Khitanan

09/12/2006

----- Original Message -----

From: YF

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Khitanan

Bapak / Ibu,

Saya mohon info berdasarkan pengalaman bapak ibu dalam mengkhitan anak special need ini, apakah menggunakan bius lokal atau total. Khususnya di Bandung, dimana bisa saya peroleh khitanan pisau electric / laser dengan bius total sebagai optionnya.

Terima kasih atas input dan masukannya.

Salam,

Yu

----- Original Message -----

From: HPU

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Khitanan

Pak Yu,

Untuk di Bandung, coba di RS Boromeus. Dulu anak saya operasi telinga yang cukup berat juga di sana. Dokter bedahnya bagus pak. Namanya saya lupa, nanti saya tanya

istri saya.

Salam,

Har ( Bapake Dimas autis 5 tahun )

----- Original Message -----

From: ss

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Khitanan

Liburan kemarin kebetulan Syauqi ( 6 th 9 bln, ADD ) saya khitankan di RSIA Hermina Pasteur Bandung. Khitanan ini berbarengan dengan operasi amandel dan dibius total. Amandel diambil sama dokter THT sedang khitannya oleh dokter bedah anak ( dr. Dikki Drajat, SPB,SPBA ). Ketika tahu kalau harus operasi, Syauqi langsung minta ' sekalian aja khitannya kan aku dipingsanin dulu'.......:-)) Dia nggak mau kalau khitan bius lokal aja.

Untuk memperlancar, jauh - jauh hari saya sudah bikin social story berdasarkan apa yang saya baca dan saya alami ketika melahirkan adiknya ( sectio, dan asyik ngobrol sama dokternya sampai operasi selesai ). Sampai malam sebelum operasi, lancar - lancar saja. Yang susah ketika pas mau infus, maunya sama suster yang waktu itu ( pernah opname ) karena waktu itu diinfus dan tidak sakit katanya. Ternyata suster yang pasang infus gagal mulu ( sampai pindah tangan ). Mulailah uncontrol, heboh banget sampai sejam baru bisa setelah ganti orang itupun setelah dituruti pindah

ruangan ( minta ada TV- terpaksa masuk ruang bersalin khusus yg kosong ).

Pas masuk ruang operasi, suster mengijinkan saya untuk mengantarnya ( pakai baju steril ). Syauqi saya gendong masuk dan dibaringkan di meja operasi. Nggak mau berbaring sebelum ditunjukkan mana alat EKG, mana lampu, lemari obat2an, tabung O2 dll. Yang gak sabar justru dokter anestesinya, rencana anestesi tadinya inhaler akhirnya suntik di karet selang infusnya. Setelah Syauqi tidak sadar baru saya keluar dari kamar operasi.

Ketika konsul dengan dokter bedah anak sebelum diputuskan khitan, saya banyak dapat pencerahan dari beliau. Metode yang seringkali digembar gemborkan pakai laser ternyata belum tentu laser betulan. Bisa jadi hanya cauter biasa tapi dibilang laser. Yang pakai laser betul sekarang ini masih amat jarang even di jakarta sekalipun. Masih bisa dihitung dengan jari. Kalau cauter, baja yang dipanaskan ( membara ) dan seringkali menimbulkan oedema ( bengkak ) , saya sendiri pernah dicauter telapak kaki dan lihat alatnya. kalau Syauqi kemarin alat cauter dipakai pada titik-titik pembuluh darah untuk klem aja dan motongnya tetep pakai skapel biasa.

Proses penyembuhan cepet kok, langsung pakai celana khusus ( ada mangkok depannya ), penisnya gak diperban, kasih salep pagi sore aja. Khitan ini termasuk one day surgery dan di hermina biaya sekitar 1,3 an untuk circumsisi ( khitan ) aja. Yang nangani bedah anak.

^susun^

----- Original Message -----

From: DS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Khitanan

Pak Yu,

Minggu kemarin, saya baru meng khitan kan anak saya di Klinik Khitanan Bandung.

Tidak ada proses bius apapun dlm proses khitan tersebut. Si anak di ajak menyanyi dan tahu2 proses sudah selesai. Bahkan sampai keluar pun masih bisa senyum dan jalannya seperti tidak merasa di khitan. Menurut saya, ini lebih safe, apalagi kalau Bapak tinggal di Bandung.

Biayanya tergantung kondisi yang di minta. Reguler (standard) atau mau pelayanan khusus (ekslusif). Reguler, biayanya Rp. 30.00; per tahun umur anak. Misalnya kalau anak Bapak berusia 8 thn berarti biaya khitan hanya Rp. 240.00; saja. Bpk akan dpt celana khusus utk anak, obat2an plus control gratis.

Kalau yg ekslusif, tarifnya Rp. 750.000;. Ini maksudnya di tangani oleh satu

dokter/paramedis untuk satu anak.

Semoga informasi ini membantu .



Salam,

Bapaknya DANU, Autism Non Verbal 9 Thn.

----- Original Message -----

From: ZN

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Khitanan

Pak Yu,



Anak saya tahun lalu dikhitan di Dr...aduh lupa namanya di Bandung, terkenal kok bagus dan murah dibanding tempat lainnya. Lokasinya di Jl. Ahmad Yani (Cicadas) dari traffic light Jl, Jakarta/Supratman terus saja arah Cicaheum, Setlah ketemu pertigaan jalan ke kiri, anda masih terus di Jl. A. Yani, sekitar 100 m di kiri jalan Terdapat Klinik Khitan Besar di sana.



Dokternya sangat ngerti dengan anak SN, begitu care. Sebaiknya dibius total.



Salam,

Zam

----- Original Message -----

From: TE

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Khitanan

Saya juga lagi cari tempat khitan buat anak saya egan (autis 7 th) pengennya sih dibarengi sama adiknya ule (normal3,5 th) biar sekalian repot ngurusnya. Saya juga rencanya mau survey dulu, sekarang baru cari2 informasi, ada 3 alternatif yang saya dapat yang semuanya pernah menangani anak autis: klinik khitan yang di jl a. yani (seperti pak zamzam tulis), klinik paramedika di jl. sukarno hatta,dr.Ekih speseialis bedah di rs muhammadiah di buah batu. Kalau klinik paramedika nggak pakai bius total, pelaksanaannya pada waktu dini hari sampai subuh tergantung antrian. Selain

itu pengalaman temen saya yang anaknya autis dikhitan dr ekih, oleh dr dilihat dulu apakah anaknya perlu dibius total atau cukup lokal saja.

semoga membantu.

te

----- Original Message -----

From: Di S

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Khitanan

Dear all,

Membaca e-mail khitanan, saya teringat pengalaman 2 tahun yg lalu yg saya alami, lucu...sedih...dan terharu. Begitu panic, nervous, kalut dan sejenisnya deh.....merasuk dalam pikiran, sama seperti menunggu saat-saat kelahiran.

Sblmya saya tks u B Ita, dimana dalan suatu seminar memberikan informasi

mengenai dokter yang berpengalaman untuk menangani anak-anak kita ini. Tapi teuteeep...aja tuh rasa was-was jalan terusss.... Konsul ke Dokter dan si anak (verbal, 10 th) juga ber-tanya jawab dengan dokter, " aku mau diapain, bagaimana caranya ? pake alat apa?" Dokter langsung bilang," bius total....", khawatir dalam proses si anak

bangun dan bertanya-tanya.

Seperti yg dialami rekan millis juga, waktu masuk R.operasi untuk sampai pembiusan, hebohhh..pilih2 lagi perawat yg boleh ada disitu dan disuruh ganti baju aja perlu penjelasan detil. Tapi,memang luar biasa setelah proses heboh itu...akhirnya selesai juga dan si anak siuman dengan "tamplan baru, rapi tanpa perban dan darah"

dan langsung bisa bercelana, besoknya udah jalan ke Glodok minta upah dibeliin PS. Ternyata, memang kita harus percaya dan yakin bahwa anak kita pun bisa melalui masa sulit itu seperti anak lainnya, walau sedikit extra effort. Jadi, tidak perlu khawatir berlebihan (seperti saya...) apalagi kita sudah yakin dengan ahli yang dipilih dan tentunya juga social story yang sebelumnya harus kita jelaskan.

Tks for sharing

Rgd,

Yan

----- Original Message -----

From: Fr

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Khitanan

Ikutan donk

sharing pengalaman waktu reza(11tahun) sunat pada umur 9 tahun. asli pertamanya sempat bingung dan kuatir... cuman akhirnya saya liat saja prosesnya...pake bius lokal, electric cuter. karena saya liat prosesnya cepat jadi PeDe. akhirnya pada hari H saja ajak reza kesana.bius lokal, kagak sampai 10 menit beres, darahnya sedikit banget karena pake electric cuter, tambah jahitan hanya 3 titik, dan langsung bisa pake celana longgar. 3 hari kemudian sehat walafiat, ngacir lagi kemana2....hehehehe

yang dibutuhkan cuman satu, tenaga yang kuat buat megangin reza pada saat prosesnya, lebih bukan karena sakit, tapi reza paling tidak bisa dipeluk sekalipun berlama2......(dia pasti brontak) dokternya juga dokter umum di serdang banten, cuman specialisasinya atau jadi rujukan sunat....hehehehehe

frai

----- Original Message -----

From: HPU

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Khitanan

Saya jadi ingat juga waktu khitan Dimas 2.5 tahun yg lalu. Tepatnya pas pemilu presiden pertama di Indonesia. Itu juga karena ada sesuatu hal yang membuat Dimas harus di khitan. Karena Dimas waktu itu masih hiperaktif sekali, maka kami mempersiapkan pasukan untuk memegang Dimas. Nggak tanggung2 saya bawa 6 orang untuk pegang Dimas. Udah masuk ke ruang dokter, 6 orang siap memegang Dimas, sampai2 dokternya nggak bisa liat Dimas. Waktu itu kami beserta rombongan udah panik benar. Tahu2 dokternya nyeletuk , " kalo semua ikut pegangi , saya jadi nggak bisa ngapa-ngapain, wong saya nggak bisa ngeliat anaknya."

Kontan saya pengin ketawa campur tegang. Benar juga kata dokter, enam orang kerubutin Dimas, sampai Dimas nggak keliatan sama dokternya. Akhirnya yang pegang cuma 3 orang laki2 saja.

Salam,

Har ( Bapake Dimas 5 thn autis )

----- Original Message -----

From: ZN

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Khitanan

Bu Te,



Sebelum saya ambil keputusan ke klinik di A. Yani saya sempat survey dan tanya-tanya sama yang pernah khitan di Sukarno Hatta (beberapa saudara deket anaknya saya dikhitan di sana), juga beberapa RS. Namun survey membuktikan bahwa pilihan saya jatuh ke A. Yani.. dan ternyata betul saya tidak salah pilih..MEMUASKAN dan EKONOMIS, sebelum hari khitan kita diskusi sampai setengah jam lebih dan dia nyantai banyak memberikan masukan untuk penanganan SN..so avoid risk ..bios total maybe the right way untuk si hyperaktif.

Maaf ya tidak bermaksud menyudutkan salah satu pihak, namun tidak ada salahnya kan saya share sesuatu yang bisa membahagiakan parents SN..



Cheers

Zam

----- Original Message -----

From: YM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Khitanan

Pak Har,

Kami juga pernah mengalami perasaan yang campur aduk dengan akan dikhitankannya Dean yang saat itu berusia 8 tahun (Autis 12 tahun). Saat dibawa ke rumah sakit 3 turunan ikut semua, karena khawatir perlu relawan yang

memeganginya. Ternyata benar saja tenaga perawat pria 2 orang + keluarga 3 orang tidak cukup kuat untuk menahan teriakan Dean dan rontaannya. Ternyata setelah diamati Dean bukannya menangis atau marah.... dia teriak dan meronta karena kegelian pahanya dipegang, saya baru ingat kalau Dean paling tidak mau dan akan kegelian kalo digendong dari belakang (seperti nagabonar gendong emaknya). Nah akhirnya diputuskan oleh dokter harus bius total, ternyata prosesnya tidak seheboh saat akan bius lokal.

Salam

YM

----- Original Message -----

From: Lu

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Khitanan perlu Bius total ???

Sekedar mengingatkan...

Beberapa hari yang lalu saya baca di koran Nova (atau nakita?) ada anak meninggal setelah sunat karena setelah di bius tidak pernah bangun lagi.. Setelah diselidiki diduga anak tersebut mengalami alergi terhadap obat bius...

sekedar berjaga-jaga sebaiknya di cek dulu apakah anak yang mau disunat

itu alergi obat bius...

Saya doakan semoga acara sunatan dapat berjalan lancar..

Kami tunggu ceritanya ya ...

Lu (mami Gavin 7 tahun, verbal)

----- Original Message -----

From: AP/IP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Khitanan perlu Bius total ???

Betul bu,

kejadiannya justru di salah satu RS di Smg, yang menangani juga tim dokter (ada dr bedah & anestesi). Kabarnya sedang dalam investigasi, dugaan kuat karena kesalahan prosedur anestesi / alergi

ira

----- Original Message -----

From: AP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Khitanan

Pak Zam, nama dokternya dr. Seno kalau yang di Jl. Ahmad Yani Bandung.

Anak saya Ikhsan (7thn) juga sudah dikhitan dengan menggunakan metode "klamp"(cincin) + bius lokal. Pengambilan keputusan dengan menggunakan metode "klamp" sudah sangat kepepet.

Semula kami akan mengkhitan Ikhsan di salah satu RS di Bogor oleh dr.sp.bedah anak, sudah periksa darah dan rontgen segala, sudah dikonsul ke dr.anak dan beliau bilang Ikhsan sedang dlm top performance..segeralah dikhitan..yang paling sesuai dibius total. Kembali ke dr.bedah dan ayah Ikhsan tanya metode khitan, dokternya jawab metode konvensional.

Malamnya kami membahas metode konvensional, menurut ayah ikhsan ngeri kalau

lagi dibuka verbandnya..gak kebayang betapa perihnya. Sepertinya ayah ikhsan

tidak setuju...aduh...sebagai ibu saya jadi bingung, alternatif lain ga punya.

Kalau ke Jakarta di RS Harapan Kita atau ke Bandung memang pilihannya adalah

dr.Seno atau Klinik khitan yang di Jl.Soekarno-Hatta, tapi kalau ada masalah masak sih harus balik ke Jkt atau ke Bdg.

Malam itu saya ga bisa tidur, ya untung deh sekalian aja terus berdoa kepada

Allah SWT mohon petunjuk. Keesokan harinya (rabu pagi), kakak saya beri info tentang dokter umum yg jago khitan dg metode klamp.

Rabu sore (sepulang terapi), kami diajak kakak untuk konsul ke dokter tsb.(dokternya masih junior). Biasa lah, karena sangat khawatir, saya banyak tanya, bius total atau bius lokal? (bius lokal, ini yang rada deg2an) dokternya bilang tenang aja bu nanti akan ada petugas yg pegang ikhsan (???), berapa orang yang telah dokter khitan? (-/+ 300 orang/termasuk khitanan massal), berapa anak autistik yang telah dokter khitan? (-/+ 10 orang), malah ada remaja autistik baru 2 mg yg lalu dikhitan. Saya

pake feeling dan saya perhatikan kemantapan dokter saat menjawab pertanyaan2

saya. Akhirnya tanpa bantuan ayah ikhsan dalam membuat keputusan, saya

mantap mengkhitan ikhsan dg metode klamp (langsung daftar). Ternyata ayah ikhsan juga di kantor cari info ttg metode klamp. Klamp atau cincin ga seperti bayangan saya, ternyata bahannya dari plastik disimpan dalam kantong steril buatan Malaysia.

Akhirnya Ikhsan dikhitan hari Jum'at pagi (jam 06.15/30 Juni 2006) dengan

diantar eyang kakung, pakde, bude, uwa selain ayah+ibu (seperti rombongan sirkus aja ...).

Karena sudah familiar dgn tempat dan sudah kenalan dg dokter, ikhsan senium terus pagi itu, memang sejak 2 mg sebelumnya terus saja ikhsan diberi penjelasan kalau ikhsan akan dikhitan (=dibersihkan). Sebelum proses khitan dimulai, ikhsan minta pipis...pis ma... Walhasil yang pegang ikhsan 4 orang: ayah (pegang dada), ibu (pegang lutut kanan), uwa (pegang kepala), pembantu dokter (pegang lutut kiri).... udah bisa dibayangkan pasti Ikhsan meronta-ronta, sambil bilang ...kikit... .kikit...(sakit), pertama disuntik, kedua ternyata ada perlengketan kulit ujung penis, jadi harus digunting untuk dibersihkan, ketiga saat dipasang klamp.

Kira2 20-25 menit selesai, ikhsan marah....klamp ditarik (tapi memang kokoh

jadi tidak akan lepas), sedikit berdarah karena tahu sakit kalau ditarik maka ikhsan berhenti menarik klamp. Langsung pake celana, dlm perjalanan pulang masih marah2. Sesampai di rumah (07.15) sudah disediakan film kartun, ikhsan mulai tenang lalu sarapan pagi (sarapannya nambah...karena baru kehabisan tenaga).

Perawatan pasca khitan, adalah meneteskan betadin 3-5 kali sehari lalu obat yg diminum: antibiotika dan obat anti radang. 5 hari kemudian klamp dibuka,

ikhsan sudah tidak meronta-ronta lagi saat dicabut klamp...yang antar cuma

ibu dan bibi. Setelah antibiotika habis, barulah minum probio gold yang

telah diresepkan dr.Melly Budhiman.

Alhamdulillah ternyata menggunakan metode klamp tidak menakutkan malah

cenderung simpel dan biaya yg dikeluarkan wajar (Rp.300.000,-) dibanding

biaya khitan+bius total (di Bogor sekitar Rp.2 jutaan).

Allah SWT selalu memberi petunjuk yg terbaik bagi umatNya.

salam,

Adj

----- Original Message -----

From: TE

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Khitanan perlu Bius total ???



Pak zamzam makasih masukannya. bu lusi, saya juga baca beritanya di kompas online . beritanya sempat menciutkan hati saya minggu lalu , apalagi egan alergi beberapa obat (antibiotik) . tapi hari ini saya mulai semangat lagi buat khitan anak saya. makasih doanya...

te (mama egan 7 th)

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Khitanan perlu Bius total ???

Bapak, ibu semuanya,

Dari dulu saya menjelaskan bahwa sebelum pelaksanaan sunatan dengan bius total kita semua harus duduk bersama para dokter dan menjelaskan apa saja yang menjadi alergi anak kita. Masalahnya, seringkali kita sendiri juga tidak paham apa yang menjadi alergi anak, karena anak belum terpapar pada obat tersebut.

So....minta lah kepada dokter bedah dan anestesinya untuk menggunakan bius yang paling ringan saja, mengingat banyak anak autistik yang memang cenderung alergi (seperti orangtuanya).

Semoga tidak terjadi musibah diantara kita semua.

salam,

Ita

sad

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy