PSG Pontianak - Meeting Pertama

05/21/2007

Di bawah ini adalah Laporan Pertemuan PSG Pontianak PERTAMA.


PERTEMUAN PSG PONTIANAK - PERTAMA

Pertemuan PSG Pontianak yang pertama akhirnya terlaksana pada tanggal 6 Mei 2007 yang lalu. Setelah sebelumnya, kami, beberapa Ibu penggagas PSG mengadakan pertemuan-pertemuan kecil untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkenaan dengan pertemuan perdana tersebut. Dimulai dari pengumpulan data para orang tua yang bergabung, penentuan tempat pertemuan, pembahasan mengenai acara yang akan diselenggarakan dan hal-hal teknis lainnya.

Minggu, 6 Mei 2007, acara dijadwalkan dimulai pada pukul 10.00 WIB bertempat di kediaman Ibu Suwiena. Garasi rumah Ibu Suwiena yang cukup luas disulap menjadi tempat pertemuan yang cukup lapang. Pada kesempatan ini pula, kami sudah menyiapkan brosur Peduli Autisme yang diterbitkan Puterakembara dan Yayasan Autisma Indonesia dalam rangka Bulan Peduli Autisme yang lalu, yang akan dibagi-bagikan kepada yang hadir.

Jam menunjukkan pukul 10.00 lewat sedikit, ketika satu persatu orang tua mulai berdatangan. Beberapa orang tua hadir membawa anak-anak beserta terapisnya.
Dari daftar hadir yang diedarkan, tercatat 24 nama orang tua anak penyandang autis yang hadir, di mana salah satunya, mempunyai sepasang putra kembar yang kedua-duanya terdeteksi menyandang autis. Dan ada 2 orang tua yang hadir berasal dari 2 kabupaten berbeda di Kalimantan Barat, yang masing-masing jauhnya ratusan kilometer dari Pontianak.
Total yang hadir sekitar 40 orang, termasuk anak-anak dan para terapisnya.

Acara pertama dimulai pada pukul 10.30. Diawali kata pembukaan oleh moderator, Ibu Hilda. Secara singkat, Ibu Hilda menjelaskan latar belakang dibentuknya PSG ini, tujuan-tujuan yang hendak dicapai dan agenda kegiatan yang akan dilaksanakan untuk selanjutnya.

Acara dilanjutkan dengan perkenalan diri dari semua yang hadir.
Kesempatan pertama diberikan kepada dr. Junaidi, seorang dokter rehab medik di RSUD Dr. Soedarso, Pontianak. Beliau sangat tertarik dengan autisme dan saat ini sedang mendalami bidang autisme.

Satu persatu orang tua yang hadir secara bergiliran memperkenalkan diri dan berkesempatan menceritakan riwayat perkembangan anak masing-masing.
Ibu Viana, bunda Evan, yang sekarang sudah duduk di kelas II SMP, berkenan membagikan sedikit pengalamannya. Ibu Viana menuturkan, bagaimana ‘kejamnya dunia’ sudah pernah dialaminya, ketika berusaha menyekolahkan putranya yang baru bisa berbicara verbal pada usia 5 tahun, di mana 7 sekolah yang didatangi semuanya menolak kehadiran putranya. Tanpa putus asa Ibu Viana berusaha selalu memberikan yang terbaik buat putranya. Selama beberapa tahun dia benar-benar mencurahkan perhatian hanya demi menangani Evan. Namun, perjuangan Ibu Viana tidak sia-sia, pencapaian yang diperoleh Evan saat ini sungguh luar biasa. Evan terlihat sudah sangat mandiri, dengan tutur kata yang sopan dan pembawaan diri yang tenang.

Sungguh sharing yang sangat berharga sekaligus mengharukan bagi semua yang hadir saat itu. Diharapkan pengalaman Ibu Viana bisa menjadi inspirasi dan memberikan motivasi bagi orang tua lainnya dalam membimbing putra-putri mereka.

Seusai acara perkenalan, dr. Junaidi berkenan menyampaikan presentasi singkat mengenai seluk beluk autisme, diagnosa awal, langkah-langkah awal apa yang harus ditempuh orang tua yang anaknya baru terdeteksi autis dan beberapa metode terapi yang bisa diterapkan. Sempat terjadi Tanya jawab antara beberapa orang tua dengan dr. Junaidi.

Acara break sejenak diisi para orang tua dengan rembug-rembug kecil. Dari hasil rembug tersebut, kemudian tercetus suatu ide bersama untuk menggugah perhatian pemerintah dan masyarakat untuk lebih bersikap peduli terhadap komunitas autis di Pontianak dan sekitarnya, yang diyakini jumlahnya sudah semakin meningkat pula dari tahun ke tahun.

Diharapkan, pemerintah bisa merespon aspirasi yang akan kita sampaikan, terutama menyangkut masalah pendidikan dini buat anak-anak penyandang autis maupun penyediaan sarana terapi yang bisa dijangkau semua lapisan masyarakat. Karena saat ini sarana terapi yang tersedia masih sangat minim dengan biaya yang relatif mahal pula. Diharapkan pula, pemerintah bisa memberikan solusi bagi pendidikan anak-anak autis, karena banyak anak-anak autis yang sering ditolak di sekolah umum, dan akhirnya tidak bisa bersekolah lantaran belum adanya sekolah khusus buat mereka di Pontianak. Pembahasan lebih lanjut mengenai permasalahan ini akan dilanjutkan pada pertemuan PSG kedua yang direncanakan pada 3 Juni mendatang.

Secara umum, acara yang berakhir pada pukul 14.00 WIB itu berjalan lancar dan bergulir begitu saja. Suasana juga diramaikan dengan hilir mudiknya anak-anak, dan para orang tua yang sekali-sekali terpaksa meninggalkan tempat duduknya untuk mengawasi putra-putrinya.

Saya sempat memintai komentar beberapa orang tua sebelum acara dibubarkan. Bagaimana tanggapan mereka terhadap acara PSG yang pertama ini. Semua berespon sangat positif dan menyambut baik. Menurut mereka, dengan pertemuan seperti ini bisa saling mendekatkan sesama orang tua, saling bertukar informasi, dan saling berbagi pengalaman masing-masing. Ada orang tua yang menambahkan, bahwa sebelum hadir, dia tidak tahu banyak tentang autisme, dan hari ini dia merasa sudah mendapat banyak informasi yang berguna dari sesama yang hadir.

Semoga kegiatan-kegiatan PSG mendatang akan semakin memberikan manfaat bagi semua orang tua dan putra putri tercinta.

Sampai jumpa di pertemuan berikutnya.
(Natalie-Pontianak)

NB:
* Untuk melihat foto dokumentasinya, silahkan klik DISINI

*
Untuk melihat laporan Pertemuan PSG Pontianak Ke dua, silahkan klik DISINI

*
Untuk melihat laporan Seminar dan Workshop PSG Pontianak tgl 18-19 Agustus 2007, silahkan klik DISINI


Total visitors from 2000 to October 2011 : 2,038,400 - © Puterakembara 2011
interaction with this site is in accordance with our site policy