Sharing pengalaman tentang Terapi Akupuntur H

08/15/2008

-------Original Message-------

From: Svn

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Alternatif Akupuntur

Dear rekan milis,

Maaf sebelumnya kalau mungkin pengobatan alternatif H sudah dibahas berulang2 pada milis ini, tapi pada waktu itu saya nggak tertarik utk membacanya krn saya tahu responnya pasti banyak yang negatif sekali, jadi saya selalu delete email2 tsb tanpa membacanya. Tapi kebetulan ada teman baik saya dari Sby yang antusias sekali hendak melakukan dan saya sudah menasihatkan dia utk mikir2 dulu sebelum melakukan pengobatan tsb krn responnya yang selalu negatif. Jadi, dengan ini saya mohon info kesaksian dari rekan2 milis yang sudah pernah melakukan tapi kalau bisa kesaksian yang max 1,5 tahun yang lalu aja jadi kira2 yang mulai pengobatan dari Feb 2005, jangan yang kurang dari Feb 2005 krn teman saya mengatakan kalau H yg skrg (kira2 baru 1,5 tahun ini) ini tidak memakai alat tusuk jarum lagi tapi cuman dengan listrik aja.

Saya tunggu ya cerita2 dari rekan2 milis baik cerita yang negatif maupun positifnya. Kalau mengganggu milis ini bisa langsung ke japri saya aja deh. Terima kasih sebelumnya.

Av.



----- Original Message -----

From: naz

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Akupuntur

Zdn anak saya waktu bulan maret 2006, saya bawa ke tempat terapi H, selama satu bulan setiap hari, sampai saya cuti kerja, waktu itu keluhannya konsentrasi masih minim, kontak mata lumayan, iperaktif, dll ( ciri2 anak ASD lah...), hari pertama zdn datang dengan semangat sambil mulutnya yang mungil ga berenti senandung ( dikiranya ini tempat terapi sensori integrasinya yang baru kali...), begitu datang kita langsung disuruh ke tempat merendam kaki diember yang ada airnya trus dikasih listrik, zdn langsung teriak dan nangis untung mas yang terapinya sabar jadi zdn bisa menyelesaikan sesi itu walaupun dengan dipaksa dan terus menangis, setelah itu zdn langsung disuruh keruang terapi dan disuruh telanjang, disitu zdn dipaksa lagi disisir pake sisir yang ada listriknya (sekitar 5 menit), zdn teriak2, untung mba terapisnya sabar jadi sesi ini bisa diselesaikan.... sekitar 10 menit kemudian datang terapis lagi bawa palu yang ada listriknya trus badan anak saya dipegang oleh 4 orang ( 2 suster, saya dan ayahnya) anak saya meronta2 kesakitan, dan badannya dipukul2 pelan oleh terapis, tapi kayaknya listriknya gede soalnya waktu palunya kena tangan saya terasa sakit, kemudian kita nunggu lagi sekitar setengah jam, dengan kondisi anak yang ketakutan dan ga pake baju, kemudian Prof. H datang langsung mukul2 pelan kepala dan wajah zdn pake palu yang ada listriknya tanpa ada komunikasi dulu dengan kita (soalnya terburu2 pasiennya banyak), zdn meronta kesakitan (masih dipegang 4 orang ) , sampai2 mulutnya berdarah, begitu H keluar saya langsung nangis ga tega melihat anakku diperlakukan seperti itu, sampai rumah anak saya langsung tidur dan kelihatan lemes sekali., besoknya saya ga mau datang lagi tapi suami saya masih penasaran, katanya saya harus tega demi kesembuhan, akhirnya saya berangkat juga sendirian karena suami harus masuk kantor, begitu turun taksi didepan gang tempat terapi, kaki dan tangan anak saya langsung dingin, wajahnya pucat dan dia meluk saya kuat2 minta pulang lagi, saya tenangkan dia saya pegang dadanya berdetak kencang sekali, anakku ketakutan luar biasa..., sampai ketempat H anakku langsung lari balik lagi sampai hampir tidak terkejar oleh saya untung ada tukang parkir kalo ga mungkin akan terus lari menerobos jalan yang kendaraannya banyak sekali, akhirnya saya paksa zdn masuk dalam kondisi yang sangat ketakutan dan prosesi masih sama seperti kemarin, tiap hari zdn menjalani terapi tersebut, mulutnya sering berdarah karena dipaksa, hiperaktifnya betul hilang tapi badan anak yang gesit jadi lemes, badannya kurus karena harus diet ketat yang paling parah adalah traumanya yang belum hilang sampai sekarang, setiap dibawa ketempat baru dan ketemu orang baru dia ketakutan luar biasa, anakku sekarang jadi anak penakut dan pasif padahal sebelumnya anak yang ceria, lucu, gesit, dan selalu tersenyum.... konsentrasinya juga tidak tambah bagus.

Maafkan mama nak, mama sudah melukai kamu...sekarang PR saya bertambah dan tidak ada waktu libur untuk diri sendiri karena waktu libur harus saya pake mengantar zdn ke tempat2 keramaian, berkunjung ke rumah saudara atau teman yang ada anak kecilnya, untuk menghilangkan trauma yang mendalam dan mengembalikan anakku yang ceria seperti dulu......andai waktu bisa kembali mungkin tak akan pernah saya bawa anak saya ke tempat seperti itu..... maafkan mama nak.....

Pengalaman mamanya Zdn anak ASD usia 4 tahun.



----- Original Message -----

From: DH

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Akupuntur

Wah jujur saya sedihhhhhhhhhh sekali mendengar cerita seperti ini. Semoga sharing dari ibu ini bisa membuat orang tua di milis ini sadar deh.

Saya aja yang membawa anak ke tempat terapi SI yang dipaksakan aja sangat menyesal. Apalagi sampai disakiti seperti itu? Saya mungkin nggak akan tega.

Betul kata Bu Ita, menghilangkan trauma anak tuh susah sekali. Kepercayaan anak ke kita kalau sudah hancur, wah susah sekali untuk membuat mereka kembali percaya kepada kita seperti dulu.

Regards,

DH



----- Original Message -----

From: NKAW

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Akupuntur

Suatu pelajaran berharga buat saya khususnya yg selalu terobsesi kesembuhan anak melalui pengobatan alternative. Terima kasih bu utk sharingnya.

Re



----- Original Message -----

From: Lu

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Akupuntur

Aduhhh bu...

Sampai berlinang-linang air mata saya membacanya....

Terima kasih atas sharingnya, saya harap ini bisa membantu rekan2 yang lain untuk tidak membuat kesalahan yang sama sad Semoga zdn dapat kembali ceria ya bu... saya turut doakan.

Salam

Lu



----- Original Message -----

From: RT

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Akupuntur

Adduchhh....

Jadi ga tahan mo ikutan...nich...

Sebelumnya maaf...beribu...maaf...., Coba cari info apakah ada bukti yg kalau alternative Prof H tsb Ok??? & menyembuhkan Autis..dsb...? Kalau blm terbukti Ok, walaupun pd beberapa anak ada yg "berhasil ?" Apakah sebanding dg trauma & sakit yg harus dialami si anak?

Masih banyak terapi2 lain yg akan membantu anak menjadi lebih baik..Aminn....

Bu... temannya itu diminta masuk jd milis PK biar lebih mengeeeertiiii

Aduchh...saya jd seddihhh...& entah apalagi...ketika membaca "zdn" mudah2an tdk ada lg kisah2 yg sama.....

Salam,

Ri



----- Original Message -----

From: As

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Akupuntur

dear temen2 PK,

jujur aja, saya juga punya pengalamana seperti ini waktu umur raihan 3.6 tahun... sammmmaaaaa persis dengan cerita mama zidan (jadi nangis inget kebodohan saya waktu itu). sedih dan nggak tega liat raihan diperlakukan seperti itu, cuman dasarnya orangtua masih bodoh dan mengharap kesembuhan buat raihan, terapi tersebut sempat saya teruskan sampai 1 bulan (katanya sebulan pertama emang nggak boleh berhenti).

memang setelah seminggu pertama raihan agak tenang, tapi tiap kali mau "dipalu" raihan pucat , dadanya berdebar kenceng dan badannya dingin sekali (stress berat saya kira). kemudian, karena saya perhatikan raihan tidak juga ada kemajuan (raihan tidak hiperaktif, karenanya saya tidak melihat adanya kemajuan yang signifikan), akhirnya saya hentikan terapinya (salah satunya yah karena sedih dan nggak tega liat raihan diterapi dengan cara seperti itu). lagi pula, karena raihan bermasalah dalam hal makanan (diet cara H ketat sekali!!), saya tidak melaksanakan diet untuk raihan. pernah saya coba 3 hari diet, ternyata raihan sama sekali mogok makan...waduh, gawat kalo begini. ya sudah, akhirnya saya kembali ke pola lama. tetep makan seperti biasa, tentunya dengan pola sehat yang sudah saya anut selama ini untuk raihan, nggak peduli deh ama diet2 yang katanya harus dijalankan...

kalo dibilang trauma, jelas raihan trauma ... buktinya setelah berhenti dari H pun, trus waktu di tv nggak sengaja nonton acara ada H nya, raihan langsung teriak "mamau...mamau, ma" (maksudnya, nggak mau...nggak mau, ma). trus waktu dia lihat kartu nama H yang ada fotonya, dia juga spontan berteriak seperti itu. bahkan waktu saya ajak naik taksi ke bandara (jemput ayahnya), dia tegang sepanjang jalan sampai akhirnya pas taksi jalan lurus ke arah bandara (saya dari arah tanjung priok) bukan ke arah slipi, sperti klo biasa ke tempat H, baru deh dia tersenyum senang. lumayan butuh waktu lama buat hilangkan trauma raihan, karena sampai berkali-kalii lewat jalan tol itu, dia masih ingat dan takut dibawa kesana lagi. sampai-sampai tiap saya harus bawa raihan bolak-balik lewat jalan tol itu, hanya untuk meyakinkan raihan bahwa dia nggak dibawa kesana lagi. untungnya sekarang raihan udah normal, dan biasa lagi. maafkan mama nak, mama janji nggak akan bawa raihan ke tempat2 "aneh" lagi... nggak sebanding hasilnya (nggak ada !!) dengan trauma raihan. coba klo saat itu sya terusin sampe...2 bulan, 3 bulan... duh nggak sanggup ngebayanginnya deh.

semoga hal ini juga bisa menjadi pelajaran untuk teman2 sesama orangtua special yang punya anak special, supaya lebih jeli dan waspada tentang terapi2 yang mengklaim bisa menyembuhkan anak2 kita...

salam,

mama raihan



----- Original Message -----

From: Siswa

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Prof. H

Dear all

Saya juga mau sharing mengenai therapi model Prof. H (Accupuncture).

Tahun lalu tepatnya bulan puasa. Saya membawa anak saya yg didiagnose autis

ringan oleh seorang dokter dan psikolog di Depok, ke tempat therapi ini (prof H). Saya melakukan dengan sadar karena kecintaan saya pd anak saya. Tentunya saya juga sudah melakukan terapi sesuai yg disarankan oleh dr dan psikolog tadi yaitu, Sensor Integrasi, Okupasi dan Wicara, tiap hari, hampir

6 bulan lamanya, selain juga minum obat yg diberikan oleh psikolog-nya (Ritalin, Risperdal dll).

Selama therapi itu saya tidak mendapatkan perubahan yg berarti pada anak saya. Bisa dibayangkan saya adalah orang tua "pemula", maksudnya anak saya baru satu dan didagnosa Autis. Saat itu saya ndak ngerti apa itu Autis, bagaimana penanganan detailnya thd anak dll, semua bagi saya adalah seperti di tengah hutan rimba .. Gelap, nggak ngerti arah. Bagaimana perasaan saya tidak bisa dilukiskan. Saat itu sebagai seorah ayah, saya hanya ingin disongsong didepan pintu saat pulang kerja dan ingin mendengar dari mulut anak saya : "ayah pulang", itupun tidak kunjung saya dapatkan. Saya pulang bukannya disapa tetapi seperti orang tidak kenal sama bapaknya, sedih sekali kalau mengingat, saya panggil berulang-ulang, jangankan nyemperin nengok pun tidak. Sebagai ortu, pasti ingin agar anak menjadi lebih baik dan nantinya tidak merepotkan keluarga apalagi masyarakat sekitarnya. Setelah itu saya coba cari tau apa itu autis dan bagaimana pengobatan dan pengananannya, sampai pada keputusan saya untuk pergi ke Alternatif (Prof H).

Saya tidak akan menggambarkan bagaimana proses terapi di sana, karena hampir sama dengan cerita sejenis. Saya putuskan untuk berhenti therapi karena saya takut traumanya semakin dalam. Sama, melihat acara prof. H di tv pun anak saya takut dan lari menghindar. Pokoknya melihat semua gambar tentang Prof. H ini dia takut bukan main. Saya semakin sadar bahwa anak saya benar-benar

trauma, makanya saya stop terapinya. Sedih? Sbg ortu pasti saya sedih sekali. Menyesal? ini bukan masalah menyesal atau tidak. Kasusnya sama dgn orang yang kegelapan, pasti akan menuju ke sumber cahaya biarpun itu nyalanya api. Pasti dia akan melakukan apa yg bisa dia lakukan dengan kemampuan yg ada tentunya.

Saya hanya ingin sharing pada ibu-ibu yang semua menyesal dgn keputusannya berobat alternatif. Apa gunanya ? Pepatah bilang " menyesal tiada gunanya". Saya pribadi kalau nanti ditanya sama anak saya kenapa dia mesti mengalami therapi seperti itu, maka saya akan menjawab, "Nak mungkin saja ayah salah saat itu, tetapi kamu tidak akan pernah tahu besarnya rasa sayang saya pada

kamu".

Saat ini anak saya sudah tidak trauma lagi dengan gambar Prof. H. bahkan buku kesaksian kesembuhan pasien yg saya dapatkan saat berobat, tiap hari dilihat gambarnya. Padahal sebelumnya jangankan melihat mendengar kata Prof H saja sudah ciut. Kalau dia lagi marah malah nantangin ngajak ke Slipi

(Prof H). Anak saya saat ini suka sekali mendengarkan dongeng. Sampai semua judul dan isi buku cerita dia hafal, mana titik komanya bahkan sampai intonasi membaca dalam cerita pun dia hafal juga. Alhamdulillah, saya melihat kemajuan perkembangan pada anak saya.

Salam

ayah farras



----- Original Message -----

From: LH

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Prof. H

Dear temen-temen semua,

Saya juga igin berbagi cerita tentang pengobatan di Prof. H. Hal ini terjadi jauh sebelum saya bergabung dalam milis PK ini, dimana pada waktu itu kami masih mencari informasi tentang hiperaktif dan autis.

Pada saat Daffa berusia 2 tahun ia dinyatakan hiperaktif, tetapi kami khawatir Daffa masuk dalam spectrum autis. Setelah mendapat informasi dari salah seorang keluarga, kami membuat janji ketemu dgn dr MB untuk berkonsultasi lebih lanjut. Namun giliran ketemu masih 6 bulan lagi. Karena kami berfikir harus berpacu dengan waktu, maka setelah membaca buku yang kami beli di Gramedia (ttg Pengobatan Jarum Mutakhir), kami membawa Daffa ke Prof. H. Namun ternyata keputusan tersebut awal dari penderitaan buah hati kami karena sampai saat ini trauma yang ditinggalkan belum hilang (sudah 1,2 tahun berselang). Daffa memang tidak hiperaktif lagi, tetapi itu semua karena diet ketat yang dilakukan, bukan karena pengobatan jarum mutakhir.

Harga yang harus kami bayar untuk trauma yang ditinggalkan pengobatan jarum mutakhir sangat mahal, karena Daffa menjadi anak yang penakut dan pendiam (sebelumnya ia sangat periang dan mandiri). Ia menjadi sangat takut dengan dunia luar, dengan orang baru bahkan dengan pakaian bagus (karena kalau pakai baju bagus akan di bawa ke Prof. H.). Pada saat kakaknya sakit dan ia kami bawa untuk menemani kakaknya ke RS, begitu turun dari mobil...Daffa muntah2, menggigil, berkeringat dingin, dan merintih melihat ruang tunggu RS karena ketakutan. Saya merasa sangat berdosa karena telah membuat buah hati saya seperti itu (semoga kelak dia memaafkan kesalahan yang pernah dilakukan ibunya). Daffa juga mengalami trauma apabila melewati jalan Sudirman dan Slipi yang biasa kami lewati, ia akan menutup matanya, jantungnya berdegup kencang, merintih dan berkeringat dingin.

Berdasarkan pengalaman tersebut diatas dan juga pengalaman anak-anak lain, sebaiknya para orang tua berfikir lebih jauh untuk memberikan pengobatan alternative kepada buah hati kita, jangan sampai melukai bathin dan mengorbankan hak asasi mereka. Penyesalan memang datang terlambat, smoga jangan ada lagi anak-anak yang trauma seperti yang dialami oleh Daffa, Reihan, dll...

Salam,

(Bunda Daffa, 3,3 tahun yang sampai saat ini masih penuh dengan penyesalan.)



----- Original Message -----

From: Yanti M

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Prof. H

Saya juga mau sharing tentang therapi Prof. H.

Dean keponakan kami dan cucu pertama dari orangtua saya (sekarang autis 12 tahun 4 bulan) pernah mengalami therapi tersebut. Intinya di tempat therapi itu di katanya sih diakupuntur, tapi caranya itu kok bukan seperti akupuntur yang pernah saya tahu (seperti dipalu alias digetok-getok gitu). Melihat aduh selanjutnya kami sekeluarga jadi menyesal 7 turunan 8 tanjakan deh karena Dean jadi pendiam yang tidak lain kata dokter kulit dia itu panas-dingin akibat infeksi dari luka-luka therapinya Prof H. Alhasil dokter kulit itu menasetai kami dan kami merasa sebagai orang yang terbodoh didunia karena nggak kebayang perasaan apa yang Dean ingin sampaikan kalau dia saat itu sudah mulai bisa bicara........ Pasti protes dan sangat marah.

Alhasil kami rutin berobat ke dokter kulit dengan biaya yang tidak sedikit untuk menghilangkan bekas-bekas luka disekujur tubuh Dean. Sejak itu kami sepakat untuk memahami treatment yang akan diberikan bila ada metode yang dapat dipertanggungjawabkan dan tetap konsultasi ke dokter jalan terus. Kalau teringat kejadian itu kami sekeluarga menyesalnya tidak ada habis-habisnya.

Salam

Yanti



----- Original Message -----

From: lani s

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Prof. H

saya juga mau sharing nih,

saya adalah angkatan pertama yang melakukan terapi akupuntur di tempat prof H. Saat itu prof belum pakai "tongkat ajaibnya". Lalu beliau pergi ke china selama 3 bulan untuk mencari tahu tentang pengobatan autisma di China, dan pulang membawa ilmu itu. Saat itu kami 30 orang dari jawa tengah. Nge kos di sebuah tempat, bersama-sama dan melakukan pengobatan selama 2 bulan. Tentu saja tangis anak-anak jadi hal biasa yang kami dengarkan. Kami terapi setiap pagi dan sore. Saat itu saya jadi koordinator rombongan. Saya memantau perkembangan tiap anak, dan bila ada permasalahan, kami punya waktu diskusi dengan beliau (mungkin karena belum serame sekarang, ya.). Kami saling mengawasi untuk diet yang harus dilakukan, dan prof saat itu mensupport jamu-jamuan yang harus diminumkan. Dalam 2 minggu, bisul mulai bermunculan di tubuh anak. Namun, sebelumnya prof sudah memperingatkan akan ada proses detox. Dengan obat, bisul mulai mengering. Lewat dari 1 bulan, anak-anak muali terbiasa dengan "tongkat ajaib". Beberapa anak bahkan mapan dengan sendirinya saat akan di ketok. Mereka masih meringis meringis, tapi kalau sudah selesai ya udah. Beberapa terus mengalami kesakitan saat diketok. Dan pada saat itu memang sudah dapat dilihat, banyak anak yang mengalami kemajuan, namun ada yang stagnasi. Dalam 2 bulan, anak saya terapi akupuntur, minum jamu, minum suplementasi, terapi ABA, OT dan speech, dan perkembangan luar biasa. At least, sebelum dipadukan dengan terapi lain, manfaat akupuntur dan jamu beliau adalah pada sistem metabolisme dan imunitas yang membaik. Seharusnya anak saya melakukan kelasi, tapi dengan ramuan beliau, dan saya pantau dari hasil lab, tingkat racun memang menurun. Jangan tanya sulitnya minum jamu, tapi itu 5 tahun yang lalu, saat anak saya bahkan belum dapat mengidentifikasi saya sebagai maminya. Sekarang, kalau saya minum jamu, dia yang sibuk menyemangati "Ayo mami, dihabiskan supaya sehat" sambil kelabakan mencarikan jeruk nipis biar saya ga muntah, hehehe.

Setelah dua bulan anak saya berhenti akupuntur. Beliau berusaha untuk membuat anak saya berkomunikasi (sdh bicara tapi nyanyi sendiri, biasa ...), tapi sangat sulit, dan secara lisan beliau menyerah (waktu itu). TRAUMA?

saat itu ..... dia emang panik kalau lihat prof bawa tongkat (tapi kalo lg ga bawa ya gpp, hehe). Kemarin anak saya ambil darah untuk priksa lab, waktu ditusuk ya cuma bilang "sakit mami". Trus dia nungguin tantenya yang juga ambil darah. dengan serius dia mengamati sambil tanya " tante takut ya?

Itu 5 tahun yang lalu, ga tau sekarang (jaman itu blm pakai listrik, tapi prof sdh sempat menyinggung masalah itu). Dulu juga bisa ada waktu diskusi.

Sekarang mungkin susah ya. Tapi, kalau saya harus lakukan terapi ke anak

yang orangnya ga bisa diajak diskusi ya emoh, hehehe .......

Semoga bermanfaat,

Lani



----- Original Message -----

From: Angeli

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Prof. H

anak saya Lia (7 thn skrg autis) juga pernah coba alternatif H selama 1 bulan ( H tidak pantas di sebut Profesor) wkt itu Lia 3 thn, non verbal, sampai hari ini Lia masih trauma, dgn tongkat/ jarum yg dihubungkan ke aliran listrik dan tidak jarang tongkat itu juga dimasukan kedalam mulut, sering lidahnya sobek dan sariawan krn jarum kecil yg di ujung tongkat mengena lidah, terus ditarik dengan kasar oleh H krn perlawanan Lia pd waktu diobati. semoga pengalaman saya tidak diulang oleh ibu2 kita yg punya anak bermasalah, saya sangat menyesal membawa Lia ke H. saya malah berharap pemerintah bisa mencabut izin praktek H supaya tidak ada lagi anak yg menderita trauma lagi,

salam

mama Lia



----- Original Message -----

From: dyah puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Prof. H

Bu Leny,

Sepertinya pengakuan-pengakuan tentang H (setuju tidak pantas disebut professor) disimpan dalam satu arsip khusus. Just in case in the future ada yang butuh lagi....udah tahu mana yang musti

di-forward ke japri orang tersebut....



Kasihan sih.

Kita tentu tidak mau dong banyak anak-anak kena penanganan seperti itu hanya karena orangtuanya mengusahakan yang terbaik, tapi terjerumus (bukan atas kehendak orangtua)....



Salam,

Ita



----- Original Message -----

From: Leny Marijani

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Prof. H

Iya Bu Ita.

Kayaknya perlu juga dibuat arsip khusus agar lain kali kalau ada rekan milis baru ingin info tentang terapi akupunturnya ala H, bisa langsung diforward.

Yang bikin saya concern sebenarnya bukan masalah "sembuh atau tidak" nya yah.... tapi masalah "trauma" nya... Tapi anehnya kok ada beberapa orang tua yang bersedia dijadikan sebagai "saksi" dalam bukunya? Kalau gak salah, salah satu orang tua itu rekan milis juga lho....

Herannya lagi, walaupun sudah dapat info, kadang2 ada juga orang tua yang tetap ingin menjalankan terapi tsb. (membuktikannya sendiri) sampai mereka mengalami sendiri trauma pada anaknya. Mungkin didorong oleh keinginan yang begitu besar untuk berusaha bagi kesembuhan buah hatinya.

Mudah-mudahan dengan sharing para orang tua ini, rekan milis menjadi semakin berhati-hati dalam memberikan terapi alternatif.

Salam,

Leny



----- Original Message -----

From: rudy ar

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Prof. H

setuju banget bu Ita dan Mbak Leny...

anak saya juga pernah ke H th 2001 waktu masih 2.5 th yg dia dapat malah trauma jadi saya ga teruskan hanya 2 minggu itu jga penuh dengan air mata waduh nyesel deh, sepertinya perlu diperiksa pemerintah tuh khususnya depkes kali ya karena sangat berbahaya sayangnya orangtua pun karena desperate ingin anaknya sembuh menguatkan dirinya untuk "TEGA" demi kesembuhan sang anak walau sebenernya efeknya berbahaya terutama secara psikis....mana H aduh jauh dari ramah jadi untunglah saya ga sempat lama lama disana.... smg banyak orang tua yg aware sebelum memutuskan untuk berobat di sana....

salam

mama adit autis nonverbal 7thn



----- Original Message -----

From: Svn

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] RE: Alternatif Prof. H

Dear rekan milis,

Terima kasih atas sharingnya yang hampir semuanya negatif dan menyeramkan.

Teman saya itu terobsesi sama H krn anak temannya yang dulunya hiper sekali, skrg jadi bagus krn hipernya hilang hampir 95%. Dia juga sempat survey ke beberapa orang yang dibuku H dan hampir semua orang yang dia telp memberikan respon yang positif sekali, tidak ada trauma maupun ketakutan dalam kehidupan mereka, malah mengalami peningkatan dalam hal konsentrasi & verbal (yg tadinya ada yg non verbal jadi verbal). Mungkin setiap anak mempunyai karakter yang berbeda-beda ya. Tapi teman saya setelah membaca email dari rekan2 milis hendak mempertimbangkan lagi utk melakukan pengobatan tsb krn kebetulan anaknya sangat hiper sekali meskipun sudah diet cukup ketat. Tapi saya akan berusaha meyakinkan dia utk tidak melakukan

pengobatan tsb. Sekali lagi terima kasih utk semuanya.

Ava.

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy