|
06/19/2007 Sharing dari pertemuan ke-2 PSG Pontianak Seperti telah disepakati pada pertemuan PSG yang pertama (LIHAT DI BAWAH), pertemuan PSG kedua terlaksana juga pada tanggal 3 Juni 2007 yang lalu. Pertemuan kedua ini kita usung dalam format temu wicara, semacam dialog antara orang tua anak-anak penyandang autis, pimpinan/guru-guru sekolah, dari TK sampai SMP dengan beberapa tokoh pendidik di Kalbar dan pejabat dari Dinas Pendidikan Kota Pontianak. Bertempat di Aula PT. Pelabuhan Indonesia II, Pontianak, acara dimulai pukul 10.14 WIB. Acara selanjutnya, kesempatan diberikan pada Bapak Chairul, SPd., dari Dinas Pendidikan Kota Pontianak. Dalam wacananya, beliau menyatakan cukup memahami mengenai kasus autisme. Ditegaskan oleh Pak Chairul, autisme bukan sejenis penyakit yang perlu ditakuti. Dan hendaknya pemerintah daerah diharapkan dapat memberikan dukungan dan kemudahan bagi pihak-pihak yang ingin menyelenggarakan pendidikan maupun kursus di luar sekolah formal bagi anak-anak autis. Beliau juga memandang perlu segera diadakannya sekolah khusus buat anak-anak autis yang kondisinya tidak memungkinkan untuk diterima di sekolah umum. Selain itu, perlu adanya konsolidasi yang kuat antara masyarakat dan para tenaga ahli mengingat biaya yang cukup besar untuk pendidikan dan terapi bagi anak-anak autis ini. Setelah wacana singkat dari Bapak Chairul, kesempatan diberikan pada para peserta untuk menyampaikan opini maupun pertanyaan. Bapak Nazmuddin dari Pusat Terapi Bina Anak Bangsa mengemukakan bahwa di lembaga yang dipimpinnya terdapat sekitar 12 anak autis yang sedang menjalani program terapi. Setelah menjalani program-program terapi, anak-anak sering diupayakan untuk mengikuti pendidikan di sekolah umum, akan tetapi sebagian besar anak-anak tersebut selalu ditolak oleh sekolah dan tidak pernah direspon secara positif oleh lingkungannya, karena anak-anak tersebut masih sering dianggap mengganggu dan ‘berbahaya’. Ibu Iza,wakil dari SD Al-Azhar, Pontianak, mengusulkan agar Dinas Pendidikan dan pemerintah khususnya dapat menjamin pendidikan bagi anak-anak autis dengan cara membebaskan biaya pendidikan anak-anak autis di sekolah umum, karena banyak anak autis berasal dari kalangan yang tidak mampu. Bapak Rustami, ayah dari dua anak kembar penyandang autis, mengeluh bahwa salah satu dari putra kembarnya ‘terpaksa’ belajar di SLB, karena di sekolah umum, oleh segelintir guru, putranya dicap sebagai ‘anak gila’. Dalam kesempatan ini Bapak Rustami ingin masyarakat dan pemerintah dapat mengakui bahwa anak-anak autisme bukanlah anak-anak yang cacat, baik secara mental maupun fisik. Pernyataan Bapak Rustami ditanggapi oleh Bapak Athong, seorang pendidik senior di Pontianak, bahwa kedepannya, diharapkan tidak ada lagi masyarakat, khususnya seorang guru yang notabene adalah seorang pendidik, mengeluarkan pernyataan-pernyataan yang kurang baik, seperti mengatakan bahwa anak autis adalah ‘anak gila’. Ibu Sri Sukarni dari TK LKIA Pontianak, mengesankan semua yang hadir dengan membesarkan hati semua orang tua anak penyandang autis, bahwa sekolah yang dipimpinnya, tidak pernah menolak kehadiran anak-anak autis. Jadi, para orang tua yang ingin memasukkan anaknya ke TK, akan diterima dengan tangan terbuka. Beberapa pertanyaan mengenai, apa itu autisme, deteksi dan diagnosa awal autisme, dijawab oleh dr. Junaidi dengan memberikan sebuah presentasi singkat seputar ASD, gejala-gejala yang menyertai dan perlunya terapi terpadu untuk penanggulangan sedini mungkin. Pukul 12.30, acara break sejenak, diisi dengan snack time dan beberapa penampilan dari anak-anak spesial kita. Pukul 13.00, Bapak Leo Sutrisno, Guru Besar FKIP Universitas Tanjungpura, menyatakan, bahwa tidak tertutup kemungkinan FKIP Untan menyelenggarakan program pendidikan khusus bagi tenaga-tenaga guru untuk menangani anak-anak autis. Acara PSG Pontianak ke-2 ini diliput oleh TVRI Pontianak, dan Harian Kun Dian Ri Bao (Koran berbahasa Mandarin). Di sela-sela acara, crew TVRI berkesempatan mewawancarai beberapa anak spesial. Ditanyakan mengenai seputar kegiatan anak-anak spesial dan sekolah mereka. Semua dijawab dengan lancar dan baik oleh anak-anak. Pukul 14.00, acara ditutup karena keterbatasan waktu. Mudah-mudahan semua pesan yang kita sampaikan, termasuk dialog-dialog yang dikemukakan dapat menyentuh semua lapisan guna meningkatkan kepedulian terhadap autisme. Pukul 16.30, TVRI Pontianak mengundang PSG Pontianak untuk mengisi acara Dialog Interaktif membahas autisme yang ditayangkan secara live. PSG Pontianak diwakili oleh dr. Junaidi, Ibu Suwiena dan Ibu Hilda, kembali menyampaikan pesan-pesan Peduli Autisme. Dalam dialog tersebut, salah seorang anggota DPRD Kota Pontianak menyatakan akan memberikan dukungan untuk semua kegiatan yang akan kita adakan. Semoga pertemuan kedua ini semakin memberikan manfaat bagi semua orang tua dan dapat menggugah kepedulian semua pihak terhadap autisme, khususnya di Pontianak. NB: * Untuk melihat laporan PSG Pontianak yang pertama, silahkan klik DISINI |