Puterakembara, Duniaku adalah Duniamu
| Home | Kontak Kami | artikel lainnya |

III. PENDEKATAN FLOOR TIME

oleh: Fridiawati Sulungbudi, Psikolog Anak


PENDEKATAN FLOOR TIME

Floor time yang secara harafiah diterjemahkan sebagai 'waktu di lantai' diperkenalkan oleh Stanley I. Greenspan dan Serena Wieder, sebagai pendekatan interaktif yang berlandaskan kekuatan relasi dan struktur keluarga; dan mempergunakan relasi yang sistematik untuk membantu anak melewati tahapanperkembangan emosi. Anak-anak dengan kebutuhan khusus kadang-kadang meloncati tahap tersebut sehingga mengalami kesulitan untuk bisa mencapai tahap berikutnya. Bila terjadi demikian, floortime akan mengajak anak kembali ke tahap perkembangan yang terloncati lalu maju perlahan-lahan.

Floor time merupakan kolaborasi usaha dari orang tua dengan para profesional (dokter, psikolog, terapis okupasi, terapis bicara-bahasa serta pedagog). Para
profesional membantu orang tua menganalisa, memberi umpan balik dan ide bagaimana orang tua melakukannya.

Prinsip utama floor time adalah mencoba memanfaatkan setiap kesempatan yang muncul untuk berinteraksi dengan cara yang disesuaikan dengan tahap perkembangan emosinya. Interaksi tersebut diharapkan bermula dari inisiatif anak, anak dianggap sebagai pemimpin dan kita mengikuti minatnya. Bila anak berminat dan termotivasi untuk melakukan sesualu itu berarti memanfaatkan emosi sebagai titik awal interaksi yang kemudian akan diperluas dan dikembangkan sedapat mungkin oleh kita sehingga menjadi lebih bermakna dan timbal-balik. Lihat kembali penjelasan mengenai perkembangan emosi.

Tujuan Utama Floor Time

Seperti dijelaskan sebelumnya, 6 tahapan perkembangan emosi harus dilalui seorang anak untuk mencapai kemampuan komunikasi, berpikir dan membentuk konsep diri. Tujuan utama floor time adalah tercapainya keenam hal tersebut, tetapi karena dari keenamnya ada beberapa hal yang secara alamiah saling beririsan, tujuan utama floortime adalah:

1. mendukung tercapainya atensi mutual dan keintiman/ keterlibatan dan mempertahankannya selama mungkin. Saat anak belajar tetap tenang saat mengeksplorasi dunianya, ia juga akan mengembangkan minat terhadap anda sebagai orang terpenting dalam dunianya. Tujuan kita adalah membantu anak tetap terlibat dengan kita dan menikmati kehadiran kita. (1-2)

2. membantu anak belajar membuka dan menutup siklus komunikasi, dimulai dari yang bersifat gestural dan lama kelamaan berkembang menjadi lebih kompleks, mengerti dan mengekspresikan keinginan, harapan, perasaan, dan kemudian komunikasi yang bersifat problem solving. (3-4)

3. mendukung pengekspresian dan p&nggunaan perasaan dan ide-ide baik melalui kata-kata maupun bermain pura-pura. Tujuan kita adalah mengembangkan drama dan bermain pura-pura sebagai sarana (5)

4. membantu anak mengkaitkan ide dan perasaan sehingga mencapai pemahaman tentang dunia yang logis dan saling terkait. la belajar berpikir logis (6)

Pedoman Umum

Beberapa garis pedoman umum berikut ini harus selalu diperhatikan dalam melakukan floor time, sebelum kita masuk ke dalam kiat-kiat praktis dan strategi aplikatifnya yang lebih kasuistik.


  • Carilah waktu dimana anda yakin tidak akan ada interupsi selama 20-30 menit bersamanya. Berapa sering sesi dilakukan sangat tergantung pada kebutuhan anak dan 'kesibukan' orang tua, namun idealnya 8-10 kali sehari.

  • Berusahalah untuk selalu bersikap santai dan sabar, tidak tergesa-gesa dan tampak yakin. Bila anda merasa tidak sabar, tidak yakin, tidak tenang, kuatir, dll, maka anak akan segera merasakannya dan menjadi tidak tenang juga.

  • Berempati terhadap nada emosi anak, tunjukkan/ungkapkan kepadanya sehingga ia merasa dimengerti dan akan membuat hubungan (rapport) yang baik dengannya.

  • Waspadalah tentang perasaan anda sendiri karena akan sangat mempengaruhi interaksi. Misalnya bila sedang kesal menjadi terlalu menuntut, bila despresif dan tidak gembira membuat anak tidak antusias, dll.

  • Monitor nada suara dan gestures anda, cobalah sedapat mungkin 'bergairah, gembira, playfull, suportif sehingga bisa membangkitkan minat anak untuk bermain dengan anda.

  • Ikuti anak dan kembangkan interaksi sepanjang mungkin. Anggaplah semua tingkah lakunya bermakna dan merupakan kesempatan untuk mengembangkan komunikasi dua arah.

  • Beinteraksi sesuai tingkat perkembangan emosi yang dicapainya, tetapi juga mendorongnya memasuki tahap perkembangan berikutnya, berinteraksilah dalam kisaran yang berubah-ubah, tergantung keadaan, aksi serta reaksi anak.

  • Apapun yang ingin dilakukan anak sebaiknya diijinkan, sejauh tidak menyalahi aturan dasar untuk tidak memukul, merusak, menyakiti. Bila ia melakukan hal agresif karena kewalahan, tenangkan dia dengan metoda SI dengan sikap yang tegas namun tetap menenangkan.


Strategi Dasar dan Kiat Praktis

Berikut ini disajikan beberapa strategi dasar dan kiat praktis melakukan floor time yang relatif bersifat umum. Kejelian mengamati dan menganalisa merupakan kunci utama untuk mencari tehnik dan strategi yang paling sesuai untuk anak anda yang unik, amati betui bagaimana tingkah laku dan reaksinya. Profesional yang endampingi akan membantu anda melakukan hal tersebut, jam terbang yang semakin banyak akan membuat anda semakin mahir dan kreatif melakukannya.

  • Cobalah bergabung dengan aktifitas yang dilakukan anak, sesederhana apapun aktifitas yang dimulainya. Hal ini lebih baik daripada mencoba memperkenalkan ide-ide baru kita dan memotong/menghentikan minatnya.

  • Namun bila anak tidak memulai, baru kita melontarkan ide aktifitas yang sesuai dengan tingkatan dan minatnya.

  • Sedapat mungkin libatkan dalam aktifitas harian, oleh dan bersama siapapun anggota keluarga, jangan biarkan ia terlalu lama sendirian dan terserap dalam dunianya.

  • Ciptakan lingkungan yang merangsang dan memancing anak lebih eksploratif, letakkan mainan-mainan dan benda-benda yang menarik di mana-mana, ajaklah anak mengeksplorasinya bersama.

  • Berilah 'masalah', sesuatu yang tidak seperti biasanya, tidak pada tempatnya, tidak sesuai dengan rutinitasnya. Misalnya beri rintangan bila ia ingin mengambil sesuatu, sengaja memberikan mainan atau makanan yang salah/tidak sesuai keinginannya, perkenalkan sesuatu yang baru, beri 'kejutan' di sela-sela rutinitasnya.

  • Anggaplah semua tingkah laku anak bertujuan dan bermakna. Berikan respon yang beragam untuk memberikan makna baru seolah-olah ia memang melakukan hal tersebut. Misalnya ia membuang/melempar mainan, tangkaplah dengan ekspresif seolah-olah ia memang mengajak anda bermain lempar-tangkap.

  • Bantulah apa yang anak ingin lakukan, tidak sepenuhnya, tetapi buatlah menjadi aktifitas bersama dimana anak tetap terlibat. Berilah contoh bagaimana melakukannya, tetapi biarkan anak mencoba menirukannya sendiri. Jadilah lebih 'gestural' (atraktif dalam bahasa tubuh) dan lebih interaktif, tetapi kurang koperatif (menuruti dengan segera).

  • Berikan perhatian dan respon p.ada apapun yang dimulai atau ditirukan oleh anak.

  • Bergabunglah dalam permainan 'perseveratif-nya, tetapi buatlah menjadi lebih bermakna, lebih bervariasi dan lebih interaktif. Bila interaksi sudah lebih baik, cobalah sedikit-sedikit mengubahnya. Misalnya anak berlari bolakbalik, halangi jalannya dan tangkap serta peluklah ia, sehingga terjadi interaksi. Tidak perlu melarang anak melakukan 'tingkah laku stereotipik'-nya.

  • Jangan menganggap kata 'tidak' yang diucapkannya, atau penghindarannya sebagai penolakan. Bila anak mengabaikan, cobalah untuk 'mengganggunya' secara main-main (play full).

  • Berusahalah untuk lebih ekspresif, baik dalam mimik wajah, intonasi suara maupun bahasa tubuh. Terutama untuk memberikan penekanan emosi terhadap apa yang dikatakan atau dilakukan.

  • Berusaha menarik perhatian anak dengan ucapan-ucapan pendek seperti "oh-oh", "wah", "aduh".

  • Bahasakan semua kegiatan anak dan kegiatan kita, semua hal yang sedang diperhatikan dan dilihatnya. Pergunakan kata-kata pendek dan berikan jeda supaya memberinya kesempatan bereaksi bila ia mau, sekaligus memberi kesempatan kita mengamati reaksi anak.

  • Sedapat mungkin posisikan diri di hadapan anak, mata sejajar dan 'carilah' tatapan matanya, tanpa memaksa anak menatap mata kita. Kontak mata bisa dipancing dengan selalu memegang sesuatu yang diminatinya (makanan, mainan, benda lain) di antara mata kita dan matanya, memanfaatkan cermin, memanggil namanya atau menutupkan selendang tipis di atas kepalanya dan kepala kita sekaligus.

  • Lakukan permainan sensori-motor seperti menggelitik, melempar, mengayun, bergulat, dll untuk memancing reaksi, tetapi ingatlah karakteristik SI anak yang sangat spesifik. Misalnya jangan gelitiki anak yang sangat sensitif terhadap rangsang raba, atau ayunkan anak yang sangat sensitif terhadap rangsang vestibular. Bermain ciluk ba, kucing-kucingan dan permainan interaktif lain.

  • Pergunakan mainan yang bersifat sensorik seperti bunyi-bunyian, bulu-bulu, baling-baling, cahaya, dll Juga mainan yang memperkenalkan 'sebabakibat' misalnya bila dipencet bergetar, bila ditiup berputar.

  • Menyanyilah sambil mendudukkan anak di pangkuan secara berhadapan, berhentilah di tengah-tengah lagu supaya memancing anak bereaksi dan meminta kita meneruskan, atau siapa tahu ia akan melanjutkan nyanyian kita.

  • Lakukan apapun untuk memperpanjang interaksi; berpura-pura bodoh, pura pura salah, menginterupsi aktifitasnya. Jangan berikan segera/terlalu cepat apa yang diinginkannya, walaupun anda sudah tahu, pancinglah terjadinya 'negosiasi' yang menyenangkan/bermain-main, jangan sampai anak menjadi benar-benar marah atau kesal.

  • Jangan mengalihkan subjek ataupun memutus interaksi yang dimulai dan sedang berlangsung.

  • Pastikan kita maupun anak memberikan respon yang sesuai dengan cara menutup siklus komunikasi (aksi-reaksi).

  • Selalu beritahu arah dan tujuan kegiatan, ingatlah bahwa mereka masih sulit memprediksi apa yang akan terjadi dan cenderung tidak nyaman dalam suasana yang tidak pasti.

  • Buka pintu menuju permainan pura-pura/simbolik, dengan memulai dari pengalaman nyata sehari-hari. Beresponlah terhadap keinginan nyatanya dengan aksi pura-pura.

  • Konsisten dan konsekuenlah, terutama dengan 'peraturan', 'negosiasi' dan hadiah/hukuman.

  • Cobalah untuk menerima kemarahan, protes dan kekesalan anak. Jangan menghindari/ mengalihkan atau membiarkan anak mengganti subjek untuk menghindari situasi yang tidak menyenangkan. Biarkan ia mengekspresikan rasa marah/kesalnya, tetapi tunjukkan sikap mengerti dan berikan stimulasi SI yang paling sesuai untuk menenangkannya. Setelah. reda coba 'bahas' situasi itu sedapat mungkin dengan cara yang bisa dimengertinya.

  • Bantulah anak menghadapi kecemasannya (perpisahan, kekecewaan, agresi, ketakutan, kehilangan, dll) dengan menggunakan stimulasi SI, bahasa tubuh, intonasi lembut dan penyelesaian masalah. Bila ia sudah sampai pada pemahaman bermain pura-pura, gunakan bermain pura-pura untuk bereksperimen dengan kemarahan, agresi, ketakutannya sehingga ia bisa belajar mencari jalan keluar yang lebih efektif, proporsional dan bisa diterima.


Daftar Pustaka:

Stanley I Greenspan dan Serena Wieder (1998): The Child with Special Needs,
Cambridge, Massachusetts, Perseus Publishing.

Bandung, 25 Agustus 2001

Artikel-artikel lain mengenai floortime dapat dilihat di:
http://health.groups.yahoo.com/group/AyoMain/files/
www.ayomain.org





| Home | Kontak Kami |

Valid HTML version 4.01

Interaksi anda dengan situs ini mengikuti Site Policy kami
Puterakembara 2000-2008