Tips menjaga diet and sulit makan


di hari Lebaran/Liburan

11/04/2006

----- Original Message -----

From: Ac A

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Butuh saran buat lebaran nih...

Saya lagi butuh saran buat menghadapi lebaran. Berhubung lebaran dan pasti berkunjung ke rumah saudara2, nah... pasti akan berhadapan dengan toples2 kue kering yang sebagian besar bahannya pasti tepung terigu. Gimana cara menolaknya atau mencegah Neo (pasti dia udah sibuk ngeliat toples2 itu, dan memaksa2 buat dibuka) makan kuenya ya?

Satu lagi... Neo lagi susah banget makannya... Apalagi kalo diajak berpergian. Rencananya saat lebaran ini mau saya kasih tambahan Pediasure. Kira-kira yang aman yang mana ya? Kan ada Pediasure aja dan ada Pediasure Complete tuh... Kalo yang Pediasure aja ada tulisan bebas glutennya.

Makasih...

Cie (Ibu Neo, 2 tahun hampir 8 bulan)

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Tips mengatasi Sulit menjaga diet and sulit makan

Diet -

Kami mengalami juga mengalami kesulitan menjalankan diet CFGF pada awalnya tapi sekarang Casey sudah seperti tahu mana yang boleh dan mana yang TIDAK boleh dimakan. Vitamin Konsisten-nya Bu Ita lagi-lagi menurut saya jurus jitu disini dan juga harus mewanti-wanti semua orang yang mengasuh supaya tidak memberi toleransi. Kedua, untuk menghindari kita tidak tega melihat anak menatap orang makan kue sambil "nelan" air liur, mungkin bisa membawa anak bermain pada saat ada tamu. Alternatif lain, buat kue khusus untuk anak. Di milis banyak pakar membuat kue CFGF bahkan ada resepnya (kalau ga salah)

Soal sulit makan -

Mungkin bisa mencari tahu makanan apa yang disukai anak. Sebagai contoh, Casey tadinya sulit makan apalagi nasi dari beras organik yang kulit arinya sering agak kasar. Tetapi kami tahu kalau dia sangat suka makanan berbentuk kripik yang bunyinya kriuk-kriuk kalau dimakan. Jadilah Ibunya membuatkan dia kripik kentang, ubi, singkong, perkedel jagung (dibuat garing), dsb yang juga dirotasi. Memang jadi kerja tambah tapi cukup menolong.

Semoga bermanfaat.

Dar (Ayah Casey di Depok)

----- Original Message -----

From: LD

To: peduli-autis

Subject: Re: [Puterakembara] Butuh saran buat lebaran nih...

Jadi Neo diet nih....

Tapi diet apa yah ? Sepertinya diet terigu (gluten) tapi nggak diet Pediasure (casein)

Biasanya yang diet gluten juga diet casein....(CFGF casein free gluten free).

Kalo memang diet terigu, berikan alternatif makanan yang lain (bawa bekal kue kering yang bebas gluten - dr tepung beras, ketan atau kanji/tapioka) dan hanya ditawarkan pada Neo di saat2 berkunjung ke sanak keluarga (jadi unsur "limited edition" akan menjadi cukup menarik), dan ajak Neo untuk berbagi bekalnya dengan keluarga yang dikunjungi (memberikan wahana/alat sosialisasi).

Biasanya kalau lagi mood menjelaskan rendah (tentang Autism, diet dll) saya "closing" proses tuan rumah menawarkan kue2 tsb ke anak dgn agak memaksa ("kasihan, nggak apa2 ambil ini home made dll....") dgn "alergi" biasanya dikejar tuh dgn pertanyaan "apa reaksinya ?" dll jawaban saya "dia jadi pusing dan muter2 sendiri, nggak bisa tidur dll". Dan menghentikan cerita (nggak bagus yah.... nggak mensosialisasikan nih).

Kadang kita mau perbincangan bukan tentang anak spesial kita dari rumah satu ke rumah lain yg kita kunjungi... Saya mau perbincangan yang variatif dan ada nuansa keluarganya, lebarannya. Bukan berubah jadi "klinik observasi". Bukan apa2 saya rasa bisa jadi anak2 tahu lho kalo diomongin, berkali-kali lagi (setiap rumah), dipelototin sama tuan rumah (observasi utk membuktikan cerita bpk/ibunya). Biar saja anak2 merasakan iklim bertandang/bertamu secara wajar. Kalo ayah ibunya menerima dgn ikhlas di lubuk hati paling dalam, akan tercermin dari perilaku dan perbincangan kita. Jika mengeluh dan terbuka bercerita itu2 terus artinya kita tidak pada tahap "menerima dengan sepenuh hati" Jika anak di kunci di rumah saja artinya kita tdk mengajarinya bersosialisasi, tidak bisa menerima anak, atau ekstrimnya malu....

Kadang saya rasa anak2 perlu merasakan "kelaparan" dan "sakit". Aneh ya....??

Sehingga mereka bisa mengerti kekhawatiran kita "masuk angin", "sakit", "lapar"... dll. Kadang kita males direpotkan oleh efek negatif ke anak (sakit, kurus dll) sehingga selalu melakukan tindakan preventif yang sering drain up energy.

Belakangan, hal ini masuk dalam pikiran saya krn saya rasa anak2 saya tdk pernah merasakan kondisi diatas. Sebelum mereka lapar, kami dah sibuk memberi makan, menyuap. Pokoknya itu anak dirawat abis dari melek sampai merem. Dia nggak pernah tahu rasanya kelaparan... Sebelum laper dah disuap on time. Skg saya pikir nih anak kok nggak berusaha cari makan sendiri, siapkan buku sekolah sendiri dll. Masak sampai ada ungkapan putus asa (kalo nggak suka lauknya, saya suka sebel dan ngomel habis blum dicoba dah ngomong nggak suka, banyak orang nggak bisa makan, ini pilih2, yang ada di depan mata dimakan dan disyukuri!") "Rafii' nggak bisa suap sendiri, kalo Rafii' nggak disuap pasti lama dll" dan nangis abis.

Proses kesadaran kemandirian ini mesti bertahap dari hal2 yg bisa dikerjakannya dan terus menerus diberikan reinforcement (istiqomah bahasa kerennya :-) ). Paling nggak jangan terlalu khawatir belum makan sampai maksain tambahan susu Pediasure segala.... well I've been on that issue though hiks (saya pernah tuh kasih anak Susu Pediasure+madu+telur ayam kampung merahnya doang udah gitu diencerin pakai air kacang hijau) weiks malu kalo inget sampai hampir 1 tahun dengan frekuensi 7 botol (200 cc) per day! Saking sebelnya denger "kok kecil, nggak mau makan" dan kekhawatiran akan anak yang bercampur dengan keengganan mendengar komentar orang....

Menurut Prof. dr Suharyanto, dr ahli tumbuh kembang anak and gastrologi (pencernaan) yang sempet saya satroni di Jakarta dulu saat anak saya baru satu dan mom by the book :-) Pediasure sangat sulit unt dicerna oleh anak kecil. Karena lemak dan seratnya yang tinggi. Apalagi utk anak yang mempunyai masalah pencernaan. Itu sama saja buang duit dan menjerumuskan anak (sorry buat pihak marketing Pediasure :-P ) Waktu itu anak saya sudah berumur 2.5 th dan disarankan untuk ganti susu (unt anak usia 6 bln s/d 3 th). Belakangan saya pikir bener juga nggak usah susu unt anak usia lebih besar, karena biasanya yang membedakan adalah kandungan gulanya lebih tinggi juga unt menambah kalori anak yang semakin banyak bergerak.... Saya sampai saat ini membatasi asupan gula buat anak2. Manis biasanya didapat scr original dari buah dan sayur. Dan sebetulnya tanpa gula pun we can live, can't we ? Saya pikir sayur dan buah lebih sehat dan dibutuhkan tubuh dalam porsi yang lebih banyak daripada protein hewani. Namun rasanya kita sering terjebak pada pakem 4 sehat 5 sempurna dan pemahaman porsi sayur hanya sebagai "pembasah" dan "side dish" ketimbang "main dish". Porsi protein hewani dan karbohidrat jauh lebih besar. Dan rasanya "makan" jadi lebih syah kalo karnohidrat+protein hewani saja atau sarapan dgn roti dan susu daripada nasi dan sayur saja. Kenapa yah ? Ato karena deep down in our heart masih merasa inferior dr orang Barat, menganggap mereka lebih pintar/hebat dan mencari2 perbedaan kebiasaan dan mengadoptnya, seperti cara makannya dst.

Habis itu saya pakai diet ketat, sampai jenis makannya segala, berat badan standard harus naik 2,5 kg per th. Sampai suatu saat kemudian anak saya yg kurus kering itu jadi sedikit diatas grafik pertumbuhan normal dan terlihat "cubby", dengan menu yang sungguh monoton dan bubur untuk usia 9 bulan. Duh kalo inget jaman itu.... huuhuhuhuuuuuu Apa akibatnya ?? anak saya nggak terlatih mengunyah dengan baik, ususnya manja banget, makanan bisanya bubur dan tim lembekkkkk sekali. Kalo pas mudik repotnya nggak ketulungan. Setiap jam makan adalah "perjuangan" dll.

Ok anak jadi cubby tapi nggak ada unsur mendidik, mengajarnya utk "hidup" dan beradaptasi. Lalu kalo udah cubby mau ngapain gitu loh ??? Sebetulnya unsur inilah yang penting buat anak spy ia belajar utk mengenal tubuhnya sendiri dan bereaksi sesuai dengan kebutuhan tubuhnya secara mandiri.

Makanya saya pikir saya mau berjibaku dulu sampai entah kapan dengan motivasi "membangunkan" anak spy lebih mandiri dan bertanggung jawab, punya empati pada saudara dan orang lain, sesuai dengan usianya tentunya dengan mengeliminasi baby sitter dan pembantu. Hiks 2 baby sitter kami habis kontraknya lebaran ini. Dan Jkt sudah terlalu jauh dari Balikpapan.... Saya nggak tahu apa hasilnya nanti, but I have to create "tantangan" yg positif dan produktif kalo nggak saya bakal BT mulu krn nggak kerja hiks.... smile)

Satu lagi saya tadi baca e-mail siapa ya... yang fw dr milist lain. Buat saya semasa anak kecil, yg akan saya berikan adalah pelajaran bagaimana harus belajar ketimbang sentris merangsang kognitif anak. Learn how to learn. Jadi lebih ke sistem hidup : berjuang, menetapkan tujuan, konsisten pd perjuangan, pasrah akan hasil, bersyukur, beradaptasi, berempati pada sesama, bersosialisasi, dan kemandirian.

Dan selalu disisipkan dalam kegiatan keseharian yang kecil2 itu. Mandi nggak lama2, orang menunggu, antrian, resiko sakit, kalo orang udah bersih2, berempati dengan ikut menjaga kebersihan, ruang kreatifitas diberikan namun dalam koridor aturan yg diberikan dan mengasah tenggang rasa dll

Wadow ngomongnya kemana-mana yah, sorry....ya bunda Neo kalo terkesan cerewet (ketahuan aselinya weks....) Lagi "kumat" ngocolnya, hiks.

Wah saya dah kangen mudik dan kumpul ngocol dengan sodara2, mak dan bapak

smile)

Salaam hiks....,

Luk

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy