I. Intervensi Perkembangan yang Terintegrasi

04/26/2006


oleh: Fridiawati Sulungbudi, Psikolog Anak



Intervensi Perkembangan yang Terintegrasi
DIR Model: Developmental, Individual-difference, Relationship-based


Dewasa ini terdapat berbagai pendekatan dalam intervensi dan pendidikan bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus, seperti dengan gangguan spektrum autisme.

Kebanyakan pendekatan lebih bersifat 'kelompok', berdasarkan kurikulum tertentu, kurang memperhatikan perbedaan/keunikan individual setiap anak; seperti bagaimana perkembangan neurologisnya? Kognitifnya? Afektifnya? Bahasanya?

Usaha lebih dipusatkan pada penanganan gejala-gejala dan tingkah laku yang tampak, daripada mengarah pada mekanisme dan kesulitan/gangguan yang mendasari munculnya gejala tersebut.

Banyak pendekatan hanya menggarap satu aspek perkembangan tertentu seperti motorik, bahasa, keterampilan kognitif tertentu (biasanya diberikan secara repetisi dan berdasarkan memori rotasi); dan belum menggunakan pendekatan yang komprehensif, yang mempertimbangkan dan memperhatikan semua aspek perkembangan secara sekaligus dan seimbang, berdasarkan perkembangan otaknya.

Biasanya fokus penanganan hanya pada anak, belum banyak bekerja dengan pengasuh, keluarga, dan lingkungan anak secara terintegrasi. Padahal anak-anak dengan gangguan spektrum autisme mengalami kesulitan kualitatif dalam berinteraksi dan berkomunikasi dengan dunia di sekelilingnya serta memiliki kekakuan pola berpikir yang khas yang berpengaruh terhadap penyesuaian dirinya di dalam lingkungannya.

Berbagai pendekatan mengasumsikan bahwa perbaikan salah satu aspek akan berdampak positif terhadap aspek yang lain. Perubahan tingkah laku anak akan mempengaruhi interaksi dalam keluarga dan struktur keluarga secara keseluruhan; belajar keterampilan akademik akan mempengaruhi interaksinya dengan teman sebaya dan perasaan/penghayatan akan dirinya; atau sebaliknya perubahan pengalaman dalam berinteraksi akan membuatnya berpartisipasi lebih baik dalam aktifitas akademik.

Sayangnya, kemajuan pada salah satu aspek seringkali tidak mempercepat kemajuan pada aspek perkembangan yang lain. Keberhasilan akan dicapai dengan lebih kuat bila program intervensi ditujukan pada berbagai aspek perkembangan anak itu, juga keluarganya sekaligus, tentunya dengan memperhatikan kebutuhan dan kekuatan khususnya.

Stanley I. Greenspan, M. D. dan Serena Wieder, Ph. D. mengungkapkan tiga wawasan baru yang melandasi intervensi bagi anak-anak dengan kebutuhan khusus yang mengalami gangguan perkembangan.

Wawasan Pertama: keterampilan bahasa dan kognisi (termasuk matematika dan konsep jumlah) sama halnya dengan keterampilan sosial dan emosional dipelajari melalui relasi interaktif yang melibatkan pertukaran afektif.

Otak berkembang paling cepat pada tahun-tahun pertama sebagai hasil interaksi dengan pengasuhnya. Interaksi yang hangat, aman, nyaman, saling terlibat,
penuh ungkapan emosional, mengembangkan kemampuan problem solving, mengungkapkan gagasan dan mengembangkan kemampuan menalar.

Wawasan Kedua: terdapat perbedaan individual dalam sistem pemrosesan sensorik dan respon motorik yang mendasari masalah perilaku anak yang tampak. Jika intervensi dilakukan untuk memperbaiki proses yang mendasari maka akan berpengaruh pada banyak perilaku dan proses adaptasi anak sekaligus.

Wawasan Ketiga: pemahaman enam tahapan perkembangan fungsional
emosional.

1. Kemampuan untuk regulasi diri dan berbagi perhatian dan minat terhadap lingkungan
2. Kemampuan untuk terlibat secara hangat, penuh kepercayaan dan keintiman
3. Kemampuan untuk berkomuniasi dua arah yang bertujuan
4. Kemampuan berkomunikasi kompleks; berinteraksi (untuk problem solving) secara berkelanjutan.
5. Kemampuan mengungkapkan emosi melalui gagasan (gagasan emosional)
6. Kemampuan membangun jembatan antar gagasan secara logis dan realistik (berpikir emosional)

Tahapan intervensi perkembangan yang terintegrasi bisa digambarkan sebagai suatu piramida.

1. Pola keluarga yang stabil - yang mendukung perkembangan dan pemenuhan kebutuhan akan rasa aman serta perlindungan - menjadi dasar piramida. Pemenuhan kebutuhan primer, kontak fisik dan emosional yang mendasar, penanganan medik dan kesehatan. Kadangkala diperlukan konseling keluarga/perkawinan untuk menjamin adanya pola hubungan emosional antar anggota keluarga yang 'stabil'.

2. Pada tingkat kedua, adanya relasi yang konsisten dan 'dapat dipercaya', yang memberi kesempatan anak untuk mencapai kompetensi emosional maupun kognitif. Anak dengan kesulitan berinteraksi sangat membutuhkan relasi yang hangat dan konsisten sepanjang saat ia terjaga, namun orang tua/ pengasuh akan mengalami kesulitan untuk mempertahankan relasi yang intim dengannya karena sering terjadi ketidak-pahaman atau salah pemaknaan terhadap tingkah laku dan niat/keinginan anak. Kadangkala orang tua/pengasuh mengalami ‘kejenuhan’ atau keputus-asaan dalam berinteraksi sehingga kurang berhasil memberi tanggapan sesuai kebutuhan anak. Seringnya berganti pengasuh, guru, terapis juga menyulitkan terbentuknya relasi yang konsisten dan dapat dipercaya bagi anak.

3. Tingkatan ketiga adalah penerapan relasi yang konsisten dan hangat pada tingkatan kedua, yang disesuaikan dengan perbedaan individual anak. Orang tua/pengasuh harus mempelajari berbagai strategi yang sesuai dengan reaksinya terhadap rangsangan dari luar (lihat, dengar, rasa, bau, raba/taktil, vestibular maupun proprioseptif), caranya memroses rangsang dan perencanaan gerak (motor planning). Pada tingkatan inilah pendekatan Sensory Integration sangat dibutuhkan.

4. Tingkatan keempat mensyaratkan tehnik-tehnik khusus untuk semakin mendukung perkembangan; interaksi yang disesuaikan dengan taraf perkembangan emosi/interaksi anak, namun sekaligus juga 'menantangnya' untuk mencapai taraf perkembangan berikutnya. Bila tehnik interaksi yang disajikan tidak sesuai taraf perkembangannya, tidak bisa berharap anak akan memberikan respon yang diharapkan. Tehnik interaksi yang dimaksudkan di sini adalah Floor Time.

5. Pada puncak piramida, barulah tehnik terapeutik dan pendidikan khusus diperkenalkan untuk meningkatkan aspek-aspek perkembangan yang lebih spesifik. Namun, semua intervensi ini harus tetap ada dalam kerangka pendekatan yang berdasarkan keterlibatan keluarga, menekankan relasi
dan bersifat interaktif.

Model piramida terintegrasi ini menekankan pentingnya pengalaman individual seorang anak, yang memperbesar kemungkinan ia bertumbuh menjadi seseorang yang sedapat mungkin ‘komunikatif’, bisa mengekspresikan kebutuhan, keinginan, pikiran dan perasaannya, juga bisa mengerti kebutuhan, keinginan, perasaan dan pikiran orang lain. Dengan demikian ia akan berinteraksi secara spontan dan kreatif, tidak mekanis.

Penekanan utama model piramida terintegrasi adalah profil individual setiap anak bukan pada diagnosanya. Karakteristik khusus setiap anak (yaitu kondisi Sensory Integration, pemrosesan auditorik dan bahasa fungsional, fungsi perkembangan kognitif saat ini, tahapan perkembangan fungsional-afektif, interaksi) maupun karakteristik keluarganya (siapa dan sejauh apa keterlibatan dalam pengasuhan, karakteristik kepribadian orang tua/pengasuh, pola pengasuhan, dll) menentukan program terapi, bukannya menyesuaikan anak terhadap program/kurikulum terapi
yang sudah ada.

Profil setiap anak berubah setiap saat sehingga pengukuran/assessment merupakan proses yang berkelanjutan yang terintegrasi dalam program intervensi itu sendiri. Tes formal –seperti tes perkembangan atau tes kecerdasan- seringkali memberikan gambaran yang terdistorsi karena memberikan data hanya mengenai item itu, pada saat itu, dalam kondisi itu, yang biasanya bukan kondisi keseharian anak. Pertemuan dengan tester bisa membuatnya tegang dan semakin menyulitkan interaksi dan komunikasinya. Dalam pendekatan DIR™ pengukuran lebih berlandaskan anamnesa dan observasi saat anak berinteraksi dengan pengasuh ataupun orangtuanya. Data tersebut kemudian dianalisa secara profesional untuk kemudian mencari umpan balik kemajuan/kemunduran anak dan strategi mengatasi masalah yang kadangkala bisa menjadi sangat
kasuistik. Dengan demikian program intervensi selalu mengalami modifikasi dari waktu ke waktu dan dari anak yang satu ke anak yang lain. Sifat sangat individualistik tersebut membuat tidak adanya ‘rumus’ maupun kurikulum yang pasti dan seragam dalam intervensi.

Pendekatan integratif dan interaktif yang berdasarkan perkembangan individual ini dibangun atas dasar kekuatan relasi dan struktur keluarga, dan memanfaatkan relasi dengan cara yang sistematik, disesuaikan dengan perbedaan individual anak. Keluarga, khususnya orang tua, belajar untuk 'memperkenalkan' kepada anak bagaimana cara berinteraksi dan belajar menjaga interaksi dan keterlibatan anak dengan menyesuaikan pendekatannya.

Asumsinya, perubahan cara anak merasakan dan mengalami relasi akan meningkatkan peran sertanya dalam interaksi itu sendiri secara lebih komprehensif. Tingkah laku anak yang kemudian lebih memperhatikan keberadaan orang-orang di sekelilingnya dan lebih terlibat secara emosional, kemudian akan mengubah relasi dan struktur keluarga secara keseluruhan. Lebih jauh, anak kemudian mampu berinteraksi dalam lingkungan yang lebih luas, di luar keluarganya, dan mampu
beradaptasi.

Pengaruh Kondisi Emosi Orang Tua

Diberi kepercayaan membesarkan anak dengan kebutuhan khusus biasanya mengubah pola hidup sehari-hari keluarga secara menyeluruh. Munculnya berbagai reaksi emosional saat diagnosa gangguan spektrum autistik diberikan menjadi sangat wajar.

Reaksi kaget dan menyangkal biasanya membuat orangtua sibuk mencari informasi mengenai diagnosa dengan membaca, mencari profesional lain dengan harapan menggugurkan diagnosa tersebut. Rasa marah dan bersalah atau menyalahkan lingkungan juga mewarnai; menyalahkan pasangan, marah kepada anak tersebut (karena menyebabkan perubahan besar). Kesedihan yang
mendalam juga biasanya muncul.

Seringkali reaksi emosional itu memunculkan strategi/pola menghadapi (coping pattern) untuk melindungi 'keutuhan' dirinya dan beradaptasi terhadap stress yang dialami. Seringkali sulit untuk menyadari apalagi mengubah pola coping ini karena biasanya tertanam sejak masa kecil dan merupakan cara yang biasa dipakai untuk menghadapi dunia. Semakin kita terbiasa menggunakannya, semakin sulit kita menyadarinya. Beberapa diantaranya adalah menarik diri secara emosional "dia tidak pernah menyukai saya, dia tidak membutuhkan saya", terlalu mengontrol dan mengatur anak, berganti-ganti terlalu banyak menstimulasi dan menarik diri
ketika merasa tidak direspon, terlalu melindungi dan mencemaskan, menghindar
dan menjauh dengan menyibukkan diri dengan kerja atau urusan lain.

Pola coping dengan sendirinya akan mempengaruhi cara berinteraksi dan persepsi terhadap intervensi yang dijalani. Pola coping ini sangat perlu untuk dikenali, dipahami dan diterima oleh diri sendiri dan terutama pasangan, sehingga bisa saling membantu dan memberikan dorongan. Dengan demikian kita bisa mengendalikan perilaku kita dan mencari jalan keluar mengatasi pola coping yang negatif.

Seperti diungkapkan sebelumnya bahwa pendekatan integratif ini berlandaskan pada kekuatan relasi dan struktur keluarga, maka dampak kehadiran anak dengan kebutuhan khusus perlu mendapatkan perhatian dan penanganan segera. Antar orang tua diperlukan kejujuran dan saling berbagi satu sama lain; baik tentang perasaan, harapan, kekuatiran, ketakutan, kelelahan, dll. Saling mempercayai satu sama lain juga dibutuhkan. Untuk memperkuat hal tersebut, diperlukan waktu berdua, yang intim dan hangat sehingga bisa membicarakan hal yang bersifat perasaan, bukan hanya bicara hal-hal rasional.

Kadang-kadang bicara dan berbagi rasa dengan keluarga anak autistik lain juga banyak membantu meringankan beban emosi, mendapatkan informasi, walau sering disertai dampak negatif seperti saling membandingkan ataupun 'belanja' intervensi.

Keseimbangan keluarga juga perlu diperhatikan, jangan sampai anggota keluarga lain merasa terlantar atau tidak diperhatikan. Kadang-kadang konseling juga diperlukan dan akan membantu melihat masalah dan mencari jalan keluar yang objektif.

Anak-anak lain -saudara kandung- juga merasakan dampaknya secara langsung. Sedapat mungkin libatkan mereka, ajaklah melihat bahwa masalah ini merupakan masalah keluarga secara keseluruhan. Diskusikan mengenai kasus, diagnosa dan tanggapan mereka tentang saudaranya. Diskusikan juga perasaan-perasaan mereka secara terbuka (kesal, iri, merasa bersalah, kuatir, dll). Libatkan dalam sesi floor time yang akan dijelaskan lebih lanjut, dan bila perlu berikan juga sesi floor time khusus bagi mereka masing-masing.

Efektifitas Pendekatan DIR

Program intervensi terintegrasi juga memerlukan evaluasi untuk melihat efektifitasnya. Evaluasi dilakukan secara berkala dan rutin, sejalan dengan
intervensi itu sendiri. Tidak mungkin membuat perkiraan berapa lama keseluruhan program intervensi harus dijalankan dan bagaimana hasil akhirnya, dalam arti sejauh mana pencapaian anak.

Indikator terbaik untuk menentukan potensinya adalah dengan melihat bentuk kurva belajarnya selama ia mengikuti program terapi yang optimal 12-24 bulan. Optimal yang dimaksud adalah dengan sedapat mungkin melakukan rencana program berkesinambungan, tanpa terputus dalam waktu lama dan dengan porsi yang sesuai. Semakin 'curam' kurva, berarti peningkatan jelas tampak, maka semakin optimis pencapaian hasil akhirnya.

Biasanya terdapat 'learning plateu' dalam setiap kurva belajar, ini terjadi bila tampak terjadi 'kemandegan', atau bahkan kemunduran. Bila hal ini terjadi, segera harus dianalisa satu persatu hal berikut ini:

  • Apakah terjadi ketegangan dalam keluarga seperti perubahan drastis yang mempengaruhi rasa aman anak?

  • Apakah anak merasa 'kewalahan' akan sesuatu, misalnya terlalu banyak orang, terlalu ribut, terlalu bergairah (liburan), dll?

  • Apakah terjadi perubahan lingkungan sosialnya seperti kehilangan teman, ganti terapis, ganti guru, masuk sekolah baru?

  • Apakah terjadi perubahan lingkungan fisik seperti sakit, pengaruh zat kimia, perubahan diet?

  • Apakah program terapi yang diberikan tepat/sesuai perkembangan emosinya, terlalu mudah/terlalu sulit?

  • Apakah merupakan perlambatan normal? Biasanya bila seorang anak akan memasuki tahap perkembangan lebih tinggi, tampak sedikit perlambatan atau seolah-olah mundur untuk melindungi diri atau menyesuaikan diri.

Bila hal-hal tersebut sudah dikenali dan dicoba disesuaikan kembali tetapi learning plateau atau kemunduran menetap sampai lebih dari dua bulan, maka diperlukan evaluasi komprehensif.

Hal terpenting, jangan bandingkan anak dengan anak yang lain, tetapi bandingkanlah dia dengan dirinya sendiri sebelumnya! Lebih baik terlambat tetapi anak mencapai pondasi yang kokoh untuk perkembangan berikutnya daripada pondasi yang lemah tetapi tepat waktu.


Daftar Pustaka:

Greenspan, S. I. & Wieder, S. (1998): The Child with Special Needs: Encouraging Intellectual
and Emotional Growth, Massachusetts, Perseus Publishing.

Greenspan, S. I. & Wieder, S. (1997a). An Integrated Developmental Approach to
Inteventions for Young Children with Severe Difficulties in Relating and Communicating.
ZERO TO THREE, 17, 5-18

Wieder, S. & Greenspan, S. I. (2001). The DIR (Developmental, Individual-Difference,
Relationship-Based) Approach to Assessment and Intervention Planning. ZER TO THREE, 21,
11-19

Artikel-artikel lain mengenai floortime dapat dilihat di:
http://health.groups.yahoo.com/group/AyoMain/files/
www.ayomain.org

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy