Ketakutan

07/24/2005

Mungkin ada yang bisa berbagi cerita dengan saya bagaimana caranya mengatasi ketakutan anak yang berlebihan. Anak saya sangat takut bila di ajak ke acara ulang tahun.

Biasanya, apabila saya mendampingi, dia masih mau duduk dan melihat kegiatan anak-anak normal lainnya, walaupun dia hanya melihat dari jauh dan tidak ingin berpartisipasi.

Nah.. hari sabtu lalu, kebetulan teman kelasnya merayakan ulang tahun. Dari rumah sudah saya jelaskan berkali-kali bahwa nanti akan ada acara ulang tahun di kelas dan dia tidak perlu takut. Saya sudah merasa yakin dia mengerti tapi ternyata dia tetap saja ketakutan. Ibu gurunya pun tidak dapat membujuknya.

Saat saya jemput pulang sekolah, saya mendapatkan dia sedang duduk sendiri di tangga agak jauh dari kelasnya dengan muka yang sangat ketakutan.

Terus terang hati saya merasa sedih dan saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Saya merasa sudah memberi penjelasan sejelas-jelasnya tapi saya belum mampu mengatasi ketakutannya.

Dan karena acaranya di kelas, saya tidak diperbolehkan mendampinginya. Saya tidak menyalahkan peraturan sekolah karena bagaimanapun juga saya tidak bisa meminta hak lebih hanya karena anak saya berbeda dengan yang lainnya.

Mungkin ada Bapak, Ibu berkenan memberi masukan kepada saya bagaimana meng-handle rasa takutnya.

Terima kasih atas perhatian dan masukannya yang tentu sangat berguna buat saya.

Salam,
Ibu LW. Jakarta

* * *

Yth. Rekan Milis,

Saya juga mengalami hal serupa dengan anak saya. Tapi saya kok agak sedikit berbeda pandangan dengan Ibu L.. Kalau saya perhatikan, ada beberapa faktor yg menyebabkan anak saya tidak suka berada di tempat ramai seperti pesta, karena :
(1) bunyi suara bising
(2) orang - orang yg hilir mudik / lalu lalang
(3) semua mata tertuju ke anak saya
(4) anak saya bingung mau melakukan apa

Barangkali memang pendengaran anak saya hypersensitif sehingga mendengar bunyi yg bising membuat dia merasa tersiksa.

Barangkali anak saya penglihatannya hypervisual jadi dia tidak tahan melihat begitu banyak obyek yg ada di depan matanya. Barangkali anak saya gugup karena semua mata tertuju padanya, dan dia tidak tahu harus berbuat apa.

Tapi intinya : saya menerima anak saya apa adanya, dan saya tidak mau memaksa anak saya untuk melakukan hal yang membuat dia merasa tidak nyaman / tersiksa.

Jadi buat saya, kalau anak saya belum bisa menikmati untuk datang ke pesta / acara yg ramai, saya tidak mau memaksa. Jika kita ingin agar anak kita “masuk” ke dunia kita, tentulah bukan karena paksaan, tapi karena dia menyadari bahwa dunia yang dia masuki adalah dunia yang indah dan nyaman

Pendapat saya ini diilhami oleh buku yg sedang saya baca “Son Rise” tentang perjuangan orang tua membesarkan anaknya yg autis, dan sekarang si anak sudah ABG dan hidup seperti layaknya ABG yang lain.

Salam,
Bapak HW. Jakarta
* * *


Kalau saya, ambil jalan kompromi. Saya terima keadaan anak saya, tapi saya juga tetap berusaha agar dia bisa “sedikit” mengatasi perbedaannya sehingga makin bisa menikmati lingkungan ‘normal’ (antara lain, keadaan pesta).

Caranya?

1. Persiapan.
Ibu sudah menjelaskan, bagus sekali. Tapi mungkin belum pakai gambar/ foto jadi anak tampak seolah mengerti padahal belum benar benar dapat membayangkan. Kalau perlu, buat foto aneka pesta, terutama yang ia sukai, lalu pakai foto-foto itu untuk mengingat kembali pengalaman-pengalaman yang ia sukai tersebut. Yang susah, kalau dia tidak suka., apa boleh buat, programnya ditangguhkan.

2. Desentisisasi.
Ajak dia ke pesta di sekitar rumah / keluarga, tapi biarkan dia menentukan berapa lama dia bisa tinggal. Mungkin awalnya hanya 5 menit, lalu pulang. Lain kali 10 menit, lalu pulang. Sedikit demi sedikit, bujuk, arahkan agar tertarik, tapi tetap kita hargai keberadaan dia.

3. Jangan paksa.
Kalau jelas anak tampak sangat ketakutan, jangan paksa. Mungkin ada sesuatu (yang kita belum tahu) yang membuatnya demikian. Kalau terus dipaksakan anak akan menjadi trauma.


Anakku (12 tahun) tidak suka pesta karena dia merasa bosan, bising dan banyak orang. Jadi kalaupun terpaksa dia harus aku bawa karena alasan tertentu misalnya sepupunya yang undang itu autis juga, di rumah tidak ada orang atau yang mengundang pesta pernikahan adalah boss -ku maka:

Sebelumnya aku buat perjanjian dulu dengan anakku: - berapa lama dia dan saya akan tinggal di pesta itu - apa yang boleh dia lakukan (makan, duduk di pojok, membaca buku, minum) - apa yang tidak boleh dia lakukan (berteriak, tiduran di lantai, lari-lari, marah-marah).

Biasanya, dia akan mengungkapkan apa yang dia rasa dan apa yang dia mau, menggunakan buku komunikasi-nya yang saya selalu bawa kemana-mana.

Sewaktu saya ajak ke pesta pernikahan teman kerja, baru duduk 5 menit dia sudah mengajak pulang. Lalu saya tanya, kamu merasa apa? Dia ambil symbol “bosan” (he..he.. dia tidak bohong). Saya bilang, “bersalaman dulu, lalu duduk 5 menit, baru kita pulang”. Dan kita lakukan hal-hal tersebut. Adil bukan?

Pernah juga saya bawa dia ke pesta ulang tahun sepupunya (yang autis juga) yang sarat dengan badut. Waduh, kesal sekali dia. Tapi dengan negosiasi, dia mau tinggal selama 30 menit sampai 1 jam di pesta tersebut. Peningkatan, ‘kan?

Sekarang, saya tanya dia: “ibu mau antar Eyang ke pesta pernikahan. Kamu mau ikut?” Dia dengan lantang menjawab “tidak”. Ya sudah, pergilah aku...enjoying myself. :)

Selamat mencoba.

Salam,
Ibu DP. Jakarta

* * *



__

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy