|
11/25/2006 Oleh: Bapak Taufiq Hidayat My OT : Menyiapkan rumah untuk memenuhi kebutuhan sensori anak Bayangkan saat anda sedang menyetir di jalan tol dengan kondisi yang sangat nyaman. Mendadak terdengar suara BUMM!!! Dan mobil yang berada didepan saling bertabrakan dan luluh lantak karena benturan antar mobil. Secara sigap berusaha mengendalikan mobil menghindari kecelakaan tersebut menimpa anda. Saat semua telah terkendali anda merasakan jantung berdetak dengan cepat, lutut lemas, serasa seperti darah mengalir cepat pada pembuluh darah dan nafas menjadi lebih cepat. Sesaat sebelum kecelakaan terjadi, anda menerima input sensori yang ringan dan semua hal terkontrol dengan cukup baik. Dengan kecepatan yang sedang anda menikmati perjalanan tersebut ; cuaca yang tidak terlalu panas, dinginnya AC mobil, pemandangan sekitar yang rindang dan hijau serta suara mobil yang yang melintas disamping. Tiba-tiba sesuatu yang tak terduga terjadi, merubah secara drastis apa yang telah dirasakan sebelumnya menjadi sesuatu yang menegangkan. Perlu waktu beberapa detik atau menit untuk anda dapat memulihkan diri, tergantung pada bagaimana menerima kejadian yang menimpa disaat itu dan berusaha untuk meyakinkan bahwa anda tidak mengalami cidera apapun. Hal tersebut diatas menggambarkan suatu pergelutan sensori yang terjadi pada anak dengan kebutuhan khusus dalam kesehariannya. Dimanapun letak spektrum tersebut berada, anak dapat mengalami kesulitan saat melihat, mendengar, merasakan hidangan, sentuhan, bebauan dan propripseptif-vestibular. Seorang anak dapat menjadi hyper atau hypo, yang mempengaruhi kemampuan untuk berkomunikasi, merespon dan berprilaku saat melakukan kontak dengan dunianya. Rumah menjadi tempat paling nyaman dan aman bagi anak untuk mengeksplorasi dan memenuhi kebutuhannya untuk dapat tumbuh dan berkembang. Menjadi perhatian bagi para okupasi terapis dan orang tua untuk menciptakan kondisi lingkungan seideal mungkin bagi anak untuk tumbuh dan berkembang secara maksimal. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar semua keinginan tersebut dapat terpenuhi, antara lain : Langkah Pertama : Lihat sekitar, apa yang bisa dan sesuai dengan kebutuhan anak Eksplorasi setiap area rumah dan mencari apa yang bisa dilakukan untuk memenuhi kebutuhan anak serta alokasi tempat yang bisa mengakomodasi keinginan tersebut. Apakah perlu untuk mengatur kembali tata letak furniture? Apakah ada tempat tertentu yang disukai anak untuk menghabiskan waktunya yang bisa dimaksimalkan keberadaannya? Apakah ada sesuatu yang sudah dimiliki untuk digunakan dalam area tersebut? Seperti ayunan, atau bola terapi yang bisa dimanfaatkan. Pemilihan ruang mana yang tepat bagi anak saat bermain menjadi pertimbangan yang sangat mendasar, pertama adalah berada sejauh mungkin dari kebisingan baik yang ada didalam maupun di luar rumah. Kedua,tidak berada di pusat aktifitas keluarga, saat televisi menyala, lalu lalangnya orang-orang rumah dan pintu yang selalu membuka dan menutup. Dan ketiga adalah ukuran ruangan, ruangan yang cukup besar cocok untuk memberikan kesempatan anak untuk melakukan eksplorasi, banyak permainan yang menantang bagi anak untuk dilakukannya, sedangkan ruangan yang agak kecil dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas engagement anak dengan melakukan suatu atau beberapa aktifitas secara berbarengan dengan orang tuanya. Coba melihat rumah diluar dari kebiasaan yang ada. Ruangan yang berjendela besar memiliki keuntungan tertentu bagi keluarga sebagai pusat aktifitas dalam rumah. Namun ada beberapa kerugian jika ruangan tersebut akan dijadikan ruangan sensori. Faktor pencahayaan yang sangat bergantung pada cuaca membuat kondisi ruangan yang tak terduga oleh anak, perubahan temperatur ruangan, dan kebisingan diluar rumah dapat menjadi gangguan karena stimulasi sensori secara berlebihan dapat menghambat tujuan yang diinginkan. Langkah Kedua : Melihat anak pada kebutuhan sensorinya Dimulai dengan melihat prilaku yang berhubungan dengan sensori integrasi. Dengan memahami prilaku tersebut orang tua dapat terbantukan saat menyusun rencana aktifitas terapuetik di rumah yang sesuai dengan kebutuhan sensori dirumah. Serta menjadikan tempat yang paling aman bagi anak untuk melakukan aktifitasnya sebaik mungkin. Kebutuhan yang sangat besar pada input sensori tertentu dapat membuat anak mencari dengan cara yang mungkin berbeda dari pola kebiasaan yang ada. Ex. Anak dengan kebutuhan input proprioseptf-vestibular yang besar, melakukan aktifitas fisik merupakan kebutuhan yang mutlak untuk dipenuhi, berlari, memanjat dan berayun mungkin hal yang biasa dilakukannya saat kebutuhan sensori belumlah terasa cukup. Rumah memang bukan klinik atau pusat terapi yang menyediakan segala alat kebutuhan yang diperlukan anak, namun tidak berarti rumah tidak dapat menyediakan keamanan bagi anak. Dengan menata beberapa peralatan rumah dan seperti menempatkan kasur atau busa padat membantu menentukan jalur eksplorasi sehingga meminimalkan resiko anak terbentur dan terjatuh saat hal tersebut dilakukan. Input sensori bisa juga menjadi hal yang tidak disukai bahkan mungkin menakutkan. Anak bisa menjadi sangat sensitif untuk mau melakukan suatu kegiatan secara sukarela. Masalah besar terjadi saat kegiatan yang ditolaknya merupakan bagian dari rutinitas harian seperti : mandi, sikat gigi, makan, berpakaian dan lain-lainnya. Disamping ketidak mauannya yang berhubungan dengan sensitifitas sensori, ada hal-hal lain yang bisa temukan dirumah yang membantu anak tenang dan mau menerima kegiatan tersebut secara sukarela dan perlahan. Ex. Pada anak yang merasakan sentuhan sebagai hal yang menyakitkan (tactile defensive), menggunakan lotion dan penyikatan (brushing protocol) secara berkala dapat membantu menyesuaikan kemampuan anak menerima sentuhan. Terdapat sangat banyak informasi secara online, www. autism.org mengenai artikel tentang kesulitan sensori yang ditulis oleh Donna Williams dan Temple Grandin mungkin tempat yang bagus untuk memulai. Memberikan gambaran seperti apa rasanya melakukan kegiatan harian dengan kesulitan sensori dan membantu mengidentifikasi kebutuhan sensori secara spesifik. . Langkah ketiga : melihat dan mengatur anggaran, seberapa banyak yang perlu dikeluarkan Seperti yang telah disebutkan rumah bukanlah seperti klinik atau pusat terapi yang menyediakan segala kebutuhan anak secara khusus, namun itu semua bukanlah masalah besar jika dilakukan secara terencana. Dengan membuat daftar kebutuhan yang diperlukan, apakah ada alternatif yang bisa dilakukan tanpa harus membeli, atau menggunakan peralatan yang sudah ada dirumah dengan beberapa modifikasi dan bahkan meluangkan waktu untuk membuatnya sendiri Langkah keempat : Menyatukan semuanya Rumah bukan hanya tempat untuk berteduh dan melepas lelah setelah kesibukan harian yang penuh kepenatan. Bagi anak-anak rumah menjadi sarana untuk tumbuh dan berkembang , banyak hal yang anak pelajari dan menjadi sebagai bekal pada tahapan berikutnya. Menyiapkan rumah untuk memenuhi kebutuhan sensori bertujuan membantu orang tua dan anak-anak berkebutuhan khusus memaksimalkan potensi yang dimiliki disamping segala usaha terapi yang dilakukan diluar rumah. Mereka sempurna dibalik keterbatasan yang mereka miliki, sempurna untuk mampu merasakan cinta dan kasih sayang orang tua. Dan kesempurnaan untuk dapat tumbuh dan berkembang seperti anak-anak lainnya...... Salam Taufiq |
|
|
Artikel sebelumnya: "My OT-Sandwich- Terapi Sandwich dalam prakteknya menggunakan 2 bantal besar dengan cara menghimpit tubuh anak. Berikut cerita tentang Terapi Sandwich dan asal-muasal istilah "Sandwich", dan Manfaatnya bagi anak berkebutuhan khusus....." |