Ganti Terapis

09/10/2006

----- Original Message -----

From: SK

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Ganti Terapis

Dear Rekans,

Saya mau minta pendapat teman2 tentang ganti terapis. Anak saya Raffi (20 bulan) sudah menjalani terapi wicara selama 3 bulan. Kemajuannya sih lumayan. Walaupun masih bubbling tapi sudah mulai mengerti dan mulai mengajak omong orang2 di sekitarnya. Selain kami latih juga di rumah (pagi-sore dengan mbaknya, malam dengan saya dan suami), tiap pagi kami ajak ke TK untuk belajar bersosialisasi.

Masalahnya justru di tempat terapi akhir2 ini dia sering menangis. Sekarang lagi diajarkan oleh terapisnya untuk duduk diam di kursi mengerjakan tugas (puzzle, dll). Raffi memang agak susah duduk diam kecuali kalau dia sedang mengerjakan kegiatan yang dia suka. Dia cenderung lebih suka eksplorasi di rumah. Saya sih gak masalah, karena anak saya memang telat jalan (dulu kebanyakan digendong big grin). Jadi sekarang lagi senang2nya jalan2 atau lari2.

Sejujurnya saya nggak tahan denger dia nangis menjerit2 seperti itu. Karena di rumah kalau kami ajarkan duduk di kursi untuk main puzzle dsbnya paling dia hanya merengek saja tapi tetap mengerjakan, nggak pernah nangis jerit2 seperti itu. Dan tahan sampai 20 menit. Sementara di terapisnya 10 menit saja sudah mengamuk. Saya sudah pernah bilang sama terapisnya sebaiknya kalau masuk kelas anak saya jangan langsung ditahan duduk. Diajak main dulu sebentar baru didudukkan. Sekalinya dari awal dia menangis, pasti seterusnya sepanjang terapi itu dia akan menangis terus. Tapi kata terapisnya itu adalah proses dari terapi biar dia terbiasa untuk disuruh. Dan saya sudah diwanti2 untuk tahan mendengarkan anak saya menangis pada saat proses terapi.

Saya jadi bingung apakah memang terapi seperti itu? Apakah tidak bisa lebih pelan2? Saya takutnya si terapis memang tidak bisa menghadapi anak saya. Karena masing2 anak punya sifat yang berbeda bukankah sebaiknya metode pengajarannya disesuaikan? Kalau di rumah disuruh mau, tapi kenapa disana malah nggak. Tapi di lain pihak kami juga melihat bahwa Raffi mengalami kemajuan. Mohon pandangan dari rekan2 apakah kami perlu ganti terapis. Saya dan suami saya sangat bingung karena kami awam sekali mengenai masalah ini. Trims sebelumnya.

Regards,

Sin

----- Original Message -----

From: PRS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Ganti Terapis

Dear bu Sin,

Kalau menurut saya selama ada kemajuan tetap dengan terapis yang sekarang, selain nantinya butuh penyesuaian lagi dengan terapis yang baru, belum tentu juga kita cocok... dulu saya sempat sakit hati karena rasanya anak saya dibentak-bentak, ternyata kalau tidak dengan suara keras anakku ngak mau memperhatikan, saya pikir telinganya bermasalah ternyata enggak ...sampai sekarang Astari (11th,9bl kelas 6SD) di rumah hanya bisa bertahan untuk belajar selama 1 jam saja (butuh proses juga...) setelah itu istirahat paling tidak 2-3 jam, baru mulai belajar lagi (kalo ada ulangan)... kalau disekolah duduk di kursi kepala/ kaki pasti bergerak, tangan juga suka usil, tapi guru sudah mengerti....yang penting tidak jalan-jalan di kelas... sabar ya bu..

Salam,

Pip

----- Original Message -----

From: TK

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Ganti Terapis

Yth. Ibu Sin yang sedang bingung.

Sebelumnya perkenalkan, saya seorang Terapis wicara pada salah satu centre di Jakarta. Mengenai keluhan ibu Sinta terhadap metode pengajaran terapi wicara yang telah diberikan selama ini memang pada prinsipnya semua metode diharapkan memiliki progress yang cukup baik, selain itu juga terapi yang dilakukan dapat dinikmati dan dijalankan anak dengan senang dan gembira (mengingat usia Raffi masih kecil). Sayangnya ibu belum menceritakan secara detil bagaimana kondisi bahasa, bicara (artikulasi), Oral-sensory motor, sosialisasi, play level dan behaviournya secara detil. Menurut pendapat saya, sebaiknya ibu Sinta dan terapis membicarakan hal tsb dalam hal program yang akan dicapai untuk jangka pendek dan jangka panjang, kemudian dari program tersebut harus dijelaskan secara rinci mengenai cara pelaksanaan, alat yang digunakan dan bagaimana cara mengukur keberhasilannya. Bisa jadi si terapis memiliki program jangka panjang akan tetapi belum mengikuti hierarchy (urutan) yang benar, mengingat anak ibu masih kecil yang dikhawatirkan akan trauma untuk datang pada setiap terapis.

Bila hal ini sudah ibu bicarakan, ada hal-hal yang kurang berkenan mengenai program yang telah dibuat, ibu bisa tanyakan mengapa program ini diberikan (alasannya). Sebab dalam pemberian program harus mengacu kepada usia, sensory preferences, play level dan kemampuan kognitifnya. Apabila ternyata ibu Sinta masih kurang cocok dengan si terapis dalam 'cara' melaksanakan program yah... ibu punya hak untuk berhenti atau mencari terapis lainnya.

Satu lagi.... si terapis mengatakan bhw anak hrs diam agar mampu melakukan perintah, sebenarnya hal tersebut bukan satu-satunya prasyarat untuk anak mampu mendengar/memahami perintah. Untuk mampu ,memahami perintah (secara verbal) anak harus mendengar terlebih dahulu. Proses mendengar terbagi menjadi 3 tahapan :

1. Tahap sensasi (anak mengetahui ada bunyi atau tidak)

2. Tahap persepsi ( anak mampu membedakan bunyi)

3. Tahap Meaning (anak mampu memahami bunyi yang dimaksud)

Jadi... untuk anak merespon setiap perintah, bunyi tersebut harus diproses didalam telinga dan otak, untuk dapat memproses, diperlukan adanya atensi (perhatian) dan konsentrasi yang baik. Tidak masalah bila Raffi tidak bisa diam (karena usianya masih 20 bln), yang penting ia mampu memproses bunyi ketika ada stimulus verbal yang diberikan (perintah sederhana). Ibu mungkin pernah melihat seorang anak yang sedang bermain, mampu merespon ketika namanya dipanggil atau ada bunyi sesuatu anak tersebut menoleh kearah sumber bunyi.

Trims, mudah-mudahan tulisan ini dapat mengubah kebingungan menjadi harapan yang baik untuk Raffi.

TK

----- Original Message -----

From: PS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Ganti Terapis

Bu Sin....dulu anak saya waktu seumur rafi juga begitu ketika di terapi. Malah sampe 2 minggu berturut2 kerjanya cuma nangis selama 2 jam terapi.. tapi saya sih tebel kuping aja dulu deh..soalnya memang setelah itu dia jadi diem dan mau nurutin gurunya itu cara penolakan yg paling mudah dia lakukan...krn kita pasti akan datang dan menolongnya ..pikirnya.. tapi kalo begitu terus kapan majunya..jadi saran saya..biarkan dulu terapisnya bekerja dengan metodanya...

Pada prinsipnya anak autis pasti bereaksi kalo di intervensi sm orang asing..bahkan ortunya sendiri.. jadi jgn terlalu khawatir...di tunggu saja beberapa minggu kedepan...semoga ada hasilnya...

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Ganti Terapis

Ingin bagi pengalaman dikit. Pada dasarnya anak akan senang belajar kalau dia tahu akan dapat reward kalau mengerjakan sesuatu dengan benar. Pengalaman kami, biasanya target yang diberikan terlalu tinggi dibandingkan dengan kemampuan anak.

Misalnya anak baru mampu diam 10 detik, tetapi ditargetkan untuk duduk 1

menit dan kalau tidak bisa diam harus dipaksa duduk...jelas saja anaknya akan nangis dan teriak-teriak.

Target mungkin perlu diusahakan supaya jenjangnya di tambah (jarak antar target tidak terlalu jauh). Memang akan memakan waktu lebih lama, tetapi biasanya anak akan lebih cepat mengerti kalau enjoy daripada dipaksa-paksa.

Semoga membantu.

Da

----- Original Message -----

From: SK

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Ganti Terapis

Sebenernya saya juga nggak masalah kalau dia menangis. Dulu awal2 terapi memang menangis juga tapi kemudian diam sendiri. Dan nangisnya juga cuman merengek saja. Ini karena Raffi memang selama ini nggak pernah disuruh2. Apa yang dia mau langsung diturutin bahkan sebelum dia minta.

Oh ya sempat sih dia senang di terapi, karena dia masih bisa jalan2/main sambil mendengarkan dan mengerjakan instruksi terapisnya. Di rumah juga seperti itu kalau disuruh2 marah dan menangis tapi karena kita keukeuh akhirnya dia kerjakan juga.

Tapi akhir2 ini di terapinya dia tambah parah menangisnya (sejak dipaksa duduk di kursi). Padahal menurut saya bukannya harusnya berkurang ya? Mengingat dia sudah diterapi selama 3-4 bulan. Sementara justru di rumah dia membaik. Yang paling saya nggak tahan samapai keluar dari ruang terapinya dia masih terisak2. Dan kalau malam sepertinya kebawa mimpi (tidur sambil menangis). Saya takutnya dia trauma.

----- Original Message -----

From: DH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Ganti Terapis

Bu Sin, Waduh, kalau saya pribadi, TIDAK akan ada pemaksaan dalam apapun, baik itu belajar atau terapi. Kapok deh, sempat dipaksa terapi (hanya 2 sesi langsung kita hentikan)malahan jadi amburadul, kepercayaan Janice kepada kita orang tuanya ambruk beberapa bulan, hiks.

Menurut saya pribadi, terapis yang bisa menghandle seorang anak, harusnya bisa menyelam ke dalam diri anak tersebut sehingga terjalin sebuah hubungan.

Nah dari sini baru timbul kepercayaan si anak terhadap si terapis, nah baru jalan deh sesi terapi nya.(seperti yang terjadi sampai sekarang ini, semua perintah terapis dijalani dengan senang hati)

Maaf, gak maksud apa2, saya hanya memberikan pendapat pribadi berdasarkan pengalaman.

Regards,

Dav

----- Original Message -----

From: At

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Ganti Terapis

Dear Ibu Shin,

Emang perlu kesabaran dan ketekunan Bu untuk menghadapi anak special,karena Anak saya juga pernah mengalami hal yang sama, satu tahun yang lalu Yuda 3thn 3bln.

Se 6 bulan kalau masuk therapi sudah menangis sambil teriak teriak kadang saya juga merasa tidak tega untuk mendengar tangisannya benar-benar menolak,bahkan punya pikiran untuk ganti terapis juga ,dan kata si Therapis itu memang proses adaptasi .

Walaupun perlu waktu 6 bulan untuk beradaptasi seolah olah pengeluaran biaya hanya untuk anak yang menangis saja. Memang pernah berpikir untuk ganti therapis saja namun setelah dengan penuh pertimbangan yang belum tentu cocok dan mungkin juga akan menolak dengan menangis akhirnya tetap bertahan sampai sekarang. Dan sampai sekarang masih dengan therapis yang sama mengikuti Therapy SI dan ABA dan Yuda sudah bisa kompromi dengan theraphisnya, walaupun kadang kalau lagi bad mood suka menangis tapi mau mengerjakan instruksi theraphis.

Dan hasilnya memang mengalami perkembangan ,walaupun memerlukan waktu yang cukup lama hanya untuk beradaptasi dengan theraphis dan tempat Theraphy.

Salam

Mama Yuda

----- Original Message -----

From: RI

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Ganti Terapis

Ikut nimbrung boleh ya bu,

Saya setuju sama bu TH. Ingat pengalaman saya dengan Razi waktu umur sekitar 6 tahun. Dia diikutkan di suatu lembaga terapi yang lumayan terkenal juga. Pada awalnya dia tidak keberatan dengan terapi itu, tapi sesudah beberapa lama terapis tersebut menyerahkan penanganan Razi ke juniornya, nah mulailah perioda penolakan. Dia mulai nangis setiap pulang dari terapi, kemudian meningkat sudah

mulai menangis waktu mau berangkat.

Dan (jeleknya ) kami menyerah, menyetop terapi tersebut dengan anggapan mungkin Razi terlalu capek karena pulang sekolah biasanya sudah jam 14.00, dia berangkat terapi jam 15.00. Saya tidak punya analisa tentang peristiwa itu.

Pada waktu kelas 4 SD, gurunya mengharuskan dia menghapal kali2an bilangan 13, 14,15,17 sampai 19. Satu kali2an dalam 1 hari. Waktu menghapal saya biarkan Razi berjalan mundar-mandir karena nggak mau disuruh diam, sambil saya memonitornya dengan teks kali2an bersangkutan ditangan. Dengan jalan mundar-mandir tersebut Razi berhasil menghapalkan kali2an yang relatip sulit itu dalam waktu yang relatip singkat, 15-20 menit. Besok pagi sebelum berangkat sekolah, saya suruh ulangi lagi, dan dia masih tetap hapal. Sayangnya kalo disuruh lagi ( tidak ada instruksi dari guru) dia nggak mau lagi ngapalin, jadi kemampuan itu menghilang dengan cepat.

Mungkin dengan membiarkan mundar-mandir ( atau bergerak ) dia tetap dapat menyerap instruksi dari gurunya, bisa berpikir lebih baik.

Wassalam,

Ro

----- Original Message -----

From: DP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Ganti Terapis

Bu...

sedikit urun rembug...

Ada point bapak/ibu yang mau saya garis bawahi nih: kalau di rumah mau, kenapa koq di tempat terapi tidak mau.

YES.

Segera cari tahu. Pertemukan semua pihak terkait, bicarakan secara terbuka tanpa maksud mencari kesalahan. Banyak hal yang bisa mempengaruhi, tapi yang jelas kita mengejar kemampuan anak untuk berespons benar DALAM SUASANA HATI YANG SUKA CITA....

Jangan sampai anak jadi benci dengan suasana belajar. Di pihak lain, jangan juga kita jadi orangtua yang memperbolehkan anak 'kabur' dari situasi belajar yang tidak ia sukai karena mengganggu kemerdekaannya melakukan berbagai hal semaunya.....

Prinsip mendasar saya sih:

- tegas tidak berarti kasar atau keras....

- membuat anak melakukan apa yang kita inginkan tidak harus dengan memaksa...

semoga tidak menjadi makin bingung?

salam,

Ita - nya Ikhsan

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy