Menceritakan keberbedaan Anak kita


pada Lingkungan

08/03/2008

----- Original Message -----

From: Yuke

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Menceritakan keberbedaan Anak kita pada Lingkungan

Ada yang punya pengalaman bagaimana menjelaskan keadaan anak kepada keluarga besar dan para tetangga, karena sampai saat ini keberanian untuk mengungkap keadaan anak kami masih sulit kami lakukan, saya baru berani menceritakan keadaan Michelle (3 thn 8 bulan, PDD NOS) ke teman-teman di kantor, tanggapan mereka cukup baik. Sewaktu Michelle di diagnosis Autis, kami merasa sedih, kecewa dan marah, yang paling merasakan hal tersebut adalah Ibu saya (kami masih tinggal dengan orang tua), karena sejak bayi usia 2 bulan beliau yang merawat Michelle kalau saya tinggal kerja. Kemarin sewaktu hari Raya keluarga besar saya berkumpul di rumah nenek, bertemu dangan tante dan om saya, dari mata mereka saya bisa merasakan keheranan melihat sikap Michelle yang tidak mau masuk rumah nenek dan sewaktu ditanya tidak menjawab, tapi mereka tidak mau bertanya, sementara saya sendiri masih malu dan bingung bagaimana menjelaskannya.

Salam,

Yuke, mama Michelle



----- Original Message -----

From: Prawitosari, Lili

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan keberbedaan Anak kita pada Lingkungan

Bu Yuke,

Kalau boleh saya urun sharing, kalau saya dan suami pertama yang kami lakukan setelah anak kami dinyatakan ADHD pertama mind set yang harus dirubah, kami coba lihat hal ini dari segi positifnya memang agak berat bu untuk menjelaskan ke lingkungan sekitar kita, tapi kalau kita berfikirnya secara positif, alhamdullilah sampai saat ini lingkungan sekitar kita, keluarga, teman2 kantor dll dapat menerima keadaan anak kami karena setiap bertemu dengan mereka pasti kami cerita mengenai keadaan anak kami, tanpa maksud menjelekkan anak kami tapi dengan maksud agar mereka juga nggak kaget kalau nanti ketemu sama anak saya..memang nggak semua orang melihat dari segi positifnya banyak juga yang negatif,tapi karena itu dia pemikiran kita yang kita rubah untuk berfikir positif jadi hal2 negatif yang kita terima nggak terlalu mengganggu kita berdua, untuk si anak sendiri juga sepertinya lebih

ringan bebannya karena orang tua dan lingkungan sekitar 'mengakui' keberdaannya... mudah2an bermanfaat

Salam,.

Lili Prawito



----- Original Message -----

From: augustina k

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Yth. Ibu Yuke,

Kalau saya boleh ikut bicara mengenai bagaimana menjelaskan tentang keberadaan dan kondisi anak Special Needs kita kepada keluarga dan lingkungan. Ini pengalaman pribadi kami ketika kami pindah dari Bali ke Depok kurang lebih enam tahun yang lalu:

Adam putra pertama kami didiagnosa autism ketika usianya menjelang 2 tahun (sekitar tahun 1999) oleh dr. Melly Budhiman, SpKJ. Saat itu di Bali belum ada penanganan yang terintegrasi dengan baik untuk kasus austistik yang disandangnya. Terpaksa ia ikut Eyangnya di Depok sejak itu selama 2 tahun (sampai usia 4 tahun 4 bulan) dan hanya bertemu kami yang bermukim di Bali setiap 6 bulan sekali. Selama itu walaupun dengan terapi lengkap dan diet ketat perkembangannya kami anggap kurang memuaskan. Kami memutuskan untuk pindah ke Jakarta menyusul dia demi keberlanjutan terapi dan pendidikannya. Akhirnya ayahnya berhasil pindah ke jakarta sementara saya harus mengundurkan diri dari pekerjaan saya demi membantu perkembangan dia.

Mula-mula saat anak kami terdeteksi autis, saya juga sempat shock. Bukan pada sikap dan pernyataan suami karena dia sangat mendukung saya hingga kini, tetapi pada sikap dan pernyataan keluarga besar (ipar, sepupu, tante, oom dan eyang saya). Sebagai orang Jawa yang masih punya banyak mitos yang salah tentang menjadi orang tua, saya pernah sempat dikatakan sebagai istri yang kualat sama suami, ibu yang jelek bibitnya, kandungannya rusak, ibu yang gak bisa jaga anak dari gangguan setan, dsb...,dsb...

Berat dan menyakitkan. Tamparan yang paling keras yang saya rasakan, sampai saya sempat malas bertemu mereka. tapi suami selalu mengingatkan bahwa masa depan anak kita ada pada bagaimana kita bisa berusaha dan berdoa. Dengan dukungannya yang tidak pernah putuslah kami bersatu mencoba menjelaskan keadaan anak kami ke keluarga besar dan lingkungan. Tentu saja dengan dukungan bukti-bukti ilmiah yang sudah kami baca sebelumnya (mis: catatan medis, journal, artikel dan buku-buku mengenai autis) yang saat itu masih sangat minim buat kami.

Saat akan masuk rumah baru kami di depok, kami sekeluarga (ayahnya, Eyang Putri, Eyang Kakung, para Tante, Om dan pengasuh) bersepakat untuk mengadakan selamatan masuk rumah baru sekalian mengenalkan Adam pada lingkungan barunya. Saat itu tidak semua tetangga baru kami menanggapi secara positif, namun kami yakin kalau Adam akan diterima lingkungan cepat atau lambat walau harus dengan perjuangan yang tidak mudah.

Adam punya obsesi berlebih pada koran dan televisi. Bila tidak terpuaskan di rumah ia suka kabur masuk rumah tetangga dan mengacaukan tumpukan koran tetangga atau memencet-mencet tombol televisi milik tetangga kami. Mula-mula para tetangga kaget karena kok tiba-tiba ada anak orang masuk rumah mereka tanpa permisi dan mengacaukan isi rumah mereka. Walau kami berusaha secepat mungkin mengejarnya, biasanya dia sudah lebih dahulu mengacaukan rumah orang. Tetapi biasanya setelah kami jelaskan keadaan anak kami, barulah mereka mengerti dan akhirnya bisa memahami kenapa Adam seperti itu. Bahkan beberapa tetangga malah melarang kami menarik Adam pulang, karena katanya biar Adam main dulu. Adam juga terus jadi tenang dan pelan-pelan kemampuan sosialnya tumbuh karena penerimaan mereka yang positif. Mau tidak mau kami semua jadi harus aktif di lingkungan demi perkembangan Adam apalagi penerimaan mereka yang tulus telah membantu perkembangan sosial anak kami. Walau komunikasi verbal dua arahnya masih belum konsisten tetapi Adam sudah lebih tahu aturan daripada sebelumnya.

Sampai kini masih ada satu-dua tetangga kami yang belum bisa menerima keadaan Adam dan seringkali meneriakinya 'orang gila' dan memarahi para pengasuh dan kami karena membiarkan 'anak gila' lepas sembarangan. Sakit hati? pasti. Mana ada ibu yang tidak sakit hati anaknya dicaci begitu rupa. kalau dulu saya seringkali menangis dalam hati dan marah bila mendengar dan melihat dia diperlakukan seperti itu oleh orang lain. Kini saya lebih kuat menerima kenyataan dan bisa mencoba menjelaskan pada orang tersebut semampunya. Kadang-kadang kami juga takut kalau suatu kali di tempat yang asing Adam berbuat seperti itu dan bukan sekedar dikatai 'orang gila' tapi dipukuli karena dianggap tidak beres. Oleh sebab itu sampai usianya yang 10 tahun sekarang ini Adam masih didampingi pengasuh khusus selama 24 jam yang siap berlari mengejarnya setiap saat dia mau kabur ke rumah orang karena dorongan memencet-pencet tombol televisi masih lumayan besar walau sudah berkurang banyak daripada dulu waktu usianya 4 tahun. yang pasti kami merasakan dukungan dari lingkungan sekitar karena keterbukaan kami mengenai keadaannya jauh lebih bermanfaat bila kami bandingkan dengan tetangga kami yang memiliki anak serupa Adam dengan kasus yang tidak jauh beda namun 'disembunyikan' oleh orang tuanya. Para tetangga yang pelan-pelan memahami apa dan bagaimana anak autism-lah yang mendorong kami untuk berani menampilkan Adam apa adanya di lingkungan kami dan membantu Adam ketika ia kami 'paksa' sekolah secara mainstreaming di sekolah umum yang saat ini sedang berusaha menjadi sekolah inklusi mandiri.

Cobalah untuk berterus terang mengenai keadaan anak kita selagi dia masih kecil. Mumpung orang masih mau memaklumi keanehannya saat usianya masih dini. Pengalaman kami mengajarkan kami bahwa terbuka pada keluarga dan lingkungan jauh lebih bermanfaat bagi kita dan anak SN kita daripada menyembunyikannya terus. Kami terus berpegang pada prinsip: JADI ORTU ANAK AUTIS HARUS PUNYA SEKANTUNG BESAR KATA 'MAAF' DAN SEGUDANG KESABARAN DALAM MEMBAWANYA MASUK KE KEHIDUPAN WAJAR YANG SEHARUSNYA.

Semoga berhasil dan salam,

Augustine



----- Original Message -----

From: Yuke

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Terima kasih bu atas sharingnya.



----- Original Message -----

From: Dwinu Panduprakarsa

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Bu Yuke,

Salam kenal dari saya, Ayahnya Tita.

Memang tidak mudah dan memakan waktu. Paling tidak anak kita harus dibawa setiap ada kesempatan ketemu keluarga. Sehingga akhirnya mereka sedikit demi sedikit tahu kekurangan anak kita yang berbeda dibandingkan anak-anak seusianya.

Nanti setelah mereka paham perbedaan anak kita, maka baru secara perlahan kita terangkan perbedaannya. Untuk itu kita harus bisa menjelaskan dengan dengan bahasa yang awam, kalau perlu bahasa gaul kayak yang bersliweran di milis kita ini. Biar saudara-saudaranya Ibu Yuke gak bosen dengerinnya.

Yang agak sulit ke kalangan lebih tua mungkin. Karena di jaman mereka hampir tidak ditemukan seperti ini. Jadi butuh ekstra kesabaran untuk menjelaskannya. Serta jangan pernah menyerah dan putus asa dalam menjelaskan perihal anak-anak kita kepada mereka. Yah itung2 melatih kesabaran.

Makanya, informasi dan keterangan dari temen-temen di sini, lumayan banyak untuk tambahan amunisi kita ketika menjelaskan dari A to Z kelebihan dan kekurangan anak-anak kita. Tapi yang pasti jangan terlalu tinggi berharap, anggap saja ini perjalanan panjang atau lari marathon. Jadi butuh waktu lama untuk memberikan pemahaman kepada khalayak umum. Makanya waktu itu di Bundaran HI ada acara Autism Awareness yang kita ikuti bareng-bareng. Yang intinya menunjukkan bahwa komunitas autis ada lho.....

Yang pasti jang pernah berhenti berusaha dan berdoa, agar perjalanan kita semua ke depannya lebih mudah dan lancar.

Demikian Bu Yuke, semoga bisa menambah informasi yang sudah disharing

oleh Bu Lily sebelumnya.

Salam

Dwinu



----- Original Message -----

From: yuyun

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Bu Yuke, sedikit menambahkan.

Waktu Hanif masih kecil dan saya sudah nyadar kalo dia autis, saya menggunakan kata2 yg simple utk saudara2 atau tetangga sekitar, misal: bicaranya telat, belum pinter ngomong, ada gangguan perkembangan. Saya liat2 orangnya juga sih, kira2 dia nyambung gak kalo saya ngomong autis. Kalo pas ketemu sodara yg berkecimpung di medis, biasanya si saya tanpa beban bilang kalo Hanif autis.

Kalo sekarang sih, seluruh keluarga besar udah tau kondisi Hanif, dan alhamdulillah mereka mau menerima Hanif apa adanya. Ketika akan menghadiri acara biasanya saya bilang ke tuan rumah, kebiasaan2 yg sedang disukai Hanif apa saja, minimal biar dia gak kaget. Waktu mudik kemaren juga saya woro2 ke keluarga besar supaya jangan bosen ya, Hanif lagi seneng nanya2 jam. Jadi mereka nyantai aja waktu Hanif nanya2 jam melulu, hehehe..

Sampe sekarangpun itu masih saya lakukan thdp orang2 yg menanyakan sekolah Hanif (kelas berapa? -ngeliat Hanif sudah cukup besar, pantesnya kelas 2-3SD). Saya bilang masih TK-B, soalnya umur 4th baru bisa ngomong sih.. smile ) Semoga membantu.

Salam,

Yuyun



----- Original Message -----

From: Yuke

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Terima kasih

(yuke)



----- Original Message -----

From: Caecilia H M

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Bu Yuke,

Memang menceritakan keberadaan anak kita sangat penting. Saya sudah mencobanya, namun walaupun saya punya pengalaman yang buruk dengan menceritakan keberadaan anak saya pada orang sekitar, tapi saya mungkin bisa berbagi cerita. Kemarin saya bermain ke rumah teman saya di daerah bumi Asri Bandung dan dia menceritakan tetangganya yang memiliki anak autis. Kebetulan rekan saya dan istrinya adalah teman yang mau menerima keberadaan anak saya.

Di kompleks tersebut ada anak penyandang autis (Aldo, skg baru masuk kuliah di Fakultas Pertanian Unpad di jatinangor). Ibu Aldo menceritakan keberadaan Aldo kepada tetangga2nya sesuai permintaan psikolognya (caranya saya tidak tau), sehingga seluruh tetangga di kompleks sangat memahami dan malah membantu anak tersebut untuk bisa bersosialisasi. Tetapi sang ibu tidak minta kepada mereka untuk tidak mengistimewakan aldo, jadi tetap perlakukan seperti biasa.

Sama seperti Ilham anak yang hilang itu, dia sering masuk rumah orang dan para tetangga (mulai dari orang tua sampai anak2nya)tidak ada yang komplain. Tapi bila melakukan kesalahan maka mereka akan menegur, misalnya 'aldo, tutup dong pintunya kalu keluar...'. Kalau tiba2 aldo menghilang, biasanya tetangganya ada yang lapor/ membawa dia pulang. Bahkan bila satu saat aldo tidak bisa mengerjakan matematika, sang ayah sengaja menyuruh datang ke tetangga yang kebetulan dosen matematika untuk bertanya. Semua tetangga dengan senang hati membantu anak tersebut, bahkan mereka mau mendengarkan ocehan aldo tentang tanaman, kupu, dsb. Kata mereka 'justru ada aldo malah jadi pengetahuannya nambah'.

Waduh.... saya jadi iri, sementara di lingkungan saya lebih banyak yang menolak. Bukan hanya itu, anak2 kecil banyak yang sering mengejek Tyas bila melihat dia (maklum bu, di kampung tapi itu tidak menjamin di tempat saya kerja juga ada koq yg tidak senang dengan keberadaan Tyas). Saya bersyukur di sekolahnya sekarang lebih bisa menerima keberadaan Tyas, bahkan jauh lebih aman dibandingkan di SMP dulu.

Sekarang aldo kuliah di jatinangor dan sedang mencoba untuk kost di sana, selain itu orang tuanya pun sudah menceritakan keadaan aldo pada para dosennya. Sebelumnya di SMA (Taruna Bhakti) mereka pun melakukan hal yang sama, dan sangat bersyukur karena sekolah mau membantu bahkan mengoptimalkan kemampuannya dalam bidang menggambar.

Dari sini saya belajar, saya memang harus sekuat tenaga dan penuh kesabaran (bukan hanya menghadapi anak, tapi orang di sekitar) untuk membimbing Tyas. Apalagi dia berencana kuliah di Bogor, yang jauh dari orang tuanya. Saya juga pernah ditegur karena dianggap menceritakan aib kepada orang lain. Padahal maksud saya minta maaf bila satu saat mereka terganggu dg keberadaan Tyas.

Pada akhirnya saya mengajarkan pada Tyas untuk mulai bisa melihat dan memahami orang lain juga. Saya katakan, tidak semua orang mau/ bisa menerima dia dan dia tidak boleh menuntut untuk menerima & memehami dia. Kebetulan suami saya jauh lebih sabar dari saya, sehingga dia selalu mengingatkan Tyas untuk bisa mengendalikan diri (bisa sampai berkali2 dalam sehari, bahkan dalam waktu yang berdekatan). "Cape.... memang, bosen... apa lagi. Tapi kalau bukan kita lalu siapa lagi..." itu yang selalu suami saya sampaikan kalau nada suara saya agak meninggi.

Ok, mungkin cerita ini bisa bermanfaat buat semua, karena sejak saya mendengar cerita ttg perjuangan bunda aldo saya jadi makin semangat bimbing Tyas.

Caecil



----- Original Message -----

From: Yuke

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Terima kasih yach bu sharingnya.



----- Original Message -----

From: yeyen yeyen

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Ikutan sharing ya bu,

Pada saat saya mengetahui kondisi anak saya termasuk anak special saya tidak berani menceritakan kondisi yang sebenarnya bahkan bila orang bertanya sudah berapa bulan, saya selalu jawab dibawah usianya. karena badannya kecil jadi orang merasa bahwa usianya masih muda padahal tidak. (misal usia sudah 2 thn saya jwb 11 bln) karena fisiknya menunjang. Bahkan orangtua dan mertua saya baru kami beritahu kondisi anak kami setelah berusia lebih dari 2 thn. mulanya mertua saya kaget dan sedih tapi lama kelamaan karena melihat kami dapat menerima keadaan anak kami apa adanya beliau juga mulai menerima dan bahkan mengasihi lebih dari cucu yang lain.

saya sendiri sejak awal sudah mulai menceritakan kondisi anak saya kepada lingkungan. setiap famili, kenalan, tetangga yg kenal pasti saya beritahu kondisi anak kami sehingga pd saat mereka bertemu dgn anak kami sudah tdk kaget dan tdk bertanya2 lagi (tdk berbagi gosip). bahkan dilingkungan pekerjaan saya dan suamipun saya menjelaskan, awalnya sih memang was-was juga... takut bila ada yg tidak menerima tapi saya berprinsip bahwa kita lahir kedunia ini karena anugerah dari Tuhan dan Tuhan menghargai kita apa adanya dan anak saya juga harus mendpt hak yg sama. walaupun banyak kendala bahkan sering harus sakit hati menerima penolakan dan omongan yg menyakitkan. tapi tahap itu akan dilalui dan semua akan menjadi baik.

saat ini anak saya dapat diterima dilingkungan mana saja, setiap orang yang bertemu dengan kami selalu menanyakan keadaannya dan ikut merasakan setiap perkembangannya dan juga dalam setiap pergaulan dia selalu diikut sertakan. teman bermain kakaknya juga dapat menerima dan kezia sendiri juga punya teman sendiri walaupun dalam berkomunikasi belum lancar.

dari pengalaman saya memang lebih baik kita memperkenalkan kondisi anak kita lebih awal sehingga mereka dapat lebih memahami anak kita tidak bertanya-tanya dan dapat menerima anak kita apa adanya.

sekian dulu sharing dari saya........

Yeyen



----- Original Message -----

From: Prawitosari, Lili

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Setuju bu...kita lahir ke dunia atas anugerah Tuhan karena itu saya nggak pernah malu untuk mengungkapkan keberadaan anak saya jadi semua orang di lingkungan keluarga,kantor,bisnis, semua tau keadaan anak saya, buat si anak sendiri jadi lebih mudah untuk bersosialisasi karena lingkungan sekitar terutama orang tuanya "mengakui" keberadaannya...

Salam,

Lili prawito



----- Original Message -----

From: Caecilia H M

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Bersyukur sekali bapak-ibu punya lingkungan yang mendukung. Saya begitu sulit mendapatkan hal itu. Jangankan di lingkungan (luar) rumah, di dalam rumah sendiri pun anak saya tidak bisa diterima. Ya.... nasib baik belum berpihak pada kami, saat ini kami masih tinggal dengan orang tua. Dan itu pun karena kebodohan kami, karena kami menuruti keinginan mereka untuk tidak keluar dari situ (terucap waktu Tyas masih sendiri/ cucu pertama & masih manis). Sekarang setelah tahu Tyas bermasalah dan mulai mengganggu sikap orang serumah berbalik 180 derajat, apalagi adik dan sepupu Tyas lain normal. (Duuh koq aku jadi curhat gini ya....)

Saat ini kami sedang mencoba mencari rumah, tapi memang belum ada. Hampir setiap hari saya menangis karena belum berhasil, karena yg saya pikirkan hanya Tyas. Orang rumah Mereka tidak pernah mau tau keadaan Tyas, "di mana2 namanya anak SMA tuh ya harusnya gini, gini, gini....." selalu itu kata2 yg mereka keluarkan.

Setiap kesalahan yang Tyas lakukan selalu menjadi pemicu kemarahan, kata2 kasar, umpatan, dsb. Mereka bangga pada Tyas hanya bila ada prestasinya misalnya pada saat nilai UN Matematikanya 10,atau pada saat dia bisa diterima di SMP terkenal, SMAN 3, ya... yg seperti itu lah. Sementara pada saat dia pulang membawa teman, bisa ikut serta dalam paduan suara akbar dengan Studio Cantorum, sama sekali tidak ada tanggapan. Bahkan pada saat dia mulai bisa bertelpon ria dengan teman wanitanya.... malah diomelin yg katanya rekening telpon mahal, dsb. Sehingga skg dia saya beri HP sendiri. Padahal Bapam-ibu nya berbunga2 sekali kalau ada temannya yg telp./ dia berani bawa teman ke rumah, kami bangga sekali melihat gaya dia menyanyi African Noel dg gaya Jazz bersama Lita Zen di panggung (dari yg sebelumnya kalau mau naik panggung saya harus mengantar sampai pintu panggung).

Sedih, sakit.... jadi siapa yang bisa memahami dia kalau bukan keluarganya sendiri? Karena di tempat kerja saya pun beberapa orang menolak keberadaannya, & saya pernah ditegur Ketua Jurusan yang memohon untuk tidak membawa Tyas ke kampus lagi. SEtiap kali mengingat ini saya selalu ingin menangis, menjerit sekeras2nya. Belum lagi keluarga besar saya yg memiliki habit yg sama, shg saya mulai menarik diri dari keluarga besar saya. Sehingga satu kalimat ini yg kami selalu sampaikan berulang2 bila di mulai tak terkendali/ marah/ tidak bisa terima perlakukan orang lain:

"jangan mencoba untuk orang lain mengerti kita, jangan mencoba merubah orang lain, tapi ubahlah diri kita dulu". Saya membelikan buku seven habits & buku Berpikir positif (yunus timotius) setahun yg lalu, baru sekarang dia mau baca dan tadi malam mencoba membahas bersama kami.Shg tadi pagi rasanya saya tidak putus2nya berdoa & bersyukur dg kemajuan Tyas yg satu ini. semoga bisa bermanfaat buat dia.

Skg saya lebih suka membawa dia latihan kempo, bermain ke tempat orang banyak (tapi saya menghindar arena bising, misalnya mall yang sedang ada life music, karena ini membuat dia panik), kami bisa berjam-jam di Gramedia. Mengajak dia belanja, tapi dia yg ambil barang sampai dengan membayar. Saya pikir dengan cara ini saya masih bisa mengajari di berkomunikasi bahkan dengan orang yang tidak dia kenal.

Duhh pagii udah curhat, sorry ya bapak-ibu kalo' kepanjangan. Soalnya aku

ga punya tempat curhat sih. Teman curhatku lagi sibuh kengan Kevin-nya,

aku ga berani ganggu. sorry ya....

Thanks

Caecil



----- Original Message -----

From: Fatih W

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Ibu...

Tiap saya liat posting di sini... ada satu benang merah yang saya ambil, dan itu membuat semua 'masalah' menjadi simple dan mudah... Kita mah ternyata manusia biasa yak... Bahagianya: kita punya kekuatan buat menyambut tantangan yang lebih...

Ada yang anaknya tak diterima keadaannya di sekolah menjadi harus kerja extra keras gimana caranya menyesuaikan diri, ada yang gak diterima di keluarganya sendiri; mulai dari ibunya sendiri apa bapaknya sendiri juga scope yang lebih besar lagi...

Tapi di suatu titik: kita ternyata menemukan: akhirnya saat sulit itu lewat juga yah... Karena tiap ulasan/posting selalu ada yang bilang: syukur, sekarang udah bisa ngerti... kata "syukur" itu loh... It helps a lot to anybody yang baca. Yang pasti menumbuhkan dan menyuburkan "harap" yah...

Ibu Caecil... berarti kesulitan cari rumah baru itu ada hasil yang lebih baik yah: justru membuat Tyas nya sendiri memiliki bekal untuk survival... pasti orangtuanya juga survive... Tuh dia... justru mendapat hal terbaik YANG DIBUTUHKAN TYAS!!!: A tool to survive... Tyas dipaksa cope ama kesulitan yang tersulit dan dia

berhasil... Orang tuanya JELAS2 LEBIH BERHASIL...

Rumah pasti didapat nantinya (ikutan berdoa saya)...Amin... Tapi ama Yang Di Atas malah Udah Diberi bonus nilai PLUSS dengan kemampuan baru Tyas yang idiiih... saya jadi pengen dapet hal yang sama loh yah... Pasti berguna banget buat Tyas di kemudian hari...

Selamat yah

Cheers

Fitta



----- Original Message -----

From: yeyen yeyen

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Dear Ibu Caecil,

Saya ikut berdoa semoga ibu dan keluarga cepat mendapatkan rumah idaman ya. Penerimaan atau penolakan dari keluarga adalah satu ujian yang membuat ibu dan keluarga semakin bersatu dalam menghadapi ujian ini. Ibu masih memiliki keluarga diluar dari keluarga sendiri yang tidak dapat menerima Tyas. masih banyak yang menghargai hasil karya dan prestasi Tyas. Justru perlakuan yang diterima Tyas membuat Tyas tumbuh semakin baik. Saya sungguh tertarik dengan kemampuan Tyas, boleh donk jika ibu Caecil menjadi tempat curhat saya...hehe (jadi curhat-curhatan ni)

Salam kenal,

Yeyen



----- Original Message -----

From: Caecilia H M

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Dengan senang hati bu Yeyen.

saya juga ga tau kenapa tadi menulis itu mengalir begitu saja karena memang saya sendiri hampir putus asa, ga ada temen curhat. Kalau suami saya beruntung dia orangnya cuek sehingga dia selalu tersenyum, guyonnya ga pernah ilang padahal habis ngeliat Tyas dimarahin abis2an ama

kakung-utinya, budenya, difitnah pakdenya. Sementara aku cuma bisa lari masuk kamar dan nangis. Makanya punteeeen pisan (kata orang sunda mah) kalau curhat saya tidak berkenan buat bapak-ibu.

Caecil



----- Original Message -----

From: Emil Habli Hasan

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Bu...

Jangan terlalu gundah...!

Dalam perspective iman, sesungguhnya kita lah manusia paling beruntung karena kita 'TERPILIH' untuk menerima amanah special. Mereka tidak melihat bahwa Tyas adalah ladang amal shaleh Ibu dan Bapak yang airnya melimpah ruah dengan derasnya. Sesungguhnya mereka lah yang perlu

dikasihani.

Kakak saya mengarang buku 'Bila Nurani Bicara'. Nama kakak saya Amelia Naim Indrajaya. Di buku jilid satunya, ada kisah tentang ortu dengan 3 anak CP. Tanpa bermaksud promosi, coba ibu iseng-iseng cari buku itu di Gramed dan baca cerita dengan judul 'Special Kids for Special Parents'.

Ini kisah nyata yang dialami kakak saya waktu di Amrik yang kemudian dituangkannya dalam kumpulan cerita pendek. Mudah-mudahan dengan membacanya Ibu dapat terbantu dalam berdamai dengan

lingkungan yang kurang bersimpati terhadap kelebihan kita yang dianugrahi special kids.

Emil Habli



----- Original Message -----

From: Yuke

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Bu Caecil, di milis PK ini kita bisa berbagi cerita senang dan sedih, sehingga beban yang kita pikul tidak berasa berat.

salam (Yuke)



----- Original Message -----

From: Sapta Pusaka Nusantara

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Bu Caecil,

Semoga Ibu tetap sabar yah..

Joshua juga suka dimarah-marahin sama mama saya. Kadang aku juga suka bilang. "Joshua bisa stress kalau dimarahin terusssss.." Karena Josh becandanya kelewatan: dorong orang ampe mau jatuh, pukul

sana-sini. Memang tangannya itu loh USILLL banget. Apakah dulu Tyas gitu juga ?

Kadang meja ditumpahin air, trus dia gilas pake mobil-mobilan.

Seriiingggg.... banget ampe dimarah-marahin. dan masih banyak tingkah Joshua yg aneh-aneh. Kadang di bilang kakeknya GA TAHU DIRI, GA BERES DLL. Abis pulang kantor, saya pasti dapat aduan dari papa saya. Saya jengkel tapi gimana yah namanya juga ortu sendiri. Apalagi mereka belum tahu apa itu autis. Aku ga bisa bayangin kalau Josh udah gede tapi masih suka aneh-aneh. Tapi ya sudah, kita harap semua akan ada akhirnya yah..

Tetap semangat !!!



----- Original Message -----

From: Caecilia H Moerti

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Terima kasih pak,

Tyas juga dulu gitu, lewat aja tangannya bisa mampir kepala adiknya. Gelas

di tengah meja aja bisa jadi pecah seeeegala macem dipegang. Sama juga pak, pulang kantor (yang maunya kuping istirahat) pasti dapet laporan yang numpahin pupuk, pewangi pakaian, mecahin ini-itu, nyerang anak tetangga, dsb. Pokoknya semua dipegang & ada kecenderungan nyerang anak yg lebih kecil (saya inget sekali soalnya dia pernah nyerang anak preman he..he..). Belum lagi obat2an neneknya dibongkar, campur dengan daun2, pewarna kue dsb. Katanya aku lagi 'bikin penangkal bisa ular'. Celetukan & komentarnya juga suka ga terkendali, dan semua itu sampai

sekarang masih sering terjadi (kecuali nyerang teman).

Belum lagi suka ilang, Uti-Kakung nya udah kapok bawa dia jalan2 soalnya pernah hilang di Malioboro & Juni kemarin ilang di Tajur. Cara mencarinya adalah ingat kalimat/ kata terakhir dia (misalnya "robotnya bagus ya..." berarti dia akan kembali ke tempat itu) atau cari di tempat yang ada air/kolamnya. Tapi Uti-Kakung nya ga pernah inget, jadi dianggap nyusahin. Akhirnya dia jadi iri karena tidak pernah lg diajak jalan2.

Sekali lagi terima kasih pak, salam untuk keluarga.

Caecil



----- Original Message -----

From: Fatih W

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Menceritakan Keberbedaan Anak Kita Pd Lingkungan

Hi hi hi...

Jadi bikin tersenyum di tengah kemelut... Echa, 7 tahun, hari ini di skors untuk ke 2 kalinya semester ini... Uhuy...

Pertama di skors, agresive mukul temen... sekarang tendang 2 temen... Motivasi:...??? (ada gitu yah yang bisa di definisikan by kita?). Ceritanya temen lewat... dia lari dari belakang langsung tendang... Yang ke dua, temen lagi maen puzzle... puzzle ditendang, kakinya mampir ke mata temen, bengkak, kena first aid di clinic.

Allohu Akbar dech...

Kalo dah gini, bagaimanaaaaaaaaaaaaaaaa approach problem nya...

Ga bisa tidur... Syukurnya (nich the best part nya)... sekolah Echa itu sekolah milik

perusahaan yang disediain untuk employee yang tinggal di Proyek... jadi

what ever lah our children (kelakuan dan keadaan) ya sekolah kudu work

out juga... Cuma kalo ga care yah nanganinnya ASALAN...

Kalo dah gini kita neeehhhh yang paling puyeng.

Mana yang kita tangani dulu...

- Apa Echa ngerti?, apa Echa behavior nya bisa berubah dengan

konsekuensi skorsing?, apa Echa ngerti arti "mengerti salah dimana,

menyesal kemudian berusaha mencegah"... dalam hati mau teriak

"IMPOSSIBLE deeeehhhh".

Tapi toch otak juga mikir: mau gini2 aja terus nich? Ampe kapan???...

- Apa guru kelas dan terapi nya udah approach masalah ini dg benar,

investigasi di lapangan dengan benar sehingga pas keputusan skorsing

dijatuhkan semua dg data valid, yang pasti memberikan konsekuensi

terbaik buat Echa UNTUK CASE KALI INI

- Apa orang tuanya (saya nih) udah cukup bertanya, check dengan anak,

etc etc etc... (masih ngawang nih)...

Bolak - balik lagi harus melihat lagi si-kon dari all sides... Oke... kita liat satu satu... kemudian liat lagi - liat lagi... What we can do untuk improve keadaan... (improve aja dech...gak usah total pencegahan ato total menghentikan agresifitas Echa... targetnya

terlalu tinggi... capeee, improve aja terus2an... kalo bisa stop total... syukurrrrrrr)

(euh... jadi nglantur...)

Bener kata bu Ita... step back, observe, assess, action, review... One day nich... saya yakin saya bisa melihat kejadian ini lagi dengan tergeli2 seperti gimana Bu Caecil nyeritain Tyas bikin ramuan penangkal bisa ular... (hi hi hi... pasti dengernya aja mangkel tapi konyol)

Ada sms masuk dari temen saya ketika saya curhat-in bhw anak saya (lagi2) kena skors.... "yang penting ada usaha perbaikan afterthat. Lha wong Einstein aja

terkenal sering gak naik kelas smile"

What a nice sms in the morning...

Fitta... mama Echa 7 th, autis verbal

(yang nyobain senyum dulu sebelum menyingsingkan lengan rawe2 rantas

malang2 putung... bener ga sih)

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy