Sekolah atau Tidak Sekolah = Sebuah Pilihan

09/05/2008

----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] sekolah atau tidak sekolah

Tahukah bapak (dan teman2 sekalian) bahwa pertanyaan "nanti anak kita bagaimana?" selalu mendera orangtua yang anaknya masuk sekolah reguler??

Bahkan, lebih heboh lagi mengingat bahwa perjuangan di sekolah reguler

berlipat-lipat = berjuang dengan materi sehari-hari (yang sebetulnya sih, belum tentu ada gunanya lho di kemudian hari), berjuang berhadapan dengan lingkungan sekolah (guru, kepala sekolah, guru pendamping), berhadapan dengan keluhan orangtua lain yang (mungkin) tidak suka dengan adanya anak kita di situ, melihat dan menghadapi

deraan cemoohan anak-anak lain yang cenderung menekan.....

Kalau kita lihat Ido, sebetulnya bapak & ibu bisa merancang dari sekarang lho, akan dibawa kemana arahnya di kemudian hari. Apalagi bapak di Semarang. Setahu saya (bener 'kan ya, bu Nurini ??) sudah ada 'bakal sekolah / asrama untuk autism dewasa... Coba deh berdiskusi dengan orangtua disana (duh, pak sapa namanya, bu Nurini ? Lali aku? Depannya huruf W.... gitu lho ---hihihii, aku pikun banget yak).

Saya pribadi, merasa sangat bersyukur sudah berani melangkah mundur dari sistim pendidikan reguler. GImana lagi, lha wong anak saya gak bakalan bisa. Lagipula, saya pesimis lihat kurikulum DepDikNas kita tercinta itu. COba, berapa persen yg bener2 aplikatif dan fungsional sih??

Sekarang saya sibuk menggali minat dan bakat anak saya, sambil kasak-kusuk kesana kemari mencari network untuk membangun sebuah 'tempat' bagi individu autistik remaja/dewasa berkarya... Belum, belum berhasil...

Oia, buat pak Hari (papa-nya Ido)...ide bapak untuk memberikan pertanyaan yang jawabannya hanya bisa diperoleh kalau baca koran, BRILIANT banget! Angkat jempol!. Lebih baik muatan itu ditambah saja pak. Kombinasikan dengan diskusi

tentang makna kata (misal, topiknya sengketa tanah. Makna 'sengketa' itu apa? Sinonimnya? ). Lalu kasi bacaan juga yang mengandung 'matematika' disitu sehingga Ido terpacu untuk berpikir menggunakan logika verbal dan matematika pada saat yang sama, membahas masalah sehari-hari. Wuyh, TOP itu.. (di sekolah gak bakalan dapet!).

So...bilang sama kakek-neneknya... anak-anak lain yang sekolah reguler pun, tidak bisa ditebak masa depannya. Jadi kita jalani saja dengan penuh harap dan doa. Bagaimanapun, masa depan adalah milik Allah swt. Kita cuma punya masa lalu dan masa sekarang (hanya sampai detik ini). Ke depan? MKTH = meneketehe...

Btw...kalo emang segitunya kepingin punya ijazah, tanya2 aja tentang ujian persamaan paket A yang setara SD. Nah, anak dikasi belajar topik2 / materi2 yang berkaitan dengan itu. Another idea dong??

salam penuh semangat,

--dp-- emaknya Ikhsan Monas yg tahun ini juga gak punya sekolah lagi, tapi

teteup tuh punya target belajar buat dia...



----- Original Message -----

From: wargo h

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sekolah atau tidak sekolah ---- sebuah pilihan

Sementara masih vakum dulu Ibu Ita tapi yang sudah jalan sekarang kami sedang buat peternakan ular python albino dan pyhton hijau dari papua yang akan menjadi salah satu profit center untuk asrama dan sudah berjalan. Kenapa saya pilih ini karena profitnya tinggi sekali dan permintaannya juga tinggi. Mohon doanya terus karena kami masih nabung dulu sebisanya, yang penting tekad sudah bulat. Bagus sudah 14 tahun dan lebih tinggi dari saya.

Salam

Wargo



----- Original Message -----

From: augustina k

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sekolah atau tidak sekolah ---- sebuah pilihan

Dear teman-teman,

jadi salah ya saya memaksa Adam masuk secara mainstreaming ke sekolah umum (SD negeri) dengan harapan hanya untuk sosialisasi? Karena yang saya lakukan hampir sama dengan apa yang telah teman-teman lakukan untuknya. Kadang-kadang saya memang merasa useless dengan semua yang sudah saya lakukan untuknya termasuk ngotot cari surat sakti untuk Adam agar bisa bergaul di sekolah umum seperti anak-anak di India. Dengan label autism yang melekat padanya betul banget kalau sussyyyaaaahhhhhhh buuuuuuuuuuuuaaaaangettttttt cari sekolah.

Ini sudah sekolah ketiga yang bersedia menampungnya dari 23 sekolah yang menolak Adam. Pertanyaannya sekarang buat Adam yang obsesive compulsive pada televisi secara fisik dan acara yang ditayangkan gimana dong jalan keluarnya? Saya sempat kepikir supaya dia jadi kayak Keanu Reves di film matriks yang pekerjaaanya nonton 10 TV sekaligus dan menjadi kritikus dunia layar elektronik itu. Ada gak ya pekerjaan kayak gitu nanti?

Bantuin ide dong..............................



----- Original Message -----

From: Hari W

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sekolah atau tidak sekolah ---- sebuah pilihan

Thanks bu Ita,

(Sebenarnya saya sudah 'kenal' bu Ita sejak tahun 1998 yl, ketika bu Ita, bu Melly dan dr. Rudy bikin Workshop di Semarang.)

Waktu itu Ido baru ketahuan autisnya oleh bu Emma dari Unika Sugiyapranata.

Hanya saya yang sempat ikut seminar dan ws, sementara mama Ido nungguin Ido

di rumah sebab masih suka tantrum).

Tentang asrama untuk autis dewasa di Semarang, saya malah belum denger.

Kalau bu Nurini punya cerita tentang itu, tolong dong dibagi di milis ini.

Untuk bu Augustina Kusumawardhani, saya sih tidak berani menyarankan atau melarang Adam masuk di sekolah umum. Cerita tentang Ido hanyalah satu contoh

dan belum layak digeneralisasi. Contohnya, Oscar toh bisa dikatakan berhasil

di sekolah umum. Hanya kita memang mesti mencoba objektif dalam mengevaluasi

perkembangan anak kita. Coba pakai kacamata orang lain untuk menilai apakah

anak kita 'tidak berbeda banyak' dengan anak lain? Kalau memang berbeda,

kita pun harus punya cara pikir dan cara tindak yang berbeda, bahkan mungkin

harus keluar dari mainstream. Sekolah sebenarnya dirancang untuk anak 'normal' yang kalau dipakai acuan umum hanya kira-kira 68% dari populasi anak-anak yang ada. Sisanya adalah yang gifted maupun yang underachiever atau silahkan pilih label lain. Lagian, sebagaimana filosofi industri, sekolah adalah upaya memassalkan proses sehingga biayanya jadi murah.

Mendidik anak secara individual (antara lain dengan homeschooling) memang membutuhkan biaya tidak sedikit. Pakai analogi penjahit, baju jadi yang dijahit perusahaan konveksi kan lebih murah dari pada houte couture (maksudnya: adi busana) yang dijahit Itang Yunasz, misalnya. Perkembangan sekolah saat ini juga tidak lagi sehat (tidak bisa digeneralisir, tentu saja). Sekolah yang mahal dan memberikan fasilitas yang tidak perlu malah diserbu orang tua untuk berebut menyekolahkannya di sana, berapapun biayanya!!!!!! Di Semarang, konon ada SMP (negeri!) yang tahun ini merencanakan kelas khusus (imersi) dengan satu laptop untuk satu siswa dengan uang pangkal (atau uang pagar atau uang gedung atau whatever) minimal 7,5 juta dengan SPP 500.000 perbulan (bandingkan dengan sekolah S2 di

Universitas Negeri Semarang dengan SPP sekitar 3.000.000 per semester, atau

S3 UGM yang 6.000.000 per semester). Jadi kayaknya, banyak orang tua dan pengelola sekolah (dan ini berarti; pemerintah!) menjadi tidak berfikir rasional jika

bicara tentang pendidikan (formal).

Kembali ke masalah Ido,

Masa-masa sekolah juga tidak terlalu menyenangkan buat Ido maupun mamanya, yang lebih banyak menunggui dari pada saya. Pernah Mama-nya cerita dengan

berkaca-kaca betapa dia diminta untuk mengajak Ido terserah ke mana (jajan

di luar sekolah, misalnya) hanya karena kemungkinan akan ada pejabat diknas

provinsi yang mau berkunjung ke sekolah Ido. Tentu saja Mamanya Ido

tersinggung, meskipun diam, dan langsung mengajak Ido pulang ... dan pergi

ke mall (Ido memang senang ke mall, meskipun cuma untuk makan lantas balik

pulang).

Apa boleh buat, si Kepala Sekolah ingin sekolahnya 'berperstasi', dan itu artinya banyak siswanya yang juara, dapat ranking dari berbagai lomba antar sekolah, dsb, dsb. Padahal kalau dipikir-pikir, anak yang juara, yang nomor satu dsb itupun kalau dilacak tidak sepenuhnya karena bagusnya proses pendidikan di sekolah tersebut. Anak berprestasi lebih karena memang difasilitasi orangtuanya, diberi suasana kondusif di rumah, dll dari pada proses pendidikan di sekolah. (Terhadap anak nakal, sekolah sering berkilah: 'kan anak lebih banyak di rumah dari pada di sekolah, tetapi giliran anak berprestasi, diklaim seolah-olah itu peran sekolah!, aneh kan?)

Sampai saat ini, Ido masih suka ngumpulin buku Matematika dan buku resep

masakan. Kalau ditanya besok pingin jadi apa, jawabannya juga tetap konsisten: ingin berjualan macam-macam makanan!. Sederhana, kan? Tentang hitung-menghitung, kenapa dia suka, jawabanya juga simpel: karena sangat mudah!. Walah!

Sesungguhnya, saya tetap sangat-sangat bersyukur karena dia masih bisa berkomunikasi, meskipun dengan sangat cadel dan intonasi yang datar. Kalau

ingin tahu saya mau ke mana, dia akan bertanya: "Hari mau ke ...?" meskipun

setelah seringkali dilatih berulang-ulang, kadang dia bertanya: "Mau ke mana

Hari? (Ido jarang sekali panggil "Papa" kepada papanya ini. Kakek dan neneknya pernah menegur, jangan dibiarkan nanti keterusan. Kami sih ketawa

saja. Apa ya harus sih, bapaknya dipanggil Papa atau Bapak atau Abah, lha

namanya memang Hari!)

Di Semarang, sesungguhnya ada sekolah luar biasa (negeri, perintis) yang

mengklaim bisa mendidik individu autis. Saya sih tidak yakin, karena setelah

ngomong banyak dengan pengelolanya (yang saya kenal baik), hanya ada dua

guru SLB yang mengerti tentang autis untuk lebih dari 30 siswa spektrum

autis (dari yang 'mild' sampai yang 'severe'). Ido juga tidak mau sekolah di

sana setelah beberapa kali kami ajak dia survai ke sana.

Ah, rasanya jalan masih sangat panjang, ya Bapak dan Ibu anggota paguyuban

Puterakembara? Tapi saya terus teringat kata-kata bijak dari Cina: Sejuta

langkah ke depan selalu dimulai hanya dengan satu langkah pertama.

Betapapun kecil, usaha untuk anak kita harus kita mulai, sekarang, jangan

nanti!!!!



----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sekolah atau tidak sekolah ---- sebuah Pilihan

Hadoh!

Disebutin tahunnya...1998....itu tahun pertama aku beredar kasi pelatihan kesana kemari tuh. Duh, udah ampir 10 tahun ya?? huhuhuhu..udah tuwek..

Btw, pak Wargo udah ngejawab tuh.

Halo, pak.. Apa kabar? Salam buat ibu & Bagus ya... (ternyata bener juga ingetan saya yang terbatas...cuma inget huruf awalnya 'W' tapi lupa kelanjutannya...ternyata ... Wargo...)..

So, silakan dilanjutkan saja percakapannya antara papanya Ido dengan bapake Bagus. Sip.

Oia.. saya sih berpendapat bahwa pengajar yang merupakan pendidik adalah yang berhasil membuat siswa "dengan kekurangan" keluar potensinya. Kalau cuma mau ngajar yang pinter2 aja sih, jangan bangga! Itu mah, gampaannnggg.. Gak usah diajarin udah pinter kok!

salam,

--dp-



----- Original Message -----

From: nadia jas

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sekolah atau tidak sekolah -- tidak semua negatif....;

Iya ..sedih banget saya sekolah disama ratakan sebagai tempat cari uang yg semata2 komersil ...

saya sendiri sampe akhirnya memutuskan membuat sekolah inklusi untuk izza karena bingung dengan sekolah konvensional yang ada yang sangat mengutamakan akademik..(kecuali sekolah2 internasional yang muahl harganya)..yang untuk anak saya yang normalpun saya tidak rela rasanya.. sementara sekolah kami ini rasio guru-siswa kecil ( 1 kelas 3 guru maks 25anak), memberikan pelajaran musik dengan prof musik S3 yang sangat mengerti memberi pelajaran musik yang menarik untuk anak, art, memasak , komputer, otomatis biaya operasional membengkak, biaya terapis jg sudah mahal (kecuali yang bukan lulusan akademi terapis) , sementara tuntutan orangtua memang cukup tinggi..

kami 100% pake biaya sendiri untuk mendirikan sekolah, dimana orgtua maunya yang luas, yang ruangannya besar2,fasilitas lengkap, guru2nya semua qualified (S1 , minimal d3 akademi ), berarti juga mengorbankan banyak hal , waktu .. bisa dihitung sendiri berapa biaya tanah dan bangunan yang diperlukan untuk sekolah yang dianggap "layak" (pemerintah mensyaratkan minimal 2500m2) di jakarta, belum lg pandangan miring org tua karena kami terima anak SN, resikonya besar, jauh

lebih mudah dan murah bikin tk/sd hanya untuk anak normal.....

sementara itu pemerintah menganggap sekolah ini komersil semata ( sama halnya dengan jualan motor cina / buka panti pijat yang modalnya cepat kembali)untuk

imb dan ukur planning saja, kami diminta petugas tata kota 30jt rph ( untuk pekerjaan yang tidak lebih dari 2 jam), petugas diknas sudah minta 3juta untuk awal /ijin prinsip, belum sampai ke ijin operasional ... , belum lagi biaya2 lainnya.. bahkan suami saya dan teman2nya yang buat puskesmas di daerah terpencil di sukabumi masih dipungut biaya 1000/org, pdhal pasien hanya membayar 5000rph/org untuk dokter dan obat2an... itulah hebatnya birokrasi kita.. ;((..

padahal suami saya berbisnis syariah dan kita anti nyogok ( udah tangan kotor, masuk neraka pula).. sampe2 suami saya kemaren lebih baik gak punya sim

(alias ditilang) daripada nyogok polisi ( pdhal kt lg diluar kota sad() ...

sorry yah jadi curhat, gak tahan juga mendengar ungkapan2 yg kebanyakan negatif tentang sekolah .. padahal pengorbanannya luarbiasa krn pure idealisme

pribadi.. teman2 kita jg gak mau terlibat sebagai investor/lainnya karena semuanya "menghitung2 dengan cara akuntansi" tapi tidak dengan hati.. walau saya lulusan s1 akuntansi UI, saya menghitungnya dengan hitungan seorang ibu, jadi gak terlalu mikir

untung rugi... balik modal dlm waktu 20thn atau bahkan lebih jg sudah alhamdulillah...yang penting izza punya teman dan bisa tertangani ( udah sambil bercucuran airmata neh..smile).. makanya cari investor sangat sulit karena saya gak bisa memberikan keuntungan yang memadai dibanding resikonya menerima anak SN..

mohon maaf kalo terbaca seperti emosional dan kurang berkenan di banyak pihak...

so, jangan terlalu negatiflah melihat sekolah... kita juga ingin membantu pemerintah mencerdaskan bangsa.. murni ini karena keprihatinan saya/kita melihat sekolah yg hanya menghargai intelegensia, tapi menafikan kecerdasan2 lainnya...

wass,

Nadia ( yang lagi stress banget dimintain duit 30jt barusan oleh petugas tatakota hanya untuk imb sekolah 400m2..saya tawar 15 juta, lgs diminta urus sendiri aja katanya... lha sekolah2 yang gedung2 tinggi itu berapa?? silakan diitung sendiri d..)



----- Original Message -----

From: Darman P

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Sekolah atau tidak sekolah -- tidak semua negatif

Bu Nadia, maju terus Bu.

Kita butuh banget orang-orang seperti Bu Nadia yang punya idealism,

mengerti persis kebutuhan anak-anak special needs (karena punya anak SN)

dan peduli dengan pendidikan mereka.

Tidak banyak yang memiliki kemampuan (resources dan financial) untuk

mendirikan sekolah seperti Bu Nadia, dan kalau pun punya kemampuan

mungkin tidak cukup punya kemauan (courage dan idealism).

Memang ironis di negeri kita ini, konon mendirikan panti pijat lebih

mudah daripada mendirikan sekolah.

Salam,

Darman



----- Original Message -----

From: Yuliana D

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Sekolah atau tidak sekolah -- tidak semuanegatif

Bu Nadia,

Saya setuju dengan Pak Darman, salut utk Bu Nadia yg punya dedikasi dan

courage utk menjalankan apa yg terbaik utk anak ibu dan anak2 lainnya. Sudah

jarang sekali di dunia ini yang punya idealisme dan mau menjalankannya.

Banyak yang (maaf) sudah tercemar dan malah kita dianggap munafik kalau

mempertahankan jalan hidup kita sesuai idealisme yg kita anut.

Saya sendiri pingin sekali buka tempat terapi khusus di daerah sini utk

membantu anak2 yang kurang mampu, tp maunya yg tempat terapinya bener2 lho,

bukan yg asal2an aja. Tp cukup terjangkau sehingga bisa membantu anak2 yg

kurang mampu yg gak bisa ke tempat terapi (saya ketemu beberapa yg begitu,

akhirnya mereka terapiin sendiri sesuai kemampuan mereka yg terbatas). pdhal

sangat disayangkan karena anak2 SN juga berhak utk mendapatkan kesempatan

utk maju. Tp yah kembali lagi, angan2 tukang rujak deh (bukan tukang cendol

nih, ngopi hahaha)... karena saya sadari utk mencari investor agak sulit,

dan kalau kecari pun, belum tentu bisa selaras, karena investor pasti maunya

balik modal cepet, bukan mikirin ke "membantu sesamanya". memang gak semua

investor begitu, tp sulit lah utk mencari investor yg bener2 niat utk sosial

saja tanpa memikirkan keuntungan pribadi. Nah, kalo cuma dari saya saja,

sampe skrg sih blm mampu lah secara finansial utk membuka tempat terapi

sendiri apalag maunya yg bener2 ok, dlm arti fasilitas bagus tp harga

terjangkau, dgn terapis ahli yg up to date dgn metode2 terbaru. Belum lagi

susahnya mencari terapis yg benar2 berdedikasi, bukan malah ambil ilmu trus

cabut krn ditawarin yg lbh ok penghasilannya.. (gak semua lho, saya ketemu

bbrp terapis yg bener2 ok dan berdedikasi).

Bukan hanya itu saja, kita jg hrs punya courage utk melaksanakannya. karena

buat saya, itu tanggung jawab yg cukup besar.. kl kita didiknya gak benar,

kasian ke anak2nya. dan kl tanggung2 jalaninnya, kasian jg ke anak2nya. Yah

masih kembali lagi ke diri sendiri, mampukah saya???

Jadi yah kembali lagi ke idealisme tinggal idealisme, kalo tidak punya

kemampuan dan courage utk mewujudkannya...

sekian curhat saya... hehehe, boleh donk ikutan curhat colongan.... emang

Mieke doang yg bisa? lho kok nyamber? auw sendal melayang... no. 38 nih!

Salam,

Yuli (mama Jason)



----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sekolah atau tidak sekolah -- tidak semuanegatif....; (

Setuju banget bahwa buka sekolah itu gak gampang. Apalagi kalo kita

punya idealisme tinggi. Idealisme, MAHAL.

Duh, gak bakalan sanggup aku kalo musti ngejalanin seperti bu Nadia.

Makanya aku en Ina bagi2 tugas deh...

Kami berdua juga udah sampai pada titik "batas kemampuan". Gak berani

(atau belum berani?) buka tempat buat remaja / dewasa. Mempertahankan

mutu yang sekarang aja juga 'kan gak main2...

So, two thumbs up buat bu Nadia.

Keep up the spirit.

Cuma bisa bantu doa, tapinya?

salam,

--dp—



----- Original Message -----

From: yuyun

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sekolah atau tidak sekolah -- tidak semua negatif....; (

Bu Nadia,

pls don't so sad. Saya salut banget sama ibu, sama salutnya saya kpd rekan2 yg hebat di milis ini, kayak bu Ita, bu Leny, bu Doktor Adriana, dan lain2nya (pastinya masih banyak, tp maklum, saya new comer, jd taunya yg top2 ibu2 tadi, hehehe..).

Gimana saya gak salut, Bu Nadia, Bu Ita, Bu Leny, Bu Adriana (dll nya...),kayaknya all out banget di dunia perautisan Indonesia. Mereka bersedia mencurahkan tenaga, waktu dan biaya yg tdk sedikit utk bisa andil dan membagi ilmunya yg bermanfaat buat orang lain. Menurut saya, Bu Nadia, tetaplah meluruskan niat utk berbagi hal2 bermanfaat bagi sesama, pahalanya insyaallah mengalir terus ya Bu. Saya dan mungkin rekan2 lain hanya bisa mendoakan agar usaha yg sedang dirintis ini lancar, hambatan pasti ada Bu, tp mudah2an bisa dilewati dgn baik, amin.

Tetap semangat!

Salam,

Yuyun (Mama Hanif, autis verbal 8,1th)



----- Original Message -----

From: Leny Marijani

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sekolah atau tidak sekolah -- tidaksemuanegatif....; (

Bu Nadia,

Saya pribadi tidak dapat menyalahkan kalau ada yang berpikir bahwa sekolah jaman sekarang memang banyak yang komersil, walaupun tentunya tidak semua. Tidak sedikit sekolah yang pada dasarnya berbentuk Yayasan, pada prakteknya tidak ubahnya seperti satu Perusahaan yang bertujuan mencari untung. Seperti yang pak Hari katakan mereka mematok uang pangkal dan uang iuran semau-maunya.

Ada kecenderungan aneh juga yang saya lihat di kalangan orang tua jaman sekarang, bahwa apabila anaknya masuk sekolah mahal berarti kebanggaan. Padahal kualitas sebuah sekolah tidak dapat diukur dengan mahal tidaknya uang sekolahnya, apalagi untuk kategori sekolah khusus (Inklusi). Pemerintah pun kelihatannya belum bisa banyak membantu untuk menyediakan fasilitas agar sekolah bisa memenuhi syarat menjadi sekolah inklusi (bukan hanya sekolah reguler yang menerima anak autis). Celakanya setelah ada pihak swasta yang berinisiatif untuk mendirikan sekolah inklusi, malah dipersulit dengan birokrasi yang UUD (ujung2nya duit).

Kenyataan seperti ini memang sangat menyedihkan, terutama bagi yang berpikiran idealis dan benar2 punya niat tulus. Kalau saya malah bukan sedih lagi, tapi frustrasi.

Harapan saya, mudah-mudahan ada orang tua di milis ini yang kebetulan pengusaha, tergerak hatinya dan mulai memikirkan untuk mengikuti jejak ibu Nadia yang tulus berinisiatif mendirikan sekolah inklusi demi pendidikan anak kita, bukan untuk mencari untung. Karena menunggu Pemerintah sadar dan segera bertindak untuk membantu memberikan fasilitas pendidikan bagi anak2 SN, seperti mimpi di siang hari bolong.

Salam,

Leny



----- Original Message -----

From: Eveline H

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sekolah atau tidak sekolah -- tidaksemuanegatif....; (

Bu Nadia,

Salut atas perjuangan Ibu !

Tidak sy sangka kendala2 yg musti dihadapi oleh pendiri / pemilik sekolah

(keuangan, birokrasi yg mempersulit, tuntutan ortu, guru keluar masuk...)

Semoga cita-cita Ibu utk MENCERDASKAN BANGSA dimudahkan, dilancarkan oleh Nya.

Btw, besar IMB 30 jt utk sekolah 400m2 itu lewat jalur yg bener (sudah

peraturannya)? It's a lot of money, concerning bukan mereka yg bangun, baru ijin doing gituh...

Salam, Eve.



----- Original Message -----

From: dawarja

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Sekolah atau tidak sekolah -- tidak semuanegatif

Ada sekolah yang sangat komersial dan ada sekolah yang sangat berkorban.

Melakukan generalisasi selalu tidak tepat. Sama seperti anak autis...orang

lebih mudah menolaknya dari pada menerimanya. So Ibu Nadia...selama

ketulusanmu ada...seluruh dunia mengatakan apapun...jangan mundur...Waktu

yang menjelaskan.

Adawarja (papa medline)



----- Original Message -----

From: Tommy W

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Sekolah atau tidak sekolah -- tidak semuanegatif

Ibu Nadia,

Jangan menyerah bu, anggap aja sebagai rintangan yg

harus dilalui. Pasti banyak yg support kok.

Tommy



----- Original Message -----

From: nadia j

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sekolah atau tidak sekolah -- tidaksemuanegatif....; (

Tq bu leny, yuyun, bu eve n yang lainnya untuk support dan doanya….

mudah2an ke depan semakin dimudahkan...

prayer is more than enough mbak, i feel pumped up again..

untuk mbak ita juga pastinya gak mudah menjalankan sekolah seperti mandiga.. menghadapi anak2 special dengan segala keunikannya/ permasalahannya...thumbs up

to u 2..

thx utk semua supportnya.. semoga kedepan semakin baik kerjasama orangtua n

sekolah..pemreintah jg semakin mau support/memberi kemudahan ijin dll.. jadi semakin banyak orang yg mau buka sekolah yang berorientasi anak untuk anak

SN/NT..

senang rasanya ada dukungan dari rekan2 milis PK.. sebernya gak enak juga terlalu expose masalah pribadi.. wong ini keputusan pribadi, ya segala akibatnya ditanggung sendiri...mudah2an bisa membuat orgtw lebih kooperatif dng sekolah...

wass,

nadia

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy