Pro dan Kontra Anak Autis di asramakan

08/05/2008



----- Original Message -----

From: maria ardiwinata

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Pro and Kons Anak Autis di Asramakan

Pernah suatu ketika saya ngobrol dengan pekerja di Yayasan Autis, saya menanyakan Apa saja yang paling sering diTANYAkan orang tua ke Yayasan. Menurut penuturannya adalah sekolah , dan ada yang menanyakan ASRAMA..trus aku ditanya kembali ..Bu Maria IBU TEGA gak kalau madeleine di asramakan ?? Langsung ku jawab ..gak tega lah...karena aku tidak bisa tidur kalau gak ngelonin dia dulu walaupun dia mah bisa tidur sendiri tanpa saya.

Kemarin waktu libur lebaran, Madeleine sehabis makan , dia sudah mengangkat piring sendiri ke dapur, mencuci tangan, mandi pagi teratur dengan sequence seperti anak asrama. Pokoknya disiplin banget (karena belajar dari sekolah bukan dia lihat dari ortunya ...). Terlintas juga sih pemikiran bahwa mungkin ada baiknya dimasukan ke asrama sehingga dia lebih teratur dan berkembang maximal. sekolah dengan asrama Senin s/d Jumat, tapi tetap Sabtu dan Minggu dengan orang tua.Karena jelas saja sekarang efektif jam kerja di Jakarta , kita hanya punya waktu 1 jam di pagi hari dan plg gak 2 jam di malam .

Aku sih belum lihat asrama yang memang nyaman buat anak - anak autis, rencana mau cari tahu boarding school untuk anak special . Nah , sekalian cari tahu bagaimana pendapat para rekan mengenai keefektifan dan ketegaan ortu melepas anak autis di asrama. Mungkin sebagai renungan ....

Selamat bersharing.

MARIA

mama madeleine



----- Original Message -----

From: yuyun

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Pro and Kons Anak Autis di Asramakan

Wacana yg bagus Bu Maria..

Btw itu juga impiannya Bu Itanya Ikhsan Monas juga ya?

Sementara itu dulu comment-nya smile

Yuyun



----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Pro and Kons Anak Autis di Asramakan

Aduh.

Jangan membangunkan macan tidur, dong...

Yap. Memang betul. Itu impian saya... Belum ada tanda2 terwujud sih.



----- Original Message -----

From: yuyun

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Pro and Kons Anak Autis di Asramakan

Hehehe...maap jadi gangguin yg lagi tidur... Tapi banyak hal berawal dari impian, ya to?

Bu Maria, kalo menurut saya, utk bisa mengasramakan anak harus ada syaratnya, misal tingkat kemandiriannya, kematangan emosinya, dan perilaku anak yg sudah paham norma2/etika standart.

Saya pasti mendukung kalo ada yg berniat merealisasikan wacana ini. Jika sudah ada sekolah khusus, mengapa tidak mungkin ada asrama? Hanya saja, rata2 anak2 kita masih "kecil" ya, jadi utk sampai ke arah itu rasanya masih jauh. Kita masih berkutat di soal terapi ini itu, masih berjuang utk memaksimalkan kemampuan anak, so on. Seperti Bu Maria, ketidaktegaan kita masih besar utk melepaskan anak2 kita di luar

sana.

Satu hal lagi, boarding school utk anak2 yg bukan SN saat ini setahu saya biayanya "wow". Sekolah khusus anak2 autis pun utk sebagian kalangan "wow" juga. Lha kalo asrama khusus utk anak autis? Wauuuuuuw....... smile

Kira2 ini aja opini saya.

Salam,

Yuyun



----- Original Message -----

From: Ika Safado

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Pro and Kons Anak Autis di Asramakan

Anak2 kita di asrama? Tolong deh, jangan mengulang kesalahan yang telah saya buat.

Saya "mengasramakan" Aji (di rumah eyang putrinya sendiri, sih), selama kurang lebih hampir separuh hidupnya. Inilah awal petaka yang harus saya hadapi sekarang. Sejak setengah th yl, mulai gejala depresinya muncul, tantrumnya muncul, tadinya saya kira hanyalah proyeksi dari ketidak hadiran saya buat sesaat, nanti juga baikan. Sehari dua hari, dari minggu ke minggu, sampai sekarang sudah dalam hitungan bulan ke 11, dia mogok sekolah (Syukur kep sek & gurunya penuh dedikasi, Aji boleh home schooling ala SD tempat dia sekolah).

Kepindahan saya kembali ke rumah mama saya untuk mendampingi Aji, cukup terlambat. Dia sudah terlanjur Depresi, sudah terlanjur didiagnosis sebagai ADHD, sudah terlanjur sakit hati dengan saya.....IBUNYA....yang egois, dengan dalih mencari tambahan penghasilan, rela meninggalkan Aji. (perlu diketahui ketergantungan Aji terhadap mama saya sanggup menyingkirkan saya & papanya dari pintu hatinya) Tapi setelah saya gigih mendampinginya tiap saat (untung bos baru saya sangat pengertian, saya diiklaskan kapanpun saya dibutuhkan Aji), walau di awal2 batin ini teriris karena kadang Aji tidak mau saya ada disisinya sekarang dia sudah mulai stabil emosinya. Jalannya masih panjang, Dia sudah terlanjur sakit hati, saya tinggalkan, (walau tiap bulan saya usahakan pulang, dan sebenarnya pilihan untuk ikut neneknya adalah pilihan dia sendiri).

Walau dengan alasan apapun, anak2 selama mereka masih anak2 kita tercinta, jangan pernah meninggalkannya jauh dari pelukan kita, ibunya. Sekarang, setiap pagi bangun tidur Aji ada di samping saya, sambil mengusap2 matanya dia selalu bilang, "Ma, Aku sukaaaa banget mama masih ada." lalu dua buah kecupan hangatnya akan mendarat di kedua pipi saya, yang sekarang masih suka basah oleh air mata.



Mama Aji



----- Original Message -----

From: Eveline Hutahaean

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Pro and Kons Anak Autis di Asramakan

Bu Mar,

Yg sy ingat, ada bbrp orang nasehatin supaya jangan masukkan anak ke asrama, karena :

1. 2 org cerita : makin berantakan -- katanya wkt diurus ibunya, dia masih mandi, rapih, makan cukup / terurus. Setelah dititipkan, malah dekil & kurus.

2. yang satu cerita : anak dosen saya dulu meninggal krn loncat dr jendela asrama (di Jogja), krn kurang pengawasan... Tapi pernah juga, di grj cilandak, krn anak sy ribut terus, ada 2 orang tua yg mendekati & menyarankan ke asrama di ciputat, kabarnya tenaga guru / pengawas cukup, dan banyak yg "membaik"...

Tapi pertimbangan waktu efektif dgn anak itu betul. Palingan 1-2 jam malam hari ya? Itu pun disambi, nggak full utk mereka kan? Jadi usulnya utk Sn-Jmt itu menarik juga lho. Misalnya Jmt malam sudah boleh dijemput; s/d Mg sore dg kita.



----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Pro and Kons Anak Autis di Asramakan

Topik ini memang sangat menarik...

Membaca sharing dari mama-nya Aji, lalu komentar beberapa teman, aku jadi lalu berpikir sangat mendalam. Aku jadi juga berkaca pada "rencana" atau "harapan" dalam diri saya tentang membuat asrama bagi remaja-dewasa berkebutuhan khusus. Jadinya aku sampai pada sebuah pemikiran (yang masih berbentuk pemikiran, belum konsep atau bentuk yang pasti).

1. Tujuan asrama

2. Bentuk asrama

3. Siapa yang bisa masuk asrama

4. Hasil akhir dari sebuah asrama

1. Tujuan?

Aku pikir, tujuan asrama intinya adalah "penitipan". Jadi, si orangtua tetap berperan besar pada hasil akhir, meski kehidupan anak sehari-hari menjadi tanggung jawab pengelola. Tujuan ini akan sangat menentukan bentuk, siapa yang bisa masuk, dan

hasil akhir. Aku sih, berpikir, tujuan asrama memberikan 'komunitas' bagi individu

remaja/dewasa.

Kenapa remaja/dewasa? Karena mereka membutuhkan 'teman-teman' yang memahami mereka. Itu sulit diperoleh kalau tidak berada bersama mereka yang kurang lebih sama dengan mereka. Asumsinya, kalau sudah remaja/dewasa, "bonding" atau keterikatan dengan orangtua sudah terbentuk, pemahaman sudah ada, bisa dikasih pengertian kenapa tinggal disitu, punya kematangan dan kemampuan untuk secara independen bilang "aku gak suka disini" / "aku suka tapi gak mau kalau....".. Hal-hal ini tidak akan ada kalau anak masih kecil.

Asrama itu, kalau buat remaja/dewasa, jadi membantu menyediakan sarana/pra-sarana yang dapat mempermudah mereka mencapai tujuan tertentu. Aku sih, kepinginnya, tujuannya adalah memberikan sumbangan bagi masyarakat luas. Apapun bentuknya.

2. Bentuk asrama

Senin-Jumat siang. Jumat sore sampai Senin pagi, individu kembali ke keluarga masing-masing. ALWAYS.

3. Yang bisa masuk asrama

Remaja-dewasa, dengan kemampuan tertentu, dengan ketertiban yang sudah terbentuk. Orangtuanya bukan tipe yang "lepas tangan" atau 'gak mau repot'. Punya

"effort" dan usaha untuk memberikan kehidupan yang lebih baik bagi si individu. TERLIBAT secara maksimal dalam perencanaan, pelaksanaan, evaluasi, monitoring....

'Program' yang akan dijalani individu, selalu dibawah pengetahuan orangtua. Bahkan harus terlibat dalam perencanaan. Kalau jawaban/ujarannya adalah "terserah saja" merupakan sesuatu yang 'gak enak didengar dan dialami'.

4. Hasil akhir dari sebuah asrama

Ya tergantung dari tujuan lah.

Kalau tujuannya adalah memberikan komunitas bagi si individu, tentu saja harus ada "harapan" terhadap apa yang ingin dicapai dengan membaurkan dia dalam komunitas tersebut. Kalau lalu dapat imbas yang positif, berarti kita boleh "alhamdulillah". Tapi kalau imbasnya negatif, kita bsia bilang "astagfirullah"...

Insya Allah, bila Tuhan mengizinkan, aku ingin sekali mewujudkan 'asrama' yang ada dalam benak aku. Makin hari makin besar keinginan itu, terutama karena aku sekarang 'kan berada pada situasi dimana ikhsan anakku, banyak berada di rumah

(homeschooling) dan menghabiskan waktu dengan orang-orang tertentu saja.

He needs more friends.

He needs to have more responsibilities.

He is growing up.

Jadi, pada dasarnya, asrama bukan suatu hal yang negatif juga. As long s individuals involved are happier there ....kenapa tidak? Kalau berada bersama mereka yang bisa memahami mereka sehari-hari, tentu akan lebih merasa nyaman daripada berada di lingkungan dimana mereka harus memenuhi standard yang 'kurang sesuai' dengan kondisi/kebutuhan mereka.

Tapi memang. Anak-anak dibawah usia remaja, yang belum paham, yang masih proses keterikatan emosional dengan keluarga, jangan dipisahkan dulu lah dari orangtua. Apapun kondisinya... Usaha dulu deh. Kalau sudah terbentuk ikatan emosional yang baik, apapun yang akan dihadapi, bisa didiskusikan dengan anak/individu/keluarga. Insya Allah tidak terjadi salah pengertian seperti yang terjadi pada kasus mama Aji.

Semoga berkenan.

--dp--



----- Original Message -----

From: augustina k

To: peduli-autis Perakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Pro and Kons Anak Autis di Asramakan

Duh jangan donk.

Yang paling dibutuhkan anak-anak kita adalah kedekatan kita padanya sampai saat ia merasa bisa mandiri. Sayang kan waktu-waktu indah penuh kejutan dengan anak-anak, harus kita lepaskan begitu saja. Jangan deh pernah melepas mereka baik yang normal maupun anak SN. Setiap saat mereka sangat memerlukan kita. Pengalaman saya dua tahun lepas dari Adam dengan alasan mama di Bali cari uang tambahan untuk terapinya dan dia di Jakarta dengan Eyang Putri demi kebaikannya tetap bukanlah yang terbaik.

Pengalaman mengajarkan kami bahwa kata-kata bijak orang jawa jaman dulu:"ada-nggak ada duit yang penting kumpul" ada benarnya pada kasus seperti kita. Kemajuan dan kesempatan berkembang mereka lebih maksimal jika kita berada dekat dengan hampir setiap waktu.

Salam,

Augustine



----- Original Message -----

From: Leny Marijani

To: peduli-autis Perakembara

Subject: [Puterakembara] Fw: Pro and Kons Anak Autis di Asramakan

Kalau gak salah tangkap, yang dilempar ibu Maria adalah wacana Asrama untuk anak-anak autis (seusia Madeleine). Pengertian saya kalau anak-anak, mungkin usia di bawah 17 tahun.



Nah... kalau Asrama untuk anak-anak spesial, tentunya bukan masalah "efektif" atau "tega" nya orang tua, tapi harus melihat dari aspek psikologi si anak. Dalam pertumbuhan setiap anak, entah itu anak autis atau NT sangat diperlukan secure feeling (rasa aman). Dan secara instink dan nature, yang paling membuat seorang anak mempunyai perasaan secure adalah orang tua. Berada di dekat orang tua, melihat setiap hari ada orang tua di samping dia yang selalu akan melindungi dia.



Memang kalau melihat keadaan di Jakarta sekarang ini (atau juga di kota-kota besar lainnya), kehidupan keras mengharuskan suami istri bekerja full time, belum lagi dipotong waktu perjalanan yang macet ria, maka efektif setiap hari waktu bertemu dengan anak adalah 1 jam pagi dan 2-3 jam malam, itupun dipotong waktu untuk makan dan istirahat (baca koran, nonton TV). Tapi waktu yang singkat tsb. tetap akan mempunyai efek yang baik bagi anak. Kehadiran orang tua selalu membuat anak merasa aman, bahwa setiap hari dia akan melihat orang tua walaupun singkat. Bahwa dalam pikiran si anak mengerti bahwa walaupun di siang hari orang tua bekerja tapi tetap akan pulang di sore hari.



Jadi total tidak melihat orang tua hanya sekitar 10-12 jam setiap harinya.

Dibandingkan tinggal di Asrama yang tidak melihat orang tua selama 5 hari 6 malam dalam seminggu (dipotong weekend 2 hari).



Suasana rumah beda .... PASTI BEDA... dengan suasana di Asrama, sebagus apapun Asrama itu.



Kalau masalah rutinitas dan keteraturan setiap hari, kita juga bisa kok membentuk seperti itu di rumah. Yang penting konsisten, ada peraturan yang jelas, dan kita sebagai orang tua juga tidak bosan2nya mengingatkan (prompt) agar anak selalu bisa menjalankannya (mengontrol mereka dalam prakteknya sehari-hari).



Sekedar pemikiran.



Salam,

Leny

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy