Sharing pembantu/pengasuh/babysitter

10/10/2006

----- Original Message -----

From: Gun

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Sharing pembantu/pengasuh/babysitter

Mengenai pola tidur kami juga heran dengan Dandy kalau disuruh tidur sama pengasuhnya (Wanten) nurut sekali, langsung posisi tidur dan merem. Kalau disuruh apa2 nurut, disuruh duduk anteng banget duduknya, nggak lari2 sana kemari. Terus kalau Dandy lagi kesel dan marah ingin mukul, kalau sama orang lain pasti mukul dan sakit rasanya, tapi kalau sama pengasuhnya (Wanten) dia tidak berani mukul, jd seperti mau mukul nggak jadi. Jadi kami sering heran dan bertanya2 sendiri. Apa itu karena waktu dulu waktu Dandy masih sering dibawa ke orang2 pinter, pengasuhnya (Wanten) jg diisi dg tenaga supranatural orang2 pinter tsb. Soalnya waktu itu pernah ada orang pinter yg dikunjunginya menanyakan siapa orang yg sehari2 sama Dandy, terus pengasuhnya itu dia isi dengan ilmunya. Apa mungkin karena itu ya? Terus terang kami jadi tergantung sekali dengan pengasuh itu sampai sekarang dan buruknya pengasuh tersebut merasa dibutuhkan dan menjadi besar kepala terhadap kami. Mohon pencerahannya.

Untuk ibu Ita,

Terima kasih sekali Dandy dan adik2nya (Nia dan Adi) sekarang tidak

tergantung pempers lagi. Untuk ibu Ita, ibu pernah ketemu dengan pengasuhnya Dandy ini, waktu itu ibu Ita menyuruh Wanten diam tidak ikut nyuruh2 Dandy saat ibu Ita beriteraksi dg Dandy. Apa ibu Ita masih ingat?

Best Regards,

Gun

----- Original Message -----

From: Lus

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing pembantu/pengasuh/babysitter

Aku malah curiga jangan2 kalau gak ada orang tuanya si wanten itu galllaaaakkk banget ama Dandy. Jadi anak itu takut dan menurut sama mbaknya. Bagi saya kalau sampai seorang anak gak berani mukul orang2 tertentu biasanya dia takut sama orang itu.

Anak saya yang tertua pernah diasuh oleh baby sitter selama 5 tahun. Dari lahir sampai umur 5 tahun. (waktu itu saya kerja di perusahaan akuntan, yang paling "pagi" pulangnya jam 10 malam sad ) Saya sangat tergantung sama babby sitter ini. Kerjanya gak bercela, rumah bersih, bahkan sampai ngurus ortunya juga (masakin kami ortunya sayur), masaknya juga enak. Wah gendut anak saya, makannya hebat (kalau sama Ibunya 2 jam Cuma dapet 3 sendok... bayangin.... itu udah pakai pertumpahan darah tuch). Kalau sama susternya ini nurut banget dech. Makan dan tidur teratur. Kalau Ibunya yang tidurin, sapai Ibunya tertidur anak saya masih belum tidur (he...he...he...)

Tapi saya perhatikan anak saya jarang tertawa, gendut tapi pendiam, dua kali

dipanggil sama guru konseling karena anak saya suka ngedumel (menggumam

sendiri kayak orang menggerutu gitu...tapi kalau ditanya ngomong apa dia gak

mau jawab). Waktu umur 5 tahun, adiknya di diagnosa autis. Jadi saya terpaksa berhenti Kerja. Setelah saya seharian di rumah, baru saya tau bahwa suster saya

menjalankan rumah tangga dengan gaya Hitler... anak saya kalau gak makan dibentak2... pernah anak saya ngadu (setelah susternya gak ada) bahwa dia pernah didudukkan dengan keras dikursi karena gak mau duduk waktu disuruh makan. Kalau menegur anak saya pakai bentak (sukurlah gak pernah turun tangan, itu saya percaya dan udah dikonfirm sama anak saya...). Saya ajah yang di rumah stress, apalagi anak saya? Dia lebih berkuasa dari kami sebagai yang punya rumah. Lebaran gak pernah pulang. Pembantu datang dan pergi, karena gak ada yang betah sama omongan kasarnya (menurut mereka baby sitter saya lebih galak dari majikannya he..he...he...).

Akhirnya saya beranikan diri untuk memecat dia (Itu keputusan tersulit yang pernah saya buat). Habis itu rumah kayak kapal pecah, anak saya jadi kurus (sampai sekarang... gak kurus kering, tapi gak chubby lagi :p) Memang saya gak pandai mengurus rumah, tapi sekarang anak saya terlihat lebih gembira, rumah gak kayak show room di mall (bersih licin tak bercela...), sekarang banyak sisa mainan berserakan dimana2... tapi buat saya itu lebih keliatan cozy, nyaman kayak rumah betulan gitu.... armada sekarang 2 suster 1 pembantu (hehehe banyak yak...) gak canggih2 amat, tapi nurut sama saya, ganti pembantu entah udah yang keberapa kali.... tapi semua baik2 ajah. Kadang sedikit clash tapi bisa dimanage. Prosesnya... jangan tanya... kurang lebih 2 tahun untuk membuat anak saya ceria, berani cerita sama saya... lebih dekat dengan saya, dan bagi saya sendiri belajar mengatur rumah saya semau gue (emang itu rumah saya khan ?!?). Sejak itu saya berjanji pada diri

saya gak akan biarkan orang lain mengatur rumah saya. Baik buruknya saya, masih lebih baik saya mendidik anak saya dari orang lain (caileee...) Karena kita sebagai ortu punya kasih sayang yang gak bisa di imitasi oleh orang lain seberapa pun canggihnya orang itu... Jadi Pak/bu (yang mana yang bener nich?) jangan ragu2 kalau rumah sudah mulai dijajah orang lain lebih baik ambil alih kembali kontrolnya. Jangan takut gak bisa, karena gak ada yang namanya rumus paling benar mengurus rumah dan anak2... feeling ortu yang paling tepat. Sebodo amat orang lain mo bilang saya gak becus ngurus anak, tapi anak saya happy tuch! Nikmatnya dilarang anak2 kemana2, dikangenin anak dsb...

Rumah masih berantakan, menu makan kadang spontanitas, saya masih tetap 80%

waktunya tidak dengan anak2 (termasuk tidur), tapi..... ada kenyamanan dalam

rumah saya sekarang. Anak2 lebih betah dirumah, mereka lebih happy... Saya

juga gak berasa seperti orang luar di rumah sendiri... dan perasaan itu

menular ke anak2 smile

Soal trik2 mengurus Dandy, jangan khawatir... khan ada milis yang bisa ditanyain (he..he.... trims bu Leny)

Sekedar sharing... mohon maaf jika kurang berkenan.

Lus

----- Original Message -----

From: "dyah puspita"

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing pembantu/pengasuh/babysitter

Iya lah, aku ingat sewaktu Dandy dan keluarga besaaaarrrr buangetnya itu

konseling (he..he..).



Ketergantungan pada pengasuh sangat besar, kemungkinan karena di dalam keluarga memang tidak ada yang bisa "memegang" Dandy. Nah, si Dandy "ngerasa dong. Jadi dia ga mau sama yang lain kecuali sama Wanten. (Yang lain apa kurang percaya diri, ya??). Jujur aja, saya koq ga terlalu percaya sama kekuatan supranatural dalam mendidik anak. Saya hanya percaya pada kekuatan kasih sayang, konsistensi (vitamin K lagi, vitamin K lagi....) dan intensitas interaksi.



Nah, yang "missing" dalam kehidupan Dandy adalah intensitas interaksi dan konsistensi. Satu-satunya orang yang berinteraksi dengan dia ya si Wanten ini toh? Boro-boro konsistensi...



Lalu bagaimana?

Saran saya sih, sedapat mungkin diupayakan tatanan keluarga yang membuat

keluarga tidak tergantung lagi pada pengasuh ini. Bapak memang repot bekerja

dan di rumah tidak ada orang lain lagi, tapi mungkin tidak tepat kalau

semua urusan dikendalikan oleh si Wanten ini.... Bapak harus meluangkan waktu melakukan interaksi yang lebih intens, dan pendidikan kepada anak harus dilakukan dengan cara yang lebih konsisten. Bukan untuk Dandy saja, tapi untuk tiga anak.



Saya khawatir sekali kalau tiba-tiba (siapa tahu??) si Wanten memutuskan

untuk "alih profesi". Wadoh, apa pula yang akan terjadi nanti???????



Alhamdulillah bahwa Dandy dan keedua adiknya tidak tergantung pada pampers

lagi. Amin....



Salam,

Ita-nya Ikhsan

----- Original Message -----

From: Gun

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing pembantu/pengasuh/babysitter

Terima kasih ibu Ita atas masukannya. Maaf maksudnya "alih profesi" apa ya?

Best Regards,

Gun

----- Original Message -----

From: dyah puspita

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing pembantu/pengasuh/babysitter

Ganti kerjaan...Ga jadi pembantu lagi. Misal, jadi TKW di Malaysia, jadi koki, jadi penjahit, jadi penjahat....



He...he...

----- Original Message -----

From: Gun

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing pembantu/pengasuh/babysitter

Wah persis sekali ibu Lusi memang begitulah keadaannya. Kami sangat bergantung padanya, pekerjaannya gak bercela, rumah bersih, masak jg enak. Memang kalau diperhatikan Dandy takut sama pengasuhnya itu.Dia lebih berkuasa dari yang punya rumah, dan sukanya ngatur2 orang di rumah. Memindah2 perabot rumahpun dia tidak minta ijin kpd yg punya rumah. Kalo lagi ngambek (Wanten) sesukanya sendiri, kami tidak bisa berbuat apa2. Jadi kami yang lebih banyak mengalah. Seperti dunia sudah terbalik. Kami tidak tahu mesti berbuat apa.

Oya waktu itu paha kaki Dandy pernah patah sekitar setahun kemarin, ketika lagi ditinggal ke kampung. Waktu itu Dandy dan adiknya yg paling kecil ditinggal di rumah dengan 3 pengasuh dan Wanten yg paling senior, dan kedua pengasuh lainnya jg patuh dan nurut sama Wanten ini. Jawaban dari Wanten mengenai kejadian tersebut adalah waktu itu Wanten lagi ke kamar mandi malam2, saat Dandy bangun tidur sekonyong2 Dandy mau turun ke bawah terpeleset dan terjatuh di tangga hingga pahanya patah. Sesungguhnya kami tidak tahu cerita yang sebenarnya sampai sekarang.

Salam,

Gun

----- Original Message -----

From: EV

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing pembantu/pengasuh/babysitter

Setuju Bu Lus, Kita bukan superwoman... rumah gak usah terlalu rapi & cling. Yg penting anak dulu...

Tentang baby sitter. Dari yg saya lihat selama ber-tahun2 (di taman dekat rumah) ... hampir semua (70%) melakukan kekerasan verbal (juga fisik spt mencubit) kepada anak asuhnya...(walau si anak tidak nakal, menurut saya sih). Sepertinya mereka salah definisi : dikira "mengasuh" = "ngasih makan" & memandikan doang... Itu pun pakai bentak2 dan cara menyuapnya kasar...

[Bener tuh Bu, seringnya anak2 pada gendut2, tapi ... lihat dong matanya,

sinar mukanya... Mata2 yg sedih, tdk bahagia & Mata tidak pernah berbohong

.....].

Ada mbak yg parah sekali : dalam 10 menit aja kita dekat2 dia (jarak 7 meter), sudah berapa cacian sy denger : anak nakal! badung sih! Jangan mainan itu, basah! (terus langsung buang jauh gelas aqua -bekas anak itu minum- yg baru mulai dimainkan oleh anak, 1 thn), lalu anak nangis sedih, bukannya kasihan, malah ditambah : habis badung banget sih!

Sering karena si mbak ngerumpi, anak disuruh duduk saja dekat dia, gak boleh

bergerak, gak boleh jalan & hanya bengong. Walau anaknya sdg usia eksplorasi

(1th, 2 th), baru saja anak mau jalan, cepet2 ditarik & digendong atau dipangku oleh mbaknya...

Jadinya saya sudah 1-2 kali menegur : mbak, dia pingin main - jangan semua2

dilarang - anak umur segini lagi seneng2nya maen - yg sabar (padahal saya juga bukan penyabar, tapi bisa menilai bhw dia keterlaluan gak sabarnya).

Ada lagi yg aneh, di suatu rumah (bpk-ibu kerja seharian), sering sy denger anak laki2nya (SD, normal) nangis2, teriak2, berantem sama mbaknya (muka judes), sampai gak tahan sy ketok pagarnya... ya omong baik2, kenapa sering dia nangis gitu... Ternyata anak itu ingin main sepeda tapi gak dibolehin... katanya takut debu. Saya bilang itu kan kebutuhan dia utk main, knapa dilarang? Lalu bnyk alasan si mbak : yg nanti terlambat sekolah-lah, yg kalau habis main sepeda jadi sakit-lah (bukannya kebalik? malah kalo di rumah terus, mainPS/nontonTV terus, itu yg bikin sakit).

Sampe terlontar usul2, gimana kalo main sepedanya pagi2, sebelum bnyk debu... Dan lalu sy jadi spt ceramah -pentingnya kejujuran ("jangan mentang2 ibu gak ada, mbak sewenang-wenang", lalu dibalas oleh dia, bhw Tuhan melihat semuanya, lalu sy jwb : syukurlah kalau mbak jujur...), -pentingnya sinar matahari & bergerak (makanan sensory) utk anak2, -pentingnya makanan yg alami, -pentingnya anak dilibatkan dalam kegiatan sehari-hari (ternyata si anak sdh lama ingin bantu2, tapi dilarang pegang ini itu). Kalo bapaknya sdg cuci mobil, anak diajakin gak? Jwbn mbak : wah, bapak apalagi, mobil itu gak boleh ada org lain yg pegang... takut gimana gitu ... gak boleh orang lain yg nyuci, takut gak bersih atau tergores (Lho?? Itu kan cuma mobil? Cuma sebuah benda?) Jadi para ortu juga udah mulai aneh2 ... menyerahkan anak seluruhnya kpd baby sitter, kpd play station, kpd guru / sekolah / les2... dan gak mau

capek2 "mengisi" anaknya dgn "bekal" yg diperlukan kelak.... masih untung anak2nya masih waras yah?!

Wah ini koq jadi emosi. Sy juga minta maaf, ah, .. kalau tdk berkenan...

Salam, Eve

----- Original Message -----

From: HPU

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing pembantu/pengasuh/babysitter

Benar Bu Eve,

Saya sering liat kalo di taman, baby sitter nyuapin anak kasar banget, sebelnya mereka sambil mainan sms. Saya sering liat hari minggu pagi, ada kakak beradik masih kecil2 diasuh 2 orang baby sitter. Saya heran, kenapa hari minggu nggak orang tuanya sendiri yang pegang. Kalo lagi nyuapin, pokoknya anak itu serba disalahin. Kalo mulutnya sudah kosong, nggak cepat2 dekat ke mbaknya minta makan,

diomelin. Kalo dekat gangguin itu mbak yg lagi sms, dimarahin juga. Saya lama2 penasaran, ini hari minggu orang tuanya pada kemana ? Saya nanya, bapak ibunya itu

anak kemana sih mbak ? Mereka bilang masih pada tidur. Dalam hati saya , tega bgt itu orang tua enak2 tidur, padahal anaknya di bentak-bentak sama pembantu gitu.

Salam,

Har ( Bapake Dimas 5thn 2bln autis )

----- Original Message -----

From: DH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing pembantu/pengasuh/babysitter

Setuju banget sama Bu Eveline. Saya aja sering kasihan melihat anak yang diserahkan ke suster aja. Kalau memang keadaan tidak memungkinkan (ayah ibu harus kerja kalau nggak nggak cukup), yah apa boleh buat. tapi banyak lho yang suami istri orang

kaya, tapi anak diserahkan ke suster aja. Apa mereka gak sayang anak nya yah? Jadi anak dilahirkan buat terusin keturunan aja.

Banyak diantara kita sampe nangis darah ngurusin anak SN kita, tapi mereka2 itu menyia-nyiakan anak mereka yang NT. Kalau nggak mau pusing yah jangan punya anak, kasihan atuh anak nya. lho kok saya jg jadi menggebu-gebu ngomongnya heheheheheehe

Regards

David

----- Original Message -----

From: LD

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Sharing pembantu/pengasuh/babysitter

Jadi inget peristiwa hampir 1 th yg lalu....

Saat dengan yakin saya memberhentikan 2 baby sitter pada saat yang bersamaan

secara spontan (sebelumnya udah koleksi "dosa" 2 mereka)di siang saat saya pulang lunch break! Cuti tinggal 5 hari dan mereka saya PHK, yayasan tempat mereka bernaung menghindar dari saya, juga mereka. Yah, daripada sakit ati dan menyesal, saya relakan uang administrasi pada kontrak 1 th tsb menguap (ih padahal 2 yayasan berbeda loh).

Tinggal seorang pembantu yang biasanya cuman datang 3 jam setiap hari senin - sabtu. Itupun mesti di antar-jemput sendiri. Akhirnya saya berjibaku sendiri, bangun dini hari menyelesaikan PR standard (cuci baju walaupun pakai mesin, tapi sering ada yang mesti dikucek dan masak buat anak2 bubur Rizqi, diet Ismail dan menu rumah),

mandiin mereka-kasih susu Rizqi, sampai menyuap anak2 sebelum mereka ke sekolah dan saya ke kantor.

Untung saya ketemu anak lulusan SMA yang mau kerja kontrak 1 bulan (datang jam 6:30 pagi, pulang sama2 pembantu yang 3 jam-an itu - saya antar!) Jika ia datang, "serah terima" anak dalam keadaan bersih dan perut kenyang :-P Pendeknya dia nggak ngapa-ngapain cuman ngajak main, kasih snack dan susu jam 10:00.

Siang saya datang untuk menyuap anak bungsu dan main2, kembali ke kantor......

Sore pulang kantor, nganter pembantu bersama 3 anak saya.....ribettttt.....:-P

tentu saja saya cuman istirahat untuk sholat dan mandi... setelah itu menyuap anak2 lagiiiiiiiii wwwwweeeeeeeeee sambil buka puasa..smile), ngecek buku komunikasi Rafii dan nungguin ngerjakan PR! Duh,sampai sekarang saya nggak habis pikir, dapat energi darimana gituuuuuu

Rutinitas gosok gigi bersama-sama, cuci tangan kaki, ganti piyama, baca buku sampai mereka tidur. Habis gitu nyiapkan sahur dan buka esok harinya. Genap 1 bulan....

Tetapi saya bisa survive, saya yang mengambil keputusan tanpa dikendalikan situasi. Daripada makan hati.... Tergantung pembantu dan baby sitter ???? nggak la yauuuuuu, nggak mau!!!!! Walaupun sekarang pun saya masih bersama 2 baby sitter. Kontrak habis Desember nanti dan saya mau menguranginya jadi satu saja.

Wish me luck.

Luk

----- Original Message -----

From: dyah puspita

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] pembantu, pengasuh..ketidak-tergantungan

Intinya memang satu. Kita musti BERANI ngurus anak sendiri karena pada akhirnya toh semua orang yang sekarang ngurusin (guru, terapis, pengasuh, pembantu, supir) akan pergi meninggalkan kita. Lha kita? Sampe ajal menjemput laahhhh ... he..he...

----- Original Message -----

From: Aan

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] pembantu, pengasuh..ketidak-tergantungan (CCTV)

Bu Ita benar sekali. Tapi kita masih ingat kan, baby sitter Filipino yang luar biasa nyiksa anak itu akhirnya ketangkep lewat kamera. Apa ada yang mau nyoba, masang CCTV di kamar terapi, kamar anak, dll? weleh weleh... Takutnya dibilang parno. Tapi kalau mau tau apa yang terjadi, kayaknya bisa juga pake begituan. Cuma pertanyaannya, what's next? Sampai kapan mau parno dan gelisah? Jawabannya kembali kepada jawaban Bu Ita tsb.

Regards, Aan

----- Original Message -----

From: LH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: pembantu, pengasuh..ketidak-tergantungan (CCTV)

Bu Aan,

Hehehe... saya pernah pasang CCTV di kamar M yang saya jadikan tempat terapi, setiap sesi terapi di rumah, saya memonitornya dari TV di ruang keluarga. Alasannya sih bukan karena gelisah atau parno, tapi saya ingin melihat proses terapi, sehingga bisa kasih masukkan sesuai teori yang saya pelajari.

Sebenarnya dulu terpikir untuk pasang CCTV di setiap ruang terapi, sehingga orang tua bisa melihat proses terapi, tetapi dengan pertimbangan cost vs efektifitas nggak jadi, abis kebanyakan anak ditinggal sama ortunya selama jam terapi.

Rgds,

Lin

----- Original Message -----

From: DH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: pembantu, pengasuh..ketidak-tergantungan (CCTV)

Saya pikir sih selama anak belum bisa berkomunikasi dengan kita, ada baiknya

dipasang CCTV.

Yah bukan soal parno yah, kita hanya me-minimal-kan kejadian2 yang tidak diinginkan seperti perlakuan kasar dari pengasuhnya. Kalau perlu biar pengasuhnya tau ada CCTV, biar mereka juga nggak berani macam2. Walaupun kita lg nggak memonitor lewat CCTV, tapi kan pengasuhnya nggak tau, jadi nggak berani macam2 hehehehehe.

Sekarang ini hanya kamar Janice yang dipasang CCTV, Istri saya malahan mau

pasang CCTV di setiap sudut di rumah, ha ha ha ha

Regards

David

----- Original Message -----

From: LDP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: pembantu, pengasuh..ketidak-tergantungan

Ibu & Bapak,

Saya juga pernah pengalaman ditinggal pembantu, namanya juga pembantu yang membantu pekerjaan kita bukan yang mengerjakan pekerjaan kita ya sudah lepas aja, untuk urusan anak khan memang tugas orang tua pembantu hanya sebatas pembantu aja saya juga sering nggak ada pembantu, kalo masih ada mertua atau orang tua masih bisa nitip tapi kalo nggak ada seperti yang saya alami ya saya dan suami bagi kerjaan seperti urusan cuci baju, cucinya dikamar mandi aja sekalian mandi, yang mandi duluan ngerendem baju yang belakangan baru ngucekin abis itu jemur deh, untuk urusan masak bangun agak pagi ibu masak si bapak siapin anak2 buat sekolah. Berhubung kantor suami saya rada fleksibel jam kerjanya jadi dia yang punya tugas untuk kasih makan anak2 pas siang (saya udah masak dari pagi masukin kulkas an suami panasin siangnya). Kalo suami masih ada kerjaa dikantor ya anak2 dibawa sama bapaknya, untuk urusan makan malan dari pagi semua bahan sudah disiapkan jadi tinggal masak ya..repot juga sih rumah rada berantakan tapi ya itulah salah satu komitmen berumah tangga sekalian juga ngajarin anak2 pekerjaan rumah mereka saya

ajak untuk cuci piring, ngepel, bahkan siram tanaman buat anak2 malah jadi hiburan, untuk urusan setrika, habis jemur lipat aja dulu nanti kalau mau di pakai baru setrika yang simplify your life deh..biar nggak stress bawa happy aja yang penting keluarga happy kalau udah orang tuanya yang kerjaiin semua anak2 jadi lebih nurut kok jadi pembantu nggak terlalu penting lagi ada atau pu nggak ada tidak terlalu ngaruh

gitu lho.

Salam

Lili

----- Original Message -----

From: Sav

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: pembantu, pengasuh..ketidak-tergantungan

Betul sekali. Saya rasa kita nggak boleh tergantung sama babysitter/mbak krn pengalaman saya dulu sewaktu Yosua masih 3 tahun dan saya masih bekerja semua tugas saya serahkan kepada mereka. Ternyata mereka mengecewakan saya, babysitter tsb memukul dan mencubit anak saya sampai biru2 semua di kaki dan paha, terus kalau anak saya teriak2 dipukulin mulutnya, pernah waktu sakit demam dan saya tinggal sebentar krn dia lagi tidur, ditarik2 sama babysitter terus disiram air dingin, itu mbaknya yg lapor. Saya aja sebagai ortu nggak tahu, baru tahunya dari kepsek di sekolah yang memanggil saya secara khusus dan melaporkan bahwa mbak saya sering memukul anak saya kalau teriak2 disekolah. Terus saya sadar, wah ternyata mentang2 anak saya nggak bisa ngomong dan nggak bisa ngadu, terus jadi objek dari orang2 yang nggak bertanggungjawab. Anak saya juga jadi suka takut sama babysitter dan perkembangan mentalnya jadi lebih jelek. Oleh karena itu saya memutuskan

berhenti bekerja dan berusaha melihat sendiri perkembangan anak saya sehari2 dirumah meskipun dng resiko bergonta ganti mbak, mungkin mereka merasa nggak

bebas krn ada majikan dirumah kali ya. Untuk anak yang ke 2 dan ke 3, saya benar2 tidak mau kecolongan lagi dan berusaha mendampingi mereka tiap hari, jadinya skrg mereka bertiga dekat sama saya, meskipun kadang2 saya marah sama mereka, tapi setidak2nya kita sebagai ortu meskipun marah pasti ada batasnya dong dibanding kemarahan si babysitter.

Ava (mama Yosua, verbal 8 tahun).

----- Original Message -----

From: MA

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: pembantu, pengasuh..ketidak-tergantungan

Ada lagi, pengalaman di tinggal pembantu mudik , waktu tahun 2005 saat lebaran.... Karena kantor libur , maka jadilah aku berperan aktif di rumah. Sungguh awal nya sangat menyenangkan ..mengurus anak - anak yang lucu-lucu...,bandel ..yang gak biasa aku hadapin...

Hari pertama, saat aku beberes sama suami ,bahu membahu.....karena suamiku

bagian basah -basah air..,aku bagian kering..(suami paling demen main air juga loh...kayak anak - anak juga hehehe).

Eh ngak taunya si MADELEINE ..anak kita ini hilang ...wow...pucat banget..,aku berdua suami cari- cari..., tanya tetangga..sampailah aku lapor satpam... TRUS si satpam bilang begini.. ADUH IBU BARU DITINGGAL PEMBANTU se HARI aja ANAK UDAH HILANG.....wah malu aku....,Mau nangis rasanya cari si Madeleine....

Eh...tau - tau aku dipanggil...satpam ,bilang ..ibu anaknya ada di warung kok.., aku langsung lari..ternyata dia lagi belanja sabun di warung......aduh ,,,,ternyata anakku sering ke warung ini ..sama mbak..,.ibu warung tenang aja...sudah biasa katanya..wah aku malu banget...

Yah itu lah pengalaman ku yang lucu,tegang dsb ditinggal pembantu..emang saat pembantu kita gak ada ,soal kerja sih kita bisa handle lah..tapi ada makna ,cerita berkesan...sebagai pengalaman yang berarti yang membuat kita tersenyum ......

Kata ibu - ibu ,teman - teman sekantorku yang sudah menikah ..sepakat bahwa

.. libur lebaran itu ..adalah KERJA buat kita, kalau dikantor itu CUTI buat kita...Karena berat di rumah ,,,,dari pada di kantor..Dikantor kita masih bisa ngopi dikit...buka email....Jangan kalau dirumah ..PEKERJAAN rumah itu bagaikan tak pernah berhenti.....

Ya, kita nikmati saja semua nya ..pasti ada senyum dibalik semua peristiwa....Yang pasti aku tahu, bila anakku hilang ..pertama kali aku harus cari KE WARUNG , bukan ke SATPAM...hehehhe

Best Regard

(Mama Madeleine )

----- Original Message -----

From: LH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: pembantu, pengasuh..ketidak-tergantungan

Ikutan sharing,

Dulu sewaktu bekerja saya juga pasrahkan anak-anak pada baby sitter. Babysitter ini sudah ikut hampir 9th (sampai sekarang). Sewaktu masih tinggal di pondok mertua indah, ada sisi positifnya, yaitu si baby sitter merasa ada yang mengawasi. Kemudian 3th yl, kami pindah rumah sendiri, wkt itu M usianya baru 18bl. Baby sitter merasa merdeka, M sering ditinggal nonton TV. Kemudian setelah kondisi memungkinkan, 1,5th yl saya resign, meskipun kalau mengingat materi yg dikorbankan sayang sekali, tetapi kalau melihat progress M sekarang saya tidak menyesali keputusan tsb. Sejak saya berhenti bekerja, M maunya sama saya terus, so baby sitter saya alihkan profesinya jadi tukang masak, karena kebetulan pinter masak.

Saya juga mengalami apa yang dialami Dandy dan mb. Warten-nya. Dulu M kalau

ditidurkan si Sus, cepet sekali tidurnya, tapi kalau saya yang nidurkan malah nggak jadi tidur. Kenapa? Sebab jurusnya si Sus, dia pura-pura tidur, M diacuhkan (ini bukan karena saya lihat dari CCTV lho, tapi pengakuan sus sendiri). Sedangkan kalau sama ibunya, anak kepenginnya ngajak main terus, dan saya menanggapinya. Mungkin pikirnya kapan lagi main sama mami nih (itu dulu waktu saya kerja). Juga waktu makan, sus beberapa kali pernah ngomel mengeluh kalau pas anak-anak cerewet makannya, "Kalau nggak ada ibu, anak-anak nggak pernah rewel makannya". Karena jengkel saya jawab "Apa maksudmu, apa saya mesti nggak ada". Menurut saya, itu karena anak-anak pengen dimanja ortunya. Tapi itu semua sifatnya sementara, setelah 1,5th di rumah, semuanya sudah terbiasa. So, semuanya itu karena kebiasaan aja, dan kita kudhu berani mengubah kebiasaan tsb.

Rgds,

Lin

----- Original Message -----

From: Leny Marijani

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: pembantu, pengasuh..ketidak-tergantungan

Sulit bagi kita di Indonesia untuk menghilangkan "kebutuhan" pada pembantu/ pengasuh, apalagi ibu harus bekerja. Bagi kita-kita yang tinggal di luar negeri, sebenarnya juga bukan hebat, tapi keadaan yang memaksa kita untuk "bisa" dan "biasa".

Berdasarkan pengalaman, sebenarnya kita bisa melihat apakah pembantu/pengasuh bener2 ngurus anak kita dengan baik apa tidak. Caranya?

1. Tidak menyerahkan 100% pekerjaan pada mereka.

Kita harus "monitor" dan "mengerti" apa saja yang dilakukan dia pada anak kita (cara dia ngasih makan, jadwal makannya, jadwal tidurnya, cara menidurkannya, dll). Saya pernah dengar seorang ibu (di ruang dokter yang setiap masuk 2 pasien sekaligus), dalam menjawab pertanyaan dokter, si ibu malah selalu nanya lagi pada susternya. Berarti dia sama sekali tidak tahu apa yang terjadi pada anaknya. Batin saya, ini yang punya anak siapa?

2. Pergunakan instink kita sebagai seorang ibu.

Dengan instink, biasanya kita bisa tahu apa tingkah laku pengasuhnya itu hanya pura2 atau tidak. Sayangnya, biasanya ibu-ibu terpaksa harus "menutup mata" terhadap kekurangan2 yang ada, karena ada pikiran takut mereka berhenti (apalagi kalau yang kerjanya terlihat ok dan tidak bercela), kalau berhenti kan repot nyari lagi, harus training lagi, dll....dll.... Tidak ada salahnya "menutup mata" sebenarnya.... karena kalau terlalu perfeksionis juga bakalan tidak ada yang betah. Tapi tolong tutup matanya sebelah saja, jangan dua2nya .... smile Kasihan anak kita.... kalau ternyata di belakang kita ada penyiksaan. Walaupun bukan secara fisik tapi psikis malah lebih gawat. Anak kita akan menjadi anak yang ketakutan dan tidak percaya diri, apalagi anak SN.

3. Sekali-kali kita juga harus "sidak" (pulang siang2 secara diam2, bawa kunci, sehingga tidak perlu ketok pintu).

4. Berkomunikasi/bersosialisasi dengan tetangga terutama ibu2 yang tidak bekerja dan ibu2 yang rajin mengantar ke sekolah atau boleh juga guru2 di sekolah. Dan tanyakan bagaimana perlakuan suster kita pada anak. Beruntung kalau kita punya tetangga kayak Bu Eve... yang mau perduli dan malah ketok pintu mendengar jeritan anak (salut buat Bu Eve!!).

5. Kalau bisa, ada salah satu anggota keluarga yang menunggu di rumah.

6. Kalau bisa, tidak mempekerjakan suster dalam kurun waktu lebih dari 2 tahun. Karena selain anak jadi "tergantung" dengan kebiasaan suster itu, si suster juga lama2 merasa dibutuhkan hingga bisa besar kepala.

Ini sekedar sharing pengalaman saya lho..... sewaktu dulu masih bekerja.

Salam,

Leny

----- Original Message -----

From: Lusi

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: pembantu, pengasuh..ketidak-tergantungan

Wah makasih banget buat tipsnya bu Leny... Bener itu...

Wah boleh ditaruh di website supaya kapan2 kalau ada temen yang butuh bisa

di archive... smile

Lusi

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy