Pengobatan Alternatif
08/29/2008
----- Original Message -----
From: Dyah Puspita
To: peduli-autis Puterakembara
Subject: [Puterakembara] Pengobatan alternatif
Buat mereka2 yang tertarik dengan pengobatan alternatif, tolong dong diperhatikan:
1. jangan ke tempat terapi alternatif hanya sekedar karena PENASARAN
2. bayangkan diri anda jadi anak-anak yang akan diberi penanganan
3. cari dulu informasi sebanyak-banyaknya, untung-ruginya, sebelum akhirnya mencoba
Anak-anak kita, dititipkan kepada kita oleh Tuhan Yang Maha Kuasa, bukan untuk "dicoba-coba" meski alasan yang dikemukakan seringkali "kan demi perbaikan..."..
Kalau penasaran juga, coba orangtuanya nyoba dulu deh. Jangan anaknya aja yang disodorin terus dirayu-rayu dengan "gak papa, sakit sedikit" (emangnya situ tahu, rasa sakitnya seperti apaaaa???? )
Sorry rada emosi.
Gak tahan denger anak dibuat trauma dengan sengaja, padahal hasil yang diperoleh juga gak sebanding dengan trauma tersebut.
Ngilangin trauma itu susahnya bukan main.
Membangun kepercayaan anak kepada lingkungan itu susahnya bukan main..
Please... sakit fisik bisa diobati. Tapi sakit psikis, sulit sekali.
salam sedih (karena masalah ini terus berulang),
--dp—
----- Original Message -----
From: Isdi
To: peduli-autis Puterakembara
Subject: Re: [Puterakembara] Pengobatan alternatif
Setuju banget Bu Ita.
Untuk memberikan obat saja, yang jelas2 tidak ada kesakitan fisik secara
langsung kita masih mikir2.
Saya pernah coba sekali mencoba akupuntur, memang kalau buat yang sudah
dewasa, bisa mengatur perasaan dan tidak merasakan sakit, tapi sebenarnya
sewaktu jarum mau ditusukkan ke tempat2 tertentu, perasaan ngeri itu masih
ada. Pada waktu jarum dimasukkan, rasa sakitnya berbeda-beda.
Hanya yang paling tidak nyaman adalah saat menunggu. Pada bagian yang
ditusuk jarum lama-kelamaan sakit dan terasa kaku/kejang/ngilu. Apalagi
kalau kita bergerak dan jarumnya ikut bergerak, pokoknya rasanya ngga enak.
Itupun ngga disetrum, wah ngga kebayang, kalau disetrum juga.
Soal minum jamu, ini juga harus hati2. Dulu saya pernah minum jamu seperti
itu, bukannya ada perbaikan, malahan diare (mungkin pengolahan jamu tidak
higienis atau berjamur). 2 minggu lebih baru sembuh, perut sakitnya minta
ampun, ngga bisa ngantor, malahan jadi stress. Ngga kebayang kalau anak2
kita harus mengalami seperti itu.
Balik cerita tentang pengalaman anak saya. Waktu Julius umur 5 tahun
(artinya 5 tahun lalu), sewaktu Julius harus diambil darahnya, Julius sangat
ketakutan, melihat jarum suntik saja sudah takut apalagi waktu ditusukkan ke
lengan. Julius waktu itu meronta-ronta (tapi tidak dipegangi sampai beberapa
orang), cukup susternya saja. Dan hasilnya, karena terlalu banyak bergerak,
darah yang diambil tidak bisa diproses, butir2 darahnya pecah karena lengan
Julius terlalu banyak bergerak sewaktu diambil darahnya. Dan akhirnya apa
yang dikatakan susternya, Pak/Bu maaf ya, kita terpaksa mengambil ulang
darah Julius. Mendengar kata itu, saya sudah tidak bisa membayangkan
ketakutan yang akan dialami oleh Julius. Sewaktu mau dicoba diambil darahnya
lagi, Julius menangis dengan memelas, katanya "Sakit sekali mami, sakit
papi, aku ngga mau ...". Setelah itu kita datangi suster, kita minta untuk
diberikan waktu supaya Julius tenang. Kita berdua mencoba bicara dengan
Julius, kita juga ngga mau bohong ke Julius bahwa pengambilan darah itu
tidak sakit. Kita hanya memeluk Julius dan bilang bahwa terpaksa darah
Julius harus diambil lagi, memang rasanya sakit, tetapi itu penting untuk
mengetahui keadaan kesehatan Julius. Julius bisa lebih tenang, saat suster
kita panggil, kita berdua mendampingi Julius, memeluk dia, mengelus tangan
dan memberikan semangat, supaya kali ini pengambilan darah berhasil dengan
baik.
Rupanya Julius sangat percaya dan "rela" menyerahkan dirinya kepada nasehat
kita dan pengambilan darah berjalan dengan sangat mulus. Selesai pengambilan
darah, Martina, istri saya langsung memeluk Julius, dan bilang "Pinter
sekali kamu Jul. Terima kasih ya."
Trauma ini tidak mudah hilang, dan selalu akan terbawa untuk saat waktu yang
cukup lama. Perlahan-lahan, kita harus membangun lagi kepercayaan dirinya.
Dan yang terpenting jangan bohong lah dengan berbagai macam bujukan, tidak
sakit, sakitnya cuma sebentar, dll.
Saya cuma share pengalaman saya, lho, bukan sok pinter menasehati. Hanya
hati2 saja sebelum memutuskan.
Salam sedih juga (saya jadi kebayang waktu saat pengambilan darah, saat
Julius berteriak2, bayangan itu tidak bisa hilang).
Salam,
Isdi (Papi Julius, Mutiara & Daniel)
----- Original Message -----
From: yuyun
To: peduli-autis Puterakembara
Subject: Re: [Puterakembara] Pengobatan alternatif
Thank's Bu Ita, sudah "menguatkan" saya. Saya "hanya" mencobakan alternatif ke Hanif, ke 2 tempat. Pertama yg ke Hembing itu, ke dua yg di Cirendeu. Tp memikir, menimbang, baca2 buku, browsing, memang akhirnya pilih goodbye alternatif, natural saja, tanpa ada rasa tersakiti. Betul sekali, trauma psikis sulit nyembuhinnya, dibanding trauma fisik.
Mungkin waktu itu saya kayak orang panik, rasanya pengen ngusahain berobat ke mana2 biar Hanif bisa ini, bisa itu.... Mau sharing juga sama siapa, pikirannya masih ketutup, gak ada referensi apa2.
Buat rekans yg mau ke alternatif, simak betul tuh nasihat dari Bu Ita.
Regards,
Yuyun
----- Original Message -----
From: Jamaludin
To: peduli-autis Puterakembara
Subject: Re: [Puterakembara] Pengobatan alternatif
Untuk point no 3 itu saya setuju dengan bu Ita....
memang benar kalau kita mau membawa anak kita berobat alternatif harus
melakukan hal tsb di atas.
Seperti pengalaman saya dulu ketika mau membawa berobat alternatif Nadya ke
Klaten Jateng... saya dan istri pergi dulu ke sana untuk melihat langsung bagaimana cara pengobatannya dan bertanya tentang berbagai hal tentang proses pengobatan
tersebut....
Dari apa yang kami lihat pengobatan dilakukan dengan tusuk jarum dan anak
yang diobati diikat jadi satu ke badan orangtuanya hal ini dilakukan untuk
menghindari anak meronta dan efektifnya jarum masuk ke bagian anggota tubuh
yang diobati....
Akhirnya kami kembali ke Jakarta dan memutuskan untuk tidak melakukan
pengobatan dengan cara tersebut karena saya tidak mau Nadya menjadi takut
apalagi menjadi trauma yg berkepanjangan....
Karena Nadya pernah juga berobat di RSCM dengan seorang dokter ahli.... yang
menjadi masalah bukan pengobatan oleh dokter ahli tersebut tetapi masalah
pengambilan darah yang harus dilakukan di lab UI.... yang menurut istri saya
membuat Nadya menjadi takut disebabkan petugas yang melakukan tidak "pandai"
untuk pengambilan darah tsb.... beda sekali kalau pengambilan darah waktu
dilakukan oleh sebuah lab terkenal Nadya tidak ada masalah....
saat ini kami tetap membawa Nadya berobat alternatif refleksi di daerah
Bekasi setiap hari Sabtu atau Minggu pagi.... Alhamdulillah kami menemukan
kecocokan dan Nadya senang kalau diajak berobat kesana.....
jadi tidak ada salahnya berobat alternatif karena itu bagian dari usaha
kita....
Salam,
Jamaludin
(bapaknya Nadya Fahira,autis 8thn 10bln)
----- Original Message -----
From: rudy a
To: peduli-autis Puterakembara
Subject: Re: [Puterakembara] Pengobatan alternatif
Setuju banget ama bu Ita...
sampai sekarang saya menyesal pernah membawa adit ke pengobatan alternatif
yang jelas sangat menyakiti dan ga ada gunanya dan hanya menimbulkan trauma
psikis.....
saya ga sanggup deh walau ada teman saya yg katanya anaknya sembuh setelah
mencobanya selama 2 tahun.... sampai saya dibiilang ga gigihlah hehehhe
ga papa deh saya ga mau menambah penderitaan anak saya lagi.... masih banyak
jalan lain menuju roma ya ga hehehheh
salamm,
mama adit muttya
----- Original Message -----
From: Ibu Embun
To: peduli-autis Puterakembara
Subject: Re: [Puterakembara] Pengobatan alternatif
Bagi cerita boleh yaa.....
Waktu Nada di vonis SN ( umur 2 th ) kami masih di Jerman. Dua tahun setelahnya, transisi dari penolakan ke penerimaan kondisi nada belum sepenuhnya selesai kami jalani ketika kami harus pulang. Sampai di Indonesia kami harus berhadapan dengan keluarga besar. Bisa dibayangin deh 'kalap'nya keluarga atas kondisi Nada. Ada sih suara sumbang yang bilang Nada itu begini gara gara menurun dari saya yang suka pingsan ( saya punya penyempitan pembuluh darah ke otak ).
Saya sedih tapi nggak sempat lama karena keluarga besar suami sibuk merekomendasikan berbagai pengobatan alternatif. Sebulan lebih di Makassar waktu itu saya habiskan untuk berkeliling ke berbagai tempat.
Saya sebenarnya nggak sreg sama semua pengobat itu. Menurut saya Autisma sekarang jadi tren sehingga para pengobat itu merasa perlu memasukan Autis sebagai salah satu kemampuan penyembuhannnya. Dengan pengetahuan yang sangat minim pengobat itu menyarankan Nada diet dengan aturan yang nggak jelas, pas saya protes saya dibilang nggak punya ilmu ( sebel gue sekolah ampe ke Jerman dibilang nggak punya ilmu keluar deh sombongnya aku ) padahal saya sudah dibekali info dari Uni klinik di Karlsruhe. Mau ngambek ? lagi lagi saya nggak berdaya kalau berhadapan dengan keluarga suami. Makanya saya maksa pulang ke Tangerang sama suami.
Kemudian saya tertarik dengan promosi salah seorang keluarga tentang Prof. Hembing. Saya yang separuh chinese sangat familiar dengan pengobatan tiongkok, menurut saya pengobatan timur sama baiknya dengan pengobatan barat konvensional. Jadilah kami memutuskan kesana. Traumatis jelas. Saya nggak nyangkal tapi hasilnya sangat signifikan ke Nada. Nada yang selama 18 jam meleknya dihabiskan buat muter keliling rumah jadi anteng, tidurnya jadi lebih berkualitas ini berefek positif ke epilepsynya yang jarang kambuh karena terpicu kecapekan ( dulu sebelum ke hembing Kalau mau tidur Nada harus saya peluk paksa ke tempat tidur dan nangis dulu selama setengah jam baru tidur, sejak bayi dia memang tidak suka tidur paling tidurnya cuma 5 - 6 jam perhari, bayi lho bu ).
Kontak matanya juga jauh lebih baik dan kemampuan menjalankan perintah bertambah,Nada jadi bisa menjalankan 2 perintah berurutan sekaligus. Tapi ya itu Nada jadi Trauma setiap saya lewat slipi dia pasti mengkeret meluk saya kuat banget. Akhirnya saya nggak tega dan memutuskan berhenti.
Lalu saya kenalan dengan teman yang pernah berguru ke hembing soal akupunktur. Dia mau melanjutkan terapinya hembing dengan modifikasi dari dia. Karena prinsip dasarnya sama saya mau. Di rumahnya dia Nada di terapi,tetap sakit memang tapi Nada nggak trauma kenapa ? karena suasananya jauh lebih bersahabat dari pada di Hembing. Sebelum terapi Nada main sama anak pengobatnya, seluruh rumah dia berantakin, Nada diajak main dulu sama pengobatnya, Nada suka dipeluk dan pengobatnya suka meluk Nada. terapi yang dijalani juga sebentar sebentar. dari satu terapi ke terapi lain cuma 5 -10 menit per terapi ( sekali datang nada menjalani 2-3 terapi ). bandingkan dengan hembing yang kaki anak kita direndam air bermuatan listrik selama setengah jam. Hasilnya sekarang Nada mulai bisa ngomong ' Mi, mau mamam ', ' Mi mau Oah ( sekolah ) 'dan dia sudah bisa tegas bilang ' nggak mau ' kalau ada sesuatu yang nggak dia suka.
Jadi menurut saya terapi CINTA still the best. Kalau mau dikombinasi dengan terapi apapun harus tetap dengan cinta. Saya juga setuju dengan bu ita, kita ortu juga perlu nyobain terapi tsb biar lebih empatis sama penderitaan anak. Bapaknya Nada juga ikut di refleksi bareng bersisian kalau Nada direfleksi jadi mereka nyengir sakit bareng dan Nada bisa meluk bapaknya kapan saja dia merasa sakit.
Mungkin kita nggak perlu antipati terhadap satu metode tertentu tapi yang pasti kita mesti berhati hati,cari info yang jelas dan akurat dan menjalaninya dengan cinta bukan kalap karena diintimidasi lingkungan kayak saya dulu.
salam
Risris ( Ibunya Nada Autiya Microchephaly, Autis 8 th )
----- Original Message -----
From: Dyah Puspita
To: peduli-autis Puterakembara
Subject: Re: [Puterakembara] Pengobatan alternatif
Meluruskan sedikit.
Aku pribadi tidak antipati pada metode tertentu, tapi cenderung antipati pada "pelaksana"-nya.. hehehe... Metode sebagus apapun, kalau dilaksanakan dengan seenaknya sendiri
tanpa memikirkan kondisi si individu yang sedang ditangani, ya konyol
dong...
Buat aku, kalo pelaksana tidak melihat anak-anak kita sebagai
individu, yaaaa....ABCD = aduh booo capee deeee...
salam,
dp
----- Original Message -----
From: Fauzia A
To: peduli-autis Puterakembara
Subject: Re: [Puterakembara] Pengobatan alternatif
Sharing dikit
Setau saya, Utk pengobatan dengan akupunktur atau metode apapun yang agak2 invasif, sebaiknya bener2 dimonitor banget... Contohnya, harus yakin benar, apakah benar si akupunkturis memakai jarum akupunktur yang disposible... Karena kalo ga, bahaya infeksi bo (Hepatitis B and so on) atau infeksi sekunder di tempat penusukan...
Begicu
ANDIN
----- Original Message -----
From: Leny Marijani
To: peduli-autis Puterakembara
Subject: [Puterakembara] Terapi pengobatan alternatif
Rekan milis,
Saat ini, memang sulit untuk menilai keberhasilan dari terapi alternatif bagi penanganan autisme. Selain sangat relatif, juga belum terbukti secara medis, serta kebanyakan orang tua juga memberikan beberapa macam terapi dalam waktu bersamaan. Sebenarnya ada cukup banyak cara pengobatan (treatment) untuk anak ASD yang terbukti bermanfaat, tapi saya mengerti kalau beberapa orang tua ada yang ingin coba-coba. Istilahnya segala usaha pasti dilakoni asalkan itu demi perbaikan/kemajuan si buah hati.
Ada sedikit saran yang ingin saya sampaikan jika ingin mencoba cara pengobatan alternatif sbb :
a.. Sebaiknya mencari informasi sebanyak-banyaknya terutama dari sesama orang tua/rekan milis yang mungkin lebih berpengalaman dan pernah menjalaninya. Saling kontak dan berbagi pengalaman di antara sesama orang tua sangat penting, walaupun PERLU DIINGAT bahwa kondisi tiap anak berbeda-beda.
b.. Mengamati cara dan program terapi tsb. apakah masuk akal.
c. Sebaiknya selalu HATI HATI dengan janji atau pernyataan "bisa menyembuhkan" dengan cepat dan pasti, apalagi untuk kasus autisme yang diketahui sangat kompleks.
d. Apabila ada obat ramuan yang harus diminum, selalu konsultasikan dengan dokter yang sedang menangani anak Anda.
Saran di atas saya sampaikan semata-mata untuk membantu orang tua dalam menentukan terapi yang tepat dan baik, tanpa keinginan untuk men-diskreditkan terapi alternatif manapun.
Semoga bermanfaat.
Salam,
Leny