Masih seputar Lebaran .....

11/05/2006

----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Kilas balik...

Sudah sekitar 10 hari kami berdua ditinggal pergi pembantu pulang kampung. Belum stres lho. Hebat deh. Padahal biasanya aku udah mau bertereak saking bete ngurusin rumah, mikirin makan, dan bete ngliat anak males2an aja. Tahun ini beda rasanya....Meski sebetulnya kalau ditilik dari keadaan, seharusnya aku lebih pusing karena di rumah juga tinggal ibuku yang berusia 81 tahun...yang tentu saja butuh perhatian dan dilayani...



Pikir-pikir, apa yaaaa... yang bikin tahun ini rada beda? Selain usia anak yang lebih tua (menjelang 16 tahun), rupanya berbagai ketrampilan sudah mulai ada pada dia, plus, keikhlasan ibunya menerima keadaan. Catat: keadaan tidak akan berubah (anak tetap autis), tapi keikhlasan membuat segalanya lebih dapat dijalani dengan lapang.



Ketrampilan apa dari anak yang membantu aku sehari-hari?



- anak bisa diminta bawa cucian seember penuh yang sudah dibilas ke tempat mesin cuci (untuk dikeringkan) atau langsung ke tempat jemur (berat, kan)

- buka tutup pintu pagar supaya mobil bisa langsung keluar atau masuk, jadi supir (aku) tidak perlu turun dulu berpayah-payah

- mendorong trolley di supermarket, tidak lari jauh-jauh dari ibunya

- bawa belanjaan hati-hati ke kamar makan dari mobil

- mengurusi barang miliknya sendiri kalau bepergian

- makan sendiri, ambil minum sendiri, tahu dimana letak sambal dan memotongnya sendiri

- memasang sprei tempat tidurnya yang berantakan

- memunguti berbagai barang dari lantai (yang dia buang-buang sendiri)

- meletakkan sepatu di tempatnya tanpa harus diteriaki

- membawa piring kotor (sesudah membereskan semua piring dari meja) ke dapur

- menyapu

- menjemur handuk (bukan hanya handuknya sendiri, tapi semua handuk yang ada di kamar mandi)

- tidak lagi keluar-keluar dari rumah, bisa diberitahu



Paling penting: bisa diberitahu, tidak semaunya sendiri, mau makan apa yang

dihidangkan,dan bisa ditanya mau apa (pergi, belanja, tidur, makan, cari toilet) kalau tunjuk kesana kemari karena tidak bisa komunikasikan isi hati.



Buat teman2 yang anak-anaknya masih imut-imut, boleh juga dicicil dari sekarang.... Ajari berbagai ketrampilan yang bisa membantu kehidupan sekeluarga. Sukur-sukur bisa yang lebih dari daftar diatas. Aku masih banyak target juga kok. Tapi pelan pelan ah...Gak boleh stres, kan?



Bisa terima keadaan dengan lebih ikhlas juga sesuatu yang jangan terlupakan. Hal ini membuat kita tidak merasa tertekan setiap harus melihat kamar yang berantakan, harus mengingatkan anak untuk mandi, harus keluar kamar di tengah malam karena anak tidak bisa tidur dan berjalan kemana-mana, atau bila anak (dengan agak kurang ajar) memasukkan 1 sprei & 4 sarung bantal (semua sebetulnya masih bersih dan baru dikeluarkan) ke dalam keranjang pakaian kotor supaya dicuci ibunya.... sad



Salam,

Ita-nya Ikhsan

----- Original Message -----

From: Wiwin W

To: peduli-autis

Subject: Re: [Puterakembara] Kilas balik...

Bu Ita, Selamat Ya atas kemajuan Ikhsan. Saya juga sebenarnya sudah mulai "mencicil" untuk ngajarin anak dengan m elibatkan dia dalam pekerjaan di rumah misal, saya ajak dia potong tempe, perintahkan dia untuk bawa piring kotor ke tempat cucian, menyapu halaman dan mengepel (Nanda paling suka ini). Saya tidak memaksa, saya cuma kasih perintah dan kalau dia mau dia akan lakukan. Kalau tidak, saya cuma komentari 'kok tidak mau?' Saya pikir dengan cara ini saya juga ngajarin dia mengenai dunia kita sekalian terus keep comminucate dengan dia tanpa hrs meninggalkan pekerjaan. Cuman....suami saya paling tidak suka cara ini. Dia tidak suka anak saya ada di dapur alasannya berbahaya,ada asap,dll. Dia tidak suka lihat anak pegang sapu, stik pel, karena kotor, dst, dst... wadouw...! makanya, saya hanya bisa lakukan ini kalau suami gak ada dirumah karena berdebat sama suami juga saya

yang gak suka.

Pembantu juga sudah saya setel, hanya boleh kalau bapak gak ada dirumah...he...he...

wiwin

----- Original Message -----

From: RA

To: peduli-autis

Subject: Re: [Puterakembara] Kilas balik...

Aduh mbak ita.... saya mau ngajarin anak supaya nutup pintu aja susahnya minta ampun.... cape deh... kerasa banget ... cuma itu dia mesti iklas ya mbak?

doain supaya saya bisa ngikutin jejak mbak ita ya

thx

mama adit

----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis

Subject: Re: [Puterakembara] Kilas balik...

Ampun...

sapa bilang perjuangan bisa selesai dalam sedetik?

anakku udah menjelang 16 tahun lho, kebayang kan susah payahnya ngajarin.

Jadi...HARAM kalo sekarang dirimyu menyerah...

okey?

selamat menyuruh "paman tutup pintu" bekerja ya...

salam,

Ita

----- Original Message -----

From: Noerjali

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Adu strategi Ayah Vs Anak

Sore tadi pukul 15.00 kami ke Airport mengantar keluarga kakak Istri saya ( yang udah tinggal di Rumah kami seminggu sebelum lebaran) artinya 3 mingguan ini Rian punya tambahan kawan bermain di rumah selain Abang Rizal & Abang Rachmad karena kakak punya 4 anak kecil, 2 cowok umur 10 & 9 tahun & 2 cewek umur 7 & 5 tahun. Pokoknya selama 3 minggu ini Rian keliatan bahagia bener.

Nah, problem dimulai ketika pagi hari keluarga kakak mulai ngemasi koper & ngikat2 kotak, serta mulai ngomong2 akan pulang Ke Bandung naik pesawat nanti sore. Rian sudah mulai kelihatan tidak mau jauh2 dari koper/barang2 kakak( bahkan makan siangpun duduk diatas koper ) Saya mulai mikir, kesenangan /kebahagian Rian selama 3 minggu ini pasti membuat dia ngga akan mau pisah dengan para sepupunya ( bayangin aja, main bola,mandi dalam bak kamar mandi, main PS dan tidur di kamar semuanya sama sama) Maka saya pun mulai menerangkan sama Rian bahwa Abang Hasan, Abang Husin Adik Zainab & Adik Umu harus pulang ke Bandung karena sekolahnya di Bandung, sedangkan Rian karena sekolahnya di Palembang jadi mesti tinggal, tunggu libur sekolah lagi baru nanti main ke Bandung.

Rian Menjawab,"Naik pesawat, ikut Zainab, Umu". Wah gawat ini.

Waktu mengantar, karena mobil penuh barang & orang, maka rencana tidak ada yang ikut ngantar ke Airport selain saya & Isteri, tapi Rian sudah duluan ganti baju & langsung duduk dikursi samping sopir. Waktu di suruh turun, dengan alasan mobil penuh, Rian teriak,Tidak...Tidak...,Ikut Zainab,Umu naik pesawat. Terpaksa dengan dipangku ibunya ikut ngantar & sepanjang jalan penjelasan diulang-ulang mengenai sekolah sepupunya di Bandung & sekolah Rian di Palembang, Tapi jawaban Rian tetap sama, Tidak....Tidak ...Ikut Zainab,Umu naik pesawat. Untungnya waktu tiba di Airport masih cukup waktu sebelum check in, jadi Isteri pura2 duduk ngobrol dulu dengan kakak sekeluarga dan tugas saya ngerayu Rian untuk jalan2 disekitar Bandara, tapi Rian seperti ngerti starategi ini, Tidak....Tidak katanya sambil tetap duduk di atas koper Kakak. Wah Gawat ini, mana waktu check in hampir habis, terbersit dihati saya udah pake cara paksa aja,kakak sekeluarga masuk ke Ruang check in, biarkan Rian teriak2 ( tapi sedihnya Rian pasti jadi 2xlipat) waduh gimana ini. Tiba2 saya melihat penjual Humberger di sekitar Bandara. Nah ini dia kesukaan Rian(sekali2 melanggar aturan diet ngga apalah), langsung saya bilang Yan ada Berger tuh, Rian dengan antusias langsung melihat dan menarik tangan saya ke tempat penjual Humberger (gile frend langsung lupa sama sodara2nya) Begitu kami bergerak ke penjual Berger, Kakak sekeluarga pun cepat2 masuk ke ruang check in. Begitu berger sudah ditangan Rian langsung saya ajak masuk mobil, masih sempat celingak-celinguk nyariin saudara sepupunya, Zainab, Umu mana tanyanya. Tapi langsung saya alihkan, dengan permintaan, Minta dong Berger nya? Tidak...Tidak...kata Rian dengan langsung mengunyah potongan besar.

Mobil saya start, jemput nyonya & sepanjang perjalanan kami membahas Hamberger itu dengan Rian (ngalihin perhatian maksudnya ) Gimana Yan enak ngga bergernya, bagi dong? Alhamdulliah Sampai malam ini kelihatanya Rian tidak cari2 sepupunya (walau terasa bener sepi rumah kini, ditinggal 4 anak kecil dan 3 orang dewasa serentak )

Tuhan.....

Rupanya Engkau mengajarkan sabar kepada kami,

Melalui Anak ini.

.......................

Salam,

Noerjali ( Ayah Rian 8 Tahun Autis)

----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis

Subject: Re: [Puterakembara] Adu strategi Ayah Vs Anak

He..he..

teknik ini sekarang berhasil, besok-besok bisa-bisa gak lagi lho....

Hati-hati pak, si anak akan tambah pandai, jadi mungkin harus belajar untuk "jujur" apa adanya saja daripada si anak malah jadi tidak percaya sama kita.

Soalnya teknik 'mengalihkan perhatian dengan burger' kan seperti mengecoh?

Saya sih selama ini pakai teknik "cerita sosial" jadi jauh-jauh hari diceritain apa adanya, apa yang akan terjadi. Dan suka atau tidak, ya harus terima.... (Habis bagaimana? Hidup ini memang begitu). Tentunya ada kegiatan-kegiatan lain yang dipersiapkan supaya si anak tidak terlalu patah hati.

Alhamdulillah dengan begitu, anak saya jadi percaya sama omongan saya, sehingga pada saat kejadian tidak menyenangkan itu terjadi, ya tidak kaget-kaget amat, karena toh sudah ada hal-hal lain yang dipersiapkan untuk dia. Misal, uti akan pindah ke rumah bude hari selasa, Ikhsan bisa menengok.

Atau, Bibi akan pulang kampung hari rabu, Ikhsan kemana-mana sama ibu.

Kalau tidak ada Bibi, jalan-jalan. Bibi datang tanggal sekian...

Ya pas kejadiannya, gak pake huru-hara lagi...Dulu sih sebelum pakai cerita sosial, pakai nangis darah dan air mata. Tapi gak mungkin dong begitu terus.

Btw, sekarang anaknya udah mau 16 tahun, jadi udah gak pantes dong kalau pakai huru-hara atau menangis darah (suaranya udah nge-bas)...

Semoga bermanfaat,

salam,

Ita

----- Original Message -----

From: Anton H

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Yansen bisa terima argumentasi

Dear semua rekan milis,

Setelah mendengar cerita cerita liburan lebaran,dimana Iksan berebut mangkok dengan pengemis saat ziarah keperkuburan, Dimas yang membuat suasana sangat meriah,dimana keluarga besar pak Har tertawa karena terpesona dengan perkataannya saat bersiraturami ke Solo,Rian yang tidak mau ditinggalkan oleh sepupunya,sehingga ayahnya harus adu strategi untuk mensiasati masalahnya,dan masih banyak cerita dari anak anak kita yang kadang kadang tidak pernah terpikirkan sebelumnya.

Kami juga mau bagikan cerita YANSEN saat libur lebaran yang mendapat liburan 10 hari mulai 21 s/d 31 oct,biasanya kalau libur Yansen minta jalan jalan keluar kota,dan kami sebagai ortu juga merespon permintaannya, karena liburan lebaran semua ikut libur dan waktu yang ada bisa digunakan untuk refreshing, menghilangkan kejenuhan rutinitas pekerjaan santaiii dulu ahhh memang perlu ya.

Tapi liburan lebaran tahun ini kami tidak merencanakan liburan, salah satu penghalangnya adalah masalah financial yang ketat, sehingga tidak ada alokasi dana untuk melencer keluar kota,jadi tidak ada rencana dan kalaupun ada rezeki mendadak, maka acara liburanpun mendadak sesuai dananya.

Ketika tiba saatnya tgl 21/10/06 pembantu dan pegawai mudik, kami putuskan

untuk tetap buka usaha kami 1 minggu lagi (sebab menurut kebiasaan kalau buka saat libur omset akan naik 3 x lipat dan dalam semingggu penghasilan akan jadi 3 minggu hari biasa) Dan kalau ada hasil extra kami rencana libur mulai minggu 29/10 s/d selasa 31/10 jadi masih ada 3 hari lumayan kan ini pikiran kami.

Berikut ini DIALOG kami (ortu) dengan Yansen seputar acara liburan lebaran:

Yansen : Liburan Yansen mau pergi jalan jalan dan nginap di hotel ya

Ortu : Papa dan mama belum punya cukup dana untuk biaya jalan jalan ya sayang

Yansen : Papa cari uang dulu nanti kalau sudah cukup kita pergi jalan jalan dong

Ortu : makanya papa belum libur, doakan papa ya biar sukses

Yansen : respon (dia berdoa)

Ortu : Tunggu ya sampai Tuhan menjawab doamu

Setelah kami janjikan kalau punya cukup dana mau nginap 2 malam, maka yansen pun bisa terima, dan selama liburan Yansen sibuk dirumah saja, karena tidak ada bibi maka cuci pakaian dan masak nasi adalah bagiannya, cecenya kebagian nyapu dan ngepel, mamanya harus gosok dan papanya disuruh cari uang. Rupanya Yansen sudah ngerti kalau segala sesuatu harus pakai biaya, makanya dia tidak pernah ribut saat libur papanya masih kerja. Wakti libur dirumah Yansen bahkan bisa kreatif bikin karangan Tentang salah satu alat elektronik yaitu MIXER isinya sangat detail bakan ada bagian yang digambar dan ditulis keterangan lihat gbr 1, lht gbr 2 ,lht gbr 3 dan setelah selesai dia berkomentar karangan Yansen bagus sekali, dan setelah kami perhatikan memang sangat baik, tata bahasa maupun informasi yang disampaikan sangat detail. Suatu hari sebelum sampai tgl dimana kami akan libur yansen bertanya lagi

Yansen : Ma libur kok yansen dirumah saja ?

Mama : kan papa belum libur

Yansen : ya tunggu papa libur dulu baru pergi jalan jalan ya

Mama : ya gitu dong anak manis (rupanya yansen sudah jenuh dirumah terus)

Setelah tahu hasil usaha kami selama buka lebaran tidak tercapai maka kamipun ditawarkan villa gratis oleh tantenya karena sudah tidak ada yang pakai, kamipun bermaksud meminjamnya untuk 2 malam tetapi ternyata pas harinya minggu 29/10 anak kami Yanni (kakaknya Yansen) mendapat konfirmasi bahwa mereka harus masuk sekolah hari senen tgl 30/10 maka acara nginap di villa terancam batal.

Minggu siang waktu pulang gereja, kami putuskan batal saja, dan kami memberitahukan Yansen saat didalam mobil, dimana rencananya pulang gereja kami mau pergi nginap di villa tantenya.

Papa : Sen kita tidak jadi nginap di villa tante

Yansen : kenapa?

Papa : sebab besok pagi cece harus masuk sekolah

Yansen : Cece turunkan saja dirumah lalu kita tetap pergi nginap ke villa

Mama : lha kok gitu cece dirumah sama siapa ? kan ngap ada mbak karni dan om waldi

Papa : Papa harus antar cece ke sekolah besok pagi (kan om waldi pulang kampung)

Yansen : Liburan Yansen hanya dirumah aja?

Papa : ya sudah nanti setelah makan siang di mall papa ajak yansen keliling kota Jakarta naik Bus way.

Yansen : ok yansen mau

Maka setelah makan siang kami meluncur ke harmony interchage parkir mobil dan menikmati jalan jalan di seputar kota jakarta, dan setelah singgah di beberapa tempat kamipun pulang mampir ke carefore harmoni dan beli makanan.

Dari kejadian ini kami sangat bersyukur karena ternyata anak kami Yansen sudah bisa menerima keadaan yang sekalipun tidak memuaskannya 100% tapi dia bisa tenggang rasa dan ber Toleransi. Ini kemajuan yang sangat signifikan yang sebelumnya sukar dipecahkan .

Semua ini karena anugrah Tuhan yang luar biasa. Semoga rekan rekan yang lain sesama ortu anak SN mendapatkan penghiburan dan bangkit meraih masa depan.

Salam kasih,

Ortu yansen

----- Original Message -----

From: Dyah Puspita

To: peduli-autis

Subject: Re: [Puterakembara] Yansen bisa terima argumentasi

Luar biasa!

Apa yang dicapai Yansen menunjukkan kematangan emosional yang luar biasa untuk anak seusianya. Bisa diajak negosiasi, toleransi, bahu membahu membantu kondisi di rumah, dan bisa menerima keadaan.

Sikap orangtua yang tulus apa adanya tidak dibuat-buat seperti yang bapak-ibu lakukan, sudah jarang dilakukan orangtua jaman sekarang rasanya. Yang ada justru cenderung mengupayakan yang tidak mungkin sehingga cenderung tabrak kanan-kiri (bisa-bisa malahan korupsi)..

Wah, saya angkat topi pada anda berdua. Salam untuk ibu, ya!

Semoga saya bisa mengikuti jejak Anda sekeluarga.

Salam penuh kekaguman,

Ita (& Ikhsan)

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy