Tidak Naik Kelas

07/07/2006

----- Original Message -----

From: IT

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Tidak naik kelas

Ikutan sharing soal "anak tinggal kelas"...

Hari Sabtu (10/7) Filan (3th 9 bulan) terima raport, hasilnya: tetap di Play Group A dan banyak nilai yang turun, bahkan ada beberapa yang waktu semester 1 dapat C menjadi C-.

Duh, saya syok banget, karena menurut pengamatan kami di keluarga, tetangga dekat, kakek dan nenek, sepertinya Filan sudah banyak kemajuan, antara lain : sangat jarang tantrum, bisa main bareng tetangga dengan damai (gak mukul dan gak dipukul), main puzzle sudah tidak diprompt, bisa verbal dengan spontan, misal:

"Dek..jangan kesitu,licin...jatuh..." (lihat temannya yang umur 1 th main di lantai yang baru dipel)

"Ayo Pa, bangun Pa..." (kalau bangunin papanya)

"Filan mau kue, potong kecil" (kalau minta kue)

"Filan mau ke Cirebon...kereta" (pingin ke rumah Eyang di Cirebon, naik KA)

Kalau dikasih pertanyaan juga sudah nymabung, sudah paham cerita kalau nonton VCD. Bayangan kami raportnya tidak sejelek itu,ya minimal sama seperti semester 1.

Tapi di raport semua kemampuan dasar TURUN. Memang 3 bulan ini Filan tidak Terapi wicara dan OT lagi di sekolahnya, karena saya kurang sreg dengan terapis yang baru. Akhirnya saya beli alat-alat terapi dan menterapi sendiri di rumah.

Hasilnya cukup signifikan karena setelah itu kemajuannya kelihatan. Kemajuan ini bukan saya yang menilai tapi para tetangga banyak yang bilang kalau Filan sekarang sudah bisa ngomong dan berkomunikasi 2 arah dengan teman-temannya, walaupun susuan kalimatnya belum sempurna. Kalau saya amati Filan bermain, memang perubahan itu terasa.

Rekomendasi kepala sekolah adalah: Filan harus terapi lagi karena banyak kemunduran. Karena saya tdk sreg terapi di sekolah, saya lagi nyari tempat terapi yang lain ( di luar sekolah).

Yang jadi pertanyaan saya: kenapa penilaian kami sangat berbeda dengan penilaian gurunya? Apakah mungkin Filan memang berubah jadi "mundur" kalau di sekolah? Kira-kira apa sebabnya, ya?

Mohon sharing rekan-rekan.

Salam,

In

----- Original Message -----

From: Lus

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Tidak naik kelas

Kok saya lihat, penilaian sekolah agak bias ya?

Kenapa yang ditekankan filan menurun kemampuannya karena tidak terapi?? Tapi tidak disebutkan secara spesifik yang mana yang kurang kelakuannya?

apa mungkin ini karena Ibu menghentikan terapi disekolahnya? (sekolah tidak menaikkan Filan karena terapi yang nota bene tambahan masukan income di sekolah tidak dilanjutkan??) bu mungkin sekolahnya harus dilihat lagi. Coba iseng2 filan di test masuk di TK B yang lain? Bisa diterima tidak?

Jangan2 sekolahnya yang tidak objektif? Maaf kalau keliatannya saya menuduh sekolah.... Tapi itu kesan yang saya dapat dari cerita Ibu.

Lus

----- Original Message -----

From: DH

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Tidak naik kelas

Saya setuju dengan Bu Lusiana, saya pun merasakan hal yang sama, sepertinya sekolah mengharapkan Filan terapi di sekolah, bukan karena Filan tidak mampu untuk ke TK B. Tapi kembali lagi ini semua orang tua yang paling tahu kondisi anak nya masing2. Kalau ibu merasa Filan sanggup naik ke TK B, dan bisa ngikutin pelajarannya, sebaiknya ibu usahakan Filan naik ke TK B, kalau sekolah yang sekarang ini mentah2 menolak, lebih baik cari sekolah lain.

Regards

Dav

----- Original Message -----

From: DA

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Tidak naik kelas

Wah, Filan hebat banget bu.

Gimana kalau nego aja sama kepsek dan gurunya untuk coba dinaikkan, sehingga Filan bisa dapat pelajaran yang lebih lagi, dan dia bisa berkembang lebih lagi (kalau menetap berarti pelajarannya enggak nambah dong ya..?).

Dicoba aja beberapa bulan dulu. Nanti, kalau penilaian sekolah masih enggak bisa juga, boleh diturunkan. Tapi.. kalau itu terjadi (sudah ke tingkat B turun ke A lagi..), kalau saya jadi bu Indah sih, saya cari sekolah lain Bu... pertimbangannya bukan karena malu atau apa, tapi karena enggak rela kalau si anak yang sudah segitu pintarnya Cuma dapat pelajaran yang itu-itu saja. Yah, yang penting usaha....semoga bisa ya Bu..

Salam,

Ai

----- Original Message -----

From: LRU

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Tidak naik kelas

Dear Bu Ind,

Ikutan sharing soal perbedaan penilaian di sekolah dan di rumah ,memang kadang berbeda.Pengalaman saya Waktu itu dari pihak sekolah inform kalau anak saya, Ian , mundur pelajarannya ( tentang menulisnya). Padahal kalau di rumah mau dan hasil bagus. Di rumah saya tanya, 'Kenapa nggak mau menulis di sekolah?' Dia hanya bilang "Ian capek' Akhirnya saya minta guru bantunya di rumah untuk observasi ke sekolah. Apa benar yang dikatakan gurunya? Dan apa masalahnya. Ternyata dikte

di sekolahnya memang susah banget , sudah menulis 'kata' padahal di rumah dia baru belajar suku kata. Pantesan dia nggak mau nulis karena nggak bisa. Dan si guru menganggap ian tidak kooperatif. Mungkin kasusnya beda dengan Filan, tapi mungkin yang dibilang pihak sekolah 'mundur' itu beda dengan 'mundur yg kita maksud. Dan yang dibilang 'maju' di sekolah itu beda dengan 'maju' kita. Sperti dulu waktu di awal-awal Ian dibilang anteng di sekolah, ternyata oleh gurunya diberi bacaan biar anteng , (jadi dibiarin saja). Akhirnya saya minta pengasuhnya untuk masuk. Itu saja bu sharingnya

Thks & Rgds

lusil

----- Original Message -----

From: Edd

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Tidak naik kelas

FYI,

sebenarnya kalo mau refer ke aturan dari DIKNAS: anak di kelas playgroup & kindergarten itu kenaikan kelasnya tidak dilihat dari nilai akademisnya, melainkan dari umur si anak, jadi kalo si anak umurnya sudah cukup, so pasti ya naik kelas.. nanti, kalo si anak sudah sampai ke kelas primary ke atas, kriteria kenaikan kelasnya baru dilihat dari nilai akademis si anak ybs. Demikian info yg pernah saya terima dari seorang principal sekolah.

HTH,

/edd

----- Original Message -----

From: DP

To:

Sent: Tuesday, June 20, 2006 6:07 PM

Subject: [Puterakembara] Re: Kualifikasi Naik Kelas

Wah, gak bisa lah kalo kriteria naik kelas dilihat dari usianya saja. So pasti naik kelas karena umur gitu. Saya beberapa kali dapat orangtua yang mengeluhkan masalah ini karena anak dinaikkan terus, sementara untuk tingkat SD (primary) basic-nya sangat tidak kuat (bahkan tidak ada). Sementara itu, si pihak sekolah TK-nya selalu mengatakan "sudah bisa"...

Ujung-ujungnya...orangtua yang pusing. Dari TK sudah diluluskan dengan kemampuan yang sangat minim (identifikasi huruf belum, tulis belum, bicara terus atau tidak bisa bicara, perilaku ajret-ajretan dan lari kesana kemari, sulit adaptasi sehingga bisa tantrum sewaktu-waktu...boro-boro akademis yang lain). Mau masuk ke SD, dengan bawa ijazah TK 'kan ya gak cukup. Biasanya 'kan di tes (assess) lagi.

Jadi...jangan lengah dengan aturan dari lembaga resmi. Gunakan logika.

Bersikaplah realistis.

Yang kita mau (sebagai orangtua) itu apa? Bersekolah atau belajar ? Kalau bersekolah --- bisa saja semua sekolah diketuk lalu diminta untuk menerima anak kita berada di situ bersama anak-anak lain dari pagi sampai siang...tidak penting apakah berpartisipasi atau tidak....

Nah, kalau belajar....ini yang lebih repot. Soalnya harus berpartisipasi.

Bisa di sekolah umum? Monggo.

Ga' bisa meski sudah dicobakan, atau cari kesana kemari yang mau

terima? Ya cari alternatif dong.

Bisa sekolah khusus anak autistik (sudah mulai banyak nih sekarang),

SLB, homeschooling, terapi saja ditambah berbagai les bakat dan minat.

Sometimes reality hurts. Yes, I agree.

However, life is too short to be used for denying reality.

Life goes on and on...we can not stop the time.

Percaya deh!

salam,

Ita-nya Ikhsan...(autis non-verbal, 15 th 5 bln...yang juga bingung

soal sekolah)

----- Original Message -----

From: YM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Kualifikasi Naik Kelas

Setuju bu Ita (aduh kaya anggota dewan aja neh....) Dean di pre school 4 tahun, setelah diperbolehkan memungkinkan bisa ikut ke sekolah formal untuk tingkat TK.

Disana juga Dean 4 tahun, setelah dinyatakan bisa masuk ke SD (dengan SD yang memiliki kriteria seabreg) kami memutuskan untuk tidak menyekolahkan Dean di SD umum. Dan sekarang saya lihat Dean enjoy banget menjalankan kegiatan sekolah dari awalnya harus dijaga ketat sampai saat ini dia bisa jalan sendiri tanpa harus dipegang yang antar (ke sekolah jalan kaki karena cukup dekat). Kami sekeluarga tidak menitik beratkan Dean harus naik kelas, yang penting dari hari kehari dia bisa mendapatkan sesuatu hal yang baru dan melakukan interaksi sosial dengan lingkungan yang paham akan dirinya.

Salam

Yan

----- Original Message -----

From: SA

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Tidak Naik Kelas PK

Hallo teman-teman,saya tergelitik nih pengin nimbrung siapatahu bermanfaat!

Maklum kagak pd nih,kan saya guru TK zaman Majapahit (pinjam istilah Bu Ita),sekarang alih profesi jadi terapis. Memang penilaian ortu dan sekolah bisa berbeda, karena indikatornya berbeda,tapi saya tidak akan perdebatkan perbedaan gak ada habisnya. Ini sekilas info untuk ortu supaya lebih pandai memilih TK yang bener tuh kaya apa sih?

INDIKATOR PENILAIAN PERKEMBANGAN siswa TK.

Moral dan nilai agama.

1.Dapat berdoa sebelum dan sesudah kegiatan

2.Mengucapkan salam kepada guru,orang tua,atau yang dihormati.

3.Mengenal cara menyayangi teman

4.Memelihara dan menyayangi ciptaan Tuhan Yang Maha Esa

5.Dapat mengenal sopan santun dengan mengucapkan terima kasih.

6.Dapat membedakan milik sendiri dan milik orang lain

7.Sabar,dan mengerti menunggu giliran

8.Berlatih untuk tertib dan patuh pada peraturan

9.Mengenal konsep salah dan benar

10.Mengurus dari sendiri.

Perkembangan sosial emosional

1.Tenggang rasa dengan orang lain

2.Berinteraksi dengan teman/orang lain

3.Mau berbagi dengan teman

4.Mulai dapat mengendalikan emosi,menunjukkan emosi yang wajar

5.Menjaga keamanan diri sendiri

6.Aktif dalam bergaul dan bekerja sama dengan teman

Perkembangan bahasa

1.Bicara lancar dalam mengungkapkan keinginannya secara sederhana

2.Senang mendengarkan cerita,menceritakan kembali,menceritakan kejadian di sekitarnya.

3.Menjawab pertanyaan tentang cerita pendek yang sudah dibacakan oleh guru

4.Menceritakan gambar yang dibuat sendiri

5.Dapat mengurutkan dan menceritakan gambar seri

6.Menggunakan dan dapat menjawab pertanyaan apa,mengapa,dimana,berapa dsb.

7.Mengenal tulisan sederhana melalui symbol yang melambangkannya

Perkembangan kognitif/daya pikir.

1.Mengenal konsep warna dasar

2.Mengenal konsep waktu sederhana (nama hari/bulan,sekarang, hari ini, besok, siang,malam dsb.

3.Membedakan rasa,bau dan suara

4.Mengenal perbedaan kasar-halus,panjang-pendek,tebal-tipis dsb.

5.Mengenal konsep kebersihan diri dan lingkungannya

6.Menyebutkan sekurang-kurangnya 20 nama benda di sekitarnya.

7.Menyebutkan urutan bilangan 1-30.

8.Mengenal lambang bilangan 1-10

9.Mengenal konsep bilangan sama dan tidak sama,lebih dan kurang,banyak dan sedikit.

10.Mengenal bentuk geometri mengenal penambahan dan pengurangan dengan benda-benda.

Perkembangan fisik.

Motorik halus

1.Menciptakan bermacam-macam bentuk bangunan dengan berbagai macam media

2.Menggambar bebas dengan berbagai macam media

3.Menciptakan sesuatu dengan menggunting,mencocok,merobek dan melipat kertas.

4.Menciptakan sesuatu dengan berbagai media.

Motorik kasar.

1.Berjalan lurus,berjingkat,angkat tumit,dengan rintangan,di atas papan titian.

2.Mengikuti berbagai permainan ketangkasan

3.Senam dengan berbagai variasi

4.Melakukan gerakkan dengan iringan musik

5.Permainan ketangkasan dan kelincahan mengikuti perlombaan dan pertandingan.

Perkembangan seni

1.Menyanyikan beberapa lagu anak-anak

2.Melukis dengan menggunakan krayon,cat air

3.Menggambar bebas dengan bentuk dasar titik,garis,lingkaran,segi empat dll.

Ini teman-teman kira-kira yang menjadi penilaian di TK ini pun sudah tak kurangi, tapi pengalaman saya jarang sekali ada anak yang bisa menguasai 80 % nya paling-paling setengahnya.Yang penting sebetulnya PERILAKU ANAK untuk siap menerima pelajaran di SD.Karena TK itu kepanjangan dari Taman Kanak-kanak bukan sekolah,ini yang suka salah kaprah,maksudnya kan memberikan stimulus agar seluruh kemampuan anak bisa berkembang optimal dan tidak ada istilah tidak naik kelas.Dan untuk anak berkebutuhan khusus tentunya ya ktiterianya berbeda,gak fair

dong.Sampai disini dulu teman-teman lain waktu disambung lagi,semoga bermanfaat.

Maaf Bu Leny panjang nih, gimana cara memuatnya di milis, aku gak tahu soalnya gaptek he he.

Salam ,

Sri A,

Sorowako.

----- Original Message -----

From: IT

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Tidak naik kelas & kriteria naik kelas

Makasih banyak info dari Bu Sri dan masukan dari rekan-rekan. Senang rasanya mendapat respon yang "memperkaya" pemahaman saya.



Oya, Anak saya masih di PLAY GROUP A bukan TK (3 th 9 bulan). Saya sendiri tidak menargetkan Filan harus sejajar dengan teman-temannya yang normal. Tujuan saya menyekolahkan Filan adalah supaya ia punya kegiatan dan bersosialisasi. Saya sangat setuju bahwa Play Group (atau bahkan TK) adalah tempat anak "bermain sambil belajar"

Yang membuat saya syok sebenarnya bukan karena tidak naik kelas, tapi karena saya rasa penilaian Kepseknya sangat bias.

Sebelum bertemu dengen Kepsek untuk menerima raport, saya sempat berbincang dengan guru kelas, katanya Filan sekarang sudah bisa bercerita (misal: hari minggu berenang, maka senin ia cerita ke bu guru kalau ia kemarin berenag) ia lebih organized, dan lebih pede kalau menjawab pertanyaan. Secara umum ada kemajuan dibanding semester 1 ketika Filan belum verbal, masih tantrum, tidsk pede, dll.

Terus terang saya sempat berbunga-bunga mendengar laporan sang guru kelas tsb wink)

Tapi ketika bertemu kepsek yang bilang bahwa Filan banyak kemunduran...wah saya jadi kaget! Kenapa penilaian berbeda?

Sementara ini kami belum memutuskan pindah sekolah karena di daerah kami jarang ada sekolah yang komposisi guru-muridnya sedikit. Kami akan cari temapt terapi di luar sekolah, mudah-mudahan kemajuan Filan lebih baik sehingga bisa "terlihat" oleh Kepseknya.

Sekali lagi terima kasih masukan renan-rekan PK.

Salam,

Ind

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Kualifikasi Naik Kelas

Peraturan dari DikNas yang disebut pak Eddy mungkin ditujukan untuk anak-anak biasa pada umumnya. Untuk anak-anak biasa (non-spesial), TK lebih untuk memperkenalkan anak pada taraf belajar sebelum masuk ke pendidikan formal yang sebenarnya (SD). Seperti yang sudah dijelaskan dengan gamblang oleh ibu Sri, yang namanya TK yah Taman Kanak-kanak, bukan Sekolah. Walaupun mungkin sudah diajarkan huruf dan angka, tapi hanya merupakan pengenalan saja. Tidak ada penilaian kemampuan anak secara akademis. Pengajaran lebih ditekankan untuk pengembangan Moral, Etika, Sosial, Emosi, Bahasa, dan daya pikir. Dengan kata lain dalam taraf ini anak-anak baru membentuk konsep diri. Dan untuk TK umum (anak-anak pada umumnya) inilah dianjurkan untuk tidak ada istilah "tidak naik kelas".

Kalau untuk anak-anak spesial, tentu saja berbeda dan ada pengecualian. Anak-anak spesial harus bener2 "siap" terutama secara emosional, bahasa, daya pikir dan perilaku. Tidak perduli harus 2 tahun bahkan ada yang 3-4 tahun seperti Dean keponakannya ibu Yanti. Bahkan setelah di TK bertahun-tahun pun tidak sedikit yang akhirnya tetap "tidak siap" di SD Reguler. Kalau begitu yah Sekolah Khusus

atau Homeschooling adalah pilihan yang terbaik, sepeti kata ibu Ita.

Terlepas dari semua itu, apa yang harus dilakukan orang tua bila anak spesialnya tidak naik kelas di TK seperti Filan-nya Ibu Indah? Seperti saran-saran yang sudah masuk dari beberapa rekan, saya juga setuju bahwa sebaiknya ibu Indah mempelajari dulu apa yang membuat Filan ditetapkan gurunya tidak naik kelas. Kalau ternyata ada hal-hal yang tidak fair, yah diprotes ajah. Tapiiii kalau ternyata memang gurunya fair dan Filan memang belum mampu untuk naik kelas, saya rasa juga tidak perlu dipaksakan. Adakalanya memang si anak telah mampu melakukan banyak hal di rumah, tapi ternyata di sekolah dia tidak bisa. Jadi itu kan berarti secara emosi dia belum siap di lingkungan yang lebih besar dari pada keluarga. Ini juga memerlukan pengamatan lebih lanjut. Jadi saran saya, ibu Indah tidak perlu syok dulu, punya anak spesial memang harus punya hati atau perasaan yang juga "spesial" (baca: baja). smile

Salam,

Leny

----- Original Message -----

From: IT

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Kualifikasi Naik Kelas,berhati "baja"

Bu Leny, sepertinya saya memang harus terus belajar untuk menjadi "special" juga (baca: berhati baja). Ini memang pengalaman pertama saya tentang sekolah anak. Mungkin di masa yang akan datang, masalah yang dihadapi juga makin beragam. Kalau sejak sekarang nggak siap berhati baja, saya bisa stress terus smile)

Terima kasih masukannya. Saya mau memakai kata-kata bijak yang saya dapat dari milis ini, bahwa saya harus "berdamai dengan diri sendiri".

Salam,

Ind



Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy