Kapan anak autis dapat berbicara normal?

07/24/2005

Pada kesempatan ini saya ingin menanyakan kapan anak autis itu bisa bicara normal setelah dia mengikuti terapi.

Anak saya sekarang telah berumur 2 tahun 4 bulan dan belum juga bisa bicara. Setelah divonis menderita Autis pada umur 2 tahun 2 bulan, anak saya telah menjalani terapi selama +/- 2 bulan.

Terapi yang dilakukan dengan terapist 1 minggu 6 hari dengan 1 kali terapi selama 1 jam. Selebihnya kami sendiri melakukan terapi dirumah, tetapi dengan cara sambil bermain, memanggil, menonton TV atau lainnya jadi tidak dilakukan didalam ruangan seperti yang dilakukan di tempat terapinya.

Perlu saya informasikan bahwa kami dirumah selalu mengulangi apa yang diajarkan oleh terapistnya tapi tidak dalam satu ruangan khusus.

Kekawatiran yang pertama adalah, saya takut anak saya akan trauma atau stress apabila dia selalu dikurung didalam satu ruangan untuk diterapi, tetapi saya juga tidak tahu apakah dengan cara seperti yang saya lakukan sekarang itu efektif karena setelah saya membaca buku bahwa untuk melakukan terapi anak autis dibutuhkan waktu min. 40 jam per-minggu agar hasil yang didapat maksimal (metode Lovaas).

Kekawatiran saya yang kedua adalah anak saya belum juga bisa bicara. Sampai berapa lama si anak diterapi untuk bisa bicara dan apa ciri-cirinya anak autis itu bisa bicara atau yang tidak bisa bicara sama sekali. Anak saya saat ini sering mengeluarkan kata ma..ma.. atau pa...pa....walaupun itu hanya sekali-kali dan bukan berarti mama atau papa.

Apakah cara yang saya lakukan ini sudah efektif?. Atau saya juga harus melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan terapist yaitu men-terapi dia dengan tegas dan dalam satu ruangan khusus.

Salam Hormat,
Bapak AW. Bontang, Kalimantan Timur

* * *

Salam buat rekan milis semua,

Menurut saya cara yang Bapak A. berikan sudah baik. Anak autis memang unik, ada berbagai cara untuk men-terapi-nya.

Ada yang menerima pelajaran dengan baik sambil bermain, ada yang harus dilakukan dengan tegas, ada yang harus masuk ruangan khusus dan banyak lagi. Cara-cara tersebut tergantung dengan kondisi si anak, mana yang lebih cocok untuk anak kita. Untuk itu kita perlu coba dan perhatikan mana yang paling cocok.

Mengenai berapa lama anak bisa berbicara, itu tergantung beberapa hal. Antara lain cocoknya metode terapis dengan anak, intensitas dan kontinuitas terapinya, memperhatikan dengan seksama perkembangan anak kita.

Saya ada sedikit pengalaman dengan anak saya, dia mulai terapi usia 2 tahun 3 bulan dan mulai menampakkan hasilnya pada usia 5 tahun (3 kali pindah tempat terapi).

Pada saat ada hasilnya tersebut, kami harus pergi ke luar kota dan pada saat yang bersamaan Jakarta sedang rusuh, sehingga anak saya terhenti terapinya selama 3 bulan. Yang terjadi setelah itu anak saya menjadi seperti sebelum di-terapi.

Sekarang anak saya sudah berusia 8,5 tahun. belum bisa bicara, tapi bisa menirukan kata bila kita suruh.

Saran saya untuk Bapak dan Ibu dan semua :

1. Perhatikan seksama perkembangan anak kita dan ambil tindakan. Misalnya : sekarang terapi di sekolah X, setelah satu tahun tidak ada perkembangannya pindak ke sekolah Y, siapa tahu disekolah tersebut lebih cocok dengan anak kita.

2. Jangan pernah berhenti terapi.

Salam,
Bapak Z. Jakarta

* * *

Saya ada sedikit pengalaman. Anak saya dulu juga belum bisa bicara sampai dengan berumur hampir 3 th. Padahal sudah mengikuti terapi okupasi & wicara.

Sampai saya berkonsultasi dengan dokter-nya, beliau menganjurkan untuk mematikan TV kurang lebih selama 2 bulan.

Hasilnya memang jelas sekali; anak saya mulai dapat berkonsentrasi, patuh, dan sudah bisa membaca huruf A sampai J dan angka 1 sampai 10, meskipun belum sempurna, selain itu dia mulai dapat meniru ucapan-ucapan yang saya ucapkan.

Salam,
Bapak T. Jakarta

* * *

Rekan Milis Yth,

Kalau boleh saya berbagi pengalaman, sebaiknya Bapak benar-benar mendapatkan diagnosa yang paling komplit mengenai kondisi anak Bapak.

Barangkali Bapak bisa cerita lebih banyak mengenai test-test apa saja dan bagaimana hasilnya, termasuk apakah dia alergi terhadap kasein / glutein sehingga harus menjalani diet Casein Free Glutein Free (CFGF) dan terapi kelasi, bagaimana tingkat konsentrasinya, dan lain sebagainya.

Terus terang, puteri saya saat seumur anak Bapak dan belum bicara - kelihatannya sedikit memperoleh manfaat dari HANYA terapi wicara. Tapi lebih merupakan hasil kombinasi upaya maksimal kami baik diet CFGF yang ketat, terapi okupasi, penyembuhan alternatif (ini sifatnya sangat SUBYEKTIF / bukan anjuran), latihan di rumah (bundanya memutuskan berhenti bekerja).

Dan Alhamdulillah, pada usia 2 tahun 10 bulan kata yang keluar adalah menghitung 1 sampai 10 walaupun baru ujung-nya, dan itu merupakan latihan yang paling sering dilakukan oleh bundanya.

Setelah itu, barulah tantangan berikutnya menyempurnakan artikulasi dan menambah kosa katanya, dan ini perlu disiplin dan metoda tersendiri disamping peran aktif semua pihak khususnya orangtua dan terapistnya.

Pada tahap awal anak autis belajar bicara lebih banyak melalui proses meniru / membeo. Saat ini putri kami sedang diajarkan bagaimana berkomunikasi dua arah sehingga dengan menggunakan perbendaharaannya itu dia bisa mencari konteks kata / kalimat dengan hubungannya pada situasi nyata (real situation).

Intinya, kita sebagai orangtua harus memberikan perhatian dan upaya yang optimal atas perkembangan anak kita, sedemikian rupa agar jangan ada waktu yang tersia-sia.

Kalau kami selalu membuat target: setelah bicara konsentrasinya harus ditingkatkan sehingga bisa menyimak pelajaran lebih baik, setelah itu kemampuan komunikasi dua arahnya, dan seterusnya. sehingga pada saatnya nanti dia dapat masuk sekolah umum dan dapat menjadi manusia ‘normal’ yang mandiri.

Saya rasa itu dulu yang dapat saya sampaikan, semoga upaya kita semua dapat membantu anak-anak kita sebagimana yang kita semua harapkan.

Salam,
Bapak IH. Jakarta

Maaf ikut urun rembuk.

Sebelum mencoba metode apapun yang berhasil pada anak lain, pastikan dulu apakah anak anda sudah siap mental.

Jangan lupa setiap anak mempunyai “KEUNIKAN” sendiri sendiri dalam hampir semua aspek, termasuk reaksi-nya atas metode dan penanganan apapun dan alasan terjadinya perilaku tertentu.

Ngomomg ngomong, teknik psikologis yang disebutkan diatas adalah teknik ‘desentisisasi’.

Salam,
Ibu DP. Jakarta

* * *



__

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy