Suka duka anak saya di SD (Sekolah Umum)

10/11/2006

----- Original Message -----

From: WS di Pontianak

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Anak saya menjelang Remaja

Halo, rekan milis semua, Bu Leny n Bu Dyah, n juga Lusi (mama Gavin), apa kabar? Saya mamanya Terry, dari Pontianak. Saya udah lama jadi anggota milis ini. Tapi, ampun, saya cuman aktif baca semua surat yang masuk, pernah saya nulis juga, tapi itu udah lama. Sorry ya, tapi tiap hari saya ikutin terus perkembangan kita semua di sini.

Nampaknya saya mesti mulai dari introducing lagi ya. Anak saya Terry, sekarang hampir 12 tahun, masuk kelas 1 SMP. Dia bermasalah dengan konsentrasi, sosialisasi masih minim (hanya dengan teman-teman tertentu yang udah cukup close), n sama adiknya di rumah. Kalo dengan ortu sih gak masalah, karena kita yang selalu aktif ngedeketinnya. Sampe sekarang masih agak hiper. Verbalnya udah cukup bagus. Tahun 2002 yang lalu saya pernah bawa dia konsul ke tempat Bu Dyah di Erlangga. Mungkin Bu Dyah udah lupa ya. Kami berdomisili di Pontianak, n kayaknya kami ini satu-satunya anggota dari Kalimantan Barat ini.

Walaupun saya gak aktif nulis, tapi tiap hari saya selalu sempetin baca surat-surat yang masuk. Dan nampaknya sekarang yang lagi top hit mengenai pengobatan alternatif di Prof. H ya? Saya juga pernah ngelakoninnya 4 tahun yang lalu. Tapi syukurlah, setelah diterapi selama 2 hari aja, saya udah mutusin nggak nerusin lagi. Karena seperti yang sudah banyak diceritain oleh rekan-rekan semua, itu sangat gak manusiawi. Dan hasil akhirnya, Terry sampai trauma gak mau ke Jakarta selama bertahun-tahun. Setiap dengar nama H dan Jakarta, dia langsung protes. Jakarta kota yang jelek, banyak bom dan macem-macemlah. Akhirnya sampai tahun ini, setelah dikasi pengertian dia baru mau ikut ke Jakarta, karena kami janjikan ini Cuma acara liburan, bukan untuk berobat lagi.

Saya juga pengen nyapa Pak Anton (ortu Yansen), salam kenal Pak, karena saya rasa anak kita se rating ya, sama-sama umur 12 tahun, dan sudah masuk SMP. Boleh Pak Anton ya, saya mohon masukannya juga, gimana suka dukanya Yansen di SMP sekarang. Saya tunggu ya.

Sekian dulu ya, salam hangat untuk semua rekan milis.

Nat (Mama Terry, 12 tahun)

----- Original Message -----

From: AH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya menjelang Remaja

Salam juga buat Terry dan keluarga di Pontianak

Bu kalau boleh tahu Terry di Pontianak sekolah dimana ya?

Kalau Yansen di SMP umum, Mutiara Kasih Tangerang, bahkan ada 2 anak autis

dikelas satu sekelas dengan Yansen, tadinya mereka ngak mau terima anak bermasalah,tetapi setelah kami bisa pertahankan Yansen sampai tamat dengan hasil yang baik,pihak sekolah membuka diri mau menerima bahkan di SD yang pernah Yansen sekolah ada beberapa murid Autis yang masuk menyusul keberhasilan anak kami,ini merupakan sosialisasi yang sedang berjalan di dunia pendidikan.

Kalau soal konsentrasi belajar,yansen kadang kadang bisa pecah juga,terutama ada masalah yang sedang dalam pikirannya,tapi pihak sekolah sudah mengerti,bahkan Kep Sek berbicara kepada murid murid yang lain jangan iri kalau Yansen dan Rian sering keluar kelas,tetapi kalian harus bantu mereka,ingatkan mereka,supaya kembali kekelas dan menyelesaikan pekerjaannya,saya kira kalau prestasi bagus guru guru pun bisa menerima tingkah laku anak anak SN dikelasnya.

Kami rasa kalau kurikulum SMP umum memang berat,Yansen saja ngeluh mata pelajarannya banyak, kalau bisa sih sekolah yang menjurus untuk pengembangan bakat dan minat untuk anak SN lebih bagus,jadi tidak dibebani oleh banyak pelajaran yang bukan sesuai minat dan bakatnya.

Begitu dulu ya tanggapan kami,bu Nat, selamat buat Terry yang sudah lolos ke SMP, kami percaya jerih lelah ortu tidak pernah sia sia, terus berjuang demi masa depan anak anak kita.

salam kasih

Ortu yansen

----- Original Message -----

From: dyah

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Anak saya menjelang Remaja

Saya inget lho....tapi muka yang lupa (maklum lah...faktor U = umur)....

Seneng juga denger perkembangannya....



Sampai ketemu lagi yaaaa....



Salam,

Ita

----- Original Message -----

From: WS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Suka duka di sekolah

Rekan semua,

Aduh, saya senang sekali, karena surat saya yang pertama langsung dapet tanggapan dari Bu Dyah dan Pak Anton. Makasih ya, saya jadi gak perlu nunggu lama. Gak pa pa Bu Dyah dah lupa, maklum kok, karena yang konsultasi ke tempat Ibu pasti banyak banget. Tapi saya masih ingat lho dengan persis bu Dyah, dan gaya bicaranya yang khas itu. He ... he....

Pak Anton, domisilinya di Tangerang ya, kira-kira persisnya di mana. Kalo di Tangerang, saya biasanya di BSD. Dekat gak dengan Pak Anton? Sekarang hampir tiap 3 bulan sekali saya bolak-balik Jakarta buat konsul ke tempat Dr. MB.

Di Pontianak ini, Terry sekolahnya di sekolah umum. Tepatnya Persekolahan SUSTER, yang dikelola oleh Yayasan Keuskupan Pontianak. Dari TK , SD, sampe sekarang SMP masih tetap di Yayasan yang sama. Dari kemarin saya ikutin terus cerita Pak Anton tentang liku-liku perjalanan Bapak dan keluarga bersama Yansen. Saya amat terkesan, dan merasa mendapat support yang luar biasa.

Di sekolah Terry (SD dan SMP skr), dia merupakan kasus pertama di sana. Karena setahu saya, anak SN yang udah sekolah di sekolah umum setingkat dia cuman 2 orang, satu anak rekan saya, kelas II SMP (sekolah yang berbeda dengan Terry), dan yang kedua adalah Terry ini. Memang mereka bukan kasus pertama yang kami temui di sini. Karena berdasarkan info yg saya dapet, ada anak SN yang udah berusia 18 tahun di kota kami ini. Cuman mereka gak pernah masuk di sekolah umum. Di SD, Terry mempunyai beberapa adik kelas SN juga. Pernah lho, saya dapet kabar dari guru2, setelah kasus Terry dan adik kelasnya (1 tahun di bawah Terry), sekolah menyeleksi dengan ketat anak2 yang masuk. Mungkin mereka gak mau dapet lagi yang seperti ini. Tapi syukurlah di tahun ini, saya denger lagi, kalo dari Yayasan pengelola, digariskan bahwa anak2 SN harus diterima, jadi pihak sekolah dan guru gak bisa lagi menolak.

Menurut yang Saya baca dari surat Bapak, Terry mempunyai kecenderungan hampir sama dengan Yansen. Dia juga suka baca resep, paling suka kalo udah Imlek, kita bikin kue, dia pasti nimbrung. Dan kadang2 dia juga menulis resep (ala dia sendiri). Terobsesi juga dengan otomotif. (paling suka nonton balapan F1, Moto GP, dan sebangsanya). Koleksi gambar-gambar mobil, suka gambar speedometer beragam merk mobil. Paling senang kalo ada pameran mobil di mal. Sekarang dia lagi

berpikir, kapan dia boleh ikut kursus nyetir. (aduh, saya gak berani bayangin, soalnya kalo nyetir di game, dia suka membelot, ngambil wrong way).

Suka duka di sekolah sejak TK sampe SMP sekarang, udah gak terkira banyaknya.

Tahun2 pertama di SD, semuanya berjalan dengan sangat mulus. Walaupun di kelas jumlah murid sampai 50-an, tapi berkat campur tangan Tuhan, dia selalu dikirimi seorang guru kelas yang amat sangat baik dan pengertian. Karena di kelas2 rendah, biasanya kan ibu guru, jadi mereka lebih toleransi dan sangat memahami kondisi Terry. Nilai akademisnya sampe kelas II juga sangat bagus.

Menginjak kelas IV, saya udah mulai kesulitan membimbing dia belajar, mgkn krn pelajaran yang udah makin kompleks dan bahasa yang sudah tidak sederhana lagi. Dan saya perhatikan daya rekamannya juga jauh berkurang, (hanya untuk hal2 yang dia minati, masih sgt luar biasa, dia jago peta buta, hapal lagu kebangsaan tiap negara, mata uang, suku bangsanya dan letak2 negara di benua apa, sebelah mana). Yang saya perhatikan dia paling kesulitan di Pel. PPKN dan B. Indonesia.

Gimana dengan Yansen? Kalo untuk sains dan pengetahuan lainnya dia cukup lumayan. Di kelas V saya menemui rintangan yg cukup berat. Dia dapat guru kelas Laki-laki. Maklumlah, dengan guru laki2, saya yang wanita, gak terlalu mengambil pendekatan, jadi mungkin simpati untuk Terry juga kurang. Alhasil, waktu pengambilan rapor trimester I, terjadi perdebatan seru di rapat guru. Karena dia mendapat nilai2 untuk pelajaran tertentu lebih baik dari anak rangk I di kelasnya.

Mulailah muncul protes wali kelas ke guru bid studi masing2. WK meminta nilai Terry harus dikurangi, karena menurut hemat dia anak "tidak normal" seperti dia, gak boleh dapat nilai lebih tinggi dari "anak normal" yang lain.

Aduh, bisa gak rekan2 semua bayangin, gimana hancurnya hati saya waktu mendapat kabar ini (dari guru lain yang cukup bersimpati dengan kita). Saya sampai down dan ngerasa marah yang amat sangat. Nilai2 itu hasil murni dari belajarnya dia, sgt melelahkan dan berat buat dia lho. Dan lagian soal tes maupun ulangan yang diberikan ke dia juga sama dgn yg lain, bukan lebih mudah. Kenapa dia gak boleh dapat nilai yang seharusnya? Akhirnya, nilai PPKN nya yang dikurangi, karena menurut guru ybs, setiap nilai harus dinilai dari unsur kognitif (teori), psikomotorik (praktek), dan afektif (sikap) nya. Yang mana untuk afektif, terang aja dia gak dapat, karena memang punya tingkah laku yang agak berbeda Saat itu, saya udah kepikir mau klaim ke Diknas di sini, ngaduin guru ybs. Namun setelah saya pikir2, udahlah, saya terima aja semua ini, mungkin ini satu bentuk cobaan Tuhan, dan berdoa semoga di langkah2 berikutnya, tidak ada ganjalan lagi seperti ini.

Hingga di kelas V dan sampe kelulusan, protes seperti itu masih bermunculan, saya pasrah aja, yang penting dia lulus, nilai bagus atau tidak, gak masalah, bisa tidaknya dia kita aja yang tau. Oh ya, dari kelas I-VI, dia gak pernah saya dampingi sama sekali. Pun gak pernah ditengok waktu istirahat, saya percayain dia ama teman dan gurunya. Di kelas dia hanya akan bergerak kalo guru yang masuk terlalu toleransi, tapi dengan guru yang tegas, dia tidak berkutik sama sekali.

Setelah kelulusan, saya dilanda kesedihan yang mendalam. Betapa tdk, dia udah bersama2 teman2nya dari kelas I, banyak yang udah dekat dgn dia, dan dgn saya tentunya, (teman2nya juga teman saya, seperti mama Yansen).

Karena sebagian besar teman2nya, memilih ke SMP lain (yg lebih favorit), dia juga minta mo ikut mereka, tapi saya gak berani, krn lingk yang baru tentu akan berat buat dia. Akhirnya, dia tetap saya daftarkan ke SMP yang sama, dengan sedikit sekali teman lamanya.

Aduh, udah panjang sekali ya tulisan ini, mungkin pada bosen. Lain kali baru saya lanjutin lagi. Salam untuk Bu Leny, dan rekan2 semua.

Nat (mama Terry, Ptk)

----- Original Message -----

From: Leny Marijani

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: suka duka di sekolah

Halloo ibu Nata.....

Akhirnya...... ibu memperkenalkan diri juga setelah 2 tahun bergabung he...he..he..

Tapi jangan kuatir, ibu tidak sendiri kok.... maksudnya yang tidak meperkenalkan diri saat bergabung..... smile

Sorry baru sempat menyapa.... maklum akhir2 ini saya sibuk dengan anak saya yang kecil (NT) yang mulai menampakkan bakat dan minatnya. Selama beberapa tahun yang lalu saya kan sibuk dengan anak saya yang Asperger (13 thn, hampir sebaya Terry ya....). Sekarang anak saya yang besar itu sudah bisa mandiri, jadi saya bisa lebih konsentrasi dengan anak-anak yang lain.



Saya ingin juga mengucapkan "Selamat" pada Ibu dan tentunya Bapak yang sudah berhasil membimbing Terry melewati SD. Mudah-mudahan sharing ibu ini dapat menjadi pemicu semangat yang lain agar tidak putus asa dalam membimbing anak-anaknya di sekolah umum (dengan catatan kalau anaknya mampu yah.....).

Boleh bu disharing cerita lengkapnya, buat nambahin koleksi "success stories" di website. Aduh... ini edit artikelnya Yansen ajah... gak beres2...., maaf yah Pak Anton..... Ini namanya "nafsu besar tenaga/waktu kurang" nih...... smile

Salam,

Leny

----- Original Message -----

From: EH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: suka duka di sekolah

Prihatin sekali mendengar yg spt ini... apalagi dari Wali Kelas sendiri... L

Quote:

[Di kelas V saya menemui rintangan yg cukup berat. ........................

Alhasil, waktu pengambilan rapor trimester I, terjadi

perdebatan seru di rapat guru. Karena dia mendapat nilai2 untuk

pelajaran tertentu lebih baik dari anak rangk I di kelasnya.

Mulailah muncul protes wali kelas ke guru bid studi masing2. WK

meminta nilai Terry harus dikurangi, karena menurut hemat dia anak

"tidak normal" seperti dia, gak boleh dapat nilai lebih tinggi dari

"anak normal" yang lain.

Aduh, bisa gak rekan2 semua bayangin, gimana hancurnya hati saya

waktu mendapat kabar ini (dari guru lain yang cukup bersimpati dengan

kita). Saya sampai down dan ngerasa marah yang amat sangat. Nilai2

itu hasil murni dari belajarnya dia, sgt melelahkan dan berat buat

dia lho. Dan lagian soal tes maupun ulangan yang diberikan ke dia

juga sama dgn yg lain, bukan lebih mudah. Kenapa dia gak boleh dapat

nilai yang seharusnya? Akhirnya, nilai PPKN nya yang dikurangi,

karena menurut guru ybs, setiap nilai harus dinilai dari unsur

kognitif (teori), psikomotorik (praktek), dan afektif (sikap) nya.] unquote-

----- Original Message -----

From: Lu

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: suka duka di sekolah

Wah panas banget dengernya...

Kasihan anaknya donk. Masak usaha kerasnya gak dihargai.. Jadi kebayang dech muak Terri gak tega liat dia dikecewakan kayak gitu. Tapi mungkin Terri gak tau ya... (ortunya yang lebih sakit hati smile)

Yah terpaksa pasrah dech kita sebagai ortu. Kadang sekolah mau terima ajah udah bersukur. Bisa lewat SD tanpa di ganggu temen2 juga udah sukur yah...

Saya berdoa dech semoga Terri lancar2 aja di SMPnya.

Gimana masih les bareng ama Ricky dan Desy?

Kapan ke Jakarta lagi? Sayang kemarin ketemu terburu-buru jadi gak sempat ngobrol ya... Mungkin lain waktu bisa lebih longgar smile main ke rumah ya kalo ke Jakarta.

Lu

----- Original Message -----

From: WS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: sosialisasi untuk guru Terri

Halo Lusi,

Makasih atas sarannya. Waktu di SD dulu udah pernah saya coba. Memang di SD dulu cuman 2 atau 3 guru yang agak kontra. Ya, termasuk, wali kelas 5 dan 6 dulu. Saya sampai belikan bukunya Sarasvati untuk KepSeknya. (orangnya baik). Oleh Kepsek buku itu dikasi ke WK Kls 5 (yg ngurangi nilai Terry itu). Tapi apa commentnya? Dia bilang, lha, suruh mamanya bawa aja ke Australia seperti Ibu Sarasvati itu aja. Ya, ampun, maksud Kepseknya sih, biar guru itu tau, gmn perjuangan seorang ibu yang ngerawat anaknya yang autis itu. Di kelas VI, saya kasihkan buku Bunga Rampai ke WKnya. (soalnya dia bilang, kurang ngerti tentang autis gitu) Jadi, saya bilang, tolong baca aja buku ini, biar lebih kenal dengan dunia autis dan segala masalahnya. Daripada kita kasih makalah seminar yang lebih eoritis, jd baik dia baca aja yang lebih nyata. Tapi apa lagi commentnya, guru ybs bilang

ke guru lain, wah, mamanya, sampai nyuruh saya baca segala buku, gak saya sentuh, saya balikin aja. (Dia balikin pas mau ujian kelulusan). Ya, itulah, memang ada segelintir orang yang masih gak mau sama sekali membuka diri, sekedar mau cari pengetahuan juga gak mau. Jadi, ya, kita gak bisa maksa.

Kmrn saya udah sempat pdkt ke wali kelas di SMP ini. Ya, cuman omongannya masih rada2 nyelekit gitu. Soalnya, dalam benak mereka, anak spt Terry gitu apa2 pasti gak mampu. Dia bilang kalo akademis di SD, itu pasti karena guru2 gak mau nahan dia lama2, naikin kelas terus aja, biar cepet lulus, gak jadi beban. Waktu itu saya cuman senyum2 aja. Terserahlah, mo bilang apa, yang penting yang paling tau kan kita. Emang guru itu gak bermoral, bisa ngasih nilai seenaknya.

Gmn pertanggungjawabannya? Mo ngemis nilai 0,5 aja gak dikasi. (itu pengalaman ortu lain, yang anaknya agak kurang) Skr, sambil jalan, saya liat perkembangannya aja. Mudah2an, seiring berjalannya waktu, mereka bisa lebih mengenal Terry, dan moga2 bisa merubah penilaiannya (lebih obyektif gitu). Memang kita akui, anak kita masih serba kekurangan, tapi mudah2an kekurangan itu tidak dijadikan alasan untuk mendiskreditkannya. Kapan ke Ptk lagi Lus? Salam buat Gaby dan Gavin. Terry masih les bareng Ricky dan Desy. Cuman sekarang gak satu sekolah lagi ama Desy. Saya rencana ke Jkt Des nanti, moga bisa ketemu. Dan minta infonya dong tentang buku2 yang disebutin tadi. Bahan2 lainnya juga. Soalnya udah lama saya gak beli buku lagi.

Thanks atas supportnya.

Salam,

Nat (Mama Terry)

----- Original Message -----

From: DO

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: sosialisasi untuk guru Terri

Repotnya orang2 yang ga mau memperluas wawasan dan membuka diri itu profesinya guru, ya Bu. Profesi mulia yang seharusnya sadar bahwa tiap anak berhak emperoleh ilmu bagaimanapun kondisi mereka. Coba bayangkan bila mereka sadar bahwa ilmu yang mereka berikan ( pada siapapun ) itu sudah dijanjikan Allah akan jadi pahala yang tak putus selama memberi manfaat pada yang dia didik.

Makanya, saya sangat hormat pada terapis2 farrel, baik yg sekarang udah ga menerapi farrel lagi, maupun yg masih. Apapun kemajuan farrel walaupun kecil akan saya beritahukan mereka, karena saya yakin itu juga merupakan kebahagiaan buat mereka. Kalo saya punya buku atau tambahan ilmu apapun pasti saya bagi ke mereka. karena pasti akan membawa banyak manfaat buat anak2 autis yg lain juga.

dee

----- Original Message -----

From: Sis

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: sosialisasi untuk guru Terri

Wah kok hari gini masih ada guru yang gak mau belajar untuk mengerti ya?

sedih........... Smoga guru-nya Terri, nantinya dapat menyadari hal ini dengan cara yang baik (maksudnya jgn sampai dia baru sadar/ mengerti tetang autis dll, karena

setelah punya anak atau cucu yang special need, kasian)

salam

Sis

----- Original Message -----

From: LRUP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: sosialisasi untuk guru Terri

Benar bu,

Seringkali kita 'sebel' banget kalau ketemu dengan orang-2 seperti ini. Saya pernah juga kesel ' kepala sekolah' KB anak saya. Orangnya keras kepala , walaupun enggak seperti guru Tery Akhirnya saya memutuskan untuk pindah ke sekolah lain.

Akhirnya pendekatan saya ke guru anak saya yg anaknya mempunyai kelainan. Waktu itu saya berikan tiket seminar 'Autis' ke beliau. Ech ternyata Kepala sekolahnya malah tidak hanya mengirim 1 guru tapi juga guru yg lain. Syukurlah.

Berdoa aja, moga-2 orang-2 seperti ini cepat 'sadar'...

Salam

lu

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy