Tinggal Kelas apa harus Pindah sekolah?

07/07/2006

----- Original Message -----

From: MS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Pindah sekolah - ikutan curhat juga

Dear all,

saya jadi ikutan mau curhat juga nih (walaupun agak susah karena saya jarang bisa mengutarakan perasaan dan pikiran ke orang yang belum saya kenal secara pribadi, tapi sejak sering membaca curhat bapak2/ibu2 sekalian, jadi timbul keberanian dan rasanya saya punya kedekatan dengan komunitas ini.......)

Kemaren saya dapat kabar dari rumah, bahwa Alfi tidak bisa masuk ke TK dan harus ngulang di playgrup lagi. Alasan pihak sekolah karena Alfi belum bisa konsentrasi dan juga blum bisa mengerti perintah (bener banget...). Kecewa dan stress juga niih jadinya... sampe ngak bisa konsentrasi dan mikir buat thesis yang lagi saya tulis Separuh akal sehat dan hati saya membenarkan alasan pihak sekolah, mengenai ke-belum siapan Alfi utk duduk di TK. Tapi separuh lagi (akal sehat dan hati) menyalahkan sekolah yang kurikulumnya keliatan banget ikut "blue-print"nya Depdiknas ttg pendidikan pra-sekolah..... jadi akhirnya saya juga separuh menyalahkan sekolahnya... anak pre-sekolah dasar kok disuruh belajar hitung2an dan membaca!!

Tapi setelah saya analisis lebih dalam, sebenarnya saya stress, lebih karena alfi yang harus "tinggal kelas" di play group ( a term which is unbearable for me). Ditambah lagi dengan perasaan malu (stupid...stupid,....stupid.... of me!!!!) karena sekarang alfi harus sekelas sama adiknya, yang juga akan masuk ke playgroup tersebut tahun ini. Padahal tujuan saya memasukan alfi ke sekolah (playgroup) lebih karena ingin agar dia bisa bersosialisasi sama teman dan anak2 lainnya.

Ditambah lagi, kemajuan Alfi selama 2.5 tahun di intervensi dengan SI, speech terapi, (OT dan ABA baru 6 bulan terakhir) tidak terlalu significant. Motorik halus-kasar dan keseimbangan masih perlu dilatih, mengerti perintah masih on-off. Tetapi, beberapa kemajuan kecil2 yang saya rasakan yang membuat saya bisa mentolerir keadaan ini (misalnya kalo saya telpon, dia sekarang lebih betah menempelkan

gagang telepon ke telinganya, sehinggga saya tetap bisa ngoceh sendirian bercerita ttg apa saja selama 10 menit-an, dibandingkan 1.5 tahun lalu dia tidak mau sama sekali menempelkan gagang telepon di kuping). Saya tidak ingin menyalahkan siapa2 kalau Alfi belum siap masuk TK ataupun kemajuannya yang belum sesuai harapan. Saya sendiri belum bisa berbuat banyak untuk Alfi untuk sementara ini, karena masih posisi saya masih terpisah dengan keluarga, dan untuk pengawasan dan monitoring terapi Alfi sepenuhnya diserahkan kepada omanya.

Balik lagi ke masalah sekolah (setelah ngalor ngidul kemana2), saya jadi bingung neh, apa sebaiknya saya pindahkan sekolahnya ke tempat lain supaya tidak sekelas dengan adiknya (saya juga mikir ttg perasaan si adik yang sekelas sama kakaknya - ato ini cuma perasaan saya saja)? Saat ini Alfi bersekolah di TK Mini Pak Kasur cipinang indah. Untuk sementara tidak bisa jauh2 dari rumah omanya di daerah cipinang, karena si-oma yang harus mengantar kesana-kemari. Kemudian apa sekolahnya sebaiknya yang sekolah biasa yang model inklusi or sekolah khusus model AGCA center (??), dan apa ada yang tau sekolah model begini disekitar jakarta timur (tapi jangan sampai Bekasi, terlalu jauh buat omanya nyetir)??

Adduh....maaf yah, sekali curhat panjang dan lebar begini....., saya suka minder membaca posting rekan2 terutama ibu2 ini yang meninggalkan pekerjaan dan kesibukan lainnya untuk berkonsentrasi mengurus SN child-nya. Sedangkan saya malah meninggalkan Alfi cuma untuk sekolah lagi, pulang cuma 6 bulan sekali, dan rasanya keliatan egois karena masih memikirkan pendidikan pribadi dan bukannya malah mengurus pendidikan anak. Most of the time saya menyesali pilihan ini.

Mohon pencerahannya.

Salam

Marc

----- Original Message -----

From: JJ Mom

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Pindah sekolah - ikutan curhat juga

Dear Ibu Marc dan rekan milis lainnya,

Ibu Marcia sangat jujur sekali di dalam curhat ini. Putra saya Ja (saat ini 4 tahun 3 bulan), orang2 pada heran ,kenapa saya tidak masukkan ke sekolah TK regular (saya domisili di Singapore)? Ja sekarang di preschooler Autism Resource Centre Singapore (ARC), yang diajarkan di sana bukan akademis tetapi work habits.

Saya minta maaf sama Ibu Marc, saya menumpang sekalian di thread ini untuk cerita 'sedikit' (hhmm... kayaknya bisa jadi banyak).

Pertimbangan2 saya sebagai orang tua:

1. Ja adalah early learner (saya tahu istilah ini dari my beautiful friend Ibu Linda yang memperkenalkan ABA VB kepada saya). Bagaimana membingungkan dunia ini bagi Ja jika tanpa diajarin PRE-SKILL terus terjun lapangan. Pendapat pribadi saya, si anak sebaiknya memenuhi 'pra syarat2 tertentu' sebelum di sekolahkan ke

sekolah regular. (ini pernah di muat oleh Ibu Sri)

2. Ja adalah BIG TIME STIMMER, kalau dibiarin sendirian, orang lain melihat, OH..., self regulationnya bagus sekali karena dia bisa duduk diam2 dengan MANIZ sekali, padahal.. dia lagi LOST, jadi ratio guru murid itu sangat penting (kalau sekolah regular di Indonesia berapa ya rationya, kalau disini bisa 1 guru 20 anak, kalau sekolah yang lebih mahal bisa 1 guru 8 anak). Saya kalau di rumah 1:2 dengan Ja Jo...saya sudah BUNGKUK. Btw, saya ingat, Pak Jeffrey (Papanya Oscar)

pernah menulis bahwa Oscar itu tidak pernah dibiarkan sendirian (Maaf Pak Jeffrey seandainya saya salah baca). Bahkan kata si Ivar Lovaas, 'KEEP 'EM BUSY', kata si Stanley Greenspan. "NEVER LEAVE THEM ALONE MORE THAN 10 minutes" (kalau ngga salah ya). So....

Berikut ini adalah cuplikan tadi pagi:

Saat jalan2 di taman2 dekat blok rumah saya. Tiba2...

Ja; Mommy, I am going there.

Me: Where?

Ja: Over there (sambil nunjuk ke mantan child care centrenya)

Me: Ok, Ja...you are such a clever boy, must tell mommy where do you

want to go ya. I don't want you missing.

Ja: Jo will cry cry, can not see Ja anymore.

Me: Yes, Mommy will cry cry too, Daddy will cry cry too. And Ja will

cry cry too.

Ja: Like the boy at the park? (Tadi kita baru lihat ada anak nangis di

taman, saya bohongin, tuh anak cari mommynya, karena suka ngga bilang

ke mommynya, sekarang anak tersebut hilang)

Me: Yes.

TIba2 Ja melesat pergi intip dari jendela ke childcare centre tersebut.

Dan saya pun teringat balik 2 tahun lebih yang lalu, sejak usia 20

bulan, si Ja ini saya masukkin ke childcare, setiap hari dia nangis,

setiap hari setelah masuk, dia pasti melihat terus ke jendela, setiap

hari dia dihukum gurunya menghadap dinding, atau pun dia nangis sampe

tertidur di matras hingga saat saya jemput pulang, padahal cuma dari

jam 9pagi -12.30. Saat itu Ja belum verbal...

Tiba2 si Ja muncul di sebelah saya.

Me: Ja, do you remember this school?

Ja: Yes.

Me: What did you do at this school?

Ja: Play and Bath (sambil menirukan shower head dengan jari2 mungilnya)

Me: Did you see your friends just now?

Ja: Yes

Me: Do you like this school?

Ja: NO! (dengan cepat!)

Me: Do you like Auntie T's school (ARC) or this school?

Ja: Auntie T's (ARC)

Hatiku rasanya blong jatuh ke jempol kakiku, saat sekolah disana, Ja belum Dx autis, tak terbayangkan setiap detik Ja di sana adalah penyiksaan yang berat bagi dia.

Setelah Ja Dx autis (pada usia 3 tahun 1 bulan), saya stopkan sekolah reguler, saya masukkan ke sekolah khusus. Setiap hari, yang saya pikirkan.. adalah my children must keep on learning, it doesn't matter apakah di sekolah reguler (paling bagus jika mampu), apakah di sekolah khusus, bahkan home schooling. Intinya adalah KEEP ON LEARNING.

Kejadian hari ini juga membukakan pikiran dan mata hatiku, biar anak2 itu labelnya autis, yang kelihatannya tak aware.. tak tahu..dsbnya... Padahal.. yang tak aware ..tak tahu itu adalah saya. Yang berada dalam kegelapan itu adalah saya bukan anak2 saya. Kejadian hari ini membuat saya sadar, walaupun si Jo (adiknya si Ja) belum verbal... sebenarnya si Jo... itu aware..tahu.. hanya dunia ini sungguh membingungkan bagi

si Jo. Oh.., my poor Jo... juga my poor Ja, setelah Ja jadi verbal sudah bisa dikorek2 info-nya, banyak hal2 yang ternyata dia tahu..., padahal kejadian tersebut sudah lama, bahkan kejadian2 sebelum dia berusia 2 tahun itu pun masih dia ingat.

Maaf Ibu Marc dan rekan milis, bukan saya sok menasehati soal sekolah reguler untuk anak2 early learner, tetapi pegangan saya adalah nasehat Ibu Sri yang sudah pakar.

Btw..., when you go home, look at them when they are in their sleep...

You will feel... oh.. how i want the time freeze like this...

forever... So sweet... Feel like want to protect them forever...smile

Salam,

JJMOM

----- Original Message -----

From: CK

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Pindah sekolah - ikutan curhat juga

JJ Mom selamat yah Ja sdh tambah pinter ajah seneng deh dengar nya.. yang JJ Mom bilang kalau kata Greenspan 'don't leave them alone..' memang benar kerasa bener anak saya juga kalau di cuekin sebentar aja (mis. saya lagi baca email atau lagi ada telephone) dia pasti sdh cemburu..dan cari2 gara2 makanya sering merasa bersalah kalau gak ajak main mereka dan saya langsung minta maaf sama mereka 'maaf ya sudah nunggu ayo main lagi...' kadang biar badan sdh pegal2 tapi mesti

tetap kuat big grin, apalagi disini sdh mulai musim panas abis makan malem juga hayo aja

main ke sawah2 ato main lumpur duh sad(, tp enak nya malem cepat tidur pulas..

bu Marc sama bu saya juga pernah bingung kalau masalah sekolah ini tapi beruntungnya kalau disini kita di bantu sama pemerintah untuk menentukan pilihan yang cocok untuk anak kita (meskipun semua kembali kepada keputusan orang tua) sebelumnya juga saya gak rela kalau tatsuya masuk sekolah khusus khawatir dia akan tambah mundur tapi stlh di timbang2, curhat ke teman2 dekat dan keluarga sekali lagi akhrinya mantap untuk bersekolah di sekolah khusus krn jumlah gurunya lebih

banyak di banding bersekolah reguler dan alhamdulillah sekarang sptnya tatsuya mulai cocok (untuk konsentrasi dan pemahaman bahasa dia tambah bagus) meski dia belum verbal..

bu Marc kalau Alif merasa cocok di sekolah itu ya gak apa2 bu meskipun harus sekelas dengan adiknya bukan nya Alif malah senang karena tdk kesepian krn ada adik, salut juga yah untuk Oma nya Alif..(itu dia hebat nya nenek/kakek di Indonesia rata2 beliau2 senang kalau dititipi cucu kalau disini jangan tanya deh di mintai tolong 1 jam aja meski booking nya jauh2 hari smile)

itu pun harus dengan alasan yang bener2 emergency...big grin )

salam,

cici j. (mamanya tatsuya autis 6.3 th)

----- Original Message -----

From: UD

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Pindah sekolah - ikutan curhat juga

Bu Marc,

Anak saya, Jonnah (6 thn kurang 1 bulan), tahun kemarin juga mengulang di kelas TKA. Waktu mau kenaikan kelas tahun lalu, gurunya sempat tanya, apakah Jonnah mau dinaikkan ke TKB, atau dibiarkan mengulang saja di TKA ? Waktu itu saya jawab, terserah penilaian gurunya, kalau menurut mereka Jonnah sebaiknya tetap di TKA, ya ngga apa-apa, karena tujuan saya memasukkan Jonnah ke sekolah lebih supaya dia ada kegiatan dan bisa belajar berteman. Saya ngga pasang target tinggi-tinggi, misal dia harus berprestasi, dia hrus bisa ini, bisa itu, yang penting dia enjoy saja menikmati masa-masa di sekolahnya. Hal itu saya terapkan juga buat adiknya (Cuma selisih 1 tahun dengan Jonnah). Saya pun ngga terlalu menuntut prestasi. Biarkan aja dia menikmati masa kanak-kanaknya. Kalau ada lomba mewarna di sekolah, dia mau ikut, silahkan, tapi sebelum pengumuman pemenang kita sudah pulang, karena saya memang ngga menuntut dia harus jadi juara. Biar aja, nanti malah stress kalau terlalu banyak tuntutan

Sekarang Jonnah memang merasa enjoy, guru-guru dan teman-temannya sayang sama dia. Kalau saya antar dia sekolah, saya sering dengar ada yang panggil-panggil Jonnah (teman-teman, dan pengantar-pengantar), padahal saya ngga kenal mereka. Jonnah ngga pernah menolak disuruh mandi pagi, siap-siap, berangkat sekolah. Malah pernah sekali karena dia sakit dan ngga sekolah, waktu mobil jemputan datang jemput adiknya, dia menangis karena pengen sekolah juga. Atau waktu sekolah libur, dia pengen pakai seragam sekolahnya malam-malam, mungkin dia kangen.

Saya sih let it flow aja. Teman saya malah menganjurkan biar aja di TKA terus, yang pelajarannya masih ringan (padahal ngga juga sih !). Sekarang di TKA Jonnah satu tingkat dengan adiknya, cuma dibedakan aja kelasnya. Adiknya pun ngga masalah dengan keadaan ini. Malah jadi bisa belajar sama-sama, karena PR nya sama, kegiatannya sama.

Jangan kecewa Bu, saya rasa pihak sekolah juga memikirkan kondisi Alfi, daripada dia stress, ngga menikmati sekolahnya, nanti malah mogok sekolah lagi. Kalau sekarang dia mengulang di playgroup dan sekelas dengan adiknya, saya rasa that's not a big deal for him or his brother/sister. Apalagi Ibu bilang : Padahal tujuan saya memasukan alfi ke sekolah (playgroup) lebih karena ingin agar dia bisa bersosialisasi

sama teman dan anak2 lainnya. Berarti Ibu tidak menuntut hal-hal lain, seperti masalah akademiknya kan (mungkin ada juga, tapi bukan tujuan utama) ?

Ngga usah terlalu stress Bu, nanti sekolahnya malah ngga beres-beres, makin lama pulangnya !

Rgds, Dew

----- Original Message -----

From: sali

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Pindah sekolah - ikutan curhat juga

Dear Ibu Marc,

Pertama-tama yang saya perhatikan dari email ibu adalah adanya kesenggangan antara harapan dan kenyataan terhadap anak kita. Umumnya memang normal kalau orang tua berharap yang terbaik untuk anaknya. Kadang2 keinginan kita belum tentu selalu merupakan yang terbaik untuk anak kita. Saya juga mengalami proses yang sama. Harapan2 kita setinggi langit untuk anak2, tapi akhirnya saya belajar berusaha menyesuaikan diri dengan situasi mereka.

Yang kedua, permasalahan bahwa Alfi akan sekelas dengan adiknya. Saya ngak punya contoh kasus seperti pengalaman ibu Marcia, anak saya yang satunya sudah besar. Dia selalu penuh kasih pada adiknya. Demikian juga sebaliknya. Saya kira sebagai saudara diusahakan untuk menerima dan juga mengasihi anak special kita.

Yang ketiga, saya melihat permasalahan bahwa sekolah. Pre SD sudah mengajarkan belajar membaca dan menulis. Setelah mempunyai anak dengan kemampuan terbatas ini, saya menjadi melihat hal ini berbeda dari pengalaman saya sendiri. Saya kira adalah lebih baik kalau ada sekolah yang bisa membantu keadaan anak kita. Ini

bukan berarti selalu masuk sekolah khusus. Yang penting pelajarannya kira2 bisa diikuti dan lain2nya bisa mendukung keadaan anak kita. Kalau memang sudah bisa berkomunikasi, sebaiknya dicampur dengan anak yang normal supaya bertambah

kemajuannya. Berdasarkan pengalaman pribadi, saya pikir2 bukan masalah

sekolah ternama atau tidaknya tetapi yang penting adalah orang yang memegang anak kita itu memang berniat membantu, penuh kasih, kesabaran dan bisa mendisiplin anak kita. Ini pendapat saya sendiri. Saya membaca email2 sebelumnya yang dibahas adalah sekolahnya.. tapi ya.. siapa yang tahu dapat siapa gurunya sebelum menjadi muridnya. Mungkin ada faktor untung2an ya..

Salam hangat, Eli

----- Original Message -----

From: AP/IP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Pindah sekolah - ikutan curhat juga

Permisi nimbrung,

Maaf kalo sharing saya malah bikin bingung & puaanjaang Aga juga pernah 'tinggal kelas' waktu Prechool A, alasannya belum siap utk di Pre-B.... saya terima saja walaupun dengan sedih, karena memang saya akui dia belum siap untuk TK-B

Ternyata, hasil 1 semester ngulang di TK-A itu berantakan sekali..... dia jadi nggak mau ngerjain tugas, malah lebih defiant & marah2. Akhirnya saya putuskan semester genap-nya saya tarik dari sekolah, fokus dengan home-schooling & terapi di rumah - yang saya setting persis kayak sekolahan, jadi ada greeting, circle time, snack time, dst

Waktu balik lagi, jelas dia harus di TK-B, dan adiknya sudah di TK-A. Waktu itu ada 2 pilihan sekolah, saya pikir akan lebih mudah untuk Aga jika dia saya masukkan di sekolah yang lama saja karena dia sudah tau rutinitas & lingkungannya. Ternyata dia mogok, bahkan turun dari mobil saja nggak mau (kalo pas diajak jemput adiknya). Akhirnya saya pindahin ke sekolah lain, ternyata hasilnnya sungguh fantastis.

Rasa percaya dirinya tumbuh, bisa mimpin doa di depan kelas, bisa jadi 'petugas' absensi (sekolahnya metode Montessori). Temen2 awalnya sering protes karena perilakunya, tapi lama2 dia cukup punya fans di sekolah itu (cewek2 lagi !)

Walaupun cuma 1th disitu, tapi pengalaman bener2 membekas (gak ada SD-nya), sampe sekarang saya masih tetep kontak dengan guru2 & kepseknya. Sering diskusi & tukar2an bahan bacaan utk pendidikan. Dan saya jadi ekstra hati2 milih SDnya agar PDnya yg masih rapuh itu nggak hancur lagi.

Ternyata seperti JJmom bilang, saya yang di kegelapan.... saya pikir "tinggal kelas" is not a big deal for Aga, tapi ternyata dia paham & merasakan itu semua. Makanya dia mogok aja karena dikasi bahan2 yg TK-A awal lagi, kalo udah boring dia pasti nggak mau ngerjain. Persepsi negatif dari temen & terutama guru (anak2 sih nurut saya lebih polos & bisa menerima dp org dewasa lho !) jadi faktor terpenting. Ternyata "lingkungan baru" yg saya pikir akan membingungkan anak2 spesial kita ini (yg dibilang "difficult to accept variation & non flexible") bisa jadi justru bagus.

Satu hal lagi yg penting dalam milih sekolah, "penerimaan & persepsi" guru terhadap si anak.

Oya, saya tetep pisahin si adik & kakak... terutama karena si adik dominan banget & very competent sehingga take over tugas2 kakaknya. Saya nggak mau si kakak selalu jadi 'shadow', biarlah dia muncul dengan segala kekurangannya & juga kelebihannya

sorry kalo kepanjangan

salam,

Ira

----- Original Message -----

From: MS

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Pindah sekolah - ikutan curhat juga

Dear all (esp JJ Mom, bu Ci, bu Dewi, bu Elisa dan bu Ira) terimakasih buat comment dan sharingnya.

Rencananya, saya akan mempertimbangkan ulang sekolahnya Alfi, dan dalam 2 minggu kedepan saya akan pulang sebentar untuk mengurus masalah ini di Jakarta. Memang berdasarkan analisis situasi, lebih baik Alfi mengulang playgrup lagi. Mungkin saya akan hunting playgrup yang mengadopsi sistem montessori atau sistem lain yang lebih akomodatif buat perkembangan Alfi (yang jelas bukan sistemnya

Depdiknas). Kenapa saya agak ragu menempatkan Alfi sekelas dengan adiknya, karena situasi yang saya hadapi keliatannya hampir mirip dengan pengalaman bu

Ira. Anak saya yang ke-2 (Alix) itu sangat dominan terhadap kakaknya, dan performance-nya di bidang verbal dan cognitive lebih advance utk anak seumur dia, sehingga sering menarik perhatian banyak orang (in other words, adiknya cerewet sekali kalo ngomong) . Saya ngak kepingin Alfi terintimidasi (wadduuuh, kayaknya sih ini kekhawatiran yang berlebihan, tapi tetep lebih baik dipertimbangkan) ato jadi 'shadow' adiknya dikelas.

Bu Elis benar sekali, problem besar saya adalah bagaimana menghadapi kesenjangan antara harapan dan kenyataan. Most of the time, saya bisa mengendalikan dan menyesuaikan harapan saya supaya sesuai dengan kondisi Alfi, tapi kadang2 kebobolan juga, masih punya harapan yang rada muluk2, hehehehe..... (sekarang udah bisa menertawakan diri sendiri niih).

sekali lagi, trims buat supportnya

salam

Marc



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy