Pendidikan bagi penyandang autisme

07/24/2005

Merujuk pada pengalaman anak saya 4 tahun yang telah beberapa bulan kami masukkan sekolah TK umum, kami sepertinya dapat melihat bahwa tidak effektif untuk menyekolahkannya di sekolah umum, karena:

1. Tidak bertambahnya kemampuan komunikasi verbal
2. Sikap agresif membuat anak lain menjauhi

Itu pengalaman yang kami alami, tentu saja harapan tetap ada , jadi silahkan Bapak mencoba, mungkin saja pada anak Bapak hal ini tidak terjadi.

Salam Sukses,
Ibu Tien. Jakarta

* * *

Rekan Milis,

Anak autis lain-lain manifestasi gangguannya. Setiap individu unik. Kalau satu anak berhasil melakukan sesuatu, belum tentu anak lain bisa. Seperti halnya dengan si A, beruntung bisa bersekolah di sekolah umum. Anak lain, belum tentu. Bukan salah anak atau orang tua, tetapi memang sekolah tersebut tidak dapat menjawab kebutuhan anak (yang mungkin juga tidak sama dengan kebutuhan si-A ).

Tanpa maksud apa-apa selain ingin sharing, bersama ini saya ingin jabarkan sedikit beberapa hal yang saya peroleh dari membaca beberapa buku (gara-gara diminta untuk presentasi, sih !):

Istilah ‘main-stream’ sebetulnya mencakup dua aspek: social main-stream atau academic main-stream.

Yang pertama, social main-stream, bila orang tua merasa putera- nya belum siap untuk mengikuti materi pelajaran dan berharap dengan keberadaan anak bersama anak-anak lain akan memancing anak untuk mengembangkan kemampuan sosialnya. Berarti, target akademis bukan prioritas utama.

Yang kedua, yang juga dikenal dengan istilah ‘full inclusion’, sungguh-sungguh berarti si -anak diperlakukan SAMA dengan anak tanpa kebutuhan khusus. Jadi. kita juga tidak bisa menuntut adanya penanganan khusus atas kebutuhan anak-anak kita.

Sebaliknya, kalau ingin anak mendapatkan penanganan ekstra, namanya bukan mainstream. Tapi lebih merupakan satu kelas anak-anak dengan kebutuhan khusus, yang berada di dalam kompleks sekolah umum.

Pada mata pelajaran tertentu, si anak boleh bergabung dengan kelas-kelas anak biasa, sesuai kemampuannya.

Nah, kelas yang berkebutuhan khusus ini, bisa melulu anak autis semua, atau tidak (social skills development & mixed disability classes).

Atau. bentuk yang lebih spesifik lagi untuk menjawab kebutuhan pendidikan anak-anak autis yang tidak terlalu ringan adalah home-based individual therapy, homes chooling, designated autistic classes dan sekolah khusus anak autism.

Persoalannya, semua itu kan model pendidikan di AS. Di Indonesia belum ada bentuk standard ‘kan? Karena-nya. kita sebagai orang tua, mungkin perlu juga mengkaji secara obyektif, anak kita sebaiknya masuk ke sekolah yang seperti apa.

Kasihan ‘kan, kalau kita memasukkan anak ke lingkungan yang dia tidak sanggupi. Atau sebaliknya, kita memasukkan anak ke lingkungan yang tidak ada tantangannya sama sekali.

Jangan lupa juga, seringkali anak-anak yang autis-nya tidak ringan (dengan perilaku yang beragam dan kemampuan komunikasi yang juga beragam), malah ditolak oleh anak-anak / orang tua anak-anak ‘normal’. Jadi, orang tua stres berat karena ditolak !

Ini perjuangan jangka panjang. jadi semua harus bahu membahu mengerjakan sesuatu, sesuai kemampuannya. Tidak mungkin mengharapkan semua dikerjakan pemerintah. Atau, mungkin saja. tapi selesai pada saat saya sudah jadi nenek-nenek dan rambutnya putih :-)

Oh ya, sumber bacaan: The World of the Autistic Child- Understanding & Treating ASD, Bryna Siegel, PhD, 1996.

Salam,
Ibu DP. Jakarta

* * *

Rekan Milis,

Bicara tentang sekolah umum, sekolah khusus, tugas pemerintah, solidaritas keluarga penyandang autism.

Nha, ‘kan ada yang sempat bilang bahwa pendidikan adalah tugas pemerintah. Wah, setuju sekali! Masalahnya, apakah berani menungggu sampai pemerintah bergerak ?

Bisa lama lho ! Seperti seorang Ibu pernah bilang ke saya, pernah ada pertemuan di tingkat Dik-Nas dan ada ketentuan bahwa setiap TK/SD harus menerima SATU anak autis dan pada prakteknya ternyata tidak jalan juga !

Kenapa?, karena di lapangan juga BELUM ada support buat si guru. Tidak mudah mengasuh anak autis di sekolah umum, sedangkan di sekolah khusus saja, susah kok !

So.... penanganan harus dari semua arah. Orang tua bersatu, saling tukar pengalaman, siapkan anak masing-masing untuk diterjunkan ke lingkungan masyarakat (bisa ke sekolah, tempat kerja, atau kalangan umum).

Orang tua bersatu, maju ke pemerintah, mendesak diberikannya kesempatan dan dilakukannya perubahan-perubahan sehingga anak-anak autis ini bisa lebih “exist”.
Orang tua bersatu, menggali pengetahuan, membantu mendukung para guru yang memegang anak-anak ini di sekolah (umum dan khusus) sehingga penanganan bisa lebih terfokus dan mengaktualisasikan potensi anak.

Kalau guru tidak dibekali teknik dan pemahaman, percuma juga anak sekolah di situ. Tidak ditangani, didiamkan saja - anak seperti anak bawang. Apakah ini yang anda inginkan ?

Hayo... siapa diantara para orang tua yang mau jadi “pemrakarsa” dan “penggerak” nya ? Untuk tugas se-canggih ini, komitmen sangat dituntut. Tidak boleh di tengah jalan mundur, lho.

Saya sudah mendirikan dua Yayasan dan sampai sekarang masih aktif. Mungkin, sudah saatnya orang lain yang maju nih.... Giliran anda.... :)

Oh ya… selain masalah “individual differences” yang sudah saya utarakan sebelumnya, ada satu lagi yang mungkin belum terpikir oleh para orang tua:

Materi kurikulum Diknas yang “luar biasa” sulitnya. Anak non-autis pun setengah mati dibuatnya.

Karena-nya bersiap-siaplah dengan segala macam peralatan perang. Jangan sampai harapan orang tua setinggi langit, dan begitu ketemu masalah (yang belum tentu adalah masalah si anak) lalu jadi “patah semangat”.

Sebaiknya, kurikulum Dik-Nas jangan baku dan kaku. Tidak perlu lah anak-anak sejak SD kelas 1 di-ajari menulis halus.

Tulis cetak juga tidak apa, nanti kalau sudah SD kelas 3 atau 4, barulah dipermanis tulisannya. Lalu, apa perlu, anak-anak disuruh menghafal permainan dari daerah-daerah.

Salam,
Ibu DP. Jakarta.


* * *


Salam,

Pernahkah terpikir oleh kita bahwa mungkin anak AUTIS tidak selalu lahir pada keluarga yang peduli atau mampu atau yang berpendidikan.

KITA yang sekarang aktif di milis ini selalu mencari dan mengusahakan kesembuhan titipan Tuhan yang unik itu.
Pernah kah terbayang oleh kita bahwa mungkin masih banyak anak Autis yang lain yang keluarga-nya tidak tahu atau bahkan tidak mau tahu.

Memang sebaiknya kita secepat mungkin untuk menyikapi hal ini, bermula dari milis Puterakembara kita bentuk organisasi yang nyata untuk menyuarakan hak anak-anak malang ini. Seminar yang sering diadakan lebih banyak menyangkut pada teknik penyembuhan atau bahkan bisnis. Kapan ada seminar yang tujuannya menghimpun kekuatan untuk menyuarakan hak-hak anak Autis?.

Salam,
Bapak IW. Jakarta

* * *

Dear Puterakembara member,

Menanggapi komentar ibu-ibu tentang sekolah khusus bagi anak autis kalaupun bisa dilakukan butuh waktu panjang.

Meskipun secara pribadi saya lebih suka menyekolahkan anak saya ke sekolah umum, apapun juga tantangannya merupakan realitas obyektif yang harus dihadapi oleh si anak dan orangtua-nya.
Dan prinsip yang mesti dipegang adalah “Semua anak autis adalah anak kita. Hak anak autis adalah hak asasi manusia”.

Usul saya, yang paling urgent saat ini adalah bagaimana membangun solidaritas keluarga autis. Lewat organisasi ini kita bisa perjuangkan banyak hal menyangkut anak kita dan keluarga autis lainnya, termasuk sekolah bagi anak autis.

Kapan lagi mereka (elit birokrasi) akan tersentuh dan mau berpihak bila kita sendiri (para keluarga anak autis) tak memperjuangkan. Karena bagi saya autisme tidak terbatas dan berhenti pada masalah kesehatan dan pendidikan, jauh dari itu tak luput dari dimensi ekonomi, sosial, politik, budaya.

Hingga kini saya terobsesi dalam waktu dekat terbangun solidaritas keluarga autis. Saya tunggu partisipasi anda semua.

Bapak HC, Jakarta

* * *



Saya dulu sekolah di PPSP IKIP Malang (semacam Lab school), modelnya pakai modul-modul. Jadi yang berminat biologi, diberikan modul biologi lebih banyak dari pelajaran yang lain.

Saya pikir walaupun model itu belum sempurna, karena masih ada muatan lain yang cukup banyak, sebenarnya sangat cocok untuk anak-anak spesial needs ini.

Awalnya, diperkenalkan dulu semua mata pelajaran. Lalu kita kejar mana yang paling “cenderung” untuk dia. Kalau dia “berat” ke Matematik, buat apa dibebani muatan biologi yang bikin dia pusing.

Saya kepingin sekali ada sekolah yang seperti itu (sebenarnya untuk anak normalpun bagus, jadi lebih spesifik sehingga bisa berprestasi di bidang yang betul-betul dia minati).

Apakah ada yang punya informasi ada sekolah semacam itu ? Kalau belum ada.. bikin yuuuk... Yaah, mimpi lagi deh. Bukan mimpi, itu cita-cita, kan.

Tambahan, PPSP itu dulu mulai TK sampai SMA, semua pakai model “anda berminat apa” Dan yang bisa selesai lebih dulu, boleh naik kelas duluan. Jadi ada yang SD nya 5 tahun, 5.5 tahun, 6 tahun. SMP juga begitu: 2 tahun, 2.5 tahun atau 3 tahun atau malah 4 tahun... tergantung.


Mungkin disini yang mendekati semacam itu Lab School ya, saya belum tahu, belum sempat tanya juga.

Salam,
Ibu TPD. Bogor

* * *

Saya sangat mendukung ide Ibu T, yakinlah, anak-anak kita yang spesial ini punya potensi yang luar biasa, cuma mungkin belum terlihat dengan jelas oleh kita, sehingga kita belum bisa mengasahnya.

Ide mendirikan sekolah semacam ini bukan mimpi, dengan argumen dan informasi yang jelas, hal ini bisa kita ajukan ke yang berwenang.

Untuk pertama mungkin hanya sebagai wacana, untuk berikutnya bukan tidak mungkin bisa kita realisasikan, dan sebagai ikatan emosional diantara kita sebagai orang tua yang punya anak yang sedikit berbeda dengan yang lain ingin menunjukan bahwa anak-anak kita bisa berkarya gemilang.

Satu hal, karena ini merupakan ide dari orang tua yang punya anak spesifik, untuk anaknya sendiri dan oleh anaknya sendiri, sehingga komersialisasi autisme tidak terjadi.

Insya Allah kita bisa mencetak orang-orang yang punya potensi besar dan mengarahkannya sebagai modal untuk anak-anak kita yang tercinta ini.

Mari kita berdiskusi dan bertukar fikiran.

Bapak YF. Nusa Tenggara Barat

* *



__


Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy