Anakku ditampar orang -- dari perspektif lain

08/15/2008

----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] ANAKKU DITAMPAR ORANG --- dari perspektif lain

Dear all...

Sedih sekali membaca kejadian anak ditampar orang karena perilakunya.

Saya sangat memahami reaksi semua orang...dari yang ikutan marah dan

kepingin nampar (wadoh), yang sedih, yang minta orangtuanya sabar

(duh, susah itu)....

Tapi kita perlu juga melihat sebuah kejadian dari perspektif lain

supaya kita bisa bersikap dengan lebih obyektif.

1. Reaksi orang terhadap anak kita, adalah reaksi terhadap AKSI anak

kita. Reaksi orang, cenderung merupakan reaksi normatif. Misal, anak

kita berlaku seenaknya, secara normatif 80% orang sedunia akan kesal.

(Memang sih, perwujudan kesal orang macam-macam...dari yang cuma

ngomel, melotot sampai yang pake fisik. Pake fisik juga jelas salah

lah)...

2. Kita tidak bisa mengontrol atau memerintahkan seluruh dunia untuk

TIDAK bereaksi terhadap aksi anak kita.

Kita juga tidak bisa meminta seluruh dunia bersabar menghadapi

anak-anak kita, kalau memang jelas-jelas secara normatif anak kita

bersikap salah....

3. Saya memilih untuk berusaha keras (sampai titik darah

penghabisan...) untuk membuat anak-anak kita (bukan cuma anakku)

bersikap lebih tertib setiapkali mereka berada di tengah masyarakat.

Tidak mudah.

Sama sekali tidak mudah.

Tapi, bukannya tidak mungkin.

Bisa....kalau memang mau anak kita diterima di masyarakat...

4. Usaha kita untuk membuat anak bersikap lebih tertib, jelas mulai

dari rumah. Seperti yang saya tekankan selalu dalam setiap kesempatan:

terapkan aturan yang sama kepada anak-anak kita, aturan2 yang

diberlakukan di masyarakat.

Tidak ada istilah: dia kan autis.

So what?

Meski anak2 kita 'special needs' mereka tetap harus tahu aturan yang

berlaku, karena itulah gerbang mereka untuk bisa bermasyarakat. Jangan

cabut hak itu dari mereka karena kita merasa 'kasihan'...Itu dosa.

Haram hukumnya.

5. Mulailah pelatihan dari skala kecil.

Misal, di rumah diterapkan aturan 'gak boleh ambil barang orang lain

yang bukan punya ikhsan'...ajak anak ke rumah saudara untuk menerapkan

aturan yang sama. Sudah bisa? Ajak lagi ke rumah teman kita.. Belum

bisa? Berhenti dulu disini...ulang-ulang terus dengan pemberian

konsekuensi perilaku (kalau masih begitu, ya tidak jalan2 ke

mall..tapi pulang saja. Kamu tidak mau menurut sih)..

Sudah bisa?

Nah, scope diperluas dong...

Itu baru satu aturan lho.

masih banyak aturan lainnya lagiiii....

6. Jangan pernah menyerah.

Terus berusaha.

7. Lihat situasi dan kondisi.

Kalau anak memang dari awalnya sudah uring2an...ya jangan ajak pergi

ke tempat2 yang akan sangat menantang kemampuan dia menahan diri.

Kasihan... Atau, kalau memang akan menjalani perjalanan jauh, jangan jauh2 dari dia.. Seperti kita aja deh. Kalau kita tahu kita lelah fisik dan mental, kita kan juga menjauh dari orang lain, karena tahu bahwa kita akan cenderung gampang meledak toh (eh, itu aku, deng... hihihi..).

8. Jangan paksa anak untuk bisa begini atau begitu.. Lihat kondisi

anak apa adanya... Bantu dia mengurangi perilaku negatif. Bertahap.

9. Sebaliknya...

Jangan juga tuntut masyarakat untuk MENERIMA anak kita tanpa syarat.

Gak mungkin. This is the real world, real life, whether you like it or

not. Yang bisa menerima anak kita tanpa syarat hanya kita, ayah dan ibunya.

Bahkan saudara sekandung juga bukannya tidak mungkin jengkel juga

dengan ulah mereka. Apalagi orang lain yang gak ada urusan ama

keluarga kita.

Saya sering menghadapi keluhan orangtua yang anaknya 'ditolak' oleh

sekolah. Saya bersimpati dan prihatin dengan keadaan ini.

Tapi berhubung saya juga pengelola sekolah...saya juga mengerti kenapa

anak-anak tertentu cenderung 'ditolak'. Ya gimana mau gak nolak kalau

anaknya gak ada ketertiban (= kepatuhan akan aturan), gak pernah

dilarang di rumah, biasa mendapatkan apa yang diminta dari orang

lain....

Jadddiiiii....

Mari kita coba lihat keadaan dari berbagai sudut pandang, sehingga

kita bisa melihat apa permasalahan dengan sejujurnya.

Bukan apa-apa... Ini semua untuk anak-anak kita juga. Sepuluh tahun

lagi, silakan hitung umur kita sudah berapa (huhuhuhu...gak

maaauuuuu...). Apakah kita masih mungkin menjaga polah tingkah anak

kita diluar rumah? Apakah lalu kalau kita tidak sanggup, anak akan

disimpan saja di rumah (bentuk lain dari pemasungan)?

Jangan sampai, kita hanya bisa pasif menatap dari 'dunia lain' (gak

mau bilang dari surga, soalnya gak yakin masuk surga...hiks, hiks,

hiks) tanpa bisa berbuat apa-apa ketika anak kita mengalami masalah

akibat perilakunya...

Semoga bermanfaat.

Maaf panjang. Lagi banyak waktu..jadi bawel deh..

wassalam,

Dyah Puspita

ibunya Ikhsan Priatama, Monas (tinggi 1.90m), non-verbal, tapi

alhamdulillah bisa diatur orang lain..bukan cuma sama ibunya saja.



----- Original Message -----

From: Hadian Riyadi

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ANAKKU DITAMPAR ORANG --- dari perspektif lain

Yth. Ibu Diah

Saya dapat pelajaran berharga nih setelah baca tulisan bu Diah

Saya bapaknya Doni (13 thn) dulu di diagnosa autis asperger sama psikiaternya.

Kami jg sering mengalami kejadian yg nga enak seperti anak kami diliatin sedemikian rupa (kadang org yang liat duduk pas didepan doni diangkot), atau ada laporan negatif tentang doni, dulu istri saya suka lsg marah ke doni tp terus saya bilang dengerin orang boleh tp jangan di telen aja, kan doni bisa ditanya baik2.

Alhamdulilah skrg istri saya bisa lebih nahan diri nga lsg nanya keanaknya, kalau situasinya udah tenang baru doni ditannya, melakukan atau tidak melakukan hal yg negatif (spt laporan2 org lain) tetep doni kami nasehatin bahwa itu tidak baik.

Sekarang doni sudah lebih tertib walaupun spt kebanyakan anak (anak biasa) kadang2 timbul jg nakalnya. Sekali lagi makasih ya bu diah.

Hadian.



----- Original Message -----

From: Fifi

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ANAKKU DITAMPAR ORANG --- dari perspektif lain

dear all...

saya sangat setuju dengan perspektif bu Ita..karena memang tujuan kita

adalah bagaimana agar anak2 kita ini bisa bermasyarakat , yang tentunya juga

harus kita didik untuk mematuhi norma2 yang berlaku umum di masyarakat.

dan benar sekali bahwa hanya kita orangtuanya yang bisa sangat memahami dan

selalu memaafkan perilaku anak2 kita, tapi bagaimana dengan lingkungannya?

apakah kita akan selalu bisa melindungi mereka? saya punya pengalaman juga

tentang hal ini, anak saya Syifaa ( 8 tahun, verbal ) dulunya suka sekali

buka2 dompet dan tas, kalau milik kita sekeluarga atau milik terapisnya sih

kita udah pada maklum...tapi kalau pas lagi ada acara keluar rumah, entah

itu arisan keluarga, jalan2 ke tempat rekreasi, dll,,perilaku buka2 tas

orang tetap aja dia lakukan...sampe2 saya maluuu sekali kalau Syifaa buka2

tas orang ditempat umum..tar dikira maling lagi...:-((...tapi alhamdulillah

sekarang perilakunya udah hilang, tapi butuh waktu lebih dari 1 tahun bagi

kami untuk selalu mengingatkan Syifaa utk tidak sembarangan buka2 tas orang

lain...

so....sekali lagi saya sangat setuju dengan pendapat bu Ita, bahwa itulah

tugas berat kita untuk mendidik anak2 ini agar bisa berperilaku sesuai

norma2 yang berlaku di masyarakat..semoga kita selalu diberi kekuatan dan

kesabaran oleh Tuhan ..Aminn...

Regards,

Fifi



----- Original Message -----

From: Fatih Wirfiyata

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ANAKKU DITAMPAR ORANG --- dari perspektif lain

Betul Bu Ita...

Saya inget banget gertakan Bu Ita pas Echa di diagnose aspy..

1. Anak anda autis!

2. Orang tuanya mau terima ato gak?

3. 10 tahun lagi, mau anak anda meluk sembarangan orang, telanjang

sembarangan?

4. Jangan cepet puas dengan achievement yang didapat!.

Jadi, kalo ada yang bilang: ah engga koq Echa biasa aja... gak ada

kelainan... Cuma mungkin over energy... Maka saya pake point 2... Dia autis...titik, and I have to do something before I regret it the rest of my life.

Ketika Echa mengalami kesulitan bersosialisasi... dengan orang yang awam

autis dan konflik... Saya ikuti saran bu Ita dan Aa Gym

Which is.... tenang, jangan panic... jangan bereaksi cepat... diagnosa

keadaan... Bila Echa salah... saya wajibkan dia minta maaf... saya tanya, echa

boleh gak ganggu orang lain... dari pendapat dia, baru saya arahkan

berikutnya...

Sama ketika ada bapak2 marah2 sama saya... saya tidak menggubris sama

sekali kata2 dia... Cuma mulut saya datar dan rapat sambil menatap Echa

tegas2...

Mama: Echa tadi bapaknya diapain...

Echa: pukul...

Mama:pukul apanya Echa...

Echa : kepala...

Mama : boleh tidak pukul kepala orang...

Echa : tidak...

Mama : kalo salah kita harus bagaimana...

Echa : minta maaf

Kemudian Echa minta maaf sama bapak itu...

Jadi saya TIDAK MENANGGAPI dan membiarkan Echa yang bicara sama bapak

itu...

In this case Echa punya kemampuan verbal... walau... yah begitulah...

sederhana banget...

Reaksi si bapak: MALU... karena dia yang dewasa, konflik dg anak kecil

tapi tidak bisa menanggapi dengan bijak.

Selesai kejadian itu... selalu saya terapkan hal yang sama...

Target saya:

1. Echa mengenali apa yang boleh dan tidak boleh saat di masyarakat

(berrattt dan berulang-berulang-berulang-berulang-berulang.... tak kenal

henti dech)

2. Echa tahu apa yang musti diperbuat saat ada konflik...

Echa galak oy... agressive... tapi kalo dia konflik karena diganggu

temen ato kakak kelas... dia minta orang yang ganggu minta maaf

(kadang... kalo lagi tune in inget pesen orang tua...)... dan dia tidak

membalas... Tapi kalo lagi not in the mood... yach.... apa daya... baku hantam

sudah...

smile



----- Original Message -----

From: intan rosi

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ANAKKU DITAMPAR ORANG --- dari perspektif lain

Rekan milis,

saya sangat setuju dgn bu ita bhw semuanya berawal dari rumah dan kita tidak dpt menuntut lingkungan utk memahami anak2 kita.saya sendiri sampai sekarang masih 'muter-muter' disitu.pernah pindo wkt 6 thn (sekarang 8 thn) saya ajak ke pesta pernikahan teman suami yang angkatan laut (jadi tamunya kebanyakan angkatan laut/darat) krn suami saya gak pernah mau ninggalin anak2nya kalau kami berdua sama2 pergi.jadilah rombongan sirkus ke pesta krn bawa suster segala.setelah setengah jam mungkin pindo boring jd muter2 gak karuan lalu saya bawa jln keliling2 tmpt acara.di ruang belakang ternyata ada kolam renang dan dia maksa utk kesana jadilah ajang tarik2an antara saya dan pindo.karena lantai yg utk turun ke kolam renang turun satu level saya kehilangan keseimbangan dan jatuh berguling2 berikut pindo (30 kg!)...dan sedihnya itu para bpk2 yg sebagian besar gagah2 pd pake seragam cuma ngeliatin gak ada yg bantuin saya!lalu sambil nahan sakit (kalau urat malu mah udah

lama putus...hehehe..)saya bangun sambil susah payah angkat jagoanku yg tergeletak gak berdaya.. lalu ngadep suami sambil nangis2..hiks..hiks..tapi suami saya bilang mmg itu resiko jd kamu yg sabar aja...duh..pdhl pengennya disayang2 gitu...hahaha..jd membaca ulasan bu ita lalu saya ingat pengalaman saya yg mmg itu hanya salah satunya dan sungguh sangat menyadari bhw hanya kita yg bisa memahami anak2 kita dan jangan mengharap lingkungan bisa selalu memahami kondisi kita biar gak sampai frustasi...tp ya namanya manusia kadang2 saya masih juga suka bersedih2 ria kalau ada org yg anggap 'aneh' anak saya..

sekian ke'nimbrung'an saya..mdh2an kita semua diberi kekuatan dan kesabaran dlm membimbing anak2 kita yg memang merupakan jalan yg sangat panjang dan berliku2..

rgds,

intan sihombing



----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ANAKKU DITAMPAR ORANG --- dari perspektif lain

Sama-sama...

KIta kan semua satu keluarga besar. Harus saling mengingatkan dan

saling kasi semangat..

wass,

-dp-



----- Original Message -----

From: rudyhari

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ANAKKU DITAMPAR ORANG --- dari perspektif lain

Anak kami prnah juga ditabok bapak2.

ya gantian bapaknya tuh anak yang saya gebukin...selesai perkara...

maaf ya...habis kesel seh ama tuh bapak2 edan



----- Original Message -----

From: Regina Panjaitan

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ANAKKU DITAMPAR ORANG --- dari perspektif lain

Aduh....

Akhirnya ada kejadian juga...



----- Original Message -----

From: Widya Luhur

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ANAKKU DITAMPAR ORANG --- dari perspektif lain

Yah jadi baku hantam dech...



----- Original Message -----

From: maria ardiwinata

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ANAKKU DITAMPAR ORANG --- dari perspektif lain

Pak Rudi,

Ha..ha.......Trus, si Bapak tuh anak abis digampar bagaimana pak?

Babak belur ? Minta maaf? Lebih galak?

atau bapak dipisahin.....

1 bales 1 atau 1 bales 2 nih hiks...hiks.....

smile,

MARIA

mama madeleine



----- Original Message -----

From: augustina kusumawardhani

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ANAKKU DITAMPAR ORANG --- dari perspektif lain

Aduh jangan gebuk-gebukan gitu donk kan malu ditonton orang. Laporin aja ke Polisi biar kapok tu orang. Anak udah susah kok ditabokin. kami juga pernah mengalami masalah yang sama trus kita laporin aja tuh orang. akhirnya dia dateng ke rumah minta maaf. Dan yang paling penting dia sekarang jadi aware sama anak-anak autis, karena ternyata ank dia juga berkebutuhan khusus tuna laras gitu.



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy