Bullying pada anak saya

02/01/2008

----- Original Message -----

From: M. Yassir

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Maaf sekadar Curhat....



Untuk kesekian kalinya saya menulis masalah bullying yg menimpa anak saya Fajar (autis verbal)

Hari ini dgn terpaksa saya menarik anak saya dari sekolah SD AL Jannah di kawasan Cibubur termasuk juga adiknya ... Saya udah gak tahan dan menyiapkan Surat Pembaca seperti dibawah ini....



BULLYING PADA ANAK AUTIS DI SD AL JANNAH



Pada bulan Juli 2007 kami memindahkan kedua anak kami Fajar (autis verbal usia 10 tahun pd tgl. 14 Januari nanti) dan adiknya Faisal dari sekolah alam di Vila Nusa Indah Bekasi ke sekolah Alam di Al Jannah Cibubur. Pertimbangan kami adalah karena sekolah yg lama ada konflik internal antara yayasan, sekolah & guru. Sehingga kami memutuskan mencari sekolah yg lebih seattle dan jatuh pada SD Al Jannah karena kami lihat sarana sekolah yg lengkap dan selain itu juga ada program khusus untuk anak-anak autis. Ada harapan besar kami atas sekolah tsb.



Minggu pertama sekolah, kami sangat senang sekali Fajar tampak happy dan ditunjuk menjadi Ketua Kelas. Kami bangga ...ternyata anak autis ada juga yg bisa menjadi Ketua Kelas. Memang anak kami autisnya agak unik yaitu suka kenalan sama semua anak di setiap kelas dan berusaha ngobrol dan gabung sama mereka. Meski lama-lama ngomongnya akan kelihatan aneh.



Setelah 1 bulan diluar dugaan kami, terjadi bullying pada Fajar. Perut fajar biru-biru demikian pula lengan dan pahanya. Fajar dipukul dan ditendang sama temen-temennya. Kami gak tahu kenapa itu sampai terjadi. Kami mendapatkan informasi bahwa di sekolahan Fajar kadang suka mengatur temennya. ..... tetapi dia tidak pernah mengganggu atau menyerang ...kalo kadang bersikap aneh...iya.... Ketika kami arahkan Fajar agar tidak terlalu mengatur temennya. Fajar malah berkilah "Aku kan Ketua Kelas"...

Walah...jawabannya?! Kamipun hanya minta agar dia tidak nakal dan mengganggu atau terlalu mengatur yg lain. Kamipun menyampaikan hal ini ke pihak sekolahan.



Selang tidak berapa lama kasus bullying kembali dialami Fajar.

Fajar kelihatan murung & malas sekolah. Selain itu Fajar sering keluar BAB mencret dicelananya tanpa dia merasakannya. Sudah seminggu dia seperti itu dikelas. Kamipun membawanya ke ahli pencernaan langganan kami Prof Agus ternyata anak kami mengalami gangguan psikis sehingga keluar mencret tanpa dia sadari. Apa yg terjadi dalam hati kami? Istri saya baru ingat bahwa beberapa hari yg lalu waktu dia mengantar Fajar sekolah, ada temennya yg mendorong dia dan menendang Fajar hingga terjatuh dan itu diketahui wali kelasnya. Tapi heran wali kelasnya diam saja tidak berusaha menolong anak saya yg terjatuh & mau menangis. Itu yang ketahuan belum yang lainnya.



Kamipun pada awal September 2008 komplain keras kepada pihak sekolahan karena tidak ada respon yang baik atas apa yg terjadi pada anak kami. Kami sampaikan akan menarik Fajar dari sekolahan dan minta uang pendaftaran yg telah kami keluarkan agar dikembalikan.

Tetapi pihak sekolahan tidak mau karena itu sudah menjadi policy sekolah dan yayasan bahwa uang yang sudah dibayarkan tidak dapat ditarik kembali. Meski kami selaku konsumen berargumen bahwa ketika pihak sekolah tidak mampu memberikan rasa aman dan nyaman pada anak didik kami seharusnya berhak untuk meminta uang tsb kembali. Ketika pihak sekolahan menyampaikan bahwa anak kami sebaiknya didampingi oleh shadow teacher, kami keberatan karena sudah lama dia tidak mau didampingi shadow teacher dan lagi mengapa harus ada shadow kalau tugasnya hanya untuk agar anak saya tidak di bullying temen-temennya. Sekolahlah yg paling bertanggung jawab agar anak yg agresif di kelas tidak melakukan bullying kepada siapapun.



Sehari setelah kami komplain, kepala sekolah, guru dan temen-2 Fajar datang kerumah untuk meminta maaf dan membujuk Fajar agar mau bersekolah kembali. Fajar sangat senang atas reaksi temen-temennya dan mau bersekolah kembali. Tetapi beberapa minggu kemudian kembali bullying terjadi lagi pada Fajar. Kami sangat kecewa dan udah capek untuk komplain.



Kami berkesimpulan bahwa ketika pertama kali pelaku bullying dibiarkan atau pihak sekolah tidak tegas melakukan pencegahan agar tidak menular ke yang lain maka kejadian tersebut akan cenderung terulang kembali. Karena ternyata korbannya tidak hanya anak saya tetapi juga yang lain dengan pelaku yang hampir sama. Dan kami juga berkesimpulan bahwa anak kami kurang diterima dengan baik oleh teman-temannya karena keautisannya. Dan kami juga berkesimpulan bahwa Sekolah yang mahal atau sekolah yang mempunyai fasilitas yang bagus dengan program khusus untuk anak spesial needs tidak menjamin memberikan rasa aman dan nyaman bagi anak-anak spesial needs. Komitmen untuk itu harus didukung oleh semua pihak, Kepala Sekolah, Guru, Yayasan, orang tua murid dan anak didik yang lain. Bukan menganggap justru anak autis itu menjadi BEBAN.



Awal tahun 2008 kamipun menarik kedua anak kami dari sekolahan tersebut. Dan sangat menyesakkan bagi kami ketika Fajar bangun pagi Dia selalu bertanya "Ayah kita cari sekolah baru yok Yah, yg anaknya gak nakal ya Yah!"



Terus terang kami sebagai orang tua kecewa sekali, karena kami telah mengeluarkan biaya yang mahal untuk sekolah di Al Jannah hanya untuk 6 nulan. Tetapi mungkin itu lebih baik daripada anak kami kehilangan rasa aman dan nyaman selama di sekolahan.

M. Yassir

Ayah Fajar

----- Original Message -----

From: Miko

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Dear Pak Yassir,



Saya ikut prihatin mendengar kejadian yang menimpa Bapak. Untung nya sampai sekarang belum pernah menimpa kami dan mudah mudahan tidak pernah.



Saya rasa tindakan Bapak utk menarik anak-anak Bapak sudah cukup tepat, karena Bapak pun sudah mencoba utk mengangkat hal ini ke pihak sekolah (walaupun dicuekkin). Termasuk tindakan curhat ini, karena bisa lebih plong Pak bisa menceritakan daripada di pendam sendiri bisa jadi kanker. Memang sulit kalo lembaga pendidikan hanya focus di profit oriented dan bukanya melayani sesama. Setidaknya itu yang saya lihat di sekolah sekolah baru sekarang ini (dengan fasilitas mewah dll serasa menjual packaging). Saya juga tidak men-judge semua sekolah. Kita kembali ke oknum masing masing lah. Banyak juga guru guru yang mulia dan murni punya dasar menjadi guru utk mendidik bangsa.



Semoga sukses Pak mencari sekolah yang baru!



Rgrds/

miko

----- Original Message -----

From: Acieta

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Ikut prihatin baca email ini… makin pusing mo cari sekolah buat Neo karena tahun ini ada rencana memasukkan Neo ke playgroup (umurnya 4 tahun februari besok)… Komunikasi Neo masih on-off, belum bisa cerita. Mau ngomong kalo dia yang ada perlu, baru bisa 1-2 siklus itupun dengan bantuan… (walaupun gitu, tetap bersyukur Neo ada kemajuannya setitik demi setitik)



Cieta (Ibu Neo)

----- Original Message -----

From: Yuke

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Kami ikut prihatin, dan tindakan yang bapak lakukan sudah tepat.

Salam

Yuke

----- Original Message -----

From: Slamet Widodo

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Saya sangat sedih membaca apa yang dialami Fajar di sekolahnya.

Bahwa bullying itu terjadi di sekolah reguler yang sudah berani menawarkan program khusus untuk anak SN, membuktikan bahwa itu hanya untuk kepentingan komersial belaka. Saya rasa memang di sekolah itu tidak kondusif buat Fajar. Semoga Pa Yassir segera menemukan sekolah yang tepat dan tbukan sekolah yang sekedar memanfaatkan kesanggupan ortu anak SN untuk membayar mahal bagi program semu mereka.



Slamet Widodo

----- Original Message -----

From: refly

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Ibu dan bapak,

serba salah juga kita sebagai orang tua..cerita anak kami juga sama , ketika TK, anak kami Aldi juga sering mendapat perlakuan kasar dari teman kelasnya , dari mulai di pukul sampai di dorong ( biasanya rebutan sesuatu atau tempat) dan biasanya pelakunya itu2 juga , karena postur anak SN biasanya bongsor jadi kami mengajarkan untuk tidak membalas atau memukul karena takut akibatnya, tapi akhirnya kami menyerah karena orang tua dari anak-anak yg membullying sepertinya ngga mau tau.., akhirnya karena sakit hati dan marah walaupun dgn berat hati, kami membolehkan Aldi kalo ada yg pukul kamu pukul lagi dst.., urusan orang tua gimana nanti biar di selesaikan sesama orang tua deh.., beberapa kejadian sehingga kami di panggil ke sekolah , selalu kami jelaskan bahwa Aldi tidak akan memukul atau menyerang kalo tidak di ganggu , jadi kami anggap itu adalah cara dia membela diri , dan itu kami lakukan sampai sekarang di sekolah dasar , dan bebrapa kali di buku penghubung ada catatan , tapi saya anggap itu proses pembelajaran hingga mereka tau bahwa anak autis juga manusia bukan mahluk aneh (sebutan beberapa orang tua). jadi biarlah mereka yg menyerah bukan kita , karena hak dan kewajiban sebagai siswa tidak dibedakan antara anak NT dan SN , bahkan kita harus membayar lebih untuk spesial needs nya.

Refly

Papanya 'Aldi 8 thn'

----- Original Message -----

From: Siti Aminah

To: peduli-autis@puterakembara.org

Sent: Wednesday, January 09, 2008 6:14 PM

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

BRAVO...Pak Refly saya setujuuuu... banget2!



----- Original Message -----

From: Wahyudi

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Pak Yassir yth,

Bukankah disekitar perumahan anda ( satu komplek ) sudah ada sekolah khusus yakni INSANIA. Kebetulan anak saya sekolah disitu.

Yudi



----- Original Message -----

From: Ida Siti

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Kami sekeluarga ikut prihatin pak,

semoga bapak segera mendapatkan sekolah yang benar benar tepat buat ananda Fajar.

Sekolah yang bisa nyaman , tenang, senang....buat Fajar.



Amin..



----- Original Message -----

From: widodow

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Saya turut prihatin pak Yassir.

Surat pembacanya harus segera dikirim kebeberapa media massa, terutama media massa yang oplahnya besar

Anak kita di diskriminasi aja sewotnya dah gak ketulungan, apalagi sampai dianiaya begini dan gurunya ngediemin pula...walahhhh Tapi Pak Yassir, ada baiknya Bapak selidiki dulu duduk perkara sebenarnya supaya pihak Bapak ada pada posisi yang baik... yakinkan dulu bahwa ananda Fajar tidak melakukan penyerangan ataupun kekerasan terhadap anak lain.... kalau itu sudah positif 100%, then go without any doubt

Jangan pernah berhenti untuk mencarikan pendidikan buat anak SN kita Pak

Maju terus.....

Widodo Wijono

----- Original Message -----

From: Milan

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Pak Yassir,



Ikut prihatin membaca email bapak.

Secara pribadi saya setuju jika bapak menarik putra bapak dari sekolah tsb.

Untuk bahan pembelajaran kepada pihak sekolah bapak bisa menuntut secara hukum pihak sekolah yang tidak mampu melindungi anak didiknya dengan target minimal sisa uang sekolah dapat dikembalikan. Ada yang berprofesi advokat nggak ya di milis ini untuk membantu menangani masalah spt ini?



Rgd,

Milan

----- Original Message -----

From: Rosita P

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Pak Yassir,

Turut berduka atas peristiwa yang telah terjadi dan menimpa Fajar. Keputusan yang sangat tepat mengeluarkan Fajar dan saudaranya dari sekolah tersebut.Semoga Pak Yasir akan bisa menemukan sekolah yang tepat, atau gak nyoba Homeschooling Pak?

Salam,

Rossie

----- Original Message -----

From: meily b

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Pak Yassir,

saya sangat sedih sekali membaca kasus yang dialami ananda Fajar. Mudah-mudahan Fajar tidak mengalami hal yang serupa di tempat yang baru.

Btw, mengenai surat pembaca, sebaiknya dikirimkan ke banyak media cetak. Jangan hanya 1 atau 2 majalah/koran saja. Mengenai alamat media-media, bapak bisa browsing alamat via internet atau ke tempat orang yang jual koran/majalah eceran di halte-halte bis.

Salam,

Meily

----- Original Message -----

From: DH

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Pak, turut prihatin atas apa yang terjadi pada Fajar.

Sampai geram banget rasanya kalau dibayangin kejadiannya.



Keputusan memindahkan Fajar dari sekolah tsb sudah benar, sabar2 aja yah Pak, semuanya entah yang baik atau yang buruk, pasti ada balasannya.



Regards

DH

----- Original Message -----

From: Lili P

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Dear All,



sebetulnya nggak hanya anak2 SN aja kok yang diperlakukan kasar oleh teman2nya, contohnya kakaknya katya, laki2 waktu TK sering banget diperlakukan kasar sama teman yang badannya lebih besar dari dia, tapi berhubung anakku yang laki ini termasuk manis dan cinta damai jadi nggak pernah bales. karena sering diperlakukan kasar,akhirnya saya suruh dia untuk bales perlakuan kasar temannya. ternyata manjur lho temannya ini nggak pernah berani lagi untuk berlaku kasar terhadap anak saya...mungkin sekali2 perlu kali ya untuk ngebales biar kapok....



salam,

Lili Prawito

----- Original Message -----

From: Lulut

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

turut prihatin ya pak Nasir, kalau boleh kasih saran sih, shadow teacher itu ada memang utk anak2 khusus, jadi kalau diperlukan dan memungkinkan, kenapa tidak?

memang kita sedih, tp kita tdk bisa merubah semua yang ada, merubah hilangnya anak2 nakal di sekolah.. yang penting anak kita dijaga secara fisik, sedikit aja ada yang mendekat mau menyakiti, ada yang mengusir menjauhkan.

Ok d pak, all the best ya utk Fajar..



Lulut

----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Pak Yassir,

Turut merasakan sedih, geram dan kecewa.

Saya setuju bahwa bapak menarik anak-anak dari sekolah tersebut. Setuju dengan pak Widodo untuk mencari kebenarannya dulu sebelum maju perang dengan tulisan ke media cetak.

Setuju dengan Meily tentang kirim jangan ke satu jenis koran saja.

Nah, untuk itu, barangkali sebaiknya bapak dan ibu membaca ulang surat pembacanya, supaya lebih singkat-padat-faktual. Jadi fokus kepada permasalahan inti = bullying terhadap anak sekolah, sementara pihak sekolah tidak melakukan apapun. Cari fakta secara aktual dari lapangan, kalau perlu lengkap dengan data tanggal terjadinya, dan kronologis peristiwa.

Masalah anak special needs harus diungkapkan, tetapi seperti kata ibu Lily tentang kakaknya Katya, bullying ini benar2 mencemaskan karena terjadi pada semua anak (bukan hanya yang SN saja)....

Lepas dari segala permasalahan tersebut di atas, ada baiknya juga secara obyektif membicarakan dengan Fajar, seberapa jauh peran dia dalam kasus ini. Saya berharap hal ini tidak sampai terjadi lagi,

sehingga semua faktor sebaiknya kita telusuri untuk dapat diminimalisir, bahkan Insya Allah dihilangkan. Bukan tidak mungkin sikap anak-anak kita juga turut menjadi pemicu terjadinya bullying

(selain memang adanya oknum2 yang berbakat jadi teroris dari kecil). Anak-anak kita jelas bersikap seperti mereka bukan karena sengaja, tapi karena tidak tahu. Baiknya sih, ya makin sering diberitahu

sehingga makin 'sadar lingkungan'.

Semoga keluarga makin kuat, makin tahan banting menghadapi berbagai permasalahan yang selalu menghadang langkah kita bersama anak-anak terkasih kita.

Tetap semangat, pak.

Jangan pernah lupa bahwa Allah itu tidak pernah tidur.

salam prihatin,

dyahpuspita

----- Original Message -----

From: Eveline H

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Pak Yassir,

turut sedih & prihatin.

Kirim ke majalah Tempo, koran Tempo juga...

SP, SH, Kompas cyber, Kompas cetak...

----- Original Message -----

From: Leny Marijani

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Fw: Bullying pada anak saya

Pak Yassir,

Sungguh saya turut prihatin atas peristiwa bullying yang menimpa Fajar.

Aaahhh..... walaupun kita semua sadar kalau anak-anak kita itu sangat riskan dengan yang namanya perlakuan tidak senonoh dari temen2nya, tapi tetep ajah hati ini rasanya sakiiittt... tiap kali membaca ada peristiwa bullying menimpa salah satu anak kita.

Pak, saya setuju dengan saran yang dikatakan pak Widodo dan ibu Ita.

Untuk melempar surat ke Media, kita memang harus hati-hati dan harus berdasarkan data yang akurat. Tidak bisa berdasarkan perasaan dan menurut info (katanya), apalagi kesimpulan2 kita sendiri. Kita harus benar2 survey ke sekolah dan menanyakan "saksi2" yang melihat peristiwa itu. Fajar juga bisa ditanyai dengan hati-hati. Guru-gurunya juga. Saya yakin di antara guru2 dan bahkan teman2nya (yang mungkin tidak peduli) pasti ada yang masih peduli dan punya hati nurani. Buktinya sehabis komplain Bapak itu, ternyata kepsek, guru, dan temen2 Fajar datang ke rumah bapak untuk minta maaf dan membujuk Fajar kembali ke sekolah. Saya lihat masih ada lah.. "niat baik" dari sekolah dalam hal ini.

Lalu kalau boleh tahu, sewaktu sekolah menganjurkan Fajar didampingi shadow teacher, kenapa Bapak menolak? Masalah Fajar tidak mau didampingi, rasanya bisa diberi pengertian pada Fajar, bahwa kehadiran shadow akan membuat Fajar lebih "aman". Apakah shadow teacher yang dianjurkan oleh sekolah itu disediakan oleh pihak sekolah atau orang tua yang harus cari sendiri? mengingat ngakunya kan sekolah tsb. punya program khusus untuk anak autis.

Kadang2 ada beberapa anak SN yang memang sangat membutuhkan shadow teacher. Seperti kata ibu Lulut, ini sebenarnya bisa menguntungkan anak kita juga. Minimal ada orang yang "menjaga" fisik dan mencegah anak-anak lain melakukan bullying, atau minimal ada "saksi" lah.... siapa yang bikin ulah duluan, apakah anak kita yang memang mengganggu atau anak lain. Shadow teacher setahu saya juga bisa berfungsi memberi penjelasan pada anak2 lain tentang anak autis, bahwa anak autis itu memang berbeda tapi tidak boleh diolok2, harus saling menghormati, dll.

Sebenarnya mah, ini tugas guru yah...tapi kalau muridnya terlalu banyak dan gurunya cuma satu, mana bisa guru memantau semuanya. Jadi dengan adanya shadow teacher, minimal ada yang focus untuk menjaga anak kita.

Kalau saya jadi Bapak, sebelum mengeluarkan anak dari sekolah tsb. saya akan "berjuang" lebih keras lagi agar pihak sekolah (kepsek dan guru) mau menuntaskan masalah Fajar yang dikerjain temen2nya agar masalah menjadi jelas. Minta tanggung jawab sekolah dalam hal ini. Kalau sekarang anak bapak keluar (Fajar dan Faisal), sekolahnya yang "keenakan" dong.... (gak rela deh... saya kehilangan uang pangkal yang tentunya tidak kecil hanya untuk 6 bulan untuk 2 anak lagi, dan bukan karena kesalahan di pihak kita).

Saya yakin seyakin2nya masih ada sekolah lain yang lebih baik dan cocok bagi Fajar dan Faisal, tapi terlebih dahulu, harus minta tanggung jawab dari sekolah yang ini dulu sampai tuntas. Kalau sudah ketahuan dengan jelas bahwa pihak sekolah memang sudah give up dan tidak bisa menangani perilaku Fajar lagi (misalnya) harus minta pernyataan dalam bentuk tertulis.

Dari situ, baru kita bisa membuat surat pembaca dengan akurat.

Maaf kalau sarannya agak ribet.

Tapi kalau surat pembaca yang kita sebarkan itu cukup akurat, nantinya jawaban apapun yang diberikan pihak sekolah tidak akan ada artinya.

Ini bisa jadi "pelajaran" juga buat sekolah lainnya untuk tidak ignore anak2 SN. Semua anak entah apapun kondisinya, punya hak yang sama untuk mengenyam pendidikan.

Oyah.... walaupun punya hak yang sama dalam pendidikan, saya juga ingin mengingatkan bahwa bagi komunitas kita ini, "sekolah" bukanlah satu-satunya bagi anak kita untuk menuntut ilmu.

Yang penting kita tetap semangat, jangan putus asa yah Pak.

Doa kita semua menyertai Bapak dan keluarga.

Salam,

Leny

----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Fw: Bullying pada anak saya

SETUJU!

Sekolah bukan satu-satunya wadah bagi anak-anak kita untuk mengejar masa depan.

--dp--

----- Original Message -----

From: Wina W

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Bullying pada anak saya

Turut prihatin atas kejadian yang menimpa Fajar. Mudah-mudahan tidak terulang lagi dan Fajar cepat pulih kembali.



Sharing sedikit mengenai penanganan kasus bullying di sekolah anak saya, Gilang kelas 5 SD.

Sekolah Gilang mempunyai kebijakan anti bullying, sehingga begitu terjadi kejadian seperti ini tindakan sekolah tegas dengan hukuman dikeluarkan dari Sekolah. Sebelum sampai pada hukuman ini, pihak sekolah melakukan pembinaan terlebih dahulu kepada pelaku maupun korban dalam program "peer mediation". Begitu juga orang tua pelaku maupun korban dilibatkan agar pembinaan yang sama dapat dilakukan juga di rumah. Apabila setelah dibina masih kejadian dan berulang maka hukuman yang paling keras yaitu dikeluarkan dari Sekolah akan diterapkan. Kampanye anti bullying juga terus menerus dilakukan.



Gilang belum pernah mengalami bullying di sekolah, namun saya dan suami selalu mengingatkan Gilang untuk menjaga sikapnya yang agak kurang pas dan "aneh" di mata teman-temannya yang akan membuat marah teman-temannya. Karena ada kemungkinan sikap anak kita yang memicu terjadinya bullying. Meskipun demikian tetap tindakan bullying adalah tindakan yang tidak boleh dilakukan.



Sabar ya.. Pak Yassir dan yakin Alloh SWT tetap melindungi anak-anak kita.



salam,

Wina

----- Original Message -----

From: haryanto

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Buat Pak Yassir

Dear Pak Yassir,



Setahun yang lalu Dimas juga mengalami hal yang sama. Nggak tahu ada masalah apa, tiba2 Dimas di datangi 3 orang anak kecil di dekat rumah setelah itu Dimas dipukuli ala smack down.

Setelah kejadian itu, Dimas saya tarik dari pergaulan. Saya pikir interaksi sosial tidak harus selalu dengan teman sebaya. Orang tua juga bisa menjadi teman sebayanya asal kita sebagai orang tua mau belajar tentang avatar, Naruto, spongebob, ultraman gaya. Saya sekarang sudah berubah jadi anak2. Soalnya saya sudah lebih dari 1 tahun hidup bersama Dimas dalam arti yang sesungguhnya.

Sekarang Dimas sangat bergantung sekali dengan saya untuk urusan interaksi.

Sangat susah dan berat memang mengasuh anak autis, apalagi Dimas mulai tahun ajaran kemarin sudah tidak mau sekolah. Jadi segala macam informasi mengenai pelajaran sekolah Dimas, saya yang tangani sendiri.



Salam,

Haryanto ( bapake Dimas )

----- Original Message -----

From: Ronny G

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Buat Pak Yassir

Dear Pak Haryanto, Pak Yassir dan Rekan Milis



Beberapa bulan lalu Deus pernah diganggu oleh anak paling bandel dan paling besar di kelasnya (kelas 1 SD). Anak itu memukulkan (tidak keras) gulungan 2 - 3 kertas kerja di kelas ke Deus; teman-teman dan gurunya semua melihat kejadian itu karena terjadi di dalam kelas, trus pengasuh Deus dikasih tau tentang kejadian tersebut. Keesokan harinya si ibu dikasih tau oleh pengasuh Deus tentang anaknya, dia minta maaf dan menegur anaknya.



Sampai hari ini Deus saya bebaskan bersosialisasi dengan siapa saja, hanya saja masalah terbesar Deus tidak bisa antri (di sekolah dia mau antri). Dengan keluarga dekat, terutama dengan para sepupunya, kesempatan saya kasih seluas-luasnya. Lumayan, sekarang Deus sudah mulai minta mau main ke tempat saudara; permintaannya sudah spesifik, misalnya : "Deus mau main ke rumah Yossi di Pekayon".



Sama juga Pak Haryanto, selain sponge bob, naruto, avatar, saya juga banyak tau tentang barney, bob the builder, thomas, dll. Kebetulan di Cikarang sedang ada pembangunan fly over, Deus menyebut crane sebagai Lofty, compactor sebagai rolley (keduanya karakter di bob the builder). Saat itulah kami masuk kasih tau bahwa lofty itu crane, rolley itu compactor, dorothy itu salah satu jenis ikan mas, patrick itu bintang laut, de-el-el.... Dan perjalanan kami jadi fun...



Salam,

RG

----- Original Message -----

From: Linda

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Fw: Bullying pada anak saya

Pak Yassir,



Saya setuju dengan bu Leny tentang masalah shadow di sini. Peran atau fungsi shadow sangat luas sekali, tidak hanya mendampingi dalam hal akademis saja. Mungkin Fajar sudah tidak memerlukan shadow dalam hal akademis, tetapi untuk mengarahkan dalam bersosialisasi.



Saya jadi ingat materi dalam seminar Contemporer Behavior Therapy, juga dalam buku RDI, bahwa kita tidak dapat mengharapkan dengan menjeburkan anak ASD ke lingkungan NT anak ASD dapat langsung belajar bersosialisasi. Harus ada pendamping yang mengarahkan, bahkan perlu latihan-latihan sebelum anak dapat menerapkan social skills dengan teman-teman. Misalnya, Fajar merasa sebagai ketua kelas dia berhak mengatur teman-temannya, nah bapak dan Fajar bisa latihan di rumah (role playing), bapak sebagai ketua kelas dan Fajar sebagai murid, kemudian berganti peran dan bapak yang menilai mana yang boleh dan tidak boleh diatur oleh Ketua Kelas.

Rgds,

Linda

----- Original Message -----

From: Lukie D

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Fw: Bullying pada anak saya

Saya setuju yang ini (bu Leny) sama bu Lili Prawiro...

Walaupun emang menjengkelkan sekali (saya sebel abis nih baca kasusnya), usahakan tidak terbaca dalam surat pembaca tersebut. Sajikan sebanyak mungkin fakta yg mendukung opini bapak, namun hindari membuat konklusi untuk pembaca. Share aja langkah bapak untuk kebaikan anak, dan sebutkan kebaikan anak yang bagaimanakah yang bapak inginkan. Kita kan gak minta anak-anak kita dibedakan / dikhususkan ?? Saya baca di posting bapak, bullying di sekolah ini gak cuman kpd anak bapak, namun juga anak lain, oleh pelaku yang sama... Mungkin diskusi sesama ortu korban bisa membantu pendekatan pada sistem.



Di semua tempat, selalu saja ada konflik. Kepindahan usahakan karena mencari sesuatu yang lebih baik, bukan untuk meninggalkan masalah. Karena masalah ada dimanapun kita berada. Mungkin adalah lebih baik jika kita bisa belajar 'to deal' with it. Karena saat kita berusaha 'deal' dgn masalah dengan cara yang positif (bukan berarti memendam rasa, mengalah dan frustasi), kita sekaligus memberikan contoh pada anak untuk 'deal' dengan masalah. Semoga ini akan menjadi bekal untuknya untuk menjadi anak yang lebih mandiri (mampu melindungi diri sendiri) dari bullying di kemudian hari. Aura kemarahan yang kita pancarkan akan terserap oleh anak, lebih cepat dari esensi masalah itu sebenarnya. Begitu juga aura 'kekalahan' atau aura 'ketenangan' sekaligus 'mrantasi' (sorry ini bhs Jawa, gak ngerti padanannya yg tepat dalam bhs lain :-) ..). Tergantung mana yang kita inginkan sampai ke anak-anak kita...



Kadang kita sibuk untuk bagaimana menghukum atau membalas semua perlakuan buruk yang menimpa anak kita... (kalo dipikir-pikir lose - lose)

Mungkin... yah sekali lagi MUNGKIN..., yang dibutuhkan anak-anak adalah dekapan sayang dan keyakinan serta ketenangan orangtua, serta contoh/bimbingan bagaimana memanage diri menghadapi situasi semacam ini.



Semoga kita menjadi lebih baik dan lebih baik lagi setiap satuan waktu,



My symphaty,

Lukie

----- Original Message -----

From: M. Yassir

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Thanks respon Bullying pada anak saya

Selamat Pagi Semuanya.

Terima kasih banget atas atensi dari rekan-rekan semua.

Segala masukan akan menjadi pertimbangan kami untuk melangkah lebih lanjut.

Best Regards

M Yassir

(ayahanda Fajar autis 10 thn)



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy