Sharing para Ayah (Bapak-Bapak)

02/23/2007

----- Original Message -----

From: Dar D P

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Habis gelap terbitlah terang

Perkembangan anak saya Casey, menurut saya masih jauh sekali dari keadaan terang. Dalam pikiran saya suasana "terang" itu kalau sudah bisa seperti Oscar....bukannya kurang bersyukur tetapi perlu juga untuk selalu sadar akan masih banyaknya PR yang belum dikerjakan.

Sejatinya tidak semua bagus ....(tapi setidaknya membaik dari sebelumnya). Dahi saya masih banyak tanda bekas luka kena "jurus cakar elang" Casey kalau lagi tantrum... atau tendangan "maut" ke perut ibunya kalau sedang rewel yang membuat ibunya nyaris pingsan, pipis masih kadang-kadang sembarangan, dll.

Andil Bu Eve dan teman2 di milis PK buaaanyak! Waktu saya berdiskusi dengan istri bahwa salah satu dari kami perlu berhenti bekerja untuk mendampingi Casey penuh waktu, itu benar-benar keputusan yang berat, bukan hanya karena income yang terpangkas setengah dan expenses yang membumbung 2-3 kali lipat (biaya terapi, biomedik, dll), tetapi juga keberanian dan ketulusan untuk mengambil tanggung jawab penuh sebagai orang tua yang dipercaya Tuhan mendapatkan anak special needs.

Kami sungguh terinspirasi oleh banyak orang tua yang hebat dalam milis ini yang memilih pendampingan full time (salah "tiganya"-nya: Bu Eve, JJMom, Bu Leny). Sama sekali tidak berarti orang tua yang dua-duanya tetap bekerja jadi kurang hebat. Ini masalah pilihan saja.

Salam,

Dar

----- Original Message -----

From: Dwi P

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Habis gelap terbitlah terang

Pak Dar,

Membaca tulisan Bapak, di tengah kesibukan saya sekarang. Saya tak tahan ingin berbagi cerita tentang kondisi saya selama hampir sepuluh tahun menikah. Maklum sekarang saya di persh. baru semua dikerjakan sendiri karena personilnya belum banyak. Tempatnya juga kecil, jadi takut kelihatan ketika boss lewat kalau sering-sering nulis email yang panjang. Mudah-mudahan kisah saya dapat sedikit menambah semangat Pak dan Ibu Dar.

Hanya satu kata dari saya bahwa Tuhan pasti mengetahui kesulitan kita. Jangan pernah putus asa ataupun pesimis melihat keadaan dan kondisi kita. Memohonlah selalu dan setiap waktu.

Suatu saat saya hampir pernah putus asa, bayangkan saya bekerja di sebuah perusahaan multinasional asing tapi hanya mampu mengontrak di sebuah rumah petak. Di sebelah saya tinggal kebanyakan pedagang mie ayam, pedagang baso dan informal worker lainnya. Ini yang membuat saya, sering tak pernah mau memberi tahu alamat rumah tempat saya tinggal, kepada rekan-rekan saya di kantor bahkan kepada saudara-saudara saya. Saya malu....Sebaliknya, kepada tetangga2 di rumah saya tak pernah cerita dimana bekerja.

Orang tua saya, suatu saat pernah menyangka bahwa saya hidup boros dan menghambur-hamburkan uang, tapi saya tak pernah menyangkal atau menjawab pertanyaan atau sangkaan mereka. Biarlah waktu yang akan menjawabnya. Mereka beranggapan dengan biaya anak saya yang sepenuhnya ditanggung oleh kantor masalahnya selesai. Mereka tak pernah menghitung biaya2 lain yang kami keluarkan yang tidak bisa diganti kantor. Istri saya memang sudah tidak membantu dari sisi penghasilan, ketika anak saya terdiagnosa autis di tahun 2000. Dia memutuskan untuk menjadi full day mommie. Karena itu penghasilannya sebagai guru di sebuah SMA tidak terlalu banyak membantu.



Yang saya lakukan adalah selalu berdoa setiap malam, memohon kepadaNYA agar kondisi kami terus membaik. Berat, sungguh berat karena gaji saya seorang setiap bulan, selalu tak tersisa ketika pertengahan bulan baru mulai menapak. Itu berlangsung terus sampai Tita berusia enam tahun di tahun 2004-an.

Bersamaan dengan itu, sedikit demi sedikit cahaya mulai tampak. Gaji saya meningkat sedikit demi sedikit seiring dengan kemajuan Tita yang juga significant. Saya sudah bisa mencicil mobil, walaupun baru mobil sekelas angkutan kota. Seiring dengan itu kedua orang tua saya mulai 'ngeh' dengan kesulitan anak dan cucunya. Tanpa diminta mereka membantu sedikit kebutuhan kami, meski saya memang tak pernah mengharapkan mereka yang pensiunan pegawai negeri.

Alhamdulillah, di pertengahan 2006 saya ditawari pindah ke perusahaan baru dengan gaji yang lumayan lebih baik dari yang sebelumnya. Sebenarnya saya sempat ragu pindah. Karena ini perusahaan baru dan belum berproduksi, kelak akan bergantung dari hasil eksplorasi akhirnya.

Mengaca pada teman-teman saya yang pindah kerja ke perusahaan lain, biasanya mereka sudah punya basis investasi yang baik. Artinya rata-rata sudah punya mobil kelas menengah, rumah pribadi, deposito, serta anak2 yang tak memerlukan penanganan khusus. Sedangkan saya belum punya apa-apa, hanya punya istri dan anak saya Tita dan adik laki-nya Echa. Tidak ada hal lain yang kami punya. Yang ada malah utang di sana sini.

Tapi setelah bermunajat kepadaNYA beberapa waktu, serta memohon pertimbangan dari ayah dan ibu saya. Ini sangat penting, agar kita dibantu oleh dorongan doa dan restu mereka. Saya merasa ini merupakan petunjukNYA buat saya. Akhirnya saya pindah ke perusahaan baru. Enam bulan pertama kerja, gaji saya habis untuk membayar utang-utang saya selama ini.

Kini di tahun 2007, saya dan istri sudah mulai bisa merencanakan untuk mencicil rumah dan biaya pendidikan adik laki2nya, Echa. Juga ada sedikit rupiah yang tersisa setiap bulannya. Jadi sekarang saatnya mulai merencanakan ulang rencana saya ke depannya bersama keluarga, khususnya buat masa depan Tita dan Echa. Karena sebelum ini, saya hampir tak punya rencana. Yang ada hanya bagaimana bisa hidup dalam hitungan bulan ke bulannya. Saya hanya bisa berdoa, semoga rizki keluarga saya sekarang dapat lancar dan berkah ke depannya.

Mungkin dari pengalaman saya, Pak Darman bisa berkaca. Bahwa soal rizki itu sudah ada yang mengatur. Jadi pastikan keyakinan diri dan niat awalnya. Ketika kita yakin dan percaya kepadaNYA bahwa semua langkah yang kita ambil untuk niat baik. Meskipun kelihatannya sulit, kelak nun jauh di sana, entah berapa lama, pasti akan ada cahaya yang akan selalu menerangi langkah dan niat baik kita.

Tidak bermaksud menggurui, apalagi menceramahi sahabat-sahabat semua, hanya berbagi pengalaman..setelah hampir sepuluh tahun mengarungi hidup bersama bundanya Tita, dan delapan tahun menjadi ayahnya Tita. Sungguh suatu pengalaman mengesankan dan menakjubkan hidup bersama mereka. Semoga saja saya terus bisa menjadi ayah yang baik ke depannya....



Jabat erat,

Dwi

----- Original Message -----

From: Dar D P

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] Pak Dwi, terima kasih supportnya

Pak Dwi,

Terima kasih supportnya. Hal seperti inilah yang begitu nikmat dari milis PK ini, disaat limbung ada sahabat yang mensupport dengan tulus walaupun hanya kenal di dunia maya.

Semoga Tuhan memberkati Pak Dwi dan keluarga.

Salam hangat,

Dar

----- Original Message -----

From: Dwi P

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Pak Dwi, terima kasih supportnya

Sama-sama pak Darman. Senang berbagi hikmah dengan sahabat-sahabat semua

di milis ini.

Dwi

----- Original Message -----

From: Jeffrey Dompas

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] Habis gelap terbitlah terang

Bung Dwi, Bung Dar dan Bung-Bung yang lain. Senang membaca sharing anda, hidup bapak2! Ternyata kita tidak sendirian dan kepasrahan, berdoa sambil berusaha, berkarya menjadi bagian dari keberhasilan kita untuk mencapai tingkat hidup yang lebih baik dari sebelumnya.

Saya pimpinan sebuah perusahaan sejak 1990 tapi ketika mulai bekerja diawal tahun 1980 juga seperti anda-anda juga. Bang Oscar nongol di bulan ke 4 setelah memiliki pekerjaan tetap selama 4 bulan. Sebelumnya saya "fotografer amatir" dari keria'an ke keria'an yang lain. Rumah petak? nggak sempat tapi rumah di gang dan WC-nya nggak pakai flush dan 4L (lo lagi lo lagi) itu berlangsung sampai lebih dari 6 tahun sebelum berhasil memiliki rumah sendiri di Jurangmanggu yang medan-nya berat sekali kala itu. Memang menikah di usia muda merupakan pilihan bebas dan penuh dengan rencana. Yang paling sederhana adalah "bisa menikmati bersama anak-anak saat masih kuat dan muda." Orangtua saya yang menengah tapi sangat demokratis, menyerahkan pilihan itu pada kita dengan konsekwensi, keluar dari rumah dan berjuang!. Keras kedengarannya, tapi sungguh ini menempa diri saya yang sejak kecil tidak pernah susah. Hidup dirumah tanpa AC, mengendarai mobil yang saya miliki sejak remaja hingga tinggal tunggu di sembur angin, lalu rontok karena karatan...Ah, kenangan...masih ingat si Bang Oscar yang kegerahan, kepanasan dan keringat buntet... Bahkan kita pernah ngontrak di Pondok Indah, lokasi boleh elit tapi airnya "tidak layak" untuk dipakai mandi, dan tikusnya segede-gede babi smile

saya pernah berkelahi dan sebelum mati tikus itu melihat 'straight" ke mata saya. Malam-nya saya mimpi diserbu tikus kayak film "Hitchcock" diserbu kalong kali ya?

Sebagai pimpinan di perusahaan, saya mungkin tergolong "demokratis" saya paling malas (waktu masih kerja sama orang) untuk mengunjungi rumah boss. Sejak saya sendiri, orang2 kantor saya tidak saya perbolehkan untuk mengunjungi saya dirumah karena saya bilang, kalian punya kesibukan sendiri. Nikmatilah hidup keluargamu dan bekerja, lalu kalau kamu masih sempat mampir, silahkan tapi kalau saya tidak larang, nanti mereka tetap merasa nggak enak dan tetap cari waktu. Lalu, apakah dengan tidak ada kunjungan anak buah kerumah lalu saya rugi?

Nggak lah...

Banyak, banyak ceritera yang lain tapi saya sudahi dulu karena masih harus nyangkul.

JD

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy