Dinda Mencari Cinta

12/03/2004

Aku bertemu seorang gadis. Dia gadis yang cantik, kulitnya bersih nan
langsat, rambutnya keriting berombak, wangi tubuhnya tercium harum,
wangi khas parfum milik orang berpunya. Matanya yang bulat hitam itu
sangat lucu dipandang, sayang sekali tatapannya kosong ketika memandang.


Siang itu matahari sedang bersinar terik, ditambah lagi suasana kemarau
Jakarta yang kering kerontang, sangat menyesakkan dada. Namun dada ini
semakin sesak, ketika tahu tentang penderitaan yang dialaminya, dari
pengasuhnya yang bercerita banyak tentang kisah hidup si cantik itu
selama ini, di usianya yang mendekati 8 (delapan) tahun.

Dinda namanya. Orang tuanya telah berpisah ketika dirinya baru berusia
dua tahun. Apapun sebabnya, yang pasti ia sangat haus akan kasih sayang.
Ayahnya tak pernah ditemuinya lagi sejak itu. Sedang ibunya tak pernah
mau tahu tentang kondisi anaknya. Ibunya lebih asyik dengan diri
sendiri, ke cafE9, salon bahkan nonton bioskop dengan teman-temannya
hingga tengah malam, katanya agar dapat melupakan kekurangan pada diri
anaknya. Ibunya lupa bahwa lebih banyak lagi orang yang lebih sulit
keadaannya dibanding dirinya, sehingga perbuatannya itu hanyalah sia-sia
dan dusta belaka. Hari-hari Dinda memang sungguh sepi, hanya ditemani
sang pengasuh di kawasan rumah yang mewah.

Aku menghampirinya, ketika ia sedang dipangku pengasuhnya. Kuucapkan
salam, untuk berkenalan. Namun dia tampak acuh tak acuh dengan salamku.
Kemudian aku duduk di samping pengasuhnya. Kubelai rambutnya, dan
Subhanallah.ia menatapku tajam, tatapan kosongnya hilang entah kemana.

Tiba-tiba, Dinda pindah duduk ke pangkuanku, lalu merebahkan kepalanya
padaku. Kubelai lagi rambutnya dan kuajak ia berbicara, kubertanya
namanya, ia hanya menjawab "emwe, emwe, emwe." yang tak ada artinya
sambil mengepak-ngepakan tangannya. Namun begitu, terus kutanggapi saja,
seakan-akan aku mengerti dengan apa yang diucapkannya.

Tak lama kemudian dia tertidur di pangkuanku, pangasuhnya meminta agar
Dinda dipindahkan kepadanya. Tapi dengan isyarat mata, kuberi tanda agar
pengasuhnya tenang saja, biarkan Dinda yang sedang tertidur pulas.
Biarlah ia mimpi yang indah, mungkin mimpi bertemu ayahnya yang
diimpi-impikannya sejak lama, yang kini entah berada di mana, atau
mungkin juga memimpikan ibunya yang sedang mereguk manisnya dunia.

Tak terasa, sudah lebih satu jam terlewati, sesi terapi untuknya pun
telah lama lewat dan mendadak dia pun terbangun. Namun ketika diajak
pulang oleh pengasuhnya, ia tak mau juga. Dia, tampak senang
bergelendotan denganku, matanya yang bulat terus berbinar-binar.
Kemudian kusentuh tangannya, dan ia membalas dengan memegang erat
punggung tanganku. Seakan-akan tak mau lepas lagi...

Sayang kuingin membawamu ke tempat yang kau suka, dengan
pelukan hangat dan limpahan kasih sayang yang tulus iklas, tapi
sayang... kau dan aku dipisahkan oleh takdir yang berbeda, maafkan aku
Dinda..

Akhirnya untuk menghibur Dinda terakhir kalinya, kuajak dia
berjalan-jalan di sekitar tempat itu. Kami susuri perlahan-lahan,
sekali-kali dia berhenti dan menengok ke samping, menatap aku yang yang
berjalan di sisinya. Kami lewati taman dan terus berjalan bersama. Namun
sore telah menjelang, sudah waktunya pulang. Dinda pun harus pulang. Aku
antar dia ke mobilnya yang mewah, "emwe, emwe, emwe." keluar kata-kata
darinya, mungkin mau mengucapkan selamat jalan padaku., kupeluk Dinda
hangat untuk terakhir kalinya, pelukan seorang ayah yang sedih dan
terharu " Betapa sulitnya hidupmu Nak..!"

Selamat jalan juga Dinda sayang...semoga kita bisa bertemu
lagi ya., tak terasa butiran hangat turun satu-satu, melihat kepergian
mobil mewah itu, yang membawanya kembali kepada kondisi hidup yang
sebenarnya.

***********

Sahabat, ingatkah kita akan anak-anak kita di rumah. Sudahkah kita
menunaikan kewajiban-kewajiban kita kepada mereka. Jangan-jangan banyak
hak mereka yang telah kita abaikan, malah mungkin kita sudah tak ingat
lagi apa hak-hak mereka, yang akan menjadi generasi penerus kegemilangan
di masa datang.

Saya berharap tulisan ini dapat menyegarkan kembali hubungan kita dengan
anak-anak kita yang kita cintai, apapun kondisinya. Karena banyak di
sekitar kita orang tua yang dingin bahkan tak perduli terhadap
anak-anaknya, yang membuat anak-anaknya tak merasa akan kehadiran orang
tua di sisinya. Sayang sekali memang, padahal anak-anaknya itu baik,
bahkan normal pertumbuhan dan perkembangannya.

Khususnya buat saya dan istri, kisah ini membuat saya terharu dan sedih,
sekaligus berucap syukur kehadirat Allah SWT, bahwa anak saya masih
lebih baik dibandingkan dengan kondisi Dinda, serta kami mempunyai
sedikit kelebihan, meski memang bukan kelebihan harta, ataupun uang.
Tapi kami punya hati dan empati serta keluangan waktu yang dapat kami
berikan, khususnya buat anak kami.

Hanya itu yang kami punya, yang hanya bisa kami berikan sampai hayat di
kandung badan, sedikit perhatian padanya, bahwa kami menyayanginya dan
selalu menemaninya, serta senantiasa melantunkan doa-doa pengharapan di
saat-saat bangun malam, yang akan menyertai segenap langkahnya di masa
depan. Adapun hasilnya, itu adalah hak prerogatif Sang Pencipta.

Sebab kalau bisa memilih, pasti Dinda, atau anak kami pun, pasti tidak
ingin mengalami perbedaan dibanding anak-anak seusianya, yang telah
pintar berbicara, bernyanyi atau berlenggak lenggok bagaikan model di
atas panggung.

"Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai
cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar"

Sebagai orang tua, kita harus senantiasa bersyukur dititipi seorang
anak, walau dalam kondisi apapun, juga bila dalam keadaan yang berbeda.
Karena berapa banyak, bahkan mungkin jutaan orang tua di dunia ini
menginginkan seorang anak dengan berbagai cara, namun mereka belum atau
tidak dipercaya oleh Yang Maha Kuasa untuk memilikinya. Namun satu yang
pasti, sang pencipta tidak mungkin menciptakan sesuatu bila tidak ada
hikmahnya.

Kami juga sangat berbahagia memiliki anak berbeda, karena ia merupakan
suatu nikmat yang tak terhingga, sehingga kondisi anak kami ini dapat
menjadi ladang amal orang tuanya, yang mudah-mudahan segala usaha dan
amal kami itu, akan meringankan beban kami, kelak di hari akhir.

"Maka nikmat Allah yang mana lagi yang akan kamu dustakan"
berulang-ulang kali Allah SWT berkata kepada umatnya.

Akhirnya, saya bersyukur dapat memberikan sedikit waktu saya buat orang
lain. Saya terharu saat bersama Dinda, dan saya yakin, siang itu pasti
Dinda bahagia dan bangga, bahwa ada orang lain yang memperhatikannya.
Dan semoga orang tuanya, atas izin Allah Allah SWT membaca tulisan ini
dan secepatnya bisa sadar akan kekurangannya dalam mengasuh Dinda selama
ini.

Agustus 04 - Ditengah kerontangnya Jakartaku
(Untuk seorang gadis cantik yang kesepian...)
by : Dwinu Panduprakarsa

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2011
interaction with this site is in accordance with our site policy