|
09/19/2006 Oleh Bapak Taufiq Hidayat Asal-muasal istilah "Sandwich" Istilah Sandwich berasal dari nama seorang aristokrat berkebangsaan Inggris, Jhon Mortagu, 4th Earl of Sandwich (1718-1792) pada abad ke-18. Beliau juga merupakan atasan dari kapten James Cook, seorang pelaut yang menemukan New Zealand, Australia, Hawai dan Polinesia, bahkan salah satu pulau di kepulauan Hawaii diberi nama "Sandwich Island". Menurut legenda, Montagu adalah seorang pemain kartu kelas kakap yang sering menghabiskan waktu berjam-jam selama berhari-hari (sering permainan berlangsung hingga 48 jam) hanya untuk bermain kartu. Karena tidak ingin meninggalkan permainan kartunya hanya untuk pergi makan, di suatu hari sang earl memerintahkan pelayannya untuk menempatkan sepotong daging panggang di antara dua potong roti dan menghidangkannya sebagai makanan baginya saat sedang bermain kartu. Dengan cara itu, Montagu dapat tetap makan sambil bermain kartu dengan sebelah tangan. Karena ia dikenal sebagai Earl of Sandwich, makanan yang diperkenalkan John Montagu ini di kemudian hari dikenal dengan sebutan Sandwich, sesuai dengan nama daerah asal John Montagu. "Sandwich" bagi sang anak: Dapat juga berarti berada diantara himpitan 2 orang atau benda lainnya, berdasarkan definisi Webster dictionary. Menggunakan 2 buah bantal atau benda lain yang cukup besar untuk menutupi sebagian besar tubuh sang anak. Menghimpit sang anak saat berada ditengahnya secara lembut dan bermakna. Saat seorang bayi menangis dan sang Ibu menyusuinya dalam himpitan pelukannya ia dapat tenang dan mulai menyusu. saat ia mulai belajar berjalan lalu terjatuh dengan berada dalam himpitan pelukan sang ibu tangis yang sebelumnya terjadi hilang seakan tanpa arti dibandingkan apa yang ia rasakan saat itu. Bahkan saat ia tidur himpitan pelukan sang Ibu dapat menenangkannya dikala mimpi buruk terjadi di tengah malam. Suatu hal yang terjadi di kehidupan sehari-hari, sesuatu yang kecil sehingga terkadang terlupakan, namun memiliki makna bagi sang anak. Dalam penerapannya himpitan yang diberikan diterjemahkan pada tubuh anak sebagai sesuatu yang dapat menenangkan. Input sensori proprioseptif yang diterima pada otot dan persendian membuat sang anak tetap berhubungan dengan lingkungannya jadi saat ia menangis, marah atau bahkan hiperaktif sang anak dapat melakukan kontrol dirinya menjadi lebih teratur dan terarah. Tiap anak memiliki kebutuhan dan keunikan yang berbeda satu dengan lainnya, jadi tidak ada panduan tentang berapa lama sandwich dapat dilakukan. Sang anak yang akan bertindak sebagai trainer, memberikan petunjuk tentang kapan dan berapa lama hal tersebut perlu dilakukan. Sandwich bagi anak berkebutuhan khusus Bukanlah resep atau racikan makanan yang diperuntukkan bagi anak berkebutuhan khusus, melainkan sebuah tehnik yang dapat membantu anak-anak berkebutuhan khusus melakukan aktifitas secara lebih baik saat berada dalam lingkungan seperti; rumah, sekolah, atau pusat terapi. Tehnik sandwich terbilang cukup mudah untuk dilakukan, dengan mengunakan 2 buah bantal berukuran besar yang mampu menutupi sebagian besar tubuh anak saat berada dalam himpitan keduanya. Pada anak yang membutuhkan input lebih, akan memerlukan bantuan orang dewasa untuk memberikan tambahan hinpitan dengan menekan bantal tersebut saat anak dalam posisi berbaring atau terlentang. Seorang penulis buku terkenal Temple Grandin memberikan nama tersendiri pada tehnik ini yang disebutnya "hug machine". Ketika itu ia mengetahui bahwa dengan berada diantara hug machine dapat membantunya lebih tenang sebelum atau saat melakukan aktifitas kesehariannya. Himpitan antara kedua bantal tersebut memberikan input proprioseptif dalam jumlah yang cukup besar sehingga dapat membantu anak-anak berkebutuhan khusus mengatur dirinya saat berada dalam suatu lingkungan tertentu. Cara membuat bantalan sandwich Menentukan pemilihan bahan penutup sandwich Penutup yang merupakan bagian terluar dari bantal sandwich dapat menggunakan kain atau kulit. Pada beberapa klinik atau pusat terapi sensori integrasi lebih memilih menggunakan kulit karena lebih praktis dari sisi perawatan karena mudah dilap bilamana kotor namun jika penempatannya kurang tepat dapat dengan mudah menyebabkan munculnya jamur dibandingkan dengan kain yang perlu dicuci selang beberapa minggu pemakaian. Karena bahan yang lebih tipis penggunaan kain sebagai penutup dapat dilakukan secara berlapis untuk mengurangi resiko bocornya bagian dalam. Bagian pengisi bantalan Bantal yang biasa kita pakai umumnya menggunakan kapas sebagai bahan pengisinya. Namun untuk sandwich bahan tersebut tidak dianjurkan selain pada beberapa anak ada yang dapat menyebabkan alergi juga bilamana bocor dapat mengganggu pernafasan. Untuk itu disarankan menggunakan potongan-potongan busa berukuran kecil atau biji Styrofoam. Berat, bentuk dan ukuran Akan sangat baik jika bantal sandwich memiliki berat yang cukup untuk memberikan input yang cukup bagi kebutuhan anak. Walau belum ada standar berat yang perlu ditentukan, umumnya berat sebuah bantal sandwich mencapai 5 kg. Bentuk bantal yang akan digunakan beragam dari yang bentuknya kotak, setengah lingkaran, limas segitiga dan lain-lainnya. Pertimbangan utamanya adalah anak merasa nyaman saat melakukan tehnik sandwich. Saat ini ukuran umur tidak menentukan ukuran tubuh sang anak, ada anak yang diusia 4 tahun pertumbuhan badannya bahkan hampir sama dengan anak yang berusia 6 tahun. Karena cukup banyak faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tubuh anak, ukuran bantal sandiwich disesuaikan dengan postur anak. Setidaknya 2/3 bagian tubuhnya dapat tertutupi saat melakukan tehnik tersebut. Lapisan tambahan Pada beberapa anak sensasi busa atau biji styrofoam yang dirasakan saat berada dalam himpitan bantal dapat membuatnya tidak nyaman. Untuk itu perlu diberikan lapisan tambahan yang dapat menggunakan tambahan kain penutup atau lembaran busa tipis. Lapisan ini juga memberikan perlindungan jika lapisan luar robek dan menghindari bocornya isi bagian pengisi bantalan tersebut Cara menerapkan tehnik sandwich Selain dilakukan klinik atau pusat terapi, tehnik sandwich dapat juga diterapkan dirumah dan sekolah. Di rumah, tehnik ini dapat menjadi bagian dari sensory diet yang merupakan program rumah dari terapi sensori integrasi dengan penjadwalan aktifitas yang bertujuan meningkatkan proses sensori anak. Penggunaan tehnik sandwich di sekolah dapat dilakukan di dalam atau luar ruang kelas. Pada beberapa sekolah di Amerika yang menyelenggarakan pendidikan inklusi sandwich merupakan bagian dari sensori corner yang sewaktu-waktu dapat dilakukan oleh sang anak jika membutuhkannya. Terdapat beberapa tips yang dapat membantu orang tua dan guru untuk menerapkan tehnik ini bagi sang anak : Memahami hubungan antara prilaku dengan kebutuhan sensori anak Dalam menyimpulkan prilaku anak-anak berkebutuhan khusus di rumah dan sekolah perlu dilakukan secara teliti. Hal tersebut akan mempengaruhi keputusan yang akan dibuat mengenai penanganan yang akan dilakukan. Beberapa prilaku memiliki hubungan dengan kebutuhan sensori sang anak yang perlu diketahui oleh orang tua dan guru untuk memberikan penanganan yang terbaik bagi buah hati dan anak didiknya. Adaptasi hal yang baru membutuhkan waktu dan kesabaran Dalam memperkenalkan hal yang baru tidak tidak dapat dikuasai anak secara instan. Para orang tua dan guru yang membantu menerapkan tehnik ini perlu melihat kemampuan adaptasi anak untuk menerima dan memahami mengapa ia perlu melakukannya. Produktifitas, pekerjaan dan pengisian waktu luang anak dengan bermain Pada orang dewasa, produktifitas, pekerjaan dan pengisian waktu luang memiliki perbedaan yang cukup jelas. Sedang pada anak-anak, BERMAIN merupakan bagian dari produktifitas, pekerjaan dan pengisian waktu luangnya dan merupakan media yang sangat efektif bagi pembelajaran, yang seiring perkembangannya hal tersebut akan menjadi lebih terstruktur dan terarah. Menemukan waktu yang sesuai Walau dalam terapi sensori integrasi mengatakan waktu yang efektif bagi anak untuk memproses input sensori proprioseptif adalah 2 jam. Dalam menerapkan tehnik sandwich, hal ini bersifat fleksibel disesuaikan dengan kebutuhan anak secara individual dan juga adanya alternatif aktifitas lain yang dapat dilakukan dengan input sensori yang serupa. Penerapan tehnik ini dapat disisipkan pada sebelum, sesudah atau saat anak melakukan suatu aktifitas dalam kesehariannya. Evaluasi secara berkala Bertujuan untuk memberikan feedback pada orang tua, guru dan terapis yang menerapkan tehnik ini. Selain bertujuan membantu menentukan kapan dan berapa waktu yang diperlukan dalam penerapannya juga untuk mengetahui perkembangan kemampuan proses sensori anak pada aktifitas kesehariannya. Semoga dapat bermanfaat dan Selamat mencoba :-) |
|
|
Artikel sebelumnya: "My OT-Alert Program- Dari sudut pandang Okupasi Terapi, saat tubuh baru terbangun dari tidur tingkat kesadaran (alertness) berada pada level yang rendah yang membuat tubuh belum siap melakukan aktifitas ...." Artikel berikutnya "My OT : Menyiapkan rumah untuk memenuhi kebutuhan sensori anak- Peran orang tua sangatlah penting bagi perkembangan anak, khususnya di rumah untuk meminimalkan keterlibatan pihak lain pada proses terapi di rumah. Area rumah merupakan tanggung jawab bersama antara orang tua pada khususnya dan pihak terapis kemudian hanya membantu dalam penyusunan rencana program terapi rumah. Berita selengkapnya ...." |