Puterakembara, Duniaku adalah Duniamu


Tanggapan mengenai pendidikan bagi anak penyandang autis



11/14/2002

Berikut ini adalah pesan dari Bapak Dadan Rachmayana.

------------------------------------------------------

Perkenalkan saya adalah seorang lulusan sarjana pendidikan jurusan Pendidikan Luar BIasa (PLB).Izinkan saya untuk mengikuti perkembangan dunia pendidikan khususnya dunia Pendidikan Khusus (Special Needs Education, dan mudah2 an saya mampu mengamalkan sebagian ilmu saya pada bapak/ibu sekalian.
Dunia Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus memang masih dilihat sebelah mata oleh para kaum birokrat pendidikan, kenapa demikian? Dari sejak kuliah saya mencoba mengadakan penelitian tentang sebuah sistem pendidikan integrasi, dimana anak luar biasa (ALB) dapat bersekolah di sekolah umum, hasilnya 20% guru menyatakan bersedia menerima dan mengajar mereka, 64% menolak dengan alasan terlalu berat dan tidak mengerti masalah penanganannya,16% merespon menunggu peraturan pemerintah. Sampel ini saya dapat di beberapa sekolah di Kabupaten dan kodya Bandung dan saya masih menyimpan file-file nya tentang penelitian itu.

Khusus tentang anak autis, beberapa hal yang selalu saya kritik, baik pada dosen, dokter atau psikolog yg punya klinik, yayasan atau pusat pendidikan autis yg saya kenal yaitu kenapa kita mesti memakai metode2 yang dari luar, baik itu Lovvas, Abba, atau teori luar lainnya, padahal anak indonesia berbeda kultur cara, dan background pandangan lingkungan thd anak autis, kenapa teori2 itu cukup dijadikan referal dan kita kembangkan metode cara orang indonesia, bukankah itu lebih mencirikan bahwa orang indonesia-pun bisa? kita tidak boleh ter-dogma oleh contoh luar yg akhirnya kita sugesti?.

Mohon maaf ini saya kemukakan karena saya pernah menangani anak autis 3 anak, dan saya merasa gerah dengan harusnya kita baik Anak, Orang tua dan Therapis melakukan semua langkah2 yang diajarkan oleh metode2 tersebut, yang seharusnya anak autis ditangani dengan diskusi humanity antara orang tua, therapis dan anak. Karena pendekatan edukasi dengan pendekatan cara psikolog itu sangat berbeda, tekanan Edukasi adalah mengoptimalkan yang sudah ada pada anak, sedangankan tekanan klinis dan psikologis lebih pada penekanan penyembuhan, dan saya bisa katakan autisme bukan sebuah penyakit yang harus disembuhkan, tapi lebih pada pengoptimalan kemampuan. Walaupun itu tanpa teori tapi saya berpikir itulah yang terjadi pada anak autisme, mereka perlu di stimulus saja untuk bisa optimal dengan keberadaannya.

Meskipun demikian saya yakin ke depannya kita harus bentuk pendidikan di Indonesia, menuju pendidikan kesamaan bagi semua atau bahasa ilmiahnya "Pendidikan Inklusi", dimana sudah tidak ada lagi pembeda di dalam subjek pendidikannya, dan itu terpulang pada universitas pencetak guru, mampu tidak menciptakan guru yang handal yang bisa mengidentifikasikan setiap ke-khasan siswa didiknya, dan itu akhirnya revolusi secara keseluruhan sistem yang ada? dan melalui komunitas ini saya mengajak marilah kita perjuangkan hak pendidikan anak-anak yang memiliki kekhususan dan membutuhkan kebutuhan khusus akan layanan pendidikan, agar tetap eksis dalam menjalani roda kehidupan ini. Saya dukung semua langkah komunitas ini ke arah yang lebih baik lagi.
Untuk itu jika bapak ibu membutuhkan bantuan saya bisa kontak ke e-mail saya.

Terima kasih atas kesempatan saya bisa mengisi opini di komunitas ini

Wassalam

Dadan Rachmayana



Bunga Rampai Online
Buku Bunga Rampai

Artikel sebelumnya: " Mirror.......- Sharing dan tips mengenai anak yang cenderung menulis angka terbalik"

Artikel berikutnya " Functional comunication - Cara praktis menyiapkan situasi untuk menciptakan "functional comunication""




| english version | Kontak Kami | search|

Valid HTML version 4.01

Sejak Januari 2000 - Juli 2008 situs ini telah dikunjungi: 713866 -pengunjung
Interaksi anda dengan situs ini mengikuti Site Policy kami

Puterakembara 2000-2008