Ketakutan anak pada mantan terapis

07/24/2005

Saya ingin bertanya, sekarang ini anak saya (3 tahun 9 bulan, penyandang autis), mengalami ketakutan yang luar biasa pada seseorang. Saya katakan luar biasa karena saat dia takut, selain menangis menghindar juga debar jantungnya luar biasa cepat.

Padahal orang yang ditakuti itu setahun yang lalu pernah jadi terapis anak saya dan saat itu sepertinya tidak ada masalah.

Memang agak lama anak saya tidak bertemu dengan mantan terapis-nya, dan saat bertemu lagi itupun hanya sekedar bertamu tapi malah membuat anak saya ketakutan.

Dan sekarang setiap kali bel rumah berbunyi, anak saya akan minta perlindungan karena dia menduga yang datang itu adalah mantan terapis-nya itu.

Sebelum ini anak saya juga pernah sangat takut pada seorang teman saya. Mungkin ada rekan milis yang punya pengalaman serupa dan bisa sharing.

Terima kasih,

Wassalam,
Ibu V. Gorontalo, Sulawesi

* * *

Saya sangat sedih kalau memang benar ada “physical abuse” yang dilakukan oleh para terapis terhadap anak penyandang autis yang notabene sudah cukup menderita.

Masalahnya bukan apakah terapis itu bermutu (qualified) atau tidak, atau dari lulusan mana, tapi lebih kepada sifat dan prilaku dari masing-masing pribadi terapis itu sendiri. Apakah ada jaminan bahwa terapis yang bermutu tidak melakukan perbuatan yang tidak selayaknya dilakukan terhadap anak-anak autis?

Saya teringat akan pesan seorang Ibu beberapa bulan yang lalu ketika masalah “abuse” dibahas bahwa kita sebagai orang tua lah yang harus AKTIF berperan sebagai manager anak, dalam arti kata harus mengawasi sepenuhnya apa yang terjadi saat proses terapi anak. Orang tua harus selalu WASPADA terhadap kemungkinan seperti itu.

Salam,
Ibu LM. Jakarta


Yes, yes, yes !!

ORANG TUA adalah QUALITY CONTROL OFFICER bagi putra-putrinya.

Kalau merasa kurang percaya diri karena belum banyak pengetahuan, ya ditambah saja pengetahuannya. Sekarang sudah banyak kok, sumber pengetahuan di sekitar kita.

Salam,
Ibu DP. Jakarta

* * *

Ada baiknya kita menghilangkan sikap negatif thinking terhadap para terapis anak kita, terutama untuk bapak diatas.

Belum tentu anak bapak takut terhadap mantan terapis karena mempunyai pengalaman buruk pada mantan guru terapisnya, bisa jadi memang anak bapak tidak menyukai karakter atau penampilan fisik dari guru tersebut.

Saya punya pengalaman pribadi yang sangat unik, saat saya masih balita saya paling benci dengan orang yang berpenampilan tidak rapi dan pasti mereka saya usir bila bertamu ke rumah.

Begitu juga anak saya yang autis dia tidak suka masuk kerumah orang yang perabotannya berantakan apalagi lantainya kotor, dia pasti memberontak minta keluar.

Seperti kasus putera bapak yang ketakutan dengan mantan terapisnya, menurut saya itu adalah masalah, dan masalah tersebut harus diselesaikan.

Jangan biarkan anak bapak dihantui oleh rasa ketakutan terhadap seseorang sehingga mempunyai memori buruk terhadap seseorang.

Mungkin perlu dicoba untuk sering mempertemukan mantan terapis kepada anak bapak. Yakinkan pada anak bapak bahwa mantan guru terapisnya tersebut baik. Kalau anak bapak ketakutan bila ada yang datang kerumah (karena mungkin mengira kalau yang datang adalah mantan terapisnya), usahakan anak bapaklah yang sering datang kerumah terapisnya, pertemukan mereka dengan suasana yang santai.

Salam,
Bapak IW. Jakarta

* * *

Teman teman,

Pada saat awal anak saya diduga “bermasalah” oleh dokter, dan kemudian saya masukkan ke suatu tempat terapi, dia lalu mengalami trauma dan menurut dokter membutuhkan penanganan khusus.
Lalu selidik punya selidik dengan didukung hasil test AIT ternyata telinga anak saya yang sebelah kanan amat sangat sensisitif sehingga sangat tidak mampu mendengar suara keras termasuk pujian sekalipun.

Jadi maksud hati terapis memuji dengan keras untuk membuat suasana meriah, anak justru mengalami ketakuatan luar biasa.

Lalu saya bertemu terapis Okupasi dari Solo yang sangat lembut suaranya (laki-laki), anak saya berangsur membaik.

Ketakutan dapat terjadi karena berbagai sebab. Kita harus jeli menilai, karena anak kita sangat spesial, salah-salah kita bisa keliru menuduh, seperti yang terjadi dengan saya.

Salam,
Ibu TPD. Bogor

* * *



__

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy