Anak autis hilang

07/24/2005

Baru saja saya membaca koran Kompas hari ini mengenai hilang-nya seorang anak perempuan yang kemarin juga telah kita terima di milis ini.

Dari peristiwa anak-anak hilang ini, ada hal yang patut kita perhatikan sebagai tindakan preventif bagi kita, apalagi anak-anak kita masuk kelompok anak “spesial” :

1. Jangan meninggalkan anak kecil (balita) seorang diri di tempat umum (walaupun dalam kasus diatas ada yang tertinggal seperti yang dialami seorang ibu). Sebaiknya ajak serta juga si anak kemanapun kita pergi.

2. Mulai sekarang perlu memikirkan ide-ide seperti yang telah dikemukakan oleh Ibu D di Bogor.

3. Selalu berdoa untuk keselamatan anak-anak kita, di manapun mereka berada. Sebagai orang tua kita kadang-kadang tidak mungkin mendampingi anak 24 jam sehari – misalnya pada waktu sekolah, les, tempat terapy, dan lain lain.

Salam,
Ibu LM. Jakarta

Memang cukup mengerikan mengalami ‘dunia runtuh’ karena kehilangan anak walau untuk sementara. Dan itu benar-benar pengalaman berharga.

Minimal kita bisa merasakan bagaimana panik, gusar dan kehilangan pada saat kejadian berlangsung. Belum lagi rasa bersalah..... wah udah deh ... nggak mau ngulangi lagi.

Dan pada saat itulah... benar-benar kita merasakan bahwa buah hati kita itu harus kita jaga sepenuh jiwa.

Semoga Allah memaafkan kita yang lemah dan selalu memberi bimbingan setiap saat dalam mendapat amanat ini. Amien.

Bapak WY. Jakarta.

* * *

Salam sejahtera kepada segenap anggota Puterakembara,

Pertama saya turut prihatin dan mendoakan agar anak rekan kita yang hilang dapat segera kembali ke orangtuanya.

Anak perempuan saya (4 tahun 9 bulan), penyandang autis yang juga pernah hilang 1/2 jam di Plasa Senayan saat usia-nya 2 1/2 tahun, dan bahkan tenggelam di pemandian Cipanas Garut saat usia-nya 3 tahun 2 bulan, karena kami lalai dalam mengawasinya.

Sebagai orangtua selalu saja saat-saat dimana kita berpikir: “Ah, hanya ditinggal sebentar dan dia sedang asyik bermain dengan ..... apa saja”, tapi justru saat itulah resiko kita kehilangannya sangat besar.

Sewaktu anak saya hilang, saat itu dia sedang makan Chiki (saat itu belum diet dan belum dapat berbicara), dan kami sedang istirahat di Mal. Kebetulan pada hari Minggu itu saya juga sedang ada pameran. Istri saya hanya berbalik sekitar 10 detik untuk menyiapkan susunya, tapi dalam sekejap itu anak say lenyap dari pandangan!

Saya sangat panik dan berlarian ke sana kemari, informasi dan semua satpam saya minta bantuannya. Bundanya bertugas mencari di lantai atas. Yang ada dalam pikiran saya cuma dua: jangan sampai anak saya diculik, atau turun/keluar ke tempat parkir dan tertabrak mobil, karena kalau sedang asyik makan Chiki dia benar-benar lupa sekitarnya!

Alhamdulillah, saat saya naik lagi dari tempat parkir kembali ke tempat awal saya melihatnya cuek berjalan, masih asyik dengan cemilannya! Jadi rupanya dia berjalan berputar mengitari satu blok pertokoan dan kembali ke tempat awal.

Waktu anak saya tenggelam lebih gawat lagi. Saat itu ada acara keluarga dan kami sedang bersiap check out. Istri sedang berpakaian dan saya sedang menyiapkan sarapan anak saya, sementara dia sedang bermain dengan beberapa sepupunya di bungalow sebelah kamar kami.

Saat saya kembali sehabis mengambil air panas sebentar (kurang lebih 2 menit), anak saya sudah tidak ada, katanya lari mengikuti sepupu- nya.

Saya mulai cemas karena saya tahu sepupu sepupun- nya masih memakai celana renang. Saya langsung kejar dan ternyata anak saya tidak ada bersama mereka di kolam renang!

Saya berbalik lari menyusuri melalui pematang-pematang / jalur kembali ke kamar dan benarlah kekahawatirannya, Anak saya diketemukan sudah mengambang di kolong bungalow mertua saya dengan posisi punggung di atas.

Dengan berteriak ala tarzan saya langsung terjun dan mengangkatnya dari air sambil minta tolong orang untuk mengangkatnya ke atas (cukup tinggi untuk naik sendiri).

Dari jauh bundanya sudah sesenggukan tidak berani melihat karena dia pikir anak saya sudah ‘lewat’ dengan perut membusung dan bibir membiru.

Yang masih memberi harapan adalah waktu di air saya sempat lihat kakinya masih kejat-kejat walaupun lemah. Akhirnya setelah mendapat pernapasan buatan anak saya siuman dan dengan terbatuk-batuk langsung memeluk saya!

Dengan menangis saya langsung larikan dia ke Rumah Sakit terdekat, lalu ke Rumah Sakit di Bandung, dan hasil rontgennya saya bawa ke Rumah Sakit di Jakarta untuk mendapatkan jawaban yang paling memuaskan.

Alhamdulillah, tidak ada air di paru-paru dan telinganya, kecuali tinja berwarna hijau tua karena banyak terminum air kotor.

Menurut dokter kalau sempat lebih dari 5 menit tenggelam, besar kemungkinan nyawanya tak tertolong atau ada kerusakan otak karena supply oksigen terganggu.

Jadi saya hanya ingin mengingatkan agar kita harus extra waspada saat membawa putera autis kita terutama di tempat-tempat ramai seperti mal, kebun binatang, pantai, kolam renang, atau tempat tempat dengan ketinggian tertentu, stasiun kereta api atau terminal, yang mana resiko terjadi kecelakaannya relatif tinggi.

Salam,
Bapak IH. Jakarta

* * *
Kenapa ya banyak anak hilang akhir-akhir ini. Kemarin anak saya juga hampir hilang di Bandara. Anak sulung saya perempuan, sudah kelas 2 SD Alhamdulillah tidak punya masalah komunikasi. Kok ya kebetulan beberapa hari sebelumnya dia mendapat hadiah buku seri Sesame Street dari Oomnya, yang menceritakan Burt hilang di pertokoan, disana diceritakan Burt ditolong Satpam dan di bawa ke pusat informasi, lalu diumumkan. Sehingga akhirnya Burt bertemu lagi dengan Tantenya yang mengajak dia ke toko tersebut.

Saat hilang di bandara, anak saya mempraktekkan apa yang dibaca. Dia mencari tulisan “informasi” karena nggak ada di lantai II (terminal keberangkatan) dia pergi ke lantai I.

Sayang sekali waktu diumumkan karena berisik tidak dapat terdengar. Entah kenapa papanya lalu menanyakan apakah ada bagian informasi yang lain, mereka bilang ada di bawah, dan ternyata anak saya sedang duduk manis disana.

Untuk adiknya (anak saya yang “bermasalah”), neneknya segera memesankan label bordir untuk ditempel di semua bajunya, (seperti label merk) berisi nama dan no telephon. Juga kalung grafir seperti yang dipakai tentara saat mau perang.

Oya, kemarin guru mengaji saya juga menemukan anak hilang perempuan. Ternyata disakunya ada foto copy KTP ayahnya, sehingga berhasil diantar pulang ke rumah.

Sedia payung sebelum hujan, Kita tidak tahu kapan anak kita punya “ide” untuk jalan-jalan. Anak anda dapat di-pakaikan / diberikan:

- Label
- Kalung grafir
- Gelang grafir permanen
- Foto copy KTP orang tua
- Buku cerita tentang “anak hilang”

Bagaimanapun yang penting siaga.

Salam
Ibu TPD. Bogor

* * *



__


Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy