Testimoni dari seorang "mantan" Asperger

04/24/2008

----- Original Message -----

From: wahyu puspito

To: Peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Salam kenal dari mantan penyandang Asperger

Saya adalah seorang penyandang SA Sindroma Asperger berusia 23 thn. Sekarang saya sudah bisa berfungsi”normal”.

Salam kenal semua…...

Wahyu Pito



----- Original Message -----

From: Miko

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Salam kenal dari mantan penyandang Asperger

Wow... seperti nya ini yang pertama bukan, Rekan2 milis?

Senangnya.. saya harap mas Wahyu bisa terus membantu kami dengan memberikan komentar dari sudut pandang bukan orang tua sehingga kami bisa lebih mengerti anak anak kami yang special..

Rgrds/miko



----- Original Message -----

From: Leny Marijani

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Salam kenal dari mantan penyandang Asperger

Buat Wahyu,



Selamat bergabung yah...

Senang sekali kalau Wahyu mau sharing tentang pengalaman2 sampai saat ini, yang pasti berguna bagi kita2 orang tua.



Info ajah, sebenarnya Wahyu bukan penyandang SA/HFA yang pertama di milis ini. Sudah ada beberapa yang bergabung, tapi memilih untuk pasif. Semoga dengan adanya postingan Wahyu ini, yang lain juga mau ikutan posting. :-) sehingga milis kita ini tambah "meriah", kalau perlu nanti saya buat ajah milis khusus Individu ASD yang udah mulai remaja menuju dewasa.



Pak JD, minta Oscar ikutan juga. :-)



Salam,

Leny



----- Original Message -----

From: Emil Pk

To: Milis PK

Subject: Re: [Puterakembara] Salam knl dr "mantan" SA

Wah...

Welcome to the SN planet...! ups... ada yang keberatan ngga nich dengan istilah ini? Makin lengkap nich keluarga besar PK. Pembahasan permasalahan bisa lebih komprehensif.

Selamat bergabung Wahyu. Cerita donk perjalanan dan perjuangannya keluar dari SA.

Emil



----- Original Message -----

From: Eveline H

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Salam knl dr "mantan" SA

Saya setuju sekali (2x, 3x juga gak pa-pa) dengan usul bu Leny, tapi mbok ya

jangan dipisah dari kita2 yg anaknya masih kecil2 toh ya?

Kita pingin denger pengalaman mereka gimana, ya tentu baca bukunya juga

(btw, buku ke 2 OYD belum keluar?).

Kevin bu Leny juga tadi sudah kasih tips banyak, duh bagusnya. Oya,

kesimpulan surat tadi musti banyak anak juga ya biar ada temen latihan

ngobrol?? big grin big grin



----- Original Message -----

From: Prawitosari, LD (Lili)

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Salam knl dr 'mantan' SA

Hai Pito,

Salam kenal, senang sekali bisa berkenalan dengan anda...

Setuju dengan Bu Ev, jangan dipisah dong Bu Leny, biar kita juga bisa

tau how they survive, kayaknya penting banget buat kita2

Salam,

Lili (mama Katya ADHD)



----- Original Message -----

From: augustina k

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Salam knl dr "mantan" SA

Salam kenal juga Pito,

Senang Pito mau bergabung. Bagi-bagi cerita yach supaya anak-anak SN lainnya bisa mau terbuka juga dan cepat bangkit seperti Pito.

Salam,

Mamanya Adam



----- Original Message -----

From: Mieke R

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Salam knl dr "mantan" SA

Buat Pito,

Salam kenal juga dari saya, Bu Mieke... (yang lain jangan melotot gitu dong

kalo saya bilang "BU" Mieke... emang sini udah ibu2 khan??? *langsung

sanggulan*... hehehe), mamanya Aurel, Andre dan Hiroshi.... Tapi anak saya

yang Autistik Pure... artinya jelas2 HFA adalah Andre.... kalo Aurel, saya

gak jelas labelnya apa... pokoknya beda aja dari anak lain seusianya...

Hiroshi yang paling "Sempurna"... hanya ada sedikit hypersensitive pada

beberapa jenis makanan... (dulunya hampir semua, termasuk jeruk,tomat

dll).... hallah... ini perkenalan panjang bener yach.... Sekian dan terima

kasih dulu dech.... kapan2 disambung lagi aych...)

Welcome dech pokoknya... semoga Pito rela berbagi cerita ttg mantan

penyandang SA/HFA supaya kami bisa belajar banyak dan bisa membantu anak2

kami supaya bisa berkembang lebih baik dan bahkan sangat normal seperti mas

Pito. (apa wahyu sich???)

Salam kenal....

Mieke



----- Original Message -----

From: wahyu puspito

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] sebuah testimoni "mantan' SA

Salam sejahtera, semoga Tuhan senantiasa melimpahkan Berkat dan Rahmat-Nya kepada kita semua...

Saya tersanjung dengan sambutan Bu Leny kepada saya selaku anggota baru di milis PK ini. Juga saya do’akan semoga Tuhan senantiasa melimpahkan kasih dan kekuatan-Nya kepada beliau yang telah mengabdikan diri dan membaktikan hidupnya untuk memoderasi dan memanajemen lalu lintas milis dan situs PK tercinta ini. Setiap amal mulia akan dibalas dengan kemuliaan yang berlipat ganda. Amien...

Meski baru bergabung dengan milis PK beberapa hari lalu, sebenarnya saya sudah lama mengenal situs PK—kira-kira empat tahun lalu. Dari situs PK-lah saya mengenal tentang apa itu ADHD, autisme, dan SA. Dan dari sederet informasi di lembar-lembar virtual PK-lah saya menemukan jawab atas teka-teki terbesar di sepanjang hidup saya: bahwa saya memiliki ciri-ciri seorang SA (saya pengidap SA, begitu lebih tegasnya). Sebelumnya saya hanya diliputi dan dihantui kegelisahan tantang apa sebenarnya yang terjadi pada hidup dan kehidupan saya. Sejak kecil saya merasa ada yang tak beres dengan diri saya. Demikian pula tatkala menginjak remaja dan memasuki fase dewasa, teka-teki itu tak kunjung terjawab. Hingga tatkala saya melakukan searcing informasi via internet, sekira empat tahun lalu, dan kemudian menemukan beberapa buah situs psikologi, PK salah satunya, barulah saya perlahan tapi pasti menemukan ‘titik terang’ terhadap misteri dan tanda tanya terbesar dalam diri saya itu. Sekedar informasi saja, orang tua saya bukanlah orang yang memiliki wawasan luas seperti halnya para orang tua “special needers” yang tergabung di milis ini. Orang tua saya hanyalah orang desa yang jauh dari “rimba informasi”—baik buku maupun dunia virtual global ini, yang mampu memberikan titik terang pada apa yang terjadi dengan diri anak sulungnya ini. Lain ceritanya bila ortu saya berpendidikan tinggi dan berdomisili di kota besar, mungkin saya tak perlu terlalu lama memendam teka-teki itu, dan tak perlu susah payah mencari jawabnya sendiri. Tapi apapun yang telah terjadi pada diri saya, seperti apapun jalan hidup yang telah saya tapaki dan tempuhi selama ini, saya yakin semua memang sudah digariskan oleh Sang Pencipta. “Tak ada yang kebetulan dalam hidup ini,” begitu saya meyakini segala apa yang terjadi di dalam kehidupan ini. Tuhan memegang skenario hidup setiap hamba-Nya. Dan kita hanya diperintahkan ikhtiar semampu kita. Selebihnya adalah wewenang dan kuasa-Nya yang absolut, yang tak bisa dicampur-tangani oleh manusia—makhluk sempurna yang juga penuh kelemahan dan alpa ini.

Seperti laiknya semua pengidap SA maupun autisme, bertahun-tahun saya hidup dalam keterasingan diri. Keterbatasan “akses” dengan realitas dan keterbatasan diri dalam menjalin komunikasi dan interaksi dengan orang lain dan “dunia” adalah kelemahan paling fundamental dalam diri saya. Selama bertahun-tahun lamanya saya hidup dalam sebuah “dunia lain”—saya menyebutnya “penjara kaca”, terinspirasi dari sebuah lagu Dream Theater berjudul Glass Prison. Dalam sebuah “penjara kaca” itu, saya bisa memandangi hiruk pikuk kehidupan di sekeliling saya. Saya bisa melihat riuhnya kehidupan. Namun di lain sisi, saya tak bisa membaurkan diri di dalamnya. Ada sekat yang membatasi saya dengan dunia. Singkatnya saya terkurung dalam sebuah ruang imajiner: saya hidup dalam dunia saya sendiri, dengan “hukum kausalitas” tersendiri yang berbeda dari hukum kausalitas dunia riil.

Sejak kecil saya memang punya pikiran dan perilaku ‘aneh’. Saya hidup dalam sebuah ketidaklaziman. Kawan-kawan sebaya bahkan menganggap saya sebagai orang aneh—yang selalu punya ide-ide ganjil dan berperilaku eksentrik. Hidup dengan menjadi “orang berbeda” dari kebanyakan orang bukanlah sesuatu yang mudah untuk dijalani. “Keunikan diri” mengandung konsekuensi mahaberat di dalamnya. ‘Penolakan’ sosial adalah salah satunya—yang pada gilirannya akan melahirkan penolakan terhadap diri sendiri, dan pada titik kulminasinya (yang ekstrim) melahirkan sikap penolakan terhadap hidup. Frustasi dan depresi sudah menjadi “tamu” rutin yang datang setiap waktu—dan kerap tanpa terduga sebelumnya. Begitulah gambaran sederhana hidup dalam belenggu SA yang saya jalani bertahun-tahun lamanya.

Tapi akhirnya saya sendiri tersadar. Bahwa bukan hidup saya saja yang mengandung misteri dan teka teki. Hidup dan kehidupan dunia itu sendiri ternyata juga mengandung misteri dan ketakterdugaan, sehebat apapun rasio dan akal budi manusia dikerahkan untuk menyibak tabir rahasia alam dunia. Ada “Invisible Hand”—meminjam istilah Adam Smith, “nabi” ekonomi modern—yang turut menggerakkan kehidupan semua makhluk di dunia. Setiapkali merasa hidup saya telah jatuh pada titik nadir dan tak melihat lagi adanya peluang dan harapan, secara tak terduga muncul secercah cahaya terang yang kemudian menebarkan asa dan pengharapan untuk terus menjalani hidup. Hingga pada titik kulminasinya, kehidupan saya kembali ‘merosot’ dan menyentuh titik nadir lagi. Kemudian disusul oleh munculnya harapan dan asa dalam kesadaran diri, yang membimbing langkah saya untuk tak menyerah pada hidup. Begitu seterusnya. Singkatnya, hidup saya senantiasa berada antara keadaan penuh duka/keputusasaan dan keadaan penuh pengharapan.

Sejak kecil pula saya sudah menjadi “kutu buku”. Aktifitas membaca bagi saya adalah sama menyenangkannya—mungkin—dengan bermain dan “berhura-hura” bagi orang lain yang normal. Dan melalui aneka macam bacaan itulah saya menemukan ‘jalan’ untuk lebih memahami realitas yang terasa asing bagi orang-orang SA seperti saya ini. Buku adalah “sebuah penjelasan dunia dan kehidupan”, begitu saya menganggapnya. Semenjak duduk di bangku perguruan tinggi, empat tahun lalu, saya mulai menyentuh bacaan2 novel—terutama novel realisme (termasuk genre psikologi). Novel tetralogi Dunia di Balik Kaca (nobody nowhere) karya Donna Williams dan Finding Ben karya Barbara Leaslie juga sudah saya baca. Selain itu saya juga membaca novel-novel realisme lainnya seperti karya Pramoedya Ananta Toer dan banyak lagi yang lainnya. Melalui kisah-kisah manusia yang mengalami pahitnya hidup dan kejamnya dunia dalam novel-novel itulah saya menjadi lebih memahami dunia dan kehidupan dengan segenap hukum kausalitasnya. Kisah-kisah itu jualah yang pada akhirnya menggugah semangat dan inspirasi dalam diri saya untuk tak menyerah dalam hidup: saya menjadi lebih berani dalam menjalani hidup dan bergulat dengan kejamnya dunia—dengan segala kelemahan yang melekat pada diri saya, dan kelebihan yang dianugerahkan Tuhan di balik keterbatasan dan kelemahan itu. Pada akhirnya jua saya menyadari bahwa tiada manusia yang sempurna, dan saya—juga para “special needers” lainnya—hanyalah salah satunya.

‘Kenekatan’ dan keberanian dalam menjalani hidup itulah yang pada akhirnya mendobrak sekat pembatas antara saya dan dunia. Saya bisa keluar dari “penjara dunia” dan akhirnya ‘menyatu’ dengan hiruk pikuk kehidupan yang selama ini hanya bisa saya tontoni saja. Kini saya merasa bukan lagi hanya sebagai ‘penonton’, melainkan telah menjadi salah satu ‘pemain’ di dalam arena kehidupan—dengan segala ‘keunikan’ dan kelemahan diri saya. Saya merasa telah meraih “kemenangan besar” dengan meruntuhkan “penjara kaca” yang bertahun-tahun mengurung saya itu.

Dan sekedar informasi, selama ini saya telah membuat “dokumentasi” tentang masa-masa keterpenjaraan saya dalam “penjara kaca” itu di dalam sebuah catatan harian/diary. Saya berkeinginan untuk membukukannya dan menerbitkannya dengan tujuan untuk berbagi ‘informasi’ kepada semua orang yang berminat untuk memahami dunia dan kehidupan orang2 SA—dan special needs lainnya—seperti saya. Kini, setelah ‘terbebas’ dari belenggu SA, saya juga rajin menulis—namun bukan tema keterpenjaraan, melainkan tema ‘keterbebasan’. Bagi rekan2 milis yang mungkin berminat mengetahui bagaimana seorang ‘mantan’ SA telah ‘berhasil’ mematahkan belenggu hidupnya, dan kini bisa menjani hidup dan kehidupan—dan ‘berkarya’—laiknya orang normal, bisa mengakses address blog berikut:

http://in-the-glass-prison.blogs.friendster.com atau blog baru saya di http://ruanglapang.blogspot.com

Sekian dari saya, maaf apabila imelnya terlalu panjang, dan salam hangat selalu...

Wassalam,

Wahyu (SA-23 tahun-domisili di Jember)



----- Original Message -----

From: Pingkan-G-Ari-Eve

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sebuah testimoni "mantan' SA

Agak tercengang membaca kesaksian dari mantan SA, dik / nak Pito.

Bagus sekali cara menulisnya, "dalam", dan mengharukan.

Kelihatannya lebih dewasa dari usianya yg 23 (?) tahun.



Ditunggu sharing berikutnya ya...

GBU.



----- Original Message -----

From: Julia Ng

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sebuah testimoni "mantan' SA

Hanya ada 1 kata membaca karya anda : "LUAR BIASA"

Salam hangat

Julia



----- Original Message -----

From: dawarja A

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sebuah testimoni "mantan' SA

Untuk Wahyu Puspito,



Aku menelusuri BlogMu...

TulisanMu mencengangkan

ImajinasiMu luar Biasa

Seandainya itu semua di Bukukan apalagi dalam dua versi (Indonesia dan inggris), saya sangat yakin tulisan-tulisanMu menjadi Buku Best Seller di seluruh Dunia.



TulisanMu sangat Mencengangkan dan Luar Biasa.

Buatlah Buku dan itu akan menjadi Best Seller. 1000% yakin.



Agustinus Dawarja

Papa Madeleine (8thn)



----- Original Message -----

From: Detty Aziz

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sebuah testimoni "mantan' SA

Kpd Sdr Wahyu,



Saya kagum, kefasihan anda dalam mengungkapkan apa yang ada di fikiran anda sangat HEBAT.. Harapan untuk kami semua mungkin. Salah satu kendala utama bagi "penyandang" autism adalah kebebasan atau keahlian mengungkapkan pa yang ada difikirannya. Anda hebat sekali.



Salut.

Detty

----- Original Message -----

From: Donny Setyo W

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sebuah testimoni "mantan' SA

Subhanallah, testimoni ini semoga jadi semangat bagi kita semua terutama utk saya sendiri, utk menjalani hidup bersama Anak Ajaib kita.

Omong-omong Dik Pito apa dulu cenderung pendiam apa yang hiperaktif? Maaf lho sebelumnya atas pertanyaan ini yang karena mungkin bukan hanya saya penasaran bagaimana latar belakang Pito.



Trim's

Donny

----- Original Message -----

From: Alexander / Ira Pawiro

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sebuah testimoni "mantan' SA

Mas Pito,



Wah.... salut dengan email Anda ini

Setuju dengan pak Agus, ada baiknya tulisan-tulisan Anda dipublikasikan.....



Two thumbs up !!!

Gaya bahasa bertutur yang runut, penuh pemikiran mendalam. Bravo !!!



Jika tidak keberatan, bisakan Anda menceritakan masa kecil Anda ?

Saya membayangkan Anda sebagai seorang pecinta buku, pemikir dan mungkin cenderung 'menyendiri' dalam glass prison ?

Bagaimana masa sekolah dilalui ? Apakah seperti rata2 SA lainnya Anda punya kemampuan super di satu bidang pelajaran ?



Semoga semakin banyak buah pemikiran dan pengalaman Anda yang menjadi pembelajaran bagi kita semua.

Ditunggu email2 selanjutnya ya



Ira

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy