Jalan Jinjit

05/18/2008



----- Original Message -----

From: Yanty S

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Jalan Jinjit

Dear Rekan2 Milis,

Putera saya Kimi, 19 bulan baru mulai berjalan Jinjit. Saya sudah mulai curiga saat hari Jumat lalu. meski masih jarang-jarang, tapi makin hari, makin keliatan jelas, kalo jalannya jinjit (baru kaki kanan saja).

mohon bantuan dari Bapak/Ibu yang bisa bantu mengajarkan saya bagaimana caranya / terapi seperti apa yang bisa dilakukan di rumah supaya jalan jinjitnya tidak semakin menjadi-jadi.

thanks sebelumnya ya...

YS (mama Kimi)



----- Original Message -----

From: Mieke R

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Jalan Jinjit

Bu Yanti,

Kekhawatiran kita sama... Hiroshi anak saya 17 bulan baru bisa jalan... tapi belakangan saya perhatiin, kalo jalan mulai jinjit2... Pengalaman saya, kalo anak Jinjit, dikarenakan saraf2 ditelapak kakinya terasa sakit jika menyentuh permukaan lantai. Logikanya barangkali gini... kalo kita di pijat refleksi, khan suka ada tuch yang sakit di daerah telapak sebelah dalam...

Nah, biasanya terapisnya bilang, ini ada hubungannya dengan fungsi pencernaannya yang terganggu karena daerah tersebut merupakan titik saraf saluran cerna.

Nah, berdasarkan pengalaman... Menurut saya bukan Jinjitnya yang perlu kita khawatirin, karna jinjit hanya merupakan tanda2 adanya masalah pada tubuh anak kita. Barangkali yang terpenting kita perbaiki adalah saluran pencernaannya dulu... saya sangat berhati2 dalam memberikan makanan pada Hiroshi, karna dari lahir dia sudah Hypersensitive food intolerance... makanan yang saya berikan juga saya rotasi 5 hari sekali... dulu saya perhatiin kali anak2 terapi dikasih pemberat dikakinya... Hiroshi belum saya kasih pemberat... tapi tiap jalan saya selalu menegur dia kalo jinjit, "Eh, dede, ga boleh jalan jinjit2 yach... Nanti kakinya Gede2 kayak gajah loh... trus tambah sakit..." sambil saya tapakin ke lantai kakinya... "ga boleh ya de..."

sebagai tambahan... Ini bukan harga mati, artinya tidak harus berarti pencernaannya terganggu. Bisa aja si Anak sangat menikmati kalo berjalan jinjit... Kalo hanya begitu, kebiasaan tsb kemungkinan besar bisa hilang dengan sendirinya, seiring dengan bertambahnya usia... Motorik kasarnya makin besar makin sempurna... jalannya pun pasti ga jinjit lagi nantinya... sekedar Tips, coba pakaikan sepatu yang nyaman dikaki dan cukup berat (boots misalnya) karna bisa jadi juga dia jinjit karna geli menapak diatas permukaan yang dingin (lantai), kasar (jalan/aspal), atau basah (kamar

mandi) dsb.

Oke dech, segitu aja sharing dari saya, semoga berkenan.

Salam,

Mieke (mommynya Aurel, Andre and Hiroshi)



----- Original Message -----

From: Yanty S

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Jalan Jinjit

Terima kasih bu mieke.

memang Kimi mau saya bawa ke doc gastro hari senin besok.

mudah2an gak ada masalah ya.

thanks.

ys



----- Original Message -----

From: diana puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] jalan jinjit

Ass

Anak saya sampai sekarang jalannya jinjit dan itu sudah repleks (di bawah sadarnya). Kalau diingatkan, hanya sesaat telapak kakinya nginjak tanah lalu kembali jinjit lagi. Yang bikin gemes, jinjitnya ini keterlaluan, numpu kakinya dengan jari-jarinya. Yang jadi masalah dengan jalan jinjitnya ini, dia sering sekali jatuh, dan yang terkena adalah lututnya. Saya khawatir, ada masalah dengan lututnya di kemudian hari, karena sering terjatuh. Ada yang punya saran mengenai ini?

Saya sudah mencoba membawanya jalan-jalan di atas batu kerikil besar tiap hari sabtu minggu, tapi belum berhasil.



----- Original Message -----

From: Taufiq Hidayat

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] jalan jinjit

Apa sudah dicoba untuk memberikan alas pada ruangan memnggunakan busa bu? tebalnya keitar 7-10 cm. jadi saat berjalan memberikan tekanan yang merada pada telapak kaki begitu juga jari-jarinya... :-)

salam

taufiq



----- Original Message -----

From: Emil Habli Hasan Naim

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Monday, November 05, 2007 1:38 PM

Subject: Re: [Puterakembara] jalan jinjit

Wa’alaykumussalaam waRahmatulLah



Bu Diana,

Yang pernah saya dengar penjelasan mengenai hal ini adalah seperti di bawah. Kalau ada yang keliru mohon segera dibetulkan karena penjelasan ini saya dapatkan sudah lamaaaa sekali sehingga yang saya tulis di bawah yang berhasil saya ingat-ingat kembali dan sangat boleh jadi sudah terdistorsi dan keliru.



· Ada 6 indera yang menjadi jalan masuknya rangsangan: penglihatan (mata), pendengaran (telinga), penciuman (hidung), perabaan (kulit), pengecapan (lidah) dan keseimbangan (sendi).

· Response dari tubuh kita terhadap rangsangan yang ditangkap oleh indera manusia dapat dibagi 2: hypersensitive dan hyposensitive.



Indera Hypersensitive & Hyposensitive

penglihatan (mata) Cenderung menghindari tatapan langsung dari sumber cahaya. Misalnya melihat TV dari pantulan di kaca atau matanya melirik (melihat dari sudut ujung mata).

Menatap sumber cahaya yang terang seperti menatap bola lampu atau bahkan matahari.

Pendengaran (telinga) Menghindari bunyi-bunyian yang keras atau berfrekuensi tinggi seperti suara motor, blender, mesin potong rumput, dll. Hanya meresponse suara-suara yang keras.

Penciuman (hidung) Menghindari bau-bauan tertentu. Kurang meresponse bau perabaan (kulit)Menghindari sentuhan seperti tidak mau dipegang tangannya, pakai baju dari bahan tertentu, blingsatan kalau baju masih ada label di kerah, tidak mau menapak di permukaan tertentu, dll. Kurang meresponse sentuhan pada kulit. Kalau tidak salah termasuk dalam hal merasakan rasa sakit akibat tertusuk, luka, dll. Pengecapan (lidah) Memilih-milih makanan. Tidak mau memakan makanan yang asing. Semua dimakan.

Keseimbangan (sendi) à contoh orang tertidur di mobil, saat dia mulai rebah ke kiri/kanan, indera sendi akan menyebabkan response badan kembali ke posisi awal. Takut ketinggian, takut kalau diayun, takut meniti di jembatan, dll. Hyperactive, jalan jinjit, suka diayun tinggi-tinggi, dll.



· Alur dari rangsangan tertangkap oleh indera sampai menghasilkan aksi/response dari tubuh adalah sebagai berikut:

o Rangsangan tertangkap oleh indera.

o Diteruskan oleh syaraf yang ada di indera tersebut ke otak.

o Oleh otak ditangkap dan diproses sinyal rangsangan dari syaraf tersebut untuk kemudian diterjemahkan menjadi sesuatu yang bermakna.

o Otak kemudian memberikan response terhadap rangsangan yang diterimanya dalam bentuk instruksi ke organ tubuh tertentu.

o Instruksi diteruskan oleh syaraf ke bagian tubuh yang dituju.

o Bagian tubuh yang dituju melaksanakan instruksi tersebut.

Misalnya ada suara orang mengatakan ‘tangkap bolanya’ tertangkap di gendang telinga, sinyal ini diteruskan oleh syaraf ke otak dan kemudian oleh otak diproses menjadi sesuatu yang bermakna à suara ‘bola’ = benda yang bentuknya bulat, bisa ditendang, bisa ditangkap, permainan yang mengasyikkan, dll. Kata ‘tangkap’ = gerakan tangan untuk menangkap. Oleh mata, bayangan bola yang bergerak mendekat akan diteruskan oleh syaraf ke otak untuk kemudian otak memerintahkan tangan untuk menangkap. Dari rangsangan suara dan penglihatan, kita dapat menangkap bola dengan baik.

· Untuk kasus jinjit, ada dua indera yang mungkin terkait à indera peraba dan indera keseimbangan. Bisa jadi telapak kaki anak termasuk hypersensitive terhadap permukaan yang kasar, basah dan lengket sehingga anak berusaha meminimalkan sentukan telapak kaki dengan tempat berdirinya. Atau bisa juga agar sendi merasa nyaman dan seimbang.

· Yang pernah disarankan ke saya adalah :

o Setiap hari jalan tanpa alas kaki di pasir, kerikil, rumput, lumpur & permukaan lainnya.

o Buat adonan tepung atau lainnya seperti cat untuk finger painting (tentunya yang aman dari zat-zat berbahaya. Di Pela mereka pakai sebagai salah satu aktivitas SI) dan kemudian main blepot-blepotan (bahasanya bingung euy…!). Blepotin di tangan anak, kaki, dll. Untuk anak yang hypersensitive, dia akan blingsatan setengah mati tuh kalau tangannya diolesin cat.

o Brushing

o Berkuda, berayun, dll.



Kelihatannya pendekar OT, Oom Taufiq perlu turun gunung nich buat membetulkan dan memperjelas penjelasan saya di atas. Biar ngga salah-salah.

Emil Habli

----- Original Message -----

From: Taufiq Hidayat

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Wednesday, November 07, 2007 12:02 AM

Subject: Re: [Puterakembara] jalan jinjit

Sekarang lagi doyan nonton avatar ma naruto pak, jadi pilihannya hanya itu

tuh He.he.he... :-) tapi lebih enak jadi warga biasa aja ah pak... :-))

tulisannya sangat lengkap dan jelas kok pak Emil... :-) namun memang ada yang perlu ditambahkan saja kok. . saya setuju dengan chart yang bapak buat, antara hyposensitif dan hypersensitif yang dilihat adalah respon sang anak.

jika hypo berarti input sensori yang diterima adalah hypo atau kurang, sehingga ada kecendrungan untuk melakukan suatu aktifitas yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan sensori yang kurang tersebut. ini berhubungan dengan prilaku yang disebut stimming karena kebutuhan sensori yang

jika hyper menyebabkan hanya dengan sedikit input sensori sudah cukup sehingga jika terlalu besar atau banyak membuat seorang anak akan menghindar sebisa mungkin (defensiveness).

kalau boleh dianlogikan sistem Sensori bisa direpresentasikan sebagai komputer (nyambung karena komputer rumah masih rusak nih...) :

1. keyboard, digunakan sebagai stimulus awal yang dilakukan untuk menimbulkan respon

2. rangkaian elektronika yang ada pada motherboard

3. prosesor komputer yang memproses informasi secara lebih lanjut

4. monitor, speaker dan printer yang menampilkan respon akhir

saat tombol pada keyboard tertekan sama seperti indra sensori manusia yang

menerima input sensori dari lingkungan (far sense, panca indra) dan dari

tubuh (near sense, vestibular, proprioseptif dan taktil)

rangkaian elektronika komputer seperti organ tubuh dan sistem persyarafan

kita yang bekerja secara terus menerus untuk mensupport otak berjalan secara

optimal.

prosesor sebagai pusat pengaturan informasi seperti otak yang mengatur kerja

seluruh bagian tubuh dalam menyikapi inut sensori yang diterimanya.

monitor, speaker dan printer adalah hasil yang dihasilkan dari diterimanya

informasi sensori (keyboard), lalu masuk pada sistem persyarafan dan organ

tubuh (rangkaian elektronika) dan diproses di otak (prosesor) lalu

diterjemahkan dalam bentuk pesan pada monitor untuk menampilkan gambar atau

tulisan, speaker dalam bentuk suara dan printer dalam bentuk print out.

saat terjadi masalah kita tentu akan melakukan pengecekan secara menyeluruh,

karena kesemua memiliki hubungan yang saling terkait satu dengan lainnya.

case study :

saat berjalan pada lantai yang basah entah karena air yang menggenang atau

sabun bahkan oli, beberapa dari kita mungkin merasa aman dan nyaman untuk

berjalan dengan menjinjit. mengapa? coba dilakukan dengan kaki bagian

belakang atau tumit... :-)

jari-jari kaki mungkin akan memberikan cengkraman yang lebih kuat saat

berjalan (input taktil) sehingga saat berjalan dalam posisi tubuh tersebut

beban tubuh tertumpu pada beberapa persendian kaki yang kontrol yang lebih

baik (proprioseptif) yang memberikan rasa aman walau ketidakstabilan alas

tempat kita berjalan (vestibular)

namun untuk berjalan kita juga menggunakan beberapa organ tubuh seperti

otot. saat menjinjit kita melakukan pemendekan otot pada area betis hingga

ke tumit yang menyatu suatu bagian yang disebut tendon achieles (tokoh

pahlawan pada era yunani kuno saat trojan war).

atau masalah pada organ pencernaan yang mungkin menyebabkan jalan

menjinjit pada anak berkebutuhan khusus.

jadi yang perlu dilakukan adalah melakukan observasi dan pemeriksaan pada

semua kemungkinan yang dapat menyebabkan kondisi berjalan secara

menjinjit... :-)

salam

taufiq



----- Original Message -----

From: Budi OT

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] JALAN JINJIT (pertanyaan Pak Emil)

Dear Pak Emil,

Jalan jinjit dapat disebabkan oleh berbagai faktor a.l.:

1. Memendeknya otot-otot paha bagian belakang (kelompok otot hamstring).

Untuk melihatnya minta anak untuk berdiri kemudian membungkuk kedua tangan

menyentuh di lantai bisa engga atau posisi duduk kedua tungkai lurus lalu kedua tangan menyentuh ibu jari kaki bisa engga kalau kedua aktifitas engga bisa dilakukan berarti ada pemendekan otot hamstring.

2. Disebabkan karena gangguang sistem somatosensori telapak kaki. Perlu di test dan di track kembali riwayat perkembangan anak semasa kecil. Tes jenis sensori/tekstur apa yang menjadi gangguan anak. (masing masing anak berbeda). jadi wawancara ttg sensory profile, observasi dan test (pakai screeningnya Winnie Dun (USA)sangat penting dilakukan. Training desensitisasi atau sensory reedukasi bisa dilakukan.

3. Karena memang perilaku repetitif yang terjadi pada otot-otot besar anggota gerak bawah jadi modifikasi perilaku untuk ini bisa dilakukan

4. Gerakan otot yang terjadi karena kontraksi yang tidak disadari yang bergerak pada level organ bukan atas perintah otak. jadi training motorik planning bermanfaat untuk ini.

Demikian semoga membantu.

Salam,

Budi, MSc.OT

Pediatric OT



----- Original Message -----

From: Emil Habli

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] JALAN JINJIT (pertanyaan Pak Emil)

Terima kasih banyak pak Budi.

Saya akan coba lakukan beberapa assessment sederhana sesuai dengan saran pak Budi.

Best Regards,

Emil Habli

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy