan cuma dua hal itu ya). Dokter anak dan dua
dokter rehab medik yang kami datangi juga dengan yakin bilang : TIDAK AUTIS (ya mungkin karena lihat kontak matanya itu ya) dan hanya menyarankan untuk terapi wicara. Saya baru mulai was-was pada saat saya baca lagi artikel konsultasi dokter anak di tabloid, yang ternyata "menambah" ciri-ciri anak autis dengan: tidak bisa menunjuk. Hal itu lah yang terjadi pada Jonnah. Juga kalau kita menunjukkan sesuatu pada dia, misal : Jonnah, lihat tuh ada burung ! Matanya tidak mengikuti arah telunjuk kita. Akhirnya dari konsultasi dengan seorang teman yang anaknya autis dan banyak baca-baca buku (buku beneran nih, yang lumayan tebal-tebal, bukan hanya artikel-artikel pendek di tabloid) akhirnya saya yakin sendiri kalau Jonnah autis. (Juni 2003)

Saya selalu bilang pada Jonnah sambil usap-usap kepalanya:
Jonnah, biar gimanapun keadaan kamu, mami tuh sayaaaaaaaaaaaaaang banget sama kamu. Ngga ada yang bisa gantiin. And really, I mean it. (Juli 2003)

Kemarin saya ke Gramedia, pengen beli buku Menu Autis ini, karena sudah disebut-sebut oleh beberapa orang di milis. Ternyata, waktu saya lihat bukunya, ... eng ... ing ... eng ... di cover depan dan belakangnya ada foto anakku ! Wow surprise ! Foto itu diambil waktu anakku terapi. He.. he.. bukan mau pamer, tapi ya seneng aja lihat anakku ada di buku. Baby sitter anakku aja sampai teriak waktu dia lihat. ( Desember, 2004)

kehadiran adik ternyata bisa membantu menyemarakkan suasana.
Ada hal yang mengharukan kemarin. Si adik ditarik rambutnya sama si Abang (walaupun si Abang ngga sadar tindakannya salah). Si adik kesal dan marah sama Abang. Trus susternya bilang : "Dek, mau ngga Abang di tukar aja sama si Sem-sem (teman sekolah Adik), kan kalau Sem-sem ngga pernah nakal sama Adik ?" Eh si Adik bilang : "Ngga mau", walaupun si Suster terus menonjolkan kebaikan si Sem-sem ini, si Adik tetap bilang ngga mau. Lalu saya masuk dan bilang : "Iya ya Dek, biar gimana, Adik tetap sayang ya sama Abang, adik ngga mau ya Abang nya ditukar sama siapapun !" dan Adik bilang "Iya ya, Mi" (Oktober 2005)

Kalau bicara tentang impian, satu impian saya yang terdalam adalah mendengar anak saya bisa bicara. Kalau baca postingannya Pak Dwinu beberapa waktu yang lalu yang menceritakan bagaimana putrinya Tita, setelah hampir 8 tahun ditunggu, akhirnya keluar verbalnya, aduuhhhh kapan yaaa hal yang sama terjadi pada anak saya ? Saya ngga bisa membayangkan seperti apa rasanya, pasti .. aduh ga terbayangkan ! Itu aja impian terdalam saya, ga muluk-muluk. (Mei, 2006)

Beberapa hari belakangan ini, anak saya Jonnah sedang terobsesi dengan tanggal. Mungkin karena terbiasa di buku PR di sekolah di tiap halaman diberi tanggal, jadi dia biasanya kalau di rumah, ambil kertas ambil pinsil, trus minta siapa aja yang ada di rumah untuk tulis tanggal (dengan caranya sendiri tentu, karena dia belum(belum lho, bukan non) verbal) di setiap bagian kertas. Lama-lama kan bosen juga nulis hari dan tanggal melulu. Jadi suatu kali, waktu dia menyodorkan kertas dan pensil, alih-alih tulis tanggal, iseng-iseng saya tulis: mata, lalu bilang, ini apa Jo ? sambil saya tunjuk tulisan itu. Eh, dia tunjuk matanya ! Saya tulis: hidung, dia tunjuk hidung. Lalu meningkat yang agak tidak umum: alis, bisa juga, kemudian bantal, dia ambil bantal, gorden (ini kan jarang ada tulisannya di mana-mana), dia
pegang juga gorden dirumah. Pintu, jendela, kipas, jam, semua bisa ! Wow .. surprise ! Rupanya dia bisa baca ! Saya kemudian ceritakan ini ke terapisnya, kemudian Terapisnya menyarankan saya untuk tulis kata kerja, misalnya minta, lompat, dsb. Kemudian saya coba di rumah, tulis kata: minta, Jonnah bereaksi dengan menyatukan tangannya tanda orang minta. Dia bisa ! dia ngerti ! Horee ...
Bahagiaaa... banget. Anak kita memang penuh kejutan ! (Mei 2006)

Semalam saya mimpi lagi, Jonnah bisa bicara. Sayangnya cuma mimpi.
Tapi saya yakin dan masih percaya MIRACLE, suatu saat Jonnah bicara, bukan cuma di mimpi saja, tinggal tunggu God's time, the right time. (Mei 2006)

Jonnah juga punya benda kesukaan, yaitu tali, atau apa aja yang panjang bisa dipelintir-pelintir. Kalau sudah main tali, asyik sekali, sambil mulutnya keluarin suara-suara, cukup berisik juga sih. Kalau
dia tau di suatu tempat ada tali, dia akan ngotot minta dan susah sekali untuk dialihkan. (Juni 2006)

Jonnah, kalau di kelas, kelihatannya ngga perhatian sama teman-temannya. Asyik aja sendiri. Tapi pernah sekali waktu ke Sekolah Minggu ada teman sekelasnya datang, dia langsung dekatin temannya itu, trus dipegang sambil lihatin saya, seakan-akan mau kasih tau ini lho temanku. Terus kalau lagi kumpul sama saudara-saudara, kalau kita tanya : mana si A atau B (sepupu-sepupu nya), dia tau semua, dia bisa tunjuk dengan benar, padahal kita ngga pernah secara khusus bilang sama dia, ini namanya siapa, itu namanya si anu, tapi rupanya dia memperhatikan kalau kita ngobrol, atau panggil seseorang. (Juni 2006)

Sekarang Jonnah merasa enjoy di sekolah. Guru-guru dan teman-temannya sayang sama dia. Kalau saya antar dia sekolah, saya sering dengar ada yang panggil-panggil Jonnah (teman-teman, dan pengantar-pengantar), padahal saya ngga kenal mereka. Jonnah ngga pernah menolak disuruh
mandi pagi, siap-siap, berangkat sekolah. Malah pernah sekali karena dia sakit dan ngga sekolah, waktu mobil jemputan datang jemput adiknya, dia menangis karena pengen sekolah juga. Atau waktu sekolah
libur, dia pengen pakai seragam sekolahnya malam-malam, mungkin dia kangen. (Juni 2006)

Jonnah dari dulu kontak matanya bagus banget, makanya awalnya saya ngga nyangka dia autis. Waktu ketemu dr. Rina pun, kan disuruh isi form, ada pertanyaan tentang kontak mata, waktu itu saya isi: kontak mata sedang (karena ngga PD untuk bilang bagus). Eh, malah dr. Rina nya yang bilang : wah.. Ini sih kontak matanya bagus, bukan sedang! (Juli 2006)


Jonnah & Adik


Ungkapan Duka Cita


Aduh... Ibu Dewi, saya kaget sekali baca kabar kepergian Jonnah.
Turut berduka cita yang sedalam-dalamnya buat ibu sekeluarga.
Sungguh saya ikut menangis waktu membaca posting ibu.
Saya terharu membaca ketabahan Ibu.
Rupanya Tuhan Yesus sudah memberikan Ibu ketegaran......
Sehingga Ibu percaya bahwa ini adalah Rencana Tuhan dan Rencana Tuhan adalah yang terbaik adanya.

Salam penuh duka,
Leny Marijani & Keluarga


Saya turut berduka cita untuk Jonnah saya tidak bisa membayangkan kepedihan yang ada dihati ibu dewi dan keluarga apalagi usia Jonnah yang sangat muda pasti sangat susah melepaskan bersama dengan sejuta memori yang diberikan Jonnah di hati ibu dewi sekeluarga. Saya tidak berani membaca semua cerita ibu di email ini karna saya tidak kuat untuk membacanya. Tuhan selalu memberikan yang terbaik kepada kita. Bahwa anak yang dititipkan ke kita bukanlah sebuah kecelakaan atau kesalahan. Tuhan memberikan anak kita sesuai dengan Tujuan Tuhan mau baik itu talenta, kekurangan, kelebihan dan keunikan daripada anak kita. Semoga ibu Dewi dan keluarga tabah melepaskan Jonnah tersayang dan bawa semuanya dalam doa agar Jonnah dapat hidup damai di sisi YESUS di surga. Jangan menyalahkan diri ibu dewi sendiri sebagai orang tua kita selalu berusaha semaksimal mungkin untuk membantu anak kita tersayang. Biarkan orang bicara apa yang mereka pikir hanya ibu sekeluarga dan YESUS yang tahu seberapa banyak perjuangan untuk Jonnah.

Jonnah is who he is a person
Jonnah part of an Intricate plan
Jonnah a precious and perfect unique design,
Called Godıs special man.

Jonnah look like him look for a reason
Our God made no mistake
He knit Jonnah together within the womb,
Jonnah just what He wanted to make

The parents Jonnah had were the ones he chose,
And no matter how jonnah may feel,
The parents were custom-designed with Godıs plan in mind
And they bear the Master seal.

No, that trauma you faced was not easy
And God wept that it hurt you so
But it was allowed to shape your heart
So that into his likeness youıd grow.

GBU,
dona


Turut berduka cita atas kepergian buah hati tercinta.
Saya bisa membayangkan bagaimana cinta anda sekeluarga padanya.
Dan bisa membayangkan bagaimana rasa kehilangan tersebut bagi anda.
Semoga anda tetap tabah dan tetap kuat atas cobaan-Nya, karena mungkin itu sudah jadi rencana-Nya.

Kita sebagai manusia hanya bisa berharap dan berusaha, namun Dia-lah juga yang menentukan segala sesuatunya. Doa saya dan sekeluarga untuknya, agar Tuhan menerima dia di sisi-Nya.
Dan semoga Tuhan selalu memberkati dan memberikan jalan terang serta kekuatan bagi anda sekeluarga. Amin

Ortu Felix
4 th ASD non verbal
di Jakarta


Ahh, bu Dewi kami sekeluarga juga turut berbela sungkawa atas meninggalnya anak Jonnah (kalo ga salah Ibu Dewi pernah jelaskan ke saya diindonsiakan sebagai Yunus, yaa). Saya jadi berpikir, apakah ada yang hrs serius diawasi oleh kita orang tua adalah kondisi holistik anak kita. Maksudnya banyak diantara kita, termasuk saya sangat concern dengan perkembangan otak/syaraf dan pencernaan anak-anak. Gara2 ini seringkali kita atas anjuran dokter ato inisiatif sendiri telah memberi berbagai treatment kepada anak2 kita sedemikian rupa sampe seringkali lupa dampaknya terhadap organ tubuh yang lain. Apa mungkin dengan treatment yg kita berikan memang berdampak positif bagi pencernaan dan syaraf anak-anak tp memberi pengaruh sebaliknya kepada organ lainnya mengingat kompleksnya sistem tubuh manusia. Beberapa kasus meninggal mendadak dari anak-anak membuat saya jd merenung kembali. Tapi Bu Dewi, sungguh hati saya makin pilu mengingat saya masih berhutang jamu usus luka sama anak Jonnah. Ibu masih ingat? Dulu kan kita janjian, saya siapkan jamunya dan nanti Bapaknya Jonnah ngambil ke kantor saya. Aah Jonnah, Om minta maaf yaaa
ga dapat kesempatan membantu.... . Tapi Om percaya Jonnah sudah tenang dideket Tuhan Yesus dan menjadi The Guardian Angel bagi Papi, Mami, dan adek Sharon... Bagi kami semua.... Selamat jalan, Nak. Sampe jumpa di rumah Bapa di sorga.

Salam,
Victor Riwu Kaho & Kel.


Saya sampai kaget...
Tidak terbayang bagaimana rasanya.. semoga ibu dan keluarga dikuatkan.
Ini ada kartu ucapan berduka dari anak saya
Nature's first green is gold,
Her bardest bue to bold,
Her early leaf's a flower;
But only so an hour.
Then leaf subsides to leaf,
So eden sank to grief,
So dawn goes down to day,
Nothing gold can stay.
Robert Frost.

Salam hangat,
Elisa


Tidak ada kata yang dapat melukiskan betapa kagetnya saya membaca surat ibu.
Semula saya bingung kok banyak sekali mail hari ini, dan saya luar biasa terkejut karena topiknya sesuatu yang tidak pernah terbayangkan oleh kita semua.....

Hanya Tuhan yang Maha Tahu apa yang Dia rencanakan buat kita semua. Tidak ada seorangpun bisa mengatakan "tahu bagaimana perasaan ibu", karena tidak ada seorangpun yang sungguh-sungguh bisa merasakannya. Hanya satu penghiburan kita semua, bahwa ananda Jonnah tidak dibiarkanNya menderita kesakitan untuk waktu yang lama....

Semoga waktu bisa membantu mengurangi kepedihan dan kesedihan ibu sekeluarga ditinggal ananda tercinta, dan semoga Allah YMK dapat memberi kekuatan kepada ibu sekeluarga menjalani hari-hari ke depan...

salam penuh duka,
Dyah Puspita dan Ikhsan


Saya turut belasungkawa yg sedalam-dalamnya atas berpulangnya Jonnah, Insya
Allah Jonnah mendapat tempat indah disisiNya.

Lama saya terpaku dengan e-mail ibu.saya dapat merasakan nyeri.
Saya berdoa semoga ibu Dewi dan keluarga diberikan kelapangan hati,
ketabahan, dan segera diberikanNya pengganti indah sebagai balasan kesabaran
dan keikhlasan ibu dan keluarga.

Salam,
Rina Adeline


Kepahitan terbesar bagi seorang ibu adalah kehilangan buah hati yang sangat disayanginya. Rasanya seolah sebagian dari hati kita 'terbang' bersama kepergiannya. ketika saya membaca email ibu, tak terasa airmata saya mengalir, semakin lama semakin deras, sampai diakhir email ibu, baju saya sudah basah oleh airmata. Tak terbayang bagaimana sakitnya ketika Ibu sendiri harus kehilangan dia. Saya salut akan ketabahan ibu melewati semua ini.

Saya mungkin bukan penghibur yang baik, tapi saya mo meyakinkan ibu bahwa sometimes God works in a 'Strange' way. Kadang kita bertanya, kalau benar Dia mencintai kita, kenapa Dia malah mengambil milik kita yang paling berharga, membiarkan kita menderita dan meratap dalam duka. Tapi ternyata ketika belajar melihat dengan Iman, kita baru menyadari bahwa Justru dalam kelemahan kita KUASAnya menjadi Sempurna. Justru dalam kesesakan kita, ketika kita datang padaNya dengan hati yang hancur, Dia menyembuhkan luka-luka hati kita dan menggantinya dengan sukacita. Dia akan memampukan kita untuk melihat Rancangan terbaik yang sudah dipersiapkannya buat kita, karena Rancangannya adalah rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan. Masa depan bersamaNya akan menjadi masa depan yang penuh harapan.

Mungkin saat ini Tuhan sedang "membentuk" ibu, untuk kemudian dipakai Tuhan menguatkan sesama yang mungkin mengalami kehilangan seperti ibu. You are choosen, coz' HE knows, you are Strong enough to face it. You have done your best!!
Bertahanlah Ibu, Tetaplah tegar seperti itu, tetapi menangislah bila ibu masih butuh waktu untuk menangis (if I were near, you can use my shoulder to cry on). He is not too far to wipe your tears away. He is so close to you, even closer than your tear.
Setelah itu bangkit, continue your life. Ada sesuatu yang Indah yang Tuhan sudah persiapkan buat Ibu at the end of your journey.

Tidak banyak yang dapat kami lakukan (really hope I can do more than this). Kami hanya bisa berbicara, barangkali kalo saya sendiri yang mengalaminya tidak akan setangguh Ibu!!! Semoga bisa sedikit mengobati "luka" hati ibu. Kami sekeluarga turut berdukacita. Kalo rasa sakit datang menyerang, ingatlah..... He is in Heaven now, preparing the way for us to follow.

Salam,
Mieke R (Mama Aurel, Andre, Hiroshi)


Tepat ibu mengambil judul, "Selamat Jalan Jonnah Tersayang" tanpa sadar ibu mengantar sebuah peziarahan Jonnah di dunia ini menuju Rumah Bapa disurga. Ya, Jonnah sudah dalam pelukan Yesus yang mencintai-nya lebih dari siapapun termasuk kita. Dari pengalaman teman-teman yang baru-baru ini mengalami kesedihan yang mendalam, kita juga bisa mengambil referensi dan ini sungguh
menguatkan anda dan saya. Terima kasih atas sharing dan kita saling mendoakan.

Jeffrey Dompas beserta keluarga.


Ibu Dewi, hari ini hari pertama saya buka mail box saya sejak 16 Oktober. Dan sungguh, saya terhenyak dan turut merasa kehilangan. Saya mengikuti posting2 ibu selama ini, dan serasa mengenal ibu dan alm
ananda JONNAH SAMUEL NATANAEL GIRSANG. Dan teringat wajah Jonnah yang nongkrong di rak buku saya. Heran ? Yah karena informasi/komentar bu Dewi tentang buku Menu Autis (Panduan Diet Tepat untuk Anak Autis) karangan Bonny Danuatmaja. Ibu menemukan buku itu secara tidak sengaja di toko buku, dan dihiasi foto Jonnah di cover depannya. Dan seketika saya ingin melihat foto Jonnah, dan
ketika menemukannya di toko buku, saya ingin membelinya. It's not about the book, it's about the cover, it's about connected to you and your beloved son, and this amazing community.

Selamat jalan Jonnah, semoga rasa perih dihati memudar bersama keyakinan bahwa semuanya akan menjadi lebih baik, karena hikmah akan rasa saling peduli dan cinta tertinggal bersama jejak Jonnah.
Saya yakin komunitas parents autistic Bogor sangat kaget dan kehilangan

Turut berduka cita,
Lukie


Bu Dewi...., saya ikut bela sungkawa yang sangat dalam atas kepergian Jonnah tersayang. Yang paling berat adalah menghapus rasa bersalah dan melewati masa denial......., dimana untuk itu .diperlukan waktu dan keikhlasan... Kita harus percaya......pasti Tuhan memberikan yang terbaik untuk kita dan anak2 kita....

Rasanya saya ingin merangkul Bu Dewi untuk memberikan kekuatan..., dan membiarkan Bu Dewi menangis lepas untuk mengurangi rasa sesak di dada. Jonnah akan selalu berada dekat Bu Dewi, dan akan datang menyapa dalam mimpi... Itu yang dilakukan anak saya, alm.Alif, dia beberapa kali datang dalam mimpi.... memeluk Bundanya ketika saya sedang punya masalah, juga memperlihatkan mainan2 ; teman2 ; dan tempat tinggal barunya dengan ceria.....mungkin agar Bundanya yakin bahwa Alif diatas sana sangat,,sangat bahagia,,, Jonnah pun demikian Bu.

Saya doakan semoga Bu Dewi dan keluarga berhasil melewati masa masa sulit ini.

Nicke (bundanya alm.Alif)


Jonnah & Adik


Ucapan Terima kasih dari Ibu Dewi

Ibu Leny dan teman-teman semua,

Maaf saya baru berespon saat ini, karena setelah hari Senin kemarin masuk kerja, saya memutuskan untuk cuti lagi hari Selasa dan Rabu. Bu Leny, mungkin karena hari Senin saya baru masuk setelah 2 minggu libur & cuti, saya mendapat banyak e-mail, saya sudah banyak delete sebenarnya tapi lupa untuk menghapus pula e-mail2 yang saya delete itu dari folder DELETE, jadinya masih tetap penuh ya BU. Maaf ya Bu, jadi ngerepotin Bu Leny. Tapi saya menerima semua e-mail dari teman-teman semua. Saya pindahkan ke folder khusus, dan saya hitung ada 93 e-mail Duka Cita dari teman-teman.

Seperti Bu Leny, saya juga malah jadi menangis terus menerus membaca balasan dari rekan-rekan. Kata-kata penghiburan yang disampaikan, doa-doa yang dinaikkan, air mata yang turut menetes untuk Jonnah, sungguh membuat hati saya sangat terharu, menyadari bahwa saya tidak sendirian menanggung beban yang amat amat berat ini. Menerima ucapan2 tulus dari rekan-rekan yang mungkin belum saya kenal secara langsung, sungguh menyejukkan hati, seakan kita memang telah disatukan oleh suatu ikatan. Teman-teman semua baik sekali. Terima kasih banyak saya haturkan. THANK YOU for being with me when I had to pass this storm,THANK YOU for your listening ears, THANK YOU for your supporting and heartwarming words, And the heartfelt concern that you show...
Please know that your kindness made this sad time easier to bear.

Maaf saya ngga pandai berkata-kata. Terima kasih sekali lagi saya haturkan untuk :

Ibu Aan Anwar,
Bpk. Adiya Lubis,
Pak Jeffrey Dompas,
Ibu Ira dan Pak Alex,
Papa Calvin (terima kasih buat ayatnya ya Pak),
Ibu Anastasia,
Bpk Anton,
Bpk Ari Muharam,
Bpk Ari Permadi,
Ibu Arlina,
Ibu Ascorlina,
Ibu Bevina,
Bpk Bobby,
Ibu Cici,
Bapak DD Utomo,
Ibu Dewi (Ibu Alm. Fauzan, saat ini mungkin anak-anak kita sedang
bermain bersama ya Bu, juga dengan ananda Alif),
Bpk David Ho,
Ibu Dian Maharani,
Ibu Dinnoor Aisyah,
Ibu Diyantini,
Ibu Dona Cooper (terima kasih Bu buat Puisinya yang sangat indah ya Bu),
Ibu Duma Nababan,
Bpk Dwi Swasono,
Ibu Dyah Puspita,
Bpk Eddy Tan,
Bpk Edy Renaldy,
Ibu Eveline,
Bpk Fabian,
Teman-teman di sekolah Fajar Nugraha,
Bpk Ferry,
Bpk Fraidijansjah,
Bpk Habib Basuni,
Bpk Hadrian,
Bpk Haryanto PU (maaf Pak, saya ngga bisa menjelaskan sakitnya Jonnah,
saya ngga kuat mengingat-ingat kembali masa-masa kesakitan Jonnah, mohon maaf),
Bpk Henry Hermantoro,
Ibu Yatie (terima kasih Bu, Ibu ingat semua cerita tentang Jonnah),
Bpk Hermanto Lie,
Bpk Herwin Bharata,
Ibu Hetty M,
Ibu Hirim Pasaribu,
Ibu Ida,
Ibu Indah Triwiartuti,
Ibu Fatma,
JJ Mom,
Ibu Johana,
Papa Ardita,
Ibu Kartini,
Ibu Kristin,
Ibu Lena,
Ibu Leny,
Ibu Lilis,
Ibu Lina Harahap,
Ibu Linda,
Ibu Lukie (terima kasih Ibu ingat foto Jonnah yang ada di buku. Sebelumnya foto Jonnah juga yang menjadi cover buku karangan Bonny Danuatmaja yang kalau ngga salah judulnya Panduan untuk terapi di rumah. Di situ wajah Jonnah, walaupun menghiasi satu halaman cover, tidak terlalu jelas, karena dia sedang menggigit gorden)
Ibu Lusila
Bpk Makmur
Ibu Marcia, terima kasih Bu buat Our Daily Breadnya, sangat sangat
menguatkan hati
Ibu Maria Ardiwinata
Ibu Maria Elena
Ibu Mieke, Thank you so much for offering your shoulder to cry on
Bpk M Yassir,
Ibu nani Tanamas
Ibu Neila
Ibu Nicke, (Dulu saya menangis waktu membaca kisah Alif, sedih sekali, ternyata sekarang ini terjadi pada Jonnah. Boleh nanti saya ngobrol2 via japri Bu ?)
Bpk Noerjali
Ibu Nurini
Bpk / Ibu Otty J Sukadi
Ibu Anita
Bpk Darman
Ibu Puspita Susanti
Ibu Rika dan Pak Ichwan
Dr Rina Adeline
Ibu Rosita Purwoko
Ibu Rumiris Panjaitan
Bpk Jery
Ibu Elisa, terima kasih untuk puisi dari Joshua (benar ya Bu ?)
Ibu Savana
Ibu Setiati Rezeki
Bpk. Binsar Siboro
Ibu Sofia natalie
Bpk Solichin
Ibu Sri Arminarti
Bpk Stanley
Bpk Steve
Bpk Sudono
Ibu Lina (Mama David)
Bpk Taufiq
Bpk Viktor, saya ingat Pak, dulu saya minta akar yang dipakai untuk membuat jamu untuk pencernaan dan Bapak dengan murah hati langsung bersedia memberikannya buat saya. Terima kasih banyak Pak.
Bpk Hendra Widjaja
Ibu Wina
Ibu Natalia
Ibu Yanti

Thank you for all of you !! May God always bless you and your family,
always give us strength, give us hope even in the hopeless situation.
Tolong doakan kami sekeluarga, supaya tetap berharap pada Dia sang empunya. Tolong doakan saya juga. Honestly, saya tidak setegar yang Bapak / Ibu lihat. Dan satu hal yang berat sekali saya rasa, adalah pada saat saya harus memberi penghiburan, pengertian untuk Sharon, di saat hati saya justru sedang porak poranda. Please, pray for me.

Sekali lagi, Terima kasih, saya sungguh menghargai segala apa yang telah
Bapak Ibu berikan untuk kami sekeluarga

Best Regards,
Jonnah's Mom

Total visitors from 2000 to October 2011 : 2,038,400 - İ Puterakembara 2011
interaction with this site is in accordance with our site policy