Mengatasi frustasi

07/24/2005

Dari beberapa tanggapan rekan milis mengenai keberhasilan seorang Ibu yang secara materi sangat tercukupi. Maaf kalau saya harus menyimpulkan bahwa tidak semua orang tua dapat menikmati keberuntungan materi.

Saya juga berani katakan di sini bahwa “tidak beruntung” dalam hal materi tidak sama artinya dengan “tidak diberkati”.

Bahwa informasi itu sangat penting... itu benar. Sebagai orang tua anak penyandang autis, kita semua memang sangat membutuhkan informasi terutama “informasi praktis” yang berguna dan dapat langsung di-praktek-kan kepada anak kita.

Kalaupun misalnya dari segi keuangan belum mampu, maka saya yakin masih banyak yang dapat kita lakukan sesuai dengan kemampuan masing-masing orang tua.

Tidak perlu merasa minder. Dengan semangat dan percaya diri, kita pasti dapat berbuat sesuatu untuk anak kita.

Salam,
Ibu LM. Jakarta

* * *

Setuju !!

Frustrasi itu, gejala akibat seseorang TIDAK berhasil mendapatkan apa yang ingin dicapainya atau diperolehnya. Dalam hal ini... tidak mendapatkan perubahan pada anak, seperti yang diharapkan oleh orang tuanya.

Masalahnya apakah harapan orang tua tersebut REALISTIS sesuai keadaan anak? Apakah harapan orang tua mempertimbangkan kemampuan (kelebihan/ kekurangan) si anak? Jangan-jangan harapan orang tua-nya yang berlebihan?

Materi berlebihan itu bonus. Tapi tanpa materi berlebihan, kita bisa juga mencapai sesuatu. Dengan kerja keras, keuletan, kepasrahan atas KEKUATAN Yang Maha Kuasa, dan doa terus menerus.

Saya berani bilang begini, karena selama 10 tahun sudah menjalaninya. Hasilnya mungkin bagi Anda tidak berarti, tapi bagi saya yang tahu asal usul dan titik awal anak saya, hingga detik ini saya tidak bisa berhenti mensyukuri nikmat Allah.

Minder? Itu dosa, sama seperti tidak berterima kasih kepada yang di atas, dong?

Buat para orang tua yang lain, KEEP UP THE SPIRIT !! God is watching us.

Salam,
Ibu DP. Jakarta

* * *

Saya sependapat. Materi bukanlah segalanya (walaupun kalau ada, lebih baik). Yang lebih penting upaya dan doa kita di dalam mendidik anak. Dan tidak lupa mengamati dan mensyukuri setiap kemajuan yang dialami anak kita, sekecil apa pun kemajuan itu.

Contohnya dulu anak saya hobinya mengacak ngacak laci pakaiannya. Awalnya saya dan istri memarahi anak saya. Tapi kok tidak mempan, tetap saja kalau kita tidak ada, laci bajunya diacak acak . Lalu di salah satu seminar saya dapatkan solusinya. Setiap kali dia mengacak ngacak, saya ajak dia untuk membereskan bersama. Wah dia berontak habis habisan karena dia tidak suka disuruh membereskan lacinya.

Tapi setelah beberapa kali “dipaksa” membereskan laci, hasilnya sekarang anak saya tidak pernah lagi mengacak ngacak laci-nya. Dan itu semua tanpa biaya lho, karena dilakukan sendiri di rumah, oleh kami orang tuanya.

Mungkin kalau bagi orang lain, hal itu biasa aja. Tapi bagi kami, hal itu kemajuan yang luar biasa, dan saya dan istri tidak hentinya mensyukuri setiap kemajuan yang dicapai oleh anak saya.

Salam,
Bapak HW. Jakarta

* * *


__

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy