Jujur ndak ya?

10/11/2006

----- Original Message -----

From: R Triwi

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Jujur ndak ya?

Dear all,

Mau tanya nih, apakah kalau saya mau memasukkan kesekolah umum atau TPA harus jujur ke pihak pengelola bahwa anak kita autis? Begini nih ceritanya, sewaktu memasukkan ivan ke TPA, suami saya melarang saya cerita apapun tentang ke"spesial"an ivan karena takut tidak diterima, pun kalau diterima kata suami saya nanti ivan akan di"karantina" supaya tidak mengganggu yang lain. Bener ndak sih? Ini jadi persoalan sekarang, karena para pengasuh di TPAnya protes, ivan sering ngamuk tanpa sebab dan memukuli, mencakar anak2 yang lain juga pengasuhnya. Saat ini saya cuma bilang ivan belum bisa bicara jadi kompensasinya dengan non verbal begitu. Untungnya pihak pengelola masih percaya. Tapi apa ya saya harus terus menutupi kondisi ivan terus supaya ivan bisa diterima di sekolah umum? Ada yang bisa beri saran? Apa ada gathering untuk yang domisili di Jogja dan Jateng? Masalahnya suami dan keluarga besar suami saya sepertinya belum bisa menerima kalau ivan autis. Mereka ! protes ivan saya masukkan SLB autis. Mereka menyalahkan tindakan saya. Saya bertindak atas hasil konsultasi dokter dan psikolog serta hasil tes kesehatan ivan (tumbuh kembang, ddst dan bera). Mereka (suami dan keluarga besar suami saya) hanya melihat bahwa kenakalan ivan adalah hal yang biasa untuk anak laki-laki, malah kalau tidak nakal nanti jadi banci katanya. Trus kalau masalah belum bisa bicara, kata mereka mungkin "kran"nya belum terbuka aja, ntar kalau sudah terbuka pasti ceriwis, dan kalau laki-laki lebih baik pendiam daripada cerewet. Bener ndak sih statemen-nya? Kok sepertinya "klasik" banget menurut saya. Ntahlah. Saya rasa kalau bisa gathering biar "pikiran" suami saya lebih terbuka. Saya sendiri males berdebat tentang kondisi ivan, yang penting bagaimana menyelamatkan masa depan ivan dulu. Yang bikin galau saya karena ivan akan tinggal dengan pa2nya. Duh sampai ketakutan sekali ntar tiba2 terapi dihentikan seperti saat tahun k! emarin sempat ivan saya titipkan dimertua saya, ternyata ivan "di biarkan" dengan kondisinya sampai umur hampir 2 tahun belum bisa jalan. Maaf ya jadi curhat. Kawatir sekali nih, karena besok rabu saya sudah benar-benar "pisah secara fisik" dengan ivan. Terimakasih.



Rita (Ivan'moms)

----- Original Message -----

From: LP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Jujur ndak ya?

Ibu Rita,

Kalau boleh saya urun rembuk, lebih baik kita berkata jujur bu dengan kondisi anak kita biar nggak jadi omongan di kemudian hari, dan juga akan lebih baik untuk si anak sendiri. Konsekwensinya memang pasti ada penolakan kita sebagai orang tua memang harus siap menerima penolakan tersebut jadi kita juga sudah antisipasi dengan keadaan. Kalau pihak sekolah tiba2 menolak anak kita di tengah2 tahun ajaran khan repot Bu, yah..paling tidak kita berusaha menerima keistimewaan anak kita jadi

semuanya lebih enteng biar bagaimanapun anak akan bisa menangkap "perasaan" orang tuanya biarpun mungkin dia tidak bisa mengatakannya. Sorry ya bu jadi ceramah, maaf kalau ada kata2 yang tidak berkenan berfikir positif aja dan tetap berdoa....

Sukses yach...

Salam

Lili (mama Katya ADHD)



----- Original Message -----

From: ISW

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Jujur ndak ya?

Dear Ibu Rita,

Menurut Saya lebih baik ibu terus terang ke pihak sekolah ( dulu saya memilih sekolah yang biasa biasa saja ), pengalaman saya dulu pada saat Ariq masuk PG saya bicarakan dulu keadaannya dengan petugas adm nya,dan di formulir pendataran saya tulis kelebihan dan kekurangan Ariq serta langkah 2 yg telah di lakukan di rumah, Alhamdulilah di awal masuk sekolah saya cuma sempat menungguinya 3 hari ( selebihnya di tungguin "mbak" nya) dan selama 3 hari itu saya gunakan untuk berbincang 2 dengan guru nya Ariq ( ttg keadaannya yg special ) semua berjalan lancar, ada sih kendala kecil..tapiii biasalah......namanya juga anak 2 he he he.......(sekarang Ariq sudah di TK A ). kalau keluarga keberatan Ivan sekolah di SLB Autis, gimana kalau di coba sekolah di rumah saja ? sekalian dengan terapi 2 nya.

.

Sama seperti ibu , saya dan suami juga diawali dengan banyak pertentangan dan perbedaan pendapat, saya yg teramat sangat khawatir, dan suami yg selalu memandang Ariq dengan segala kelebihannya. Tapi waktu kan berjalan terus......dan yg jadi korban adalah Ariq, akhirnya kami sepakat untuk menemui "sang ahli ", minta pencerahan ttg keaadaan Ariq......terbuka lah semua......dan kami jadi semakin mantap untuk mengambil langkah dan tindakan selanjutnya. ( baru baru ini saya berhasil

mengajak suami untuk bergabung menjadi keluarga besar PK mudah mudahhan

suami ibu juga berminat ).

Jujur saja ya bu, Keluarga saya di kampung tidak ada yg tahu bahwa Ariq autis, menurut mereka Ariq kurang di lepaslah. over protec lah bla bla bla....sehingga lari kesana kemari......selebihnya mereka banyak melihat kelebihan Ariq .(balance khan he he he ) Tapi...di pihak keluarga suami sangat paham dengan keadaan Ariq, dan

Alhamdulilah semuanya memberi suport dan begitu yakin bahwa Ariq pasti akan

seperti anak NT lainnnya apalagi melihat perkembangannya( AMIN. AMIN. AMIN..) ..........

Betul sekali bu, kita selamatkan masa depan anak kita, sehingga kelak mereka

bisa mandiri, jadi jangan bosan bosan untuk komunikasi ttg anak 2 dengan suami dan kelurga besar berdasarkan fakta fakta yg ada, semoga semua bisa jauh lebih baik........ Doa saya dari Jauh.....

Ida ( Bunda Ariq, 4 th 5 bln ).

----- Original Message -----

From: HB

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Jujur ndak ya?

Kalau menurut saya inti permasalahannya keluarga ibu belum mau menerima

ke-special-an ivan, terima dulu, baru bisa bicara ke lingkungan sekitar.

Saran saya bilang apa adanya, dengan begitu guru dan orang disekitar akan maklum dan gak bertanya tanya mengenai kelakuan anak kita yang special, beban kita jadi jauh berkurang.

----- Original Message -----

From: WS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Jujur ndak ya?

Ibu Lili dan Ibu Rita,

Saya pengen ikut nimbrung nih. Pada dasarnya saya setuju dengan Ibu Lili, kalo jujur duluan itu akan lebih baik, daripada ntar di tengah jalan kita dicekal. Tapi konsekwensi kalo kita berkata jujur juga cukup berat. Seperti pengalaman saya, waktu mau memasukkan Terry ke SMP (umum) yang baru ada beberapa tahun di Ptk ini. Saya memilih sekolah itu dengan pertimbangan jumlah muridnya masih sedikit, hanya 20-an sekelas. Bukankah itu lebih sesuai untuk anak SN ? Akan tetapi,

maksud kita untuk menjelaskan lebih dulu kondisi anak kita malah menjadi bumerang, saya ditolak secara halus (padahal di sekolah itu sudah ada beberapa anak SN di SDnya). Mungkin mereka berpikir, ini udah ketauan duluan, mending tolak aja deh, daripada bermasalah. Sekarang saya dengar, untuk tahun ajaran baru ini, di kelas I SMP ada 1 anak yang agak istimewa juga di sana, kecolongan kali...........

Lain cerita dengan SMP Terry yang baru sekarang. Belum sempat saya untuk berkata jujur, ternyata sudah ada pihak yg tak bertanggung jawab yang udah duluan memprovokasi guru2 SMPnya. Jadi, sebelum dia masuk sekolah, mereka udah mendengar masukan2 yang negatif tentang anak ini. Image buruk tentang Terry sudah duluan tertanam di pikiran mereka. Padahal Terry ini di SD gak pernah menimbulkan masalah yang wah.... (Dia tidak tantrum, tidak pernah mengamuk, tidak liar, patuh ama guru, paling kekurangan di kelas, hanya gak konsen ama perhatian ama penjelasan guru). Kesulitan yang dia hadapi, hanya pandangan

subjektifitas segelintir guru yang kurang bersimpati, itu saja. Teman2nya malah sangat mengasihinya dan sampai saat ini, yang udah pisah sekolah, masih suka rindu ama dia. Kan dia anaknya lucu, suka bikin ketawa yang lain.

Alhasil, sebelum menghadapi Terry, guru2 SMP udah berkesimpulan, anak ini sangat menakutkan. Bahkan ada guru kelas 2 yang berkomentar, aduh, takut nanti kalo tahun depan mau mengajar dia. Dia dianggap perusak, ntar merusak lab IPA lah, komputer lah, mengganggu teman yang lain belajar lah, (padahal yang saya dengar saat ini, di kelas justru banyak anak2 normal yang malah suka bikin ribut). Mendengar semua itu, saya sampai sedih plus mau ketawa. Apa sih yang menakutkan dari anak seperti mereka. Kalau saja mereka mau lebih objektif,

justru banyak hal-hal dari anak ini yang bisa membuat kita tersenyum,

bahkan tertawa. Sampe pelajaran musik (yang pakai biola), dia diminta bawa sendiri

dari rumah, gak boleh pake punya sekolah, takut dirusakin. Saya sampai disarankan untuk memindahkannya ke SLB aja, Ibu salah jalur, begitu penuturan wali kelasnya. Hati saya sempat miris juga, kalau saat ini saya memindahkannya ke SLB, sia-sia dong perjuangan dan perjalanan kami selama 8 tahun ini di sekolah umum. (Tk-2 th,

SD-6 th). Apakah semua yang udah dia dapat hingga hari ini (begitu banyak yang berharga, pengetahuan, sosialisasi-walaupun belum maksimal, teman) harus diakhiri sampai di sini? Tapi saya cuek aja, sambil berusaha dan berdoa, semoga Tuhan mau

membuka mata hati mereka, agar mereka terketuk nuraninya, rela membimbing dan mendidik Terry selama 3 tahun ke depan di SMP ini.

Sekian dulu dari saya, maaf kalo sampai panjang gitu, maklumlah,

sekali curhat, apa aja bisa keluar dari hati kita.

Salam buat semua rekan,

Na (mama Terry) Ptk

----- Original Message -----

From: LP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Jujur ndak ya?

Bu Nat,

Betul bu pasti kita akan banyak mengalami penyekalan seperti yang Terry alami tapi kalau buat saya sih lebih baik ditolak diawal dari pada di intimidasi setelah sekolah berjalan saya punya pengalaman pribadi dengan Katya. Waktu itu saya dan suami berkeras untuk memasukkan Katya ke sekolah negeri tempat kakaknya sekolah juga, yang merupakan sekolah unggulan, Katya masuk sebagai murid cadangan tapi karena "money talks" jadi Katya bisa diterima dan kita tidak memberitahukan kondisi Katya ke guru2 di sekolah. Sepintas memang Katya enggak terlalu terlihat berbeda dari teman2nya tetapi setelah sekolah berlangsung mulai ada keluhan dari wali kelasnya kalau Katya tidak bisa diam di kelas, baru setelah itu kami cerita terus terang kondisi katya tapi apa yang terjadi, guru di kelasnya malah semakin menjadi selalu bilanng ke Katya "kamu nggak bisa" Katya jadi kelihatan frustasi dan nggak PD kadang2 untuk menjawab soal yang mudah dia ragu2 dan harus konfirmasi dulu ke saya sambil tanya

"jawabannya ini ya Ma?" atau kalau dia tidak ada orang yang bisa dikonfirmasi terutama disekolah karena gurunya tidak kooperatif dia bisa nangis atau ngamuk di sekolahnya yang ada pengasuhnya yang dicakar atau di pukul. Akhirnya semester 2 saya pindah sekolah dan masih sekolah negeri yang muridnya lebih sedikit hanya kali ini kami cerita terus terang mengenai kondisi Katya tadinya gurunya merasa bisa handle katya tapi setelah sekolah berjalan lagi2 mereka menyatakan tidak sanggup

meskipun tidak mengintimidasi bahkan wali kelasnya memberikan rekomendasi sekolah yang mungkin cocok dgn kondisi katya. Awalnya memang hati kecil kami tidak mau terima tapi setelah semua kami pasrahkan kepada Allah SWT semua berjalan lancar meskipun katya masuk sekolah khusus saya cuek aja cerita ke orang lain maupun keluarga pokoknya I don't care what people say yang penting sekarang Katya enjoy banget dengan sekolah barunya dan prestasinya juga meningkat kayaknya kuncinya kita pasrah aja dan berfikir positif buat anak dan keluarga saya nggak tau dengan orang lain tapi setelah pasrah semua jadi terasa lebih enteng..... wah saya jadi ikutan bikin cerita nih....tapi mudah2 bisa bermanfaat buat orang lain.

Salam

Lili

----- Original Message -----

From: WS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Jujur ndak ya?

Bu Lili dan semua rekan,

Ternyata, Ibu juga punya pengalaman hampir seperti saya, dan saya yakin masih banyak yang mengalami yang seperti ini. Betul, kunci menghadapi semua ini hanya satu kata, pasrah. Dan biarkan saja mereka yang gak mau mengerti terus mempermasalahkannya. Karena hal ini ngebuktikan bahwa sebenarnya, mereka juga bermasalah. Betul, kan? Itu jelas2 tau, mereka anak2 bermasalah, kok masih mau dipermasalahkan terus. Mendingan, kasih aja mereka care & protect, ngayomi, biar

mereka bisa terbantu untuk keluar dari semua ini. Jadi yang gak normal, ya, mereka2 juga. Tapi gimanapun, we're not angel. Kita punya emosi dan kesabaran. Ada kalanya juga semua ini terasa begitu berat. Kita udah mesti care extra buat anak2, kadang ditambah omongan macem2 yang bisa bikin down, pusing!

Memang gak sedikit juga yang memberikan support dan membesarkan hati kita. Kita ini orang tua pilihan, begitu kata mereka. Karena Tuhan yakin, kita mampu mengasuh anak2 SN, maka kita yang diberi tugas ini. Semoga aja perjuangan kita dari hari ke hari, semakin membuahkan hasil yang nyata. Agar anak2 SN kita bisa hidup layak dan berkembang seperti yang seharusnya mereka dapatkan.

Semoga semua kuat dan berjuang terus!

Salam,

Nat (Mama Terry)

----- Original Message -----

From: R Triwi

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Jujur ndak ya?

Dear all, terutama Bp/Ibu Lili, Ida, Prawitosari, D, Herwin, Natalia (mama Terry), Eveline, Lusiana, Eliza (mama rafa), Indrie, otty, Risye, Astuti, Haryanto.

Terimakasih atas sharingnya. Saya sudah seminggu di Banjarmasin, disini susah conect dengan Lycos, baru malam ini bisa buka Lycos, seminggu ndak bisa conect Lycos sama sekali, kata temen mungkin karena disini pakai wirelees apalagi dekat hutan pinus, maaf ya. Terimakasih untuk mama Terry atas informasinya.

Syallom

Rita (Ivan's mom)

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy