Typical yang mana?

09/17/2006

----- Original Message -----

From: JJ Mom

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Typical yang mana?

Dear All,

Saya mau sharing, sekalian nanya.

Sudah seminggu ini putra saya usia 4 tahun 4 bulan, sikapnya begini:

Saat makan siang: dia makan lauknya saja, saya bilangin harus makan bersama nasinya juga, dia langsung ngambek, suruh saya ambil lauknya balik.

Saat nonton film, lagi tergila2 dengan film madagascar. Sengaja bilang Z is for Lion. Terus saya marah, saya bilang sesudah dikasih nonton TV kok jadi makin silly (nonton TV itu adalah luxury buat dia). Eh, ngambek lagi, saya disuruh simpan madagascar, katanya tak mau nonton lagi.

Saat kena marah habis2an: (ceritanya ini panjang)...ini yang saya postingkan beberapa hari yang lalu. smile Eh, ngambek, katanya mau tidur di rumah orang lain.

Pertanyaan saya, ini sifat tipikal anak2 SN atau anak2 NT pun bisa bersikap

seperti ini? Kok bisa jadi suka ngambek begini, sensitif sekali. Untuk kalau saat belajar, dia agak OCD, jadi ngga ngambek kalau dibilangin.

Secara defensif saya mau menyatakan, saya accept anak2ku di spektrum, bukan

mau men-NT2-kan putraku. hehehe....somewhat..somewhere mereka itu delayed

entah di bagian mananya deh.

Tambahannya adalah: Kekejaman...

Putra saya terlihat sedikit 'mean' (kejam??), Contohnya: 'Jo can not wash hair, so Jo's hair itchy itchy!' Jahatnya. Terus kadang2, bilang Jo can not drink water! Jo can not eat! Kok kejam banget! Ya saya balasin, kalau dia sendiri tak makan, tak minum gimana? Eh, dia bilang hanya dia yang boleh makan dan minum! Saya jelasin kalau ngga makan bisa lapar. Terus kadang2 dia bilang mau adiknya nangis, malah baru tadi malam, suruh saya kasihkan crib adiknya ke tetangga sebelah, biar... Jo have no crib! Salah asuh kali, kok begituan... Padahal minggu lalu, selama 15 hari berturut2, dia tidur disebelah Jo, katanya dia yang jaga Jo, karena papanya lagi tugas luar kota.

Thanks!

PS: sorry, saya agak desperate sama yang ini, makanya saya posting di milis2

lain juga, makhlum saya tak punya anak berlabel 'NT'.

Salam,

jjmom

----- Original Message -----

From: RI

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Typical yang mana?

Nggak berani kasi saran sendiri bu, biar pakar aja yang kasih :

Ini saya kutip dari buku ( Stanley Greenspan, THE AFFECT DIATHESIS HYPOTHESIS page 26 - 27 )

-Quote-

Children with sensory processing difficulties, including visual-spatial processing, auditory processing, or motor planning, or sensory modulation challenges are especially prone to extreme anxiety because it's more difficult for them to regulate, comprehend, and operate on their social and physical worlds. It is, therefore, particularly easy for children with special needs to become involved in these cycles of anxiety and fragmented thinking. As indicated, the fragmented thinking then leads to more polarized perceptions and often catastrophic emotional states (which operate at an all-or-nothing level, rather than a finely regulated, modulated one) and the intensification of the cycle of dysfunction.

Recognizing this pattern has important implications for intervention. The most helpful intervention strategy is to calm the intense anxiety and fear through reestablishing

affective or emotional contact with the child in a highly soothing manner. Then it is vital to begin the process of reciprocal, affective exchanges with an especially soothing manner and tone. One is simultaneously calming the child and bringing the child back into reciprocal affective interchanges, which will enable him to organize

his thinking, become more reality based, and exercise more finely tuned judgment (rather than operate under the agencies of catastrophic affects in highly polarized,

distorted thinking patterns). The long term goal is to facilitate the child's ability to better and better re-engage on his own so that he can become a better agent at initiating long chains of soothing, affective interchanges.

-Unquote-

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Typical yang mana?

Dearest JJ Mom ....

Be grateful !

Bahwa dia sekarang "makin nakal" menunjukkan bahwa ia makin cerdas, makin

berkembang akalnya. Jangan lagi berpikir ini tipikal anak NT atau SN, GA PENTING!! Yang penting : how to solve it, using parenting skills....wise ones....

Saya pribadi selalu mengacu pada prinsip sederhana "do I want him to grow up

with that kind of attitude or not??"....dan kriteria saya adalah "norma masyarakat sekitar".

Ga boleh ngeluh soal makanan 'kan? (begitu didikan ayah saya), Jadi, saya ga

mau terima kalau dia mengeluhkan makanan. Alhamdulillah, sekarang saya bisa

tanya dulu sama dia "mau makan apa?"...jadi dia HARUS bertanggung jawab

terhadap pilihannya.

Persoalan Ja tidak mau makan nasi-nya, itu mah, biasa. Banyak banget anak-anak yg begitu... Try making fried rice. So you mixed the rice with the yummy ingredients.... That is if he may eat fried rice.

Stay calm.

Stay on earth.

Be yourself.

And keep your perfect style of managing your emotions = go away from him

when you can't stand him ! Ha..ha..

salam,

Ita-nya Ikhsan (yang juga masih berada di kancah perjuangan dari hari ke

hari...biarpun anaknya udah remaja !!)

----- Original Message -----

From: JJ Mom

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Typical yang mana?

Dear Pak Roy dan rekan milis,

Pak Roy, terima kasih atas inputnya. Memang si Ja ada anxiety problem, misalkan dia tak bisa ditinggalkan sendirian dalam ruangan yang terpisah, padahal dia bisa melihat kita, bahkan parahnya, hanya 3 langkah dari kita, tetapi dia di dapur, dan kita di pintu dapur tetapi berdiri di bagian luarnya, dia bisa panik lho, ini gejalanya datang... hilang...datang. Sudah berkali2 diassure-kan 'ini rumahmu! kenapa sih takut?'. Bahkan kadang2 dia menenangkan dirinya sendiri sambil bilang 'this is Ja's house, don't be afraid.' Tetapinya, kalau kita kasih tahu, bahwa dia perlu sendirian di ruangan tertentu dalam waktu tertentu (berapa menit harus kasih tahu lho), dan kita bakal kembali ke ruangan tersebut, dia itu ok. Aneh ya?

Masalah si Ja sekarang adalah ngambek2annya, kok sensitif sekali, ini adalah new act dari dia, sampe semalam saya berpikir apa saya terlalu keras sama dia, sampe dia mau tidur di rumah orang lain, sampe let go hot dog kesayangannya, makanan yang paling istimewa buat dia karena jarang disajikan..(waduh kok seleranya rendah gitu, abalone kek..). Apa saya yang harus melihat kembali bagaimana perlakuan saya terhadap Ja, sampe bisa gampang tersingung begitu? Apa ini adalah salah satu fase dari sekian fase

anak2? Bagaimana sikap orang tua jika sianak 'mendadak' gampang tersingung

begitu, kalau si anak tak benar, masih sih tak boleh dikoreksi?

Salam,

jjmom

----- Original Message -----

From: RI

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Typical yang mana?

JJ Mom,

Razi kadang2 masih juga takut di rumah sendiri, sama seperti Ja kadang2 dia harus liat kita dari kamarnya, pintu dibuka lebar2 padahal dirumah cukup ramai. Ada juga

waktu2 dimana Razi pingin ditemanai tidur, tapi tidak jarang kalo saya masuk ke kamarnya disuruh2 keluar. Mungkin apa yang terjadi dengan Jack dan Razi memang salah satu fase dari perkembangan. Saya rasa saran bu Ita dan bu Ira bagus dan apa yang ibu lakukan sudah bagus juga, cuma seperti yang ibu bilang dulu melakukan memang tidak semudah mengatakan. Kita sering hilang kesabaran.

Saya ingin cerita :

Dulu waktu kecil saya kagum sama kepiawaian ibu saya membelah kelapa. Dua kali ketok dengan golok/parang satu kali congkel, kelapa terbelah dan airnya pun tidak tumpah, ditampung dimangkok untuk diminum ( memang sih tidak seenak air kelapa muda, tapi lumayan juga ). Jadi saya ingin diajarin. Jaman dulu itu memang belum lazim membeli kelapa parut dipasar. Ternyata sangat sulit.

Caranya : Sesudah sabutnya dibersihkan, kelapa ditarok ditangan kiri, tangan harus lemas. Posisi kelapa juga harus tertentu, bagian matanya harus seolah2 menjadi sumbu putar. Lalu kelapa dilontar kan sedikit keatas sambil sedikit diputar. Nah kalo sudah bisa, baru urusan memukul dilakukan. Kelapa harus dipukul dengan bagian tumpul dari parang/golok tidak boleh bagian tajamnya. Soalnya kalo pake yang tajam, kalau kepeleset bisa melukai tangan kiri. Kelapa harus dipukul pas ditengah, kalo agak kekiri dikit parangnya melejit kekiri atau kekanan, tenaga pun harus pas. Kalau terlalu keras bisa dua kemungkinan, tangan kiri tidak kuat menahan lalu kelapanya jatuh ke lantai atau malah parangnya terlepas dari tangan kanan bisa melukai

diri sendiri.

Nah, dengan tenaga anak kelas 1 SMP waktu itu ( badan saya kecil ) saya coba habis2an, nggak bisa2. Lalu saya coba tarok dilantai, saya jepit kelapanya, dan saya pukul. Yang sering terjadi parangnya melejit kemana2, dan kelapanya lari kelain jurusan. Pernah juga karena kesal, kelapanya saya banting ke batu, remuk. Kelapanya nggak bisa dipake. Lalu kembali ke cara yang diajarkan. Nggak tau berapa

hari saya belajar mukulin kelapa itu, akhirnya bisa juga, tapi pertama sekali airnya tumpah kemana2 dan kelapanya juga nggak terpotong simetris. Buat memarutnya susah lagi. lama2 saya mulai bisa.

Ngurus anak kayaknya mirip membelah kelapa juga kali ya bu?

Wassalam,

Ro

----- Original Message -----

From: JJ Mom

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Typical yang mana?

Dear Pak Ro,

Terima kasih atas penjelasan Bapak mengunakan 'social story'! smile Mengurus anak mirip membelah kelapa?...Waduh...luar biasa! terus ada precision-nya juga, timing, everything! bahkan kalau terlalu lembut gimana, kalau terlalu keras gimana.

Ibu Ita sayang,

hehehe.. si Ja bukan milih2 lauk, tetapi sangkin tersinggungnya dia, dia rela makan nasi putih saja, gara2nya dia hanya makan lauknya tanpa sendokin nasinya, eh.. dia suruh saya ambil kembali lauknya, katanya sudah tak mau lagi... padahal itu hot dog kesayangan dia. Dan hot dog tersebut kita beli bersama dan masak bersama. Semoga fase perkembangan 'ngambek2-an' ini segera berakhir. Tak tahan saya sudah sama dia.. sekarang sudah me-rajarela ke maenan, bahkan ke acara mandi, saya bilang cuma maen air 5 menit, dia tawar2an mau 20 menit, saya bilang tak boleh, langsung dia bilang.. dia sudah tak mau main air, sudah selesai mandinya. Saya kuatirkan ini menjadi bersifat NEGATIF.

Bahkan tadi dia bilang, 'Mommy, I don't want Ja anymore, I want to become Z

(salah satu temennya)!" Apa2an ini? Saya tanya WHY?? Dia senyum2 saja, yah

langsung saya jelasin... Ja is Ja, Z is Z, can not be changed!.And I love Ja!

Dan hari ini ditengah weh weh... dia malah bilang, mau NEW MOMMY, hatiku

ambruk seketika! Saya bilang ok, dia ke rumah adik iparku, dan panggil adik iparku NEW MOMMY, ntar dia suruh NEW MOMMY masak untuk dia, bawa dia ke

sekolah, do work sama dia, mandi-in dia, bawa dia ke dentist besok. Dia terdiam, langsung meluk saya, "I want THIS mommy!" Rasain elo dalam hatiku.

Moga2 besok2 dia tak ngomong begitu lagi, karena bisa dengan cepat berkembang menjadi OCD lho.

Dear all, saya sangat paranoid, setiap malam, sebelum tidur, kejadian2 istimewa apa saja hari tsb, saya replay kembali di otak saya, sambil berpikir.. wadoh... tadi ini salah, oh ini sudah benar...terus besok mau berbuat apa. Sampe kadang2 lupa... lupa bertindak sebagai Ibu, kalau sampe anakku hari ini bilang mau NEW MOMMY, dan bahkan tak mau jadi Ja... ini tandanya apa ya? Bagi saya... ini sign.. bahwa saya lebih bersikap sebagai terapis daripada sebagai seorang Ibu..Ibu yang bodoh! #$@&^$!

Salam,

jjmom

----- Original Message -----

From: EH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Typical yang mana?

JJ Mom sayang, gak usah terlalu serius & tegang...

Itu ternyata WAJAR pada usia segitu.... (baru "ngeh" sy inget Pingkan).

1. tindakan coba2 melawan, tawar-menawar (sy kira, utk belajar diplomasi, mengenal aturan, mengenal batas2, bahkan utk belajar logika, konsekuensi, sebab-akibat : kalo aku kelamaan di bak mandi ternyata bisa bersin2, dll...

tapi btw, 5 menit mah emang kurang puas ya? anakku +/- 15 menit.)

2. pingin nyendok sendiri, pingin menyisir sendiri, walau kita liat awut2an banget hasilnya, tapi kalo kita intervensi dia marah. (pingin belajar mandiri... Terakhir sy dengar Neno Warisman bicara di radio : sedang membangun Harga Diri (1-4 thn). Sebelumnya 0-1 thn membangun Konsep Diri.

[Pesan Neno : pastikan dia mencapai kepuasan dlm tahap pembangunan Harga

diri ini, sebab kalau tdk, harga dirinya mudah "terbeli" oleh hal2 lain pd

saat dia remaja, misalnya narkoba, sex bebas, dll]

3. pingin jadi ORANG LAIN, ber-gerak-gerik spt temannya (gerakan badan, raut

muka, cara berjalan). Hari ini mau spt temannya Wita, besok spt Hana. Biasa gak suka jepit & bando, skrg suka, krn ternyata meng-idolakan temannya.... atau merasa "aku cantik ya mah, kalo rambut ditarik ke belakang gini?" (padahal sejujurnya, sy liat aneh & jelek). Kadang sdg bermain tiba2 omong "mama, skrg namaku Asti ya, bukan pingkan!" Lalu kalo gak sengaja kita panggil : Ping, ayo makan yoo... Serta merta dia jwb : Eeee mah, panggil aku Asti! (Nah lho? Pdhal nama lengkapnya tdk mengandung kata itu sama sekali?)... Sy pun dikasih nama lain : "ibu Poppy" misalnya...

4. seolah-olah dia adalah polisi, atau lain kali jadi apa...

Nampaknya mereka sdg ber-imaginasi, bermain pura-puraan...(pretends) Ini malah kabar baik, bhw mungkin Ja pingin main pura-puraan ... satu hal yg pd Gerard-ku belum keliatan. Itu menunjukkan bhw Ja mulai masuk dlm level yg lebih tinggi... :-)

Sikap kita sebaiknya gimana? Sptnya harus ikut masuk dlm dunia mrk kalo sdg

bermain... yah, d.p.l nyantai aja, let it flow, kadang2 kitanya ikut "gelo" : -O, hai Asti, aku mau bertamu boleh? O boleh, silakan masuk... silakan diminum... ini kuenya (itu padahal gelas & priringnya sangat2 kecil). Mmm...enak kuenya, bikin sendiri ya? Srup srup..aduh masih panas tehnya. Dst. Asyik koq, kalau kita konsen.

-Atau main jual-jualan : ceritanya cabe Rp1000, permen loli Rp 1000, coklat

Rp 5 rb, dll padahal alatnya cuma berupa balok2 & koran sbg bungkus... tapi

tampangnya serius banget "ini cabe, ini permen loli.."

-Sy paling beruntung kalo sdg main salon-salonan, dia nyisir rambut sy,

tarik2.. sampe kita ter-ngantuk2, hehehe...

Oya, Ibu sudah baca tulisan bu Fridia di website PK : ttg Perkembangan Emosi (ada 6 level)? Bagus sekali lho. Rasanya ada hubungan juga dgn topik ini.

Salam hangat,

Eve

----- Original Message -----

From: Lu

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Typical yang mana?

Wahh... kalau yang itu NT atau tidak sama aja ngambeknya...

Gavin juga suka gitu, kalau kemauannya gak dituruti akhir2 ini dia suka ngacem mau bunuh diri (cobaaa...... smile) cuman kita gak tanggapin serius Biasanya saya sama susternya suka bilang sama dia Waduuhhh kalo gavin bunuh diri nanti di surga gak ada play station loh (mainan kesukaannya) trus gak ada Disney channel (station kesukaan dia), gak ada pesawat (mainan kesukaan dia..) etc..etc... Gavin kerjanya tiap hari cuman main harpa aja razz ....

Wah langsugn mikir tuch biasanya gak jadi bunuh diri dech katanya (sementara

kita udah nahan ketawa dalam hati)... Emang pertama2 kesel juga dengernya... tapi setelah ketemu trik ini dijadiin bahan humor pribadi (tapi di depan anaknya pasang muka serius donk!!!) Trus kadang ngancem mo kabur .... (yang ini pernah dijalanin, kabur kerumah saudara yang kira2 50 meteran dari rumah :p) wah kita langsung pura2 nangis... biasanya langsung batal niatnya.

Kalau saya melihatnya itu lebih pada keinginan untuk mendapatkan perhatian.

Tapi kalau gak ditanggapi takut bener2 di jalanin... (sereeemmm khan...) jadi saya tanggapi dan make sure dia udah paham baru kita pindah topic setelah yakin niatnya itu dibatalkan. Mungkin karena pengaruh Tv juga kali ya.. Atau kita yang gak sadar suka memberikan 'reward' saat dia ngambek itu.

Sampai sekarang masih begitu... kemarin ngancem bunuh diri atau buang mainan

atau mo tinggalin kakaknya dsb...dsb... Yah akhir2 ini sih kita tanggapi tapi gak diambil hati... Sabar aja bu... Sama kok anak saya juga gitu... saya masih nyari kenapa? Nya kalo udah ketemu saya sharing lagi. Apalagi kalau sudah berantem sama kakaknya wahhhh... kayak mo bunuh2an tuch (hehehe maknya yang hiperbola kali ya...) tapi serius banget sampe tendang2an dan tonjok2an padahal laki sama perempuan. Tapi kakaknya kalau pergi kemana2 gak mau tanpa adiknya yang autis ini....

Jadi saya ambil kesimpulan dalam hati sebenernya mereka saling sayang kok.

Cuman ya itu masih belum bisa tahan emosi, sambil test mummynya dengan

segudang ancaman itu...

Waduuh kok jadi panjang... semoga gak tambah bingung bacanya smile

Lu

----- Original Message -----

From: SB

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Typical yang mana?

JJ Mom dan rekan milis,

Kita tentu maklum, rasa takut dan khawatir, sampai batas-batas tertentu adalah hal yang wajar saja. Apabila anak sama sekali tidak mempunyai rasa takut terhadap berbagai hal, seperti misalnya sama sekali tidak khawatir kalau ditinggalkan dan terpisah dengan orangtuanya, itu tentu perlu menjadi tanda tanya. Sebaliknya, kalau anak terlalu khawatir dan takut, itu juga tidak kita harapkan. Lalu bagaimana kita menghadapi kecemasan dan ketakutan anak yang dianggap agak berlebihan itu, pada hal ia sudah sering dinasehati dengan kata-kata "jangan takut" misalnya.

Marilah kita simak sejenak ilustrasi berikut:

Pada suatu malam, seorang anak kecil(umur 4 - 5 tahun), berjalan berdua dengan ayahnya. Pada suatu tempat yang agak sepi dan gelap, tiba-tiba sang ayah berkata kepada anaknya:"Hati-hati ya nak, kamu jangan takut". Segera saja anak yang tadinya tenang-tenang malah berubah memegang tangan ayahnya erat-erat dan bahkan kemudian minta digendong. Jadi, kata-kata 'jangan takut' yang diucapkan sang ayah itu rupanya malah menjadi sugesti yang negatif. Dengan mendengar kata tersebut, anak seolah menyadari bahwa memang akan ada suatu bahaya tertentu sehingga sepatutnyalah ia menjadi takut. Apa yang sebaiknya dilakukan sang ayah supaya pada saat jala-jalan itu si anak tidak takut ialah bukan mengatakan "jangan takut", tetapi ia mestinya berjalan saja dengan santai dan tenang, sambil mengobrol dengan anak atau bersenandung/bersiul/bercanda dan melakukan kegiatan semacamnya yang menyenangkan, sehingga rasa takut itu tidak muncul pada anak. Ilustrasi ini ingin menunjukan bahwa sedapat mungkin kita menghindari memberikan sugesti yang negatif dan sebaiknya kita memperbanyak sugesti yang positif. Secara umum dapat dikatakan, lebih baik kita sering memotivasi, menunjukkan dan mengajarkan kepada anak hal-hal yang positif yang kita harapkan untuk dilakukan anak, daripada melulu melarang, mengkritik atau mencela hal-hal yang negatif yang tidak kita harapkan dilakukan anak.

Rasa percaya diri pada anak juga perlu kiranya dipupuk antara lain dengan kita sering beri semangat dan pujian terhadap apa saja yang baik yang telah dapat dilakukan anak. Kalau kita ingin menunjukan apa yang tidak boleh atau tidak baik, seyogianya kita tunjukan dengan jelas perbuatan tertentu apa yang tidak boleh atau tidak baik itu, bukan dengan momojokkan atau memperburuk citra diri anak secara keseluruhan kepribadiannya seperti misalnya dengan kata-kata "kamu payah/jelek/nakal" dan semacamnya. Selain itu, kalau misalnya anak sering mengalami bahwa orang-orang di sekitarnya biasanya menghadapi persoalan hidup sehari-hari dengan sering menunjukan rasa tegang, cemas dan khawatir, berpikir negatif, maka anak juga akan belajar menjadi demikian. Jika orang-orang di sekitarnya biasa menghadapi persoalan hidup sehari-hari dengan tenang, penuh percaya diri, berpikir positif dan banyak senyum, maka anak-anak juga akan belajar menjadi demikian.

Banyak bermain, melakukan berbagai kegiatan bersama (orangtua-anak) yang positif dan menyenangkan serta diselingi humor, akan bermanfaat mengurangi ketegangan pada anak dan juga bermanfaat dalam mengharmoniskan hubungan anak dengan orangtua.

Rasa cemas dan khawatir berada di suatu ruangan sendirian tidak mau berpisah

dengan orangtua mungkin juga bisa terjadi dalam waktu tertentu pada fase perkembangan perasaan anak. Dengan menghadapinya secara positif, antara lain dengan mengacu pada hal-hal yang dikemukakan di atas, dalam waktu beberapa lama diharapkan keadaannya akan membaik. Yakin aja deh Bu.

Demikian sharing saya. Saya tulis aja apa yang ingin saya sampaikan seadanya, tanpa sama sekali bermaksud menilai bagaimana sebenarnya hubungan antara JJ mom dengan anak-anak (Ja & Jo) tercinta.

Jujur aja, saya sih yakin bahwa meski mungkin melalui jalan berliku, Ja & Jo akan mencapai kemajuan terus menerus ke arah yang lebih baik. Ini bukan ramalan atau wangsit, tapi karena Ja & Jo mempunyai orangtua yang ......Hebat.

Salam,

Stan

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy