Perilaku (tantrum) anak autis

07/20/2005

Salam kenal juga dan terima kasih atas segala masukan dan sarannya. Anak saya mengkonsumsi Ritalin dan Noprenia sudah hampir 1 tahun ini. Yang saya tahu Ritalin utk mengurangi Hiperactive dan Noprenia obat utk Autis, saya juga belum begitu jelas dengan kegunaan masing2x obat tsb, tetapi obat tersebut diberikan berdasarkan resep dari dokternya.

Memang, setelah saya memarahi dan memukul anak saya, saya merasa menyesal dan sedih, saya minta maaf pada anak saya walaupun mungkin dia belum mengerti permintaan maaf dari saya.

Semua ini terjadi karena kebingungan kami dalam penanganan anak kami bila dia sedang marah sekaligus mengamuk, kami tidak tahu apa yang harus kami lakukan untuk menenangkannya. Terkadang kami hanya bisa membiarkannya sampai dia merasa capek dan berhenti sendiri.

Anak saya juga sering merasa gemas / geregetan dengan orang, bila rasa itu timbul dia akan mencubit, mencakar bahkan menarik rambut kita, ini juga membuat kami bingung bagaimana cara menghilangkan kebiasaan ini.
Terima kasih.

Salam,
Bapak AW. Bontang, Kalimantan Timur
* * *

Yth Rekan Milis,

Sebelumnya saya ingin memperkenalkan diri dulu bahwa saya adalah ayah seorang putri yang "special needs" berusia 4 tahun 8 bulan, tadinya ikut milis ini bermaksud memperoleh tambahan ilmu yang berguna bagi anak tercinta, jadi hanya pasif dan sekedar baca.

Namun begitu membaca kisah Pak A., saya terharu, teringat dulu mungkin saya bapak terkejam di dunia karena sejak umur 12 bulan - 36 bulan (1-3 tahun) saya begitu tidak sabar menghadapi tangisan anak.

Ini disebabkan karena anak saya kalau mengamuk / takut dengan sesuatu dia menangis keras bisa lebih dari 2 jam. Ada kalanya di malam hari yang membuat orang tuanya panik karena malu dengan tetangga plus capek dari kantor sehingga akhirnya saya tidak tahan dan plak-plak... saya pukul kaki anak saya.

Ini membuat timbul rasa bersalah pada diri saya tetapi hal itu berlangsung terus dan anak saya pun makin tidak terkendalikan/hiperaktif, antara 1-2 tahun saya belum sadar kalau anak saya bermasalah. Sampai umur 2 tahun terdiagnosa autis. Lalu ikut terapi di RS P kurang lebih 9 bulan, tidak ada hasil dan anak saya tetap seperti yang dulu.

Umur 3 tahun pindah terapi ke Bogor dengan metode Lovaas murni dan alhamdulillah setelah 4 bulan banyak kemajuan berarti. Disinilah saya mulai sadar setelah melihat anak saya terus menangis ketika terapi, timbul rasa kasihan karenanya saya langsung ikut antar ke Bogor dan di rumah perilakunya mulai membaik dan tangisannya pun tidak setiap malam sehingga sayapun mulai sabar kalau dia sesekali menangis saya mencoba untuk dzikir agar saya bisa menahan diri.

Akhirnya sudah lebih dari 1 tahun lamanya anak saya tidak pernah saya pukul lagi. Sekarang saya mampu makin menahan diri untuk tidak memukul anak saya tapi semuanya penuh dengan perjuangan.

Sampai hari ini anak saya komunikasi verbalnya masih minus namun komunikasi dua arah yang lain sudah sangat baik sekali dan hiper-nya sudah jauh berkurang, beda dengan yang dulu.

Sekarang sudah mau main boneka, main salon-salonan dengan ayahnya, bisa dilarang, bisa disuruh, bisa pakai/copot sepatu sendiri dll.

Alhamdulillah, sekarang ayah dan bunda-nya masih menunggu harap-harap cemas kapan yach dia bisa memanggil ayah dan bundanya. Walaupun begitu tetap Alhamdullilah.

Ya Allah Engkau anugrahi kami bidadari yang spesial dan cantik ini, karena kalau tidak diberikan yang spesial mungkin sampai sekarang saya menjadi ayah yang pemarah plus tukang pukul dan bukan yang pemaaf.

Jadi kepada Pak A. saran saya mungkin lebih kepada diri sendiri untuk menahan emosi, macam-macam caranya tergantung diri sendiri. Kalau saya seringnya mengobrol dengan orang yang lebih tua untuk sharing tentang saya dan kesalahan saya selama menjalani hidup ini atau kisah orang-orang lain yang lebih susah dari kita plus buku/kasetnya AA Gym agar lebih tenang dan sabar menghadapi hidup ini.

Demikian Pak semoga berguna untuk anda dan keluarga.

Bunda Tita. Jakarta

* * *


Dear All,

Kami punya pengalaman yang bikin mangkel, benci, kasihan semuanya menjadi satu. Anak kami umur 11 tahun, hiperaktifnya masih lumayan. Suatu hari istri saya karena sudah kelelahan melayani tingkahnya yang sering membuat berantakan rumah. Pokoknya pojokan sini kita bereskan, dipojok sana dia bikin ulah, pendek kata lima menit aja duduk tenang tidak dapat dilakukan.
Karena istri saya kelelahan (saya di kantor), anak saya dikunci dalam kamar. Istri saya dapat bernapas lega, dari dalam kamar tidak terdengar suara apapun, dia mengira anak saya sudah tidur.

Satu jam kemudian, kamar dibuka, ternyata, masyaallah, kamar morat-marit, kasur (kapuknya) amburadul, tinja berserakan dilantai dan tembok kamar, seolah kamar dicat dengan tinja. Kejadian diatas sering kami alami.

Salam,
Bapak AM. Malang

* * *

Salam kenal,

Saya tidak paham masalah obat tersebut, tapi menurut Bapak dulu anak bapak dapat mengerti kalau dilarang, siapa tahu ada hubungan antara obat tersebut dengan masalah anak Bapak.

Kita sebagai orang tua yang mempunyai anak spesial ini, akan merasa sedih, perih, menangis bercampur jengkel yang luar biasa bila melihat anak kita tantrum atau sulit dikontrol atau hiperaktif. Perasaan kita bercampur, sehingga sampai pada suatu titik kita beraksi; bisa memukul, menampar, mencubit bahkan menggigit.

Hal itu semua tidak ada gunanya, dan makin membuat anak kita berbuat yang lebih lagi karena mendapat pelajaran baru dari apa yang dilakukan orang tua. Boleh saya cerita tentang pengalaman saya dan anak saya?

Saya juga mengalami seperti apa yang bapak lakukan. Pada suatu hari anak saya tantrum berat, dan saya coba hentikan dengan memegang tangannya, eh dia malah menendang,. Saya pegang juga kakinya.

Akhirnya tangan anak saya terbebas, kepala saya dipukulnya dan anak saya mengadukan kepalanya dengan kepala saya. Aduh sakitnya bukan main, kepala belakang saya sampai kesemutan.

Saya emosi, saya pukul tangannya dan saya remas tangan (jarinya) dengan keras. Anak saya merasa kesakitan, tapi tindakan anak saya tidak berubah.

Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan, saya terdiam dan menangis setelah keadaan tenang, saya menciumi dia bertubi-tubi.

Dilain waktu, istri saya juga mengalami hal serupa, lalu anak saya dicubit, setelah itu menangis. Setelah keadaan berlalu anak saya diciumi dan istri saya minta maaf. - Anak saya mendapat pelajaran baru yaitu mencubit. Jadi kalau becanda anak saya suka mencubit.

Dari kasus saya tersebut, bisa dipetik :

  • Anak akan meniru tindakan orang tuanya.
  • Pukulan kita, walau perlahan, akan terasa sakit diterima oleh anak kita, karena kita punya tenaga sangat besar dibandingkan anak kita.

  • Janganlah kasar terhadap anak,..kita akan menyesali perbuatan kita dan kita merasa berdosa terhadapnya.
  • Berjanji tidak akan mengulangi perbuatan kasar tersebut.
  • Perbanyak berdoa, minimal untuk ketenangan menghadapi anak kita.


Demikianlah pendapat saya dan pengalaman saya, semoga bisa menjadi bahan perenungan bapak.

Salam,
Bapak ZS, Jakarta



__


Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy