Dimanakah Bahagia Itu Bersembunyi?

06/12/2006

----- Original Message -----

From: Dwi P

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Dimanakah Bahagia Itu Bersembunyi?

Pagi ini, tanggal 23 Mei 2006, seluruh koran-koran di ibukota menyajikan berita tentang perseteruan, sekaligus merupakan puncak dari api dalam sekam, antara Bambang Trihatmojo dengan anak kandung serta istrinya. Tanpa bermaksud berpihak, siapa yang benar maupun siapa yang salah, saya hanya ingin mengatakan bahwa saya lebih beruntung dari mereka. Sebab kelebihan harta yang dimiliki mereka itu bukan segala-galanya. Memiliki anak-anak yang sehat juga bukan berarti semua masalah selesai.

Ternyata baik harta maupun anak-anak hanya merupakan titipan dari yang Maha Kuasa. Keduanya ternyata tidak bisa membeli kebahagiaan. Kebahagiaan, merupakan suatu yang banyak cari-cari penduduk di ibukota ini, kadang dari pagi sampai pagi lagi.

Kebahagiaan itu, ternyata tidak ada dimana-mana. Tidak ada dalam harta yang berlimpah, tidak juga pada anak-anak yang sehat pertumbuhan dan perkembangannya. Kebanyakan kita tak pernah sadar, bahwa kebahagiaan itu adanya, sangat dekat sekali dengan diri kita. Kebahagiaan itu terletak di dalam hati kita masing-masing, tidak ada di tempat lain, walau kita cari sampai mati.

Mungkin kita bisa membeli kebahagiaan, tapi hanya kebahagiaan semu.

Kebahagiaan yang duniawi, dan pasti tidak hakiki. Kebahagiaan semu itu memang dijual dimana-mana, tapi khusus untuk orang yang tak tahu makna hidup ini.

Ternyata satu kata itu, bahagia, tidak akan pernah terdapat pada harta yang berlimpah, pada istri yang cantik bak bidadari, atau pada anak-anak yang sehat. Kesimpulan itu dapat kita lihat dari diri keluarga besar anak-anak Pak Harto dan keluarganya.

Di Indonesia ini tak ada yang mengenal keluarga Cendana. Tidak ada yang kurang dari mereka, semua ada. Tapi, yang pasti mereka tidak memiliki satu kata itu, bahagia. Jika Bambang Tri bahagia dan puas dengan yang dimilikinya, insiden itu pasti tak akan terjadi. Itulah yang membuatnya mencari kebahagiaan di luar keluarganya, sehingga akhirnya aib keluarga menjadi konsumsi publik. Aib keluarga itu, tak akan hilang walau dalam hitungan satu abad. Buat apa memiliki semuanya di dunia, ketika aib mencoreng muka diri, dan keluarga besar kita.

Buat saya, kebahagiaan paling hakiki adalah, ketika saya mampu mendampingi putra putri saya ketika mereka belajar melihat kehidupan ini. Ketika mereka saya ajak merenda masa depannya sendiri. Tidak perlu yang muluk-muluk, saya sudah sangat bahagia mendengar tawa anak-anak saya ketika saya datang. Saya sudah sangat bahagia ketika melihat anak saya bermain bersama atau bahkan ketika berebutan suatu benda atau makanan. Saya sangat bahagia ketika bisa melihat mereka tidur

dengan nyenyak di malam hari. Saya sangat bahagia, mendengar rengekan anak saya yang kedua ketika saya memeluk anak saya yang pertama, begitupula sebaliknya. Suasana itulah yang membuat saya selalu kangen rumah. Saya tak pernah betah lama-lama meninggalkan rumah, karena saya merasa takut kehilangan momen-momen terindah bersama mereka.

Saya sangat bahagia, ketika mengalami peristiwa yang tak pernah terlupakan sepanjang hidup. Ketika main ke rumah orang tua saya. Anak saya Tita berucap pada neneknya,

" A.mih, a...pa ka.bal." Itu merupakan kalimat pertama Tita yang langsung didengar neneknya selama hampir delapan tahun.

Saya sangat bahagia ketika melihat ibu saya, memeluk erat cucunya. Lama sekali pelukan itu. Melihat kejadian itu, hanya tetes air mata saja yang menjadi bukti kebahagiaan kami sekeluarga.

"Baik., Tita apa kabarnya juga ?," jawab neneknya penuh keharuan.

"Ba.ik," Tita menjawab. Pelukan sang nenek makin erat. Ia tak henti-hentinya mengusap kepala sang cucu dengan penuh kasih, sambil mengucap doa dan puji kepada Allah swt. agar cucunya terus memperoleh kemajuan di masa depannya. Doa orang tua juga yang menyebabkan kami bisa mengarungi hidup ini dengan baik..

Banyak kejadian-kejadian lain yang mengharukan di keluarga kami. Tak ada nilai materinya memang. Apalagi nilai istimewanya bagi orang kebanyakan yang tidak pernah merasakannya. Tapi kejadian-kejadian itu membuat saya, istri saya, ibu dan bapak saya, serta keluarga di sekitar saya mampu belajar bahagia di tengah keterbatasan.

Kadangkala manusia lupa bila diberi keberlimpahan, atau diberi kelebihan oleh yang Maha Kuasa. Berapa banyak orang tua yang tidak pernah bersyukur. Alhamdulillah, saya diberi kesempatan untuk merasakan kekurangan dari universitas kehidupan ini, terutama dari kehidupan anak saya Tita. Belum tentu saya akan bisa seperti ini jika anak saya Tita tidak ada masalah dalam pertumbuhannya. Saya harus bersyukur atas anugerah ini.

Dari anak saya Tita, saya dan istri belajar, bahwa bahagia itu tak perlu dengan kelimpahan materi. Dan yang paling penting, kebahagiaan itu ternyata bisa diperoleh dari orang-orang dekat di sekitar kita. Saya sudah membuktikannya, dan silakan anda membuktikannya sendiri dengan keluarga anda.

----- Original Message -----

From: HPU

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Dimanakah Bahagia Itu Bersembunyi?

Setuju sekali papanya Tita. Dimas kalo menyambut saya pulang kantor sambil ikut2 bukain pagar, bawain helm, trus ambilin handuk buat mandi. Itu sangat berarti sekali buat saya. Betapa perhatiannya anak saya ini. Tetapi kalo Dimas kasih perhatian ke saya pasti ada maunya. Saya mau makan diambilkan piringnya. Selesai makan , saya diajak muter2 naik motor.

Banyak akalnya anak saya ini. smile

Salam,

Har

----- Original Message -----

From: UD

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] RE: Dimanakah Bahagia Itu Bersembunyi?

Saya terharu sekali membaca postingan Pak Dwi, terutama yang menceritakan tentang Tita yang tiba-tiba bisa bicara. Saya tidak dapat membayangkan seperti apa perasaan Pak Dwinu sekeluarga saat itu. Saya juga bisa ikut merasakan kebahagiaan Pak Dwinu sekeluarga sejak postingan Bapak sebelumnya yang menceritakan bagaimana setelah hampir 8 tahun ditunggu-tunggu, akhirnya Tita bisa bicara. Selamat ya Pak.

Semalam saya mimpi lagi, Jonnah bisa bicara. Sayangnya cuma mimpi...

Tapi saya yakin dan masih percaya MIRACLE, suatu saat Jonnah bicara, bukan cuma di mimpi saja, tinggal tunggu God's time, the right time

Cheers,

Dw

----- Original Message -----

From: Wbw

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Dimanakah Bahagia Itu Bersembunyi?

Saya setuju dengan kearifan & kebijakan bapaknya Tita, kebahagiaan bukan melulu karena limpaham harta & nama besar, tapi terletak dalam hati kita sendiri. sebab rasa susah, sedih, iri dengki, bahagia hanyalah permainan hati ( kalau tidak salah seperti juga kata Al-ghozali) tapi terus terang saya juga baru bisa dalam mulut. Banyak orang bijak berkata "pandai-pandailah bersyukur, karena dengan banyak bersyukur kita bisa dapat menerima pemberian-Nya, dan Insya Allah selalu dalam jalan-Nya".

Barangkali dengan diberi oleh-Nya anak kita dengan segala "Keistimewaanya" ada hikmah yang bisa kita petik dalam hidup dan kehidupan kita semua.

Amieen!

Salam

Wbw

----- Original Message -----

From: EP

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Dimanakah Bahagia Itu Bersembunyi?

SETUJU...U SEKALI ! ! !

Uang, kekuasaan, bukan tolak ukur dan bukanlah segalanya.

Semua kebahagian itu hanya ada dihati kita, tinggal kita, ada ga keinginan untuk melihat hati kita sendiri.

Er

----- Original Message -----

From: LM

To: peduli-autis

Subject: [Puterakembara] Re: Dimanakah Bahagia Itu Bersembunyi?

Kebahagiaan yang dilukiskan pak Dwinu ini menurut saya kebahagiaan hakiki. Jadi bener ..... memang kebahagiaan hanya ada di hati masing-masing.....

Senang membaca rangkaian tulisan indah pak Dwinu lagi.....

Salam,

LM

Total visitors from 2000 to March 2012 : 2,098,400 - Puterakembara 2012
interaction with this site is in accordance with our site policy