Sharing perkembangan Ari

12/25/2006

----- Original Message -----

From: ND

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: [Puterakembara] sharing perkembangan Ari

Ibu/ bapak ,

Berbagi pengalaman dong ...

Saya lagi kehilangan kesabaran nih sama ary (autism 9 th)

2 bulan belakangan ini ngeyel banget dan suka berbohong ... Puncaknya kemarin pagi ... saya sudah tidak sabar ... akibatnya dia saya tinggal di rumah dan dia tidak pergi sekolah (padahal ada jadwal renang..ini kesukaan ari ..jadi dia ngamuk berat).

Ari selalu membantah yang saya katakan, misalnya ary ..microwave bukan untuk mainan, saya jelaskan fungsinya... Tapi tetap aja tidak ..jawabannya ..ini buat masak semuanya termasuk mainan dia .. akibatnya satu remote TV rusak karena di panggang ...untuk belum sempat meledak ..( si mbak nya cepet-cepet cabut kabel).

Minggu lalu kami sempat ke discovery centre Singapore ..dia melihat tontonan MRT station yang meledak ...akibatnya ... Rumahku jadi kacau balau ... semua di berantakin barang-barang di buangin ...ada bom ada api ..semua berserakan ... hu..hu... sedih deh ..aku .. Terus ku jelaskan ..kejadian itu berbahaya .. tidak untuk di tiru .... Tapi ngeyelnya mak ..minta ampun ... Terus saya minta dia membereskan mainannya (saat itu jam 9 malam) walaupun itu sudah saatnya dia tidur karena besok harus sekolah. Saya konsisten ..harus dibersihkan ...dia gak mau ... saya tungguin ..e..e..di bilang begini "MAMA AKU CAPEK NIH ...KALAU ORANG CAPE KAN HARUS ISTIRAHAT ..." (saya kesel ..tapi takjub dia bisa ngeles..) akhirnya dengan ketabahan hatiku .. mendengar rengekannya ..itu mainan ..selesai juga dibereskan walau dengan tangisan. Padahal nih ..kalau di suruh tidur ..dia selalu gak mau ..!!!

(ck..ck...anakku dah bisa ngeyel dan ngeles)

Masalah di tinggal berangkat sekolah seru lagi ...

Dia gak mau berpakaian ...Cuma pakai celana dalam aja ... sementara saya sudah rapi (soalnya saya masuk kantor jam 7) ..eh ..dia asyik dengan mainannya jawabnya nanti ..aku ..mau main ...sampai jam 6.30 belum juga mau pakai baju ... saya ..tinggal deh ... sebel banget ... langsung deh dia lari tunggang langgang ... mau naik bis (ini cerita si ayah) karena saya udah meluncur kejalan raya dan gak balik ke rmh. Padahal kalau saya bilang begini .."Ari kalau ari gak nurut juga ..udah deh ..ari naik bis aja" ... eh..eh... dia ngejawab .."tidak mau aku nanti di culik orang ..lho.."

Di suruh belajar ..jawabnya ..aku sudah belajar sama fajri (gurunya ) di suruh ngerjain PR dia bilang sudah kukerjakan sama chida (guru juga) padahal waktu saya check ..PR belum di kerjakan. Sekarang ari lagi njangkar (Bhs djawa) gak mau sebut ibu/bapak ..dia maunya panggil nama ... papanya aja dipanggil Andra ..saya di panggil nora ... BINGNGUNG ..

Saya cuekin dia nangis ..saya komentari dia teriak..jadi harus gimana dong .

Sepertinya saya harus ketemu dengan psikolog juga nih ..gimana bu ita ..

Bisa konsultasi gak nih ...(he..he..berharap harap nih ..)

Paling tidak bagaimana cara mengatasi sikap berbohong nya ...

Sorry ceritanya kepanjangan ya ... Please sharing dong ....

Salam,

-nora

Yanglagibingngung

----- Original Message -----

From: PS

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sharing perkembangan Ari

Wah….kalo anak autis udah lumayan besar tambah repot ya make matanya...

harus dijagain terus...karena intinya dia curious....mo tauuuu ajaa...

Tapi anak saya yang 4,5 thn juga sering ngeles tuh bu....saya juga bingung..mana kalo kalah dia pake nangis lagi...gerung2 gitu... yang sebelnya kalo dia susah di suruh mandi langsung minta mandi di kamar yang ada bathup dengan air penuh..

waduh..air kan lagi susah yaaaa....(musim kemarau panjang banget siiiihh..hiks...) dia senang.. gantian saya yang nangis...

Yang gampang...mungkin gini bu....

mamanya berhenti kerja...terus babysit dia aja...jadi dia ga cari2 perhatian gitu lagi..

dan pastinya kegiatan dia terpantau terus....(saya lagi menuju begitu juga.....alias resign...)

Ga nyelesein masalah ya bu?...habis ilmu terapisnya blom dipelajari nih...baru mo belajar..mudah2an blom ketinggalan.. maap deh klo ga berkenan..

salam,

santy

----- Original Message -----

From: Nj

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sharing perkembangan Ari

Kalau bu ita menjawab cara ngatasi sikap berbohongnya pake jalum ajah,

biar kami juga ngerti jika terjadi di kami ( he....he......he....sorry maunya yang gratis)

Maaf jika tidak berkenan

Salam,

Noer ( ayah Rian 8 tahun autis)

----- Original Message -----

From: Aie

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sharing perkembangan Ari

Dear Ibu Ns,

Jangan putus asa ya Bu...saya sih belum pernah punya pengalaman seperti ibu karena Izzan baru 4 tahun dan belum bisa ngobrol 2 arah. Tapi kalau saya baca cerita ibu, kayaknya Ary tuh anaknya pintar dan kreatif deh. Mudah-mudahan, dengan cara menanamkan pendidikan agama yang kuat, plus reward & punishment yang sesuai dan konsisten, 'pintar & kreatif' yang tadinya cenderung negatif, pelan-pelan bisa jadi positif. optimis aja ya bu... smile

salam,

Aie

----- Original Message -----

From: FN

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sharing perkembangan Ari

Dear Ns..

Kami sering menemukan kasus ini bu...

ya... gitu, sebagian banyak mereka memang sengaja mencari "gara-gara" untuk mencari perhatian ortunya (ibu/bapak..ect). Kadang mereka sangat senang kalau orang-orang disekitarnya panik.. teriak-teriak.. karena bagi mereka itu sangat mengasyikkan.. :-) aneh kan bu?.... tapi itu nyata, sering terjadi pada anak-anak kami...

Belajar dari pengalamn kami.. jika mereka membuat "kacau" sebisa mungkin kasih mereka hukuman... bentuknya (biasanya) kami sesuai kan dengan anak..

- tidak boleh makan makanan/minuman kesukaan (may be..)

- Tunjukkan kepada mereka bahwa kita tidak suka perilakunya (dengan ekspresi

wajah tidak senang/marah..) ingat............. jangan dengan kata-kata ya bu.. karena itu hanya sia-sia.. malah mereka semakin senang ketika melihat ibu ngomel-ngomel...:-)

- jika di sekolah kami... jika rewelnya saat belajar... biasanya mereka tidak boleh istirahat untuk nyeneck.. jadi dia tetap ditempatkan diruang dimana dia masih bisa melihat teman-temannya yang sedagn nyeneck/main...

- selain itu kita juga bisa mengajari dia untuk bertanggung jawab...

berantakin mainan.. ya.. dia harus membereskan... numpahin susu.. ya harus ngepel.. tidak ada toleransi... mendidik mereka adalah dengan mematahkan egonya...

Gimana ibu... siap mencoba?....

kami tunggu yaa hasilnya... :-)

sukses...



Tut

----- Original Message -----

From: stanleybrat

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sharing perkembangan Ari

Ibu Ns dan rekan-rekan milis,

Berikut ini adalah sharing saya tentang tingkah laku berbohong pada anak.

Ini adalah sedikit uraian umum yang bukan secara khusus ditujukan untuk satu anak/keluarga tertentu saja. Karena untuk memberi tanggapan yang khusus bagi satu anak dan orangtua tertentu, biasanya kita perlu lerlebih dahulu memahami secara lebih rinci dan mendalam keadaan dan kebiasaan anak dan orangtua serta hubungan keduanya dan juga lingkungannya. Jadi sering tidak cukup kalau berdasarkan keterangan yang singkat.

Jika anak mengatakan sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan yang sesungguhnya (disebut berbohong), bisa ada beberapa kemungkinan arti, tergantung pada tahapan perkembangan dan keadaan masing-masing anak. Misalnya anak sepertinya berbohong karena ia belum secara jelas mengerti bahwa apa yang dia boleh katakan kepada orang lain adalah hanya hal yang sesuai dengan kanyataan, jadi ia katakan saja apa yang menjadi harapan, atau imajinasinya secara campur aduk dengan kenyataan. Bisa juga anak sepertinya berbohong karena sedang berfantasi dan berimajinasi. Bisa juga berbohong itu untuk menarik perhatian atau ungkapan dari suatu kekecewaan tertentu. Bisa juga karena takut dimarahi atau dilarang atau menghindar dari sesuatu yang tidak mau dilakukannya.

Anak suka berbohong mungkin karena ia secara langsung maupun tidak langsung belajar dari pengalaman yang diperoleh dari lingkungan sekitarnya. Mungkin berulang kali ia mengalami bahwa ada orang di sekitarnya yang biasa berpura-pura atau berkata yang tidak sebenarnya dan semacamnya, sehingga ia jadi menganggap bohong itu adalah hal yang biasa dan boleh ditiru. Oleh karena itu penting

sekali kita orangtua berusaha terus menerus menciptakan lingkungan di dalam keluarga yang menjunjung tinggi kejujuran, yang sehari-harinya biasa mengatakan hal yang sesuai dengan kenyataannya.

Hal lainnya ialah, kita bisa memupuk kejujuran anak dengan sering menunjukan secara jelas penghargaan dan rasa senang kita apabila ia betingkah laku jujur dan berterus terang. Apabila anak melakukan suatu kesalahan/kekeliruan atau kekurang mampuan dan ia mengakui secara terus terang, kita perlu menerima dan memberi penghargaan/pujian terhadap kejujuranya itu, terlepas dari hal yang menjadi kekeliruannya atau ketidak-mampuannnya. Misalnya anak mendapat nilai ulangan

yang jelek di sekolah, lalu ia terus terang memberi tahukannya kepada orangtua. Keterusterangannya ini perlu kita hargai secara jelas, dengan misalnya mengatakan: "bagus, bpk/ibu senang karena kamu sudah berterus terang". Tentang nilai ulangannya yang jelek itu, orangtua dapat menyikapinya dengan berusaha mengerti letak kesulitan yang dihadapi anak, kemudian membantunya mengatasi kesulitanya tersebut misalnya memberi semangat dan membantunya dalam belajar. Jadi anak merasa diterima dan

kesulitannyapun dibantu, sehingga tidak ada rasa takut yang tidak perlu dan tidak perlu pula ia berbohong karena takut dimarahi misalnya.

Kalau anak berbohong dengan mengatakan sudah mengerjakan PR padahal belum, mungkin sebaiknya dicari tahu apa sebabnya ia lakukan itu. Apakah ia mengalami kesulitan dalam mengerjakan PR-nya, misalnya soal-soalnya terlalu sulit baginya atau terlalu banyak. Mungkin ia mengalami kesulitan dalam mengatur waktu antara mengerjakan PR dengan melakukan kegiatan lainnya termasuk bermain. Semua itu perlu dicarikan jalan keluarnya yang baik. Kita juga dapat berusaha menciptakan suasana supaya belajar dan bermain bukanlah dua hal yang saling bertentangan, jangan sampai menjadi terasa betul bahwa bermain itu enak dan belajar atau bersekolah atau mengerjakan PR itu tidak enak. Orangtua seyogianya dapat membuat suasna keseharian demikian rupa, sehingga anak merasa bahwa sekolah, belajar, mengerjakan PR, bermain, makan, mandi, tidur dsb. merupakan kegiatan sehari-hari yang biasa dan rutin, yang semuanya itu memang berguna dan perlu dilakukan. Berkaitan dengan ini misalnya, usahakanlah untuk tidak tiba-tiba menyuruh anak belajar/mengerjakan PR ketika ia sedang asyik-asyiknya bermain, sehingga mengakibatkan ia merasa belajar itu kok tidak enak ya, menggangu keinginan bermain. Usahakan untuk tidak sering mengatakan: "Ayo cepat tidur, besok sekolah, nanti kamu nggak bisa bangun!" Sebaiknya mengatakan:"Ayo ini sudah waktunya tidur, tidurlah supaya kamu cukup istirahat, supaya kalau kamu besok bangun pagi, badan kamu menjadi segar kembali, tidak mengantuk lagi".

Hal lainnya ialah, usahakan untuk tidak mencap anak sebagai pembohong atau mengatakan seperti: "Awas ya kalau kamu bohong" dan yang semacamnya. Karena label negatif yang sering diberikan terhadap anak, sangat mungkin mengakibatkan anak cenderung menjadi semakin negatif seperti yang dilabelkan itu. Lebih baik kita biasakan diri mengatakan hal positif yang kita harapkan untuk dilakukan anak, spt. misalnya: "Tidak apa-apa kalau kamu mengatakannya terus terang, Bpk/Ibu akan senang dan menghargai kejujuran kamu", atau "Bagus sekali, kamu hebat sudah mengatakannya dengan terus terang", atau "kejujuran itu adalah perbuatan yang sangat baik, ibu senang kalau kamu bisa melakukannya" dan yg semacamnya.

Demikian kita melihat, suatu tingkah laku tertentu yang kita keluhkan pada anak, sering kali berhubungan dengan beberapa faktor yang saling berkaitan. Untuk memodifikasinya, sering diperlukan jalan dan waktu yang agak panjang, tidak selalu bisa dengan jalan singkat. Namun kalau dilakukan dengan tekun, penuh kasih sayang serta sabar, tentulah akan ada buahnya.

Maaf kalau jadi terlalu panjang.

Semoga berguna.

Salam,

Stanley (yang masih terus menerus belajar).

----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis Puterakembara

Subject: Re: [Puterakembara] sharing perkembangan Ari

Waduh, maap baru jawab sekarang.

Udah beberapa hari (eh, minggu deng) sibuk tunggang langgang, jadi cuma browsing aja sekilas-sekilas. Gak sadar kalo ada nama "ibu ita" dibagian bawah email ini... Sekali lagi, maaf ya...

Anyway, menjawab email ibu yang lagi bingung luar biasa, intinya sih, gak macem-macem. Ibu lagi "di-tes" abis oleh si anak yg lagi muncul isengnya.

1. Abaikan perilaku negatif (apapun itu). Jangan marah, jangan emosi, jangan nyerah, jangan membujuk... Berbohong atau mengatakan hal yang tidak sebenarnya, termasuk perilaku negatif. Jadi, harus ada konsekuensi juga.

Njangkar, juga termasuk.

Tidak mematuhi aturan, juga termasuk

2. Jadi, misal dia membantah dan ngeyel, kita dengan muka lempeng (hehehehe....yak tul, mukanya Adiguna Sutowo) terus saja mengarahkan dia. Terserah dia mau bilang apa (nah, ini susah...soalnya kita cenderung akan nyengir sih).

3. Ibu sudah betul sewaktu dia main-main tidak perduli pada ajakan untuk segera berpakaian dan ibu segera pergi saja ke kantor. Pesan yang ibu ingin sampaikan, sampai dengan efektif efisien "Ikuti aturan, kalau tidak...maka akan ada konsekuensi"...

Ibu sudah berhasil kok. Itu buktinya bisa nyuruh anak membereskan

mainan. Nah, ini yang harus dilakukan TERUS MENERUS, oleh siapa saja

yang terlibat dengan anak.

Semoga bermanfaat.

Sekali lagi, maaf baru dibales....

salam,

Ita

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - © Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy