Kado Ulang Tahun Tita

12/03/2004

Tita ku sayang,

Nak, ketika ayah menulis ini, tepat 20 September 2004, ketika rakyat negeri sedang menentukan nasibnya sendiri, nasib bangsanya, nasib bangsa kita, nasib bangsamu Nak, untuk lima tahun ke depan. Semoga kelak, entah kapan...., dirimu akan mampu bangkit dan mandiri, tidak seperti bangsa kita, bangsamu jua. Yang terus terpuruk sejak lahirnya di tahun empat lima, terus terjajah oleh segelintir manusia tak tahu diri dan bangsa lain negeri pada negerinya sendiri.

Ayah tiba-tiba ingin memberikan kado ulang tahunmu buatmu, Nak. Kado ini yang hanya ayah mampu berikan, Kado yang mungkin baru engkau mampu ketahui kelak, entah beberapa lama lagi. Semoga.....engkau dapat segera membacanya.

Ayah membuat kado ini, ketika berada di dekatmu Nak, yang sedang terlelap ditemani bunda tercinta, yang juga terlelap di sisimu, di siang hari yang santai, ketika kalian sedang libur dari kegiatan sehari-hari. Kegiatan yang melelahkan kalian setiap harinya, dan sudah berlangsung hampir empat tahun lamanya. Ayah tahu engkau harus menerobos hujan dan panas, polusi serta debu jalanan bersama kekasih ayah tercinta, Ibundamu Nak. Itu menjadi santapan harianmu sejak dulu hingga kini, karena dirimu harus keluar masuk klinik tumbuh kembang, yang kadang berada jauh di pelosok dan pinggir Jakarta yang kering kerontang ini, mencari tempat yang sesuai dengan kebutuhanmu yang khusus itu. Ya....kata para ahli, dirimu mengidap sindroma autis disertai hiperaktif.

Penyakit yang sebab timbulnya pun masih menjadi perdebatan disana-sini, juga di negara-negara sana, yang katanya kondisi kesehatannya sudah sangat tinggi sekalipun. Apatah lagi di negaramu Nak, yang carut marut, ada bermacam-macam pengobatan mengemuka, disertai kabar kabur kemujarabannya, juga kadang tak jelas keberhasilannya, kadang hanya berorientasi materi semata. Berharap kepada pemerintah negeri sama dengan mimpi di siang bolong. Karena yang dipikirkan para petinggi negeri hanya bagaimana menjual seluruh aset negeri bagi kantong sendiri.

Namun sebagai muslim, agama kita mengajarkan, bahwa kita harus tetap berusaha, disertai doa kemudian. Tentunya engkau tahu, kita hanya hidup bertiga sekarang ini, saudara-saudara kita sudah sibuk dengan urusannya sendiri, sedang nenek dan kakekmu pun sudah terlalu renta untuk mampu mengawasimu. Juga tak bermoral rasanya, mereka yang pernah direpotkan oleh ayah dan bundamu dulu, harus kembali direpotkan oleh anak "special" sepertimu. Ditambah lagi karena ayah dan bundamu tak sanggup membayar orang yang dapat jadi pengasuhmu, karena untuk ongkos menuju tempat terapimu pun, kadang kala kami harus bersusah payah menghemat isi dompet, yang kadang sudah tak ada isinya lagi.

Setelah berjalan empat tahun kesana kemari, sudah banyak kemajuan yang engkau dapatkan, banyak orang tak mengetahui bahwa dirimu adalah anak "special", sampai kau diajak berbicara dan ditanya angsung oleh mereka. Itu satu-satunya problem yang masih engkau kau hadapi saat ini. Sikapmu sudah sangat manis, penurut dan periang juga tidak bergerak secepat dulu. Itu yang kusuka darimu. Kau sudah mampu menunjukkan emosi dan keinginanmu dengan lebih baik dan terkontrol, tidak pernah lagi kau mengamuk atau menangis berkepanjangan, apalagi di malam hari, seperti ketika umurmu dua tahunan
dulu, yang membuat kedua orang tuamu malu kepada para tetangga.

Kini, Ibumu sedang hamil tujuh bulan, ia sedang mengandung bayi bakal adikmu. Ini membuatnya tidak selincah dulu dalam menemanimu, malah kadang-kadang ia tak sanggup mengejar larimu yang lincah bak seorang sprinter. Ia sekarang sering lelah, maafkan Ibumu Nak, bila ia tak sesehat kemarin dulu. Mungkin karena ia sedang mengandung adikmu. Tapi keikhlasannya dalam membimbing dan menemanimu setiap waktu, tak bakal lekang oleh waktu. Semoga Allah Swt senantiasa memuliakannya, karena ia telah rela mengorbankan karir dan masa depannya untuk membesarkan dan mendidikmu Nak, semata-mata hanya karena Allah.

Nak, Ia juga seorang ibu yang baik, yang mampu berdikari di dalam rumah tangganya yang penuh dengan banyak cobaan. Ia perempuan yang mandiri, yang kadang-kadang malah lebih laki-laki dari ayahmu sendiri, meski kadang-kadang ia semaunya sendiri dalam berkegiatan diri. Ibumu, perempuan yang penuh perhatian, meski kadang-kadang ayahmu sendiri yang kurang perhatian padamu serta pada dirinya. Dengan alasan klasik, capeklah, stresslah, banyak kerjaanlah dan macam-macam alasan lainnya. Padahal hari-harimu dan bunda, pasti terasa lebih berat dibanding hari-hari ayah, yang bekerja di ruangan ber-AC.

Ayah merasa, belum mampu membahagiakan Ibundamu. Yang mampu ayah lakukan hanya marah dan marah. Maafkan ayah Bunda..... Sering, ia pun marah padamu, tapi bukan berarti ia benci padamu Nak, itu hanya lampiasan emosi sejenaknya yang mungkin sedang terhimpit beban berat, yang kadang ia sendiri tak tahu bagaimana mengatasinya.

Kadang ayah pun memarahimu Nak, namun itu karena ayahmu masih belum bisa menjaga emosinya, yang kadang meledak akibat contoh yang ditunjukan kakekmu dulu kepada ayah. Maafkan ayah Nak, mungkin dirimu tahu, atau juga bundamu lebih tahu, bahwa ayah telah coba kurangi kadar kemarahan dengan berbagai cara, salah satunya dengan menulis, makanya sekarang ayah menulis, buat hadiah ulang tahunmu Nak, mudah-mudahan bermanfaat bagi ayah sendiri dan juga masa depanmu nanti.

Ayah membuat kado ini, ketika usiamu sudah enam tahun. Ketika kau baru saja masuk TK sekarang, meski baru TK Kecil. Memang sangat terlambat, tetapi tak mengapa, kami orang tuamu sudah cukup senang melihatmu mampu bergaul dan bermain bersama anak-anak yang normal, tak ada kata terlambat buatmu Nak. Bahkan ayah dengar dari bundamu, bahwa dirimu sudah bisa berteman, satu hal yang sangat sulit kau lakukan dulu. Kata ibumu lagi, dirimu sudah jadi anggota kelompok yang suka menjahili teman-temannya yang lain, sehingga sering dimarahi oleh guru. Tidak apa-apa Nak, ayah tahu kau hanya ikut-ikutan temanmu itu, kau akan terus belajar dari sekelilingmu. Ayah sangat senang dan bangga Nak, kamu sudah bisa berinteraksi dengan sesama. Di saat teman-teman seusiamu sudah pintar mengaji, menyanyi, dan banyak kegiatan lainnya, atau mengikuti kontes-kontesan seperti AFI Junior dan
Bintang Cilik, kau baru memulai dan merintis hari-hari depanmu........

Ayo...Nak, Ayah dan Bunda bantu dengan doa......

Tapi bila melihat penderitaan anak-anak di Irak, Palestina, Checnya. Melihat semakin penderitaan di negeri ini, semakin banyaknya anak-anak jalanan, juga anak-anak yang tak mampu bersekolah. Serta dimana-mana bergelimpangan anak-anak yang fisik dan deritanya melebihi penderitaan yang ayah dan bunda rasakan. Hati kami, orang tuamu menjadi lebih lapang dan mampu kembali bermunajat dan mengucap syukur Alhamdulillah, bahwa penderitaan kami tidak seberat perjuangan mereka di luar sana.

Nak, siang ini ayah harus rela menguras air mata, ketika membuat kado ulang tahunmu, ayah terkulai lemah menahan luka yang telah ayah torehkan kepada kalian berdua, membuat ayah jadi teringat pesan Pencipta kita "Allah tidak membebani seseorang itu melainkan sesuai dengan kesanggupannya".

Ya Allah
Begitu banyak rahmatMu yang tak kusadari
Begitu banyak pemberianMu yang kuingkari
Begitu banyak nikmatMu yang tak kusyukuri
Pandanganku tertutup oleh cobaan yang Kau beri

Ya Allah
Maafkan aku......


Depok, 20 September 2004
Dwinu Panduprakarsa
- Seorang ayah dari anak "special"-

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2011
interaction with this site is in accordance with our site policy