Anakku Osha Lulus SMA dan jadi Mahasiswa UGM

Osha_cover

07/20/2008

Oleh: Herniwatty Kris (Bunda Osha)


Osha atau Natrio Catra Yososha, yang kini berumur 18 thn adalah anak bungsu dari 3 bersaudara. Yang pertama Agie (25 thn) dan kedua Inno (22 thn). Di bawah ini adalah sekedar sharing perjalanan saya membesarkan & mendidik Osha sejak didiagnosa ASD sampai sekarang, yang mudah-mudahan bermanfaat buat orang tua lain.

Osha&Bunda


Bagian Pertama

Osha didiagnosa ASD (Autistic Spectrum Disorder) pada waktu Osha sudah duduk di kelas 2 SD.
Kelainan pada Osha sebenarnya sudah terdeteksi sejak usia 2 tahun, karena sampai usia hampir 2 thn, Osha belum mampu bicara, yang keluar banyak dari mulutnya hanya suara celoteh yang tidak dapat dimengerti. Dari pemeriksaan oleh neurolog dan yang diperkuat dengan hasil tes lab, terdeteksi bahwa Osha pernah terinfeksi CMV yang menyebabkan kerusakan permanen pada beberapa bagian syarafnya, hasil tes EEG walaupun terlihat beberapa ciri abnormal tapi masih dalam batas yang tidak terlalu menghawatirkan, sedangkan dari tes pendengaran hasilnya sangat baik. Waktu itu kira-kira 16 tahun yang lalu, istilah autisme nyaris belum dikenal luas seperti sekarang, diagnosa dokter anak dan dokter syaraf saat itu, Osha hanya mengalami keterlambatan bicara saja, padahal setelah kami banyak membaca tentang ASD, hampir semua ciri2 autisme terdapat pada Osha.

Awalnya kami membawa Osha untuk terapi wicara di RSCM, tapi berhubung terlalu banyak pasien, seringkali membuat Osha tantrum karena kelelahan menunggu dan juga karena jadwal makan dan tidurnyapun jadi terganggu, untuk mengatasi hal itu, kami berusaha mencari tempat terapi lain, dan saat itu untuk mecari tempat terapi yang khusus sangat sulit, akhirnya dokter anak mengirim Osha untuk terapi wicara di SLB B Santi Rama di Jl.Kramat 7-Jakarta Pusat. Seminggu 3 kali Osha terapi disana, dalam waktu satu tahun sebenarnya sudah terlihat ada perkembangan walaupun tidak begitu banyak, tapi karena ketidak tahuan dan harapan yang terlalu tinggi, kemajuan Osha terasa sangat lambat.

Usia 3,5 thn untuk menunjang keberhasilan Osha dalam bersosialisasi, atas saran dokter dan terapis, Osha harus segera dimasukkan ke Taman Bermain, saya tidak mengira bahwa dari situlah awal kesulitan2 yang harus dihadapi Osha. Tidak adanya kontak mata, keterbatasan kosakata dan perhatian yang mudah beralih, semua itu menyebabkan Osha tampak beda dari anak2 sebayanya dan itu selalu jadi alasan penolakan dari setiap Playgroup yang kami datangi, untunglah di ujung keputus-asaan, kami teringat pada Ibu Kasur. Dan ternyata tidak salah dugaan kami, dengan ringan bu kasur mempersilakan mendaftarkan Osha di TK Setia Balita yang kebetulan membuka cabang di Perumahan Kemang Pratama-Bekasi, tidak begitu jauh dari tempat kami.

Pada saat Osha sudah masuk sekolah, masalah demi masalah mulai bermunculan, Osha tidak bisa bermain dengan teman2nya, usaha untuk menggabungkan Osha diantara teman2nya seperti mencampurkan minyak ke air, karena Osha tak pernah suka dengan keramaian, Osha juga belum bisa memahami perintah, ketidakmampuannya mengontrol gerakan tubuh, sehingga sering menabrak dan menginjak apapun yang ada di depannya, membuat Osha seolah dikucilkan, semua mata orangtua murid selalu memandang curiga dan waspada pada Osha dengan pandangan yang sangat tidak mengenakkan hati. Jari2 tangan mungilnya yang kaku seperti robot tidak mampu memegang pinsil warna atau crayon, kertas gambarnya yang selalu lusuh dan robek, sepi tak berwarna dan ketika teman2nya belajar osha selalu ngabur keluar kelas mencari laba2 di pohon2 sekitar sekolah sambil mengoceh yang tak jelas artinya, satu hal yang menentramkan hati, guru2nya luar biasa sabar, bahkan tak jarang kepala sekolahnya sendiri yang turun tangan menggiring Osha ke ruangannya.

Begitu juga ketika guru2nya mengeluh dengan muka masam bahwa Osha sama sekali tidak bisa diajari matematika, karena konsep angka saja tidak mengerti, saya sudah membantu dengan segala macam cara..ya memang bisa menulis angka tapi tidak memahami apa2. Disuruh menghitung sampai seratus mampu, tapi penjumlahan10+10 saja tidak bisa, saya merasa Tuhan memang punya rencana lain buat Osha, waktu saya dan osha meluncur menuju tempat terapi wicara, seperti biasa karena Osha tergila-gila pada mesjid, saya selalu melambatkan kendaraan bila melintasi mesjid, memberi kesempatan pada Osha untuk mengaguminya, tapi saat itu dia bukan cuma mengagumi tapi menghitung jumlah menaranya, saya hentikan kendaraan di depan mesjid, saya suruh osha menghitung jumlah pintu, jendela, anak tangga ke menara. Pokoknya semua bagian bangunan mesjid saya libatkan untuk belajar, ternyata Osha bisa bukan cuma menghitung jumlah benda melainkan menghitung penjumlahan dan pengurangan. Saya coba mewarnai gambar mesjid yang Osha buat lalu saya tanya warna apa saja yang dia lihat pada gambar tsb, ternyata dengan mudah Osha bisa menjawab, begitu juga dengan membaca dan menulis saya minta Osha menulis dalam huruf arab nama mesjidnya lalu saya tuliskan huruf latinnya yang dieja pelan2...ajaib, dia bisa! Allah Maha Kuasa, keajaiban yang tak masuk akal manusia, jadi hari itu kami tidak jadi terapi tapi belajar seharian di seputar mesjid, kekagumannya pada mesjid memang luarbiasa, kalau disuruh menggambar gunung, ada mesjid diatasnya, gambar laut ada juga mesjid di dalamnya bersama dengan ikan2 dan laba2 kesukaannya, ulangtahunpun minta mesjid. Terpaksa saya pesan ke tukang kayu untuk membuatkan miniatur mesjid, saya berusaha menangkap apa makna dibalik semua keanehan itu, dan saya merasa Tuhan memang menunjukkan bahwa saya tidak perlu kuatir terhadap apapun yang harus saya hadapi selama saya terus mendekatkan diri dan bersandar padaNya, mesjid yang digilai Osha itulah petunjuknya, tanpa teori apapun Tuhanlah sumber segala teori dan sumber segalanya selama kita menyadari dan mengimani keberadaanNya.


Bagian Ke Dua

Tahun kedua Osha bersekolah, Osha sudah mulai tampak lebih baik, sudah mulai lebih terkendali, bisa duduk lebih lama di kelas, mulai bisa mewarnai walaupun hasilnya tidak karu2an, tapi masih saja menutup kuping dan matanya bila mendengar temannya menangis, batuk, bersin atau hal yang dia anggap aneh, semisal temannya yang sedang flu datang ke sekolah dengan memakai mantel/syal. Di tahun ini Osha masih juga belum ada ketertarikan untuk belajar mengenal huruf dan angka, yang bisa membuatnya tertarik hanya mesjid, huruf/angka arab, peci,dan tikar sembahyang. Bila Osha sedang belajar iqra (mengeja huruf arab) di mesjid dekat rumah, dia bisa betah berlama-lama disana, walaupun mesjid sudah sepi karena teman2nya sudah pulang semua. Osha malah semakin betah, dia akan menjelajahi seluruh ruangan mesjid, menggelar sajadah berpindah-pindah dan "shalat" di semua sudut mesjid. Tidak seorangpun yang rajin ke mesjid yang tidak mengenal Osha. Jadi kebalikannya dengan di sekolah. Bila Osha di sekolah dianggap"devil", di mesjid Osha dianggap "angel".

Menjelang akhir tahun kedua Osha di TK bu Kasur, saya semakin cemas, masuk SD jaman sekarang sudah tak sama dengan jaman saya dulu, sekarang masuk SD, harus lulus tes saringan masuk, sementara TK bu Kasur masih menggunakan "pola lama", alias tidak memaksakan anak untuk belajar dan tidak memberi persiapan untuk ke SD, dengan berat hati terpaksa saya berniat memindahkan Osha ke TK lain yang bisa memberi persiapan untuk masuk SD. Tak pernah terpikirkan bahwa itu sama saja dengan menjerumuskan Osha kedalam kesulitan yang jauh lebih besar. Kesadaran akan hal itu baru timbul setelah menemukan kesulitan untuk mencari TK yang mau menerima Osha. Mencoba 6 kali ikut tes masuk, enam kali gagal, yang terakhir saya berusaha mencoba memasukkan Osha ke TK Al Azhar karena kebetulan semua kakak2nya bersekolah di SD dan TK yang sama, tapi tetap tak diterima, walaupun sudah berbekal hasil tes IQ dari Santi Rama, tetap tak berhasil. Sementara KBM sudah berlangsung hampir 1 cawu, Osha masih belum dapat sekolah, dengan putus asa saya bawa Osha ke SLB Asih Budi di kuningan, ternyata ditolak juga karena mereka menganggap Osha punya potensi untuk berkembang lebih normal bila bersekolah di sekolah reguler. Begitu juga jawaban dari SLB border line Budi Waluyo sewaktu mau mendaftar disana. Saya sudah tak mampu lagi menangis saking putus asanya.

Kebetulan saat itu AL Azhar membuka sekolah baru dari mulai TK hingga SMA di Kemang Pratama, walaupun dengan hati ciut tanpa harapan saya paksakan mendatangi sekolah ini, ternyata sudah banyak teman2 lama Osha dari TK bu Kasur yang pindah kesana, dengan dukungan teman2 lama yang merasa kasihan melihat Osha belum dapat sekolah, saya berhasil memaksa dengan halus untuk diterima, memang akhirnya berhasil tapi masuk di kelas percobaan selama 2 minggu dan ternyata masih juga gagal. Dengan bantuan teman2 yang "bergerilya" membujuk guru2 agar bisa melunakkan hati Ibu KaSek, akhirnya Osha diperbolehkan melanjutkan sekolah sampai waktunya kelulusan tapi dengan syarat harus menanda tangani "perjanjian" untuk tidak memasukkan Osha ke SDnya.

Tamat dari Tk, cerita lama kembali berulang, karena sudah"teken" surat perjanjian, saya terpaksa berkeliling lagi mencari SD yang bisa menerima Osha, dari pangkalan Jati Pondok gede sampai cikarang disisir satu persatu, walhasil tidak satupun mau menerima. Perasaan sedih, kecewa, marah dan putus asa, perlahan saya urai dan rangkai menjadi doa yang maha panjang, saya hanya minta diberi kekuatan untuk bisa menerima kenyataan apapun yang harus kami terima, tapi justru dalam kepasrahan total seperti itu, Allah Maha Kasih, kami dipertemukan tanpa sengaja dengan Ka Sek SD ALAzhar yang dengan bijaksana bersedia menerima Osha di sekolahnya sekalipun KBM sudah berlangsung.

Osha&guru



Bagian Ke Tiga

Masa awal-awal SD ini, Osha seringkali diejek, ditertawakan bahkan dijahili. Upaya saya adalah mengamati anak yang paling sering jahil dan nakal pada Osha, saya amati apa kesukaannya atau minatnya, setelah cukup data, saya belanja dan jadilah saya "dora emon & kantong ajaibnya", setiap Osha dijahili, saya rangkul anak tsb, saya minta untuk tidak menjahili Osha karena nasib Osha tidak seberuntung dia, saya puji anak itu dan saya katakan karena dia lebih pintar dari Osha, saya minta dia mengajari Osha biar bisa pintar juga, lalu saya perlihatkan kantong ajaib yang penuh hadiah kecil, saya suruh mereka memilih sesuai kesukaan masing2, alhamdulilah cara2 itu berhasil menundukkan anak yang paling nakal sekalipun bahkan tidak jarang jadi pembela Osha pada saat Osha dimarahi teman yang lain.

Setiap hari saya berdiri dekat kelasnya Osha sampai waktunya Osha pulang, hanya untuk berjaga-jaga bilamana Osha atau gurunya memerlukan bantuan. Sekali waktu Osha dibentak dan dicubit gurunya karena Osha tak bisa belajar gara2 bunyi engsel pintu kelas yang kekurangan minyak, saya lihat Osha hanya meringis kesakitan dan kebingungan, lalu "leyeh2" tiduran menenangkan perasaan tidak nyamannya dibawah papan tulis. Tentu saja itu membuat gurunya jadi tambah marah dan menuntunnya ke luar kelas. Terpaksa saya bawa pulang dan selama beberapa hari bukan Osha yang sekolah tapi ibunya belajar dengan bu guru sebelum kegiatan sekolah dimulai lalu mentransfer pelajaran ke Osha di rumah. Keesokan harinya saya ke sekolah membawa PR yang sudah Osha kerjakan, sampai "urusan pintu" beres, baru Osha saya kembalikan ke sekolah.

Selama kelas 1 dan 2 , nilai2 Osha selalu"jeblok" dimana-mana. Guru2nya nyaris putus asa, tapi pak kepala sekolah selalu menyemangati saya dan Osha. Saking ingin membuat guru2 mengerti dan memahami kesulitan Osha, saya selalu men"traktir" mereka untuk ikut seminar2 yang mengangkat masalah yang berkaitan dengan kesulitan belajar pada anak-anak.

Akhir kelas 2, Allah memberikan keajaiban lagi untuk Osha, saya dipertemukan dengan dr. Melly Budhiman dan Ibu Ages Surjana seorang orthopedagog muda dari BRT, dan sejak ditangani keduanya, kebetulan cocok, Osha mulai menunjukkan perkembangan yang luar biasa, hingga lulus dari kelas 6. Dari sisi akademis nyaris tak ada lagi masalah yang berarti pada Osha, lingkungannya sudah terbiasa dengan segala "keunikan" Osha dan sudah dapat menerima Osha apa adanya.

Hal itu membuat Osha lebih comfort. Seharusnya ini sangat membantu untuk osha belajar bersikap "lebih normal" tapi ternyata hanya terbantu di sisi akademisnya saja. Perilaku cuek, wagu dan culunnya hanya berkurang "sedikit" saja. Mungkin itu salah saya, kurang waktu untuk mengajarinya, hal itu tidak lain karena saya harus menangani semua anak2 saya dengan berbagai macam permasalahannya. Betul2 sendirian, karena sejak mulai tahu ada kelainan pada Osha, saya dan ayahnya mentok di"persimpangan " dan semakin hari semakin terasa menjauh, tidak lagi seiring sejalan. Kondisi seperti itu berdampak buruk pada anak2. Semua kakak2 Osha jadi anak yang bermasalah, saya sampai bosan dipanggil ke sekolah akibat kelakuan anak2. Tiap hari pontang panting membagi waktu untuk mengantar-jemput semua anak2 sekolah, les, konsultasi ke 2 psikolog untuk si kakak dengan menunggui Osha di sekolah, mengantarnya les musik dan terapi ke cempaka putih dan Bogor.

Saya menjadi "tua di jalanan"rasanya, karena mulai berangkat pagi sampai malam hari saya tidak bisa istirahat di rumah. Pulang kerumah hanya pada waktu membawa anak2 pulang sekolah, memberi mereka makan lalu jalan lagi untuk hal2 yang sudah saya sebut diatas tadi, beruntung masih belum ada tuntutan untuk mencari biaya hidup, bila harus begitu mungkin saya sudah "mati berdiri". Waktu untuk "mengajari" Osha semakin berkurang karena saya harus selalu punya waktu untuk mengajak"bicara" anak2 yang sudah menginjak remaja terlebih dulu, memberi pengertian pada mereka berdua bahwa kami semua sedang menghadapi masalah yang cukup pelik dan semua permasalahan itu pasti akan bisa teratasi bilamana mereka tidak menambahi dengan masalah baru yang mereka buat. Hal yang tidak mudah untuk meminta pengertian pada remaja2 ABG ini. Saya juga harus punya waktu untuk mendampingi mereka belajar agar tidak makin iri pada Osha, walaupun mereka sudah remaja, tapi biasanya pada saat menjelang tidur saya membacakan cerita, menyanyi menina bobokan Osha. Dan biasanya si kakak2 pasti berebut tempat di sebelah saya.


Bagian Ke Empat

Permasalahan lama masih jauh dari tuntas, timbul masalah baru, Osha yang baru duduk di kelas 1 SMP, belum terbiasa dengan lingkungan yang baru walaupun gedungnya bersebelahan dengan SDnya dulu. Untunglah, guru2 terutama guru BP sudah saya beri masukan tentang Osha jauh sebelum Osha sekolah disana, saya beri mereka "list" tentang apa saja perilaku "aneh" Osha berikut penyebabnya dan cara mengatasinya, saya mengambil sikap seperti itu dengan harapan Osha yang sudah memasuki masa pra remaja sudah harus mulai lebih mandiri, belajar mengatasi sendiri semua permasalahan yang harus dihadapinya, dan dengan langkah2 di atas saya masih bisa memonitor Osha dari rumah melalui guru2nya.

Langkah2 yang saya ambil ternyata betul2 bermanfaat, tidak butuh waktu lama untuk Osha bisa beradaptasi dengan lingkungan sekolah barunya, di kelas 2 Osha sudah merasa betul2 comfort. Ini bisa dilihat dari keinginannya untuk bisa berorganisasi dan ternyata Osha mampu lolos screening untuk menjadi anggota OSIS di seksi kesenian. Kejutan yang membahagiakan ini membuat semangat yang mulai kendor karena kondisi rumahtangga yang carut marut mulai berkobar lagi, walaupun Osha masih duduk di kelas 2 SMP, saya mulai menyusun strategi untuk mempersiapkan Osha ke SMA.

Saya berusaha melibatkan siblings-nya untuk membantu rencana2 saya, dan ternyata ini langkah awal yang baik untuk memperbaiki kekacauan dirumah kami, kakak2 Osha sudah tidak lagi bermasalah bahkan sebaliknya mereka menjadi asisten istimewa yang bisa diandalkan pada saat saya sedang merasa "down".

Di kelas 3 awalnya baik2 saja, tapi ketika beberapa bulan menjelang Osha ujian SMP, badai yang lebih hebat menghantam biduk rumahtangga kami, yang ternyata itu hanya ekornya saja karena kepala permasalahan ada di 10 tahun yang lalu. Saya merasa seperti terpojok dibibir jurang, tidak terlihat ada titik terang yang bisa menunjukkan kemana arah yang aman untuk ditempuh, satu2nya yang terlihat hanya jurang, tapi bila saya terjun pasti akan meluluh lantakkan perjuangan saya selama ini, saya tidak ingin mempertaruhkan anak2 saya hanya untuk menuruti perasaan saya saja, tapi saya juga sudah bosan dan lelah lahir batin dalam menghadapi berbagai masalah, saya tahu keberhasilan atau kehancuran Osha dan kakak2nya tergantung pada pilihan yang harus saya putuskan, sementara kondisi jiwa saya saat itu sudah tidak lagi memungkinkan untuk mampu membuat keputusan. Saya hanya bisa merenung dan mengurung diri, tak terpikir bahwa Osha dan salah satu kakaknya sedang mempersiapkan ujian sekolah.

Saya yang biasanya rajin berkomunikasi dengan Allah SWT, tidak lagi punya keinginan untuk shalat, saya merasa marah karena merasa pengorbanan yang sudah saya lakukan untuk mengikuti agama suami ternyata tak pernah dihargai, sayapun pergi meninggalkan anak2 ke Bandung dengan alasan menengok si sulung yang kuliah di UNPAD, padahal tekad saya sudah pasti saya akan ke KUA dimana saya menikah dulu untuk mengurus perceraian. Tapi pada saat kritis seperti itu saya kembali disadarkan, saya ditelpon oleh tetangga yang mengatakan bahwa Osha setiap sore menggendong ransel dengan beberapa potong pakaian miliknya duduk di kansteen depan rumah dan ketika ditanya, jawabannya "Osha mau minggat, mau cari ibu tapi tidak tahu harus cari kemana", ..tak bisa saya ceritakan bagaimana hati ini hancur berkeping-keping rasanya, Seketika saya sujud memohon ampun dan memohon pada Allah SWT agar melindungi anak autisku ini dan secepat kilat aku seperti terbang pulang untuk meminta maaf pada Osha dan kakaknya. Saya sadar telah melupakan sumber kekuatan yang diberikan Allah SWT selama ini pada saya..

Setelah peristiwa itu saya tak mau ambil pusing dengan permasalahan pribadi, saya hanya konsentrasi pada anak2 terutama Osha, toh selama belasan tahun terakhir saya sudah terbiasa mengurus anak2 sendirian tanpa ada tempat berkeluh kesah, tanpa teman diskusi yang bisa membesarkan hati. Saya berusaha mematikan perasaan untuk hal lain selain menjalin hubungan yang lebih intens dengan Tuhan dan anak2. Osha yang biasanya sangat tidak suka dipeluk, setelah kejadian itu jadi lebih mudah dan sering dipeluk.

Allah Maha Kuasa yang mampu membolak balikkan hati manusia, setelah Osha dan kakaknya lulus ujian dan sepertinya tidak terpengaruh sama sekali dengan kejadian2 yang lalu, entah apa yang terjadi tiba2 saja ayah Osha dan keluarga besarnya berubah drastis pada kami, api itu sudah padam dan insyaallah tidak meninggalkan bara setitikpun di hati saya dan anak2. Saya melihat justru dengan kondisi yang semakin membaik Osha dan siblingnya menunjukkan bahwa peristiwa terburuk dalam hidup mereka telah menggodok mereka untuk jadi lebih dewasa.

Osha&Bunda



Bagian ke Lima

Selama di SMA, Osha selalu masuk di peringkat 10 besar, padahal saya tidak pernah memacunya untuk seperti itu, saya tak pernah berharap terlalu jauh karena keberhasilan di bidang akademik bukanlah target utama saya. Yang melegakan Osha sudah bisa punya kepedulian terhadap banyak hal, pada saat dia kehilangan HP yang saya pinjamkan padanya, dan tahu saya tidak membeli Hp lagi, mungkin dikiranya saya tidak punya uang untuk membeli yang baru. Osha mengatakan agar saya bisa menabung untuk beli HP baru, dia tidak akan naik ojek dan memilih naik sepeda ke sekolah dan tempat lesnya yang berjarak kira-kira 3 km dari rumah. Trenyuh rasanya melihat Osha kepanasan dan kehujanan mengayuh sepedanya, tapi dia tetap menolak ketika ditawari untuk diantar naik mobil atau ojek bahkan ke dokter gigipun sudah tidak mau ditemani.

Bila di sisi akademik Osha berhasil tapi seperti pada umumnya anak2 autis lain, Osha masih saja kesulitan dalam bergaul, tak pernah ada teman yang main ke rumah, paling sesekali Osha main kerumah temannya itupun tak pernah berlangsung lama, 2-3 kali lalu ganti teman lagi, Osha tak pernah diundang ke ulang tahun teman2nya, jadi sekalinya ada yang mau berteman lama Osha sangat senang tapi jadi masalah karena ternyata setiap orang yang berusaha seperti itu hanya orang2 yang ingin memanfaatkan atau berniat jahat pada Osha. Saya sudah hafal kalau banyak telpon untuk Osha dari teman2nya pasti lagi musim banyak tugas atau ulangan, karena mereka menghubungi Osha hanya kalau ada maunya saja, Oshapun mau saja pontang panting mengerjakan tugas orang lain agar bisa selalu dihubungi teman2nya walaupun sudah saya nasehati terus agar tidak bersikap seperti itu dalam berteman,Osha tidak mau tahu dan memang akhirnya dia bisa menemukan sahabat sejati, yaitu teman sekelasnya laki2, seorang teman perempuan yang selalu dimusuhi teman2nya karena cantik dan pintar dan satu lagi adik kelasnya yang saya duga punya sedikit persamaan masalah seperti Osha.

Yang mengerikan pada waktu Osha mendapat teman baru yang bukan teman sekolah, via telpon yang entah bagaimana bisa mendapatkan telpon rumah dan HP Osha. Tiap hari menelpon dalam waktu yang lama dan Osha tidak pernah mau mengatakan siapa penelponnya, untunglah pada saat mereka janji untuk bertemu (ternyata bukan hanya dengan Osha tapi juga dengan teman-teman sekolah Osha 3 orang), tempat pertemuannya tidak Osha kenal jadi mau tidak mau dia bertanya pada saya mengenai tempat tsb.

Saya langsung kontak ke orangtua teman2 Osha dan melaporkan hal itu pada sekolah dan polisi, belakangan baru ketahuan ternyata anak itu adalah seorang pengedar narkoba.

Satu kali lagi Osha nyaris jadi mangsa seorang psikopat, waktu itu ayah Osha sedang tugas di Lampung selama 1 tahun, jadi saya sedang banyak meninggalkan rumah untuk mondar-mandir kesana. Saya mulai curiga ketika Osha sering menerima telpon di kamarnya, kalau sms pun selalu sembunyi2, saya pikir Osha sudah punya pacar, satu waktu tanpa sengaja mendengar percakapan telpon Osha dengan teman misteriusnya yang ternyata laki2, janjian akan ketemu di halte feeder bus kemang pratama dan pergi "jalan2". Ketika saya tanya Osha, tidak sedikitpun mau menjawab, saya sudah senewen rasanya, ketika saya cek sms2 yang masuk di HPnya tanpa setau yang punya, betapa terkejutnya saya melihat isi smsnya, dari kata2nya terlihat jelas pandai sekali orang itu membujuk Osha dengan alasan memiliki persamaan dengan Osha, tidak pernah bisa berteman, satu2nya teman yang baik padanya hanya Osha, dan yang terakhir melarang Osha untuk menceritakan pertemanan mereka pada siapapun termasuk orangtua dan saudara. Dari suaranya di telpon waktu tak sengaja mencuri dengar sudah jelas suara orang dewasa. Malam itu juga saya dan ayah Osha menelpon orang (yang ternyata belum pernah sekalipun bertemu dengan Osha) itu, melarangnya menghubungi Osha lagi dan mengancam akan melaporkannya pada polisi.

Osha-main-biola


Bagian ke Enam

Peristiwa traumatik itu sudah berlalu Osha sudah mulai bisa diberi pengertian bahwa dari pengalaman2 buruk itu dia harus banyak belajar untuk bisa memilah dan membedakan yang baik dan yang buruk, belajar mau tahu bahwa dunia diluar rumah itu tidak seaman di rumah, mengajarinya untuk belajar menghilangkan sikap2 yang merugikan dirinya sendiri dan seintens mungkin berkomunikasi dengan orangtua dan kakak2nya, agar pada saat menghadapi masalah ada tempat bertanya dan berdiskusi.

Osha sekarang memang sudah tampak lebih dewasa dan lebih adaptif terhadap segala sesuatu yang baru, tapi masih belum banyak bergaul. Sampai pada satu waktu Osha mendapat giliran untuk membawakan kuliah tujuh menit (kultum) pada saat shalat dzuhur SD,SMP,SMA,Guru2 dan karyawan Al Azhar, Osha menyitir salah satu surat yang isinya berkaitan dengan pertolongan2 Allah dalam menghadapi kesulitan, dan Oshapun mengkaitkannya dengan kesulitan2 dirinya sebagai individu autistik yang selama hidupnya selalu mendapat pertolongan Allah dengan mujizat2 yang sudah membuatnya mampu seperti sekarang lalu diakhiri dengan permintaan maaf bila sikapnya telah membuat orang lain tersinggung karena dia tidak pernah punya niat jelek pada siapapun dan juga berterimakasih pada teman2 dan guru2 yang telah menerima Osha apa adanya. Saya tak bisa menahan airmata haru mendengar cerita itu dari teman2 osha dan guru2nya.

Titik-titik cerah sudah mulai menerangi jalan kehidupan Osha, setelah peristiwa di mesjid itu, osha makin banyak teman, teman2 dan adik2 kelasnya yang dulu cuek sekarang selalu menyapa ramah, Oshapun sering diundang ke pesta ulang tahun teman2nya, bahkan waktu ulangtahun Osha yang ke 18, teman2nya memberi kejutan dengan membelikan kue ulang tahun dan merayakannya pada jam istirahat di sekolah. Testimoni Osha akan mujizat Allah sudah terbukti. Betapa Maha Pemurahnya Allah, kami tak pernah berani punya ambisi apa2 tapi diberinya kami lebih dari yang kami minta.

Osha-di-UGM


Bagian ke Tujuh

Alhamdulillah Osha sudah lulus SMA dengan nilai yang biasa saja buat orang2 pada umumnya, tapi buat saya nilai yang "luarbiasa". Yang mengharukan, Osha juga diterima sekaligus di 3 PT yaitu dapat Arkeologi di UGM (Ujian tulis), Sastra Jawa di UI (UMB) dan Sejarah di Unika Sanata Dharma di Yogyakarta tanpa tes (jalur prestasi). Terharu, bangga, bahagia, sedih, bingung dan tidak percaya
bercampur baur jadi satu.

Osha juga memberi saya satu kejutan lagi waktu wisuda SMAnya yaitu dapat penghargaan untuk karya tulis IPS terbaik seangkatan yang berjudul "Akulturasi kebudayaan Hindu Budha di Indonesia"
Wah..mmbrebess saya tidak bisa menahan tangis waktu mendampinginya menerima piagam dari sekolahnya.

Terimakasih, alhamdulillah...

Yang paling penting dan selalu harus kita ingat adalah saat menerima kenyataan seburuk apapun yang kita rasakan, kita harus percaya segala sesuatu yang Allah berikan tentu bukan tanpa rencana, memang perasaan jatuh bangun bahkan "ngusruk" serasa tidak mungkin bisa bangkit lagi selalu datang tanpa diundang. Yang bisa melawannya hanya doa dan upaya, pada saat saya merasa lelah lahir batin, semangat juang sudah di titik nadir, yang saya lakukan hanya merayap berusaha mendekatkan
diri dan bersandar pada Yang Maha Kasih, saya tumpahkan airmata dan semua kelelahan yang saya rasakan disana melalui sujud dan doa, Allah Maha Melihat dan Mendengar, melihat upaya kita dan mendengar doa kita, insyaallah Dia akan senantisa memberi kekuatan untuk kita bisa bangkit dan
Dia akan menerangi jalan terjal ber batu2 yang harus kita lalui.

Saya tidak punya pengetahuan apa2, ijazahpun cuma sampai SMA, saya tidak mampu
mengajari Osha sesempurna ibu2 lain, saya cuma bisa mendoakan Osha tanpa harapan yang muluk2, saya hanya mengharap keridhoanNYa untuk memberi yang terbaik menurutNYa. Itupun dengan bacaan doa yang jauh dari sempurna. Subhanallah, Allah mengabulkan dan memberi lebih dari yang saya minta.

Sekarang Osha sudah jadi mahasiswa, sudah melenggang ke arah dunia barunya, tak pernah terpikirkan bahwa Osha dengan segala kesulitan dalam hidupnya mampu berjalan hingga sejauh ini. Takkan pernah ada hentinya kami sekeluarga mensyukuri keberadaan Osha di tengah2 kami, Oshalah yang membuat saya selalu butuh dekat pada Tuhan. Osha lah yang membuat keajaiban2 dalam rumahtangga kami. Maha Besar Allah, telah mempercayakan titipan istimewa ini pada kami.

Sekarang Osha sudah ingin berjalan sendiri, kami akan mendukung dan menghargai keinginannya, bukankah 16 thn yang lalu saya mati2an untuk melihatnya seperti ini, untuk bisa belajar punya kehidupan yang mandiri dan tidak jadi beban bagi siapapun. Sekarang saya hanya perlu belajar melepasnya dengan doa , mendukung dan mengantarnya ke gerbang kedewasaan, tak ada yang bisa saya titipi untuk menjaganya selain berserah pada kehendakNya, seluruh doa kupanjatkan kepadaNya untuk Osha, kuserahkan anak autisku kedalam Tangan Penuh Kasih itu yang akan menjaga, melindungi dan membimbing Osha menapaki jalan hidupnya sesuai dengan rencanaNYa.


Osha-di-UGM



NB: Untuk melihat foto-foto dalam versi lebih besar, silahkan mampir ke Album Khusus Osha dan klik DISINI



----------ooooo00000ooooo------------


Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy