ADD/ADHD bukan Autis

01/15/2008

----- Original Message -----

From: Rani N

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Buku ADHD bahasa Indonesia

Ada info bagus tentang ADHD. Kemarin pak Stanley mengirimkan fotocopy cover buku ADHD yang sudah diterjemahkan ke bahasa kita...

TERIMAKASIH BANYAK PAK STANLEY...

Judul:

"Menjadi Orangtua Anak ADD/ADHD"

"Tidak Sanggup? Tidak mau?"

Strategi praktis mengatasi masalah perilaku anak dengan kelainan

ADD/ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder)

Oleh: David Pentecost Penerbit: Dian Rakyat, 2004

Judul Asli: Parenting the ADD Child

Saya belum mendapatkan bukunya, nanti kalau gramedia atau TGA tidak ada saya mau coba jalan ke beberapa toko besar di kwitang. Ada yang mau pesan??

Rani

----- Original Message -----

From: Mieke

To: 'peduli-autis Puterakembara'

Subject: Re: buku ADHD bahasa Indonesia

OF course atuh... Mieke pesan 2 yach... 1 untukku... satu untuk dokternya anakku... (supaya dia lebih aware sama autisme, hehehe.... teteup aja usaha ibu ini ;-))

Thank's be4 and after yach mbak Rani,

Salam,

Mieke (Mamanya Aurel, Andre and Hiroshi...)

----- Original Message -----

From: linda

To: 'peduli-autis Puterakembara'

Subject: Re: buku ADHD bahasa Indonesia

Sedikit ralat, Bu Mieke

ADD/ADHD bukan termasuk keluarga autis..

Rgds,

Linda

----- Original Message -----

From: Mieke

To: 'peduli-autis Puterakembara'

Subject: [Puterakembara] ADD/ADHD bukan Autis ya...

Laaahhh...Masa sich.. ?? ya ampun, selama ini salah dong aku. Yang saya tahu Autis itu ada banyak macem, makanya disebut spectrum (Autistic Spectrum Disorder atau ASD), karna tiap anak berbeda2 ciri2nya...

Setahu saya ASD itu ada ADHD, ADD, PDD Nos, Dispraksia, Disleksia dsb... walah... ternyata bukan Autis toh yach... (duh, makanya aku tuch ga mau melabeli anak2ku dengan label apapun... takut salah label aja, hehehe... jadi yang aku kejar, "menormalkan" mereka se"normal" mungkin, semampu yang mereka bisa...)

Thank's bu Linda.. rekan2 yang lain ada masukan ga nich, mumpung dibahas,

sekalian ngorek ilmu dari pakar2 ahhh....

Salam,

Mieke

----- Original Message -----

From: Fifi

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ADD/ADHD bukan Autis ya...

Bapak/Ibu rekan milis Yth...

saya jadi tertarik mengenai topik ini, ADD/ADHD bukan Autis ? soalnya selama ini pemahaman saya juga sama dengan Bu Mieke..berarti kalau Autis itu sendiri yang gimana sih??

Boleh juga nih kalo ada sharing/bagi2 ilmu dari pakarnya..thanks

Regards,

Fifi (Ibunya Syifaa, 8 Thn)

----- Original Message -----

From: Rosita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ADD/ADHD bukan Autis ya...

Disleksia, Disgrafia, Diskalkulia bukan ASD tapi Learning Disabilites, tapi ada beberapa anak ASD yang mengalami hambatan itu juga.

Apraxia, Dispraxia juga bukan ASD tapi Motor Planning Disorder.

Banyak anak autis yang tidak dapat bicara, namun autis bukanlah "penyebab" ketidakmampuan ini.Tak seorangpun tahu mengapa beberapa anak autis dapat bicara dan yang lain tidak. Bila suara-suara yang diterima oleh telinga terasa berlarian secara bersamaan menjadi bundel yang tak berarti disebut dengan Central Prosecessing Disorder seperti yang terjadi pada Temple Grandin waktu ia kecil. Anak yang mengalami kesulitan dalam menghasilkan suara juga menunjukkan kesulitan meniru urutan gerakan dengan tangan atau anggota tubuh yang lain disebut dengan Dyspraxia atau kesulitan dalam menggabungkan gerakan motorik. Anak yang menunjukkan tonus otot lemah pada pipi dan lidah dan menunjukkan karakteristik yang konsisten disebut dengan Dysarthria.

Anak-anak non SN yang mengeluarkan suara tertentu "aturan" atau proses yang digeneralisasi secara berlebihan, contohnya mereka "stop" semua suara awal atau "menghilangkan" semua suara akhir gangguan ini disebut dengan Phonological Process Disorder yang juga dapat dialami oleh anak autis.

Seorang SLP (Speech Language Pathologist) dapat mendiagnosa apraxia bila anak mulai berbicara. Oral Apraxia,Apraxia/Dyspraxia of Speech, Verbal Apraxia/Dyspraxia adalah istilah yang digunakan untuk mendiagnosa kesulitan yang menyinggung output bicara. Kapanpun kata "a" ditempelkan pada istilah medis, biasanya berarti "tanpa" dan istilah "dys" digunakan berarti "hilang sebagian atau gangguan". Sehingga istilah "apraxia" harus digunakan untuk menjelaskan ketidakmampuan untuk menghasilkan gerakan yang bertujuan dan "dyspraxia" harus digunakan untuk menjelaskan satu kesulitan menghasilkan gerakan yang berujuan. Biasanya istilah "Dyspraxia" digunakan oleh Terapis Okupasi ketika menjelaskan kondisi pada daerah tungkai/lengan dan "Apraxia" digunakan oleh SLP untuk menjelaskan kondisi yang berkaitan dengan produksi suara.

Oral Apraxia seringkali digunakan untuk menjelaskan kondisi yang ditunjukkan pada gerakan dari otot mulut (lidah, bibir,velum/bagian belakang langit2). Beberapa anak menunjukkan karakteristik apraxia ketika mereka mencoba berbicara tapi bukan ketika mereka hanya meniru gerakan tanpa berbicara. Anak-anak ini seringkali disebut sebagai "Apraxia of Speech"

Verbal Apraxia terjadi bila anak mulai berkomunikasi mengalami kesulitan dalam aspek bahasa yang lain yang membutuhkan urutan seperti mengabungkan kata-kata kedalam kalimat atau menjelaskan urutan perisitwa dalam satu aktivitas.

sharing ini saya ambil dari materi Verbal Behavior, semoga membantu dan para pakar lain dapat menambahkan.

salam,

Rossie

----- Original Message -----

From: Ira

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ADD/ADHD bukan Autis ya...

Bravo bu Rossie !!!

Penjelasan nya runut & jelas !!!

Ira

----- Original Message -----

From: anto

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ADD/ADHD bukan Autis ya...

Bener bu... dulu waktu getol - getol saya n istri ngikutan...seminar...mereka itu

keluarga besar ASD...!!!! Nah...kalo skg bisa berubah - or saya n istri yg tulalit???? smile) truzzz sapa pakar yg bisa jelasin...untuk dekade skg???...mungkin yg ada di milist PK ini...?????

HELP.....PLISSSS

Papanya Rama.

----- Original Message -----

From: Ira

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ADD/ADHD bukan Autis ya...

Rasanya dispraxia & disleksia juga tidak termasuk spektrum ASD tapi lebih masuk ke Learning Disability / disorder ???

Mungkin menjadi serupa tapi tak sama, karena akhirnya terapi yang dijalani sama dengan terapi2 untuk ASD

Ira

----- Original Message -----

From: Rani

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ADD/ADHD bukan Autis ya...

Bu Rossie

Hebat !. Iya memang ADHD/ADD tidak termasuk ASD, dia lebih dikelompokkan ke LD (Learning Disabilities). Tapi banyak penyandang autis yang mempunyai gejala ikutan ADHD juga, makanya waktu itu adit sempat didx PDD-NOS ternyata setelah di dokter ke 3 dan psikolog ke 4 dan brain mapping, baru ketahuan dia ADHD yang LD bukan ASD.

Tapi benar bu Ira, terapinya sebagian besar sama saja, dan LD ini malahan belum banyak yang mengetahuinya dan guru sekolah tahu bagaimana cara mendeteksi anak ADD/ADHD. Kebanyakan anak usia sekolah penyandang ADHD dianggap sebagai anak nakal dan tidak bisa diatur. Sedangkan penyandang ADD dianggap sebagai anak yang suka melamun, "jorok" dalam arti slebor, dan kurang perhatian terhadap pelajaran.

Apabila tidak diketahui dan terapi sejak dini, banyak penyandang ADHD mengalami kesulitan selama masa sekolah, kuliah (prestasi sekolah tidak stabil secara ekstrim, tidak naik kelas, kuliah berpindah-pindah tempat, putus kuliah) dan menjadi semakin parah pada saat memasuki dunia kerja. Mereka dicirikan sebagai orang-orang yang tidak bisa menepati janji, tidak bisa menepati tenggat waktu pekerjaan, tidak bisa menyelesaikan pekerjaan dengan tuntas dan melakukan banyak pekerjaan dalam satu rentang waktu yang pendek. Dalam kasus ekstrim, penyandang ADHD/ADD (yang tidak terdeteksi dan diterapi) tidak bisa mempertahankan pekerjaan dalam waktu lama, selalu berpindah-pindah tempat kerja dengan berbagai alasan, yang paling sering adalah karena "bosan", "pekerjaannya tidak menarik", "dikeluarkan karena prestasi kerjanya buruk walaupun potensinya tinggi".

Sekarang ini, setelah banyak penelitian dilakukan, ternyata banyak pekerja yang baru ketahuan di dx sebagai penyandang ADD/ADHD dan kebanyakan dari mereka tidak cocok bekerja di jenis pekerjaan yang mensyaratkan keteraturan dan ketelitian. Penyandang ADD/ADHD lebih baik bekerja di sektor kreatif yang lebih banyak memberikan kebebasan bereksplorasi dengan waktu kerja yang fleksibel sesuai dengan irama kerja tiap individu.

Rani

----- Original Message -----

From: Rosita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ADD/ADHD bukan Autis ya...

Bukan saya yang Bravo bu Ira, tapi program yang saya download dari Mariposa yang oke dan gratis lageeee...

salam,

Rossie

----- Original Message -----

From: Mieke

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ADD/ADHD bukan Autis ya...

Wah...wah...wah... Lengkap sekali aych... ini yang kemarin aku cari2, waktu melemparkan pertanyaan sekarang disorder ada berapa sich... ga kejawab... eh malah sekarng ketika ngomongin buku yang lain... Cerita ini keluar...

Aduh, thank's banget bu Rossie, kalo boleh tahu... Buku "kebetannya" judulnya apa sich bu... saya pingin sekali mendalami tentang Autis ini... kalo ibu ga keberatan, sharing dong buku apa yang bisa ngejelasin mengenai disorder ini, bisa dibeli dimana, dsb. Makasih banyak sebelum dan sesudahnya ya bu..

Saya juga pernah baca bahwa Autis ini ada beberapa macam, termasuk didalamnya ya itu tadi... yang sempat bikin saya tambah bingung... tapi setelah baca tulisan bu Rossie, trus baca lagi training manual dari mariposa school, saya jadi tambah yakin Autis dan ADD/ADHD berbeda.

Thank's untuk pencerahannya bu... (Untung gue nyeplos ngomong soal dokter anakku yang aku bujuk2 terus untuk belajar tentang Autisme ini... jadi kan kebahas dech tuch bedanya Autis ama ADHD dan disorder2 lainnya... )

Salam hangat,

Mieke

----- Original Message -----

From: Rosita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ADD/ADHD bukan Autis ya...

Bu Mieke,

Sudah bener tuh aku baca training manualnya Mariposa School, salut buat bu Mieke yang bisa mempengaruhi dokter untuk belajar tentang autis,kalau aku sih kagak berani alias belum PD takut dibilangi sok tahu en nggurui he..he..

bagi rekan-rekan yang ingin tahu url Mariposa School bisa klik ke www.mariposaschool.org kayaknya ini juga sudah diupload oleh bu Leny di Website karena ada terjemahan VB oleh Mbak Linda.

salam,

Rossie

----- Original Message -----

From: salisa

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] ADD/ADHD bukan Autis ya...

Actually, ADD/ADHD bisa juga disebut sebagai high functioning autism.

Autis yang kasusnya tidak terlalu parah, IQ-nya sekitar normal kurang atau lebih, bisa bicara. Tapi masih banyak permasalahan2 lainnya..

Dalam buku biomedical ADD/ADHD, permasalahannya sama saja dengan autis. Diet untuk anak ADD/ADHD sama dengan anak2 autis, juga sensitif terhadap hal2 yang sama terutama phenol. Hanya saja anak2 ADD/ADHD kelihatannya lebih jarang yang diet GFCF.

Dalam kasus anak2 autis yang mendapatkan biomedical treatment, dimana ke-autis-annya semakin berkurang, dan diagnose-nya menjadi ganti-ganti. Dalam proses menjadi lebih normal ini, diagnose autisnya kadang2 berubah menjadi ADD/ADHD. Hal ini menjadi pikiran bagi saya dan mungkin ibu2 lainnya, bagaikan buah simalakama, permasalahan autis ini belum selesai, tapi dukungan dari pemerintah kemungkinan berhenti.

Apalah artinya sebuah nama? ;o))

Dalam kasus spectrum autis, ibaratnya warna akan ada perubahan gradually dimana namanya berubah-ubah.. Yang penting tahu penyebabnya... karena disanalah sumber daya yang ada di konsentrasikan. Pada kasus seperti dysleksia, cerebral Palsy, down syndrome, dan banyak lagi lainnya, permasalahannya berbeda...probiotik khan mahal ya... paling sedikit ini menurut kantong saya... makanya sekarang saya sampai ngak punya dokter DAN.. udah bangkrut... ;o(

Disclaimer:

Ini sejauh pengetahuan saya, dalam arti saya juga belum tentu bener..

Mohon selalu diperbaiki.

Salam hangat,

Elisa

----- Original Message -----

From: Didi H

To: 'peduli-autis Puterakembara'

Subject: Arti sebuah nama.....berubah diaknosa dariPDD-NOSke ADHD atau MSDD

Ibu dan Bapak

Mungkin sebagian besar anak anak kita yang tidak sesuai dengan kriteria yang

dibuat dalam DSM IV -TR akan berubah ubah diagnosa.

Apa ini karena ilmu dokter di Indonesia yang terbatas???

Atau memang ilmu tentang syarat manusia ini sangat luas, dari sekian juta sambungan syarat jika putus beberapa ratus, ribu, juta efeknya akan berbeda-beda untuk si anak.

Anak saya di lihat oleh 3 psikiater, 3 dokter syaraf mendapat 3 label juga

(autis, PDD NOS, MSDD)

Setiap dokter memberikan suplemen, obat, dan terapi yang berbeda juga. Ada yang lebih mengutamakan SI, ada yang menyarankan Perilaku dulu lebih baik. Ada yang memberi Notropil, Prolacta, dan lain lain susah ngingatnya.

Setiap obat punya fungsi masing masing, atau kebetulan pabrik obat tertentu dekat dengan dokter tertentu????????????? Hanya dokter dan Tuhan yang tahu.

Akhirnya saya sadar kalau ilmu dokter melihat dari gejala yang timbul dan akan melakukan perbaikan terhadap gejala yang tidak baik itu (efek samping jika dianggap lebih ringan ya .hajar terus, liver rusak bisa diperbaiki dengan pola hidup sehat, ginjal rusak bisa diminimukan dengan mengkonsumsi makanan dan pola hidup sehat, dan seterusnya)

Kebetulan saya punya kasus yang nyata.

Pemberian luminal kepada anak saya, mengakibatkan dia dis-order (dokter selalu bilang biasa kalau minum ini jadi hiperaktif). Padahal masih banyak obat lain yang direkomendasikan untuk bayi ketimbang luminal ini...........kenapa in yang dia berikan.....

Saat dokter memberikan luminal informasi yg saya dapat masih terbatas..dan masih percaya seratus persen dengan dokter yang katanya sudah belajar sampai bongkok.

Setelah bergabung dengan Epilepsy Therapy Development Project semua efek samping yang mereka sebutkan ada pada anak saya. Dan sangat tegas dikatakan LUMINAl bukan pilihan yang cocok buat anak-anak, karena sudah terbukti mempengaruhi perkembangan si anak.

Jadi kesimpulannya, kita percaya kepada sesuatu yang sebenarnya kita ragukan

juga ilmunya?????????????????

Atau Pasrah saja melihat si kecil tak berdaya????????????????

TUHAN beri kami kesabaran.........

Didi (ayah Khairan, mulai kami stop LUMINALNYA tanpa izin dokter)

----- Original Message -----

From: linda

To: 'peduli-autis Puterakembara'

Subject: Re: [Puterakembara] ADD/ADHD websites

Bu Salisa:

Menurut saya AD/HD dengan High Functioning Autism berbeda, kalau HFA lebih mirip ke Asperger (sampai sekarang masih ada perdebatan apakah HFA=AS).

P. Didi:

Jangan bingung, Pak. Kita jadi canggih (ceileh..) begini juga karena kondisi kog, 3,5th yang lalu saya juga nol-putul & sama bingungnya dengan P. Didi (sampai sekarang juga masih sering bingung). Anak saya juga ada yg DX (diagnosa), ASD, AD/HD, tapi setelah saya pelajari semuanya saya lebih mantap dengan ASD, karena dari puluhan situs AD/HD yang saya kunjungi, rasanya tidak ada satupun yang menyebutkan bahwa anak/individu AD/HD memiliki masalah dengan komunikasi dan interaksi social. Masalah interaksi social kalau adapun berbeda penyebabnya, pada individu AD/HD yang pre-dominant Hiperaktif dan impulsive mungkin suka jahil dan tampak nakal sekali, sedangkan pada anak/individu ASD, masalah interaksi sosialnya adalah karena mereka tidak tahu/bisa/mampu bagaimana untuk berinteraksi.

Istilah ADD-pun sekarang sudah tidak dipakai lagi, secara resmi (DSM-IV)

yang ada adalah AD/HD dengan 3 subtype, sesuai mana yang lebih dominan yaitu

1. AD/HD predominant Inattentive, 2. AD/HD predominant Hyperactive/Impulsive dan yang ke 3. Kombinasi dari no. 1 & 2.

Dari semua situs masalah AD/HD, semua mengatakan bahwa penanganan AD/HD itu Multi modal, artinya gabungan antara Behavior Treatment dan Medication.

Medicationnya kebanyakan pemberian obat psikostimulan (Ritalin dkk) dan non stimulant (Strattera). Serta gabungan/kerjasama antara orangtua dan sekolah. Majalah Time, beberapa tahun yang lalu pernah mengulas khusus mengenai AD/HD, dari beberapa individu (kebanyakan sudah remaja) AD/HD yang diwawancarai, mereka mengaku seakan-akan seperti memiliki 2 kepribadian, jika tidak minum obatnya, mereka jadi liar, nilai-nilai sekolahnya langsung jeblok, tetapi begitu mereka rajin dengan medikasinya, nilai mereka langsung straight A.

Hingga saat ini tidak ada single test untuk mendiagnosa AD/HD, dibutuhkan evaluasi, pengamatan dan pengumpulan informasi yang komprehensif dari berbagai pihak (psikiater, orang tua, pihak sekolah) untuk mendiagnosanya. Jadi tidak ada badan yang ditunjuk secara resmi.

Bu Elisa, saya kog belum menemukan situs/info yang menyertakan pendekatan biomedis ala autis untuk AD/HD ya.

Kalau mau/minat, saya pernah bikin rangkuman dalam bentuk power point dalam bahasa Indonesia mengenai AD/HD.

Rgds,

Linda

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy