Sosialisasi autisme

07/24/2005

Saat ini apabila kita perhatikan begitu menggebu gebu upaya semua orang tua anak penyandang autisme untuk “bertempur” mengatasi permasalahan autisme ini.

Dari apa yang saya perhatikan dan alami, sebagian besar upaya lebih diarahkan pada upaya penanganan si anak itu sendiri (anak sebagai obyek penanganan).

Pointnya adalah saya ingin mengajak rekan rekan sekalian untuk menyadari bahwa terapi terhadap si anak saja tidaklah cukup apabila lingkungan masyarakat tempat anak kita hidup nantinya tidak bisa menerima mereka apa adanya.

Perjuangan kita yang jungkir balik menangani anak kita sampai “hampir normal” bisa menjadi tidak berarti apabila dimasa dewasanya mereka dihindari dan dijauhi lingkungannya (saya sering sekali menerima pertanyaan dari lingkungan saya apakah autis ini menular ??).

Keadaannya akan lebih parah lagi pada anak anak yang sampai usia dewasa tetap “tidak sembuh”. Dapat dibayangkan apa yang akan terjadi kelak ketika mereka berinteraksi dengan lingkungannya.

Sebagai orang tua kita tidak mungkin bisa melindungi anak kita seumur hidup mereka - paling paling hanya bisa melindungi mereka seumur hidup kita - apakah lingkungan mereka salah bersikap seperti itu ??

Tentu saja tidak. hal ini karena ketidak tahuan masyarakat luas tentang autisme itu sendiri.... lalu siapakah yang dapat diharapkan menyampaikan pengertian autisme kepada masyarakat ?? bapak ibu sekalian jangan pernah berharap pada orang lain...pada pundak kitalah tanggung jawab itu dibebankan...!!!

Percayalah, kehidupan putra putri kita kelak akan lebih nyaman apabila lingkungan mereka dapat menerima dan memahami keadaan mereka apa adanya. Gerakan menyadarkan dan memberi pengertian kepada masyarakat tentang autisme inilah yang secara sembarangan saya beri istilah “intervensi lingkungan bagi anak autis”.

Untuk itu saya menghimbau rekan rekan yang sering menulis artikel tentang autis di milis ini dan juga mengirimkan artikel tersebut ke koran, majalah, tabloid dll.

Sesederhana apapun isi artikelnya. Kalau tidak dimuat ya dikirim lagi, lama lama juga dimuat ( malu ??......wah setelah perjuangan sekian tahun mengurusi anak autis, demi untuk anak istimewa ini rasa malu sudah tidak tahu tercecer dimana....saya cari cari sudah tidak ketemu lagi...he he he).

Apabila ada diantara rekan milis yang punya kenalan produser radio/ TV coba dimanfaatkan agar bisa dilakukan “talk show” membicarakan autisme ini. Namun sekali lagi jangan hanya sekali sekali. Kalau bisa rutin. Saya yakin banyak sekali orang tua anak autis yang bersedia jadi pembicaranya.

Lebih bagus lagi kalau disalah satu stasiun radio swasta ada acara talk show mingguan (rutin) tentang autisme. Sehingga setiap minggu masyarakat di ingatkan tentang autisme.

Saya yakin rekan rekan tentu punya ide yang lebih baik lagi, kalau tidak keberatan kita sharing disini.

Saya sadar hal ini adalah pekerjaan yang sangat panjang, butuh waktu dan hasilnya belum tentu kelihatan. Tapi kalau tidak sekarang, kapan lagi?. Kalau tidak kita, siapa lagi ?

Salam,
Bapak IS. Jakarta


Halo teman teman,

Kalau di Medan orang awam-nya sangat sedikit yang mengenal apa itu autis. Kalau saya terangkan mereka bingung.

Tetangga saya juga tidak mengerti ketika melihat anak saya yang ganteng tidak seperti orang idiot, mereka tak percaya.

Hal yang sama juga terjadi ketika saya berobat ke dokter anak saya. Kelihatan-nya di Medan perlu departemen penerangan mengenai autisme.

Bapak ZP. Medan

* * *

Yth. teman-teman,

Di Jakarta juga sama, tetapi karena populasinya cukup banyak, lama kelamaan lingkungan mulai banyak tahu juga. Waktu jamannya anak saya di-diagnosa ADHD, juga banyak yang tidak mengerti.

Pada waktu anak saya masuk SD, kita sampai dimintai tolong oleh pihak sekolah untuk memberikan keterangan lengkap mengenai tanda / gejala dari anak autis, agar mereka bisa membantu orang tua yang belum tahu sama sekali.

Harapan saya, kalau orang tuanya tidak tahu, paling sedikit sekolah Play Group atau TK dapat menginformasikan ke orang tua anak. Ternyata memang banyak lho orang tua yang belum tahu.

Kesempatan berikutnya saya diminta sharing di sekolah tersebut oleh kepala sekolahnya. Sekolah ini punya beberapa cabang yang tersebar di Jabotabek.

Nah....saya bawa saja teman saya ke sana untuk penjelasan lebih lanjut. Ternyata mereka kelihatan bersemangat sewaktu nonton film-nya, menanyakan cara belajarnya, cara menghadapi anak dll. Saya senang dengan kepedulian mereka dan sambutan teman saya terhadap semangat mereka.

Menjelang anak saya masuk TK, saya melahirkan anak kedua. Pada saat menunggu anak di sekolah, saya berusaha menceritakan keadaan anak saya kepada ibu-ibu lain yang juga menunggu anaknya di sana.

Ternyata ada dua kelompok yang kita bisa lihat - yang bersimpati dan yang menjauhi kita. Tapi itu kan hal biasa. Yang bersimpati dapat dijadikan pengawas untuk anak dan mbaknya bila saya tidak mengantar.

Jadi anak saya punya banyak “pengawas”. Ada beberapa kejadian yang sudah saya ketahui melalui teman-teman lain sebelum anak saya sampai di rumah. Itulah gunanya teman.

Ternyata mereka setia sekali mengawasi anak saya. Jadi autisme memang perlu diperkenalkan oleh kita kita, tentunya dengan “kemasan” yang “manis”.

Salam,
Ibu AB. Jakarta

* * *

Saya setuju sekali dengan usulan Bapak IS, tapi tentunya hal ini membutuhkan waktu dan harus dimulai dari diri kita sendiri.

Mungkin bapak masih ingat beberapa hari yang lalu saya pernah kirim email ke Puterakembara juga seputar masalah ini.

Saya sudah mempraktekkan-nya buat anak saya. Seperti yang saya katakan awalnya kita mulai dari lingkungan yang benar-benar ditemui anak saya sehari-hari ataupun sesekali. Mulanya keluarga saya dan keluarga suami, kemudian ke keluarga besar mami dan papi saya, kemudian tetangga-tetangga saya, kemudian teman kantor saya dan suami, teman sekolah saya dan suami, lalu orangtua di sekolah anak-anak saya.

Sekarang saya rasakan tidak ada yang menganggap anak saya aneh, walaupun dia harus berbicara berulang-ulang, ke toilet bolak balik dsb, malahan mereka jadi mengerti apa-apa saja yang jadi pantangan anak saya.

Inipun makan waktu yang agak lama karena kita harus menjelaskan ke mereka, tapi yang jelas ini sangat baik buat kehidupan selanjutnya anak-anak kita di lingkungan terdekatnya.

Tapi saya pernah tahu beberapa orangtua yang punya anak autis justru menjauh dari kehidupan sosial, saya tidak tahu persis apa sebabnya.

Mungkin ada yang malu, ada juga yang berpikiran untuk apa juga ikut arisan, berkumpul dengan keluarga memangnya kalau anak kita susah mereka mau bantu? Ada juga yang bilang tidak punya waktu lagi soalnya sudah sibuk mengurusi anaknya.

Saya pikir bagaimana kita mau men-sosialisasikan kalau kita sendiri tidak mau terbuka dengan lingkungan?

Masalahnya kalau mereka tidak lihat sendiri agak susah menceritakan, karena sebagian besar anak autis secara fisik tidak berbeda dengan anak normal lainnya, namun tingkah laku dan bicaranya yang kemudian menyebabkan orang bisa merasakan ada yg “aneh” dengan anak kita.

Salam,
Ibu DN. Jakarta

* * *

Yang paling mudah mungkin mulai dari lingkungan terdekat: keluarga besar sewaktu arisan, lingkungan tetangga ketika bermain bersama di sore hari, rekan sekerja di kantor, teman-teman sewaktu kuliah /sekolah ketika bertemu di acara reuni, sampai ke lingkungan lebih luas melalui presentasi, seminar, menulis di koran dan bicara di radio.

Tadi pagi, saya juga memenuhi undangan untuk presentasi di fakultas psikologi UI (almamater-ku) untuk sharing di depan mahasiswa.

Cerita tentang autis dan putar video anak-anak autis. Siapa tahu diantara mereka tertarik untuk menjadi terapis dan guru bagi anak autis?

Teman sekantor saya semua sudah kenal anak-ku karena sering saya ajak bahkan sewaktu kantor saya berwisata ke pulau seribu.

Barangkali, langkah kecil-pun akan berdampak, selama kita semua melakukan-nya serempak tanpa kenal lelah.

Selamat menyebar info!
Ibu DP. Jakarta

* * *
Saya punya teman yang mempunyai anak spesial ini dan dimasukkan SD negeri. Awalnya ia meyakinkan para guru yang ada disekolah itu tentang anak spesial ini. Ia membimbing para guru tentang apa itu autis, bagaimana penangananmya dan sebagainya.

Akhirnya para guru menerima anak tersebut. Anak tersebut masuk kelas dengan pengawasan sang ibu selaku terapisnya. Sekarang anak tersebut sudah kelas 2 SD, dan pintar dikelasnya.

Sekarang teman saya mengajak beberapa ibu yang mempunyai anak spesial untuk sekolah disana dibawah pengawasannya. Ada 4 orang yang masuk disana.. Saya juga kepingin, tapi sayangnya anak saya belum mampu berkomunikasi dan masih tantrum, walau usianya sudah 9 tahun.

Bisa dibayangkan SD NEGERI tersebut kelasnya hanya 6 ruang, murid dan gurunya terbatas. Walaupun termasuk kategori sekolah yang kurang baik, tapi mereka mau menerima anak spesial ini, menyayangi, memperlakukan anak spesial ini seperti anak didiknya yang lain.

Dari pengalaman tersebut, terlihat bahwa perjuangan orang tua untuk membuka mata lingkungan memang harus dilakukan, baik secara lembaga maupun perorangan. Mari kita berjuang mulai dari yang kecil.

Salam,
Bapak ZS. Jakarta

* * *

Coba kita bayangkan (imagine...... kata lagu John Lennon), kalau kita rekan-rekan milis Puterakembara semua semangat dan berani memulai untuk mencoba melakukan pendekatan ke satu sekolah atau institusi yang paling dekat saja dengan kita (tidak usah sekolah anak kita, bisa sekolah dekat rumah atau dekat kantor...)

Terbayang akan ada 200 sekolah yang akan menjadi paham mengenai autisme (dengan catatan, kalau berhasil).

Bagi ibu ibu yang mempunyai teman di media massa, juga patut dimanfaatkan. Ayo, siapa yang ingin mulai mau menulis?

Salam,
Ibu LM. Jakarta

* * *


Di Bogor, salah seorang praktisi perautisan, atas saran PSG kliniknya, pernah mengadakan kerjasama dengan Departemen pendidikan yang mengundang para guru TK se Bogor untuk memperkenalkan autis.

Bahkan muncul kebijaksanaan dari Depdiknas yang mengharuskan setiap sekolah TK di KODYA BOGOR menerima paling tidak satu anak autis per kelas. Walaupun baru setingkat TK, tapi sepertinya sudah cukup berarti. Memang tidak serta merta semua sekolah melaksanakan, ada yang bilang sudah ada, untuk menolak anak autis masuk, tapi setidaknya guru-guru mulai memberi perhatian.

Belakangan, terdengar khabar mulai banyak pula sekolah yang membuka pintu untuk menerima anak-anak ini, dengan persyaratan masing-masing sekolah.

Sebenarnya tidak bertujuan untuk memaksakan diri agar anak diterima di sekolah umum, kalau anak tidak siap masuk sekolah umum tapi dipaksakan kan bisa jadi bumerang. Tapi setidaknya, guru-guru dapat dibuat lebih mengerti dengan masalah autis ini.

Salam,
Ibu TPD. Bogor

* * *

Kira-kira 8 bulan yang lalu bapak-bapak dan ibu-ibu rekan milis pernah membicarakan masalah yang kurang lebih sama dengan yaitu mengenai perjuangan untuk mensosialisasikan masalah autis (awareness) pada masyarakat dan juga pemerintah.

Mengenai kendala kami sadar pasti ada... seorang Ibu, pada saat itu juga mengingatkan bahwa ini bukan pekerjaan yang mudah dan kalau sudah jalan tidak boleh mundur (jangan setengah jalan... percuma... katanya).

Sebelum melangkah jauh, waktu itu saya berpikir bahwa langkah pertama yang harus dikerjakan adalah lingkungan yang terdekat dengan kita yaitu : sekolah anak-anak kita (terutama sekolah umum/biasa). Saya telah mengadakan pendekatan dengan Kepala Sekolah anak saya untuk menciptakan sosialisasi pada lingkungan sekolah terutama guru-guru mengenai apa itu autis ? apa gejalanya ? dan yang penting bahwa autis adalah bukan penyakit menular yang harus ditakuti.

Ternyata cukup banyak guru-guru yang antusias menanggapi. Bahkan mereka bersedia diberikan penyuluhan secara khusus. Kata mereka kalau perlu penyuluhan itu harus dihadiri oleh semua orang tua murid.

Contoh yang lain.... ada salah satu rekan milis di Bandung yang telah berhasil berjuang demi anaknya agar tetap bersekolah di sekolah umum. Ibu ini telah menggugah pihak sekolah ketika beliau menterjemahkan satu artikel dari situs Puterakembara mengenai perjuangan orang tua di luar negeri untuk membuat anaknya diterima di sekolah umum. Bahkan kata Ibu ini, artikel terjemahan beliau sekarang di-tempel di Majalah dinding sekolah.

Saya sangat setuju bahwa perjuangan untuk mensosialisasikan masalah autis harus dimulai dari kita, para orang tua anak penyandang autis itu sendiri.

Kalau memang autisme belum dapat disembuhkan, minimal kita harus berusaha untuk membuat masyarakat menerima sekaligus mengakui keberadaan anak-anak kita dengan segala perbedaannya.

Salam,
Ibu LM Jakarta

* * *


__

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy