Anak Autis ditampar orang abis Sholat Jumat

08/08/2008




----- Original Message -----

From: raka_apwp

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Anak Autis ditampar orang abis sholat jumat

Info ajah, ada anak autis yang ditampari orang hanya karena ia tidak fokus ketika sholat jumat tadi. Salah satu jamaah yang didekatnya (orang tua) merasa terganggu dan langsung menamparinya usai sholat. Perlindungan hukum seperti apa yang bisa diberikan untuk anak tersebut serta bentuk

konsekuensi apa yang pantas untuk orang tersebut juga lembaga apa yang menangani kasus seperti ini.. thanks



----- Original Message -----

From: Leny Marijani

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat

Alamakkkk...... baru beres sholat jumat means berdoa (berbicara sama Tuhan), langsung namparin anak Autis.



Setahu saya di Indonesia kan ada Lembaga perlindungan anak yang dikelola Kak Seto kalau gak salah. Tapi tetep ajah jalurnya bisa berbelit-belit dan belum tentu efektif. Apalagi kalau yang lapor rakyat kecil.



Sebenarnya Autism Awareness yang sudah dijalankan oleh berbagai pihak juga bertujuan akhir untuk mencegah hal-hal seperti ini, tapi tentu saja ini untuk jangka panjang.



Untuk jangka pendek, mungkin satu-satunya cara yah, orang tua si anak langsung menjelaskan kondisi si anak secara baik-baik (kalau si ibu pasti sambil mewek deh.....) pada si bapak gila itu dan terangkan apa itu Autisme, sekalian terangkan juga apa itu cinta dan kasih sayang pada sesama dan anak-anak. Bilangin juga kalau abis sholat nampar anak kecil, dosanya berlipat-lipat....gitu.... huh... sebel rasanya.



Salam prihatin,

Leny



----- Original Message -----

From: Henny

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Anak Autis ditampar orang abis sholat jumat

Innalillahi...., menyakitkan...sekaligus juga memalukan, ini terjadi pada

saat umat muslim sedang tercoreng moreng oleh orang2 yg merasa dirinya

sangat memahami agama tapi berperilaku seperti orang tak beragama...

Saya juga pasti akan sangat marah bila harus menghadapi situasi seperti

ini, tapi repotnya kita juga sulit untuk menyalahkan orang kalau perilaku

anak ini memang membuat orang2 lain merasa terganggu kekhusyukannya

beribadah dan kita juga ga bisa memaksa semua orang untuk mengerti

kondisi anak kita.

Semua ortu apapun agamanya pasti ingin mempunyai anak2 yang berahlak baik

dengan mengajarinya dasar agama dan mengajarinya melakukan

peribadatan,..sekalipun anaknya autis, tapi memang untuk anak2 spesial ini

kita mau ga mau harus memikirkan cara untuk mengantisipasi agar pada saat

anak belajar melaksanakan ibadah tidak mengganggu orang lain.

Kalau saya dulu selalu mengambil langkah yang teraman ( ini menurut saya

lho... karena setiap orang pasti punya metode sendiri2) yaitu dengan

pendampingan, kalau memungkinkan ya saya sendiri atau pengasuhnya,

kakak2nya ,malah terkadang saya titip tetangga2 dekat yg sudah bisa

mengerti dan bisa kita percaya tentunya.

Bilamana saya, pengasuh, kakak /tetangga perempuan yg mendampingi, ya mau

ga mau harus menempatkan Osha di shaf pria paling pinggir belakang agar

kami bisa shalat di shaf persis di belakangnya, jadi kalau terjadi sesuatu

yg sekiranya bakal jadi musibah, kami bisa cepat membawanya keluar, memang

sih ibadah kita jadi kacau, tapi Allah Maha Tahu, apa yg kita lakukan

tentu akan dinilaiNya sebagai ibadah juga..insyaallah..

Semoga apa yg sudah dilakukan PSG Balikpapan bisa membuka mata masyarakat

luas untuk bisa memaklumi dan menghargai anak2 kita, agar tidak terjadi

lagi peristiwa seperti ini, juga semoga Allah senantiasa memberikan kita

kesabaran "lebih" dalam menghadapi berbagai ujian deni anak2

kita...amiin..

Salam,

ibunya Osha



----- Original Message -----

From: Yudi Setiadi

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat(Bagian I)

Dear Milis PK



Pertama ... saya ingin berterimakasih atas dukungan, doa dan masukan yang disampaikan kepada keluarga kami, bahkan semalam saya SMS-an terus sama ... maaf saya sendiri tidak tahu Ibu siapa, yang pasti sih mamanya Raka (teman Fiandi di Sekolah Alam) dan Ibu siapa gitu yang pengurus dari IKI Bogor (mohon maaf sekali lagi karena istri saya yang pertama menerima telepon juga sedang kalut, jadi tidak sempat mengingat nama Ibunya).



Kronologis kejadian yang saya dapatkan dari Mamah Fiandi, Warga yang ada dilokasi kejadian dan Seorang Ulama di kompleks akan saya sharingkan secara rangkuman sebagai berikut.



Adalah sudah menjadi kebiasaan Fiandi untuk melakukan shalat di Mesjid Kompleks kami setiap waktu shalat (kecuali subuh, karena dia sering bangunnya sudah jam 5.15 atau 5.30). Hampir seluruh warga, terutama Bapak-Bapaknya sudah mengenal Fiandi termasuk kondisi spesial needs-nya. Karena di berbagai kesempatan, kalau memungkinkan atau saya ditanya tentang Fiandi, dengan Semangat Membara saya sharingkan kondisi Fiandi tersebut kepada Bapak-Bapak di Kompleks. Sehingga, meskipun saya sedang ada di kantor dan Fiandi sudah berangkat ke mesjid sendirian, selalu yang mengingatkan dan menjaga Fiandi adalah Bapak-Bapak di Kompleks yang kebetulan shalat di Mesjid juga pada saat itu. Tapi kalau saya ada di rumah, semaksimal mungkin saya juga berusaha shalat di mesjid, karena demikian yang dicontohkan Nabi SAW. Kalau Fiandi mengoceh, seringkali saya putuskan untuk membatalkan shalat dan mengingatkan Fiandi agar tidak mengoceh saat shalat, setelah dia tenang baru saya ulangi shalat lagi.



Ada tempat favorit dia yakni di barisan pria paling belakang dekat pintu keluar dan tembok (walaupun sbarisan Bapak-Bapak hanya sedikit, dia selalu mengambil posisi favorit tersebut), sehingga apabila sudah selesai shalat, dia suka langsung pulang sendirian (jarak mesjid dengan rumah hanya sekitar 25 m dan kebetulan kompleks kami sangat kecil ... bahasa kerennya sih mirip cluster).



Pada hari Jum'at kemarin seperti biasa Fiandi berangkat shalat Jum'at berdasarkan inisiatif dan kebiasaan dia. Saat kemarin adiknya (Diva, 5thn) ikut juga ke mesjid. Menurut pengakuan Diva sih, dia main "telur-teluran" dengan Fiandi. Kebetulan posisi si Kakek itu ada di depan mereka. Saya paham juga dia merasa terganggu saat shalat tersebut. Sehingga si Kakek menyikut Fiandi dan mengenai ujung bibir. Fiandi mengaduh sakit. Pada saat jeda khotbah pertama, barangkali anak-anak "main lagi" tiba-tiba si Kakek menampar Fiandi dan mendorong Diva sampai terjengkal. Di belakang Fiandi kebetulan ada tiga Bapak-Bapak (termasuk satu orang ulama di kompleks) yang melihat kejadian tersebut. Salah satu Bapak yang juga kebetulan tetangga sebelah rumah kaget dan langsung menegur si Kakek ... "kenapa Bapak berlaku begitu ke anak kecil". Dia sudah terpancing emosi, tapi ditenangkan oleh pak ulama karena shalat jum'at belum berakhir. Saat tiba shalat, Fiandi maju ke tempat Imam, tapi Bapak-Bapak sudah paham kondisi Fian justru memeluk dan mengajak untuk shalat di pojok saja. Fiandi pun menurut.



Saat shalat Diva pulang ke rumah sambil menangis. Tiba di rumah Mamahnya menanyakan kenapa Diva menangis. Tapi tidak menjawab justru meneruskan menangis. Akhirnya Mamahnya membiarkan Diva menyelesaikan tangisnya. Setelah agak lama, baru Mamahnya menanyakan kembali kenapa Diva menangis. Saat itulah dia menjawab bahwa Aa di mesjid dipukulin kakek-kakek. Deg ... saking terkejutnya, Mamah Fiandi langsung menuju mesjid.



Di lain pihak, Bapak tetangga sebelah tadi segera mengejar si Kakek setelah shalat Jum'at selesai. Di depan mesjid, si Kakek berhenti dan berdebat panjang. Inti perdebatannya adalah Bapak tetangga sebelah menegur si kakek agar tidak bersikap seperti tadi kepada Anak Kecil. Kalaupun dia salah dan mengganggu kekhusukan shalat si Kakek, bukan begitu cara menegurnya. Si Kakek tersebut ternyata bukan warga tapi ayahanda Pak Rudy (salah seorang warga kompleks tapi kuper juga dengan warga lainnya) dan saat berdebat di depan mesjid juga, dia ada di samping si Kakek. Bapak tetangga sebelah tidak sendiri, karena perdebatan itu sudah memuncak, datanglah juga menghampiri Pak Ulama, Pak Ketua RW dan Pak Ketua RT. Yang warga sesalkan adalah si kakek tidak terlintas pikiran atau perasaan bersalah (boro-boro kata minta maaf) dan keras kepala yang luar biasa dari si Kakek yang berteguh bahwa sepanjang hidupnya dia sudah shalat di 40 daerah di Indonesia bahkan ke Masjidil Haram di Mekah. Tapi baru kali ini dia mendapatkan tempat shalat seperti mesjid kompleks kami. Dia juga merasa terpojok dan seolah-olah dikeroyok oleh 4 orang warga kompleks dan akan melaporkan ke radio dan televisi (kalau perlu juga ke polisi ... justru komentar Bapak-Bapak si Kakek itulah yang pantas dilaporkan karena ekkerasan kepada anak di bawah umur). Tiba-tiba Bapak lainnya yang hanya menyaksikan kejadian dari tangga mesjid berteriak.. "Pak, bukan hanya empat orang tapi kami seluruh warga juga sudah siap dilaporkan kalo perlu juga laporkan ke presiden ... "



Pada saat istri saya tiba di tempat kejadian perdebatan itu, si Kakek masih dihadapi oleh keempat Bapak-bapak tadi, secara spontan mamahnya Fian bilang "Saya meminta maaf kalau Fiandi sudah menyakiti Bapak, kalau perlu dia akan sujud mencium kaki Bapak agar mau memaafkan". Perdebatan itu akhirnya ditutup oleh ucapak Pak Rudy yang mengatakan "Kalau ada yang salah yang maafin aja, kan masalahnya juga sepele". Dengan serentak tanpa komando Bapak-Bapak yang sedang menghadapi si Kakek menjawab " Nah ... itu yang kita tunggu dari tadi". Maka bubarlah mereka semua.



Setiba di rumah, Mamah Fian belum merasa tenang, bahkan mengeluh sakit kepala mengingat kejadian tadi. Akhirnya dia memutuskan untuk menemui Bapak tetangga sebelah rumah untuk menanyakan kronologis kejadiannya. Oleh tetangga tersebut diceritakan kembali kejadian di mesjid tadi karena kebetulan beliau duduknya di belakang Fiandi. Jadi melihat betul kejadiannya.



Maaf saya sedang ngantor, jadi ada panggilan dulu. Insya Allah nanti saya lanjutkan kronologisnya sampai malam hari saya dan Pak ketua RT mendatangi rumah Pak Rudy tersebut.



Salam

Yudi

Bapa Fiandi, 10 thn



----- Original Message -----

From: Yudi Setiadi

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat (BagianII)

Dear Milis PK



Saya coba lanjutkan kronologisnya.



Setelah mendengar penjelasan kronologis kejadian dari Bapak tetangga sebelah, istri saya baru sadar bahwa bukan Fiandi yang menyakiti si Kakek, justru Fiandi yang menjadi korban (terdzolimi). Mendengar hal tersebut, istri saya menjadi merasa sangat bersalah kepada Fiandi. Dipeluknya Fiandi dengan erat sambil meminta maaf dan menangis. Subhanallah ... respon Fiandi membuat kami terharu, dia mengatakan (dengan logat bicaranya yang khas ... ) " Mamah hapus air matanya ya" sambil mengusap air mata di pipi mamanya dan kemudian memeluk erat juga mamahnya.



Setelah itu, istri saya kembali mendatangi rumah si Rudy dan bertemu dengan si Kakek. Tanpa mempersilahkan masuk, dia malah bertanya " ada apa lagi ?". Istri saya pun tidak tertarik untuk bersopan ria, dia bicara di teras rumah si Rudy bahwa Istri saya mencabut ucapan permintaan maaf sampai mau bersujud mencium kaki si kakek, karena ternyata justru Fiandi yang didzolimi. Setelah berdebat yang intinya menunjukkan ke-aroganan dan keras kepala yang luar biasa si Kakek. Sampe-sampe istri saya tidak mau menceritakan detil apa saja yang dikatakan si Kakek, karena khawatir saya akan semakin emosi. Tapi yang saya acungkan jempol adalah setelah istri saya mengetahui karakter si Kakek, dia tinggalkan begitu saja si Kakek yang sedang berkoar-koar di depan pintu rumah si Rudy, karena merasa sangat percuma meladeni perdebatan yang tidak akan berujung tersebut.



Setiba saya di rumah, istri saya baru menceritakan masalah siang tadi kepada saya. Agak shock juga mendengarnya. Tapi saya berusaha untuk tenang walaupun emosi sudah hampir meledak di dada. Yang bisa saya lakukan hanya beristighfar saja dan berdoa dalam hati agar diberikan ketenangan dan jalan penyelesaian yang terbaik.



Setelah saya dengar langsung cerita dari istri, kemudian saya datangi juga Bapak tetangga sebelah dan Ulama kompleks, saya menemui Pak Ketua RT untuk menjadi mediator pada pertemuan saya dengan si Rudy. Bapak-bapak warga juga mengingatkan saya agar jangan berurusan dengan si Kakek, karena keras kepalanya keterlaluan. Lebih baik dengan si Rudy saja (walaupun mereka mengatakan si Rudy juga tidak jauh berbeda karakternya). OK lah, saya juga merasa harus berbicara dengan tuan rumahnya, bukan berurusan langsung dengan tamunya. Kan yang juga harus bertanggungjawab adalah tuan rumahnya. Setelah sepakat, kami menuju ke rumah si Rudy tersebut. Di rumahnya, si Kakek dan Rudy sedang berbincang di teras. Mungkin saat kami datang, ada rasa kaget juga.



Setelah Pak Ketua RT berbasa basi, kami langsung ke pokok permasalahan. Saya mempertanyakan apakah si Rudy itu tahu kondisi Fiandi ? Dia jawab ya. Nah ... kalau sudah tahu, kenapa dibiarkan si Kakek bersikap seperti itu. Dia beralasan bahwa saat itu, dia datang ke rumah Allah untuk ibadah. Tapi saya timpali lagi bahwa dengan dia berdiam diri seperti itu, justru memperunyam masalah. Untungnya si Kakek tidak sampe ditinju sama Bapak-bapak warga kompleks. Rudy mengatakan justru awalnya karena Fian merojok rojok (mohon maaf) pantat si Kakek. Saya tidak langsung membantah, tapi pikiran logis saya berusaha mengingat bahwa Fiandi tidak pernah berperilaku demikian (dan setelah kejadian mendatangi rumah Rudy, saya kembali ke rumah tetangga sebelah yang menyaksikan langsung kejadian untuk mengklarifikasi kebenarannya. Dan benar dugaan saya dengan mentah dibantah oleh Bapak tersebut bahwa tidak pernah ada kejadian tersebut). Ternyata cerita Bapak-bapak tentang karakter Rudy dan Bapaknya benar 100% ... Keras Kepala dan rasa tidak mau disalahkan yang Teramat Dahsyat (bisa dibayangin seperti apa barangkali bagaimana defense-nya ??). Saya dan Ketua RT sudah menyaksikan langsung. Ada terlintas dipikiran saya untuk membalas menampar anak si Rudy yang kurang lebih usianya sedikit di atas Diva. Caranya saya minta reka ulang kejadian siang tadi diceritakan oleh si Rudy. Kelihatannya dia sudah menangkap gelagat tidak baik itu. Tapi niat itu tidak sampai terlaksana, karena saya keburu ditarik dan ditenangkan oleh Pak Ketua RT. Padahal pundak anak kecil itu sudah dalam pegangan saya (bahkan saya sempat mengusap usap kepalanya).



Si Kakek berulang kali mencoba bergabung untuk berbicara dengan kami. Tapi saya pun berulang kali memohon dengan hormat agar dia masuk ke dalam rumah. karena saya ingin berbicara dengan Pak Rudy. Dia hanya tamu. Lalu dia dengan suara keras dan berdiri (saya dan lainnya masih duduk) bahwa "Ini rumah saya". Lalu saya bantah "Ini Rumah Pak Rudy". Terus dia bilang lagi "Ini rumah Anak Saya". Saya jawab lagi "Ini rumah Pak Rudy".Dia berkeras untuk tetap ikut nimbrung sambil ber-kamu kamu kepada saya. Saya tidak mau kalah keras, Saya balas dengan ucapan "Sekali lagi saya mohon dengan hormat, agar Kamu masuk ke dalam. kamu hanya tamu di sini". Mendengar ucapan saya, Si Rudy tidak terima. Melihat gelagat yang sudah tidak kondusif dari semua pihak, Pak Ketua RT memutuskan untuk mengajak saya keluar dari area rumah Rudy dan meninggalkan mereka yang masih mengoceh dengan sumpah serapah ( termasuk Rudy yang menyebut Anjing kepada saya). Tapi saya tidak layani semua ocehan mereka. Saya dan Pak Ketua RT langsung "Walk Out" saja, percuma meladeni orang-orang seperti itu.

Setiba di rumah, istri saya sedang menerima telepon dari Ibu Pengurus IKI Bogor. Beliau menyarankan agar Fiandi di Visum. Sehingga jika si Kakek benar-benar melaporkan ke Polisi, justru kita yang punya bukti pemukulan si kakek kepada anak di bawah umur. Setelah berdiskusi malam itu dengan istri, saya putuskan untuk tidak memperpanjang masalah. Tindakan warga siang tadi, tumpahan emosi istri saya yang mencabut pernyataan maaf kepada si Kakek, dan menunjukkan pernyataan sikap saya sebagai kepala keluarga, saya menilai sudah cukup. Karena orang-orang yang saya hadapi pola pikirnya dan pemahamannya bukan "level" kita. Jangankan menjelaskan apa dan bagaimana itu Autis, untuk berbicara ujung dan pangkal masalah saja tidak bisa menyambung terus. Saya tidak ingin kita ikut gila karena meladeni celotehan orang gila.



Yang bisa kami lakukan saat ini adalah bersabar, pasrahkan semua urusan kembali kepada ALLAH dan berdoa, semoga kejadian kemarin memberikan hikmah positif bagi kami sekeluarga dan semua pihak terkait. Termasuk Fiandi pun saya coba ajak bicara, memeluk dia dan mengelus kepalanya dengan mengatakan Aa Fian yang sabar ya walaupun Bapak tahu Aa Fian sakit dipukul.

Dua waktu shalat di Jum'at malam (maghrib dan Isya), Fiandi tidak berangkat ke mesjid. Dia berkata "Fiandi mengoceh ya di mesjid, Fiandi dihukum ya". Mamahnya terharu dan mengatakan bahwa Fiandi boleh shalat di Mesjid. Dia malah berkata " Tidak, shalatnya di rumah saja".Entah malam ini, tapi saya akan coba ajak lagi dia untuk dapat shalat kembali seperti biasanya di mesjid kompleks kami.



Demikian sharing saya, semoga dapat menjadi pengalaman berharga bagi rekan milis sehingga kejadian serupa tidak akan terulang untuk kesekian kalinya, terutama kepada anak-anak spesial maupun anak kita lainnya.



Salam

Yudi

Bapaknya Fiandi, 10thn



----- Original Message -----

From: Yunus Firdaus

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat(BagianII)

Pak Yudi,

Saya merasa sedih, kesal dan emosi sekali mendengar ungkapan dan cerita pak Yudi tentang penganiayaan kepada Fiandi oleh “Manusia Yang tak Tau Adat, amoral atau kata-kata lain yang pantas untuk disebutkan ke kakek-kakek yang hampir masuk kubur itu”.



Saya bangga dengan kebesaran hati ibu dan bapak, dan saya bangga juga ke bapak yang langsung menghadapi “Orang-orang bejat” ini. Dan itu pantas untuk dilakukan karena menurut saya mereka tidak normal, kalau normal gak mungkin tega mukulin anak kecil apalagi kalau tahu anak-anak kita yang diberi Rahmat oleh Allah ini. Satu hal pak, kita harus berbangga, Insya Allah anak-anak kita ini akan masuk syurga, mereka tidak ada dosanya, merekalah Insya Allah yang akan menarik kita ke Syurganya nanti, amien.



Kejadian yang bapak alami pernah dialami juga oleh teman-teman kita yang lain termasuk saya, yang bisa kita lakukan Cuma Istighfar, sekaligus mendo’akan mereka agar tidak punya keturunan seperti ”anak-anak kita yang diberi karomah ini”.



Semoga kita selalu menjadi orang-orang yang beriman dan selalu bersabar dan anak kita jadi pemberi berkah buat kita dunia dan akhirat, Amien . . .

Salam,

Yunus



----- Original Message -----

From: depe&ix

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Ditampar, dipukul, ditonjok....apapun itu.

Sedih, miris, gak tahu lagi lah apa kata-kata yang cocok untuk menggambarkan perasaan yang campur aduk sewaktu baca cerita 'ditampar sesudah sholat'. Rasanya memang tidak ada kata yang cocok untuk menggambarkan perasaan bapak-ibu ketika tahu anak kita disakiti orang lain.

Mau dilihat dari sudut manapun juga, kita dengan mudah bisa tahu siapa yang menjadi pelaku pemukulan, dan pelaku itu jelas yang bersalah. Kenapa? Apapun yang dilakukan anak, tetap saja, harusnya tidak disakiti secara fisik. Karena tidak seorangpun punya hak untuk menggunakan kekerasan dalam mendidik, termasuk kita orangtua anak kita. Memangnya tidak bisa diberitahu dengan cara lain selain disakiti secara fisik??!

Sedihnya, memang ini sesuatu yang masih harus diperjuangkan. Negara ini belum 'autism friendly'. Sedih sekali mengakuinya, tapi ini fakta yang harus ditelan. Bukan berarti ini permanen, tapi memang sampai detik ini negara ini belum sampai titik dimana masyarakat siap menerima berbagai perbedaan. Kita harus berjuang, terus, tanpa lelah, entah sampai kapan...

Bapak-ibu Faldy, saya ikut mendoakan dari jauh, agar bapak-ibu tetap bisa berbesar hati. Percaya dengan keyakinan bahwa "Allah swt tidak pernah tidur", dan... "kesabaran berrbuah manis".

Doa dari jauh.

salam,

-dp-



----- Original Message -----

From: Leny Marijani

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat(BagianII)

Waduh..... ternyata anak yang ditampar itu Fiandi Pak Yudi toh....



Membaca cerita Bapak, saya jadi tak habis pikir kok ada yah manusia macam si Rudy dan bapaknya itu. Bukan cuma keras kepala tapi mau menang sendiri, tidak mau mengakui kesalahan dan entah apa lagi deh....



Saya salut pada istri pak Yudi yang telah berhasil menahan diri untuk tidak balik sumpah serapah, hebat. Memang begitulah seharusnya orang beriman dan bermoral, tunjukkan bahwa kita berbeda sama keluarga gila itu. Dada boleh mau meledak, tapi kepala dan akal sehat masih tetap jalan.



Memang benar tugas kita semua untuk tetap menggaungkan Autism Awareness dimana-mana.... agar masyarakat benar2 mengerti apa itu Autisme, selain tentunya kita juga harus mengajarkan anak-anak kita norma-norma yang berlaku di masyarakat. Tidak mudah memang, tapi kita kan telah melakukannya selama ini, at least, dibanding dengan 10 tahun yang lalu, pengetahuan masyarakat sekarang ini sudah jauh lebih baik, buktinya tetangga kompleks hampir semua mengerti dan mau menerima Fiandi apa adanya.



Btw, membaca anjuran agar Fiandi di Visum, saya jadi ingat, benar istilahnya kalau ke dokter untuk meminta dokumen bukti terluka itu "visum" bukan "otopsi" seperti yang saya sharing kemarin. Sorry, soalnya sudah jarang denger istilah itu sih.... smile



Harapan saya, semoga Fiandi bisa melupakan peristiwa itu dan mau sholat ke mesjid serta bisa ceria kembali seperti sedia kala. Anggaplah ini bagian dari perjuangan yang akan lebih menguatkan Pak Yudi dan keluarga.



Kita saling mendoakan terus.....



Salam,

Leny



----- Original Message -----

From: Adjeng Pradipto

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat(BagianII)

Pak Yudi,

kejadian ini akan jadi pelajaran untuk kami. Saya pernah bawa ikhsan sholat jum'at ke masjid dekat rumah, deg2an bener nungguinnya sampai sholat selesai. Alhamdulillah tidak terjadi 'hal-hal yang tidak diinginkan', saya monitor ketat dari belakang masjid, si ikhsan duduk di atas sajadah sambil senyam-senyum liat ke belakang ke arah saya terus. Dari mulai dengarkan khutbah sampai sholat....saya terus pantau ikhsan (memang masjidnya tidak terlalu besar).

Mungkin lain kali memang harus ada yang dampingi anak kita ya Pak, atau paling tidak saya menitipkan ikhsan ke orang dewasa yang kira2 orang yang benar2 sholih.



s.p.a.



----- Original Message -----

From: pristiana

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat (BagianII)

Kebetulan saya juga punya seorang putra yang menderita autis plus tunarungu... iarpun nggak ada hub darah sama saya tapi rasanya seperti anak saya yang mengalami ....mungkin kata sabar, tawakal atau apalah sudah seperti nafas aja dalam hidup kita....harapan saya semoga semakin banyak orang yang bisa mengerti dan memahami anak-anak seperti anak kita..amiin



----- Original Message -----

From: Damar

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat (Bagian I)

Pak Yudi,

Turut prihatin atas kejadian yang menimpa Fian dan Diva.

Saya hanya ingin sumbang saran, mungkin yang tidak kalah penting setelah

kejadian tersebut adalah memperhatikan kondisi psikis dari korban, dalam

hal ini Fian dan Diva. Karena anak-anak pada umumnya merekam semua

kejadian yang mereka alami atau saksikan. Dan setiap anak memaknai

kejadian-kejadian tersebut dengan pemahaman yang berbeda-beda.

Apakah kejadian yang dialami Fian dan Diva sangat membekas di hati dan

ingatan mereka? Apakah Fian dan Diva menanggapinya sebagai kejadian

biasa sehari-hari atau sesuatu yang sangat menakutkan mereka? Akan lebih

baik jika dapat mengetahui bagaimana mereka menanggapi kejadian

tersebut. Jika kejadian tersebut meninggalkan trauma psikis, sebaiknya

segera ditangani dengan benar. Coba untuk bicara dengan anak-anak

tentang apa yang mereka rasakan, jika kesulitan dapat juga menghubungi

psikolog.

Semoga anda sekeluarga selalu dalam lindungan Nya, serta senantiasa

diberi kesabaran dan kemudahan.

Regards,

Damar



----- Original Message -----

From: mama_arga

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Tamparan setelah Sholat Jumat

Wah Pak Yudi,

kayaknya udah jelas itu termasuk kekerasan dan ada pasalnya di UU Hukum

Pidana kalo gak salah tapi saya kurang tahu pasal berapa, karenanya hal

tersebut dapat di laporkan ke pihak berwajib apalagi ada saksi pak, yang

sangat pasti adalah orang tersebut "sangat salah" karena berbuat

seenaknya. Hal seperti ini tidak bisa dibiarkan karena orang tersebut bisa

seenaknya berbuat demikian terhadap orang-orang yang lemah.

Saya turut prihatin ya pak, memang kita orang tua yang memiliki anak SN

benar2 diuji kesabarannya tidak hanya dalam menghadapai anak kita tetapi

juga lingkungan kita, Insya Allah kita kita ini orang pilihan Allah yang

diberikan ujian lebih dari yang lain...

Saya salut dengan mamanya Fandi, begitu bisa sabar dan tabah menemui dan

meminta maaf kepada orang tersebut, kalo saya mungkin gak bisa karena saya

belum bisa menjadi orang sabar bahkan kepada anak saya sekalipun saya

masih belajar terus untuk bisa lebih sabar...

Bagaimanapun anak kita harus juga mengerti tentang peraturan yang berlaku

di masyarakat umum tetapi jika sudah dengan kekerasan fisik hal itu tidak

bisa ditolerir baik yang menimpa anak SN maupun anak normal lainnya. Semua

ada aturannya/hukumnya.

Tks

ratrie



----- Original Message -----

From: Ari-Eve-G-P

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat

Rekan milis,

Untuk Re: anak Autis ditampar orang abis sholat jumat, saya ikut prihatin....

Tapi..... cobalah tetap SABAR & TENANG...... IKHLASKAN SEMUA yg sudah terjadi..... Jangan diperpanjang lagi pertengkaran dgn tetangga, orang tua tetangga....

IKHLASKAN.... Lagian kan udah cukup puas marah-marahin tetangga juga?

Percaya aja, suatu saat kebenaran akan terkuak juga.... Dan dengan cara yg baik.

Kalau dgn cara keras, hasilnya ngga ada yg baik....

Malah kadang kekerasan dgn lidah lebih bahaya ....

Salam, Eveline

(sesama yg lagi belajar sabar terus, maklum panasan & judes juga

dulunya..... :-))



----- Original Message -----

From: mama_arga

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat

Wah, ibu Eveline keliatannya sdh berhasil neh belajar sabarnya, he...

Saya nih yang masih dalam tahap belajar masih di grade awal banget he...

Ini salah satu manfaat yang saya dapat di milis ini, banyak pelajaran dan

banyak belajar dalam segala hal.

Tks semuanya.

Ratrie



----- Original Message -----

From: Silvia Hough

To: 'Milis peduli-autis Puterakembara'

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat(Bagian II)

Salam kenal Bapak dan Ibu Yudi,



Saya merasa prihatin atas kejadian tersebut.



Saya hanya memberikan dorongan dan juga semangat, jangan mundur maju terus, perlu dilaporkan peristiwa Fiandi (penganiyayaan)ke Polisi dan segera diproses.

Tidak ada alasan apapun, seseorang untuk menganiya seseorang (apalagi anak-anak).



Semoga Allah maha mendengar dan membantu keluarga Bapak, dan pihak kepolisian dapat memprosesnya.



Ibu Silvia (Mummy Ethan – ASD 6th)



----- Original Message -----

From: helni

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat (Bagian I)

Pak Yudi

Saya turut miris prihatin atas kejadian yang menimpa anak Bapak.Semoga

Bapak dan keluarga bisa tabah dan bersabar dan selalu dalam lindungan

ALlah SWT .Semoga kejadian ini tidak terjadi lagi di waktu yang akan

datang baik anak Bapak dan anak-anak SN lainnya.amin

Salam buat Mamanya Fian.

Helni ( Mama Dhafin)



----- Original Message -----

From: Yudi Setiadi

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat(Bagian I)

Dear Rekan Milis PK

Terimakasih atas dukungan Bapak dan Ibu Rekan Milis PK. Berulang kali saya

sampaikan bahwa dukungan seperti ini sangat membantu sekali bagi kami. Saya

yakin sekali bahwa kejadian Jum'at tersebut turut dirasakan juga oleh rekan

milis PK. Sehingga setidaknya, rasa sakit hati kami sudah terbagi dengan

seluruh rekan milis.

Sejujurnya, beberapa hari terakhir, khususnya saya dan istri, sangat

terbebani dengan pikiran kejadian tersebut. Antara meredam emosi dan

terulang terus di kepala kejadian Jum'at siang / malam itu. Secara

lahiriyah, kami sudah bisa tertawa dan bercanda, tetapi di dalam sini ....

ugh (baca : nyesek). Tapi itu adalah proses. Insya Allah dengan doa dan

dukungan dari semua pihak, kami sekeluarga dapat ikhlas menerima kejadian

untuk diambil hikmah positifnya.

Kemarin, dengan sangat emosional, Oom-nya Fiandi di Bandung (adik istri

saya) menelpon dan minta kami agar melaporkan kejadian ini ke polisi. Sempat

menjadi bahan pikiran juga sih, dan saya sudah bicara dengan Bapak tetangga

sebelah. Beliau pada prinsipnya akan mendukung dan bersedia menjadi saksi.

Malam nanti saya akan coba bicarakan juga dengan Bapak Ketua RT (yang

kebetulan mendampingi saat mendatangi rumah si Kakek) dan Bapak Ketua RW

(yang ikut mencecar si Kakek sepulang dari mesjid). Saya betul-betul butuh

dukungan semua pihak, agar keputusan yang saya ambil tidak akan menjadi

bumerang. Karena saya yakin juga, apa yang telah kami lakukan sejauh ini on

the right track.

Demikian.... Sekali lagi terimakasih. Hanya Allah yang dapat membalas

kebaikan Bapak dan ibu sekalian. Dan yang pasti, kita doakan bersama agar

kejadian serupa tidak terjadi lagi di dunia ini, kepada siapapun anak-anak

kita. Kita perkuat barisan untuk terus berjuang untuk anak kita dan anak

special need lainnya.

Wassalam

Yudi Setiadi



----- Original Message -----

From: emilhhn

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat (Bagian I)

Pak,

Pasti lah kami semua ikut merasakan. Yang ngga punya anak special saja

pasti berempati, apalagi kita.

Mungkin yang perlu disepakati di awal sebelum bertindak lebih jauh adalah

menetapkan target yang Bapak dan Ibu ingin capai.

Fikir kan dengan jernih targetnya dan review beberapa kali apakah

targetnya untuk perbaikan yang mendasar atau sekedar melampiaskan emosi.

Hati-hati karena Iblis senang sekali menghembus-hembus bara api emosi

dalam suasana seperti ini.

Masalah akhirnya dilaporkan atau tidak harusnya tidak terlalu penting

karena itu hanya sarana untuk mencapai tujuan. Yang paling penting adalah

tujuan bisa didefinisikan dengan baik dan benar serta tercapai secara

maksimal.

Salaam Peduli Autis...

Emil Habli



----- Original Message -----

From: maosa

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat (Bagian I)

Saya sependapat dengan pak Emil, kalau menurutkan perasaan, memang rasanya

lebih puas dengan melaporkan kedzoliman yang tak bisa ditolerir seperti

itu pada yang berwajib,komnas anak atau apapun yang sekiranya bisa

membuat orang2 seperti itu jera, tapi apakah sudah pasti merasa jera?,

biasanya bukan saja tidak merasa jera, orang semacam itu mungkin merasa

salahpun(karena malu atau gengsi) belum tentu mau mengakui... capeklah

menghadapi manusia2 macam itu.

Percayalah pak/bu, orang2 yang berbuat dzolim pada kita, kita balas atau

tidak, satu saat perbuatan yang dia lakukan itu akan kembali pada dirinya.

Saya doakan semoga Allah SWT memberikan kesabaran lebih dan lebih lagi

pada pak & bu Yudi,karena bukan tidak mungkin justru dengan melihat

kebesaran jiwa dan kesabaran pak & bu Yudi,apalagi melihat semua orang

memberi dukungan pada bapak sekeluarga dan bukan pada mereka, itu kan

sudah merupakan pembuktian akan kebenaran, saya pikir orang itu akan

merasa tidak enak hati sendiri.

Peristiwa itu juga bisa jadi satu moment untuk memberi pengertian pada

Fian & adiknya agar mau lebih tenang bila sedang di mesjid dan membesarkan

hati mereka agar tidak trauma untuk rajin ke mesjid lagi.

Salam,

Ibunya Osha



----- Original Message -----

From: fe@

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Ditampar, dipukul, ditonjok....apapun itu.

Iya Bu, fe pun terpukul baca info tsb.

Terlepas dari paham atau tidak masyarakat ttg autism, tidak ada satu

manusia dewasa pun yang berhak menyakiti anak-anak baik fisik maupun

psikis apalagi dgn embel2 untuk membuat anak 'patuh'.

Kl fe ada di lokasi saat kejadian kayaknya Bapak itu yang fe tonjok, sebel

bgt deh!

Doa dan peluk cium sayang dari fe untuk seluruh anak2 spesial kita, para

orangtua dan juga keluarga... God bless you all..

Fe, Andri, Edhi



----- Original Message -----

From: Muhamad Yassir

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholatjumat(Bagian I)

Ikut prihatin Pak Yudi...

Semoga Pak Yudi kuat dan sabar menghadapi semua ini.



Sekadar sharing Pak....

saya juga pernah mengalami hal yg hampir sama tetapi kejadiannya di sekolah anak saya...

sempat terpikir untuk membawa masalah tersebut ke Polisi ...



Tapi terus terang setelah kami berpikir kembali....

Kami mengurungkan diri....karena beberapa pertimbangan...:

- Pasti akan menyita waktu lebih lama

- Kami tidak yakin akan kekonsistenan saksi

- Akan menyita biaya dan pikiran

- Kami belum sepenuhnya percaya dengan penegakan hukum di sini



Sekali lagi Pak Yudi....ini dari saya ....kalo Bapak punya aspek kuat yg mendukung untuk itu..

Boleh juga membawanya ke permasalahan hukum....

Mungkin ini bisa jadi pembelajaran bagi pihak-2 yg semena-2 dengan anak-2 kita yg spesial needs..



Ok gitu dulu ya Pak, semoga bermanfaat....

dan tetap sabar serta fight berjuang untuk anak-anak kita....



Best Regards

M Yassir



----- Original Message -----

From: Abdullah,Lutfia

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholatjumat(Bagian I)

Kalau saran saya ga usah diperpanjang pak, syukur Alhamdulillah

Fiandinya kan ga kenapa2. Memang emosi dan luka di hati kita yang parah.

Tp si kakek itu yg seharusnya dikasihanin, orang udah udzur tp masih

punya amarah spt setan, mau masuk neraka apa surga orang spt itu?

Selain itu, saya yakin di lubuk hati kecil si kakek, sebetulnya dia malu

dan menyesal kali.. Ga nyangka dampaknya spt ini dan semoga jadi pelajaran juga buat dia.

Selebihnya, kita sendiri juga mendapat warning bahwa Fiandi bukan anak

yang bisa kita lepas sendirian kesana kemari....

Yang sabar ya pak dan ibu..........

Rgds

Lulut



----- Original Message -----

From: Alexander Prasetya

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat(BagianII)

Pak Yudi & keluarga,

Turut prihatin & simpati atas kejadian yang dialami Fiandi.

Cuma bisa ikut dukung doa dari jauh, semoga diberi kesabaran & kelapangan hati untuk memaafkan. Semoga Fian bisa mengatasi trauma kejadian ini dan bisa beribadah lagi dengan khusyuk untuk selanjutnya



Ira



----- Original Message -----

From: Siswanto

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat (BagianII)

Waduh...........

Pak Yudi, yang sabar ya Pak, saya nggak bisa bayangin kalo saya jadi Bapak. Memang justru yang paling menyakitkan adalah kalau ada orang-orang tua yang memperlakukan anak-anak, apalagi special needs dengan kekerasan. Tapi memang pangkal masalahnya adalah ketidak tahuan orang tentang special need ditambah kekerasan kepala yang tidak bisa menerima sesuatu hal yang baru........ Jangan kata orang yang tidak berpendidikan, bahkan seseorang dengan label guru/pendidik pun kadang melakukannya. Ya justru sebenarnya kita harus kasiahani mereka, karena ketidaktauannya sehingga melakukan hal-hal yang mereka pikir biasa saja.



Sekali lagi memang kita harus banyak minum pil SABAR dan jamu kuat MENTAL.



Semoga kejadian seperti ini tidak terulang kembali



salam

Siswanto



----- Original Message -----

From: Yudi Setiadi

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Cc: Musphyanto Chalidaputra

Subject: Re: [Puterakembara] anak Autis ditampar orang abis sholat jumat(Bagian I)

Yth Bapak dan Ibu Rekan Milis PK

Terimakasih saran, doa dan empati Bapak serta Ibu sekalian. Doa yang sama

juga kami tujukan untuk Bapak dan Ibu sekalian.

Tambahan info saja, semalam saya sudah berdiskusi dengan Pak Ketua RT dan

Imam mesjid kompleks kami, beliau berdua menyarankan hal yang serupa dengan

saran dari rekan milis PK. Pada intinya adalah beliau menyarankan agar

masalah ini tidak diperpanjang ke pihak kepolisian, karena bagaimana pun

juga dia masih warga dan orang tua warga di kompleks kami. Tapi jika

ternyata kejadian ini berulang lagi, dengan serentak kita akan bawa

masalahnya ke polisi, karena sudah berulang terjadi meskipun warga dan saya

(sebagai orang tua "korban") sudah menunjukan sikap ketidaksetujuan atas

perilaku dan tindakan yang dilakukan kepada anak di bawah umur (apalagi

special need).

Poin kedua adalah kejadian tersebut sebaiknya diambil hikmahnya dengan sabar

dan doa. Karena tidak semata-mata seseorang dikatakan beriman apabila ALLAH

belum memberikan cobaan kepadanya dan dilaluinya dengan dua hal tersebut

(sabar dan doa).

Sepulang ke rumah, saya diskusikan dengan istri dan kami sepakat bahwa kita

akan turuti saran tersebut. Karena seperti yang Ibunya Osha katakan, cape

hati meladeni orang yang pola pikirnya tidak sejalan dengan kita. Sekarang

sih kami sudah pasrahkan semua urusan ini kepada ALLAH, karena ikhtiar yang

harus kami lakukan sudah dilaksanakan.

Sebagai info saja, rupanya rekan-rekan dari Yayasan Keluarga Istimewa

Indonesia (YKII - dahulu IKI) Bogor, melalui Bapak Musphyanto Chalidaputra

(Pembina YKII) sudah mengirimkan artikel berjudul "Front Pembela Anak Autis"

(salah satunya bagiannya mengangkat kejadian terhadap Fian) kepada Komisi

Perlindungan Anak Indonesia. Saya melihat hal tersebut sebagai salah satu

bentuk perjuangan kita semua, khususnya bagi kesetaraan hak anak-anak

spacial need di Indonesia, sehingga saya sangat mendukung langkah yang

diambil oleh Bapak Mus serta segenap warga YKII.

Semoga Pak Mus tidak berkeberatan apabila artikel kemarin di-sharing juga

kepada teman-teman PuteraKembara. Saya mohon ijin Bapak. Apabila Pak Mus

sudah mengijinkan, saya akan attachkan artikelnya melalui japri Ibu Leny.

Barangkali Ibu Leny juga berkenan mendokumentasikan artikel tersebut bagi

rekan-rekan yang belum sempat membuka saat-saat ini atau anggota yang baru

akan bergabung di masa mendatang ?

Nuhun

Yudi



----- Original Message -----

From: Leny Marijani

To: Milis peduli-autis Puterakembara

Cc: Musphyanto Chalidaputra

Subject: [Puterakembara] Artikel berjudul "Front Pembela Anak Autis" (PakYudi)

Pak Yudi,



Ide yang bagus Pak. Apabila Pak Musphyanto tidak keberatan, saya dengan senang hati akan upload dokumennya. Saya tunggu konfirmasi dari Bapak.



Saya salut banget dengan gerakan dari YKII ini yang begitu peduli pada masalah yang menimpa sesama orang tua. Sebenarnya inilah salah satu fungsi dan manfaat dari perkumpulan orang tua (PSG - Parents Support Group). Selain berfungsi sebagai penggerak bagi kegiatan-kegiatan Autism Awareness yang tentunya bertujuan demi kepentingan anak-anak kita.



Salam,

Leny Marijani

Catatan Moderator

Untuk menyikapi peristiwa tersebut, dan untuk mencegah peristiwa seperti ini terulang lagi, pihak YKII (Yayasan Keluarga Istimewa Indonesia) Bogor telah mengirim Artikel "FRONT PEMBELA ANAK AUTIS" pada Komisi Perlindungan Anak Indonesia.

Artikel Front Pembela Anak Autis, sudah ada di website ini, bagi yang ingin membacanya silahkan langsung klik DISINI



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy