Sosialisasi?

09/05/2008



----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] sosialisasi ?

Banyak orangtua berpikir untuk memasukkan anak2nya yang autistik ke sekolah, dengan lasan 'sosialisasi' atau 'memancing keluarnya verbal'.

Jadi kepingin membahas nih.

Ada beberapa hal yg patut dicermati sebelum memasukkan anak ke sekolah reguler.

1. sosialisasi itu apa sih?

Kalau ini merupakan tujuan utama memasukkan ke sekolah, observasi anak sehari2nya. Apakah anak merasa nyaman di tengah orang banyak? Apakah

anak sudah mampu berkomunikasi (tidak selalu harus secara verbal)? Apakah anak paham aturan2 sosial? Apakah anak sudah menunjukkan kemampuan meniru perilaku orang lain? Kalau jawaban untuk semua pertanyaan tadi semuanya 'ya'...berarti

keinginan orangtua untuk memasukkan anak ke sekolah dengan alasan 'untuk sosialisasi', cukup masuk akal, karena anak sudah menunjukkan potensi. Tapi kalau jawaban untuk semua pertanyaan tadi masih 'tidak', atau 'ragu-ragu', atau 'kayaknya siiihhhh...belum ya?'...tolong dipertimbangkan lagi apakah bijak memasukkan anak ke sekolah. Jangan2 anak nantinya hanya luntang-lantung sendirian kesana kemari,

saking belum bisa mendapatkan pembelajaran dari lingkungannya.

2. apa yang ingin dicapai?

Dari proses sosialisasi, apa yang ingin diperoleh orangtua? Kemampuan

bicara? Aturan bersikap sosial? Kemampuan bermain? Pemahaman terhadap

lingkungan? Anu? Ini? Itu?

Jadi...tolong formulasikan secara jelas, apa 'skill' yang diharapkan

diperoleh dari istilah 'sosialisasi' itu..

3. ada evaluasi nya?

kalau anak belum mampu bersosialisasi, dengan memasukkan anak ke sekolah tentunya kita berharap anak belajar bersosialisasi. Nah, ada yg memonitor, mengajari, mengevaluasi kemampuan itu gak? Jangan sampai anak dilepas begitu saja. Nanti tau2 udah 2 tahun, anak begitu2 aja...lalu orangtua panik ketika sadar bahwa keinginan mereka agar anak bersosialisasi ternyata tidak berjalan...padahal anak sudah

membuang waktu yang sangat berharga

Jadi...tolong dipertimbangkan lagi keinginan orangtua memasukkan anaknya yang autis ke sekolah umum kalau untuk 'sekadar' bersosialisasi.

Ya kalo bisa...kalo ternyata engga bisa? Jangan2 anak gak bisa sosialisasi, gak bisa ngikutin pelajaran sekolah, trus udah gitu buang waktu pula..

Sekadar renungan, agar tidak salah langkah...

Maaf kalau jadi makin bingung..Bukan maksud, lho

wassalam,

--dpó



----- Original Message -----

From: yudha t

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Thanks atas informasinya, kebetulan saya menpunyai anak baru 2,5 th dan hyperaktif , yang jadi kendala masih belum mempunyai banyak kosa kata ( spech delay ) mohon bantuan untuk mengatasi hal ini . trims



----- Original Message -----

From: Sinta K

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Dear Rekans,

Ini juga yang jadi concern saya. Baru2 ini saya memasukkan Raffi 2,5 th ke playgroup. Anak saya ini 3 dokter 3 diagnosa jadi saya binun kalo ditanya. Yang pasti masih bubbling belum verbal, lagi menjalani terapi SI dan TW). Saya pesen sih sama gurunya, untuk sekarang saya nggak expect dia mau duduk manis di kelas. Wong temen2nya yang NT aja masih suka keliaran. Yang penting dia mau sosialisasi sama temen2nya.

Perubahan yang saya rasakan :

1. Sudah nggak takut dengan keramaian/suasana baru

2. Kalau lihat temen sebayanya sudah mulai memperhatikan, sudah mau

diajak main bareng walaupun dia belum ngoceh paling senyum2 aja.

3. Mau ngemil di luar jam makannya gara2 liat temennya pada makan.

Tadinya cuman mau makan di kursi makannya aja.

4. Mau minum dari gelas, padahal tadinya susah banget ngajarinnya.

Begitu liat temennya langsung ikutan.

5. Sama gurunya kalo diajak bicara sudah memperhatikan (alias mau

contact mata)

6. Contact mata dan sosialisasi ke orang rumah juga lebih baik. Bisa

nunjukkin kalo dia lagi jealous sama adiknya, sayang sama adiknya, lagi

pengen dimanja sama saya atau papanya, diberi instruksi sederhana juga

mau mengerjakan (walau kalau lagi ngadat pake acara berantem dulu sih),

dll.

Tadinya terapis/dokter saya agak kurang setuju karena dianggap Raffi belum siap.

Ternyata setelah dilihat kemajuannya mereka happy juga.

Cuman yang saya heran walau imitasi gerakan & sosialisasi sudah membaik

tapi kok imitasi verbal belum ada yah. Apa imitasi verbal itu memang lebih sulit ya?

Mungkin rekans2 yang ahli bisa membantu saya, maklum saya masih amatiran

banget. Thanks.

Regards,

Sinta (mama Raffi 2.5th)



----- Original Message -----

From: Emil Habli

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Duh... informasi yang sangat bagus sekali nich bu Dyah.

Dulu saat Ibrahim saya masukkan ke sekolah tanpa melakukan hal-hal yang

Ibu sampaikan. Hasilnya... bener-bener buang waktu. Guru dan temannya

ngapain, Ibrahim ngerjain yang lain. Ibarat ikan dalam bowl aquarium di

tengah ruangan. He...

Ortu lainnya.

Info dari bu Dyah terbukti buat anak saya lho...!

Semoga info yang bermanfaat ini menjadi mata air amal yang tiada henti

buat bu Dyah selama kami terapkan untuk kebaikan anak-anak kami.

Aamiin...!

Emil Habli



----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Kalau buang uang, bisa diganti..selama kita cari uang lagi. Nah, kalau buang waktu...itu yang repot.

So, parents...tolong bersikap obyektif dan memikirkan berbagai alternatif pendidikan. Bukan pendidikan di sekolah reguler saja yang bisa membantu anak-anak kita berkembang lho. Kenali anak kita masing-masing, pertimbangkan plus-minusnya,

diskusikan dengan orang-orang lain...sampai bisa mengambil keputusan yang sangat obyektif ..

Semoga bermanfaat...

wass,

--dpó



----- Original Message -----

From: lani s

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Wah.....SETUJU BANGET DENGAN IBU DP, sekalian minta ijin bu.....pernyataan

ibu mau saya sampaikan pada PSG SEMARANG,mo saya ketik untuk ditempel ditiap

ruangan he...he...he... di semarang masih banyak ortu yang terobsesi dengan

seragam sekolah dan ijazah.....sibuk berlindung dengan label

ADHD,GIFTED,SPEECH DELAYED....yang intinya SN......

salam hangat

didin (mama adib)



----- Original Message -----

From: Hari W

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Mungkin pengalaman saya berguna buat orang lain:

Ido (sekarang 11 tahun 7 bulan) juga akhirnya 'mengundurkan diri' (ini istilah Ido sendiri) dari sekolah formal. Dulu saya memilih sekolah yang saya anggap cocok untuk dia (dekat rumah, sedikit muridnya, dan boleh ditungguin), dan dapat di sebuah sekolah negeri. Pada dasarnya para guru memang baik, hanya belum memiliki pengalaman menangani anak autis. Jadilah saya (dan mamanya Ido) menjadi penunggu sekolah anak sekaligus menjadi tutor bagi guru mengenai apa itu autis, dan bagaimana menanganinya. Sebenarnya proses memilih dan menentukan sekolah juga tidak mudah. Pakai acara sedikit memaksa. Kebetulan salah satu mahasiswa (S2) di universitas tempat saya mengajar adalah pejabat di Depdiknas Kota yang antara lain

menjadi atasan para guru dan kepala sekolah. Jadi kesannya, mereka tak berani nolak.

Masalah sosialisasi, tidak banyak banyak yang berubah dari Ido. Dia tetap pasif, nyaris tak pernah memulai interaksi. Bila jam olahraga tiba, dan teman-temannya

memilih main sepakbola, paling-paling Ido memilih jadi wasit atau penonton saja. Jadi, terus terang, Ido 'terlalu diistimewakan' karena memang berbeda perilakuknya dengan anak lainnya.

Lalu saat yang meresahkan tiba. Kepala Sekolah diganti, dan saya harus memberi lagi penjelasan dari nol mengenai Ido. Tahun berikutnya murid baru makin sedikit, makin sedikit, dan akhirnya sekolah harus ditutup dan siswa dianjurkan mencari sekolah lain. Sejak awal Ido tahu sekolah akan ditutup (dari kami dan dari pembicaraan antara guru dengan kami maupun guru lain), ia bersikeras tidak mau sekolah lagi. 'Mengundurkan diri' istilahnya, karena (menurut dia): sekolah sulit, (dan Ido) tidak mencari teman. Ketika saya berusaha mencari sekolah baru, dan mengajak Ido menghadap Kepala Sekolahnya, Ido kelihatan tidak senang. Lebih-lebih ketika Kepala Sekolahnya memberi berbagai persyaratan (antara lain: tidak boleh ditunggui), maka

tambah kuatlah kemauan Ido untuk 'mengundurkan diri'. Jadilah Ido mundur, dengan selembar surat pengunduran diri yang saya ajukan dan disetujui Kepala Sekolah (dari SD sebelum ditutup), dan selembar rapot dengan catatan: naik ke kelas V.

Sejak saat itu Ido 'homeschooling' dengan hanya kami (papa dan mamanya) yang

menjadi guru. Ido sangat senang Matematika (sebetulnya hanya bagian

aritmetika.hitung-menghitungnya saja).

Bagian terberat dari keputusan untuk meng-'homeschooling'-kan Ido adalah

menghadapi pertanyaan dan keluhan kakek-neneknya. "Terus nanti bagaimana?' -

adalah pertanyaan yang sederhana yang kadang-kadang membuat kami berdua

nangis kalau malam tiba dan melihat Ido tidur pulas. "Terus nanti bagaimana?' itu terkait dengan hal-hal:

(1) besok menjadi apa?

(2) bagaimana menafkahi dirinya kalau orang tuanya duluan meninggalkan dia?

(3) apa tidak malu memiliki anak tidak sekolah - tidak berijasah bahkan SD

sekalipun (atau menurut guyonan tukul: TK drop out)? Yang mungkin tambah

berat dirasakan adalah: saya ini guru di universitas negeri dengan

pendidikan cukup baik, dan istri saya srjana pendidikan guru

meskipun hanya menjadi ibu rumah tangga. Masa anaknya tidak sekolah?

Sulit memang melapaskan diri dari alur pikir yang linier, atau (terpaksa) kelur dari pakem (dan patron) yang tanpa kita sadari harus kita ikuti. Berbeda dengan alur itu berarti menyimpang, dan itu tidak normal. Normalnya, anak itu ya sekolah, bergaul (bersosialisasi?) dengan teman, dsb. Oleh karena pakem itu, salah seorang saudara berusaha dengan berbagai cara (silahkan interpretasi sendiri) agar anaknya tetap naik kelas meskipun sebenarnya anaknya belum mampu. Pokoknya: harus!, karena berkali-kali bapaknya bilang: masak bapaknya cerdas kok anaknya tidak naik kelas.

Kalau kami sedang BT karena terus menerus ditanya (dalam berbagai versi) mengenai sekolah Ido, kami menjawab asal saja: Lha yang anaknya sarjana (atau bahkan S2) juga bingung cari pekerjaan atau malah ketangkep polisi lagi nyabu kok. Kriminal yang pendidikannya bagus juga banyak. Atau (ini malah pengalaman nyata seorang kerabat), yang orang tuanya bingung karena anaknya yang sudah sarjana sama sekali tidak mau bekerja sesuai kemauan orang tuanya, malah lebih senang main band kesana kemari.

Sampai saat ini, kamipun terus berfikir, bagaimana 'masa depan' Ido nanti. Yang jelas ia terus belajar dan belajar dengan caranya sendiri dan dengan mencuri waktu yang tersisa di antara kegiatan kami sendiri. Pagi inipun saya tinggal Ido dengan tugas mengisi tabel nama-nama provinsi dan ibu kotanya (yang jumlahnya jadi lebih banyak dari saat saya sekolah dulu) dan lima negara di Asia beserta ibu kotanya. Atas inisiatifnya sendiri ia mencari dan membaca peta indonesia terbaru. Yang aneh, negara Asia pertama yang ditulis adalah Cina (sampai saya kaget dan nyaris menyalahkan dia dan hampir mengatakan bahwa Cina bukan Asia!) dengan kota Beijing, tanpa membuka buku. Saya berfikir dia akan nulis Malaysia, atau Thailand, tapi tebakan saya salah sama sekali.

Kadang-kadang saya suka membuat pertanyaan yang hanya bisa dijawab dengan

mencermati berita koran hari ini. Istilah-istilah olahraga juga dia ketahui dari membaca dan menonton TV (nyaris 24 jam, karena tv mati hanya saat ia

tidur jam 11 malam sampai jam 5 pagi).

Kebiasaan anehnya adalah: nonton TV sekaligus mendengarkan radio dan bermain

komputer. Jadi rumah berisiknya minta ampun. Anehnya, suatu ketika ketika

saya sangka dia tidak mencermati diskusi yang sedang disiarkan radio, dan saya bertanya: "Dik di radio itu diskusi tentang apa sih?" Tanpa menengok dia jawab: "Sengketa tanah". Dan memang benar, yang didiskusikan adalah masalah sengketa tanah terkait kasus Alas Tlogo itu. Apakah dia bisa menyimak ketiganya sekaligus? Wallahualam bissawab.

Bagaimana Ido nantinya? Jadi apa dia? Bisakah dia mencari nafkah sendiri

nantinya?

Pertanyaan2 itu terlalu sulit untuk saya jawab.

Kita semua tidak pernah tahu rencana Tuhan dengan menitipkan anak-anak SN

kepada kita. Tugas kita berusaha sekuat kemampuan yang diberikan kepada

kita. Untuk selanjutnya, kita kembalikan saja pada yang Menitipkannya.

Salam untuk semua kawan di Putera Kembara

Orang tua Ido,

Semarang



----- Original Message -----

From: Fatih Wirfiyata

To: peduli-autis Perakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Wah... Pak Hari...

Jauh betul yach mikirin ke depannya...

Anak saya sekolah di reguler, sekolah nya diatur ama perusahaan dan orang tua muridnya ... Saya kadang mikir bila keluar kerja dari perusahaan, gimana cari

sekolah... tapi saya paksa otak dan hati saya melihat keadaan sekarang... apa ada alasan untuk keluar... bisa tahan gak... dan ternyata keadaan gak se-catastrhopic- yang saya khawatirkan...

Ngeliat cerita2 di milis, juga banyak yang survive koq, tanpa sekolah yang well establish macem di perusahaan saya bekerja... Yang penting usaha-usaha-usaha... hasil ya terserah Yang Di Atas dech...

Saya juga suka mikir, mau jadi apa Echa kelak... tapi saya tepis pikiran dan hati yang cemas ini... kembali pada "kenyataan"... Akhirnya saya putuskan... pikirin yang cetek2 aja dulu dech... Gimana dia bisa lulus kompetensi tes di kelas 1... cermati bidang studi mana yang dia kurang dan kenapa gak bisa tune in, terus fokus lagi apa

yang bisa saya manipulate dengan keadaan yang ada...

Aduh... bapak... bapak...

Ada loh tukang becak yang anaknya bisa S-3... tetangga saya tuh...

Ada loh tukang cuci yang anak2nya insinyur...

Profesi does not matter... ntar juga kita mati dikubur... tinggal tulang dan sama aja toh... Yang beda... yach apa yang kita perbuat baik ato tidak...

Masya Alloh Pak...

Rizki anak kita tuch dah ada yang Menjamin...

Semua pekerjaan mulia bila diniati dengan niat ibadah dan dikerjakan

dengan ikhlas...

Insya Alloh Pak... dan Alloh khan udah janji (janjiNYA pasti benar!

Kagak gombal amoh kayak orang pacaran), bahwa rizki seseorang tuh udah

dijamin... tugas bapak dan kita semua sebagai orang tua... mengarahkan

membekali... Yah itu yang harus dilakukan sungguh2...

Saya yakin... Alloh itu Maha Baik... Buaiiikkkkk sekaleeeeeeeee

Kalo kita berterimakasih atas setiap kemajuan kecil... wah Tuhan lebih

Maha Berterimakasih... dan pasti nyediain kejutan di belakang hari..

You never know... but keep in faith...

Kita yang orang tua... kudu pinter2 manage qolbu kita...

Jangan dibiarkan nerawang kemana2... kembali ke masa sekarang, siapkan

sebaik mungkin, dan apa jadinya dengan masa depan: ada tangan Tuhan yang

tak nampak tapi Dia Baik dan Adil... memberi kita titipan istimewa untuk

menguji kita... percaya pada Dia tidak... kalo kita percaya...yach

serahkan aja pada Dia... Dia lebih Tahu koq apa yang kita dan anak kita

butuhkan... Dia Yang Mencukupi...

Gak usah susah2 amat Pak...

Gak usah ditangisi...

Jangan keluarkan airmata kekhawatiran akan jaminan hidup... atau karena

melihat keadaan semrawut sekitar... Do our best!!! Banyak berdoa...

Keluarkan airmata untuk bersyukur bahwa kita dikasih kesempatan buat

jadi lebih dekat padaNya...

Keluarkan airmata cinta saja untuk anak kita... bahwa kita cintai dia

sungguh2 sebanyak sebesar mungkin karena kita mencintai Tuhan... Dan Dia

menitipkan anak istimewa kita itu untuk dicintai sebagaimana Dia

mencintai kita dengan memberikan kesempatan istimewa...

Begitu aja dech...

Mama Echa...



----- Original Message -----

From: fuad n

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Yth, pak Hari dan rekan semua...

Memikirkan masa depan anak memang perlu dan wajib hukumnya

(setidaknya buat saya.........) NAMUN... AKAN TETAPI......kita juga tidak boleh terjebak dengan obsesi dan kemauan anak yang kadang belum memikirkan efek2

kedepannya....

kalo boleh berpendapat, kita mau mendidik anak seperti apapun boleh2 saja... syah-syah saja.. toh itu juga anak kita tanggung jawab kita, mau sekolah reguler kalo memang mampu dan dirasa perlu mengapa tidak, kita mesti bisa kasih pilihan ke anak dengan penjelasan sejelas2nya... bila dipertimbangkan mesti ke sekolah khusus atau home schooling pun kenapa enggak? yang penting bekal untuk masa depan sudah kita upayakan dengan segala pertimbangannya..... NAMUN... AKAN TETAPI lagi kita juga harus fikirkan perkembangan mental anak, termasuk bagaimana nanti bisa menerima perbedaan dan adaptasi dengan masyarakat atau lingkungannya... seandainya punya perusahaan sendiri juga mesti burhubungan dengan orang lain kan.... dan lain sebagainya... jadi seandainya pun sekolah dirumah jangan lupakan perkembangan sosialnya, gak mesti sefleksibel yang kita bayangkan, tapi minimal bisa memahami perbedaan dan norma2 yang berlaku di sosial nantinya... agar selain anak juga bisa berusaha adaptif, lingkungan juga berusaha yang sama..... karena hal yang demikian biasanya tidak cukup menerima teori saja tapi akan lebih berasa dan memang terbukti bisa berkembang bila sudah menjalani, dengan pengalaman langsung, sehingga empathi mulai terbentuk, simpati mulai terlatih, anak mencoba dengan pertama salah sana sini dulu.... tapis setelah tahu dan lingkungan menjelaskan akan mencoba yang lebih baik kan...? dan Ingat.. fase perkembangan anak jangan dibiarkan terlena dengan hal2 yang terkesan menyenangkan anak saja.. anak kan mesti latihan problem solving... latihan memahami lingkungan dsb...

waaah maaf kalo kemana2.... saya juga inget dengan anak saya yang pernah terlambat perkembangannya dan saat itu saya terlena dengan pikiran saya.. padahal saya ini sering memberi treatment ke anak2 mungkinratysan anak pernah saya beri treatment tapi kenapa anak sendiri terlambat perkembangannya ..... tapi dengan kesabaran dan usaha yang terus menerus.. alhamdulillah sekarang sudah bisa mulai mengikuti prkembangan anak seusianya...... yang penting gak perlu malu, sering cari info dan ACTION........

semoga bermanfaat

salam hormat,

fuad



----- Original Message -----

From: haryanto p

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Dear All,

Ngomongin soal sosialisasi buat anak SN kita, saya sudah kurang lebih 8 bulan ini observasi langsung ke anak saya, bahwa anak saya kurang bisa ngobrol dengan anak se usianya. Saya sudah coba bawa Dimas ke sana ke mari kalo ada anak saudara atau anak teman yang se usianya, saya ajak dia main dan saya suruh dia main bareng. Tapi saya perhatikan Dimas paling banter 5 menit main, proses selanjutnya kalo ketemu mainan yang dia suka langsung main sendiri atau di dekat saya. Orang banyak yang heran, kenapa Dimas nggak mau ngomong sama anak se usianya. Kalo sama anak SD kelas 5 atau lebih besar lagi bisa. Apalagi ngobrol sama saya, Dimas sdh seperti ngobrol sama temannya aja. Saya yang sekarang jadi anak kecil lagi karena nontonnya tiap hari Global TV melulu. Sampai2 istri saya bingung kalo Dimas ngomong tentang film kartun.

Waktu seminar pak Steve, beliau pernah bilang bahwa sosialisasi itu nggak harus dengan teman sebayanya. Orang tua juga bisa jadi teman bagi anaknya, itu yang saya

jadikan pegangan untuk bersosialisasi dengan anak saya.

Salam,

Haryanto ( Bapake Dimas, autis 6 tahun )



----- Original Message -----

From: dawarja

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Sekedar tambahan Ibu Ita, Socrates dan penulis kitab suci dulu tidak ada

yang mengikuti Sekolah Formal seperti yang kita kenal sekarang. Ada pepatah

Latin Romawi yang sangat terkenal yaitu "Non Scholae Sed Viate Discimus"

artinya Kita Belajar Bukan Untuk sekolah tapi Untuk Hidup.

Thanks

A Dawarja (Papa Madeleine)



----- Original Message -----

From: Mieke R

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Keren.

saya suka pepatahnya, bahwa kita belajar bukan untuk sekolah tapi untuk

Hidup. (kan ada bahasa torajanya juga tuch pak, "we learn not for school but for

life")

duh, sungguh OOT... maap2 atuh yach (maklum, toraja numpang ngetop,

masak Latin Romawi doang yang dikenal orang, hehehe)

Salam,

mieke



----- Original Message -----

From: Hari W

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Terima kasih banyak untuk semua komentar, saran, nasihat, tanggapan, dsb.

Terus terang, meski percaya Tuhan akan menjaga Ido dengan baik,

kadang-kadang saya cemas juga. Barangkali saya memang bukan hambaNya yang

baik. Saya masih manusia biasa yang kadang ingin mendatangi Tuhan dan

protes! Kok saya? Kenapa?



----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Kenapa? Kok saya?

Itu pertanyaan sudah muncul dari jaman kuda gigit besi, pak.

Namanya juga manusia. Tidak akan paham rahasia Tuhan, rencana Tuhan.

Justru itu berarti kita hambaNya karena kita bersikap seperti manusia.

Gak sok suci seperti nabi ataupun malaikat gitu..

Ada orang yg pernah bilang ke saya...Tuhan kirim anak-anak ini ke kita sebagai orangtua anak berkebutuhan khusus, karena Tuhan menilai kita mampu.

Saya sering sekali dengar petuah seperti itu. Tahu sendiri 'kan. Orang sering keliru menilai bahwa saya itu tegar, tahan banting, kuat karena membesarkan Ikhsan seorang diri. Duh, keliru besar. Siapa bilang saya gak cemas? Siapa bilang saya gak nangis2 dulu ngebayangin nasib anak saya semata wayang. Apalagi bapaknya juga gak mikirin amat (gak kayak sebagian besar bapak2 di milis ini)...

Tapi lama2 saya capek juga nangis2 mulu.

Nangis gak bisa bikin saya tahu pasti apa yang akan terjadi pada anak saya.

Nangis tidak akan bisa menjamin bahwa dia akan baik2 saja kalau saya gak ada.

Nangis malahan bikin saya jadi sakit2an, dan itu juga buruk untuk kondisi anak saya. Kalau saya sakit, siapa yg nganterin dia kesana kemari, siapa yg cari duit buat dia, siapa yg ngajak dia ngobrol, yg ngatur ini itu supaya hidupnya nyaman, yg kordinasi sama gurunya supaya dia teteup dapet stimulasi intelektual....

Pada akhirnya saya memutuskan untuk memilih satu hal.

Saya putuskan untuk PASRAH. Percaya pada Allah swt. Bagaimanapun,

Ikhsan anakku adalah ciptaanNya. Tidak ada ciptaanNya yang akan ia

telantarkan.

Sementara itu saya teteup berjuang abis2an supaya (just in case) bila anak saya harus tinggal dengan orang lain, dia teteup bisa mendapatkan kualitas hidup yg sekarang ia peroleh, karena ia bisa mengurusi dirinya sendiri...Tidak tergantung pada orang lain. Tidak menjadi parasit. Untuk mengurus itu saja, habis energi saya!

Kenapa saya?

Gak tau!

Apa? Tuhan memilih kita karena kita istimewa?

Ah. Kalau boleh milih, saya sih ogah dipilih.... Hiks, hiks.

salam,

--dp--

(ibunya Ikhsan Priatama, 16th 5bln, autis, non-verbal)



----- Original Message -----

From: augustina k

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Yth. Pak Fuad,

Makasih ya sarannya. kami akan mulai coba reevaluasi tentang pendidikan Adam, apa yang masih perlu kami lanjutkan dan apa yang bisa kami tinggalkan. Sekali lagi terima kasih.

Augustine (mamanya Adam)



----- Original Message -----

From: Mieke R

To: peduli-autis puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Betul..

saya setuju dengan bu Ita. Kita semua pasti sudah mengalami fase

bertanya2... "mengapa harus saya.... apa salah saya, dsb"... saya rasa

sebagai manusia biasa, wajar kok jika kita bertanya2 seperti itu... karena

kita sering tidak tahu apa rencana Tuhan dibalik semua persoalan yang

menghimpit hidup kita....

tapi satu hal yang brangkali akan membuat kita mampu bertahan adalah, Usaha

untuk meyakinkan diri kita sendiri bahwa Kita ini adalah makhluk Tuhan yang

paling Mulia.... Dan sebagai Ciptaannya, Kita terlalu Mulia untuk

dibiarkannya menderita dan mati.... Kalo ada persoalan yang rasanya begitu

sulit namun diijinkanNya terjadi dalam hidup kita.... Sebetulnya justru

dipakai Tuhan sebagai "proses" untuk membentuk kita menjadi sesuai dengan

Kehendaknya. Mulia dan Layak dihadapanNYA.

Ada Pepatah yang mengatakan, Berlian baru terlihat Indah jika dia membiarkan

dirinya digosok dan dibentuk melalui proses yang "menyakitkan"... Patung

yang Indah baru terlihat mengagumkan setelah dia membiarkan dirinya yang

hanya berasal dari sebatang kayu, untuk "dipahat" dengan "pisau pahat yang

tajam" dan "digosok" oleh pemahatNya. (kayu yang menolak untuk dipahat...

justru hanya akan berakhir menjadi sepotong kayu bakar, habis terbakar,

hanya abu yang tersisa). Patung pualam yang mengagumkan baru terlihat Indah

karna dia membiarkan dirinya melalui proses yang "menyakitkan" juga......

"dibentuk" dan "digosok" oleh pemahatNya... (tapi ketika dia menolak untuk

dibentuk... hidupnya hanya berakhir menjadi lantai pualam yang diinjak dan

dilupakan orang).

Semoga ilustrasi diatas semakin menguatkan kita untuk justru mengucap syukur

dari pengalaman pahit dlm hidup kita yang Tuhan ijinkan terjadi.... Percaya,

bahwa semua yang dilakukannya dalam hidup kita... Pasti yang terbaik untuk

kita...

mungkin ada yang akan bilang, "ah, talk is cheap... mudah untuk diucapkan...

tapi tidak semudah itu untuk dijalankan..." Benar... tapi tidak ada satupun

keberhasilan yang tidak dimulai dari usaha dan kerja keras... lakukan bagian

kita, sisanya serahkan pada yang Empunya kehidupan ini, Dia lebih tahu yang

terbaik untuk kita.

Buah yang akan kita petik nantinya... tergantung dari tiap usaha dan

kerjakeras kita.

Sharing dikit... saya, walaupun bukan single parent, tapi usaha membesarkan

dan mengusahakan yang terbaik untuk ketika anak SN saya yang masing2

memiliki kebutuhan khusus yang berbeda2, seringkali serasa seperti berjuang

sendiri. Tanpa bermaksud untuk underestimate pada pasangan saya.... dia

merasa tidak akan sanggup berpikir, malah makin senewen kalo harus tahu apa

aja yang terjadi pada anak2 saya... tiap dia liat anak ngamuk, mungkin

karena udah capek dikantor, anak malah dimarahin dan dibentak... SAya

mengerti kenapa dia begitu... Sempat sakit hati saya waktu itu... tapi lama2

saya pikir ini ga bisa dibiarin... anak2 saya sudah cukup menderita dengan

"Kespecialan" mereka... kalo mereka kebanyakan dimarahin, mereka akan

semakin menyesali hidup mereka dan akhirnya terbnetuk menjadi pribadi

pemberontak dan tidak bisa diatur...

Akhirnya saya memutuskan berdamai dengan keadaan... saya mulai belajar

memahami pasangan saya... mulai tidak protes kalo dia cuek pada anak2

saya... mulai tidak protes kalo dia sibuk "bersosialisasi" dengan teman2nya

sementara saya jumpalitan ngopenin anak2 yang kadang kelakuannya bikin

kepala mo pecah...;-) Saya belajar untuk bagi tugas dengan beliau... dia

yang jungkir balik ngusahain duitnya (secara, ngegedein 3 anak SN ini

biayanya ampun2 loh...) saya yang jungkir balik mengusahakan treatment

apapun yang menurut saya terbaik untuk anak2 saya.... And, Our problem is

solve....kami tidak lagi "fight" untuk hal2 diluar proporsi kami

masing2... walaupun dalam hati kecil saya... saya sering ngiri pada bapak2

dimilis ini yang begitu care dan berdedikasi pada anak2 mereka... yach, tiap

orang udah diberi porsi-nya masing2... dengan belajar mengucap syukur...

tidak lagi menghitung semua yang negatif2 aja... tapi saya belajr tiap ahri

untuk menghitung semua ayng positif2... yang jadi berkat buat saya....

akhirnya saya bisa menikmati hidup...)

ah... tidak selamanya hidup dengan individu autistik itu berat. Kalo kita

belajar melihat dari sisi yang berbeda, kita akan menemukan, bahwa ternyata

hidup ini sangat menyenangkan....

salam,

Mieke (yang lagi geli karna tadi andre ngomong, "becareful mom... there's a

"sleeping police" ahead (hati2 ma, ada polisi tidur didepan), hahaha...)



----- Original Message -----

From: Yanty S

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sosialisasi ?

Ibu Ita, Ibu Mieke, Ibu Maria, Ibu Yuli, Ibu Linda, Ibu Nadia, Ibu Leny dan

ibu-ibu lain yang gak bisa saya sebut satu per satu... (saya ingat nama2 Ibu

yang saya sebut itu, karena sangat sering muncul di Milist ini dan sangat

berarti masukan, curhat, pengalaman dan kebanyolannya ...tentunya tau dong

sapa yang paling banyol... razz )

saya hanya ingin menyampaikan syukur saya, bahwa saya diberi jalan olehNya

untuk dapat bergabung dalam komunitas ini. seperti nya baru hampir 2 bulan

saya bergabung di milist ini, sudah banyak sekali masukan yang saya peroleh

lewat milist ini.

selain informasi, ajaran, share pengalaman, tentunya yang paling berarti

buat saya , yang awalnya panik, stress, sempet bingung, nangis juga, jadi

lebih tabah, lebih bisa menerima keadaan anak saya yang masih banyak

ketinggalannya jika dibandingkan dengan anak sebayanya.

dari milist ini, saya disadarkan untuk selalu bersyukur dengan apa yang kita

sudah miliki. saya harap rekan2 lain khususnya yang baru bergabung, juga dapat merasakan apa yang saya rasakan.

sekali lagi,

terima kasih atas semuanya. GBU ALL

Yanty (mama Kimi 20 bln, PDD-NOS, Obeth 6 bln , yang alergi banget dan tidurnya

juga bermasalah terus ).

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy